Half Vampire – Keraguan

 

Aku melangkah memasuki aula bersama Dev dan mendapati aula beberapa sosok yang tidak aku kenal. Kebanyakan dari mereka membentuk kelompok kecil, tiga atau empat orang. Berbicara dan menikmati sesuatu dalam gelas-gelas kristal di genggaman tangan mereka. Kebanyakan tak menghiraukan aku dan Dev ketika kami bergabung ke ruang ini, memang ada yang menoleh tapi sekedar saja sebelum kembali dengan kelompok kecil lainnya. Kuduga mereka tidak tahu aku ini calon ratu klan ini, lagipula menurut Dev, sejak awal saat pelarian kami dari kastil Heta. Bauku mungkin sudah sedikit mirip vampire meskipun aku tidak tahu mirip di aroma yang seperti apa. Aku tidak bisa membedakannya.

Dev membawaku pada satu kelompok kecil di depan perapian yang apinya menyala kecil. Mereka hanya terdiri dari tiga vampir, dua laki-laki dan satu perempuan. Dev menyapa mereka, dan ketiganya membalasnya dengan ramah dan membiarkan kami duduk bergabung bersama mereka. Tidak heran jika ketiganya mengamatiku karena aku juga pasti akan bertindak seperti itu pada siapa pun yang tidak aku kenal.

Continue Reading

Half Vampire – Karena Kau adalah Kau

Seharian ini aku menghindari Damis. Agak sulit memang,tapi aku berhasil melakukannya sampai malam menjelang. Aku bersyukur karena Rosse maupun Russel belum kembali. Karena menghindari Rosse jelas tidak mungkin bagiku. Aku menyayangi dan menghargai Rosse. Karena dia demikian baik padaku sejak awal sampai akhir. Setidaknya dia mempercayaiku sebagai calon pengganti ratu. Sebagai aku yang kelak akan menjadi ratu klan ini seperti yang sekarang sedang dirasakannya.
Aku memandang bulan yang cahayanya memudar karena terkurung oleh awan-awan hitam yang berarak di langit malam. Aku duduk di bersandar di tembok kastil dengan memeluk lututku. Aku hanya ingin sendiri saat ini jadi aku memilih tempat terpencil dan duduk seperti orang tersesat yang putus asa dengan mata sembab, merah dan kulitku jadi pucat. Jelas penampilanku saat ini sangat berantakan. Tapi aku tidak  peduli.

Sekali lagi kutekankan aku TIDAK peduli.

Continue Reading

Half Vampire – Penglihatan

Rosse dan Damis justru pergi lebih dulu sebelum aku, Lyra dan Dev berangkat. Aku tidak protes. Dari sikap mereka, aku tahu ada sesuatu yang penting yang harus mereka kerjakan. Ah ya aku juga ingat sama sekali tidak melihat Reven akhir-akhir ini.
Aku, Dev dan Lyra berdiri di depan kastil sambil memandang langit yah yang tentu saja masih agak kelabu. Ingatkan disini jarang sekali ada matahari.
Ah iya, Rena. Biar ku jelaskan disini. Aku tidak mau berlelah-lelahan dengan berjalan ke arah  rumahmu. Dan kau juga perlu tahu bahwa Rosse tidak ingin kita sampai bermalam disana karena situasi dan kondisinya juga tidak memungkinkan. Karena menurut pengamatan dan penyelidikan kami, beberapa slayer atau...”
Aku melirik Dev yang sedari tadi hanya diam dan sama sekali tidak memandangku.
“….. heta nampak berkeliaran disana. Kau masih dianggap buronan disana. Ingat!!”
“Ya” aku mengangguk. Aku buronan untuk klanku sendiri.
Lalu bagaimana kita kesana?” aku bertanya berusaha mengabaikan Dev yang juga mengabaikanku.
Berlari.”
“BERLARI??”
Continue Reading

Half Vampire – Lucia

Saat semangatku untuk menemui dan bicara dengan Reven berkobar demikian besarnya, aku malah tidak dapat menemuinya dimanapun di kastil ini. Aku bahkan juga baru menyadari kalau kastil ini bahkan lebih sepi dari biasanya, dalam artian kosong. Aku tidak melihat Damis, Russel atau siapa pun.
Aku berjalan menelusuri lorong di ruangan bawah tanah kastil yang hanya di sinari cahaya redup dari obor-obor yang menempel di dinding di setiap jarak beberapa meter. Aku tidak tahu bagaimana aku tiba-tiba malah sudah beada di tempat ini. Tapi entah kenapa ketika aku ingin berbalik dan kembali ke atas, kakiku justru membawaku berjalan terus ke depan.
Aku mendengar dentingan alunan piano ketika aku masuk makin ke dalam. Aku berjalan makin cepat mencari sumber suara tersebut. Aku melihat sebuah pintu yang separuh terbuka di ujung lorong ini. Dan saat aku makin mendekat, aku semakin yakin kalau suara tersebut memang berasal dari ruangan tersebut.
Continue Reading

Half Vampire – Tanggung Jawab

 

Aku memandang cahaya matahari yang bersinar sangat lemah di luar sana melalui jendela di ruanganku. Kabut mengantung tipis dan udara berhembus sangat dingin. Aku mengeratkkan baju hangat yang kukenakan. Aku mengerti kenapa klan vampir memilih tempat ini sebagai pusat kontrol kelompok mereka. Aku tahu tempat ini mungkin tidak cocok untukku. Aku suka sinar matahari. Aku suka berlari-lari di bawah pancaran cahaya hangat matahari pagi, aku suka berkuda di cuaca yang cerah, aku suka membawa Cora jalan-jalan di bawah langit biru. Tapi disini, lihat saja bagaimana. Dingin, lembab dan berkabut.

Aku menyentuh kayu jendela kamarku yang bahkan masih berembun.

“Sherena…”

Continue Reading

Half Vampire – Noura

Rosse tersenyum lalu menyentuh lenganku, “Terima kasih Sherena, dan aku akan meninggalkanmu untuk beristirahat di ruang tidurmu ini. Aku tidak akan menutup pintunya kalau itu akan membuatmu berpikir aku mengurungmu disini.” Katanya mengodaku, membuatku tersenyum dengan canggung.
Tak lama kemudian akhirnya aku benar-benar sendiri di tempat ini setelah Rosse mengucapkan ucapan selamat beristirahat padaku dan beranjak pergi meninggalkan tempat ini. Aku menghempaskan tubuhku di ranjang yang empuk itu, berpikir, dengan kedua tanganku berada di belakang kepala.
Aku, Half Vampire yang juga seorang pengganti calon ratu. Aku bukan manusia sepenuhnya lagi. Aku kini berbeda dengan Ar tapi aku juga tak sepenuhnya sama dengan Dev. Aku masih Half Vampire,ingat. Ah mengingat dua orang itu, Dev dan Ar, membuat perutku sakit. Aku tidak tahu apa hubungannya tapi memang seperti itu kenyataannya. Aku merindukan mereka, sungguh. Apalagi Ar. Semoga mereka semua baik-baik saja. Tapi aku ingat kalau Rosse pernah berkata bahwa Dev baik-baik saja. Aku sedikit lega. Aku memang mulai belajar mempercayai mereka. Mereka dalam arti para vampire itu karena bagaimana pun aku adalah bagian dari mereka sekarang. Apakah secepat ini aku mengalah pada takdir mengerikan ini? Entah apa yang membuatku menjadi berpikir sedangkal dan selemah ini. Aku hanya tidak tahu. Tidak tahu harus seperti apa dan bagaimana.
Continue Reading

Half Vampire – Kastil

Kepalaku masih berdenyut- denyut ketika aku mencoba membuka mataku. Aku melihat beberapa siluet mengabur tak jelas di depanku. Aku mengerjap-ngerjap, mencoba memfokuskan pandanganku. Tiga pasang mata menatapku khawatir.
“Akhirnya kau bangun juga Sherena. Aku takut kalau aku agak berlebihan tadi.”
Damis.
Tiba-tiba aku merasakan kemarahan yang luar biasa begitu melihatnya, aku memandangnya dengan tatapan penuh nafsu untuk membunuhnya.
“Sherena….”
Continue Reading