Another Story – Keluarga

Aku berlari menuju kastil asrama. Aku berlari secepat yang aku bisa dan menerjang ke dalam ruangan pribadi Rena. Tapi ruangan itu kosong, hanya menyisakan sisa-sisa bau tubuhnya yang kukenali dengan benar. Aku kalut. Aku tidak menemukan semua orang. Aku tidak menemukan satupun heta ada di sekitar sini.

Sial, kemana mereka semua?

Memejamkan mataku, aku menarik nafas dalam. Menenangkan diri dan mulai memindai sejauh wilayah yang bisa dijangkau kekuatanku. Dimana? Dimana semuanya? Seharusnya tidak sulit mencari dimana keberadaan kerumunan manusia. Tapi sialnya terasa sulit ketika yang menguasai seluruh otak dan pikiranku adalah Rena.

Aku membuka mataku cepat. Memaki diriku sendiri sebelum aku beranjak keluar dari ruangan Rena. Berada di sini semakin tidak bisa memfokuskan diriku. Aku melangkah cepat melewati halaman kastil, berjalan menuju suara keriuhan yang kutangkap ketika aku baru saja melangkahkan satu kakiku tepat keluar dari kastil asrama.

Menara utama.

Kenapa tidak terpikir sama sekali untuk memeriksa tempat itu?

***

“Bagaimana bisa hal ini terjadi? Jelaskan padaku, Igel.” Aku bisa mendengar suara Master yang murka dan melihat wajah Igel, si ketua heta, yang memerah menahan malu. Seluruh petinggi kerajaan kecuali raja tentu saja berada di sana. Mereka sedang mengadakan pengadilan. Sepertinya itu yang sedang terjadi.

Lalu di sana dia, diantara puluhan heta yang berbaris berjajar rapi di belakang Igel, Rena berdiri dengan kondisi berantakan. Tapi tubuhnya tegak dan aku mencium aroma darah menguar dari lengan dan kakinya. Dia terluka.

Aku maju, menerobos sekumpulan slayer yang berdiri di barisan paling belakang. Mereka memagari nyaris separuh ruangan ini dengan barisan mereka. Aku mengumpat pelan, mengabaikan beberapa pasang mata mata dan kepala yang memutar menatapku tidak mengerti.

“Aku tidak pernah melihat kerusakan seperti ini sebelumnya, Igel. Apakah kelompok heta tidak bisa menjalankan tugasnya sendiri tanpa bantuan dari dari kelompok slayer? Haruskah selalu kuminta Hidr memberikan sebagian besar anggota slayer untuk membantu kalian setiap kali kalian menjalankan tugas kalian?”

“Tidak, Master. Aku benar-benar tidak men—“

Master mengangkat tangannya dan Igel terdiam, tak ada kata-kata lain dari mulutnya. Aku mengerutkan keningku. Isi kepalanya penuh sumpah serapah, entah untuk siapa.

“Ini yang terakhir, Igel. Jika kau melakukan kesalahan seperti ini lagi, aku akan mengembalikanmu ke utara. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Kau akan datang ke ruanganku esok hari untuk menyelesaikan semua yang tidak bisa kita bicarakan di sini. Sekarang pergilah, aku tidak bisa lagi melihatmu lebih lama di depanku atau aku akan kehilangan kendali emosiku. Kau benar-benar membuatku sangat kecewa.” Ucap Master dingin.

Igel tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk patuh, memberikan tanda kepada para heta untuk ikut bubar dan mengikutinya. Mereka memberi anggukan hormat kepada Master dan semua petinggi kerajaan yang lain sebelum pergi meninggalkan aula utama dengan wajah penuh malu yang tak terkira.

“Rena.. Rena.” Aku memanggilnya ketika rombongan heta itu melewatiku. Tapi Rena sama sekali tidak menoleh, kurasa dia tidak mendengarku. Aku berusaha mengejarnya tapi kerumunan slayer ini membuatku sulit bergerak dengan cepat, apalagi diantara semua aura perak yang menguar dari pedang-pedang di pinggang mereka yang membuat kulitku terasa memanas oleh rasa sakit.

Sialan, makiku sambil terus berusaha berjalan cepat ke arah yang dituju para heta.

***

Aku berdiri di kejauhan, mengamati Igel yang berdiri di depan barisan para heta. Mereka ada di lapangan latihan di belakang kastil asrama. Aku tidak tahu kenapa Igel tidak menyuruh mereka semua kembali ke ruangan mereka masing-masing dan malah membawa mereka ke sini.

Meskipun gelap, dan bulan hanya muncul separuh, aku bisa melihat dengan jelas wajah si ketua heta. Tanpa perlu membaca pikirannyapun aku sudah tahu dia sedang benar-benar marah. Dan entah kenapa aku tidak suka melihatnya. Dia mengucapkan banyak kata dan bentakan di depan para heta yang menurutku benar-benar keterlaluan. Bahkan pembendaharaan kata-kata kotor Lyra saja kalah jika dibandingkan laki-laki satu ini.

Dia berjalan pelan sekali di depan setiap heta, dan ketika mencapai Rena, dia berhenti. Memandang Rena seolah dia ingin menelannya hidup-hidup. Aku menunggu. Benar-benar menguatkan diriku agar aku tidak membunuh laki-laki ini di detik dia mulai berteriak pada Renaku. Aku maju selangkah, membaca pikiran busuknya dan terlambat. Dia sudah menampar wajah Rena dengan sangat keras. Butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari apa yang dia lakukan karena aku begiti terkejut dan nyaris tidak percaya pada apa yang baru saja aku lihat.

Persetan dengan apapun yang dia cacikan pada Rena karena detik selanjutnya yang kutahu aku sudah berlari dan menerjangnya dengan kemampuan vampirku. Aku mencengkeram lehernya, mengangkatnya hingga kakinya mengantung dan menendang-nendang tak tentu arah karena dia mulai kesulitan bernafas.

“Siapa kau berani melakukan itu pada Rena?” geramku penuh emosi dan aku tahu aku selesai. Detik pertama ketika aku nyaris meremukkan leher Igel, semua heta melihatnya, menyadari apa aku sebenarnya. Sayangnya mereka terlambat untuk bereaksi dan akupun aku tidak peduli.

Aku melemparkan Igel yang sudah nyaris mencapai nafas terakhirnya jika saja aku tidak menghindar dari serangan seseorang. Dan sekarang semua heta menyerangku. Aku berusaha dengan keras melawan semua dari mereka. Ada beberapa detik yang menurutku lebih horor daripada melawan puluhan heta bersenjata lengkap, ketika aku menyadari Rena yang sama sekali tidak bergerak di tempatnya dan hanya memandangku dengan tatapan yang—entahlah aku tidak bisa mendeskripsikan itu.

Pada saat yang sama aku tahu bahwa dia tidak bisa menerima apa aku sebenarnya dari cara dia melihatku yang sedang mati-matian melawan para heta. Tepat ketika dia mencabut anak panah dari kantong anak panah di punggungnya dan menegakkan busurnya, aku tahu bahwa ini sudah selesai.

***

“Kau baik-baik saja?” Michail duduk di depanku, menyilangkan kakiknya dan mengamatiku.

Aku, sama sekali tidak menjawab apapun kecuali memberikan anggukan kecil dan tetap memandang kosong ke arah perapian di dekatku. Seminggu sudah berlalu sejak aku meninggalkan kastil pelatihan dengan dikejar puluhan heta dan slayer setelah mereka tahu bahwa aku adalah vampir.

Lyra bilang aku punya terlalu banyak keberuntungan dalam hidupku karena aku masih hidup. Satu vampir melawan begitu banyak manusia pembawa perak? Meskipun tubuhku penuh luka, dia tetap mengatakan bahwa aku sepenuhnya baik-baik saja. Tapi bagiku tidak. Aku tidak tahu apa yang salah. Tapi seluruh tubuh dan pikiranku menolaknya. Aku tidak baik-baik saja.

Aku masih ingat bagaimana sorot mata Rena ketika dia melihatku nyaris membunuh Igel. Sorot mata itu menunjukkan bahwa dia terluka, karenaku. Apakah sebegitu salahnya jika aku ada vampir? Kenapa dia melihatku seolah aku adalah wabah mematikan? Aku masih tidak mengerti jalan pikiran manusia. Tidakkah mereka pernah berpikir jika mereka jauh lebih mengerikan daripada kami?

“Dia memikirkan perempuan heta itu.” Aku mendengar suara Ramuel diikuti dengan langkah kaki Gloria, disampingnya. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa mereka berdua selalu menempel seperti tidak terpisahkan seperti itu. Sama halnya seperti Lukas dan Cassy.

“Deverend sayang..” Gloria mengalungkan lengannya di leherku dan mengecup pipiku lembut. Aku bisa mendengar tawa kecil Ramuel ketika melihat belahan jiwanya itu menggangguku, “Berhentilah nampak tidak bersemangat hidup seperti itu. Kau membuat kami semua khawatir padamu.”

“Aku baik-baik saja, Gloria.”

“Apa kau yakin manusia itu memang belahan jiwamu?”

Aku menoleh dan melihat Cassy dan Lukas ikut berjalan masuk ke ruanganku, diikuti Lyra dan Viona. Baiklah, apakah mereka mau menggelar pertemuan kelompok di ruanganku? Aku benar-benar ingin mengusir mereka semua keluar dari sini dan mendapatkan kembali ketenangan yang kuinginkan.

Cassy mendekat dan duduk di lengan kursi yang tengah kududuki sementara Gloria masih berada di belakangku dan bermain-main dengan rambutku. Aku benar-benar ingin membuat mereka menjauh dariku. Jika Lyra dan Viona juga akan melingkupiku seperti itu. Aku benar-benar akan melakukannya. Mengusir mereka.

Tapi untungnya Lyra memilih duduk di dekat Michail dan Viona menyenderkan kepalanya ke bahu Lukas dan memandangiku lembut. Aku tidak tahu apa yang salah dengan mereka semua. Satu yang membuatku masih menolerir keberadaan lengkap kelompokku di ruanganku ketika aku sedang ingin sendirian adalah karena aku tahu mereka sedang mengkhawatirkanku.

“Kau tahu, jika kau mau, aku dan Cassy bisa menyusup ke kastil pelatihan dan membawa heta perempuan itu untukmu. Lalu kita bisa mengubahnya menjadi vampir dan ka—“

“Tidak, Gloria.” Kataku tegas, “Jangan pernah melakukan itu atau aku akan sangat membencimu.”

Gloria merengut, melepaskan diri dariku dan berjalan ke arah Ramuel, “Aku hanya ingin menolongmu.” Protesnya.

“Dia tidak membutuhkan bantuan kita, Gloria. Dia hanya perlu berdebat dengan otak kosongnya itu sampai heta perempuan itu mati karena yah—usia atau mungkin sakit. Bisa juga dia mati karena terjatuh dari kud—“

“Tutup mulutmu, Lyra!” geramku keras. Aku sudah nyaris bangkit dari dudukku dan menyerang Lyra jika saja Cassy tidak menahan bahuku dan memaksaku kembali duduk. Dia mengecup puncak kepalaku dengan penuh sayang.

“Berhenti menganggunya, Lyra.”

Lyra hanya mengangkat bahunya dengan tidak peduli dan aku bisa melihat senyum dari yang lainnya. Gloria bahkan terkikik pelan.

“Kurasa jika Dev sudah bisa bertengkar dengan Lyra lagi, mungkin semuanya memang baik-baik saja.” Tukas Viona disusul anggukan Lukas.

“Yah, kau benar.” Ramuel menimpali, “Tidakkah kalian lihat seberapa besar usaha Lyra dalam seminggu ini untuk bisa bertengkar dengan Dev sementara Dev sama sekali tidak peduli pada apa yang dikatakannya.”

Mereka semua tertawa kecil, kecuali aku dan Lyra tentu saja. Michail mengangkat tangannya, “Sudahlah. Kurasa kita semua harus pergi dari sini dan berhenti menganggu Dev. Dia mungkin ingin sendirian.”

Aku menghela nafas lega akhirnya mereka semua akan pergi juga tanpa aku perlu mengusir mereka. Yang pertama pergi tentu saja Michail. Dia bangkit, menepuk bahuku pelan dan meninggalkan ruangan ini tanpa mengatakan apapun lagi. Viona langsung mengekor di belakangnya setelah mengecup lembut pipiku.

“Kami menyayangimu, Dev.” Ucap Viona di telingaku.

Lalu Cassy bergerak dan memelukku dari tempatnya duduk, “Kau tahu kau bisa mengatakan apapun kepada kami jika kau ada masalah lainnya, Deverend.” Bisiknya lembut sebelum dia melompat dari lengan kursiku dan berjalan keluar bersama Lukas.

“Jangan pernah lupa, kau selalu punya kami.” Gloria mengecup puncak dahiku dan berdiri menunggu Ramuel yang sekarang memandangku, “Aku dan Lukas berencana berburu besok. Kau harus bergabung bersama kami.” dia tidak menunggu jawabanku dan segera menggandeng Gloria keluar. Gloria meniupkan ciuman ke arahku sebelum dia berjalan keluar.

Aku menghela nafas lega begitu melihat Gloria menutup pintu ruanganku. Akhirnya aku sendirian. Aku tidak tahu ada apa dengan mereka semua. Sepertinya ada yang salah dengan otak mereka. Entahlah.

“Kau benar-benar jatuh cinta pada heta itu ya?”

Aku menoleh, tentu saja, Lyra, siapa lagi. Aku lupa dia masih ada di situ. Aku tidak menjawab. Sebab aku tahu, bicara dengan Lyra selalu menghasilkan sebuah pertengkaran sengit. Seringkali kami berakhir dengan mencoba saling melukai satu sama lain. Dia selalu kalah, tentu saja. Hanya keras kepalanya yang memenangkan cek cok kami.

“Tidakkah kau juga ingin pergi seperti mereka?”

Lyra menggeleng pelan, “Aku masih ingin di sini.”

“Tapi aku tidak ingin kau ada di sini.” Sahutku dingin.

Tapi tentu saja dia tidak peduli. Dia masih duduk dengan nyaman di tempatnya dan sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia ingin melangkah pergi dari sini.

“Menurutku, heta itu bukan belahan jiwamu, Dev. Jika iya, dia pasti sudah ada di sini, meminta untuk menjadi bagian dari kita sebagai harga yang harus dia bayar karena menyukaimu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu, takdir belahan jiwa itu lebih kuat daripada sihir apapun. Sesuatu yang sangat murni dan tidak bisa kau kendalikan. Jika dia memang bagian darimu, dia tidak akan peduli apa atau siapa kau. Kau lihat semua yang lain, Viona dan Michail, Cassy dan Lukas, Gloria dan Ramuel, atau bahkan aku dan Damis. Apapun yang mungkin ada di depan kami, kami akan tetep memilih satu sama lain karena tidak ada pilihan pergi atau menghindar.”

Aku mendengus, “Lalu siapa yang dulu harus ditinggalkan ketika Noura muncul?” sengitku dan Lyra menatapku dengan kesal. Sebab dia tahu dengan benar bahwa aku tengah membicarakannya. Lyra mengatakan bahwa Damis adalah belahan jiwanya. Dan semua orang percaya itu, kecuali aku tentu saja. Aku selalu sarkastik jika menyangkut dengan Lyra.

“Tapi pada akhirnya Damis tetap kembali bersamaku.”

Aku mengangkat kedua alisku dan Lyra semakin terlihat tidak senang. Dia tidak suka kalah dariku. Aku tidak ingat apa yang mengawali semua hubungan aneh dengan Lyra ini. Kurasa sejak awal kami berdua memang seperti ini. Namun di samping itu semua, aku dan Lyra sama-sama tahu jika kami berdua dekat. Meskipun hubungan yang kami miliki sangat aneh seperti ini.

“Ah satu lagi, kurasa kau harus datang ke kastil utama dan bertemu Reven. Damis mengatakan padaku jika Reven menginginkan kau datang ke sana. Aku lupa mengatakan kepadamu lebih awal.”

Keningku berkerut dalam. Dari semua hal yang mungkin harus kulakukan, menemui Reven tidak pernah ada dalam daftar dan aku sedang tidak ingin bertemu dengan makhluk paling menyebalkan itu. Aku memandang Lyra, meyakinkan diriku bahwa dia memang mengatakan yang sesungguhnya.

“Aku tidak membohongimu.” Katanya tegas, sepertinya memahami makna tatapanku.

“Aku akan datang besok.”

“Kau belum mengatakan pada Reven tentang apa yang terjadi di kastil pelatihan slayer bukan?” tebaknya.

“Apa kau tidak ingin pergi dari sini, Lyra?”

“Damis sangat terkejut ketika aku menyeritakan tentang dirimu kepadanya. Dia tidak tahu, jadi begitu pula dengan Reven. Aku benar bukan?”

“Kurasa aku butuh berpikir sendirian. Bisakah kau keluar?”

“Dan setelahnya kurasa, Damis membicarakan ini dengan Reven. Mungkin Reven menginginkan kedatanganmu ke kastil utama karena hal ini.”

“Lyra, keluarlah dari sini.”

“Kurasa kau harus menyiapkan alasan kepada Reven tentang kenapa kau bisa gagal pada tugas ini. Dia tidak akan senang jika tahu kau gagal cuma gara-gara jatuh cinta pada seorang heta. Kau tahu bukan betapa menyebalkannya menghadapi Reven yang sedang marah. Ada baik—“

Aku bangkit dan keluar dari ruanganku sendiri. Aku bisa mendengar tawa kecilnya. Kurasa dia menang sekarang karena aku sedang tidak ingin berdebat dengannya.

***

Aku menghirup bau basah hutan di dekat kastil utama dengan perlahan. Aku selalu suka bau hutan ini, entah apa sebabnya. Aku memandang kastil di depanku dan tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa aku tidak sendirian.

“Lama tidak bertemu, Noura.”

Dia tersenyum, berdiri di sampingku dalam satu kejapan mata, “Senang melihatmu, Dev.”

“Apa yang kau lakukan di sini alih-alih di dalam sana bersama Reven?”

“Aku baru saja datang, seperti kau.”

Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan tidak percaya, dan dia mengangkat satu alisnya, “Ada apa?”

“Kau tidak melakukan hal-hal aneh dan gila lagi bukan, Noura?” tanyaku teringat dengan percakapan dengan Rosse dulu.

Dia tersenyum, menyentuh pipiku dan mengecupnya pelan, “Hal-hal aneh dan gila itulah yang kelak akan menyelamatkan perempuanmu, Deverend.” Ucapnya sebelum dia melangkah cepat ke arah kastil. Dalam beberapa detik saja, dia sudah lenyap dari pandanganku. Sementara aku masih berdiri diam di tempatku, berusaha memahami apa yang sebelumnya dikatakan Noura.

Aku menggeleng, mungkin terlalu lama berada di kelompok utama membuat otaknya tidak sehat. Aku tidak bisa menyalahkannya. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan seperti itu. Aku kembali memandang kastil di depanku, menghela nafas dalam dan akhirnya berjalan mendekat ke arahnya.

***

Percakapan dengan Reven tidak pernah menghasilkan sesuatu yang bagus, biasanya. Namun kali ini, sepertinya terjadi pengecualian. Ketika aku masuk ke ruangannya, dia tengah duduk di dekat perapian. Memandang kosong ke arah lidah-lidah api yang bergoyang. Mengingatkanku pada diriku sendiri. Dia hanya memandangku sekilas ketika aku duduk di depannya.

“Kau memanggilku?”

Dia memejamkan matanya selama beberapa detik, lalu mengangguk dan memandangku, “Apa yang terjadi di kastil pelatihan slayer?” suaranya dalam dan terdengar tenang meski aku yakin, mempertaruhkan kepalaku, jika ada yang tidak beres.

Kemudian selama aku menyeritakan semuanya kepada Reven—tentu saja tanpa menyebutkan detail tentang Rena dan aku—dia sama sekali tidak menyela. Dia mendengarkanku dengan baik. Dan ketika aku selesai, dia menghela nafas. Aku menunggu Reven untuk bersuara, mempersiapkan diri untuk berdebat dengannya jika mengatakan sesuatu yang membuatku jengkel.

Tapi Reven hanya mengangguk kecil lalu berkata dengan tenang, “Aku tahu ini pasti akan terjadi. Hanya masalah waktu hingga mereka menyadarinya. Aku cuma tidak menyangka akan secepat ini.” dia berhenti, mengalikan pandangannya dariku dan kembali menatap perapian, “Kau bisa pergi, Dev. Aku hanya ingin mendengar semuanya langsung darimu dan bukan dari yang lain.”

Aku sepenuhnya tidak ingin mendebat Reven ketika aku tahu suasana hatinya sedang buruk. Dimana itu juga menguntungkanku karena kami berada dalam posisi yang sama. Jika dua vampir kepala batu seperti kami saling melukai satu sama lain hanya karena suasana hati yang sedang tidak baik, segalanya akan berakhir sangat buruk.

Langkahku pelan ketika aku menelusuri lorong kastil dari ruangan Reven menuju aula utama. Aku sedang tidak terburu-buru dan aku juga tidak tahu apa yang akan kulakukan nanti ketika aku kembali ke rumah kelompokku. Aku mengambil nafas dalam, berusaha menenangkan benakku sendiri.

“Masih memikirkannya?”

Aku menoleh dan melihat Noura bersandar di dinding batu kastil tak jauh dariku.

“Apa maksudmu?”

Noura tersenyum, lalu menggeleng. Dan aku melanjutkan langkahku, anehnya dia memutar badannya dan berjalan mengiringiku ketika aku hampir melewatinya. Dia berdiri di arah berlawanan denganku sebelumnya. Kupikir dia akan menjumpai Reven, namun kenapa dia malah mengekorku?

“Apa yang kau lakukan, Noura?”

“Menemanimu.” jawabnya cepat, “Aku pikir ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Reven. Dan kastil kosong, aku tidak menemukan Rosse, Damis ataupun Russel. Hanya ada Vlad dan tentunya aku akan lebih memilih berbincang denganmu daripada dengan Vlad. Kami selalu berada dalam emosi yang tinggi jika berbicara berdua.”

Aku mendengus, tentu saja Vlad dan dia tidak akan pernah berbicara baik-baik karena Noura selalu melakukan hal yang tidak disukai Vlad. Dan meskipun Vlad melarangnya, Noura selalu berusaha menemukan celah untuk tetap melakukan hal itu.

Kami berjalan beriringan keluar dari kastil dan menuju padang bunga di utara kastil. Noura tersenyum dan berhenti begitu kami telah berada di tengah bunga-bunga yang sekarang berwarna merah. Aku merasa seperti berada di tanah lapang berdarah. Bunga-bunga kecil berwarna merah itu tumbuh subur dan memenuhi setiap jengkal tanah di sini. Sepertinya bunga kuning yang sebelumnya jauh lebih bagus daripada yang ini.

“Kenapa sekarang warnanya merah?”

Noura mengangkat bahunya, “Entahlah. Mungkin karena aku merasa jauh lebih berani sekarang.”

“Ini lebih seperti tanah berdarah. Kau membuatku lapar dengan berada di sini.”

Noura diam, aku melihat matanya menerawang jauh. Ada helaan nafas yang panjang sebelum dia berjalan selangkah ke depan, “Darah. Kematian. Apa kau pernah takut menghadapi kematian Dev?”

Aku tidak tahu tahu kenapa dia bertanya seperti itu tapi aku menggeleng, “Tidak. Jika tiba saatnya kematianku datang. Aku akan menghadapinya. Setidaknya aku ingin kematianku berguna.”

Noura menoleh, “Kau mendapatkan keinginanmu.” ucapnya pelan sebelum dia memandang ke depan lagi, mengabaikan wajah tidak mengertiku. Aku tidak menyukai jika Noura mulai bicara aneh seperti itu. Aku tahu berkat yang dia miliki, dan seringkali dia terlihat menakutkan dengan kemampuannya itu.

“Tapi aku takut, Dev.”

“Tentang apa?”

“Kematian.” jawabnya.

Aku tidak tahu seperti apa wajahnya ketika mengatakan itu. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang berdiri tegak dan rambut panjangnya yang berkibar tertiup angin. Tapi aku mendengar dia mengatakan itu dengan suara bergetar. Dia jujur.

“Jika aku melarikan diri dari kematianku. Maka aku akan hidup dengan banyak ketakutan lain yang jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.”

“Maka jangan melarikan diri dari kematian. Hadapi saja, kita semua pada akhirnya akan mati juga. Omong kosong tentang vampir adalah makhluk abadi. Kita hanya hidup lebih lama daripada makhluk lainnya. Itu saja.”

Noura menoleh, tertawa ceria setelah mendengar apa yang kukatakan. Sungguh, perubahan suasana hati perempuan di depanku ini benar-benar aneh. Dia berjalan ke arahku dan menepuk bahuku, “Aku setuju denganmu kali ini, Deverend Corbis.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.