Another Story – Awal Masalah

Aku menatap hewan liar yang tengah mengawasi buruannya dengan lapar beberapa meter dariku. Dia menahan geramannya dan aku menahan setiap gerak dari bagian tubuhku agar dia tidak menyadari bahwa aku ada di dekatnya. Hewan penuh taring dengan mulut sudah penuh liur karena tidak sanggup menahan rasa laparnya dengan melihat rusa kecil tersesat tak jauh darinya itu bahkan tak tahu bahwa bukan dia satu-satunya yang tengah berburu sekarang.

Tepat bersamaan dengan langkah kaki dan auman pertamanya sebelum berlari menyergap si rusa, aku juga berlari ke arahnya dan menerjangnya. Suara auman murka terdengar sebelum kami berdua bergulingan di tanah. Hanya perlu beberapa detik sigap dan aku sudah berdiri, sendirian. Tanpa terluka sedikitpun. Sementara si  hewan predator malang itu sudah terkapar tak berdaya, mati.

Ramuel dan Lukas yang berdiri di salah satu dahan kuat pohon yang tak jauh dariku memberikan tepuk tangan malas. Mereka melakukannya dengan semangat di kesempatan pertama, namun ini sudah hasil buruanku entah yang keberapa. Jadi aku memahami alasannya. Keduanya melompat dan berjalan ke arahku.

“Tidak buruk sobat.” Lukas menepuk bahuku dan melirik mangsaku yang lehernya berdarah-darah.

“Kau tidak ingin makan?”

“Kau boleh memilikinya jika kau mau.” Aku berjalan menjauh dengan Ramuel melangkah di sampingku sementara Lukas sedang sibuk dengan mangsaku atau bisa kukatakan santapannya sekarang.

“Merasa lebih baik?”

“Sedikit.” aku menjawab dengan pelan.

Ramuel memandangiku, kemudian mengeleng-geleng, “Kau tahu? Jika aku sudah membunuh begitu banyak hewan liar buas seperti yang kau lakukan hampir satu jam ini, aku akan merasa sangat lebih baik, dan bukannya sedikit.”

Aku mengabaikan apa yang dikatakannya dan kami terus saja melangkah ke luar dari belantara hutan. Aku menyanggupi permintaan Ramuel dan Lukas untuk berburu bersama mereka hari ini. Namun pada kenyataannya, hanya aku yang berburu. Sebab menurut Lukas, jika dia dan Ramuel turut serta, maka rantai makanan di hutan ini akan timpang karena semua hewan predator kelas tertinggi mati. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Namun sejujurnya membenarkan apa yang dikatakan oleh Lukas.

Ide perburuan ini sebenarnya mereka lakukan untuk membantuku mengatasi masalah yang ada di dalam kepalaku. Aku berterima kasih. Karena mereka peduli padaku. Dan bisa kukatakan selama aku sedang berkonsentrasi membunuh hewan-hewan itu, sosok Rena menghilang dalam kepalaku. Namun hanya sebentar, sebab ketika aku kembali dengan pikiran bebas seperti sekarang, satu-satunya yang ada di kepalaku hanya Sherena Audreista.

Aku selalu bertanya-tanya apa pendapatnya tentang aku sekarang, apakah dia membenciku, apakah dia pernah mempertimbangkan untuk menerima aku—sebagai vampir dan bukannya aku yang dia kenal sebelumnya?

Apakah Rena bahkan memikirkanku?

Dan puluhan atau bahkan ratusan pertanyaan lainnya tentang dia memenuhi setiap sisi kepalaku. Aku mengambil nafas dalam-dalam, bukan untuk mengisi paru-paruku dengan oksigen namun untuk membuatku sedikit saja merasa santai.

Tapi tidak bisa.

Aku bisa gila jika seperti ini.

***

Aku memutuskan pergi, menghindar. Entah sampai kapan tapi aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Aku bisa kehilangan akal sehatku dan lari menuju kastil pelatihan dengan pikiran seperti makhluk gila jika aku tidak memiliki kegiatan apapun selain berdiam di rumah dan terperangkap pemikiran tentang Rena. Aku memikirkan tentang hal itu berulang kali sampai aku merasa yakin bahwa aku memang benar-benar akan melakukannya. Namun pada akhirnya aku menyerah. Aku tidak bisa.

Aku tidak siap pada apa yang akan kutemukan jika aku menemui Rena. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepadanya. Halo, kau merindukanku? Aku mengumpat dan tahu dia akan langsung menusukkan pedang peraknya ke jantungku jika mendengar kalimat itu setelah semua yang kulakukan kepadanya. Aku belum bisa menerima kenyataan jika Rena menolakku. Dia membenciku setelah tahu apa aku ini sebenarnya. Aku mencoba menghindari fakta tersebut selama ini. Tapi aku tidak bisa lagi membutakan diriku. Tatapan Rena ketika terakhir kali melihatku adalah pembuktian dari semua itu. Aku menyelamatkannya dari ketua heta tolol itu dan sorot matanya bukannya penuh terima kasih, tapi kemarahan, kekecewaan dan—sial aku tidak mau memikirkan semua itu.

Maka tugas dari kelompok utama menjadi penyelamat bagiku. Harusnya ini merupakan tugas untuk Cassy, Michail dan Ramuel. Namun aku memaksa mengantikan Cassy. Dan mereka mengerti alasanku melakukan itu. Aku bersyukur Vlad tidak mempertanyakan mengapa Michail justru mengirimku dan bukannya Cassy seperti permintaannya karena dia terlihat begitu sibuk dengan hal lain dan menganggap ini mungkin tidak akan menjadi perbedaan yang berarti.

Kami bertiga pergi setelah sesi perpisahan membosankan antara Ramuel dan Gloria. Kami semua tahu Gloria tidak pernah tahan tanpa Ramuel namun dia tahu dengan jelas konsekuensi tugas-tugas ini jadi dia mencoba mengerti. Mungkin jika bukan karena aku yang lebih dulu mengutarakan pada Cassy jika aku ingin mengantikannya, dia akan melakukan hal itu.

Aku, Michail dan Ramuel akhirnya meninggalkan wilayah kami dan terus berlari dalam kecepatan penuh menuju ke arah utara. Tempat dimana tugas yang diberikan langsung oleh Vlad ini akan dilakukan. Jubah kami berkibar-kibar oleh angin yang bertiup kencang ketika kami bertiga berhenti dan berdiri di salah satu bukit tertinggi setelah berlari begitu lama. Dalam diam, kami bertiga mengamati desa kecil yang tak jauh dari kami. Tempat itulah yang menjadi tujuan kami. Kami sudah menenggak minuman dari Venice yang berguna untuk menyamarkan bau kami karena tujuan kami adalah desa tempat tinggal Demetri Freesel, putra pertama dari Alpha manusia serigala, Elsass Freesel.

Vlad meminta kami mengawasi apa yang dilakukan oleh Demetri setelah mengetahui kabar tentang penyusupan seorang vampir di desa tempat tinggal Morgan, adiknya. Dan vampir bodoh penyusup itu, tidak bukan adalah Noura. Aku baru mendengar kabar tentang betapa murkanya Vlad atas apa yang dilakukan oleh Noura kali ini. Sebab itu bukan jenis penyusupan dan penyamaran biasa seperti yang kerap dilakukan Noura. Mereka mengatakan Noura mendekatkan dirinya pada anak si Alpha dan entah apalagi. Aku akhirnya tahu apa yang menyebabkan wajah Reven begitu kelam ketika kami terakhir kali berjumpa. Jika aku jadi dia, aku juga akan memiliki tampang lebih buruk daripada miliknya ketika itu.

Dan bayangan Rena bersama dengan laki-laki lain mendadak terlintas dalam kepalaku dan aku menggeleng keras setelah memaki kasar. Michail dan Ramuel kontan menoleh ke arahku dan aku hanya mencoba tersenyum kecut.

“Maaf.”

“Singkirkan apapun itu yang sedang menganggumu, Dev. Kita tidak boleh mencampurkan masalah pribadi kita ketika kita sedang melakukan tugas.”

Suara Michail yang terdengar tajam membuatku mengangguk dan menunjukkan wajah penyesalan yang jelas. Tapi dia mengabaikanku karena dia mendiskusikan hal lain bersama Ramuel. Aku tahu betapa Michail selalu berhati-hati dan penuh pertimbangan ketika melakukan tugas. Dia memuja kelompok utama dan berharap bisa melayani mereka dengan sepenuh jiwanya. Satu hal yang kukagumi darinya. Karena meskipun kami—para vampir—bukanlah tipe pengkhianat, seringkali kami masih suka bersenang-senang dan bermain-main selama tugas yang kami terima dari kelompok utama.

Itu hal sulit sebenarnya, melihat Vlad dengan benar-benar tulus seperti yang dilakukan oleh Michail ketika semua sikap dan kata-kata Vlad sama sekali tidak menunjukkan sesuatu yang pantas menjadi alasan untuk menjadikan seseorang mempercayakan hidupnya padamu. Tapi jika melihat kekuatan dan kekejamannya, dia bisa melakukan itu. Aku tak yakin pernah mengenal sosok lain yang lebih mengerikan daripada dia.

“Apa memangnya yang ditakutkan oleh Vlad? Jika Demetri Freesel dan kelompok makluk bau itu berniat menyerang kita karena apa yang dilakukan Noura, bukankah kita hanya perlu menghadapinya. Manusia serigala bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kita?”

Ucapanku membuat baik Michail maupun Ramuel menoleh ke arahku. Aku memang tak datang ke kastil ketika Vlad menjelaskan kepada mereka tujuan sesungguhnya dari tugas ini. Dan Michail belum sempat menjelaskan semuanya kepadaku karena kami harus segera pergi ke sini.

“Seperti yang kau katakan. Kita hanya perlu menghadapi para manusia serigala jika kelompok mereka menyerang kita. Dan sepenuhnya aku yakin kemenangan akan ada di pihak kita. Tetapi, ini bukan tentang hal itu. Bukan penyerangan yang Vlad takutkan, Dev. Ini tentang rahasia ras kita. Rahasia tentang masalah calon ratu.”

Michail mengatakan dua kalimat terakhirnya dengan hati-hati. Aku yakin dia juga sudah memastikan tak ada makhluk lain selain para binatang liar sebelum berani mengatakan itu di luar wilayah kami. Aku mengerti dengan jelas maksud dari kalimatnya, namun aku masih tidak menangkap hubungan semua ini dengan para manusia serigala.

“Vlad curiga bahwa Noura mengatakan tentang masalah ini kepada Morgan Freesel.” ucap Ramuel menyadari ekspresi bingung di wajahku.

Aku beralih pada Ramuel dengan tatapan tidak percaya, lalu melirik pada Michai yang sama sekali tidak membantah, yang berarti membenarkan apa yang telah dikatakan Ramuel.

“Aku tidak percaya. Mana mungkin Noura melakukan hal itu.”

Meskipun aku tidak terlalu menyukai Noura. Aku tidak berpikir dia akan bertindak sebodoh itu. Mengatakan rahasia calon ratu kepada salah satu anak dari pemimpin musuh besar kami? Dia gila dan tolol jika memang melakukannya. Calon ratu adalah rahasia paling sakral yanga ada dalam ras vampir. Rahasia yang dijaga tiap-tiap dari kami agar tak satupun makhluk kecuali vampir itu sendiri yang mengetahuinya. Sebab jika rahasia tentang calon ratu diketahui ras-ras lain, mereka akan mengetahui bagaimana cara termudah untuk menghancurkan kami. Bunuh satu dan yang lainnya bisa menyusul dengan mudah.

“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi kita semua tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran perempuan calon ratu itu.” ucap Michail.

“Noura bukan seseorang yang bisa ditebak jalan pikirannya.”

Aku menghela nafas panjang, membenarkan apa yang dikatakan Michail dan Ramuel.

Tapi meskipun begitu, bagaimana bisa Noura melakukan hal ini kepada kelompoknya sendiri? Selain itu, bukankah jika dia membeberkan rahasia itu kepada Morgan, maka itu justru akan lebih berdampak pada dirinya. Apakah dia kehilangan ingatannya? Dia adalah sang calon ratu itu sendiri. Mengatakan hal itu kepada musuh dapat berarti bahwa dia menunjukkan pada mereka siapa yang harus pertama kali mereka musnahkan sebelum menghancurkan ras kami.

“Lalu apa yang terjadi pada Noura sekarang?”

“Reven mengurungnya di salah satu ruangan di kastil utama.”

Aku mengerutkan keningku, jelas itu terjadi setelah aku sempat bertemu dengannya. Dan perbincanganku itu justru membuatku tidak nyaman.

“Kematian. Jika aku melarikan diri dari kematianku. Maka aku akan hidup dengan banyak ketakutan lain yang jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.”

Apakah dia memang sudah memiliki niat untuk mati?

Aku benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran Noura.

***

Tugas mengawasi desa tempat tinggal para pemegang kekuasaan di ras manusia serigala memakan waktu hampir delapan bulan lamanya. Kami menghabiskan hampir satu sampai dua bulan untuk memastikan tidak terjadi sesuatu yang menyangkut ras vampir di setiap desa yang kami datangi. Setelah Demetri, kami pergi ke beberapa desa lain, dan yang terakhir—yang paling utama—satu-satunya desa terluas dimana seluruh isinya adalah manusia serigala dengan kemampuan cukup hebat, desa tempat tinggal sang Alpha, Elsass Freesel.

Meskipun sangat yakin dengan minuman yang diberikan oleh Venice—kami meminumnya satu botol kecil di setiap desa—Michail tidak bisa mengambil resiko untuk membahayakan salah satu dari kami jika kami mengawasi dari jarak yang lebih dekat. Sekarang, kami berdiri nyaris belasan kilometer jauhnya dari gerbang utama desa yang di jaga oleh tiga serigala besar. Memang tidak ada yang cukup bisa kami tangkap dari sini, tapi kami tidak bisa melakukan apapun.

Patroli rutin di sini lebih tidak bisa ditebak daripada di desa-desa lainnya. Mereka bisa saja cuma mengitari area desa atau yang terjadi nyaris beberapa kali, mereka memperluas patrolinya hingga area terjauh dari desa mereka. Ramuel nyaris saja berpapasan dengan gerombolan para serigala besar yang sedang berlari kencang jika Michail tidak menarik dan membawanya pergi jauh dengan cepat. Ramuel harusnya bersyukur karena mereka cuma hebat di indera penciuman mereka dan lemah di beberapa sisi. Selain itu, aku curiga Ramuel sedang tidak berkonsentrasi. Mungkin isi otaknya mulai dipenuhi gambaran tentang bagaimana menyerang Gloria di atas tempat tidur ketika mereka bertemu nanti. Aku sudah bosan mendengarnya mengeluh tentang lamanya tugas kali ini dan betapa inginnya dia untuk bisa segera kembali. Aku bersyukur aku masih bisa mengatasi sosok Rena di kepalaku meskipun itu nyaris membuatku selalu menyibukkan Michail dengan diskusi-diskusi berkepanjangan.

“Sudah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di sini, Michail. Satu bulan berjaga dan terus berpindah ke sisi hutan lain sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Kita bahkan tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam sana. Terlalu banyak geraman, lolongan dan telingaku mulai tuli oleh suara mereka. Dan jangan lupa, aku sudah tidak sanggup menolerir bau mereka lagi. Aku yakin aku harus mengenyahkan sisa-sisa bau busuk berdekatan dengan makhluk itu sebelum menyentuh Gloria. Dia paling sensitif dengan bau manusia serigala.”

Michail mengabaikan ucapan Ramuel, dia sama sekali tidak memandang ke arah Ramuel ketika dia mendengar semua gerutuan itu. Namun aku tahu, diam-diam, Michail memikirkannya juga. Ramuel benar bahwa kami tidak mendapatkan apapun di sini, ataupun di desa-desa lainnya. Yang mana berarti bahwa kecemasan Vlad tentang kegilaan yang mungkin dilakukan Noura tidak benar.

Noura mungkin tidak mengatakan kepada Morgan Freesel tentang rahasia calon ratu. Sebab jika Noura memang melakukannya, tidak ada alasan bagi Morgan untuk menyembunyikan itu dari kelompoknya. Dia bisa langsung menyebarkan berita emas itu kepada seluruh rasnya dan perburuan akan segera dilakukan. Namun yang terjadi, di semua desa utama sama sekali tidak ada pergerakan bermakna. Tidak mungkin juga, jika si Freesel muda itu menyembunyikan fakta mengagumkan itu dari kelompoknya jika dia memang tahu. Memangnya apa yang akan dia dapat? Dia juga tidak mungkin mencintai Noura. Konyol.

“Kurasa ada baiknya kita memang kembali ke pusat kelompok kita. Melaporkan semua yang sudah kita tahu kepada Vlad dan biar dia yang memutuskan sisanya. Jika Vlad masih ingin kita mengawasi pergerakan manusia serigala, kita bisa kembali lagi ke tempat-tempat sentral mereka.” usulku yang disambut wajah sumringah Ramuel.

Kali ini Michail memandangku, jelas terlihat dia mempertimbangkan semua yang kukatakan, “Menurutmu begitu?”

Aku mengangguk pasti. Ramuel juga mengangguk, meski kelewat semangat. Aku nyaris tertawa melihat tingkahnya. Apakah aku juga bertingkah sekonyol itu ketika aku benar-benar sudah tidak sanggup menahan jarak dengan Rena?

Sial, makiku dalam kepalaku.

Kenapa aku malah kembali berakhir dengan memikirkan perempuan heta keras kepala itu lagi? Apakah aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk melupakan saja manusia itu? Dan pertanyaan-pertanyaan itu kembali beranak pinak memenuhi kepalaku ketika aku mendengar Michail pada akhirnya menyetujui usul kami. Bahkan ketika kami berlari menuju arah kastil utama, benakku masih memikirkannya.

Berjam-jam, berhari-hari dan berbulan-bulan sudah berlalu tapi semua itu sama sekali tidak menghilang atau berkurang. Aku semakin tidak mengerti dengan diriku sendiri. Apakah aku memang sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Rena?

Aku teringat tentang percakapanku dengan Lyra dulu. Ketika aku menertawakan reaksi gilanya setiap kali dia memiliki masalah dengan Damis. Aku selalu menganggapnya bodoh karena jatuh cinta pada Damis.

“Kau tidak akan mengerti. Kau tidak tahu seperti apa rasanya, Dev.”

“Apa?”

“Mencintai seseorang.”

“Itu lebih buruk dari perasaan apapun. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Aku tidak bisa menjauh darinya. Semua isi kepalaku hanya tentang dia. Yang benar-benar terus muncul di otakku hanya bagaimana aku bisa bersamanya terus menerus tanpa jeda. Aku tidak bisa kehilangan satu detikku saja dengannya. Perasaan seperti itu benar-benar buruk. Sampai kau sendiri yang merasakannya. Kau tidak akan tahu apa yang tadi kukatakan. Hanya saja, Dev, seperti yang kubilang tadi. Mencintai seseorang benar-benar buruk. Itu ratusan kali lebih buruk daripada meminum darah penyihir. Aku bahkan ragu jika perasaan itu bisa disebut cinta.”

“Obsesi?”

“Lebih dari itu. Semuanya tentang dia. Duniamu, dia. Dan aku tidak bisa, Dev. Aku berusaha hidup dengan menekan perasaan itu. Aku tidak bisa membuat Damis mengontrol kehidupanku.”

Aku memaki diriku berkali-kali selama aku berlari. Harusnya aku tidak sebodoh ini. Harusnya aku sudah mengerti akan apa jadinya jika aku terjebak dengan perasaan gila seperti ini.

“Itu bukan jenis perasaan yang bisa kau antisipasi, Dev.”

Aku tahu. Dan aku juga tidak ingin melakukannya. Entah bagaimana, meskipun sesulit dan semenyakitkan apapun, aku tahu aku tidak pernah menyesal mencintai Rena. Aku tidak menyesal memberikan seluruh hatiku pada manusia itu. Aku tahu itu dengan jelas.

Memikirkan Rena dan perasaanku padanya membuatku tidak menyadari bahwa kami sudah mendekati area kastil utama. Michail memberikan petanda agar kami berhenti ketika kami mencapai perbatasan hutan dengan taman di luar kastil.

“Aku akan pergi ke ruangan Vlad dan kalian tunggu di sini. Dan jangan meninggalkan area kastil utama jika aku belum kembali.” dia memelototi Ramuel yang sudah sepenuhnya berhasrat untuk berbalik arah dan berlari ke tempat tinggal kelompok kami.

“Jika Vlad memang menginginkan kita kembali. Maka kita langsung siap melakukannya.”

Kami mengangguk dan aku mendengar sumpah serapah pelan dari Ramuel setelahnya, yang sepenuhnya diabaikan oleh Michail dan dia langsung berjalan cepat menuju pintu utama kastil. Meninggalkan kami.

“Bagaimana Michail bisa memperlakukan itu pada kita?” Ramuel masih mengomel ketika kami berdua berjalan sangat pelan—nyaris sama dengan kecepatan manusia—menuju ke arah kastil. Kami tahu menunggu di dalam kastil lebih baik daripada berdiri bodoh di taman kastil yang dipenuhi bunga-bunga aneh hasil dari tangan Rosse.

“Aku tidak keberatan.”

Ramuel melemparkan tatapan membunuh ke arahku dan aku tidak peduli. Sebab sekarang, perhatianku sepenuhnya berpusat ke arah kastil. Aku baru menyadarinya sekarang. Kastil utama terdengar sibuk dan aku bisa mendengar banyak langkah kaki di sekitar kami. Sepertinya Ramuel juga merasakannya karena dia mengamati sekeliling kami.

“Aku tidak bisa melihatnya seperti itu terus.”

Pintu utama kastil terbuka dan aku melihat si pemilik suara yang baru saja mengucapkan kalimat itu. Maurette memandang ke arahku, sedikit terkejut sebelum akhirnya tersenyum, “Hai Dev. Ramuel. Kalian ada di sini juga?”

Di sampingnya, Lucius, pasangannya, juga tersenyum ke arah kami meskipun hidungnya mengerut tidak suka, “Kalian bau sekali. Seperti manusia serigala.”

Ramuel tertawa sinis, “Berbulan-bulan mengintai ras dengan bau paling busuk di dunia. Apalagi memangnya yang bisa kami harapkan.”

Maurette tersenyum lebar sekali sementara Lucius sudah tertawa, tawa mengasihani nasib buruk kami dengan tugas itu.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Dan ada siapa lagi di kastil utama? Aku merasa tempat ini jauh lebih berisik daripada sebelumnya?” tanyaku setelah tawa Lucius reda.

“Semua kelompok kami ada di kastil utama. Sejujurnya kami pindah ke sini untuk sementara waktu.” jawab Maurette yang entah kenapa terlihat tidak senang.

“Tapi kenapa kalian pindah ke sini? Apa terjadi sesuatu yang buruk di tempat tinggal kalian?”

“Bukan itu,” kali ini Lucius yang menjawab, tangannya menggenggam satu tangan Maurette, “Kami pindah atas perintah Reven.”

“Perintah Reven?”

Mereka berdua mengangguk, Ramuel menatapku. Kurasa dia juga bingung, sama seperti yang kurasakan.

“Agar Noura tidak memiliki alasan untuk meninggalkan kastil utama lagi.” suara Maurette nampak berat dan dia terlihat sedih ketika mengatakan nama Noura. Ah aku nyaris melupakan ini, tentu saja. Sebelum menjadi calon ratu dan berpindah menjadi anggota kelompok utama, Noura adalah bagian dari kelompok yang dipimpin oleh James.

“Noura selalu berbohong dan menggunakan kunjungan ke tempat kami sebagai alasan kepada Reven ketika dia ingin meninggalkan kastil utama,” ungkap Lucius dan aku jelas melihat wajah Maurette semakin muram. Sisa senyumnya sebelumnya lenyap sudah.

“Aku tidak tahu kenapa Noura melakukan semua ini.” suara Maurette lelah.

“James marah sekali. Bahkan Claudia tidak bisa menenangkannya. Aku, Maurette, Oliver dan Elmire tidak pernah melihat James seperti itu sebelumnya. Harga dirinya terluka atas sikap Noura meskipun dia sangat menyayanginya. James menghormati kelompok utama dan tidak pernah membayangkan jika Noura akan membuatnya semalu ini pada kelompok utama. Jika saja kalian lihat bagaimana bangga dan bahagianya dia ketika tahu Noura adalah seorang calon ratu. Aku tidak bisa menyalahkan James.”

Aku menatap Lucius. Mengatakan padanya aku turut prihatin pada apa yang terjadi. Tapi aku tetap tidak bisa mengerti. Sama dengan sebelumnya, tentang semua kerumitan ini. Apa memangnya yang bagi Noura terasa lebih penting daripada Reven, belahan jiwanya, daripada kelompoknya, rasnya?

“Dia di dalam sekarang?” aku penasaran.

“Siapa?” Lucius tidak mengerti.

“Noura.”

Dia mengangguk, “Reven mengurungnya di ruangannya. Tapi sudah berhari-hari ini dia memohon-mohon dengan penuh air mata pada Reven untuk mengizinkannya keluar dari ruangannya.”

“Reven menolaknya?” tebak Ramuel yang dijawab anggukan lemah Maurette.

“Reven tidak bisa mengambil resiko apapun. Apalagi ketika Illys mengatakan dia punya firasat buruk meskipun tidak bisa benar-benar yakin itu menyangkut tentang apa.” ungkap Maurette.

“Apa Noura boleh dikunjungi?” entah kenapa aku menanyakan ini. Tapi aku mendadak merasa ingin bicara dengannya.

Lucius mengangguk, “Tentu saja.”

Aku menoleh pada Ramuel, “Aku akan menemui Noura sebentar. Jika Michail datang sebelum aku, kau tahu dimana aku berada.”

Ramuel mengangguk dan aku bersyukur baik Maurette maupun Lucius tidak menanyakan kenapa aku ingin menemui Noura. Sebab aku juga tidak bisa menjelaskan dengan benar alasannya. Aku berjalan melewati Maurette dan Lucius setelah mengangguk kepada mereka dan masuk ke dalam kastil.

Mau Baca Lainnya?

18 Comments

  1. Heiii kalian berdua ini yah… hahahahha
    sabar yah sayang-sayangku.. RU masih kuedit nih. Banyak banget typonya. Tapi serius deh, dia akan muncul minggu ini. Well artinya besok kalo engga hari minggu 😛

  2. Sama, jawabannya adalah.. RU besok kalo ngga hari minggu yah.

    Well, bener banget. Di sini sudah pasti bakal lebih cepat daripada di watty. Soalnya nongkrongnya di sini, jrang ke watty kalo ngga pengen baca. 😛

  3. HEH?? Jangan dong, aku uda banyak dosa, masa mau ditambahin lagi? Hahahha

    tenang tenang.. oke?
    Aku upload XEXA dulu, setelah itu Remember Us. Ini masih ngutak-utik RU bentar sebelum di upload. Beberapa jam lagi RU pasti uda nongol. Serius. 😛

  4. Kak……kok yang update di wattpad sih,ngak mau pokok nya update di sini lanjutin Ru nya mumpung baru buka puasa makanya semangat 45 minta update tannya ha…ha…ha… Ketawa setan!

Leave a Reply

Your email address will not be published.