Remember Us – Kelompok Baru

Reven memang sengaja melakukan ini. Aku tahu itu. Lihat saja, dia pikir dengan meletakkanku satu kelompok dengannya dan makhluk-makhluk aneh ini, aku akan melunakkan sikapku dengannya? Mimpi saja, karena aku bahkan tidak akan mau bicara dengannya. Jujur saja berada di kelompok ini memang menyebalkan dan mereka mengabaikanku karena menganggapku lemah sepertinya begitu.
 
Continue Reading

Xexa – Putri Airella

“Apa rakyat di negeri ini tidak penasaran dengan wajah putri kerajaan mereka?”

Airella mengomel tidak jelas sambil melempar belati yang ada di tangannya ke arah batang pohon yang ada jauh di depannya. Belati itu menancap sempurna, sama lurus dengan arah lemparan Airella yang terlihat tidak bertenaga.

 

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada mereka mumpung kita sedang ada di hutan bebas begini?”

Continue Reading

Remember Us – Niat Awal

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Aku berkata dengan frustasi sambil menjambak bagian depan rambutku dengan kesal. Kenapa aku membiarkan kata-kata makhluk angin sialan itu mengacaukanku? Kenapa aku tidak bisa sedikit saja berusaha mengontrol diriku sendiri? Dengan meneriakinya begitu dan tergopoh pergi dari hadapannya sama saja mengisyaratkan bahwa semua yang dikatakannya adalah kebenaran.

“Aku mencurigai makhluk angin bernama Memnus itu,” suara Damis semakin kepalaku. Aku mendesah dan mengusap wajahku dengan lelah.

Tidak bisakah aku punya hidup yang biasa-biasa saja?

Continue Reading

Xexa – Pengkhianatan Lain

Dave bahkan sadar bahwa dia menahan nafasnya ketika dia melihat bangunan besar di depannya itu. Dia baru saja keluar dari kepungan semak-semak liar ketika menyadari tanah luas di depannya dan sebuah bangunan tua kokoh itu. Dia tak yakin apakah itu kastil karena arsitekturnya yang terasa berbeda dengan kastil-kastil yang pernah dibangun di Tierraz. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang ditata apik dengan bentuk sederhana. Satu menara tinggi dan sebuah balkon utama yang menghadap ke arahnya nampak dihiasi sulur-sulur cantik dan bunga rambat lainnya.

“Tempat ini benar-benar ada.”

Kepala Dave menoleh ke arah Foster di sampingnya yang ekspresi wajahnya tak jauh berbeda darinya. Bahkan menurut Dave, ada bagian dari diri Foster yang seolahmengenal kastil di depan mereka ini.

“Apa maksudmu dengan tempat ini benar-benar ada? Kau pernah mendengar tentang kastil ini sebelumnya?”

Continue Reading

Surat Cinta Untuk Pembaca

Dear all,
 
Untuk kalian semua pembaca cerita-ceritaku. Maafkan ketidakkonsistenanku untuk memposting semua lanjutan ceritaku di sini. Serius deh, aku aslinya pengen banget bisa posting, tapi apa yang mau diposting kalau aku bahkan belum nulis lanjutannya sama sekali, cuma ada draft-draft mentah yang belum diolah sama sekali.
Continue Reading

Remember Us – Pertemuan Lain

Last update bulan Januari lalu?? Astaga.. astagaaaa.. Maafkan aku. Aku tahu itu keterlaluan. Tapi aku sungguh-sungguh dimakan kesibukkanku. Kupikir berada di Indonesia, aku akan segera punya berjubelan waktu luang. Ternyata malah.. Apalagi semester ini aku mulai menghadapi realita paling mengerikan dari kehidupan kampus : SKRIPSI. Ditambah aku juga kerja part time. Maka lengkaplah sudah, aku kehilangan kebebasan dan banyak waktu luangku. Sebagian besar waktu luangku yang kupunya hanya setelah aku pulang kerja, yang mana itu, tentunya aku sudah capek setengah mati dan hanya punya satu keinginan : tepar. Hahahha malah curcol. Ah ya sudahlah. Selamat membaca kalian semua.. Terima kasih sudah sabar menunggu Rena dkk.

Xoxo,

@amouraXexa

Continue Reading

Xexa – Teman

Fred tak pernah merasa sebingung ini sepanjang hidupnya. Tapi semua yang menimpanya saat ini benar-benar membuatnya tak sanggup menentukan langkah. Dan denyut menyakitkan di punggung telapak tangannya justru memperburuk segalanya. Belum lagi apa yang sudah dilakukannya pada Gabrietta. Gadis itu tidak tahu apa-apa dan tidak seharusnya dia memperlakukannya seperti itu.

“Pangeran..”

Dia memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan kasar dan cepat sebelum menoleh pada anilamarrynya. Seorang laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam menatapnya dengan sepasang mata kecil tajam yang tak asing lagi.

“Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu.” ucapnya kesal meski tahu itu tak berguna. Ahriman selalu memanggilnya dengan sebutan itu sejak dia memberitahunya secara langsung bahwa dia adalah Danesh, sang pangeran terkutuk. Pangeran terkutuk? Fred mendengus lelah.

“Anda harus segera memutuskannya,”

Continue Reading