Another Story – Informasi Baru

Bersama Rena adalah ketika aku bisa menjadi benar-benar merasakan apa itu kebahagiaan. Bukannya selama ini aku menderita atau apa. Hanya lebih seperti jenuh pada kehidupanku yang monoton. Tapi dengan Rena, segalanya lebih berwarna dan terasa penuh gairah.

Entah karena pengaruh Rena atau bukan, aku jauh lebih senang berbicara sekarang. Bahkan Viona dan Lyra mengatakan itu kepadaku ketika aku pulang ke kelompok selama beberapa saat. Mereka menatapku dengan penuh tanda tanya hanya ketika aku bercerita begitu banyak tentang kehidupan manusia yang tengah kujalani. Aku bahkan tak me nyadari tatapan itu jika saja Lyra tak menggeleng dan berdecak menyebalkan.

Aku mengangkat alisku.

Lyra masih berdecak, “Dia aneh bukan, Viona?”

Viona mengangguk, sebagian ekspresinya terlihat lucu dan menahan tawa, “Kau yakin mereka tidak memberimu sesuatu yang berdampak buruk pada kaum kita?”

Lyra terkekeh, “Kurasa dia makan makanan manusia terlalu sering.”

“Apa yang salah?”

“Tidak. Tidak ada yang salah.” Viona masih berusaha menahan tawa, “Hanya terlihat aneh dan .. lucu saja.”

Alisku berkerut.

“Kau mengecoh seperti burung butuh makan. Dan lihat saja wajahmu. Sejak kapan kau membumbukan ekspresi-ekspresi aneh setiap kali kau berbicara?”

Viona menyentuh lengan Lyra dan memandangku lembut, “Jangan dengarkan dia. Aku suka Dev yang seperti ini. Kau terlihat bersemangat. Apa ada sesuatu yang menyenangkan yang terjadi di sana?”

Menyenangkan? Apakah Sherena bisa digolongkan sebagai sesuatu yang menyenangkan?

Sebuah senyuman terukir di wajahku. Tidak, dia lebih dari sekedar sesuatu yang menyenangkan bagiku. Dia adalah.. segala hal yang akan membuatku bahagia.

“Apakah kau menemukan seseorang?”

Pertanyaan tiba-tiba dari Viona membuatku terdiam dan bahkan Lyra membekap mulutnya, “Kau menemukannya?”

Menemukannya? Aku paham benar kenapa wajah Lyra dan ekspresinya terlihat begitu penuh horor. Menemukannya? Seseorang yang akan melengkapi kehidupanmu. Seseorang yang akan menjadi satu-satunya dan selamanya dalam hidupmu. Kau akan bahagia dan menderita dalam waktu yang sama. Konsep belahan jiwa memang tidak pernah menyenangkan untuk dibicarakan.

Jika keberuntungan di pihakmu, maka kau akan menemukan kebahagiaan abadi. Tapi jika tidak, penderitaan tanpa akhir hingga yang tersisa adalah pilihan untuk mati adalah satu-satunya yang bisa terjadi. Sebab menemukan belahan jiwamu adalah saat dimana kau akan tahu bahwa kau akan demikian mudah dikalahkan. Bahwa kelemahanmu telah berpindah pada satu nyawa yang bisa saja serapuh semut untuk dibunuh.

Dan bagi kami, para vampir, itu lebih parah lagi. Kami makhluk abadi yang hidup dengan membunuh kehidupan makhluk lain. Adalah ketidakberuntungan jika kami menemukan belahan jiwa kami bukan merupakan salah satu dari kami. Sebab hanya ada satu pilihan yang ada, merubahnya menjadi seperti kami. Untuk sebuah keabadian dan kebahagiaan tanpa batas. Sebab kehilangan belahan jiwa, seperti telah kukatakan sebelumnya adalah sama saja kau akan mati, secara perlahan dan penuh penderitaan.

Tapi berubah menjadi vampir juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Tahun-tahun pertama mungkin akan sangat menyenangkan, tapi sesudahnya? Keabadian mempunyai harga mahal untuk kesehatan jiwamu. Yang kuat akan bertahan dan yang lemah tersingkir. Menyisakan kekosongan dan kekejaman alami dalam diri kami.

“Apakah dia.. manusia?”

Aku memandang Viona, mengangguk pelan, “Seorang heta.”

Lyra mendesah penuh penyesalan dan Viona memandangku dengan penuh simpati, “Aku bahagia mendengar kau akhirnya menemukan belahan jiwamu. Tapi aku juga menyesal mendengar jika dia bukan berasal dari ras yang sama dengan kita. Apakah kau ingin merubahnya menjadi seperti kita? Kami akan membantumu kapanpun kau membutuhkan kami.”

Aku menggeleng, “Aku tidak ingin dia menjadi bagian dari kita.”

“Kau gila??” Lyra membentakku keras, “Dia manusia. Oh Dev, jangan bodoh. Manusia itu lemah dan mereka menua lalu mati. Masa hidup mereka hanya seperti kedipan mata. Lalu jika dia mati, kau pikir kau akan baik-baik saja? Kau akan menderita.”

“Aku tahu.” Jawabku pelan, “Tapi aku tidak bisa membiarkan dia menjadi seperti kita dengan paksa. Dia memiliki pilihan, Lyra. Aku tak akan menyeretnya dalam lingkar kehidupan seperti kita jika dia tidak mau.”

“Kau bodoh.”

Viona menyentuh lengan Lyra dan membuatnya diam. Aku bersyukur Viona melakukannya. Aku tidak pernah tahan dengan suara Lyra yang melengking menyakitkan telinga.

“Lalu apa rencanamu?” Viona menatapku penuh harap seolah aku sudah memiliki serangkaian rencana gemilang untuk semua ini.

Aku cuma tersenyum, berdiri dan memandang ke arah Viona, “Hanya menjalaninya dan menunggu saat yang tepat untuk memberitahunya apa aku sesungguhnya.” Ucapku ringan sebelum aku berbalik dan pergi meninggalkan tempat ini. Aku masih bisa mendengar dengan jelas makian Lyra namun aku tidak peduli.

Aku sudah terlalu lama di sini. Aku harus kembali ke tempat pelatihan. Aku tidak bisa meninggalkan Rena lebih lama. Sebab baru beberapa saat saja, aku sudah merindukannya sampai rasanya aku kesulitan untuk hidup. Aku tertawa menyadari kata-kata apa yang kugunakan.

Sial, sepertinya dia memang sudah membuatku gila.

***

“Hai.” Aku berbisik lembut di belakang telinganya dan dia berjingkat cepat, memutar tubuhnya dengan cepat serta nyaris saja menikamku dengan anak panah yang tengah dibuatnya jika saja aku tidak lebih cepat darinya dan mencengkram lengannya.

“Dev..”

“Kau lebih cepat beberapa detik dari sebelumnya.” Ucapku sambil menarik lengannya dan memeluknya dengan cepat, “Aku merindukanmu.”

Aku bisa merasakan Rena balas memelukku dengan sama hangat, “Aku juga.” Ucapnya pelan sebelum dia melepaskan pelukanku dan menatapku dengan cemberut, “Dan berhenti mengagetiku seperti tadi. Aku bisa saja melukaimu. Kau tidak lihat aku sedang pegang apa? Bisa saja lain kali ini bukan anak panah tapi pedang.” Gerutunya panjang.

Aku tertawa, “Kau tidak akan bisa melukaiku. Percayalah.”

“Oh sombong sekali.” Dia memukulku dan aku malah tergoda untuk menangkap tanganya dan menyarangkan satu ciuman lembut di bibirnya.

“Dev!!” dia menjerit kesal tapi tidak benar-benar melawan dan malah membalas kecupanku.

Dan seketika itu juga aku hanyut. Tubuhku meleleh dalam kebahagiaan. Aku sama sekali tidak ingin melepaskannya. Semua ini adalah candu bagiku.

“Jangan lakukan itu lagi ketika aku ada di sekitar kalian.”

Rena menarik dirinya dan aku bisa melihat Ar dengan jelas dari balik tubuhnya. Beberapa meter jauhnya dari kami, bersandar di salah satu pohon dengan sebuah apel di tangannya.

“Ar, kenapa kau muncul di saat yang tidak tepat.” Komentarku pedas.

Ar mengangkat alisnya dan berjalan mendekat, “Jangan kau pikir aku akan membiarkanmu berbuat apapun yang kau suka pada Renaku. Dan ingat, kalian harus hati-hati. Bagaimana jika tadi bukan aku yang melihat tapi justru slayer lain. Kalian akan dalam masalah.”

“Aku tidak peduli.”

Rena memukul kepalaku dengan anak panah di tangannya, “Tutup mulumu, Dev.” Katanya sebal, “Ar benar. Dan berhenti menggodaku. Aku sibuk.”

Aku membelalakan mataku, “Kau membalas ciumanku, ingat?”

“Kalau kau tidak memulai, aku juga tidak akan—“

“Oh baiklah, aku akan selalu memulai kalau begitu.”

“Dev!!” suara Rena dan Ar dalam waktu bersamaan membuatku tertawa keras.

“Hentikan. Berhenti terlihat kompak begitu. Kalian berdua membuatku iri.” Kataku pelan lalu melemparkan tubuhku duduk di dekat tumpukan potongan kayu kecil yang akan dibentuk Rena menjadi anak panah untuknya latihan. Kami ada di dalam hutan sekarang. Aku tidak bisa berbohong jika aku tidak tahu ada Ar di sini. Sebab pada kenyataannya aku tahu kehadirannya sejak awal hanya saja aku terlalu malas menjauh dari bibir Rena jika bukan dia yang melakukannya.

Ar menggelengkan kepalanya, duduk di dekatku, “Jangan bodoh.” Ucapnya.

Aku tersenyum, menyentuh lengan Rena ketika kurasakan dia juga duduk mendekat kepadaku.

“Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu kami ada di sini?”

“Aku selalu punya ribuan mata untuk Rena.”

Ar terlihat bosan, “Aku benci laki-laki yang sedang jatuh cinta.”

“Kenapa kalian ada di sini dan bukannya di tempat pelatihan?”

“Ada sedikit masalah selama kau pergi.” Kali ini suara Rena yang terdengar. Aku langsung memandangnya penuh kekhawatiran, “Masalah?”

Rena mengangguk.

“Aku hanya pergi dalam dua hari dan kalian terlibat dalam masalah sampai kabur dan tidur di hutan?”

Ar tertawa, “Sudah kubilang jangan bodoh.”

Rena mau tak mau juga tertawa, “Bukan, kami di sini bukan untuk kabur. Hanya menyepi untuk berlatih berdua.”

“Jadi apa masalahnya?”

“Masih ingat kejadian dengan pangeran Messha dan direwolves?”

Aku mengangguk. Rena menghela nafas sebelum melanjutkan, “Mereka mengatakan bahwa kami, para heta, terlalu lemah dan bodoh. Itulah sebabny—“

“Mereka?”

“Raja dan ratu serta penasihat kerajaan. Dan jangan potong ceritaku sebelum aku selesai bicara, Dev.” Sungutnya dan aku hanya mengangkat alisku, “Ketua para heta menyalahkan semuanya pada kelompok yang saat itu bertugas. Tapi untungnya Master lebih adil pada kami, menurutnya ada pihak lain yang mengatur semua kekacauan ketika itu. Sebab dia tahu benar bahwa para slayer telah melakukan segala yang terbaik dan memastikan bahwa wilayah itu benar-benar aman dari para ras pemburu.”

“Kenapa baru sekarang mereka mempersalahkan hal ini?” tanyaku tidak mengerti, kejadian itu sudah berminggu-minggu lalu dan mereka baru memperdebatkannya sekarang? Manusia-manusia bodoh. Dan lagi, aku bisa saja dengan mudah mengatakan siapa otak di balik semua permasalahan ini dan ya, semudah itu selesai. Tapi aku tidak bisa, mereka pasti akan bertanya tentang bagaimana dan segala bukti yang menguatkan perkataanku. Aku tidak bisa mengatakan aku membaca pikiran setiap orang di perkemahan waktu itu hanya untuk mencari Rena bukan? Mereka akan langsung paham jika aku bukan manusia. Itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Tidak untukku, dan tidak untuk Reven yang menyuruhku berada di sini.

“Akan ada pesta besar di kerajaan sebentar lagi. Semua orang penting akan hadir dan keberadaan para heta sangat dibutuhkan untuk melindungi semua dari mereka. Tapi jika hanya melindungi satu kelompok perburuan kecil saja mereka kocar-kacir, bagaimana bisa mereka melindungi sebuah kelompok besar.”

Aku mendengus tidak percaya mendengar jawaban Ar, “Lalu kenapa mereka tidak meminta para slayer melakukannya?”

“Itu bukan tugas kami.” Ar melambaikan tangannya, “Bisa saja kami membantu, tapi hanya berjaga di garis luar. Bukan tugas seorang slayer melindungi satu demi satu orang-orang kerajaan yang biasanya sangat bodoh dan menyebalkan itu.”

Aku tersenyum. Ar benar. Para anggota kerajaan adalah orang –orang bodoh dan lemah jika aku boleh menambahkan. Aku selalu tidak tahu alasan yang menyebabkan para manusia di sini memilih mereka sebagai pemimpin mereka. Alasan tentang darah dan keturunan adalah hal yang sangat konyol bagiku.

“Lalu, apa yang masalah sebenarnya yang membuat kalian berdua di sini?”

Rena memukul kepalaku lagi dan aku berjingkat, “Kenapa kau bodoh sekali Dev?” jeritnya.

“Aw Rena, hentikan melakukan segala jenis kekerasan kepadaku.” Aku mengapit tubuhnya dan membuatnya berteriak makin keras.

Ar mendesah bosan, “Hentikan kalian berdua.”

Aku melepaskan Rena setelah aku tidak kuat lagi mendengar suara jeritannya yang memekakkan telinga. Dia benar-benar ahli.

“Jadi..?” aku memandang Rena yang menatapku dengan marah.

“Artinya aku dan para heta lainnya harus berjuang lebih keras dan berlatih dengan lebih baik untuk memberikan yang terbaik pada para keluarga kerajaan. Itulah kenapa setiap heta, entah dia senior atau masih di pelatihan harus kembali masuk ke dalam lingkup pelatihan ekstrem. Sejujurnya aku tidak suka itu dan..”

“Oh astaga Rena, kau kabur dari jadwal latihanmu di kastil?”

“Tidak.” Jawabnya cepat dan keras, “Ar memohon langsung pada ketua para heta dan Master agar dia bisa melatihku secara pribadi. Dan mereka mengizinkannya.”

Aku mengangguk mengerti. Kurasa Rena juga akan memiliki lebih banyak heta khususnya perempuan, yang tidak menyukainya. Menjalani pelatihan pribadi dengan Ar? Mereka semua pasti menginginkan hal ini setengah mati. Setelah cukup lama berada di sini, aku paham dengan benar bagaimana sosok Ar di mata semua heta dan slayer. Aku mendengar lebih dari yang dikatakan oleh semua dari mereka.

Lalu aku memandang ke arah anak-anak panah yang tercecer di sekitar kami, “Kau belajar memanah lebih sering daripada seni bertarung lainnya.”

“Itu keahliannya.” Ucap Ar seraya berdiri, “Dia harus banyak berlatih memanah agar kemampuannya semakin sempurna. Selain itu, gerakan pedangnya perlu banyak perbaikan.”

Rena mendengarkan dengan teliti, dia mengangguk beberapa kali dan aku merangkulnya, “Kau mau aku mengajarimu juga?”

Rena tertawa kecil, “Tidak, terima kasih. Aku tidak yakin kau bisa melatihku dengan penuh konsentrasi jika yang ada di kepalamu hanya memelukku dan menciumku dengan tiba-tiba.” Dia menyingkirkan tanganku dan berdiri, berjalan ke arah Ar. Melanjutkan kembali sesi latihan mereka.

Aku bisa mendengar tawa tertahan Ar dan aku hanya bisa tertawa kecut. Rena memahamiku lebih baik dari yang orang lain lakukan. Sejujurnya aku memang tidak bisa melakukan itu. Oh aku bisa, hanya saja seperti yang dikatakan Rena, aku tidak akan bisa fokus. Hanya dengan menyadari keberadaannya di sekitarku saja, aku sudah ingin memeluknya dan tidak melepaskannya. Kurasa Rena menimbulkan efek yang buruk bagiku.

***

Aku meninggalkan mereka berdua untuk berlatih dengan penuh konsentrasi tanpa komentar-komentarku setiap melihat gerakan Rena yang tidak tepat. Dia buruk dalam hal permainan pedang. Jadi secara harfiah sebenarnya Ar mengusirku pergi. Dan aku, meskipun enggan, akhirnya pergi juga.

Dengan langkah selembut angin dan tanpa suara gaduh apapun, aku memasuki gudang persenjataan di kastil. Aku masih dalam tugas. Aku tidak bisa mengabaikannya meskipun sejujurnya aku hanya ingin fokus pada Rena. Dan sesuatu tentang para slayer membuatku entah kenapa merasa khawatir. Aku selalu merasa bahwa kelompok ini misterius.

Meskipun aku sudah menjadi bagian dari mereka. Aku tidak bisa dengan mudah mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalamnya. Segalanya tidak benar-benar dengan jelas dipampangkan kepada sembarang slayer. Hanya beberapa yang tahu dengan sangat baik segala seluk beluk dan rahasia yang terimpan rapat dalam kelompok ini.

Dan aku tahu pasti Ar merupakan salah satunya. Dia orang kepercayaan Master. Bahkan selama beberapa bulan di sini, aku tidak pernah benar-benar berbicara dengan orang itu. Dia selalu memberikan tugas kepada kami melalui Ar. Meski kadang melakukannya langsung kepada kami, tapi dia cenderung berbicara langsung ke pokok lalu pergi.

Jadi aku tidak bisa mendapatkan apa-apa darinya. Sementara itu aku tidak bisa kembali ke kastil dengan tidak membawa apa-apa. Reven menuntut informasi lebih dan mau tidak mau aku harus menurutinya. Lagipula apa aku punya pilihan jika ini berhubungan dengan kelompok utama? Jawabannya tidak.

Aku mengambil nafas dalam sekedar untuk membuatku nyaman. Aku benci tempat ini. Segala hal yang terburuk bagi kaumku ada di sini. Perak. Semua benda mematikan bagiku, dan semuanya serba perak. Bulu-bulu di tubuhku meremang. Aku melangkah masih dengan sangat hati-hati. Menghindari untuk menyentuh apapun yang ada di sana.

Kepalaku menggeleng pelan menyaksikan betapa banyaknya perubahan yang ada di sini sejak pertama Ar membawaku masuk ke sini hingga sekarang. Aku menemukan banyak benda berbahaya lain dari perak, dan itu benar-benar memiliki aura perak yang sangat kuat. Ada beberapa jenis perak yang kadang kala sama sekali tidak menimbulkan efek apa-apa bagi kami. Tapi yang di sini, sebagian besar yang di sini benar-benar berbahaya. Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku mundur dengan pelan.

Telingaku menangkap bunyi langkah kaki mendekat ke pintu gudang dengan cepat. Aku melompat bersembunyi di balik tumpukan tombak-tombak kayu yang berada di sudut tergelap tepat ketika pintu gudang terbuka dan dua siluet gelap berjalan tergesa masuk ke gudang.

Bunyi pintu gudang yang ditutup dengan cepat menjadi satu-satunya suara yang terdengar sebelum salah satu dari mereka berdua berbicara.

“Kita harus melakukan sesuatu.”

Edge? Aku bisa mengenali suaranya meski dia memunggungiku. Dia salah satu teman baik dari Ar. Dan siapa yang satunya? Meski aku bisa melihat wajahnya dalam kegelapan, aku sama sekali tidak mengenalinya. Aku tidak pernah melihat wajah itu di kastil pelatihan. Dan apa yang mereka berdua lakukan di sini malam-malam begini dan bicara saling berbisik seperti itu. Sangat mencurigakan. Aku menenangkan diriku dan mencoba mendengarkan dengan cermat dalam diam.

“Aku tahu, Edge. Tapi kita tidak boleh tergesa-gesa. Ingat apa yang dikatakan Master. Satu langkah salah saja, segala yang kita lakukan selama ini akan sia-sia. Jadi kita harus benar-benar hati-hati.”

Edge terlihat mengangguk.

“Bagaimana dengan Arshel, kau sudah memberitahunya?”

Ar terlibat?

“Master memberitahunya.”

Sosok yang tidak kukenali nampak mengerti dan hanya mengangguk pelan, “Kuharap kita bisa mengandalkan dia untuk hal ini.”

“Kau tidak perlu meragukan dia, Beth.”

Jadi namanya Beth?

Beth mengangguk pelan sekali lagi, “Lalu dimana Ar? Aku tidak melihatnya mengikuti pertemuan rahasia kita bersama Master tadi. Apa dia sedang dalam tugas?”

“Tidak. Kurasa dia sedang sibuk dengan Sherena. Dia benar-benar tidak bisa diharapkan jika itu berhubungan dengan Sherena. Bahkan Master sudah angkat tangan dan membiarkan dia melakukan apapun dengan perempuan itu asal segala tugasnya beres. Sejauh ini dia tidak pernah membuat Master kecewa. Jadi kurasa dia bisa mengatur semuanya.”

“Mereka sudah bersama begitu lama. Apa perempuan itu tahu tentang apa yang Ar kerjakan?”

“Tidak.” Edge menjawab cepat.

“Itu bagus. Sebab kita tidak bisa membiarkan orang lain selain kita tahu tentang hal ini. Aku akan menyingkirkan perempuan itu dengan cepat jika dia tahu tentang hal ini.”

Sedikit dia menyentuh Rena, aku bersumpah akan membunuhnya dengan cara terkeji yang bisa dipikirkanya.

Aku menahan kemarahanku dan berusaha tetap mematung ketika mereka mengucapkan semua itu. Aku tidak boleh membiarkan mereka tahu aku ada di sini. Aku bahkan masih tidak mengerti dengan isi perbincangan mereka.

“Jangan berani menyentuhnya, Beth. Ar akan membunuhmu dan menghancurkan semua yang kita kerjakan jika kau melakukannya. Kau tidak akan bisa menebak apa yang bisa dilakukan oleh Ar jika menyangkut Sherena. Dia bisa sangat gila.”

Beth tertawa pelan, “Aku tahu.”

“Jadi kau akan kembali ke posmu setelah ini?”

“Ya. Itu yang terbaik yang bisa kulakukan sekarang. Lagipula kupikir hidup bersama para manusia serigala juga tidak terlalu buruk. Bahkan ketua mereka di desa itu masih sangat muda untuk ukuran manusia serigala. Dia agak sedikit tidak cermat namun sepertinya tetap berbahaya.”

Edge menepuk bahu Beth pelan, “Kau harus tetap berhati-hati dengan Freesel muda itu.”

“Tentu saja. Nah, kita akan bertemu kembali ketika aku mendapatkan informasi lebih banyak tentang hal ini. Katakan pada Ar tentang perempuan aneh yang kukatakan kepada Master. Kurasa dia harus mencaritahu tentang hal itu.”

Edge mengangguk, “Ya.” Jawabnya singkat sebelum mereka saling bersalaman dan berpelukan singkat sebelum keduanya keluar dengan cepat dari tempat ini bersamaan.

Begitu pintu gudang tertutup dan aku yakin mereka sudah benar-benar menjauh dari gudang. Aku melangkah keluar dari kegelapan.

Ini benar-benar aneh?

Para slayer terlibat dalam sesuatu dan aku sama sekali tidak punya petunjuk apapun tentang itu. Dan Ar terlibat di dalamnya? Lalu mereka bahkan berhasil menyusupkan salah satu anggota mereka dalam kelompok manusia serigala. Ini benar-benar keterlaluan. Aku tahu bahwa serigala-serigala itu sangat bodoh. Tapi membiarkan seorang manusia menyusup dalam kelompok mereka dan mencuri informasi dari dalam kelompok? Tidak. Ini tidak benar.

***

“Kau yakin Dev?”

Aku mengangguk pasti, “Mereka punya seseorang di dalam kelompok manusia serigala. Aku tidak yakin dalam kelompok mana. Tapi mereka menyebutkan sesuatu tentang Freesel muda.”

“Maksudmu salah satu dari anak Elsass Freesel?”

“Sepertinya begitu.”

Reven terlihat berpikir dengan keras. Meski cahaya di dalam ruang pribadinya begitu temaram, aku bisa melihat dengan jelas kerutan-kerutan di wajahnya yang menandakan dia sedang memikirkan hal ini dengan sangat serius.

“Apakah mungkin Morgan Freesel?”

Aku dan Reven memandang ke arah Russel yang sedari tadi duduk dengan tenang di dekat Lucia, tak jauh dari kami. Reven menggeleng, “Itu kemungkinan paling kecil. Meski Morgan Freesel adalah anak termuda dari Elsass, dia tetap yang tercerdik diantara para saudaranya. Aku tidak yakin dia tidak akan menyadari bahwa ada penyusup di dalam kelompok yang dipimpinya.”

“Tapi mereka tidak hidup dalam kelompok manusia serigala. Yang kutahu Morgan dan kelompok kecilnya tinggal bersama di sebuah desa bersama para manusia. Kurasa itu akan lebih memungkinkan.”

Reven memandang ke arah Russel dengan fokus, “Kau yakin? Aku tidak tahu tentang hal itu.”

“Kau bisa bertanya pada Noura jika kau ingin mengetahui tentang ini dengan lebih baik.”

“Apa maksud ucapanmu Lucia?”

Lucia tersenyum, “Di desa itulah Noura menghabiskan banyak waktunya akhir-akhir ini. Kau seharusnya lebih tahu tentang hal ini daripada aku.”

Aku bisa melihat gerakan tidak suka dari Reven. Matanya memicing dan ada kerutan di dahinya.

“Di kelompok Morgan Freesellah Noura selama ini berada. Jangan bilang kau tahu bahwa Noura menerima hukuman dari Vlad karena hal ini tapi kau tidak tahu semua detail di belakangnya.”

Reven membuang pandangannya, “Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu dengan segala hal konyol yang dilakukannya. Kurasa tugas utamaku hanya membuatnya aman dan terlindungi dari segala bahaya dan kebodohannya sendiri.”

Aku mendengus. Reven seharusnya membutuhkan sesuatu yang bisa memperlihatkan padanya refleksi dirinya sendiri. Dia yang bodoh dan bukan Noura. Meski aku tidak menyukai semua ide aneh Noura, aku selalu tahu dia punya alasan kuat di belakang itu semua dan enggan mengatakannya kepada kami. Dia tidak akan melakukan segala hal gila itu hanya untuk bersenang-senang. Kurasa sejak Noura berjasa pada hubunganku dengan Rena, aku akan sedikit membelanya mulai dari sekarang. Sebab tanpa dia, mungkin saja aku sudah kehilangan Rena dan mengenangnya sebagai santapan seekor direwolf.

“Dimana Noura sekarang?” tanyaku mengabaikan suasana tidak menyenangkan di dalam ruangan ini.

Reven menatapku, “Untuk apa kau mencarinya?” dia bertanya alih-alih menjawab pertanyaanku, “Akhir-akhir ini kurasa kau sering mencarinya? Apa kau tahu sesuatu tentang rencana gila Noura yang lain dan sedang dalam usaha membantunya?”

Aku membuka mulutku, tidak percaya pada apa yang kudengar. Reven benar-benar sangat bodoh. Aku tidak tahu kenapa orang seperti itu bisa menjadi pemimpinku. Secara teknis Vlad pemimpinku, tapi banyak tugasku yang berada dalam pengawasan Reven.

“Kurasa aku sudah selesai di sini. Aku akan kembali ke tempat tugasku.” Ucapku singkat dan aku berdiri, meninggalkan ruangan ini setelah melemparkan anggukan kecil pada Russel dan sepenuhnya mengabaikan Lucia yang bergelung manja di bawah lengan Russel.

<< Sebelumnya
Selanjutnya>>

Mau Baca Lainnya?

12 Comments

  1. aaaaaa bebeb dev… akhirnya muncul ugha…
    thor…. gak bisa gtu yaaaa…
    dev nya di bangkitkan kembali dri kematian gtuuuu…
    trus munculin di remember us.. biar ad yg bantuin rena gtuu….
    tar yg bgunin rena cpa cobaaaa…
    kan kasian renanyaa ndiriaan..
    biar bisa bles si reveen to…..
    ato biar belahan jiwa rena to kembali ke dev….
    biar nyahook to si reveen…
    soriiii thor… jadi ngawur gini..haahaa
    pi tetep karya author the best… 😀
    tetap semangat buat nulis yaa thor….

  2. wah, ad russel? jd kangen :*
    dev emang the best lah, rela ngelakuin ap pun buat rena, ga ky reven
    dlu jahat bgt, skrg? apalagi
    thor, jgn lupa y RU ny sesegera mgkn
    next chapter renany udh bngkit blm y?
    ga sabaran

Leave a Reply

Your email address will not be published.