Xexa – Kekuatan

“Kelahiran kembali dari Edna?” suara si pemuda tercekat, kulit wajahnya yang cokelat berubah menjadi pucat dan putih, nyaris transparan.
Dave mengangguk, mengerti benar reaksi anilamarrynya.
Setelah Memnus menelan semua kekagetannya, kulitnya kembali berubah menjadi cokelat dan matanya yang gelap mengamati sekeliling mereka. Sepi. Tak terlihat satupun makhluk lain selain dia dan penyihir pemiliknya. Cerita Dave tentang siapa Gabrietta sebenarnya masih bergaung di benaknya, mengalahkan suara deras sungai besar di bawah mereka. Mereka sekarang memang sedang berdiri di titian yang hanya terdiri dari susunan kayu-kayu yang dililit akar pohon. Namun jatuh ke sungai dalam dengan arus kuat sama sekali bukan hal yang akan dicemaskannya. Edna. Itulah yang patut dicemaskan sekarang. Danesh juga, jika Dave masih perlu diingatkan tentang masalah ini.
Tangan Dave menggenggam kuat pembatas titian yang berupa rantng-ranting lentur yang berjalin dan tumbuh menyamping. Dia melirik pada Memnus yang sekarang menggeleng-geleng.
“Ceritakan padaku apapun yang kau tahu tentang Edna, Memnus.”

Continue Reading

Remember Us – Peringatan yang Terlambat

Aku berjalan cepat menyusuri lorong kastil yang dingin dan gelap. Kugunakan semua kemampuanku untuk memindai keberadaan siapapun di kastil ini. Namun entah kenapa, aku tidak bisa dengan leluasa mengunakan kelebihan pada indera-inderaku di sini. Ada sihir yang melindungi kastil ini. Itu sudah jelas.

Jadi aku tidak bisa banyak berharap dan hanya mengandalkan keberuntungan. Siapa tahu mendadak aku bertemu dengan Victoria. Tapi bermenit-menit menelusuri kastil ini, aku tidak bertemu Victoria atau siapapun lainnya. Kastil ini begitu sepi seolah sudah lama ditinggalkan.

Kemana mereka semua pergi, rutukku kesal. Kurasa aku tidak meninggalkan mereka lama dan mendadak semua orang sudah lenyap begitu saja. Aku berjalan dengan mulut menyumpah-sumpah jengkel. Aku butuh bertemu dengan Victoria sekarang.

Continue Reading

Another Story – Bertemu Kembali

 Teriakan kegembiraan dan gema lega memenuhi aula utama di kastil utama. Namun bagiku, ini seperti lingkupan ketakutan.
Sang pengganti calon ratu telah ditentukan. Temukan dia dan kita lepas duka atas Noura. Bawa Sherena Audreista ke kastil ini dan bayangan lemah ras kita akan lenyap. Tuntun atau seret sang heta dan beri dia seluruh kehidupan kita.”
Suara Illys seperti suara pengabar maut untukku. Nama itu begitu jelas dikabarkan dan tak ada heta lain dalam kerajaan manusia dengan nama itu. Hanya dia, hanya Renaku. 

Continue Reading

Tentang Suka Pertama

Semalam, aku memimpikan seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah aku lihat. Seseorang yang menjadi pujaan hatiku ketika aku masih sangat belia. Aku tidak tahu kenapa aku mendadak memimpikannya. Tapi kupikir itu tidak masalah karena dengan mendapat mimpi itu, hari ini aku mengingat banyak hal indah yang membuatku tersenyum. Sebuah kisah tentang suka pertama. Kali pertama aku menyukai seorang cowok. Dan aku ingin membagi kisah ini di sini.

Dalam mimpiku, aku melihat dia dan aku berteriak, “Ya ampun, sudah lama banget ngga ketemu!” lalu aku peluk dia dan dengan iseng mencium bibirnya selintas. Astaga, serius.. cuma selintas dan dia bengong lalu aku tertawa terbahak. Setelahnya berbisik dengan teman di sampingku, “Mumpung ada kesempatan.”. Sungguh, aku tidak tahu aku bisa seliar itu. 🙂

Continue Reading

Remember Us – Pertemuan dan Sumpah Pembalasan

Aku tidak tahu berapa lama dan berapa jauh kami sudah pergi. Namun satu yang kutahu adalah kastil kerajaan dan kota utama sudah sangat jauh di belakang kami. Begitu jauh sampai aku tahu pasti bahwa aku mungkin saja tidak akan ke sana lagi. Lagipula aku tidak punya alasan untuk ke sana. Aku sudah bertemu Victoria Lynch—dia berlari di depanku—dan bertemu dengan vampir lainnya, yang salah satunya adalah janjiku untuk Lyra. Aku akan menepatinya dan memberitahu Damis tentang ini setelah kami berhenti. Aku juga merasa sangat senang dan lega karena kaumku masih hidup. Para vampir tidak akan berakhir hanya karena satu perang besar.

Namun keinginan itu terlupakan ketika kami akhirnya berhenti dan sebuah kastil kecil yang terlihat menyeramkan dengan dinding-dinding batunya yang hitam dingin berdiri di depanku. Dekat sekali. Tapi ini bukan kastil seperti yang ada di lukisanku—yang dilukis oleh Rowena—namun beberapa bagian nampak mirip meskipun aku tetap yakin ini bukan kastil itu.

Continue Reading

Mengabarkan Rindu

Doc. Pribadi

Kau tahu rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan itu? Apa kau juga tahu bagaimana rasanya disiksa oleh perasaan itu detik demi detik dan kau masih saja tidak bisa melakukan apapun? Jika kau tahu, mari kita bicara. Sebab aku ingin membagi perasaan sesak ini. Aku ingin membaginya agar aku tidak perlu terus menerus berdiam dalam luka yang mengikisku habis dari dalam. Aku merindukan banyak orang. Aku merindukan banyak hal. Dan rindu itu membunuhku perlahan. Aku menangis, tapi tidak pernah tahu kapan airmataku bisa habis. Aku ingin berhenti menangis, tapi setiap kali aku diam. Aku akan menangis lagi dan lagi. Sampai kebas dan bosan rasanya pada rasa sakit ini. Rasa sakit karena rindu yang tak pernah terbayar.

Continue Reading

Xexa – Anilamarry

Ribi berjalan dengan kaki telanjang di sebuah lembah yang dingin. Dia tidak tahu dia ada dimana namun entah kenapa dia tidak merasa takut. Rumput-rumput terasa mengelitik kakinya ketika dia berjalan. Di kanannya, sebuah jurang kecil memperlihatkan sungai mengalir dengan airnya yang beriak bening. Dia masih saja melangkah meski dia tidak tahu kemana tujuannya. Pohon-pohon menjulang tinggi memagari sisi kirinya dan beberapa anak burung terdengar mencicit dari salah satu puncak pohon.

Ada suara deras air terjun di depan sana dan mendadak Ribi seolah tahu bahwa di situlah tujuannya. Dia melangkah, menghindari beberapa bunga liar, dan terus maju ke depan. Ujung gaunnya yang berwarna merah lembut menyaruk-yaruk tanah dan dia tak peduli. Seolah ada sesuatu lain yang lebih penting baginya.

Continue Reading