Jogjakarta (Tempat untuk Kembali)

September 2012

Aku menjalinnya lagi. Kisah cinta yang dulu pernah meninggalkanku. Aku memaafkannya lagi, meski dulu dibuatnya aku habis sampai tak bisa lagi mengenali apa itu kebahagiaan. Menerimanya dengan tangan terbuka.Tanpa syarat.Tanpa keluhan.

Entah apa yang merasukiku sampai segila ini aku bersedia kembali padanya. Padahal dulu, ketika dia putuskan meninggalkanku dan meraih tangan perempuan lain, aku sudah kehilangan kepercayaan kepadanya. Aku kira aku sudah kehilangan semua cintaku padanya ketika kutahu tangan perempuan yang diraihnya itu adalah tangan sahabatku sendiri. Aku kira aku sudah kehilangan semua kekagumanku padanya. Tapi rupanya aku salah.

Continue Reading

Xexa – Ribi

Gabrietta atau Ribi tak pernah menganggap dirinya berbeda dari anak-anak lain di panti asuhan ini. Dia normal. Atau setidaknya begitulah anggapannya. Tapi sepertinya teman-temannya tidak sepakat dengannya, mereka menganggap Ribi aneh. Mereka menjauhinya dan Ribi sendirian. Diantara keramaian taman bermain yang ada di belakang bangunan utama panti asuhan, Ribi duduk sendirian di kursi kayu panjang. Dia sudah mencoba bergabung, bermain bersama yang lainnya. Namun ketika dia mendekat, tersenyum kepada mereka semua, anak-anak itu berlari menjauh. Bubar. Meninggalkan permainan mereka yang belum usai. Dan Ribi mundur, dia tahu dirinya tidak diterima. Jadi setiap siang, ketika yang lain bermain, berlarian, sembunyi tangkap, prosotan, dia hanya diam, mengamati dan tidak melakukan hal lainnya.

 

Begitu terus sampai umurnya hampir tujuh belas tahun, dia sama sekalitak punya teman disini. Dan ketika satu demi satu teman-temannya mendapatkan orangtua angkat, tidak satupun dari pasangan yang datang ke panti asuhan ini melirik kepadanya. Padahal Ribi bukan anak nakal. Dia manis dan cenderung pendiam karena selama ini teman-temannya tidak ada yang mau bicara padanya. Dia cantik dengan rambut bergelombang berwarna kecoklatan dan wajahnya yang oval. Mata lebar dan bulu mata yang lentik menghiasi wajahnya. Bibirnya tipis tapi penuh dan ketika dia semakin beranjak remaja, Ribi semakin menunjukkan sisi cantik dalam dirinya.

Continue Reading

Half Vampire – Tugas Pertama

Aku menyeka rambutku yang masih basah seraya memandang lurus ke depan. Tanpa sengaja aku menyentuh kalung yang kini melingkar indah di leherku. Aku merabanya, ini kalung milik Noura yang dulu diberikan Rosse padaku. Aku menghela nafas, aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku ingin memakainya padahal dulu setelah Reven begitu marah padaku karena kalung ini, aku menyimpannya dalam laci kayu di samping tempat tidurku. Tanpa pernah menyentuhnya. Namun entah bagaimana ceritanya, beberapa hari yang lalu, aku mengambil kalung ini dari laci dan memakainya sebelum aku kembali berlatih memanah.

Continue Reading

XEXA – Prolog

Hello semuanya. XEXA adalah kisah fantasi pertama yang aku tulis. Naskah ini mengendap sekitar lebih dari empat tahun tanpa terselesaikan di buku-buku tulisku. Dan sekarang, aku memutuskan untuk memulai menulis XEXA kembali. Tapi tenang saja, bukan berarti dengan menulis XEXA, HALF VAMPIRE akan terabaikan. Aku akan tetap menyelesaikan kisahku yang satu itu sebab aku juga sangat menyukainya. Well, aku tunggu komentar kalian tentang prolog Xexa ini ya. Memang masih sangat singkat tapi akan segera ada new chapter-nya.

Selamat membaca. 🙂

Continue Reading

Tentang Cinta

Dulu, ketika masih berusia empat belas tahunan, aku sering memikirkan bagaimana kelak cinta akan datang padaku. Dengan cara seperti apa, dimana, siapa dan kapan. Aku menerka-nerka, tapi kebanyakan malah terbentuk dalam imajinasi-imajinasi konyol yang sudah banyak dipengaruhi oleh drama-drama korea romantis yang kutonton. Seperti laki-laki yang sangat tulus mencintaiku, menerima apa adanya aku tanpa banyak mengeluh. Laki-laki yang membuatku betah menghabiskan dua puluh empat jamku hanya untuk berada di dekatnya. Laki-laki romantis yang mencium keningku dengan lembut, yang mengusap kepalaku penuh sayang, yang tertawa bersamaku. Berbagi kehidupannya denganku. Berbicara dan mengisahkan banyak hal kepadaku. Dan sialnya, aku seperti terobsesi pada laki-laki dalam bayangan di kepalaku ini.

Continue Reading