Another Story – Arshel

Aku berteduh di bawah pohon yang paling rimbun dan mengawasi apa yang dilakukan Ar dan beberapa slayer lain yang tidak kukenal. Mereka sedang berlatih seni berpedang. Aku tidak ikut. Tepatnya tidak mau ikut dan mencari ribuan alasan agar aku bisa melewati ini. Aku bukannya takut, aku hanya malas. Perak dan terik matahari? Terima kasih. Aku masih cukup mencintai diriku sendiri. Selain itu, kurasa entah apa yang telah dilakukan Reven dan Venice bekerja cukup baik dalam hal ini. Aku heran kenapa mereka tidak menanyaiku banyak hal tentang kenapa aku begini kenapa aku begitu. Aku tidak menyangka, mereka, yang katanya organisasi perlindungan terkuat manusia, ternyata sebodoh ini.

Satu gerakan luwes dan Arshel menjatuhkan lawannya yang terakhir. Aku mengamati bahwa, sesuai yang dikatakan Rena, pemuda ini berbakat. Aku mengangguk-angguk. Sayangnya, menurut penglihatanku, sedikit sekali disini yang seperti dia. Aku mengerutkan keningku ketika dia berjalan ke arahku. Apa dia sadar bahwa memperhatikannya sedari tadi?

“Hey kau!”

Aku melihatnya menunjukku dengan pedangnya. Aku mengangkat alisku, “Ada apa?”

“Kau berikutnya!” katanya sambil melemparkan pedang yang ada di tangannya ke arahku. Aku mundur menghindar agar ujung perak itu tidak mengenai kakiku. Alisnya berkerut melihat reaksiku, “Apa yang kau lakukan?” bentaknya menyebalkan.

Aku hanya memandangnya sekilas dan tak berniat menanggapinya meski aku mulai terpancing pada sikap menyebalkannya. Kurasa aku cukup hebat dalam mengontrol emosiku sendiri. Jika ini Lyra, dia pasti sudah menerjang Arshel dan mereka akan berakhir dalam duel.

“Ambil pedang itu, Dev. Aku dengar prestasimu di utara cukup bagus. Aku ingin melihatnya sendiri.”

Aku menunduk mengambil pedang itu. Mengenggam gagang pedangnya dengan erat. Aura peraknya membuat merasa tidak nyaman, namun aku harus melakukan ini atau si Arshel ini akan terus menerus menganggu ketenanganku disini. Lagipula lumayan juga, untuk bermain-main.

“Aku tidak suka matahari.” Aku memandangnya lurus-lurus. Dia mengangguk, “Aku tahu soal penyakitmu. Ikut denganku, ada sebuah tempat yang cukup teduh di sekitar sana. Kita bisa melakukan uji coba disana.”

Beberapa slayer yang berada di sekitar kami memandangku dengan ingin tahu. Terlihat sekali betapa penasarannya mereka atas jawabanku. Aku tersenyum, “Kau di depan.” Kataku. Ar tersenyum tipis, berputar dan berjalan lebih dulu. Aku mengikutinya. Dan semua yang ada di lapangan latihan ini mengikuti kami.

Aku menimbang-nimbang pedangku dan mengayunkannya ringan begitu kami semua sudah berada di tempat yang dikatakan Arshel. Aku sepakat, matahari tidak berjaya disini. Cukup nyaman. Tapi aku merasa aneh dengan gagang pedang dalam genggamanku. Aneh saja melihatku memegang-megang benda berunsur perak ini dengan tanganku sendiri.

“Kau siap, Dev?”

“Tentu saja.” Aku mengangkat wajahku dan melihat Arshel beberapa meter di depanku. Dia tersenyum singkat sebelum maju dan mulai melakukan serangan-serangan mengejutkan ke arahku. Aku bergerak dengan seperempat kekuatan vampirku untuk menghindarinya. Dia melirik ke arahku melihat kecepatan gerakanku. Apa seperempat dari kekuatan vampirku masih terlalu cepat untuk ukuran manusia?

Dia berputar dan melakukan gerakan tak terduga yang membuat pedangku terlepas dari tanganku. Lalu satu senti saja, aku merasakan unsur perak itu berpendar di leherku. Arshel bisa saja menebas leherku jika dia tidak menghentikan laju pedangnya. Dia mendengus, menarik pedangnya dan memandangku dengan remeh, “Jika kau punya kecepatan seperti itu, harusnya kau gunakan untuk melawan, bukan menghindar. Kau tidak akan tahu siapa lawanmu, jangan terlalu lemah.” Serunya lantang sebelum dia berbalik pergi begitu saja dan meninggalkanku yang menjadi tontonan slayer-slayer lain.

Banyak dengungan dan suara masuk ke telingaku dan tapak-tapak kaki yang akhirnya menjauh, namun aku masih membeku di tempatku semula. Wajah Arshel yang meremehkanku dan suara serta ucapannya yang menghinaku membuat amarahku mencapai ambang batas.

“Kau harusnya bisa mengendalikan dirimu.”

Aku menoleh dengan terkejut menyadari suara siapa itu. Dan benar saja seperti dugaanku. Sosok ramping dan sintal milik Noura keluar dari balik salah satu pohon yang ada disini. Aku mengamati sekitar. Tidak ada siapapun. Syukurlah. Aku memandangnya dengan marah. Sudah pernahkah kukatakan kalau aku kurang menyukai Noura?

“Apa yang kau lakukan disini?”

Dia tersenyum. Bibir merahnya melengkung manja, “Tidak ada. Hanya berkunjung.” Jawabnya manis.

“Dengan sepengetahuan Reven?”

“Tidak. Dia sibuk di kastil. Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu sedang beradu pedang dengan seorang slayer. Dan sayangnya, kau dikalahkan. Tak sampai dua menit.”

Aku membuang muka, “Aku hanya belum terbiasa dengan pedang.”

Noura mengangguk, “Aku tahu. Lagipula siapa peduli? Kita tidak berurusan dengan benda sialan seperti itu. Kau tahu, aku justru kagum padamu. Kau mengontrol dirimu dengan kuat agar ka tidak menggunakan kekuatan vampirmu dengan berlebihan. Selain itu kurasa kalah dengan slayer tadi bukan hal yang buruk. Itu tidak akan membuatmu menjadi pusat perhatian. Setidaknya sekarang semua manusia disini tidak akan berpikir kau slayer dari utara yang spesial. Kau biasa saja, sama seperti mereka.”

Aku memalingkan wajahku ke arahnya, “Pulanglah.” Kataku singkat dan berjalan meninggalkannya. Aku benar-benar sedang tidak ingin berbincang dengan siapapun, apalagi dia. Noura mungkin magnet bagi sebagian besar kaumku, tapi tidak untukku. Entah kenapa dari awal aku tidak terlalu menyukainya. Intuisiku mengatakan dia akan membawa pengaruh buruk di masa depanku, entah dalam hal apa.

“Kau seharusnya mencoba menikmati tugas ini Dev. Kurasa ini tidak seburuk yang ada dalam pikiranmu. Menurutku, kau akan sangat berterima kasih kepada Reven karena memberimu tugas ini. Percayalah.”

Aku menoleh ke belakang, dan Noura tersenyum misterius sebelum dia berbalik dan melesat pergi. Aku mengamati sisa-sisa bayangannya dalam ingatanku. Mengabaikannya, aku kembali melangkah pergi dari tempat ini. Kurasa aku tidak akan pernah peduli pada apa yang dia katakan. Lagipula demi apa aku bakal berterima kasih kepada Reven untuk tugas super menyebalkan ini. Tidak akan.

***

Sesi makan siang? Buruk. Aku menghindari aula besar itu karena yah, aku tidak lapar dan sedang tidak ingin berpura-pura menelan makanan tanpa rasa itu. Seenak apapun makanan itu di mata para manusia, bagiku itu hambar. Hanya darah yang memiliki sejuta keajaiban rasa di semesta. Aku mengingat kapan jam makan terakhirku agar aku bisa memprediksi kapan aku akan lapar. Bahaya sekali jika aku sedang sangat kelaparan dan justru berada di sarang darah seperti ini. Tindakan gegabah karena lapar bisa memporak porandakan tugas ini.

Aku memutari sisi luar kastil yang sepi karena nyaris semua orang ada di aula besar untuk makan. Menikmati pemandangan siang yang jarang di bawah keteduhan bayangan kastil yang tinggi, aku tetap merasa pantulan sinar matahari yang selalu saja membuatku merasa ingin pulang. Tempat ini terlalu mendapat sinar matahari. Dan aku tidak suka itu.

Telingaku menangkap suara manusia, aku maju mendekat dan menemukan Arshel duduk bersandar di dinding kastil seorang diri. Kurasa dia sedang melakukan percakapan satu arah dengan pikirannya sendiri. Aku merasa akan sangat menyenangkan membaca pikirannya. Mataku memandangnya fokus dan keningku berkerut dalam. Aku sama sekali tidak bisa membaca isi pikirannya. Apakah dia membentengi pikirannya?

“Apa yang kau lakukan disitu?”

Suara Arshel membuyarkan pikiranku dan aku menatapnya sekali lagi, “Tidak ada.” Kataku sambil meneruskan langkahku ke arahnya, “Dan kau, apa yang kau lakukan disini?” tanyaku mengambil duduk tepat di sampingnya. Aku akan mencoba bersikap baik padanya meski sepertinya dia tidak terlalu menyukaiku. Kurasa ini akan menarik, aku berharap kami bisa berteman. Sebab menurutku, ada sesuatu dalam diri Arshel yang terasa misterius dan aneh. Tak banyak manusia yang sanggup membentengi pikirannya. Kebanyakan juga bahkan tak sadar jika pikiran mereka bisa dibaca. Tapi dia, makhluk pemarah di sampingku ini justru melakukannya meskipun dia sedang sendirian.

Dia tidak menjawab pertanyaanku dan kurasa aku harus berusaha lebih kerasa agar dia mau membuka dirinya untukku. Ini pasti mudah, sebab perempuan bernama Sherena itu saja bisa terlihat sangat dekat dengan Arshel, “Kenapa kau tidak bergabung bersama semua orang di aula besar?” aku bertanya lagi.

Kali ini dia menoleh, “Dan kenapa kau juga tidak bergabung bergabung bersama semua orang di aula besar?”

Aku tertawa. Kurasa dia benar-benar keras kepala, “Aku tidak berminat mengisi perutku. Aku tidak lapar.”

“Kalau begitu itu juga adalah alasanku.” Arshel membuang muka dan kembali menatap ke depan. Aku menghela nafas, bersabar. Lagipula kupikir Arshel akan berguna bagi tugasku karena setahuku dia adalah orang kepercayaan Master. Mungkin aku akan bisa mendapat banyak info penting darinya kelak. Namun terlebih dulu, aku harus membuatnya membuka diri kepadaku. Kurasa setelah ini aku harus banyak mencari tahu tentang Arshel dari orang-orang lain disini.

“Kenapa kau duduk di sebelahku?”

“Hah?” aku tidak mengerti.

Dia tertawa sinis, “Kau harusnya membenciku karena aku sudah mempermalukanmu di hadapan banyak slayer tadi. Sekarang yang kau miliki di depan mereka tak lebih dari status perpindahanmu dari utara dan penampilan fisikmu.”

Aku tertawa. Apa dia benar-benar berpikir bahwa apa yang dia lakukan tadi penting untukku? Oh ayolah, apa dia menang atau kalah dalam berpedang denganku. Aku bahkan tidak yakin aku bisa memegang pedang sialan itu dengan benar dalam pertarungan. Sudah kukatakan, unsur peraknya terlalu kuat dan aku tidak bisa lama-lama memegangnya. Kami, vampir, tidak butuh alat bantu dalam pertarungan. Namun tentu saja aku tidak bisa mengatakan semua itu kepada Arshel jadi aku hanya mengangkat bahuku, “Itu tidak masalah bagiku.” Jawabku singkat.

“Apa maksudmu?”

“Kurasa tidak penting apa yang kulakukan di pelatihan ini. Kita sudah lulus dan hanya menunggu untuk mendapatkan tugas dari Master bukan? Latihan serius hanya untuk para pemula. Aku akan merasa pertarungan menjadi penting jika itu benar-benar terjadi, bukannya main-main dengan sesama timmu.”

Kedua alis Arshel saling tertaut, “Aku penasaran bagaimana aksimu jika kau berada dalam pertarungan yang sesungguhnya. Kurasa manusia serigala dan vampir adalah lawan yang membuatmu tertarik.”

Aku tertawa, “Sejujurnya hanya serigala busuk itu saja yang akan membuatku bertarung dengan benar.” Yah, tentu saja. Mana mungkin aku melawan vampir? Mereka kaumku sendiri. Tapi tentu saja Arshel tidak tahu.

“Aku lebih suka melawan vampir. Kecepatan dan kekuatan mereka menakjubkan. Aku kadang merasa sedikit kewalahan jika menghadapi beberapa dari mereka sekaligus. Para vampir benar-benar seperti makhluk jelmaan iblis.”

Kali ini kedua alisku yang saling tertaut. Arshel, seandainya kau tahu bahwa kau sedang membicarakan vampir di depan seorang vampir. Namun aku menguasai ekspresiku dan mengangguk, “Jelmaan iblis? Aku sepakat denganmu.” Kataku setulus mungkin.

“Ya, menurutmu mereka itu mahkhluk apa lagi kalau bukan jelmaan iblis. Meminum darah manusia. Tidak tumbuh tua. Berdarah dingin. Takut matahari. Benar-benar seperti iblis.”

Aku menyipitkan mataku. Terpaksa mengangguk. Sejujurnya aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menanggapi omongan Arshel. Sebab yang ada di kepalaku hanya makian untuknya. Ah, sudahlah, siapa peduli. Aku sedang jadi manusia disini.

“Kau terlihat sangat membenci vampir, apa mereka telah membunuh keluargamu?”

Dia menatapku sekilas sebelum menjawabnya, “Tidak. Sejujurnya aku tidak terlalu membenci mereka.” Lalu matanya menerawang dan aku merasakan sesuatu yang ganjil. Tapi aku menahan rasa ingin tahuku dan membiarkannya meneruskan ucapannya. Namun ternyata dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Sementara itu aku justru bingung harus berkata apa lagi.

“Vampir membunuh semua anggota keluargaku.” Kataku mengingat semua informasi palsu karangan Reven. Arshel tidak bereaksi apa-apa, tidak nampak peduli atau bahkan menunjukkan tanda-tanda simpati. Dia hanya mengangguk, “Aku sudah tahu itu.” Sahutnya pelan, “Aku sudah membaca semua informasi pribadimu. Master memberikannya semua keterangan lengkap tentangmu padaku.”

“Kau-“

“Tenang saja. Tidak ada maksud tersembunyi. Aku hanya perlu tahu jenis slayer seperti apa yang akan menjadi anggota timku. Aku tidak ingin sembarangan orang masuk diantara aku dan Rena. Mungkin saja itu bisa berakibat buruk untuk Rena. Jadi aku harus memastikan semuanya sebelum berhenti berontak dan menerimamu dalam tim ini.”

Aku mendengarkan dia bicara sambil memikirkan semua kata-kaya yang meluncur dari bibirnya. Jadi dia sudah menyelidiki semua informasi tentangku? Untungnya aku sudah menghafal semua informasi sialan itu dalam kepalaku. Dan apa tadi dia bilang? Dia melakukan semua itu demi Rena. Perempuan yang selalu terlihat ramah dan riang itu? Apa mereka pasangan? Jadi aku terjebak dalam hubungan mereka? Sialan, Reven! Kenapa dia tidak bisa mengaturku masuk dalam tim lain yang normal saja.

“Dia kekasihmu?”

“Rena?” Arshel tertawa lalu menggeleng, “Kebanyakan orang berpikir seperti itu. Tapi sayangnya tidak. Kami bukan kekasih dan aku tidak cukup gila untuk menjadikannya kekasihku.” Tatapan Arshel menyiratkan sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan. Lebih menyebalkan lagi, aku sama sekali tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Kurasa satu-satunya jalan hanyalah mencari tahu tentang Arshel dari orang yang tepat. Siapa lagi kalau bukan perempuan yang selalu Sherena. Aku juga bisa membaca pikiran perempuan itu, kurasa aku harus segera mendekati perempuan itu.

“Tapi jangan berpikir kau bisa mendekatinya.”

Bola mataku melebar. Apa yang barusan dia katakan? Apa dia membaca pikiranku? Tidak! Aku tidak merasakan siapapun dalam pikiranku jadi aku tahu dia tidak membaca pikiranku. Tapi apa-apaan itu tadi, mengagetkanku saja, “Memangnya kenapa aku tidak bisa? Dia juga bukan kekasihmu.” Kataku enteng.

Wajah Arshel terlihat menakutkan ketika dia mengatakan itu, “Kuperingatkan kau Deverend Corbis, aku benar-benar serius ketika kukatakan kau tidak bisa. Tidak bisa dan tidak boleh. Jangan berani-berani kau menjerat Rena dalam pesonamu atau kau akan berurusan denganku. Aku melindungi Rena dengan semua taruhan kekuatan dan keahlianku. Kau melibatkan dirimu dalam masalah besar jika kau memaksakan itu.” Desisnya mengancam.

Aku tersenyum. Sejujurnya perkataannya bukannya membuatku ingin mundur, namun aku malah semakin penasaran sebenarnya ada apa diantara dia dan Sherena ini. Kurasa ini akan sangat menarik sebab mendapatkan hati perempuan tidaklah sulit untukku.

“Kau benar-benar terdengar seperti ayahnya, Ar.”

“Aku tidak sedang bercanda.”

“Aku juga tidak.” Kataku seraya bangkit dari duduk, “Tapi tenang saja, aku tidak akan mendekati perempuan yang tidak membuatku tertarik. Namun jika Rena punya point itu, kurasa kau harus mulai waspada. Aku tidak peduli dengan ancamanmu.”

Dia berdiri dengan cepat dan meraih kerah jubah yang kugunakan dengan kasar, “Jangan berani-berani menyentuh Rena atau kau-“

Aku menepis tangannya dari kerahku dengan menggunakan kekuatan vampirku. Kulihat keterkejutannya menyadari sikap dan kekuatanku. Aku tersenyum padanya, “Kau tidak perlu mengkhawatirkan Rena. Aku tidak akan menyakitinya.” Begitu mengatakan itu, aku berbalik dan berjalan menjauh darinya. Aku tahu dia menatapku dengan marah ketika itu. Tapi aku tidak peduli, kurasa aku tahu dimana letak kunci yang akan membuat Ar mau tidak mau menerima keberadaanku dan memberikanku kepercayaannya.

 << Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

20 Comments

  1. Dikarenakan author membatalkan p'janjian waktu untuk upload, aq hrz wara wiri tiap hari d blog ney utk melihat apkh HV sudah upload?
    tnyta blm “:-(
    yh smga sdkt t'obati dgn another story

  2. Selamat datang Dev sayang..
    kau akan terjatuh dan ga bisa bangkit lagi akan pesona Sherena 😀

    heii author Cantik..
    kau tau..semua tulisanmu seakan candu buatku..
    tetap semangat ne !!
    B

  3. Aaaak ini komennya jleb banget. Hohohoho.
    Baiklah baiklah.. dalam rentan 3 hari ini pasti new chapter HV udah nongol di laman ini. 😀

    Semoga untuk sementara Another Story bisa mengobati sedikit penasaran untuk HV-nya ya 😛

  4. Selamat datang Dev..
    Kau tidak akan tahu semua akan seperti itu. Kau jatuh terlalu dalam untuk Sherena. Padahal Noura sudah memperingatkanmu loh. 😛

    Hae.. kamu.. B
    Makasiii pujiannya. Hohoho. Semangatttt! :))

  5. Iya.. udah 1 minggu ini bulak balik ke.blog km buat liat new story.. tolong jangan lama2 ya uploadnya, karena udah penasaran tingkat dewa.. hehe.. kalo ada bukunya, pasti udh aku beli nih. Stress njnggu lanjutan ceritanya. Bikin penasaran.

  6. apa Dev cuma mau Memanfa'at kan Sherena aja ?
    Dan akhir 'a Dev Jatuh cinta ampe mati ama Sherena . Ckckckckck

    kakak, apa gak ada keinginan Dev d buat Hidup lgi ?

  7. Hehehe iyah. Maaaf ya..
    Bukunya?? Sejujurnya pengen banget HV diterbitin, yah semoga apa yg aku rencanain bisa terkabul. Kalo ada bukunya ntar beli ya. Hahahah 😛

    Well, dalam 3 hari ini pasti uda new chapter HV kok. Janji!

  8. Ah iya ya.. Kasian deh Dev ini. Uda niat awalnya jelek, akhirnya kapok dia. Kemakan takdir. *eh.. Tapi tetep deh, Dev.. I miss you so bad..

    Dev hidup lagi??? Emm emm.. NGGA. Hehehe. Namanya juga sudah mati, mana mungkin aku buat Dev hidup lagi. Ngga, aku mencoba konsisten dg ide awalku. 😛

  9. kyaaaa….
    dev…
    i miss u so much…
    meskipun di HV dirimu sudah mati…
    but…
    you always in my heart…
    n rsa rinduku terobati dgan adx another story ini… hehehe
    #lebay

Leave a Reply

Your email address will not be published.