Another Story – Bertemu Kembali

 Teriakan kegembiraan dan gema lega memenuhi aula utama di kastil utama. Namun bagiku, ini seperti lingkupan ketakutan.
Sang pengganti calon ratu telah ditentukan. Temukan dia dan kita lepas duka atas Noura. Bawa Sherena Audreista ke kastil ini dan bayangan lemah ras kita akan lenyap. Tuntun atau seret sang heta dan beri dia seluruh kehidupan kita.”
Suara Illys seperti suara pengabar maut untukku. Nama itu begitu jelas dikabarkan dan tak ada heta lain dalam kerajaan manusia dengan nama itu. Hanya dia, hanya Renaku. 

Dan aku berlari meninggalkan kelompok besar. Mengabaikan teriak Viona yang menanyakan tentang apa yang terjadi padaku. Aku tidak peduli. Mereka sedang menyusun rencana dan membagi kelompok untuk menangkap Rena. Aku tidak bisa membiarkannya. Kegaduhan akan suka cita para vampir membantuku untuk keluar dari kastil ini lebih cepat. Mereka semua sedang terlalu bahagia untuk peduli padaku yang menerobos kerumunan dengan panik.

Aku berlari secepat dan setangkas yang bisa kulakukan sementara pikiranku bercabang-cabang tidak karuan. Pengganti calon ratu? Yang benar saja. Dan jiwa Noura. Sebagian jiwa Noura di dalam tubuh Rena. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Illys mengatakan begitu banyak hal. Semua vampir begitu senang tak terkecuali aku. Tapi begitu empat kalimat terakhirnya itu terucap. Tubuhku terasa dihantam oleh badai petir paling mengerikan.

Bawa Sherena Audreista ke kastil ini dan bayangan lemah ras kita akan lenyap. Bawa Sherena? Tapi kenapa harus Rena? Kenapa bahkan ketika sudah mati, Noura menyeretku dalam masalah semenjijikan ini. Bisa-bisanya dia membawa Rena dalam masalah ras vampir. Menjadikan Rena pengganti dirinya. Noura kabur dan memilih kematian. Lalu apa yang membuatnya memilih tubuh Rena untuk disisipi jiwanya yang gila. Aku begitu marah. Aku ingin memaki dan menyalahkan seseorang. Dan Nouralah satu-satunya yang pantas dan patut dipersalahkan.

Noura, terkutuk kau.

***

Aku mencari di kastil pelatihan. Bersembunyi dalam bayangan dan mengamati dalam diam selama beberapa hari yang rasanya seperti berpuluh-puluh abad. Tak menemukan Rena dimanapun dan aku begitu ketakutan. Tapi sekarang, begitu aku melihatnya berderap masuk ke istal dengan menunggangi Cora. Tubuhku gemetar menahan rindu. Aku tidak menyangka akan begini jadinya. Aku juga melihat Arshel. Tentu saja. Rena dan Arshel adalah satu paket jelas di kastil ini. Aku belajar untuk tidak iri pada laki-laki satu itu.

Tapi wajah mereka nampak khawatir dan aku berusaha keras menahan diriku untuk tidak menerjang langsung ke sana hanya untuk merasakan kembali seperti apa rasanya memeluk Rena. Melihatnya dari jauh saja, perutku rasanya seperti diaduk yang menimbulkan efek menyenangkan. Aku berhasil menguasai diriku dan tahu bahwa aku harus menunggu saat yang tepat untuk bisa menemui Rena dan membawanya pergi. Melindunginya dari pencarian rasku sendiri.

Sialnya, aku tidak tahu jika menunggu dalam konsep aman artinya berhari-hari diam dan hanya memperhatikan. Rena menjalankan kegiatannya sebagai heta dan aku tidak melihat Ar lagi sejak kejadian di istal. Baunya juga tidak tercium di kastil pelatihan. Kupikir dia menjalani tugas lain. Anehnya juga, kastil pelatihan terlihat lebih sibuk daripada biasanya. Kemudian dari banyak isi pikiran yang kubaca dan berjubel percakapan yang kudengar, aku tahu apa yang terjadi. Para vampir sudah bergerak. Aku mendengar penyerangan besar-besaran yang terjadi di perbatasan utara.

Aku tidak tahu permainan seperti apa yang sekarang dilakukan Vlad. Kenapa pula dia tidak langsung menyerbu kastil pelatihan dan mencari Rena namun malah mengirimkan banyak vampir di semua wilayah perbatasan para manusia ini? Aku sedikit menyesal karena dulu terburu-buru langsung pergi meninggalkan kastil utama tanpa mendengar rencana Vlad lebih lanjut. Sebab ucapan Illys dan nama Rena yang disebutnya sudah membuatku ketakutan dan cemas setengah mati.

Kuputuskan aku tidak bisa menunggu lagi. Begitu Rena berjalan masuk ke menara tempat tinggal para heta, aku mengikutinya dengan cepat dan tak seorangpun menyadarinya. Ketika aku tahu tujuannya adalah ruang pribadinya, aku menyelinap ke arah lain karena sekelompok heta mendadak muncul dari depanku. Rena berhenti sebentar dan mereka menukar obrolan tak penting.

Aku menyusup ke ruangan lain ketika serombongan slayer datang dari arah belakangku. Aku bisa mendengar suara mereka meskipun mereka masih jauh. Aku memaki. Kenapa pula menara ini mendadak dipenuhi orang-orang ketika aku memutuskan untuk menemui Rena. Perlu beberapa waktu lagi menunggu dan aku sudah benar-benar tidak sabar. Namun ketika aku sudah berada tepat di depan pintu ruangan Rena, aku terpaksa lagi menahan diri.

Arshel ada di dalam. Aku mendengar perbincangan tak lengkap. Kemudian derap langkah cepat terdengar mendekati pintu. Aku melompat ke samping dan Ar keluar dari ruangan Rena dengan sangat terburu. Dia jelas baru sampai di kastil pelatihan dan langsung menemui Rena, sebab aku tahu dia tidak ada di sini sebelumnya. Wajah Ar ketika keluar dari ruangan Rena nampak kacau. Aku tidak mendengar pertengkaran tapi Ar jelas terlihat sedang tidak baik-baik saja.

Aku menunggu beberapa saat sampai tak ada suara lagi di balik pintu ruangan Rena. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Rena. Namun ketika aku akhirnya sanggup menyentuh daun pintu dan mendorongnya pelan sekali, aku melihat tubuh Rena terbaring di atas tempat tidurnya. Dia terlelap dan aku termenung lama menatapnya.

Berdiri di samping wajah Rena yang tertidur. Aku tahu bahwa inilah wajah yang selama ini menghantuiku selama berbulan-bulan. Menganggu hidupku dan membuatku tidak tenang. Wajah yang kurindukan tiap harinya. Aku menatap alis hitam Rena, hidungnya yang mancung lalu ke dua lekukan bibirnya yang terkatup. Aku merasa desakan kuat untuk menciumnya. Menunduk pelan, aku mengecupnya. Tidak ada reaksi dan Rena masih lelap.

Aku mundur, tersenyum setelah membelai lembut rambut Rena. Duduk di samping tempat tidur, aku memandanginya. Lalu semua ucapan Illys kembali berputar dalam benakku. Aku menyentuh pipi Rena, perempuan ini sama sekali tidak tahu jika hal yang sangat buruk sedang terjadi dalam hidupnya. Bisakah Rena menerima jika dia sekarang adalah half vampire? Aku mengingat kembali sorot mata terakhir Rena ketika dia tahu bahwa aku vampir. Akankah dia bisa menghadapinya?

Renaku yang malang.

Lalu aku melihat dahinya berkerut dan dia bergerak gelisah. Apa yang sedang dimimpikannya? Apakah dia mengalami mimpi buruk? Apakah jiwa Noura sudah mempengaruhinya? Noura. Perempuan sialan itu benar-benar pantas mati seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia melakukan ini pada Rena. Dia tidak mengenal Rena dan—aku tersentak—bukankah dulu Noura sering berkeliaran di sekitar kastil pelatihan ketika aku masih menyusup di sini? Apakah dia sudah merencanakan hal ini sejak lama? Tapi kenapa memilih Rena?

Tanganku menyentuh dahi Rena yang berkerut dalam tidurnya. Menunduk, mengecup di tempat itu dan wajah Rena mengendur. Dia kembali nampak damai dalam tidurnya dan aku merasa lega. Aku bergerak ke samping tempat tidur Rena dan berbaring di tempat yang tersisa. Meringkuk tidak nyaman. Tapi begitu aku menemukan tubuh Rena dan memeluknya. Semua ketidaknyaman itu luruh. Digantikan aliran kebahagiaan yang meluap. Berbaring di samping Rena yang tertidur dan mendekapnya menghilangkan semua kekhawatiranku. Sejenak rasanya seluruh masalah dunia ini lenyap. Menyisakan aku dan Rena dan sebuah kesempatan bahagia bersama.

***

Aku duduk di satu-satunya kursi yang ada di ruangan Rena. Kurasa dia sebentar lagi akan bangun dan aku tidak ingin Rena terbangun dengan melihat aku bergelung di sampingnya. Memeluknya tanpa sepengetahuannya. Aku tidak ingin dia bertambah marah padaku jadi aku menyembunyikan semua yang sebelumnya kulakukan untuk diriku sendiri.

Lalu benar saja, aku melihat Rena mengerjap dan langsung melompat bangun dari tempat tidurnya. Sepertinya ada yang sangat mengejutkannya di dalam mimpinya. Dia merutuk pelan tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku menahan senyum dan tetap diam di tempatku. Menunggu dia menyadari keberadaanku di sini.

Rena mengusap wajahnya dan aku melihat kelelahan di matanya. Kenapa dia justru nampak lelah ketika dia baru saja bangun dari tidur? Ada diam yang cukup lama dan aku mengerutkan keningku. Aku tidak bisa membaca pikiran Rena. Mendadak aku diserang rasa jengkel yang luar biasa, ini pasti pengaruh dari jiwa Noura. Jika saja aku tahu caranya, aku ingin menarik jiwa Noura keluar dari tubuh Rena dengan paksa dan melemparkan jiwa sialan itu ke luar jendela kecil ruangan ini.

Mendadak sekali, Rena bangkit dan meraih busur dan kantong anak panahnya. Dia bergerak dengan tergesa dan aku mengerutkan keningku tidak suka. Aku menunggu dia melihatku dan aku ingin tahu reaksinya. Namun sampai sekarang, Rena bahkan tidak sadar aku sedang duduk mengamatinya. Apakah jiwa Noura tidak berpengaruh pada indera-indera di tubuhnya? Aku tidak bisa bersabar lagi. Aku memutuskan untuk menyapanya lebih dulu.

“Kau bahkan tidak menyadari aku ada di sini dan mengamatimu sejak tadi? Apakah kemampuan hetamu memburuk?”

Semua gerakan Rena terhenti. Dia mematung. Sedetik kemudian kepalanya berputar pelan ke arahku. Aku tersenyum. Dia masih tidak berkata apapun. Bangkit perlahan, aku berjalan ke arahnya. Entah karena masih tidak percaya melihatku atau pikirannya sedang sangat kacau, Rena masih tidak bereaksi. Tapi tidak apa-apa, aku yang akan melakukan semua untukknya. Aku mendekat. Memeluknya lagi seolah semua pelukan yang kuberikan untuknya sebelumnya tidak cukup. Bagiku memang tidak akan pernah cukup.

“Aku merindukanmu, Rena.”

Aku memeluknya dan membiarkan tubuhku tenggelam dalam kerinduanku padanya. Tubuhnya begitu kaku dalam pelukanku. Dan aku entah kenapa tidak suka pada reaksi ini. Aku tetap tidak bisa menerima ini semua. Aku membayangkan Rena akan balas memelukku dengan hangat seperti yang dulu selalu dilakukannya untukku. Tapi sepertinya aku terlalu banyak berharap karena sekejap kemudian dia mendorongku dengan sangat keras. Membuatku melepaskan pelukanku pada tubuhnya.

“Bagaimana kau bisa kembali masuk ke tempat ini, mata-mata busuk?” teriaknya.

Mataku menatap Rena yang menatapku dengan mata penuh amarah. Aku berusaha bersikap biasa dan membalas tatapannya dengan tatapan lembut, “Apa kau lupa bagaimana pandainya aku menyelinap, Rena?”

Dia menggeram, terlihat semakin muak dan marah. Aku berusaha mengabaikan perasaan tidak suka di dalam kepalaku. Aku tersenyum membalas tatapan Rena yang setajam pedangnya. Lalu sedetik kemudian, tanpa aku bisa mengantisipasinya, dia berjalan sangat cepat ke arahku dan melayangkan pukulan sangat keras ke wajahku.

“Makhluk sialan. Mata-mata busuk. Penyusup tak berotak. Berani-beraninya kau kembali kesini. Apa sekarang rencanamu, hah?” raungnya sambil tanpa henti memukuliku.

“Oh wow ow Rena, he..heyy hen..hentikan.” ucapku terbata-bata karena masih sangat terkejut. Aku juga berusaha menghentikannya. Tapi entah mendapat tenaga dari mana, Rena nampak tangguh dan tak terkalahkan. Mulutnya juga. Aku hanya bisa meringis menahan semua kata-kata makian dari mulutnya untukku.

Aku menunggu hingga selesai dengan semua amarahnya. Namun Rena sama sekali tidak terlihat ingin berhenti. Sementara aku mulai kehilangan kesabaranku. Dia boleh saja memukuliku sampai puas. Tapi aku tidak bisa mendengarnya mencaci makiku dengan sebutan pengkhianat. Tidak. Aku bukan seperti itu. Sama sekali tidak.

“Rena! Rena, hentikan.”

Dengan cepat aku menarik satu tangannya untuk menghentikannya. Rena yang tidak menyangka aku akan melakukan hal itu, tersentak dan dia menabrak dadaku dengan keras. Tepat saat itu juga, aku menemukan sepasang iris hitam gelap yang tengah menatapku. Seluruh indera tubuhku membeku. Kerinduan itu mengalir di setiap inci tubuhku. Aku benar-benar ingin membenamkan wajahku di wajahnya dan membayar lunas semua kegelisahanku selama ini. Aku mencoba membaca pikiran Rena, namun semuanya samar dan aku benci menyadari jika itu mungkin saja efek dari jiwa Noura di dalam tubuhnya.

Tapi kedalaman matanya membiusku. Jaraknya dariku yang serapat ini. Aku mendekat, mendengar suara detak jantung Rena yang berpacu sangat cepat. Aku ingin tersenyum. Dia juga merasakan hal yang sama. Kurasa itu jawaban yang kubutuhkan sekarang. Aku mendekatkan wajahku. Semakin dekat, dekat dan…

Tok. Tok. Tok.

“Rena! Rena! Kau di dalam?”

Aku memaki keras siapapun itu yang menghancurkan kesempatanku mencium Rena. Sebab Rena langsung menyentakkan tangannya dariku, melepaskan diri dari dekapanku dan dia berjalan cepat ke arah pintu yang masih digedor-gedor.

“Sembunyikan dirimu.”

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Kemudian melakukan seperti yang dia katakan. Menyembunyikan diriku. Aku bergerak cepat seperti bayangan dan sudah berada di sebelah pintu. Kurasa bahkan Rena tidak menyadari keberadaanku. Dan ketika pintu mengayun terbuka, menyembunyikan tubuhku di baliknya, aku tahu tak seorangpun sadar aku di sini.

Lalu ada Edge di sana. Nampak cemas. Aku tahu Edge, tapi kami tak banyak saling bicara dulu. Dia adalah teman Ar. Dan aku tidak punya alasan kuat untuk ikut menjadikannya informan dulu. Edge hanya slayer biasa. Aku mendengar dia dan Rena bicara. Mereka bicara banyak dan aku mendengarkan dengan kening berkerut dalam. Aku tidak suka apa yang mereka bicarakan.

“Master memanggilmu.”

Itu suara Edge.

“Master memanggilku? Apa ini tugas bersama Ar?”

“Aku tidak tahu. Tapi kurasa ini sesuatu yang penting. Semua tetua dan petinggi kerajaan ada di aula utama sekarang. Kecuali raja tentu saja. Kau sebaiknya langsung ke sana. Master sudah menunggumu. “

Lalu semua percakapan lainnya seperti tenggelam. Sebentuk kekhawatiran membebatku erat. Apakah mereka sudah tahu? Apakah mereka semua memanggil Rena karena mereka tahu bahwa Rena sekarang adalah—aku menggeleng. Tidak. Lagipula darimana bisa para manusia ini tahu. Apakah mereka berhasil menangkap salah satu vampir bodoh yang juga ditugaskan oleh Illys dan mengorek informasi dari mereka?

“Kau juga Rena.”

Aku mendengar suara Edge lagi dan kali ini diiringi langkahnya yang menjauh. Dia pergi. Aku bergerak cepat dan kembali ke tempatku semula, tepat saat Rena telah menutup pintu ruangannya dan berpaling menatapku.

“Dev,”

Jika situasinya tidak seperti ini. Aku akan sangat bahagia mendengarnya. Suara Rena adalah suara terindah yang ada di dalam hidupku. Dan suara Rena yang memanggil namaku adalah candu yang dengan apapun rela kutebus untuk bisa mendengarnya sepanjang masa hidupku. Bahkan, meskipun aku juga tahu bahwa suara yang digunakan Rena sekarang sama sekali jauh dari kata ramah.

Aku menunggu. Rena diam cukup lama dan menatapku masih dengan penuh kebencian dan amarah. Aku merasa putus asa. Entah kenapa tatapan Rena yang seperti itu terasa menyakitiku lebih ari pedang perak atau mata panah peraknya.

“Pergi dari sini!” semburnya mendadak.

“Pergi dari sini?” ulangku, “Tapi ak—“

“Sebelum aku sendiri yang membunuhmu dengan anak panahku.” Dia menarik busurnya dan mengarahkan anak panahnya padaku, “Aku tidak tahu kenapa aku tidak membiarkan Edge tahu kau ada di sini. Tapi aku tidak akan lagi memberimu kesempatan lain jika kau tidak segera enyah dari hadapanku. Aku yang benar-benar akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, vampir.”

Tepat ketika dia menyebut satu kata terakhirnya, aku mencelos. Aku tidak tahu jika Rena yang membenciku, efeknya akan seburuk ini. Aku memandangnya sedih. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan jika dia peduli padaku dan aku semakin merasa putus asa. Aku tidak bisa menukar diriku yang sekarang. Aku memang vampir, dan Rena.. apakah dia sadar bahwa dia sekarang juga nyaris sama sepertiku.

“Kau tidak bisa melakukannya, Rena. Tidak ketika kau tahu bahwa aku masih berarti untukmu.” aku mengatakan itu dengan lembut. Sejujurnya aku bahkan tidak yakin pada semua ucapanku sendiri. Aku mengatakan itu lebih karena aku ingin diriku sendiri percaya bahwa yang kukatakan memang benar. Aku tak bergerak sedikitpun, paham benar jika saja aku salah. Aku bisa berakhir dengan menjadi abu di tangan perempuan yang kucintai dengan sangat besar ini.

Rena mendengus, “Kau terlalu percaya diri. Coba saja jika kau memang ingin mati di tanganku.”

Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Sejujurnya aku sudah kehabisan akal. Aku melangkah maju. Kurasa mati di tangan Rena bukanlah pilihan buruk. Mungkin Lyra akan menertawakanku. Tapi peduli setan dengannya.

Aku terus melangkah, berhenti tepat di depannya. Satu langkah saja jarak di antara kami. Aku tersenyum dan berkata dengan lembut. Menyalurkan semua perasaanku saat ini dalam bentuk kata-kata yang kuharap bisa mengingatkan Rena tentang seperti apa kami dulunya.

“Aku mencintaimu, Rena. Dan aku tahu, kau juga masih memiliki perasaan yang sama kepadaku.”

Dan aku nyaris saja langsung menerjangnya dan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukanku ketika kulihat Rena nampak goyah. Aku menunggu. Menahan diri. Tangan Rena nampak gemetar. Aku merutuk ketumpulan kemampuanku sekarang karena aku jadi tidak tahu apa yang ada di dalam kepalanya itu.

Mataku menangkap kebimbangan di matanya dan aku langsung tahu bahwa ini saatnya. Aku harus bertindak. Maka aku maju, meraih tangannya dan menjatuhkan busur beserta anak panah dari tangannya. Rena terlihat tidak sanggup menahanku. Kurasa dia malah sedang sibuk berdebat dengan isi kepalanya. Atau entahlah, aku tak mau peduli karena sedetik kemudian aku sudah memeluk Rena dengan sangat erat. Aku tak mau kehilangan dia lagi.

“Aku benar-benar merindukanmu.” bisikku setengah mengendurkan pelukanku. Aku menunduk, menangkap matanya dan aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku menunduk makin dalam dan menyapu bibir Rena dengan bibirku. Merasakan sensasi aneh menyengat yang mengalir dalam tubuhku. Aku benar-benar jatuh cinta pada perempuan heta ini.

BRAAKKKKK.

Kami berdua terlonjak kaget. Menoleh ke asal suara itu. Pintu ruangan Rena menjeblak terbuka, didobrak secara paksa. Dan sepasang iris cokelar menatap kami dengan terkejut.

“Ar..” suara Rena terdengar lirih. Sementara aku ingin mencekik laki-laki di depanku itu. Tidak bisakah dia menunggu dan membiarkanku mencium Rena lebih lama? Kenapa dia sama sekali tidak berubah, selalu berusaha menghancurkan kegiatanku dengan Rena.

“Rena? Dev?” Ar menatap aku dan Rena bergantian. Namun ketika dia sampai padaku, aku tahu bahwa Ar sama sekali tidak terkejut melihatku. Apakah dia sudah menduga bahwa aku akan datang? Apakah dia juga tahu?

“Bagaimana bisa kau ada di sini?”

“Ar..” Rena berjalan ke arah Ar, “Kau tahu Dev akan datang?”

Bahkan Rena saja bisa membaca ekspresi Ar. Dan Ar hanya mengangguk. Sama sekali tidak ingin membahasnya atau mengatakan sesuatu. Dia langsung melewati Rena dan sibuk mengelilingi ruangan ini. Mengumpulkan benda-benda milik Rena dan memasukkan semuanya ke dalam kantong kulit yang dibawanya. Dia memasukkan banyak persediaan obat, berbagai jenis peralatan heta. Dan aku langsung tahu bahwa dugaanku benar. Hanya sekarang, satu pertanyaanku, bagaimana bisa dia tahu semua ini.

“AR!”

Suara teriakan Rena membuyarkan rangkaian pemikiranku. Herannya, Ar terlihat sama sekali tidak ingin menjelaskan apapun pada Rena yang nampak marah. Ar hanya menoleh sekilas dan langsung dia melanjutkan lagi semua yang tengah dilakukannya.

“Tidak sekarang, Rena.”

Hanya itu yang dikatakan Ar. Dan Rena jelas sudah kehilangan kesabarannya ketika dia berjalan cepat ke arah Ar. Dia mungkin saja sudah akan menerjang Ar dengan marah jika aku tidak menghentikannya dengan cepat.

Tanganku menangkap lengannya, “Biarkan dia melakukan itu. Dia mempersiapkan semua untukmu.” aku berusaha menenangkan Rena.

“Mempersiapkan apa dan kenapa untukku?” Dia membentakku dengan sangat keras.

Aku sudah akan membuka mulutku untuk bicara ketika Ar mendadak sudah berada di samping Rena. Dia dengan entengnya malah mengangsurkan busur dan kantong anak panah Rena kepadaku. Seolah tidak peduli bahwa Rena baru saja berteriak seperti orang kehilangan kendali di depan wajahku gara-gara dia.

“Kau datang, sesuai dugaanku.”

Mata Rena membulat. Menatap aku dan Ar bergantian. Aku tidak menyalahkannya. Arshel mungkin saja memang slayer paling hebat, tapi dia kelewat bodoh. Bukannya menenangkan Rena yang terlihat seperti sudah akan meledak, dia malah menyulut semuanya supaya menjadi lebih parah. Aku merutuk pelan. Sudah menduga akan mendengar rentetan teriakan lain dari Rena. Rena sungguh bisa sangat temperamental jika dia mau.

“ARSHEL! Jika kau tidak mengatakan padaku ada apa ini sebenarnya. Aku benar-benar akan marah pad—“

“Rena.” Potong Ar cepat, “Sekarang kita harus segera pergi dari sini.”

“Tidak! Kau jelaskan padaku sekarang atau aku tid—“

“RENA!” suara Ar meninggi dan dia menatap Rena tajam, “Kita tidak punya banyak waktu. Kumohon.”

Aku menghela nafas, mulai kasihan pada Rena. Dia jelas juga berhak tahu atas apa yang tengah terjadi sekarang, “Kau bisa menjelaskan semuanya kepada Rena sekarang, Ar. Kurasa dia berhak tahu apa yang tengah terjadi.”

Sialnya aku malah mendengar umpatan Ar yang jelas ditujukan kepadaku. Ar menatapku dengan jengkel, seolah salah besar jika aku baru saja membela Rena.

“Kita tidak punya banyak waktu. Aku melihat Master sudah mengadakan pertemuan di aula utama ketika aku dalam perjalanan ke sini. Mereka tahu.

Wajahku menegang. Aku sudah menebaknya. Sudah jelas benar. Tapi tetap saja, mendengar Ar mengonfirmasinya, aku jadi kalut. Ini menyangkut keselamatan Rena.

“Secepat itu?”

Ar hanya mengangguk sebelum kemudian dia kembali menatap Rena yang semakin terlihat bingung dan marah, “Aku berjanji akan menjelaskan ini semua padamu, Rena. Tapi tidak sekarang. Kita harus bergegas atau mereka akan menangkapmu.” dia meraih tangan Rena.

Pada saat tu juga aku rasanya ingin memukul Ar. Entah kenapa aku masih merasa iri. Tapi aku harus menjernihkan pikiranku. Ar sudah menarik tangan Rena dan setengah menyeretnya untuk mengikutinya. Jika saja situasinya tidak genting, aku akan membutuhkan sehari bahkan lebih untuk mencerca Ar.

Tapi sekarang bukan saatnya untuk hal itu, aku mengingatkan diriku sendiri. Aku harus fokus. Ini juga demi Rena.

Ar berjalan—setengah berlari—menuju arah keluar menara asrama. Tapi aku segera menghentikanya ketika indera pendengaranku menangkap hal lain. Aku menarik tangan Ar dan sejurus dia seperti ingin meninju wajahku karena aku melakukan itu dengan tiba-tiba.

“Puluhan slayer menuju ke sini. Aku bisa mendengarnya. Kalian akan tertangkap jika keluar lewat sana.” aku mengucapkan itu dengan cepat dan wajah Ar yang kesal langsung berubah cemas.

“Aku tahu satu jalan keluar lain dari menara ini.”

Aku mengangguk, dan kami kembali berlari. Ar memimpin kami dengan satu tangannya masih mencengkeram erat pergelangan tangan Rena. Sejujurnya aku kasihan pada Rena karena dia nampak terengahj-engah dan nyaris tidak bisa mengimbangi langkah Ar. Sekali kudengar dia memanggil nama Ar namun Ar mengabaikannya dan hanya melempar senyum menenangkan yang palsu. Jika saja kami tidak dikejar waktu seperti ini, aku pasti dengan sangat senang hati langsung menggendong Rena. Namun aku tahu bahwa kami tidak punya waktu lebih untuk mendengar Rena kembali memaki-makiku.

“Kita berhenti di sini.”

Akhirnya Ar mengatakan hal itu. Aku sudah gatal ingin bertanya arah mana yang sedang dia tuju sekarang sebab aku sama sekali tidak tahu ada jalan keluar di bawah menara asrama. Ar membimbing kami berlari menuju ruang bawah tanah menara asrama. Tapi ketika melihat Ar yang ketakutan setengah mati sambil meraba-raba tembok batu di dekatnya, aku urung bertanya.

“Seharusnya ada di sini.” Bisiknya.

Aku dan Renaberpandangan, saling tidak mengerti apa yang sebenarnya dicari Ar.

“Ini dia.” Kata Ar ketika dia menarik keluar satu balok kecil batu dinding. Ar memasukkan tangannya ke celah kecil itu dan menarik sebuah tali yang ada di dalamnya. Dia mundur beberapa langkah. Aku dan Rena, langsung mengikutinya tanpa protes bagaimana bisa dia tahu ada jalan rahasia di sini.

Kami melihat bagaimana tembok batu di depan kami tiba-tiba bergeser dan membentuk celah lebar setinggi Ar. Ar berjalan masuk. Rena mengikuti langkahnya dan aku berjalan tepat di belakangnya. Ketika kami bertiga masuk, Ar menyentuh sesuatu di dinding yang membuat tembok itu kembali bergeser dan kali ini menutup

Kegelapan total menyelubungi kami. Tapi hanya beberapa detik ketika mendadak belasan obor di dinding menyala dengan sendirinya. Api-api kecil berkobar di dalamnya, memberikan cahaya terang di ruangan ini. Rena nampak tercengang sementara aku hanya menatap Ar dengan mata menyipit. Jadi inikah alasannya kenapa selama mengenalnya, aku sama sekali tidak bisa membaca pikiran Ar? Ar adalah penyihir. Itu sudah jelas dan ruangan ini menjelaskan detail lainnya.

Aroma sihir menguar kuat di sini dan hanya dengan melihat semua ini. Aku tahu, bahwa Ar termasuk dala kategori penyihir cakap. Bukan penyihir bodoh dan tamak yang biasa dipekerjakan oleh raja mereka.

“Apa ini, Ar? Bagaimana kau bisa—“ suara Rena bergetar. Dia mungkin juga menyimpulkan hal yang sama denganku dan tidak siap pada apa yang disodorkan oleh logika di dalam kepalanya untuk menjelaskan semua ini, “Jelaskan padaku sekarang. Ada apa sebenarnya dan ini semua—“

Tapi Ar masih terlihat tak ingin mengatakan apapun.

“Ar.” Panggil Rena semakin frustasi.

Ar berhenti di depan dinding yang berwarna berbeda dengan dinding batu di sekitarnya. Aku tahu dia berdiri di depan apa dan aku mencoba menebak terhubung dengan daerah mana pintu sihirnya itu. Ya, itu adalah pintu sihir. Sangat jelas dan aku bisa melihat pendar mantera rumit mengelilingi dinding itu. Mantera yang jelas hanya bisa dirapalkan oleh penyihir murni. Apakah Ar salah satunya? Lalu kenapa selama ini dia menyembunyikannya, bahkan dari Rena sekalipun? Dan untuk apa?

“Ini adalah jalan keluar rahasia dari tempat ini. Mengarah langsung ke hutan perbatasan utara. Hanya aku yang bisa mengunakannya, atau mungkin para penyihir kuno jika mereka memang masih ada. Aku akan membukakannya untukmu dan Dev. Lalu kalian bisa pergi.”

Aku mendengar Ar menjelaskan hal itu pada Rena. Dia memandang Rena yang mengernyit.

“Aku masih punya urusan yang harus kulakukan di sini. Tapi setelah aku selesai dengan semuanya, aku janji aku akan mencarimu, Rena. Kita akan segera bertemu lagi.”

Sekarang aku tahu apa yang akan dia lakukan dan aku merasa sedikt merasa bersalah pada Rena karena aku tahu bahwa aku tidak akan mencegah Rena. Aku hanya diam dan menunggu. Mendengarkan semua percakapan mereka.

“Aku tahu, Dev akan menjagamu. Aku percaya padanya dan kau juga harus percaya padanya, Rena.”

Aku tersenyum. Menyukai bagian ini dan mencoba melihat ke arah Rena yang sepenuhnya mengabaikan.

“Tunggu.” Potong Rena cepat. Dia berjalan ke arah Ar, berhenti tepat di depannya, “Biar kuperjelas semua ketidaknormalan ini.”

Jika tidak sedang berada dalam masalah. Aku akan menyukai momen ini. Aku tidak pernah melihat Rena semarah ini pada Ar.

“Aku tidak akan pergi kemanapun. Tidak dengan Dev dan tidak denganmu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau dan Dev membawaku ke tempat aneh ini. Mengatakan banyak hal aneh dan tidak masuk akal. Aku tidak ak—“

“Rena.” Ar maju dan memeluk Rena dengan cepat dan dia mendekap Rena terlalu erat. Aku menahan geram. Tapi tetap memilih diam di tempatku.

“Ar?” bisik Rena. Suaranya melembut, “Ada apa sebenarnya?”

“Maafkan aku.”

Hanya itu yang dikatakan Ar sebelum dia mendorong Rena ke arah pintu sihir itu dan Rena langsung lenyap. Hanya aku dan Ar yang berdiri di ruangan ini. Aku bisa melihat kesedihan yang mengantung di mata Ar ketika dia menatap dinding berfungsi ganda itu.

Jadi?”

Dia menoleh, terkejut. Seolah baru menyadari bahwa aku memang ada di sini sejak awal. Kemudian dia menarik nafas sangat panjang dan aku bisa melihat betapa kacaunya seorang Ar terlihat saat ini.

“Jaga Rena untukku, Dev.”

“Itu sudah jelas. Tanpa kau memintapun, aku akan melakukannya. Dengan hidupku sendiri sebagai taruhannya.”

Dia mendesah, nampak lega tapi juga lelah, “Baguslah. Aku tahu aku bisa mempercayakan Rena padamu.”

Aku mengangguk, “Tentu saja. Hanya saja—“ aku berhenti, mencermati wajah Ar, “Bagaimana bisa kau tahu aku akan datang? Dan sebanyak apa yang kau tahu tentang apa yang terjadi pada Rena sekarang?”

Ar mendongak, menatapku. Sebentar kemudian dia melemparkan tas kulit di tangannya ke arahku. Aku menangkapnya dengan cepat.

“Kau akan terkejut jika kukatakan seberapa banyak yang kutahu. Percayalah, Dev, kau bahkan tak tahu sebagian besarnya. Tapi aku sudah tahu. Sejak lama. Dan sekarang pergilah, susul Rena sebelum dia melakukan tindakan bodoh.”

Mulutku sudah akan membuka, memaki dan memprotes Ar tapi dia sudah bicara lagi.

“Lindungi Rena dari para manusia, Dev. Lindungi juga Rena selama dia ada di kastil utama rasmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Tapi kuharap, kau jauhkan dia dari Reven.”

Mataku membulat sempurna. Tapi Ar terlihat sama sekali tidak memberikan kesempatan bagiku untuk mengatakan sesuatu.

“Sekarang pergilah. Sebentar lagi aku akan menghancurkan sihirnya. Aku tidak bisa mengambil resiko apapun sekarang.”

“Kau berhutang penjelasan padaku, Arshel.”

Ar tersenyum kecut dan aku berbalik, melangkah meninggalkan bau sisa ramuan sihir dan bersiap menyambut tempat apapun yang terhubung dengan pintu sihir ini.

***

PS. Aku tahu adegan ini sama sekali berbeda dengan yang ada di HV ketika Ar membantu Rena dan Dev melarikan diri dari menara asrama. Tapi inilah versi yang baru, aku sedang mengedit HV untuk persiapan menerbitkannya secara indie. Dan part Dev di sini, kena bagian edit tersebut. Well, kuharap kalian masih menyukai versi ini.

Mau Baca Lainnya?

7 Comments

  1. yihaaaa…. akhirnya bakal diterbitkan…
    kapan..kapan..
    ini bakal gabung remember us juga apa g thor
    trus trus udah bisa ikutan PO apa belum nih…
    #sangkingsemangatnya kepooo deh

    pokoknya ditunggu infonya ya author kecee 🙂

  2. Iyaaahhh… Hurray!!!
    Tapi secara indie publishing. Yahh.. begitulah.
    Well masih lama say. Ntar kalau uda PO aku kasi tahu yah. Mungkin sekitar bulan Oktober. Nunggu aku pulang ke Indonesia dulu. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.