Remember Us – Tatriana

“Kau sudah mengatasinya?”

Edna tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil sembari berjalan lurus menuju perapian di ruangan Luca. Dia membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya, menyentuh kayu-kayu yang bertumpuk di perapian. Sebentar kemudian api biru membakar kayu-kayu itu hingga hangat menyebar ke seluruh ruangan yang semula dingin. Edna menarik tangannya perlahan sebelum dia berbalik dan memandang Luca yang sedari tadi mengamatinya.

“Kenapa kau merasa penting membunuh perempuan itu? Apa masalahnya jika Reven tahu rencanamu, jika pun dia menolak dan membangkang, kita bisa langsung menyingkirkan dia. Reven mungkin memang punya kemampuan bertarung yang cukup baik, tapi dia bukan apa-apa jika melawan kita.” Ucap Edna cepat dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Continue Reading

Remember Us – Tindakan Awal

“Jangan melakukan apa pun. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu menunggu dan Sherena Audreista akan lenyap tanpa kau perlu mengotori tanganmu dan mengambil risiko tak perlu.”

Lucia memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan kalimat-kalimat itu dalam kepalanya, tapi semakin dia memokuskan dirinya, semakin suara perempuan api itu memenuhi kepalanya. Dia akhirnya membuka matanya ketika mendengar suara langkah seseorang mendekat ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Lucia?”

Suara itu terdengar tidak senang, tapi wajah Lucia terlihat lebih tidak senang dan dia memandang sinis perempuan itu.

“Hentikan, Victoria.”

Continue Reading

AUPAIR YA? atau TIDAK?

Menjadi seorang aupair tentunya adalah sebuah keputusan yang besar. Ketika kamu mengambil keputusan itu, berarti kamu telah siap untuk masuk ke tahap lain di hidup kamu. Namun banyak juga dari para aupair yang merasa keputusan menjadi aupair adalah salah, justru ketika mereka sudah berada di negara lain tempat mereka menjalankan program aupair.

Coba pikirkan berapa banyak uang yang sudah mereka keluarkan dan berapa banyak waktu yang sudah mereka habiskan untuk bisa sampai di sana dan ternyata ujung-ujungnya mereka menyerah. Kalau sudah ada di negara lain, pilihan mundur jelas sudah sedikit terlambat, bukan? Nah sebelum semua itu terjadi, coba cek poin-poin yang aku akan sebutkan setelah ini untuk mengecek apakah kamu sudah benar-benar siap untuk menjadi aupair di negara lain (terutama Jerman atau Austria).

Continue Reading

Remember Us – Aura Sihir

Elegyar Foster memandang sosok-sosok berjubah yang berdiri tak jauh darinya dan kelompok kecil yang dibawanya. Bersembunyi di bawah tudung jubah mereka, Foster tetap tahu siapa saja yang ada di balik bayang gelap itu. Entah bisa disebutnya anugrah atau kelemahan, sejak lahir Foster bisa melihat aura sihir siapa pun dan apa pun di Tierraz. Setiapnya tak sama dan memiliki pola yang berbeda tergantung kekuatan di dalamnya. Dari sanalah dia bisa mengenali siapa atau apa saja dari aura sihir mereka.

Foster masih ingat dengan jelas bagaimana masa kecilnya hanya dihabiskannya untuk belajar mengendalikan penglihatannya akan aura sihir. Dia beruntung karena Lord Lagash akhirnya menemukan seseorang untuk menolongnya. Sebab jika tidak, dia akan buta. Tak ada apa pun yang bisa dilihatnya. Tidak cahaya bintang, matahari, hanya jaring-jaring aura sihir, sebab Tierraz adalah tanah sihir. Setiap jengkalnya punya sihir tersembunyi.

Continue Reading

Siapa Suruh Datang Eropa? Duka Tinggal di Eropa (Jerman dan Austria)

Ngga kerasa hampir dua tahun sudah aku tinggal di Eropa, setahun di Jerman, lalu pulang ke Indonesia demi ngejar ijasah sarjana, lalu balik Eropa dan tinggal hampir setahun di Austria. Ngga sedikit teman dan kenalan yang berkomentar, “Enak ya tinggal di Eropa.”. Tanggapan paling normal yang aku berikan biasanya seperti ini, “Ada enak dan ngga enaknya juga.”. Lalu seperti apa sebenarnya rasanya tinggal di Eropa, benua yang jaraknya belasan ribu kilometer dari rumah?

Continue Reading

Remember Us – Rencana Luca

Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong kastil. Suara tapak kaki yang keras dan tegas itu menggambarkan betapa si pemilik sedang terburu pergi. Langkah itu perlahan menghilang digantikan suara pintu yang dibuka paksa dengan keras.

“Kau jelaskan padaku sekarang, Luca!”

Tiga sosok yang tengah bicara dengan serius itu menoleh bersama ke arah pintu tempat Edna berdiri menjulang dengan wajah memerah marah. Luca menghela nafas, beralih ke arah Nerethir dan Victoria, “Tinggalkan kami.” Ucapnya pelan, namun tegas.

Keduanya mengangguk dan bangkit dengan cepat, bersyukur dalam hati. Tak ada satupun yang mau berada satu ruangan dengan seorang putri api yang sedang terlihat marah besar. Edna hanya menatap sinis saat Nerethir dan Victoria melewatinya setelah mereka berdua mengangguk hormat pelan padanya. Dia melangkah maju dan membanting pintu di belakangnya saat dia benar-benar telah sendirian dengan Luca.

“Tidak bisakah kau menunggu?”

Continue Reading