Another Story – Informasi Baru

Bersama Rena adalah ketika aku bisa menjadi benar-benar merasakan apa itu kebahagiaan. Bukannya selama ini aku menderita atau apa. Hanya lebih seperti jenuh pada kehidupanku yang monoton. Tapi dengan Rena, segalanya lebih berwarna dan terasa penuh gairah.

Entah karena pengaruh Rena atau bukan, aku jauh lebih senang berbicara sekarang. Bahkan Viona dan Lyra mengatakan itu kepadaku ketika aku pulang ke kelompok selama beberapa saat. Mereka menatapku dengan penuh tanda tanya hanya ketika aku bercerita begitu banyak tentang kehidupan manusia yang tengah kujalani. Aku bahkan tak me nyadari tatapan itu jika saja Lyra tak menggeleng dan berdecak menyebalkan.

Continue Reading

Remember Us – Belahan Jiwa

 

Hai.. hai.. aku datang lagi. Maaf tidak bisa menepati janjiku untuk memposting cerita ini dengan lebih teratur. Aku sedang sibuk berperang. Perang melawan hawa dingin. Winter is coming.. Brrrr.. *Kayak di Game of Throne. LOL*

Aku sedang di Jerman sekarang dan di sini dingin sekali. Sebagai makhluk yang terbiasa hidup di Surabaya dan berjibaku dengan matahari Surabaya yang ejegileeee panasnyee.. Hawa di sini bikin aku langsung mati kutu dan menelan umpatanku pada panas Surabaya. Sekarang aku merindukan dan memuja cuaca panas *tapi ya jangan panas-panas banget kaya Surabaya kalo lagi mode on*.

Nah, selain perang sama hawa dingin.. aku juga lagi sibuk.. narsis. Foto-foto ngga jelas di sini. LOL. Dimanapun dan kapanpun, selfie is the best. Kalian bisa lihat gaya endel-ku tempat apa saja yang kukunjungi di Jerman di IG-ku @amouraxexa , as always. Omaiguuuteee, aku promosi akun sosialku. Uhuk uhuk! *abaikan*

Oh astagaaa astagaaaaa, nulis apa sih aku ini. Eh tapi ngomong-ngomong kalian masih menyukai cerita ini tidak sih? Aku merasa semakin banyak yang meninggalkan Reven dan Sherena.. *pasang wajah sedih*

Tinggalkan komentar kalian ya, biar aku tahu jawabannya.

I love you all..

@amouraXexa

Continue Reading

Remember Us – Janji

“Kau—“

Tapi Morgan menggeleng, “Tidak. Kujelaskan nanti. Sekarang ikut aku, Sherinn. Di sini berbahaya.” Dia melompat, berubah menjadi serigala besar. Matanya menatapku sebentar, memintaku mengikutinya sebelum dia melompat dan pergi dengan cepat. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya dengan tak kalah cepat. Meninggalkan derap langkah kaki yang mendekat ke arah kami.

Morgan membawaku menjauh dari lingkungan kastil. Dia berhenti di bukit terjauh dimana puncak kastil hanya terlihat seperti sesuatu yang samar. Serigala besar itu berbalik dan menghilang,  digantikan sosok manusia Morgan. Seorang laki-laki dewasa dengan telanjang dada, otot-ototnya terlihat jelas, tertutup oleh kulitnya yang berwarna semakin gelap. Morgan terlihat lebih tua daripada ketika aku terakhir kali aku bertemu dengannya. Manusia serigala menua, meskipun dengan proses yang tidak secepat manusia.

Continue Reading

Another Story – Perempuanku

“Kau yakin kita harus mengatakan ini pada Ar?”

Rena mengangguk yakin, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekhawatiran sedikit pun.

“Aku ingin Ar yang pertama tahu tentang kita, Dev. Kami tidak pernah menyembunyikan sesuatu satu sama lain. Jika aku tidak mengatakan hal penting seperti ini pada Ar, ini akan sangat tidak adil untuknya. Aku tidak bisa.”

Aku mengerutkan kening. Memprotes perempuan di depanku ini sepertinya akan percuma. Dan keyakinannya tentang Ar membuatku entah mengapa jadi sedikit sebal. Kenapa dia malah berkata dengan gigih seperti itu tentang laki-laki lain di depanku?

“Aku masih tidak yakin.”

Continue Reading

Xexa – Kaum Liar

Ribi melangkah dengan hati-hati. Hutan ini tidak berujung. Mereka sudah berjalan berjam-jam yang lalu dan seolah-olah tidak akan berakhir. Ribi benci ini. Sejak awal dia tidak suka hutan ini, dan sekarang, berjalan diantara batang-batang abu-abu dan tanah segelap langit malam. Belum lagi ketika dia mendongak, dedaunan berwarna sepekat darah menyambutnya. Tempat ini mengerikan dan terkutuklah para penyihir yang membuatnya.

“Kita sampai.” Bisik Fred, memegang tangan Ribi ketika dia terhuyung nyaris jatuh karena tersandung akar pohon. Ribi mengumamkan terima kasih dan memandang ke depan. “Hi—jau.” Dia bergumam, ada sesemakan di depannya, dan warnanya begitu hijau, begitu alami. Dave dan Ares melewati sesemakan itu dengan usaha cukup besar. Lengan-lengan terangkat melindungi wajah agar tidak tergores duri ataupun batang-batang kecil yang tajam. Dan ketika muncul celah-celah karena pergerakan mereka, Ribi bisa melihat kilauan fajar yang mulai menyingsing. Sudut bibirnya tertarik ke atas dengan cepat. Setengah berlari karena sudah muak dengan warna abu-abu, merah dan hitam, Ribi meyusul Dave dan Ares dengan langkah buru-buru yang tidak mau repot-repot disembunyikannya. Fred tertawa kecil, mengikuti di belakangnya.

Continue Reading

Malaikat Hujan – Dilla

Ini pertama kalinya aku melihat Adrian terlihat serapuh ini. Aku biasa melihat sosok Adrian yang dingin, mandiri dan tenang meskipun kadang agak pemarah. Namun sekarang, hanya berjarak beberapa meter, aku bisa melihatnya yang duduk dengan wajah kosong menatap ke dinding kaca kantornya yang mengarah ke luar. Wajahnya kuyu, dengan rambut yang tidak disisir rapi dan jenggot dan kumis yang mulai tumbuh di sana. Padahal aku tahu pasti bahwa Adrian sama sekali tidak suka memelihara kumis dan jenggot.

Aku menghela nafas. Sekretaris Adrian menghentikan langkahku untuk mendekat ketika dia berkata dengan sangat pelan, “Pak Adrian sedang tidak ingin diganggu, Bu Dilla. Lebih baik anda kembali lain waktu saja. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Pak Adrian.”

Continue Reading

Remember Us – Firasat

“Rena..”

Sentuhan lembut tangan Reven di pundakku membuatku mengangkat wajahku. Kedua bola mata biru Reven membingkai wajahku, dengan sabar dia mengusap wajahku, membersihkan tanah yang menempel di wajahku, “Ayo pulang.” Bisiknya.

Aku menggeleng, “Mereka harus membayar ini semua. Aku bersumpah. Mereka harus membayar ini semua.”

Reven mengangguk, “Pasti.” Dan dia menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkan aku menangis terisak di dalam pelukannya.

Continue Reading