Another Story – Kematian Sang Calon Ratu

Saat aku melewati lorong lantai dua kastl ini, suara-suara mendadak teredam dan sepanjang koridor yang gelap dan dingin, aku sama sekali tidak mendengar apapun. Kurasa Vlad menggunakan sihirnya di sini. Aku tidak tahu apa saja yang para vampir kuno bisa lakukan, tapi jika semua kekuatan itu dan watak Vlad dijadikan satu, maka hasilnya tidak bagus. Namun aku tidak menyalahkannya melakukan itu kali ini. Sebab jika aku jadi dia dan harus menghadapi vampir keras kepala seperti Noura, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama—atau mungkin lebih parah.

Aku mengetuk pelan setelah sampai di depan pintu ruangan Noura. Tak terdengar suara atau pergerakan apapun dan akhirnya aku memilih masuk. Mendorong pintu kayu itu pelan. Lalu di sanalah dia, menatap ke arah luar melalui satu-satunya jendela yang ada di ruang pribadinya. Aku berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di sampingnya.

“Rindu pada dunia luar?” sapaku.

Noura tidak menjawab dan malah berkata dengan suara tenang, “Warnanya ungu sekarang.”

“Apa?”

“Padang bungaku. Aku menana bunga-bunga berwarna ungu sekarang. Beberapa minggu lagi mungkin akan terlihat. Aku meminta kepada Reven untuk memberi sedikit sihir pada padang bunga itu. Kecuali ada yang menghancurkannya, alam akan tetap menjaganya. Di musi terdingin sekalipun.”

Aku tidak tahu apa yang ada di kepala Noura dan alasan kenapa dia membicarakan padang bunga anehnya itu kepadaku. Terakhir kali aku melihat, hamparan luas tanah itu seperti kolam darah. Aku tidak bisa membayangkan padang darah itu akan berubah warna menjadi padang ungu nanti. Aku tidak pernah suka serbuk bunga, apapun.

“Apa Reven bisa melakukankan sihir seperti itu?”

Kali ini Noura menatapku, beberapa detik. Sebelum senyum tipis yang mengandung rahasia itu terlukis di wajahnya, “Kau tidak mengenal dia sebaik aku, Deverend Corbis. Reven lebih dari sekedar apa yang kalian smeua ketahui selama ini.”

Aku tidak peduli pada vampir angkuh itu, aku ingin menjawab seperti itu. Tapi aku menahan diri. Lagipula bagaimana bisa Noura berbicara tentang satu-satunya makhluk yang menahannya di ruang ini dengan wajah seperti itu. Apakah ikatan belahan jiwa membuatnya menjadi teramat bodoh?

“Apa Reven benar-benar tidak mengizinkanmu keluar dari sini?” aku menatap sisi wajah Noura dan dia terlihat tidak akan menjawab pertanyaanku, “Apakah kau benar-benar mengatakan rahasia calon ratu itu pada putra Elsass? Apakah karena itu Reven melakukan ini padamu?”

Noura tersenyum, dia memutar tubuhnya dan kali ini sepenuhnya memandangku, “Reven mengurungku bukan karena aku memberitahu Morgan tentang rahasia calon ratu, tapi karena Morgan jatuh cinta padaku. Kurasa Reven sedang cemburu padaku. Dia sangat manis namun tetap menyebalkan.”

Sementara dia tertawa dan tersenyum, aku mengerutkan dahiku dalam-dalam.

Perempuan vampir ini gila. Bagaimana dia bisa nampak tak peduli pada kenyataan bahwa dia membocorkan rahasia terbesar kaumnya pada musuh dan malah peduli pada masalah kecemburuan? Otaknya mungkin terbalik. Dan apa dia bilang tadi, Morgan Freesel, anak dari Alpha manusia serigala itu jatuh cinta padanya?

Aku merasa beruntung jatuh cinta pada seorang heta yang sekarang membenciku daripada mengalami hal semengerikan putra si Alpha. Mengesampingkan wujud fisik Noura dan terkadang selera humornya yang tidak bisa ditoleransi, aku masih tidak tahu bagaimana bisa laki-laki jatuh cinta padanya.

Lalu aku melihat perubahan pada wajah Noura, seperti kesedihan. Namun dia memalingkan wajahnya dan kembali menatap ke luar. Angin yang masuk melalui jendela di depan kami yang terbuka membuat helai-helai rambut kami berterbangan, menganggu.

“Untuk apa kau datang ke sini, Dev?”

Aku menggeleng, pada awalnya aku ingin menanyakan kebenaran tentang apakah dia memang memberitahu putra Elsass Freesel itu tentang rahasia calon ratu, tapi kemudian, ketika aku bahkan sudah tahu apa jawabannya, aku merasa bukan itu tujuanku masuk ke ruangan ini dan berbicara pada Noura. Tapi melalui kekuatannya, aku tahu dia tahu apa yang bahkan aku sendiri tidak tahu.

“Kita berdua bukan dilahirkan untuk jadi pemilik kebahagiaan, Deverend Corbis.” suaranya terdengar putus asa ketika mengatakan itu, “Pengorbanan adalah satu-satunya jalan yang pada akhirnya akan membawa kita pada titik menyerah, demi sesuatu lain yang lebih besar. Ketika tahu akan ada penganti, yang mungkin akan diterima dengan lebih baik, terkadang aku merasa iri.”

“Apa maksudmu?”

“Kembalilah ke kelompokmu. Kau akan bertemu dengan perempuan itu. Tidak lama lagi.”

***

Bahkan ketika aku sudah duduk di ruang utama rumah besar kelompokku. Kata-kata Noura itu masih berputar-putar di dalam kepalaku. Noura mengucapkan itu dengan perasaannya dan benar-benar terdengar lelah. Dan cara Noura mengucapkan kita berdua, membuatku merinding. Aku tidak pernah percaya pada pembaca dan penglihat masa depan seperti Noura dan Illys. Namun aku juga tidak bisa mengatakan bahwa mereka adalah sumber kebodohan sebab aku tahu dengan benar bahwa tak ada satu katapun yang akan salah pada ucapan mereka.

Noura tidak mengatakan apapun lagi ketika aku terus bertanya dan mendesak apa maksudnya. Dia hanya diam dan berdiri tegak memandang ke arah hutan melalui jendelanya. Aku menyerah dan meninggalan ruangan Noura dengan kemarahan luar biasa. Perempuan itu mengacaukan hari liburku setelah tugas yang panjang.

“Apa yang salah, Dev?” suara Viona membuyarkan semua pikiranku dan aku bahkan tidak menyadari sejak kapan Viona ada di sini.

“Tidak apa-apa.” bahkan aku sadar, orang terbodoh sekalipun tahu bahwa aku berbohong.

Viona melangkah pelan, mendekat ke arahku, “Apa perempuan heta itu lagi?”

Aku terhenyak, sepertinya ini bahkan kali pertama aku berhenti memikirkan Rena dan memiliki topik pilihan lain di dalam kepalaku. Aku menggeleng, “Noura mengatakan sesuatu dan itu mengangguku.” jawabku jujur.

Mata Viona mengabarkan bahwa dia tidak suka ini. Dia punya perasaan yang sama sepertiku tentang Noura. Kami tidak menyukai si calon ratu namun entah kenapa kesulitan menemukan alasan yang tepat untuk benar-benar bisa dibeberkan pada orang lain. Perlahan, dia mengambil tempat di sampingku dan kami menatap perapian yang menyala terang di depan kami, yang sayangnya tanpa mengirimkan hawa hangat sedikitpun.

“Ada baiknya lupakan saja itu. Apapun itu yang dikatakan Noura. Kita seharusnya menjalani saja seperti apa kehidupan kita tanpa peduli pada petanda-petanda yang diberikan makhluk dengan berkat penglihatan masa depan seperti Noura. Menjadi tidak tahu kadang adalah berkah yang lupa kita syukuri.”

Aku memandang Viona, entah kenapa merasa sepakat dengan apa yang dia katakan.

“Selain itu, kurasa ada baiknya Noura lebih memikirkan dirinya sendiri daripada sibuk mengatakan hal-hal lain kepada orang lain ketika dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyadari betapa bodohnya dia—“

Aku tertawa, aku mengerti apa yang dimaksud oleh Viona. Semua orang di kelompok kami sudah mendengar kebenaran tentang apa yang dilakukan oleh Noura. Mereka hanya tahu tentang fakta bahwa Noura menyeritakan tentang rahasia calon ratu kepada Morgan Freesel dan sudah merasa bahwa dunia akan menjadi mimpi buruk. Bagaimana jika mereka tahu bahwa anak si Alpha itu juga jatuh cinta kepada Noura dan Noura tidak terlihat keberatan akan hal itu. Kurasa mereka akan langsung berlari ke kastil utama dan mencekiknya sampai mati. Berhubungan dengan manusia serigala dan mebuat salah satu dari mereka—anak si Alpha sendiri—jatuh cinta pada vampir, ras kami? Dunia mungkin akan berakhir.

Mendadak, aku teringat kisah lama tentang seorang vampir perempuan bernama Victoria Lynch. Yang menurut cerita menerima hukuman dan kutukan yang mengerikan setelah dia menjalin hubungan terlarang dengan seorang manusia serigala. Cerita inilah yang dipercaya menjadi awal mula bagaimana kaumku membenci manusia serigala. Sebab karena perasaan tidak terima, manusia serigala yang pada awalnya menjadi budah kaum vampir menjadi membelot dan mengkhianati tuannya, kami—para vampir.

Aku tidak tahu apakah cerita ini benar atau tidak. Namun aku tidak juga terlalu peduli karena  apapun yang menjadi alasan kebencian kami pada makhluk bau ini, aku tahu itu alasan yang benar. Darah kebencian pada manusia serigala seolah memang sudah mengalir di dalam tubuh para vampir sejak awal. Seolah kau tidak perlu alasan apapun, untuk terus membenci mereka. Dan aku sepakat.

“—Sudah baik kurasa, ketika kelompok utama hanya mengurung dia di kastil dan tidak melakukan hal lain.” Viona masih bersungut-sungut ketika mengatakan itu dan aku tersenyum simpul. Lalu dia menatapku dan terlihat mengamatiku, “Apa perasaanmu pada heta perempuan itu belum berubah? Kau masih menyukainya?”

Aku mengangguk.

“Aku tidak bisa berhenti memikirkan Rena bahkan ketika aku dikelilingi bau busuk manusia serigala selama berbulan-bulan.” Aku mencoba terdengar ceria namun Viona mendesah.

“Jadi namanya Rena?” hanya itu yang dia katakan dan tangan Viona menepuk tanganku pelan, “Jika perempuan heta itu adalah belahan jiwamu. Kau tidak perlu khawatir, Dev.”

Tapi bagaimana jika tidak?

***

Aku membungkuk kesakitan ketika aku merasakan sebuah panggilan utama. Pertama kalinya kurasakan itu, aku merasa ada remasan tak kasat mata di jantungku. Aku yang ketika itu bersama Ramuel bisa melihat Ramuel juga melakukan dan merasakan hal yang sama. Mata kami saling pandang dan tidak butuh waktu lama bagi kami untuk segera berlari ke kastil utama. Jika Vlad melakukan panggilan utama, itu cuma berarti dua hal, ada pertemuan besar mendadak atau ada masalah yang begitu gawat. Aku mempercayai yang kedua. Dan rupanya intuisiku tidak salah.

Vlad, dengan wajah mengerikan yang menahan kemarahan mengatakan bahwa kami semua harus mencari Noura. Sang calon ratu menghilang di bawah pengawasan ketat kelompok utama dan kelompok lamanya. Aku tidak tahu jika Noura bisa melakukan hal ini. Hanya dua minggu setelah aku berbincang dengannya dan sekarang aku harus mencarinya. Aku tidak melihat Reven, Damis dan Russel selama Vlad mengatakan itu dengan suaranya yang terdengar penuh kutukan. Kurasa mereka bertiga sudah pergi lebih dulu sebelu kami semua datang.

Kami semua—dalam artian harfiah dimana memang berarti semua vampir—langsung berpencar menuju setiap arah berbeda seperti yang dikatakan oleh Vlad. Aku berada satu kelompok bersama dengan Gloria, Ramuel dan Viona menuju ke arah selatan. Yang jika terus berlari ke sana bisa mencapai kastil pelatihan dan bayangan mengoda untuk mampir ke sana begitu besar. Jika bukan karena deheman kasar Gloria dan Ramuel yang terang-terangan menyikutku dengan keras. Aku mungkin sudah terus berlari ke sana, memeluk Rena dan semua perkara tentang Noura buyar di kepalaku.

Kami berbelok ke arah lain ketika Viona memutuskan jika fokusku akan buyar jika kami terus ke selatan. Aku mengeram putus asa namun Viona sepenuhnya mengabaikanku dan kami bergerak dalam perintahnya. Aku merasakan kehadiran banyak vampir lain tapi itu bukan Noura. Itu kelompok lain yang juga sedang mencoba mencarinya. Mungkin kami tanpa sengaja sudah masuk ke teritori pencarian kelompok lain ketika Viona memutuskan berbelok arah.

Berjam-jam, beratus-ratus kilometer dan tidak ada sedikitpun bau sang calon ratu dan kami mulai frustasi. Gloria dengan keras memohon agar keberuntungan datang pada kelompok lain dan Noura segera ditemukan. Apapun itu penyebab dia melarikan diri, kurasa tak akan bisa menandingi semua hal buruk yang menjadi akibatnya. Termasuk membuat semua vampir berlarian dengan semua indera terpasang ekstra demi sosoknya. Belum lagi semua bayang sisa kemarahan Vlad. Mungkin Vlad bisa lupa jika Noura penting bagi rasnya dan membunuh Noura karena jengkel pada sikap Noura. Aku tak tahu mana yang lebih baik bagi Noura. Aku juga tak terlalu memikirkan hal itu.

Viona terus berkata tentang bagaimana jika Noura berkhianat dan menyerahkan dirinya pada para manusia serigala. Namun entah keyakinan apa, aku tahu jika Morgan tidak mengatakan apapun kepada kelompoknya tentang masalah ini. Kurasa berbulan-bulan menyelidiki masalah ini bersama Ramuel dan Michael sedikit membantuku di sini.

Langkah kami sontak terhenti. Kami saling pandang dan menyakinkan masing-masing akan suara teriakan mengerikan yang baru saja kami dengar. Hanya sedetik dan kami semua langsung lari dengan semua kekuatan yang kami miliki ke asal suara yang jaraknya tak terlalu jauh dari kami.

Viona menutup mulutnya anatara ngeri dan panik sementara Gloria memalingkan wajahnya dan bersembunyi di dada Ramuel yang langsung mendekapnya. Aku tak berkedip, menatap tidak percaya pada apa yang ada beberapa meter di depanku. Di sana, dalam wujud paling mengenaskan, tubuh Noura yang penuh anak panah dan darah terbaring sekarat dalam pelukan Reven. Tatapan mata Noura mengarah pada Reven yang menangis. Aku bisa melihat seluruh tubuh Reven gemetar dan ketakutan tergabar jelas di matanya. Dia akan kehilangan belahan jiwanya.

Telingaku tidak bisa mendengar apapun karena aku belum sepenuhnya memahami apa yang ada di depanku. Sampai beberapa detik kemudian, ketika aku melihat tangan Reven yang berlumur darah Noura mendekap tubuh Noura dan Noura menghilang menjadi abu. Aku masih tidak menerima apa yang ditunjukkan oleh mataku. Teriakan itu terdengar lagi. Teriakan keras, mengerikan dan penuh dendam akan kehilangan. Teriakan Reven.

Buku-buku jari Reven mengenggam abu-abu Noura begitu erat sampai dalam jarak pandang inipun aku bisa melihat darah menetes dari sela-sela jarinya. Beberapa meter di seberang Reven, aku bisa melihat kelompok pencarian lain menatap kosong ke arah Reven. Maurette di sana, terjatuh dengan suara tangisan yang menjadi satu-satunya suara di hutan ini setelah teriakan Reven.

Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, namun aku tahu satu hal, rasku dalam masalah besar.

***

Butuh beberapa hari untuk meyakinkan semua vampir jika Noura sudah mati. Menjadi debu tepat di pelukan belahan jiwanya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebelum Reven menemukan tubuh sekarat Noura di hutan itu. Begitu banyak spekulasi memenuhi aula utama dan kami semua dirundung ketakutan. Noura adalah kunci kekuatan kami. Sang calon ratu yang menjadi pion kemenangan kami untuk semua tahun-tahun yang panjang.

Vlad membisu dalam kemarahan yang bisa menahannya dan aku melihat Rosse menangis sepanjang pertemuan utama tanpa bersusah payah menyembunyikannya. Reven sendiri menghilang sejak saat itu dan tak ada satupun dari kami yang bertanya kemana dia karena kami tahu Reven membutuhkan ruang sendiri baginya untuk menerima kematian Noura. Damis dan Russel yang berdiri di samping Vlad ketika Vlad akhirnya berbicara dan memutuskan situasi darurat bagi ras kami.

Semua wajah penuh kekhawatiran, tak terkecuali aku. Aku benci—bahkan hanya membayangkannya saja—menjadi lemah. Dan kematian Noura seakan menjadi gerbang menuju satu kata itu, lemah. Vlad mengirim vampir-vampir kuno ke semua penjuru wilayah untuk memastikan bahwa manusia serigala, maupun para slayer tidak mengetahui kematian ini. Meskipun kami tahu bahwa mereka juga tidak tahu—kecuali Morgan Freesel—tentang rahasia calon ratu, tak satupun dari kami membantah di depan maupun di belakang Vlad.

Tak ada yang berminat benar-benar kembali ke wilayah masing-masing dan kastil utama mendadak menjadi seperti penampungan para vampir. Dan aku juga tidak memungkiri bahwa aku juga di sini. Sama seperti yang lainnya, menunggu. Apakah akhir bagi kami benar-benar sudah dekat?

Sebulan berlalu dan tak ada perubahan terjadi. Kami semua masih setia menunggu. Aku melangkah pelan ke luar dari kastil dan berjalan ke arah padang bunga Noura. Dan aku bisa melihat seluruh tanahnya dipenuhi bunga berwarna unggu setinggi mata kaki. Entah kenapa aku merasa sedih ketika berada di sini. Tubuh berdarah-darah Noura dan wajah kesakitannya sebelum kematiannya menghantuiku. Mau tak mau aku menyesali kematian tidak menyenangkan yang dialami olehnya.

Angin musim gugur berhembus dan sebuah suara bernyanyi di telingaku.

“Kita berdua bukan dilahirkan untuk jadi pemilik kebahagiaan, Deverend Corbis. Pengorbanan adalah satu-satunya jalan yang pada akhirnya akan membawa kita pada titik menyerah, demi sesuatu lain yang lebih besar. Ketika tahu akan ada penganti, yang mungkin akan diterima dengan lebih baik, terkadang aku merasa iri.”

Tubuhku meremang dan aku langsung berbalik pergi. Sekian lama setelah aku nyaris melupakan semua kata-kata itu, mendada saja kata-kata itu muncul dan memenuhi kepalaku lagi.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

7 Comments

  1. Selamat tinggal naura… Oke di sini aq merasa sedih untuk reven tapi di Ru aq benar2 pingen getok kepala nya reven gimana bisa dia jadi playboy,vlad aja ngak segitu-gitu amat saat memutus kan hubungan mate dengan victoria.Habis ini upload Ru kan plisssss….

  2. Kaaakk suka banget sama semua cerita2 kakak, klo bisa update ny jngan lama2 yaa, apalagi yg ru ditunggu banget lohhh kaaakkk. Penasaran soal kematian noura, kira2 bakal bikin cerita dari pov ny noura juga g kak???
    ditunggu ya kaakk updateanny…

  3. Apa… Untuk pertama kalinya aku merasa kasihan pada reven dan noura… Tapi wktu noura bilang ke Dev 'kita' jadi inget sama kematian dev, dan jadi benci sama morgan… Tidak ditakdirkan sebagai pemilik kebahagiaan?? Tapi Dev pantes buat dapet kebahagiaan.. Sama noura?? Entahlah.. Tapi dev… ? yeyy.. Habis ini dev brtemu rena…. Tapi, dev… Huaaaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published.