Another Story – Awal

Vampir tidak tidur. Tidak pernah tidur kecuali hanya beberapa saat untuk mengistirahatkan benak kami yang bekerja terus menerus. Tapi benakku sedang tidak butuh istirahat sekarang. Aku juga tidak ingin terbaring di kamar kecil menjijikkan itu ketika malam sedang memamerkan bulan dengan cahaya penuh seindah ini. Jadi di sinilah aku sekarang. Berada di tempat paling tinggi di kastil asrama ini. Menatap ke langit.

Aku tidak tahu ada tempat seindah ini. Dari atas sini, aku bisa melihat rerimbunan hutan dan cahaya-cahaya yang berpendar dari desa kecil tak jauh dari kastil ini. Lebihnya lagi, ada bulan seindah itu yang seolah menggantung di depanku. Sejujurnya, ini bukan tempat yang akan bisa dicapai jika aku bukan vampir.

Tempat ini, atau bagaimana ya aku harus menjelaskannya. Baiklah begini, sederhananya, ini atap. Atap menara paling tinggi di kastil ini. Jangan menertawakanku jika kau belum pernah duduk di tempat ini. Aku merasakan ketenangan dan rasa nyaman yang akhir-akhir ini jarang bisa kudapatkan.

Mendadak aku melihat bayangan kecil bergerak di bawah sana. Aku menggunakan kekuatanku, melihat dengan lebih jelas. Sherena? Apa yang perempuan itu lakukan di luar sana tengah malam begini? Dia mengendap-endap menyeberangi halaman kastil. Terlihat waspada sebelum dia mencoba masuk ke dalam hutan.

Aku tersenyum. Mendapatkan sebuah ide cemerlang tentang apa yang harus kulakukan sekarang. Aku melompat ke beberapa atap di bawah dengan cepat sampai aku mencapai bawah. Dengan kecepatan yang kumiliki, aku mengikutinya.

“Sherena, apa yang sedang kau lakukan?” sapaku yang membuatnya langsung berbalik dengan wajah sangat terkejut.

“D-dev.”

Aku memandangnya, tidak menyembunyikan tatapan ingin tahuku. Tapi, bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cemas. Setelah sepertinya tidak menemukan sesuatu yang menganggu, dia menarik tangannku mengikutinya dengan cepat, “Ayo, jangan berdiri di sini. Sebentar lagi ada patroli di sekitar sini.”

Dia terus menggandeng tanganku untuk mengikutinya memasuki hutan. Berjalan menembus sisa-sisa cahaya bulan yang samar. Dia berhenti ketika nafasnya memburu. Ketika tanpa sadar dia menyadari genggaman tangannya padaku, dia melepaskannya dengan terburu-buru, “Maaf, Dev.”

Aku tertawa, “Sebenarnya mau kemana kita? Dan untuk apa itu?” aku menunjukkan perlengkapan memanahnya di punggungnya yang baru kusadari. Benda-benda itu tidak punya unsur perak, sehingga baru sekarang aku memperhatikan busur dan banyak anak panah yang tergantung di balik punggungnya.

“Untuk latihan.” Katanya sambil melangkah lagi, aku mengikutinya. Mengambil tempat di sampingnya.

“Latihan?”

Dia mengangguk sambil tetap berjalan, “Aku terbiasa melakukan ini.”

“Tengah malam?”

Dia tidak menjawab, hanya melemparkan senyum kecil. Aku menyerah. Tidak bertanya lagi. Sisa perjalanan, kami hanya diam. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang cukup lapang dengan danau kecil di sisi lain, dia memberikan tanda untuk berhenti. Aku mengamati tempat ini dan merasa ini tempat yang bagus. Di tengah rerimbunan hutan, ada tempat yang cukup lapang ini dengan danau berair tenang di sisi lainnya yang memantulkan cahaya bulan di sana. Aku bisa melihat bulan yang tercermin dipermukaan airnya yang sepertinya jernih.

“Cantik bukan?” Sherena nampak bangga pada apa yang ditunjukkannya padaku. Dia tersenyum senang. Aku menatapnya, cukup lama meski sepertinya dia tidak menyadarinya.  Aku tertawa kecil, dia menoleh padaku, “Ada apa?”

Aku hanya mengangkat bahuku, “Lalu kau mau apa sekarang?”

“Latihan.” Jawabnya sama seperti sebelumnya. Dia menarik busur dan panah dari belakang punggungnya. Aku menjauh, duduk di atas salah satu akar pohon dan memperhatikan. Sherena begitu fokus ketika dia melakukan itu. Aku memperhatikan semua gerak geriknya dengan teliti. Keningnya akan berkerut dalam dan kedua alisnya menyatu ketika anak panahnya tidak tepat sasaran. Dia juga akan menarik nafas panjang setelahnya, sepertinya dia mencoba untuk tidak kesal pada dirinya sendiri.

Aku tersenyum kecil melihat ekspresi di wajahnya. Aku mengalihkan pandanganku dari Sherena dan membiarkannya fokus pada latihannya. Aku bangkit dan berjalan-jalan mendekat ke danau. Memandang ke arah danau. Aku memicingkan mataku, merasakan ada kehadiran sesuatu yang lain. Angin yang bertiup dari seberang danau, membuat perkiraanku semakin menguat. Aroma ini..

“Sherena.” Aku menoleh dan memanggilnya. Dia menurunkan busurnya dan melihat ke arahku, “Ya.” Jawabnya.

“Aku jalan-jalan sebentar. Aku akan segera kembali ke sini.”

Dia mengangguk dan kembali lagi pada latihannya sementara aku berjalan memutar mengelilingi danau kecil ini sampai ke seberangnya. Sejujurnya aku melakukannya dengan cepat dan hati-hati agar Sherena tidak melihatnya. Lepas dari jarak pandangnya, aku benar-benar menggunakan kekuatanku menuju sumber bau yang tak asing ini.

“Noura?” aku mencoba tidak bersuara. Memperhatikan dari jarak yang cukup jauh tapi tetap bisa membuatku tahu apa yang terjadi di kejauhan sana. Noura tampak menikmati waktunya dengan berbicara akrab bersama seseorang yang tidak bisa kukenali hanya dengan melihat punggungnya. Tapi aku yakin itu laki-laki. Mereka tertawa dan terlihat terbiasa bersama. Noura menoleh ke belakang dan matanya menatap tepat ke arahku.

”Pergilah Dev, ini bukan urusanmu.”

Aku mendengus. Buat apa dia bicara seperti itu melalui benaknya. Lagipula aku juga tidak terlalu peduli pada apa yang dia lakukan. Aku hanya mengira jika itu vampir yang lain dan bukannya si Noura. Aku berbalik tanpa ragu. Meskipun sejujurnya aku sedikit penasaran dengan siapa dia. Dan apa yang sesungguhnya sedang mereka lakukan. Inikah alasan kenapa aku sering melihatnya di sekitar sini.

Lalu laki-laki itu siapa? Hanya bau vampir Noura yang bisa kucium dan bau samar.. manusia. Aku memutar kepalaku, melihat ke arah mereka di kejauhan. Apakah Noura sedang bermain-main di belakang Reven? Sepertinya dia bukan perempuan seperti Lyra yang kadang masih sering bersenang-senang dengan laki-laki lain meskipun dia sudah memiliki Damis yang begitu baik di sampingnya.

Noura.. perempuan itu benar-benar tidak bisa ditebak. Aku menggelengkan kepalaku. Ini bukan masalahku. Aku berlari cepat kembali ke tempat Sherena. Begitu sudah mencapai jarak pandang yang sepetinya bisa dia tangkap. Aku menurunkan kecepatanku dan berjalan seperti manusia. Beberapa menit membosankan, aku sudah sampai di bawah pohon dimana sebelumnya aku duduk mengamatinya.

Dia menoleh sekilas, sepertinya menyadari kehadiranku. Tapi tak lama karena dia kembali lagi fokus pada busur dan anak panahnya. Kurasa dia sangat menyukai apa yang sedang dilakukannya ini. Sepertinya memanah bukan hanya dilakukannya karena keharusan di sini. Aku melihat bagaimana dia menikmati setiap anak panah yang menancap tepat di sasaran. Dia akan tersenyum dan wajahnya terlihat bangga.

Kenapa aku jadi memikirkannya?

Keningku berkerut dan aku kembali mengalihkan pandanganku darinya. Sepertinya aku punya banyak masalah lain yang sebaiknya kupikirkan daripada sekedar memperhatikan seorang heta berlatih. Aku kembali memandang ke arah danau dan tenggelam dalam pikiranku sendiri.

“Aku lelah sekali.” Sherena menghampiriku dan duduk di sampingku setelah beberapa puluh menit sejak terakhir kali aku memperhatikannya. Dia meletakkan busur dan anak panahnya ke tanah di dekatnya dan meluruskan kakinya seraya bersandar di batang pohon. Ada bulir-bulir keringat di dahi dan pelipisnya.

“Sudah selesai?”

Dia menggeleng, berdiri lagi dan berjalan ke arah danau. Aku hanya memperhatikan dan melihatnya berjongkok di dekat danau. Dengan hati-hati dia meraupkan kedua tangannya untuk mengambil air dari danau dan meminumnya. Aku melihat dia melakukan itu beberapa kali sebelum dia bangkit dan berjalan kembali ke arahku.

“Aku haus sekali.” Katanya smabil mengambil posisi duduk seperti sebelumnya. “Apa kau bosan menungguku berltih. Dev?” katanya lagi ketika dia tidak melihat bahwa aku akan bicara lebih dulu.

“Tidak. Ini tidak membosankan daripada aku harus berbaring di kamarku.”

Dia tertawa kecil, “Apa kau tidak mau ikut berlatih denganku daripada hanya menontonku?”

“Tidak, terima kasih.” Jawabku cepat, “Aku tidak terlalu tertarik dengan busur dan anak panah.”

“Ah sayang sekali.” Dia menatapku dengan serius, “Lalu apa yang membuatmu tertarik?”

Darah.

“Kau.” Jawabku asal yang malah membuatnya mulutnya menganga menatapku dengan ekspresi terkejut yang lucu. Aku tertawa, “Aku hanya bercanda.” Kataku di sela-sela tawaku.

“Dev, kau-“ dia ikut tertawa. Dan entah kenapa aku suka melihat caranya tertawa. Kurasa jawabanku tadi bisa kupertimbangkan untuk jadi sesuatu yang benar-benar nyata. Sherena, perempuan ini punya sesuatu dalam dirinya yang entah kenapa membuatku penasaran.

“Apa Ar tahu kau diam-diam berlatih di tengah malam begini, Sherena?”

“Panggil saja aku Rena. Kurasa aku sudah pernah memberitahumu itu sebelumnya dan tidak. Ar tidak tahu tentang ini. Dia akan marah jika dia tahu aku melakukannya. Jadi kau jangan mengatakan apapun padanya nanti. Sepakat Dev?”

Aku mengangkat kedua alisku, “Tidak.”

“Dev!”

“Jika kau berjanji akan mengajakku setiap kali kau mengendap-endao keluar dari kastil, kurasa aku bisa mempertimbangkannya.” Bibirnya mengerucut, dia menatapku setengah kesal. “Aku tidak akan menganggu latihanmu.” Tambahku agar dia mau menyetujuinya.

Sherena- em Rena, aku harus terbiasa memanggilnya ini—terlihat berpikir. “Tapi kau benar-benar tidak akan memngatakan tentang latihan malam ini pada Ar bukan?”

Aku mengangguk pasti, “Kau bisa pegang kata-kataku. Aku berjanji. Vam- maksudku aku, tidak pernah melanggar janjiku.”

Dia menghela nafas panjang, “Baiklah.” Katanya. “Aku akan mengatakan kepadamu jika aku akan latihan lagi sehingga kau bisa ikut.” Putusnya yang kusambut dengan senyum tipis.

“Kenapa Ar tidak boleh tahu? Kudengar kalian sahabat dekat. Jadi masih tetap banyak yang disembunyikan oleh sahabat dari sahabat dekatnya.”

“Oh ayolah Dev. Jangan menyindirku begitu. Masing-masing dari kami tentunya akan tetap punya sesuatu yang hanya ingin kami simpan sendiri. Aku hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Jika Ar tahu aku berlatih diam-diam dan sendirian di hutan tengah malam begini, dia akan melarangku atau dia akan memaksa untuk mengawalku.” Rena menghela nafas panjang, “Dia akan berkeras bahwa ini mungkin saja berbahaya. Bahwa mungkin saja inilah, mungkin itulah. Padahal aku ini heta dan dia tidak percaya untuk membiarkanku pergi sendirian.”

“Kenapa dia melakukan itu padamu?”

Rena tersenyum getir, “Karena hanya aku yang dia punya sekarang.” Katanya pelan.

Mataku menatap penuh tanda tanya. Rena mencoba tersenyum, “Sebelumnya kami punya ibu. Tapi sekarang-“ dia terdiam. Ada kesedihan yang besar menggantung di matanya, namun dengan keras dia coba tutupi.

“Kalian keluarga? Kakak beradik?”

Rena menggeleng, “Bukan. Atau entahlah, bagiku Ar sudah lebih dari sekedar sosok kakak untukku. Dia bisa jadi apa saja. Kadang aku merasa dia bijak seperti seorang sahabat. Kadang dia cerewet seperti seorang kakak. Namun dia juga bisa hangat seperti seorang ayah.”

Aku mengamati. “Kalian sangat dekat.” Ini pernyataan bukan pertanyaan. Rena juga nampaknya tahu karena dia tidak menjawab. Kurasa aku memilih target yang tepat agar aku bisa mendekati Ar dan mendapatkan informasi-informasi yang kuinginkan darinya.

Kami diam selama beberapa saat, sebelum dia memecahkan kesunyian diantara kami dengan berkata, “Kau sudah tahu sedikit tentangku. Sekarang giliranmu, aku belum tahu apapun tentangmu, Dev.”

“Aku?”

Rena mengangguk antusias. Aku berpikir. Apa yang harus kuceritakan padanya?

“Apa ini tentang keluarga? Atau sahabat? Atau apa?”

“Apapun, Dev. Jika kau bicara tentang keluarga, itu juga tidak apa-apa.”

Aku diam lagi. Berpikir. Bagaimana menceritakan padanya tentang kelom- keluargaku yang jumlahnya delapan orang denganku. Aku, Michail, Viona, Lyra, Ram-

“Dev-“

“Eh iya. Maaf.”

Rena menyilangkan tangannya, menatapku dengan serius. Menungguku bicara.

“Keluargaku, jumlahnya delapan. Michail dan Viona bisa dikatakan orangtuaku. Mereka berdua sangat baik, mungkin Viona sedikit banyak bicara tapi dia cukup peduli pada angg- maksudku anak-anaknya.”

Kedua mata Rena menatapku dengan antusias, “Keluarga besar ya?” Dia diam selama beberapa detik, “Aku selalu ingin punya kakak. Punya adik. Dan Dev.. seperti apa rasanya punya ayah?” matanya menatapku tapi aku merasa dia tidak sedang menatapku. Mata kosong itu menerawang, “Aku paling ingin punya ayah.” Katanya melanjutkan, “Aku tidak tahu seperti apa ayahku. Ibu juga jarang membicarakannya. Kadang aku merasa, mungkin hidupku akan lebih mudah dan lebih menyenangkan jika aku punya ayah. Mungkin aku tidak perlu menjadi heta. Mung-“ dia tertawa, “Maaf Dev. Bicaraku jadi melantur.”

Aku tersenyum, “Tidak apa-apa. Mulai sekarang aku akan selalu mendengarkan semua omongan melanturmu. Kurasa itu menyenangkan.”

Rena tertawa, “Ayo kembali saja. Besok kita harus bangun pagi bukan?” dia bangkit dan mengemasi semua anak panah dan busurnya. Aku memperhatikan semua gerakannya. Entah kenapa aku tersenyum, lalu bangkit dan membantunya mengemasi anak panahnya.

***

Aku bermain-main dengan pedang di tanganku tanpa berminat. Pedang ini.. aku jadi tersenyum sendiri. Rena rupanya punya banyak pedang berbagai ukuran, pisau, anak panah dan busur yang tidak bertabur serbuk perak atau malah tidak terbuat dari perak. Dan aku mendapat satu ini, pedang panjang yang membuatku nyaman karena tidak memiliki unsur perak sedikitpun. , meski dengan sedikit kebohongan agar Rena tidak curiga.

Rena?

Kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering memikirkannya?

“Hei Dev.”

Aku mendongak dengan malas. Kenal dengan benar milik siapa suara dengan nada sok dan menyebalkan ini. Arshel. Tentu saja dia, siapa lagi. Aku menatapnya dengan kepala tegak, “Ya.” Sahutku singkat.

“Kau sedang tamasya di sini? Atau kau sed-“

“Sudahlah, Ar.” Potongku jengkel. Aku bangkit, menatapnya dengan tatapan menantang, “Aku bukan bawahanmu. Aku bukan orang lemah. Aku bukan seseorang yang bisa kau ganggu dengan teriakan-teriakan menyebalkanmu. Aku tidak sedang dalam pelatihan apapun. Kau tidak berhak menyuruhku latihan hanya karena kau dianggap paling kuat di sini. Ingat itu.”

“Deverend Corbis!” dia berteriak berang dan semua slayer senior maupun slayer pemula, menjadikan kami pusat perhatian. Aku sedikit menyesal melakukan. Reven dan Venice mengingatkanku agar aku tidak terlalu menonjolkan diri sendiri. Terlalu banyak menjadi pusat perhatian akan menyulitkan bagi tugasku. Tugasku. Itulah yang membuatku sedikit menyesal. Tapi hanya sedikit. Ar membuat penyesalanku menjadi lebih minim lagi.

Dia mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke leherku. Harga diriku menahan diriku mundur atau melakukan gerakan apapun meskipun unsur perak yang memancar kuat dari pedangnya menyakiti leherku. Aku bersyukur memakai kain pelindung leher sehingga leherku yang memerah tidak akan dilihatnya.

 “Kau harus belajar sopan santun terlebih dahulu sebelum kau menggunakan mulutmu di sini.” Desisnya penuh kemarahan.

Aku hanya punya tatapan remeh dan senyum merendahkan yang bisa tampakkan padanya. Aku tidak akan membuatnya menang dengan mudah. Sejujurnya aku tidak akan mau dikalahkan olehnya.

“AR!” suara melengking diiringi dengan langkah kaki yang berlari sangat cepat ke arah kami membuat aku dan Ar menoleh ke asal suara.

“Rena.”  Ar langsung menurunkan pedangnya.

“APA YANG SEDANG KALIAN BERDUA LAKUKAN??” jerit Rena marah. Aku menutup kedua telingaku. Aku sensitif pada pendengaran dan suara jeritannya cukup membuat aku terganggu. “Apa kalian sedang berusaha untuk membunuh satu sama lain?”

“Rena, bukan beg-“

“Aku sudah mendengar jika kau sangat tidak menyukai Dev, Ar. Kau juga menolak dengan keras bergabungnya Dev di tim kita. Tapi aku tidak akan menyangka kau akan melakukan hal-hal semacam ini. Nyaris bertarung dengan anggota setimmu?” Rena menatap Ar dengan kecewa, “Kau kekanak-kanakkan Ar.” Setelah mengatakan itu, dia memutar tubuhnya dan meninggalkan kami begitu saja.

Aku menatap Rena dengan tidak mengerti. Sebenarnya, dia kenapa? Cuma datang dengan kemarahan tak terkendali. Mengomeli kami-atau lebih tepatnya Ar- lalu pergi begitu saja tanpa membiarkan kami menjawab dengan satu kalimat penuh. “Dia kenapa?”

Ar melirikku dengan tatapan membunuh, tidak menjawab dan langsung melempar pedangnya di depanku sebelum dia berlari mengejar Rena. Aku tertawa miris. Apa aku baru saja melihat adegan murahan kejar-kejaran antara satu pasangan? Aku menggelengkan kepalaku, sepertinya tugas ini benar-benar akan membuatku pusing. Kurasa aku lebih cocok bertarung dengan manusia srigala atau bertarung saja dengan para slayer daripada berpura-pura jadi slayer begini. Reven sialan. Dialah yang membuatku berada di tempat seperti ini.

***

“Rena, tunggu.” Ar berteriak keras sambil berusaha mengejar Rena.

Rena berbalik dengan kesal, “Apa?”

Ar diam beberapa saat, ditatapnya kedua mata Rena dengan intens, “Maaf.” Bisiknya tulus. Terdengar suara helaan nafas Rena, “Ar..” katanya, “Maaf juga. Mungkin aku juga salah karena kehilangan kontrol emosiku. Tidak seharusnya aku meneriakimu di depan semua orang seperti tadi.

Aku yang mengamati mereka dari kejauhan mengerutkan keningku dengan tidak mengerti. Kupikir aku akan melihat pertengkaran hebat setelahnya, tapi ini.. mereka justru saling minta maaf. Aku benar-benar tidak paham jalan pikiran mereka berdua.

Lalu aku mendengar suara tawa Ar, dia menyentuh kedua lengan Rena dan berkata, “Tidak. Sepertinya kau benar, aku kekanak-kanakkan. Sejak awal aku memang tidak menerima kehadiran Dev. Aku pikir dia mungkin sedikit aneh dan misterius. Aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatanmu dengan membiarkan orang yang tidak benar-benar aku tahu berada di dalam tim kita. Mungkin saja dia bisa membahayakanmu.

“Ar..” Rena terdengar lelah, “Kau melakukan semua ini karena aku?” dia melepaskan kedua tangan Ar dari lengannya dan mengusap wajahnya dengan frustasi, “Demi apapun jangan bertindak seperti ini lagi. Deverend Corbis bukan orang jahat. Aku bisa jamin itu. aku juga sudah bisa melindungi diriku sendiri jika memang terjadi sesuatu yang buruk nanti. Jadi berhentilah paranoid seperti ini dan percayai aku. Kumohon..”

“Aku bukannya tidak mempercayaimu, Rena. Aku hanya ingin melindungimu dari orang-orang yang mungkin punya peluang untuk menyakitimu. Aku sudah berjanji pada ibu untuk melindungimu. Dan aku akan melakukannya dengan sekuat tenaga, menggunakan semua kemampuanku.”

“Tapi Dev tidak akan menyakitiku.” Katanya percaya diri.

“Kau belum mengenalnya.”

Rena menggeleng, “Kau yang belum mengenalnya, Ar.” Sahutnya, “Cobalah membiarkan dia dan bertemanlah dengannya. Dia cukup menyenangkan. Kalian berdua mungkin sama-sama keras kepala tapi aku yakin kalian akan cocok berteman.”

Aku tersenyum. Apakah perempuan ini terlalu polos atau malah bodoh? Kenapa dia bersikeras membuat hubunganku dan Ar membaik dengan berkata seolah-olah dia benar-benar mengenalku dengan sangat baik. Tapi entah kenapa, aku suka mendnegar dia membelaku. Ada jeda hening yang lama setelah Rena mengatakan seperti itu. kurasa si kepala batu Ar, memang sedang memikirkan kata-kata Rena dengan sungguh-sungguh. Ini akan menguntungkanku. Kurasa tinggal sebentar lagi sebelum aku mendapatkan kepercayaannya.

“Ar..” panggil Rena lagi.

Ar menarik nafas panjang. “Aku akan mencobanya.” Jawabnya dengan suara berar.

Rena tersenyum lebar, “Itu baru Ar yang kukenal.” Katanya sambil menepuk bahu Ar. “Kau sudah makan? Aku lapar, ayo temani aku ke dapur. Kurasa Inggrith akan memberiku makanan jika aku membawamu bersamaku. Kau tahu? Diakan sangat tergila-gila padamu.”

Ar tertawa, “Kau memperalatku untuk mendapatkan makanan di luar jam makan?”

Rena ikut tertawa, “Itulah gunanya aku punya sahabat seterkenal kau.” Dia menggandeng lengan Ar dan menyeretnya melangkah menuju sayap kiri kastil, ke arah dapur. Aku keluar dari tempatku bersembunyi. Menatap punggung mereka yang menjauh. Hari-hari selanjutnya pasti akan menarik.

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

15 Comments

  1. Huaaa~
    ternyata Rena gak bsa juga marah sma Ar . Mlah saling minta maaf.
    Rena percaya bnget sma Dave .
    Yg sma Noura itu Ar kan !

    Ahahahaha~
    Dave udah mulai mikirin Rena nech . Next part d tnggu .

  2. Iyaa. Rena emang ngga bisa marah kalo sama Ar begitu pula sebaliknya. Nah, kelemahan Rena dari awal sampe zaman HV-kan gampang percaya sama orang lain.

    Siap siap ditunggu saja ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.