Another Story – Janji

KABAR GEMBIRA!!! KABAR GEMBIRA!! Lappy-ku sudah sembuh, dia sembuh! Ahh ngga terkira bagaimana bahagianya aku. Akhirnya aku bisa nulis lagi. Endlich….

Well, pasti pada nanyain tentang RU-kan? Sabar yah sayang-sayangku. Aku masih harus edit beberapa bagian dan yah meskipun lappynya uda sembuh. Dia ngga 100% sembuh. Mau tahu apa? Ngga ada Ms. Office di dalamnya. Sedih banget. Aku nulis di Wordpad dan itu ngeselin banget. Oh aku pengen Ms. Word-ku. Hiks hiks.. tapi yahhh uda untung dia sembuh yah. Sudah untung sembuh :”)

Duh kok banyak omong gini sih. Selamat membaca.

Love you all.. *ketjup*

@amouraXexa

***

“Sebenarnya apa yang dipikirakan Master ketika dia mengizinkan orang dengan kemampuan sepertimu menjadi heta? Aku bahkan tidak yakin kau sebenarnya lulus dari pelatihan. Apakah semua desas-desus tentang Ar adalah segala di balik apapun tentang dirimu adalah benar, hah?”

Aku menghentikan langkahku. Siapa yang seberani itu mengucapkan kata-kata sekejam itu kepada Rena? Dengan menahan semua kemarahan di dalam seluruh bagian tubuhku, aku mengamati segalanya dari jauh. Aku melakukannya dengan segala kemampuan bersabar yang kumiliki.

Aku menghindari menatap Rena yang sama sekali tidak mengatakan apapun dan hanya menundukkan kepalanya di depan laki-laki itu. Aku mencoba mengingat siapa dia namun gambaran wajahnya sama sekali asing bagiku. Namun melihat bagaiman Rena terlihat begitu patuh dan pasrah, dia mungkin memiliki kedudukan yang penting di dalam kelompok ini.

“Ingat, Sherena Audreista.. kali ini kau di bawah pengawasanku. Mereka tidak akan membawaku ke sini dari kastil pelatihan utara jika aku bukan heta yang hebat. Dan kau.. ingat, tidak ada Ar di dalam tugas kali ini jadi jangan pernah mencoba mengandalkannya lagi dan berusahalah dengan kemampuanmu sendiri. Aku tidak ingin dipermalukan di depan semua petinggi hanya karena salah satu dari anak buahku melakukan kesalahan konyol.”

“Aku akan melakukan yang terbaik untuk tugas nanti, Igel.”

Igel.

Aku mencatat nama itu baik-baik dalam kepalaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun melakukan hal buruk seperti itu kepada Rena. Aku bahkan tidak sanggup membaca semua pikiran laki-laki itu. Semuanya justru semakin menyulut kemarahanku. Aku tidak bisa. Aku baru akan mendekat ke arah mereka ketika kulihat pandangan Igel beralih dari Rena ke orang lain yang baru datang memasuki aula kastil pelatihan.

Dia mengangkat tangannya ke orang itu dan meninggalkan Rena dengan tatapan sekilas yang tidak menyenangkan. Aku meyipitkan mataku. Benar-benar tidak menyukai orang ini. Jika saja aku tidak dalam tugas dan harus berhati-hati agar penyamaranku tidak bertengkar, aku sudah membunuh orang itu di detik pertama aku membaca pikiran busuknya.

“Dev.”

Aku mengangguk mendengar suara Rena begitu dia menyadari aku berdiri tidak jauh darinya. aku mendekat ke arahnya, “Siapa dia?” tanyaku tanpa mau menutupi bahwa jelas aku tidak menyukai laki-laki itu.

“Secara teoritis dia ketuaku. Yah, satu tingkat lebih rendah di bawah Master. Penanggung jawab kelompok heta sederhananya. Dia yang memegang kendali untuk tugas besar sebentar lagi.”

Aku mendengus pelan. Hanya seorang ketua heta dan dia berani bersikap seperti itu pada perempuanku?

“Ada apa? Kau terlihat membencinya? Kau mengenal dia sebelumnya?”

“Tidak.” Aku menggeleng cepat, “Aku tidak suka dengan cara dia bicara denganmu.”

Rena tertawa kecil, “Abaikan saja. Igel memang seperti itu.”

Tapi aku tidak bisa. Bagaimana bisa aku mengabaikan seseorang yang membuat wajah Rena berubah keruh seperti itu.

“Kau mau menemaniku berlatih di hutan, Dev?”

Aku mengangguk cepat. Tentu saja. Kemanapun dia pergi, aku bersamanya.

***

“Kenapa kau mau menjadi heta, Rena?” tanyaku sambil membelai rambutku perlahan, dia menyandarkan kepalanya ke dadaku, bermain-main dengan anak panah di tangannya. Dia baru saja selesai berlatih memanah dan aku memaksanya untuk berhenti atau dia akan menghabiskan seharian ini hanya untuk menarik busur dan melepaskan anak panah.

“Jarang sekali ada perempuan yang berminat dengan pekerjaan seperti ini.” lanjutku ketika kulihat Rena tidak nampak ingin menjawabnya. Namun dia akhirnya memiringkan kepalanya, mendongak menatapku dan tersenyum.

Ada beberapa menit yag hening dan aku seolah melebur dalam kebahagiaan. Rena tidak mengatakan apapun, tapi aku bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya.

“Aku memiliki seseorang yang sangat tampan dan dia mencintaiku. Semua yang ada pada Dev membuatku bangga. Meski aku tidak bisa memamerkannya di hadapan banyak orang karena kami setim, aku tetap merasa bangga. Aku sangat bahagia menemukan seseorang seperti Dev. Dan semua ini juga berkat Ar. Ah makhluk satu itu, Ar juga anugerah terbesar dalam kehidupanku. Kedatangan Ar dalam hidupku seolah terus menerus membuat nasib baik berpihak padaku.”

Nyaris saja aku tertawa, bagaimana bisa dia masih berpikir tentang Ar ketika dia sedang memujiku seperti itu. Kurasa aku benar-benar memiliki saingan kuat dalam merebutkan Rena dan membuatnya hanya memikirkanku sepenuhnya.

“Aku ingin melindungi ras kita, manusia.” Suara pelan Rena terdengar serius, membuatku membuyarkan segala pikiranku tentang hubungannya dengan Ar.

“Tapi heta hanya melindungi keluarga kerajaan.” Protesku.

Rena tertawa, “Aku tidak lulus, kau tahu itu bodoh.” dia bangkit, dan memukul kepalaku dengan wajah merajuk yang nampak lucu.

Aku pura-pura mengaduh dan mengusap kepalaku, “Kau ini perempuan. Bersikaplah lebih lembut,” sungutku manja.

Tapi Rena nampak tak peduli dan, hanya tertawa. “Aku ini tidak sehebat Ar.” ucapnya akhirnya. “Jadi meskipun aku punya tekad kuat untuk menjadi slayer, aku tidak bisa melakukannya karena kemampuanku hanya setara dengan kemampuan heta.”

Kedua alisku terangkat, “Apa kau pikir aku tidak tahu? Kaukan memang lemah.” Aku menggodanya dan dia nampak kesal. Dia melemparkan anak panah di tangannya, memutar tubuhnya dan memukulku lagi, “Kau menyebalkan, kau tahu? Kau menyebalkan. Me-nye-bal-kan.”

Aku tidak tahu jika rupanya aku telah jatuh cinta kepada seorang perempuan yang benar-benar suka memukulku. Aku tergelak, lalu menangkap kedua tangannya yang masih memukuliku dan bertanya dengan mimik muka serius, “Kau ini dekat sekali dengan Ar ya?”

“Tentu saja.” Dia menjawab cepat, menaikkan dagunya, “Kami dekat sekali. Dan—“ dia berhenti, menatap wajahku lekat-lekat, “Jangan katakan kau cemburu pada kedekatanku dengan Ar.”

Aku diam. Sebenarnya bukan itu tujuanku bertanya hal itu. Aku ingin tahu hubungan Ar dan Rena sebenarnya. Bagaimana Ar bisa bersikap seolah Rena adalah segalanya untuknya. Mendadak aku ingin tahu alasannya. Mereka bukan keluarga. Ar juga tidak menyintai Rena seperti caraku menyintai Rena. Tidak tahu kenapa, aku mendadak penasaran.

Namun aku malah mendengar suara terbahak Rena, “Konyol. Ar? Kau cemburu pada Ar? ARSHEL?? Astaga Dev, kau benar-benar..”

“Kadangkala kau justru lebih menyebalkan dariku, Rena.”

Dia nampak semakin geli, “Oh ayolah, Dev. Kau tahu aku dan Ar, lebih daripada orang lain di tempat pelatihan ini.”

Aku mengangguk, “Aku tahu.” Sahutku singkat. Aku tidak bisa menanyakannya begitu saja kepada Rena. Mungkin memang lebih baik jika Rena hanya berpikir bahwa aku memang cemburu dan bukannya mencari tahu untuk alasan lain. Aku harus tahu banyak tentang Ar. Dan mungkin dengan tahu jati dirinya yang sebenarnya melalui Rena adalah cara yang tepat. Mungkin aku memang harus berpura-pura jika aku benar-benar cemburu pada mereka.

Bayangan percakapan Edge dan seseorang bernama Beth di gudang persenjataan para slayer mendadak terlintas di dalam pikiranku. Kenapa semuanya selalu membawa nama Ar? Memangnya seberapa pentingkah dia sebenarnya dalam kelompok ini.

“Tapi kadang menyebalkan juga kalau kau lebih banyak dekat-dekat dengan Ar daripada denganku.” Aku bicara dengan menekuk wajahku, kurasa mungkin aku memang harus mencari tahu tentang Ar melalui Rena, “Lebih baik kalau Ar itu benar-benar kakakmu, jadi aku bisa tenang. Lagipula kau dan Ar-kan mirip.”

“Kata orang, mirip itu bisa jadi petanda jodoh.” Sahut Rena cepat dengan mata mengedip menggoda. Sial, bagaimana aku bisa fokus pada tugasku jika ada perempuan ini di depanku

“Kau jodohku.” Sahutku posesif, “Aku tidak akan membagimu dengan laki-laki manapun. Kau milikku.” Tegasku dan menggunci tatapannya. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup dengan cepat. Perempuan ini? Bisakah dia selamanya menjadi milikku. Selamanya hidup bersamaku.

Tapi dia manusia, dan juga heta. Manusia lemah dan ditambah dengan dirinya yang seorang heta. Dia bisa saja terbunuh kapan saja. Dia hidup dalam lingkaran bahaya. Dan jika dia tidak ada di dunia ini, apa yang bisa kulakukan?

“Dan bolehkah aku memintamu berhenti jadi heta. Itu membahayakanmu.”

Keningnya berkerut. Wajahnya yang semula memerah menghilang seketika. Aku tidak tahu kenapa mendadak aku membahas tentang pekerjaannya lagi. Tapi aku takut. Pertama kalinya dalam kehidupan vampirku, aku merasa takut. Dan ketakutan itu karena seorang perempuan. Lyra benar, menemukan orang yang memiliki hatimu sepenuhnya adalah bencana. Tidak, itu salah. Menemukan Rena adlah satu-satunya keajaiban dalam hidupku. Keberuntungan tak terkira yang datang kepadaku.

“Dev.. kita sudah pernah membahas ini berkali-kali. Ak—“

Aku menariknya cepat ke dalam pelukanku, “Aku menyayangimu, Rena.” Bisikku penuh kejujuran. Aku menenggelamkan wajahku ke lehernya, “Aku menyayangimu.. aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin melihatmu terluka hanya karena pekerjaan itu.”

“Aku juga menyayangimu, Dev.”

Suara Rena terdengar sama jujurnya denganku. Dan apa yang ada di dalam pikirannya semakin membuatku tidak bisa beralih darinya. Perempuan ini sama sekali bukan takdir burukku. Dia adalah kehidupanku yang baru.

Aku melepaskan pelukan kami, melihat wajah protes Rena, namun aku tidak peduli dan malah menangkup wajahnya dengan kedua tangaku. Aku mengusap pipinya pelan, “Kau sangat cantik.” Pujiku yang justru membuat bibirnya mengerucut.

“Jangan menggodaku.” Ucapnya dengan suara manja.

Aku mengangkat kedua alisku dan tertawa kecil, “Aku tidak menggodamu. Kau memang sangat cantik. Hanya saja kau tidak menyadarinya dan terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang harusnya diurus oleh laki-laki.”

Dia menepis tanganku dari wajahnya. Ekspresinya berubah, aku tahu dia tidak menyukai ini. namun aku tidak akan berhenti untuk membicarakan masalah ini jika aku punya kesempatan. Jika Rena memang mau keluar dari kelompok ini, peluangnya untuk hidup lebih lama akan semakin besar. Dan jika dia tidak berada dalam kelompok yang tugasnya membunuh rasku, mungkin dia akan bisa menerimaku dengan benar-benar tulus ketika dia tahu apa aku sebenarnya.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Dev.” Ucapnya singkat.

Aku menghela nafas, tahu bahwa ini tidak akan mudah. Rena terlalu keras kepala dan dia benar-benar menyukai dirinya yang seorang heta, “Aku tahu. Tapi aku tetap mengkhawatirkanmu. Sudah berapa kali kukatakan, Rena, aku tidak mau melihatmu sampai terluka. Itu akan melukaiku lebih dalam.” Ungkapku jujur.

Dia terdiam, menatapku dengan tatapan aneh. Pikirannya kosong. Aku kebingungan, apa aku mengucapkan sesuatu yang salah? Namun kemudian dia tersenyum. Tangannya menyentuh pipiku dan aku bisa merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku yang dingin. Dia maju dan mengecup pipiku lembut.

“Aku akan menjaga diriku, Dev. Aku janji.” Ujarnya membuatku kehilangan kata-kataku. Aku kehilangan semua yang ingin kukatakan untuk membantah argumennya tentang menjadi heta. Aku tidak bisa mengatakan apapun ketika yang ada di dalam kepalaku hanya menikmati kebersamaan kami. Memandang wajah perempuan yang kucintai. Perempuan yang memiliki sepenuhnya hati dan perasaanku.

Aku tidak bisa membantahnya lagi. Aku hanya mampu mengangguk pelan, “Aku percaya padamu, Rena.” Aku mendekat dan mengecup keningnya lama. Dan begitu aku melepaskan kecupanku, aku melihat kedua bola matanya yang coklat. Satu keputusanku membulat.

“Tapi aku tetap akan melindungimu meski kau berkata kau bisa menjaga dirimu sendiri. Aku berjanji aku akan selalu melindungimu, Sherena Audreista. Kau bisa pegang janjiku ini.. untuk selamanya.”

“Dev..” dia diam, lalu mendadak menarik wajahku dan menciumku dengan dalam. Aku memejamkan mata, membalas ciumannya.

Aku berjanji aku akan selalu melindungimu. Aku akan melindungimu sampai akhir. Bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawaku untukmu, aku akan melakukannya.

***

“Kau yakin besok tidak apa-apa?”

Rena menarik nafas panjang. Besok adalah hari besar itu. Pesta besar kerajaan. Tugas besar bagi para heta. Dan Rena mengambil peran di dalamnya, tentu saja, dia seorang heta. Sialnya aku tidak bisa mencari alasan untuk bersama dengannya dan membantunya. Aku dan Ar akan berangkat malam ini untuk satu tugas di tempat lain. Meskipun tidak terlalu jauh dari kastil kerajaan. Tapi tetap saja, aku lebih memilih berada di sini dan bersama Rena daripada berada jauh darinya.

Jika saja bukan dengan Ar. Aku bisa mencari beberapa alasan untuk mengelabui siapapun yang akan ditugaskan denganku. Tapi jika Ar, aku tidak bisa semudah itu memainkan permainan yang kusuka. Dia tidak bodoh dan aku tidak bisa mengambil resiko apapun dan membuat Ar curiga.

“Berhenti menanyakan itu. Kau sudah bertanya hal yang sama padanya nyaris lima belas kali dalam beberapa menit saja.”

Aku mengabaikan Ar yang duduk di atas meja di ruangan Rena. Aku hanya memandang Rena dan kulihat dia tersenyum. Lagipula Ar memang selalu sinis seperti itu terhadap hubunganku dan Rena. Di sisi lain, dia aneh akhir-akhir ini. Aku lebih sering melihat wajahnya yang ditekuk seolah ribuan masalah ada di pundaknya dan dia mendapati semua tanggung jawabnya kacau daripada wajah bahagia atau wajah usil Ar.

“Kau tidak percaya aku bisa melakukannya dengan baik? Padahal tadi siang kau bilang kau percaya padaku.”

“Aku percaya padamu. Hanya saja—“ aku tidak bisa mengatakan kepada Rena jika aku hanya merasa tidak tenang. Tapi itu faktanya, entah kenapa aku merasa khawatir. Aku percaya pada kemampuan Rena. Meskipun dia jauh di bawah Ar. Tapi aku tahu dia heta yang cukup berbakat dan berkemampuan bagus. Hanya saja, sudahlah. Ini mungkin hanya kekhawatiranku saja.

Rena menatapku, menungguku menyelesaikan kalimatku. Aku memaksakan senyum padanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir.”

Ar mendengus, Rena menepuk bahuku pelan, “Kau dan Ar bisa pergi dengan tenang dan fokus pada tugas kalian. Aku juga akan melakukan tugasku besok dengan baik. Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya pelan.

Aku mengangguk, meski begitu perasaan aneh ini tidak berkurang.

***

Ar melemparkan kayu kering ke arah api unggun kami yang mulai redup. Ini malam kedua kami di pinggiran hutan ini. Dan malam yang sama dimana Rena sedang melakukan tugasnya. Pesta kerajaan itu sedang berlangsung sekarang. Sialnya aku tidak bisa berhenti memikirkan Rena. Aku merasa sesuatu sedang terjadi. Aku benar-benar bisa gila jika seperti ini.

“Dia baik-baik saja. Memangnya apa yang kau cemaskan?”

Suara tegas Ar membuatku menatapnya. Dia juga sedang menatapku.

“Aku tahu kau mempedulikannya. Tapi ini berlebihan. Mereka ada di pusat kerajaan. Di jantung kekuatan kita. Apa yang menurutmu bisa terjadi? Santailah, Rena bisa menjaga dirinya dengan baik. Dia akan bisa melewati malam ini tanpa terluka.”

Tapi tetap saja, firasat buruk itu tidak menghilang dan semakin parah dari detik ke detik. Aku mengalihkan pandanganku, menatap ke arah kastil kerajaan di kejauhan. Keningku berkerut dalam.

“Ar, bukankah menara di ujung paling kanan kastil kerajaan adalah menara peringatan adanya bahaya?”

Ar mengangguk, mengikuti tatapanku yang berubah horor. Aku melihat api menyala di puncak menara itu. Ar berdiri cepat, “Terjadi sesuatu di sana.”

Tanpa menunggu ucapan Ar lainnya, aku berlari dengan kecepatan vampir menuju kastil kerajaan. Aku sama sekali tidak peduli pada Ar yang menatapku dengan mata melebar sempurna sebelum dia akhirnya berlari ke arah kudanya dan naik ke atasnya. Menghentakkan tali kekang kudanya dengan pikiran gila setelah melihat apa aku sebenarnya .

***

Aku menerjang masuk ke dalam aula kerajaan yang megah dan melihat betapa kacaunya aula ini. Seolah sesuatu datang dan menghancurkan semua yang sudah ditata dengan sangat apik untuk pesta kerajaan. Aku mencium sisa-sisa bau busuk manusia serigala. Aku sudah mencium bau ini bahkan beberapa meter sebelum aku benar mencapai kasti kerajaan. Dan aku benar-benar bisa gila dengan semua kemungkinan yang bermunculan di dalam kepalaku.

Rena. Rena, dimana kau?

Aku menarik tangan salah satu penjaga kastil, “Apa yang terjadi?”

“Penyerangan.” Ucapnya cepat, “Manusia serigala, kelompok liar itu benar-benar gila berani menyerang di kastil kerajaan dalam acara seperti ini”

Mataku memicing. Penyerangan? Mana mungkin itu terjadi?

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.