BAD NEWS!

Aku benar-benar kacau ketika menulis postingan ini. Entahlah, ini seperti ketidakberuntungan paling mengerikan yang menimpaku di penghujung tahun 2013 ini. Aku kehilangan semua data-data di laptopku. Ya, SEMUA. Mulai dari foto-foto, dokumen, ppt, musik, video.. semuanya..

Tepatnya kemarin, laptopku secara tidak sengaja terinfeksi virus CRYPTOLOCKER. Ini jenis malware baru yang sepertinya baru muncul di akhir bulan September tahun ini. Aku juga tidak tahu kenapa laptopku bisa kena virus mematikan ini. Tapi yang jelas, semuanya sudah terjadi dan aku sudah kehilangan semua data-data penting itu.

 

Continue Reading

Malaikat Hujan – Nuna (Part 1)

Aku berharap dia melupakannya.

“Hujan.” Bisiknya di sebuah pagi yang dingin. Aku melirik ke jendela besar di belakangnya. Menyadari sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari. Please.. jangan katakan apapun Erel. Aku menghela nafas, berusaha berekspresi senormal mungkin, “Yah?” aku mendesah, jelas-jelas tidak ingin membuatnya membahas masalah itu lagi, “Hujan.” Kataku datar, “Kau mau kopi, Erel?” tanyaku singkat ketika aku bergerak turun dari tempat tidur. Aku sadar dia menatapku dengan kerutan dalam di keningnya.

“Hujan, Nuna. Hujan di akhir bulan November.” Ulangnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun aku mengabaikannya. Mengabaikan Erel, mengabaikan jantungku dan mengabaikan semua kilasan-kilasan memori tentang janjiku padanya. Aku terus melangkah dan berputar ke dapur kecil di apartemennya. Menyibukkan diriku dengan aroma kopi, air panas, cangkir, suara hujan dan semua teriakan di kepalaku.

Aku mendengar suara langkahnya mendekat. Aku terus berusaha mengabaikannya dan membiarkan pikiranku fokus pada seduhan kopiku. Aku merasakan nafasnya di leherku. Dengan lembut dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku dari belakang, “Di luar hujan deras, Nuna.” Bisiknya, “Hujan deras di akhir bulan November.”

“Hujan deras di akhir bulan November.”

Continue Reading

Half Vampire – Penyerangan

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Apa tujuanmu, Victoria Lynch?” desisnya penuh kemarahan.

“Balas dendam.”

Aku melihat buku-buku tangan Reven yang gemetar menahan semua emosinya. Dia mengenggam tangannya erat dan disampingnya, aku hanya bisa menatap bergantian ke arah Reven dan Victoria. Terus terang sampai saat ini, aku benar-benar tidak tahu ada masalah apa ini sesungguhnya.

“Aku tidak peduli pada balas dendam apapun yang kau rencanakan. Tapi jangan pernah menganggu kehidupanku dengan semua omong kosong yang akan kau ucapkan tentang kematian Noura. Jangan pernah melibatkan Noura dengan urusan kita.”

Suara Reven begitu tegas, dalam dan dingin. Aku melihat betapa dia berusaha dengan sangat keras agar tidak mengamuk. Victoria, anehnya justru tersenyum. Dia memandang Reven dengan lembut dan menyilangkan tangannya di depan dada, “Apa kau benar-benar menganggap semua yang telah dan akan kukatakan adalah omong kosong? Kau tahu bahwa aku sesungguhnya benar dalam banyak hal. Hanya saja kau terlalu pengecut untuk mengakui bahwa aku memang benar, Rev.”

Continue Reading

Another Story – Arshel

Aku berteduh di bawah pohon yang paling rimbun dan mengawasi apa yang dilakukan Ar dan beberapa slayer lain yang tidak kukenal. Mereka sedang berlatih seni berpedang. Aku tidak ikut. Tepatnya tidak mau ikut dan mencari ribuan alasan agar aku bisa melewati ini. Aku bukannya takut, aku hanya malas. Perak dan terik matahari? Terima kasih. Aku masih cukup mencintai diriku sendiri. Selain itu, kurasa entah apa yang telah dilakukan Reven dan Venice bekerja cukup baik dalam hal ini. Aku heran kenapa mereka tidak menanyaiku banyak hal tentang kenapa aku begini kenapa aku begitu. Aku tidak menyangka, mereka, yang katanya organisasi perlindungan terkuat manusia, ternyata sebodoh ini.

Satu gerakan luwes dan Arshel menjatuhkan lawannya yang terakhir. Aku mengamati bahwa, sesuai yang dikatakan Rena, pemuda ini berbakat. Aku mengangguk-angguk. Sayangnya, menurut penglihatanku, sedikit sekali disini yang seperti dia. Aku mengerutkan keningku ketika dia berjalan ke arahku. Apa dia sadar bahwa memperhatikannya sedari tadi?

“Hey kau!”

Aku melihatnya menunjukku dengan pedangnya. Aku mengangkat alisku, “Ada apa?”

“Kau berikutnya!” katanya sambil melemparkan pedang yang ada di tangannya ke arahku. Aku mundur menghindar agar ujung perak itu tidak mengenai kakiku. Alisnya berkerut melihat reaksiku, “Apa yang kau lakukan?” bentaknya menyebalkan.

Continue Reading