Half Vampire – Teka – Teki Baru

Morgan Feersel bukan seseorang yang angkuh dan dingin seperti Reven. Dia hangat, sangat baik dan bersahabat. Selama dua hari berturut-turut dia menemaniku berbincang saat pagi, siang dan malam ketika dia mengantarkan sup obat itu ke kamarku. Dia memaksaku untuk tetap di kamar, beristirahat, kecuali ketika aku akan ke kamar mandi. Itupun aku harus dibantu olehnya, karena rupanya kaki kiriku masih tidak bisa kugunakan untuk bergerak dengan benar. Aku berjanji akan membalas Lyra setelah semua ini selesai. Dia benar-benar berambisi membuatku terluka separah-parahnya dan sepertinya dia berhasil.
Aku beringsut bangun dari tempat tidurku bersamaan dengan Morgan yang masuk ke dalam kamarku. Begitu melihat aku sedang mencoba bangun, dia dengan sangat terburu berlari ke arahku. Mencoba membantuku bangun dan berdiri dengan benar.
Continue Reading

Masa Lalu

Setiap manusia menyandang masa lalu di bahu kirinya dan diberkahi masa depan di bahu kanannya. Seburuk apapun masa lalu seseorang, itulah yang akan dia bawa sampai mati. Masa lalu, kenangan, sebentuk memoriam yang akan membawa satu individu baru pada satu kehidupan yang lebih arif. Melalui proses hidup yang baru dijalaninya, dia akan melangkah dengan pasti ketika masa depan mengembangkan sayapnya, memintanya terbang bersamanya.
Namun, masa lalu tetaplah sebuah masa lalu meski kau berusaha dnegan sekuat tenagamu untuk menghapusnya. Tidak akan ada sesuatu yang bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu, sesuram apapun itu. Kita tidak punya mesin waktu yang bisa mengantar kita untuk berputar kembali pada satu momen yang ingin kita ubah. Tidak bisa. Ini kehidupan nyata dan bukan dongeng yang bisa diubah sesuai dengan keinginan penuturnya. Ini hidup, nyata dan berjalan maju tanpa punya tombol previous.
Continue Reading

Half Vampire- Morgan Feersel

Reven menurunkanku perlahan dari punggungnya, dan kami bertiga berdiri tegak, di tepian bukit paling tinggi di bawah kerindangan pohon, bersembunyi dari pancaran sinar matahari dan memandang lurus-lurus ke depan. Ke sebuah desa yang terlihat sangat kecil dari tempat kami berdiri sekarang.
“Itukah desanya?” aku bertanya.
“Ya.” Jawab Reven singkat tanpa memandangku.
“Baunya. Tempat itu penuh oleh bau busuk manusia serigala bahkan dari jarak sejauh ini. Memuakkan. Bagaimana bisa mereka hidup berbaur dengan manusia seolah-olah mereka itu sama dengan para manusia itu.” Komentar Lyra. Raut wajahnya terlihat jijik, dan jujur saja, aku tidak mencium bau busuk atau bau apapun yang dikatakan Lyra. Sepertinya, penciuman manusia memang lemah sekali.
Continue Reading

Xexa – Dunia Baru

“Kita berhenti disini.” Kata Dave pada Ribi yang langsung menghentikan langkahnya dengan tergesa. Ribi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya pepohonan yang mengitari mereka, tidak ada sesuatu yang kelihatannya berbeda atau istimewa. Mereka sudah berjalan masuk ke hutan cukup jauh dan sekarang Dave meminta berhenti disini, tepat di depan sebuah pohon yang kelihatan sudah cukup tua. Ribi memperhatikan pohon itu, meneliti. Itu pohon paling cantik yang pernah dia lihat. Daun-daunnya begitu rimbun, hijau. Penuh dan entah kenapa, ketika semakin diperhatikan, pohon itu mulai terlihat berbeda dari pohon-pohon lainnya. Ada semacam energi yang Ribi tidak tahu apa, namun menguar kuat dari situ.
Dave menyentuh batang pohon itu dengan tangan kirinya, memejamkan mata dan menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang tidak Ribi pahami. Sementara Dave melakukan itu, Ribi melirik si singa di sampingnya yang nampak bosan, menguap dan mengaruk-garuk kepalanya seperti yang biasa dilakukan manusia. Ribi mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu pasti makhluk apa itu sebenarnya. Dan ketika dia menatap lagi ke arah Dave, anak laki-laki itu sudah membuka matanya. Dia mundur, menjajari Ribi.

Continue Reading

Half Vampire – Keluarga Corbis

Lyra memandangku, sudut bibirnya tertarik ke atas. Membentuk senyum yang membuatku bertanya-tanya apa yang tengah ada di pikirannya sekarang. Lyra tidak pernah ramah padaku, meski tidak sesinis Lucia, aku tahu Lyra tidak pernah menyukaiku. Peringatan untuk menjauhi Dev yang pernah dikatakan Lyra kepadaku ketika di kastil menunjukkan sedikit alasan kenapa dia bersikap seperti ini kepadaku.

“Aku harus bicara empat mata denganmu, Michail.”

Aku menoleh dan melihat Reven berbicara dengan Michail Corbis yang mengangguk. “Kita bisa bicara di ruang pribadiku. Lewat sini, Reven.” Katanya menunjukkan jalan kepada Reven.

Reven memandang ke arahku, “Tunggu disini, Sherena. Aku ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan.” Ucapnya dengan begitu formal padaku. Begitu aku selesai mengangguk, Reven berjalan cepat mengikuti Michail Corbis yang sudah melangkah lebih dulu.

Continue Reading