Another Story – Pengakuan

“Kalian berdua ternyata lebih kekanak-kanakan daripada aku.” Ar memandang ke arahku dengan setengah kesal. Dia sudah mendengar dari orang lain tentang apa yang terjadi denganku dan Rena. Aku juga masih ingat dengan jelas bahwa Rena menambahkan beberapa teriakan waktu itu padahal kami sudah cukup menjadi pusat perhatian.

Aku hanya diam. Tidak membantah, tidak mengatakan apapun. Membiarkan Ar menyelesaikan semua omelannya seperti wanita tua. Aku ahli dalam berpura-pura mendengarkan. Tak masalah bagiku.

“Aku bahkan tidak yakin apa masalah kalian sebenarnya.”

“Kami tidak punya masalah apapun.”

“Lalu kenapa kalian seperti ini?”

Aku menghindari tatapan Ar, entah kenapa aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu yang buruk. Sampai saat ini aku masih tidak bisa membaca pikiran Ar. Jadi akan sangat buruk jika di dalam kepalanya yang keras itu dia berpikir aneh dan membuatku kesulitan menjalankan tugasku.

“Kalian saling menyukai?”

“Apa?” Aku nyaris berteriak ketika mengucapkannya. Bagaimana bisa Ar bisa bicara seperti itu? Aku sudah berusaha sebaik mungkin menyembunyikan semuanya. Apa ada sesuatu hal lain yang membuatnya bisa menebak sampai sejauh itu?

Ar menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi yang keras, “Sudah kuduga.” Katanya.

“Aku tidak mengatakan aku menyukainya.” Bantahku makin tegas. Tapi aku yakin kalau Ar juga mengabaikan perkataanku. Dia melipar kedua tangannya ke depan dada, memandangiku yang duduk di depannya, dengan tatapan meneliti.

“Kau tahu aturannya bukan, Dev.” Ucapnya dengan pelan, “Tidak boleh ada kisah cinta diantara anggota setim. Jika Rena bukan anggota tim kita, aku mungkin saja masih bisa memikirkan kemungkinan lainnya. Tapi kenyataannya, Rena adalah anggota tim kita.”

“Aku juga tidak berniat menjalin kisah cinta dengan anggota timmu. Dan, Ar, sudah kukatakan aku ti—“

Ar mengibaskan tangannya makin tak peduli, “Aku tahu. Aku bisa menebaknya pdengan hanya melihat sikao kalian berdua. Entah sejak kapan, tapi aku tahu kalian saling mengamati dan mulai menyukai satu sama lain. Meskipun aku juga tidak tahu kenapa kalian bertengkar kali ini. Aku hanya memperingatkanmu, Dev. Jangan mencari atau membuat masalah.” Dia bangkit, menepuk bahuku dan pergi menuju ruangan pribadinya yang terpisah dari kastil asrama.

Aku mengusap wajahku beberapa kali dengan frustasi. Ini benar-benar tidak bagus. Aku bahkan belum lama ini bisa berteman dan dekat dengan Ar, lalu sekarang segalanya terancam untuk rusak hanya karena perasaan sialan ini. Lagipula siapa yang sudah bilang bahwa aku menyukai Rena? Aku bahkan tidak yakin dengan perasaanku sendiri.

***

Aku menyusuri tepian danau, menunggu kedatangan Rena. Tapi tentu saja begitu dia datang, aku akan bersembunyi dalam kegelapan dan mengamatinya dari kejauhan. Aku bergerak menuju bayangan pohon ketika aku mendengar suara langkah kaki. Dan benar saja, tak lama kemudian aku sudah melihat Rena, lengkap dengan segala perlengkapan latihannya, busur, anak panah dan kadang kala pedang perak.

Dia melakukan beberapa pemanasan. Aku masih mengamati. Terus terang aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Hanya saja aku merasa khawatir meninggalkannya di dalam hutan ini ketika ada Noura di sekitarnya. Aku tidak percaya pada Noura dan aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukannya dengan berada jauh dari kastil utama. Dan itu semakin meyakinkanku untuk tidak meninggalkan Rena sendirian di sini.

Oleh karena itu, sudah hampir dua minggu ini aku selalu mengawalnya. Meski dia tidak akan pernah tahu. Lagipula aku juga tidak berharap dia tahu. Kami sudah tidak saling berbicara dan menyapa juga sama hampir dua minggu. Aku merasa sedikit menyesal. Segalanya terasa terlalu sepi. Ar tidak pernah menyinggung masalah antara aku dan Rena lagi. Sedikit banyak, aku merindukan suara Rena yang ceria menyapaku.

Aku mengalihkan fokusku ketika mendengar suara Rena.

“Deverend Corbis bodoh.”

Keningku berkerut dalam, apa yang dia katakan?

Dia melepaskan anak panahnya yang menancap tepat di tengah-tengah papan sasaran. Dia mengambil anak panah lain, “Deverend Corbis kepala batu.” dan dengan sepenuh hati dia melepaskan kembali anak panah itu, menancap tepat di samping yang pertama.

Maka seperti itulah, untuk setiap anak panah yang dilepaskannya, Rena akan memakiku. Aku tersenyum geli. Apa yang ada di pikirannya sekarang justru bertolak belakang dengan semua yang diucapkannya. Aku sudah menahan diriku untuk tidak membaca pikiran Rena selama ini. Namun sekarang, aku tidak bisa berhenti. Dan untuk setiap pikirannya, aku tersenyum. Entah kenapa, aku merasa bahagia.

“Dasar orang aneh. Deverend Corbis sombong. Si sombong bodoh. Memangnya dia punya hak apa untuk melakukan ini padaku. Dia pikir dia siapa. Hanya karena dia tidak menyukai dan aku menyukai, apa dia pikir dia berhak bersikap sejahat ini padaku. Deverend Corbis bodoh, kalau memang tidak suka, seharusnya bilang saja dan kita bisa tetap jadi teman. Bukannya menjauhiku seolah aku ini berpenyakit. Dasar orang aneh bodoh.”

Aku memandang Rena, kehilangan senyumku.

Dia… menyukaiku?

Rena melempar busurnya dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah, terduduk dengan  menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya diantara lututnya. Tapi aku bisa mendengar jelas isakannya yang begitu pelan.

Dia menangis? Tapi kenapa? Apakah karena.. aku tidak tahu kekuatan apa yang membuatku keluar dari persembunyianku. Hanya saja aku tidak bisa melihatnya menangis, di depan kedua mataku dan aku tidak melakukan apapun untuk menghentikannya air matanya.

Aku berdiri di depannya. Tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak pernah tahu harus bagaimana ketika menghadapi seorang perempuan yang sedang menangis. Lyra tidak pernah menangis, Viona juga tidak menangis, tidak ada anggota perempuan dalam kelompokku yang pernah menangis.

Pelan, aku melihat gerakan Rena dan isaknya terhenti. Dia mungkin merasakan keberadaanku. Dia mengangkat wajahnya yang basah, nyaris terjungkal—karena terkejut melihatku di depannya—jika saja aku tidak cepat meraih lengannya. Tapi bukannya berterima kasih, dia malah menyentakkan tanganku dan bangun dengan cepat.

“Ap-apa yang kau lakukan di sini?” teriaknya padaku sambil berusaha menghapus sisa-sisa air matanya dengan punggung tangannya.

Aku menatap Rena bingung, kenapa manusia tidak semudah pikiran mereka dalam hal mengatakan sesuatu. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan Rena, perasaan entah apa yang tadi membawaku menghampirinya, menghilang. Aku berbalik dan berjalan ke arah papan sasaran, mencabut semua anak panah yang tertancap di sana, “Malam semakin larut. Sebaiknya kau kembali ke kastil. Bukankah besok kau juga ada tugas sebagai heta?”

Rena tidak mengatakan apapun, dan aku juga tidak memaksanya menjawab. Aku mengulurkan seluruh anak panahnya yang sudah kukumpulkan kepadanya, memandangnya sebentar sebelum meninggalkannya. Begitu cukup jauh darinya, aku menghentikan langkahku dan memandang ke belakang.

Kenapa rasanya seperti ada yang salah?

***

“Menyusulnya? Kenapa aku harus melakukan itu?”

Noura mengangguk, “Perempuan itu dalam bahaya.”

Aku menatap Noura penuh selidik. Dia mengangkat bahunya, “Kupikir perempuan itu penting bagimu jadi kukatakan hal ini padamu. Aku bukan cenayang yang hobi mengatakan sembarangan rahasia alam kepada orang-orang.”

Aku masih diam ketika Noura kembali berkata, “Pergilah, Dave, atau kau akan sangat menyesalinya nanti. Kau tahu bukan, seperti apa perasaan sesal bagi seorang vampir? Itu akan menghantui dan menyiksamu lebih parah dari sinar matahari melakukannya pada tubuh kita.”

Noura memandangku. Tajam, tak berkedip. Sedetik kemudian, tanpa mengucapkan apapun, aku segera berlari pergi menuju tempat perburuan para anggota keluarga kerajaan. Entah angin apa yang membawa Noura memanggilku ke dalam hutan dan menceritakan kepadaku penglihatannya tentang apa yang akan terjadi pada Rena. Aku tidak ingin bertaruh apa Noura benar atau tidak jika yang menjadi pertukarannya adalah keselamatan Rena.

Aku bahkan tidak yakin benar atas apa yang kupikirkan ketika aku berlari cepat menyusul rombongan keluarga kerajaan yang sudah berangkat sehari lalu. Aku tahu dengan pasti dimana mereka, Ar memberitahuku detail lengkapnya ketika dia sendiri akan berangkat ke kastil istana untuk menemui Master kami. Dia mengkhawatirkan Rena, itu sudah pasti. Entah sederhana atau sulit tugas yang sedang dilakukan Rena, dia akan selalu mengkhawatirkannya.

Hampir setengah jam berlari dengan kekuatan penuh, akhirnya aku melihat panji-panji besar kerajaan manusia yang dipasang mengelilingi kemah raja dan para anggota keluarga kerajaan. Dan berdiri berpasangan di masing-masing pintu tenda, heta-heta, yang bertugas penuh pada keselamatan para anggota keluarga kerajaan. Aku meneliti seluruh dari mereka, berusaha menemukan Rena.

Aku memaki, setengah masih terengah-engah, mencari Rena dan nyaris putus asa ketika tidak menemukannya dimanapun. Aku begitu ketakutan. Sekali ini rasanya seolah aku benar-benar tengah kehilangan sesuatu yang akan membuat sebagaian hidupku tak berarti.

Tak menyerah, aku memindai satu demi satu pikiran-pikiran tak berguna milik nyaris semua manusia. Rena, Rena, Rena, Rena. Aku berusaha dengan begitu gila untuk menemukan nama itu dalam pikiran mereka.

“Kau yakin sudah melakukannya dengan benar? Aku tidak ingin ada kesalahan. Perempuan penganggu itu harus disingkirkan. Menjauh dari Ar.. menjauh dari Dev.”

Aku berhenti memindai. Percakapan penuh bisik dari salah satu tenda para heta membuatku gugup. Mereka membicarakan Rena? Apakah..

“Jangan khawatir, Debb. Aku sudah melakukannya dengan benar. Ketika rombongan raja kembali ke perkemahan. Kau akan mendengar berita kehilangan yang menyedihkan. Seorang perempuan heta dalam usahanya melindungi pangeran Messha. Heta bodoh sok tangguh.”

“Sherena Audreista.” Suara itu nampak puas, “Selamat tinggal.”

Akan kubunuh kalian. Janjiku sebelum melesat pergi mencari kemana perburuan itu dilakukan. Akan kubunuh kalian. Setelah semua urusanku dengan keselamatan Rena, aku akan membunuh kalian semua yang merencanakan ini.

***

“Lari..!!!”

Direwolves!

“Lindungi raja, lindungi para pangeran. Bawa mereka kembali ke perkemahan.”

Keriuhan mendadak terjadi. Rombongan perburuan raja kocar kacir tak tentu arah. Direwolves, rombongan direwolves kelaparan yang rupanya berada tak jauh dari mereka membuat kepanikan semakin tak dapat dihindari.

“Pangeran Messha, dimana pangeran Messha??”

“Kau!! Temukan pangeran dengan cepat.” Sylvia, heta perempuan yang merupakan tangan kanan pimpinan rombongan ini menunjuk Rena yang sedang berusaha menggendong pangeran Abra yang jatuh pingsan. Diantara semua keriuhan, Rena hanya mengangguk, menyerahkan pangeran dalam gendongannya ke arah Sylvia.

“Serahkan pedang dan anak panahmu padaku.”

“Apa?”

“Aku kehilangan pedang dan sebagian besar anak panahku. Apa kau pikir aku bisa kembali ke perkemahan dengan tangan kosong. Serigala-serigala besar itu kelaparan dan pangeran Abra dalam perlindunganku.”

“Tapi aku..”

“Kau membantahku, Sherena? Jika perlu kuingatkan, pangeran Abra adalah pangeran mahkota kerajaan kita. Putra kecil yang kelak akan menggantikan sang raja.”

Rena tidak yakin, namun dengan perlahan, dia menyerahkan pedangnya dan lebih dari separuh anak panah di punggungnya, “Tapi pangeran Messha, bagaimana aku melindunginya dengan sisa anak panah ini?”

“Itulah yang harus kau pikirkan. Lagipula kehilangan pangeran Messha tidak akan menjadi penting bukan? Dia hanya anak haram raja dari seorang pelayan kotor kerajaan, pangeran kecil pembuat onar.”

“Ka—“

Tapi Sylvia sudah melompat naik ke atas kuda hitam yang disorongkan anggota heta lain ke arahnya setelah terlebih dulu menaikkan pangeran Abra yang masih tidak sadarkan diri. Dia menarik tali kekang kudanya, membuat Rena melompat minggir agar tidak tertabrak.

“Kau bahkan tak membutuhkan pedang dan anak panahku.” Geram Rena kesal. Namun dia tidak bisa berdiam saja, dengan gesit dan cekatan, dia segera menyeruak membelah keramaian rombongan yang tidak mendapatkan kuda untuk segera kembali ke perkemahan. Kebanyakan mereka adalah para pelayan dan keluarga kerajaan yang jabatannya tidak terlalu penting disertai sebagian besar heta yang tingkatnya masih rendah.

“Pangeran Messha!!” Rena terus berteriak, sambil berusaha menerjang kerumunan panik yang tunggang langgang berlarian.

***

“Rena.”

Aku tidak melihatnya dimanapun. Aku tidak bisa mencium bau tubuhnya. Dia seolah-olah telah hilang. Direwolvesmenatapku dengan mata mereka yang tajam, bau tubuh serigala mereka membuatku mual. Ditambah beberapa tubuh terkoyak para pelayan dan heta-heta kurang beruntung yang tidak bisa menghindari rombongan serigala besar kelaparan ini.

Direwolves menggeram, mengusirku. Namun mereka tidak akan melakukan apapun selain itu. Binatang besar itu tengah kelaparan, dan daging manusia di depannya lebih menarik daripada seorang vampir. Lagipula sepertinya mereka tahu, seratus merekapun tak akan bisa membunuh kaum vampir. Mereka bukan lawan kami, kecuali ras jauh mereka mungkin, para werewolf.

Aku melewati kerumunan mereka dengan ketakutan besar. Bukan terhadap mereka tentu saja, tapi pada setiap mayat di tempat ini. Bagaimana jika salah satu daging yang dikunyah direwolvesgila dan kelaparan ini adalah tubuh Rena? Bagaimana jika ternyata aku sudah terlambat?

Aku mendengar isakan bocah kecil. Semakin jelas. Dan sebuah geraman tidak sabar. Tanpa menunggu, aku berlari ke asal suara dan melihat seekor direwolf yang terbesar yang pernah kulihat menggeram bersemangat ke arah sebuah gua kecil yang tidak bisa dilaluinya. Dari dalam lubang gua itulah aku bisa mendengar isak tangis tadi.

“Kita akan keluar, pangeran. Kumohon.. tenanglah.”

Senyumku terkembang, suaranya.

Mataku menyipit, memasuki pikiran direwolf itu. Tidak sulit bagiku membuat binatang ini menoleh ke arahku dengan geraman marah. Serigala besar bodoh, seringaiku ketika direwolf ini justru berlari ke arahku dengan nafsu membunuh yang berlebihan. Dia mungkin terlalu kelaparan untuk bisa mencium bau tubuhku dan menyadari bahwa aku bukan manusia.

Aku melepaskan tanganku. Butuh beberapa detik pergulatan yang yah, tidak terlalu menarik sebelum aku mematahkan satu batang pohon kecil dan menancapkan kayunya tepat ke dalam perut si direwolf. Cipratan darah membanjir ke tubuh dan wajahku, bunyi jatuh si serigala lebih parah lagi. Aku mundur, mengusap wajahku yang kini berbau amis dengan kesal. Aku, meskipun suka darah, juga tidak akan berpikir untuk mandi darah seperti ini.

“Dev—“

Dengan sigap, aku berlari ke arah Rena. Seorang bocah laki-laki kecil di depannya, aku membantu mereka keluar dari lubang itu. Rena merangkak dengan lemah, aku bisa mencium bau darahnya yang kukenal benar meski seluruh tubuhku berbau darah serigala yang baru saja kubunuh.

“Kau tidak apa-apa?” aku mengabaikan si bocah laki-laki yang menatapku takjub, setelah melihat direwolf raksasa yang sebelumnya nyaris membunuhnya. Fokusku hanya jatuh pada Rena. Apa dia terluka? Jika ya, apakah parah? Apakah dia takut?

Si bocah laki-laki merepet ke arahku ketika ada geraman-geraman lain. Aku berbalik, Rena mencengkeram bahuku, direwolves. Aku memaki tanpa suara. Aku sedang malas berolahraga kecil dengan mereka. Dengan enggan, aku memusatkan pikiranku. Menggunakan keahlianku dalam hal pikiran. Mereka menggeram bersama, makin keras dan maju mendekat. Aku semakin fokus. Satu, dua.. dalam hitungan yang ketiga geraman mereka menghilang. Meraka menatap kami, lalu tanpa melakukan apapun, segera berbalik ke arah lain.

“Apa yang terjadi?”

“Panggilan dari kawanan lain.” Jawabku asal, namun bocah ini sama sekali tidak puas. Tapi aku tak peduli, aku memandang Rena, “Kau baik-baik saja?”

Dia mengangguk tapi aku melihat dia menyentuh sebelah kakinya dengan sedikit menahan sakit, “Pangeran Messha harus diantar kembali ke perkemahan. Dia akan aman di sana. Dia juga terluka. Bawa dia kembali ke sana, Dev.”

“Dan kau?”

“Aku akan baik-baik saja.”

“Bodoh.” Makiku, aku beralih ke pangeran kecil yang mengamati kami, “Kau bisa berjalan?” dia mengangguk cepat, “Kalau begitu kau harus berjalan dan aku akan menggendong heta pelindungmu ini.”

“Ya.” Dia mengangguk lagi, makin bersemangat.

“Pintar.”

“Tapi Dev, seharusnya pangeran yang ka—“

“Tidak ada bantahan, Rena. Kumohon.” Kataku keras, mengalihkan pandanganku pada kakinya, “Kau terluka. Jangan berbohong.”

Dia diam, mengikuti arah pandangku. Aku bersyukur dia tidak membantah. Atau aku akan membuatnya pingsan agar aku bisa membawanya dengan tenang.

***

“Aku tak tahu kenapa kelompok direwolves itu mengubah rute mereka. Kami sudah memperhitungkan sebaik mungkin. Area perburuan kali ini harusnya bebas dari binatang-binatang berbahaya seperti mereka.”

Api unggun kecil di depannya bergoyang tidak tenang, angin berhembus agak kencang dan kami berdua berada di daerah terluar perkemahan. Dengan tenda kecil dan api unggun kecil. Aku benar-benar merasa marah pada perlakuan mereka. Beberapa heta memang mengajakku bergabung dalam tenda besar mereka yang hangat di dalam pusat perkemahan, tapi aku menolak tegas. Tidak tanpa Rena dan karena Rena jelas akan menolak jika aku mengajaknya ke sana, aku tetap di sini bersamanya.

Mendengarkan semua cerita dan keheranannya pada kejadian sore tadi. Aku hanya diam. Meskipun aku tahu benar apa yang terjadi. Bukan hal sulit untuk memancing direwolves kelaparan menuju arah yang salah. Dan dengan melihat korban yang rupanya hanya berasal dari pelayan dan prajurit rendahan tanpa melukai satu pun kalangan atas yang ikut dalam perburuan, aku tahu benar hal busuk ini sudah dirancang dengan baik.

Tapi apakah hanya demi membunuh Rena?

“Aku benar-benar tidak menyangka kau ada di sini, Dev. Jika tak ada dirimu, mungkin aku dan pangeran Messha sudah menjadi santapan petang direwolf tadi. Direwolf benar-benar punya kesabaran besar dalam memburu mangsanya. Dan jika serigala tadi terus mengali, mungkin butuh tak lebih dari dua jam sebelum dia bisa masuk ke gua kecil tadi.”

Aku tersenyum, “Kau tidak akan pernah jadi makan malam serigala. Percayalah.”

Rena mengangguk, “Bagaimana kau bisa kemari?”

“Aku mengkhawatirkanmu.” Ucapku jujur, “Sebuah firasat dan aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

Rena terdiam, matanya yang coklat indah memandangku. Angin berhembus kencang, dia membenarkan letak jubahnya dengan gugup. Dia tidak menanggapi apapun. Aku memejamkan mataku sesaat sebelum aku bangkit, mengitari api unggun dan duduk di samping Rena.

“Maafkan aku.”

Suara angin mengaburkan suaraku. Rena menoleh, angin mengibarkan helai-helai rambutnya. Aku menyentuhnya, menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dan merasakan pipinya yang dingin. Namun darahku berdesir dengan aneh. Dengan dua matanya yang menatap ke arahku, aku tidak bisa lagi menghindari semua ini.

Aku yakin, hanya dengan menatap matanya diantara cahaya api unggun yang lemah, aku bisa mempercayai apa yang sebenarnya ada di dalam kepala dan hatiku. Aku tahu. Itulah kenapa aku bisa menjadi sangat takut ketika Noura berkata bahwa mungkin Rena sedang dalam bahaya. Itulah alasan kenapa aku mengejarnya sampai di sini.

“Maafkan aku.” Aku mengucapkan itu lagi, telapak tanganku menempel di pipinya. Mengusapnya lembut, membuatnya menghangat meski aku tahu aku ini berdarah dingin, “Maafkan a—“

Suaraku menghilang. Dunia di sekitarku menghilang ketika bibir Rena menempel lembut di bibirku. Dia menarik wajahnya, rona merah mewarnai pipinya. Dia duduk menjauh, menundukkan kepala. Sementara aku masih membeku seperti keledai bodoh di tempatku.

“Semoga tidak ada yang melihatnya. Kita satu tim, Dev. Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku pikir kau perlu tahu itu. Aku..” Rena masih bicara tanpa mengangkat wajahnya, “Aku menyukaimu.”

“Kakimu masih sakit?”

“Eh?” Rena menoleh, memandangku dengan tidak mengerti. Lalu dia menggeleng, “Tidak sesakit tadi. Roe sudah mengobatiku.”

Aku mengedip, menyentuh tangannya dan membantunya berdiri. Aku melihat sekeliling kami. Tidak ada yang memperhatikan kami. Dengan pelan aku menarik Rena mengikutiku. Kami memasuki hutan dan kegelapan langsung memerangkap kami. Bahkan cahaya bulan saja tidak bisa memasuki hutan ini.

Kami terus berjalan. Terus terang aku juga tidak tahu mau membawanya kemana. Hanya saja aku berharap aku bisa menemukan sesuatu yang bisa kuperlihatkan padanya. Aku tersenyum, kami berhenti. Tepat di tanah yang disirami cahaya bulan. Aku membimbingnya duduk. Kami bersandar pada batang pohon yang sama, terpesona pada langit yang kami tatap. Bulan bersinar penuh dengan ribuan bintang yang dibingkai siluet ranting dan dedaunan.

“Indah sekali.”

Aku mengangguk, “Kupikir aku bakal menemukan danau atau entah apa yang bisa kutunjukkan padamu di sini. Tapi cuma ada langit dan hutan, dan.. kita.”

Rena menoleh cepat, pipinya masih bersemu merah. “Apa yang kau mau, Dev?”

Aku tertawa kecil, “Kita berbaikan?”

Dia mengangguk, “Tentu saja. Bukankah tadi a—“

“Aku mencintaimu.”

“Dev..”

Aku menyentuh tangannya. Mengenggamnya erat. “Aku berusaha membohongi diriku sendiri untuk tidak mengakui perasaan ini. Tapi aku tidak bisa. Aku menyukaimu. Lebih besar dari keinginanku untuk mematuhi aturan yang ada.” Sherena menatapku tanpa kedip. Wajahnya menyiratkan segala kebahagiaannya. Aku menyentuh lembut pipinya dan membawanya mendekat ke arahku.

“Aku mencintaimu, Sherena.”

Lalu dengan lembut aku menciumnya. Menumpahkan semua perasaan yang selama ini kusembunyikan. Perasaan yang kutentang dengan keras. Namun sekarang, dengan ciuman dan semua sentuhan ini, aku tahu aku tidak akan bisa lagi mengingkari semuanya. Aku mencintai perempuan ini. Perasaan ini menjadi sekuat yang bisa kurasakan dengan benar.

Ini akan sulit. Aku tahu pasti itu. Aku jatuh cinta pada makhluk yang salah. Manusia. Mereka menua dan aku tidak. Mereka demikian rapuh dan aku.. Aku memeluk erat tubuh Rena. Merasakan betapa lemahnya manusia. Aku mengusap rambutnya lembut. Tidak apa-apa. Sementara ini aku yakin tidak apa-apa. Perasaan ini, perbedaan kami. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya sekarang. Dengan Rena dalam dekapanku, aku tahu aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.

 << Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

11 Comments

  1. yeayy,, akhr'y update jg (cengengesan ga jelas baca scene rena-dev), aq pkr gara2 kasus plagiat kmrn, author ga bakal upload cerita ini lagi, memang plagiat itu ibarat iri tanda tak mampu.. (lirik sinis). tapi , tapi, tapi, aq msh menunggu remember us reven-rena, kpn y d upload (tarik-tarik ujung baju author), ttp smgt berkarya y thor
    Nia aka sherlocker

  2. Brasa rena selingkuh ini..pdhl kan engga ya,he…abaikan aja,lg kangen ma reven aja kok…keep happy writing…semangattt…

  3. Awalnya emang kepikiran begitu. Tapi ternyata rasa cintaku pada blog ini mengalahkan kemarahanku pada kejadian itu. Well, life must go on, right? Hohoh

    Next ya, edisi Rena Revennya. 😀

  4. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.