Another Story – Perempuanku

“Kau yakin kita harus mengatakan ini pada Ar?”

Rena mengangguk yakin, wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kekhawatiran sedikit pun.

“Aku ingin Ar yang pertama tahu tentang kita, Dev. Kami tidak pernah menyembunyikan sesuatu satu sama lain. Jika aku tidak mengatakan hal penting seperti ini pada Ar, ini akan sangat tidak adil untuknya. Aku tidak bisa.”

Aku mengerutkan kening. Memprotes perempuan di depanku ini sepertinya akan percuma. Dan keyakinannya tentang Ar membuatku entah mengapa jadi sedikit sebal. Kenapa dia malah berkata dengan gigih seperti itu tentang laki-laki lain di depanku?

“Aku masih tidak yakin.”

Kedua bola mata Rena menegas. Matanya memicing, “Aku tetap akan memberitahu Ar.”

“Memberitahu apa?”

Kedua kepala kami sama-sama memutar dan Ar sudah di sana, berdiri dengan tangan tersilang, bersandar di pintu ruang pribadi Rena. Kedua alisnya terangkat, “Memberitahuku apa memang?” ulangnya sambil berjalan dan duduk di samping Rena.

“Kau baik-baik saja?” matanya yang cokelat gelap mengamati Rena dari atas ke bawah dan kembali lagi, “Aku mendengar sesuatu terjadi ketika kau dalam tugas. Aku buru-buru kemari dan ternyata Dev sudah di sini. Selain itu—“matanya beralih memandangku, “Apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak seharusnya berada bersama Rena dalam tugasnya. Aku mendeng—“

“Ar.” Potong Rena buru-buru, “Kurasa aku harus menjelaskan sesuatu yang penting kepadamu.” Ucapnya serius. Rena menatapku sekilas, mengangguk. Aku, jelas tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia akan mengatakan semuanya pada Ar. Kuharap tisak semua. Ada beberapa bagian yang harusnya hanya khusus untuk kami berdua, bahkan jika Ar—aku benci mengatakan ini—adalah orang yang teramat berharga buat Rena.

“Dev menolongku di sana. Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba berada di sana. Tapi aku tak pernah sebersyukur ketika melihatnya saat itu. Jika tidak ada Dev, kurasa aku sudah mati.. menjadi santapan Direwolves.”

Direwolves?”

Rena mengangguk, “Dan bukan hanya sekali ini saja Dev melakukannya. kau jelas tahu itu Ar. Dan..”

Ar memicing.

“Selain itu, aku ingin memberitahumu sesuatu. Aku harap kau tidak akan marah Ar atau bahkan aku harap kau bisa mendukung kami.”

“Kami?”

Rena menghela nafas.

Aku mulai tidak sabar. “Aku mencintai Rena, Dev. Lebih tepatnya kami berdu—“

Ar bangkit dengan cepat, menatapku dengan tajam. “Aku sudah memperingatimu tentang hal ini, Deverend Corbis.” Bentaknya yang mengejutkanku. Memangnya dia ini siapa sampai dia bersikap seperti itu hanya karena masalah ini. Aku sudah akan ikut berdiri, namun Rena lebih cepat melakukannya. Dia menyentuh kedua bahu Ar, membuatnya nampak sedikit tenang meski tatapan Ar ke arahku masih nampak seolah dia akan menelanku. Kurasa ini bagian Rena, jadi aku tak akan ikut campur dalam urusan ini dulu.

“Ar dengarkan aku. Aku tahu peraturan yang berlaku, tapi kumohon Ar. Aku mencintai Dev. Aku membutuhkan dukunganmu.”

Aku tersenyum kecil. Entah kenapa, setiap kali Rena mengucapkan kalimat itu. Dalam situasi apapun, entah menahan kesal atau amarah seperti sekarang, aku mendadak akan merasa damai. Ada sebuah kelegaan dan perasaan.. bahagia.

“Rena!” suara Ar meninggi.

“Ar.. kumohon. Ini pertama kalinya aku benar-benar menginginkan seseorang seperti ini. Dan aku tidak akan menyerah hanya karena peraturan ini. Aku—“

Cukup sudah. Aku menarik tangan Rena, membawanya mundur dan aku melangkahkan kaki ke depan. Menghadapi Ar yang wajahnya semakin memerah karena marah.

“Entah apa pendapatmu tentang ini. Aku tidak peduli. Aku akan tetap mempertahankan Rena di sampingku. Aku bersumpah kau tidak menyesal jika kau mau membantu kami menyembunyikan ini dari kelompok. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membuat Rena bahagia. Tapi jikapun kau tidak menyetujuinya, Ar. Kukatakan sekali ini, aku tidak peduli. Aku akan tetap bersama dengan Rena.”

Kedua bola mataku menatap Ar. Menguncinya dan berusaha meyakinkannya sebaik mungkin. Sejujurnya, sama seperti yang kukatakan pada Ar, aku tidak peduli jika dia setuju atau tidak dengan apa yang terjadi denganku dan Rena. Tapi, karena bagi Rena ini adalah hal yang penting, maka mau tak mau ini juga menjadi hal yang penting untukku.

Ar mendesah. Mundur perlahan hingga akhirnya dia terduduk di pinggiran tempat tidur Rena. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Aku tidak bisa, Rena.”

Rena melepaskan pegangan tangannya padaku dan berjalan cepat ke arah Ar. Dengan setengah berlutut, dia mengenggam tangan Ar.

“Aku hanya memiliki kau, Ar. Dan hanya karena aku memiliki Dev sekarang, bukan berarti aku harus kehilanganmu, bukan? Aku tidak bisa kehilangan salah satu dari kalian. Aku membutuhkan kalian. Berdua.”

Ar menatap Rena, menghela nafas berat, “Kau tahu apa yang terpenting dari semua ini, Rena.” Rena menggeleng, “Kebahagiaanmu. Aku tidak bisa begitu saja melepas dirimu ke pelukan orang lain seolah aku tidak memiliki tanggung jawab apapun atasmu, sementara kita berdua tau benar apa yang sudah kujanjikan pada ibu. Kau, dan segenap perlindungan yang bisa kuberikan untukmu.”

“Aku bukan anak-anak lagi, Ar!”

“Aku tahu. Dan kurasa kau juga tahu semua resiko dari pilihanmu bukan? Aku tidak bisa bilang aku akan membantu sepenuhnya, tapi jika yang kau minta aku diam. Maka ya, itu yang akan kulakukan.”

Aku tersenyum kecil, lihat siapa yang mengalah akhirnya.

“Dan kau Dev.” Ar menatapku dengan mata tegas tanpa berkedip satu kali pun, “Jika kau melakukan sesuatu yang buruk pada Rena. Kau akan menghadapiku sebagai musuhmu. Ingat itu.”

Aku mengangkat kedua bahuku. Tak mengatakan apapun. Aku sudah mengucapkan semua jawaban atas itu seblumnya dan kurasa Ar paham. Dia bangkit dan tidak mengatakan apapun selain melangkah pergi meninggalkan kami dan pintu tertutup di belakangnya.

Rena menoleh ke arahku, “Apakah dia baik-baik saja?”

Aku tertawa kecil, “Aku seperti melihat seorang ayah yang ketakutan setengah mati melepaskan anak gadisnya ke tangan pemuda pertama si gadis.”

***

Segalanya berubah sejak saat itu. Duniaku. Semuanya. Aku merasakannya. Sesuatu yang dulu kutolak mentah-mentah untuk hadir dalam kehidupanku. Aku memilikinya sekarang. Cinta. Belahan jiwa. Seseorang yang padanya akan kuberikan seluruh hidupku. Dan aku melihatnya sekarang, di antara cahaya bulan yang menerobos ranting-ranting, wajahnya yang tegas, fokus, dan sebuah busur di tangannya.

Aku melihat alisnya mengerut, melihat hembusan nafasnya. Dan dengan melihatnya, untuk pertama kalinya aku merasa.. hidup. Hidup yang benar-benar hidup. Jadi seperti inikah rasanya? Inikah yang dirasakan Lyra pada Damis? Inikah yang dirasakan Michail pada Viona? Menemukan bagian dari dirimu hidup pada orang lain.

Orang lain?

Mendadak kenyataan itu membangunkanku dari lukisan indah alam bawah sadarku. Orang.. manusia. Rena.. mortal. Sama seperti mortal lainnya, dia memiliki usia hidupnya, perubahan wujud fisik dan kematian yang cepat. Lalu aku? Immortal. Sedikit jiwa. Tak berubah. Aku.. entah seribu tahun berlalu pun akan seperti ini.

Sementara Rena, satu sabetan pedang saja dia mungkin akan mati. Satu panah saja dia mungkin akan terluka parah dan mati.

“Dev—“

Suara lembutnya membuatku menoleh, dan aku melihatnya mendekat ke arahku.

“Kau baik-baik saja? Ada apa?”

Aku menggeleng, tidak menjawab dan malah melontarkan pertanyaan, “Kau sudah selesai?”

“Sampai aku melihat ekspresi aneh di wajahmu, aku rasa sudah. Sekarang jawab pertanyaanku, Deverend Corbis.” Ucapnya tak terbantah, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Apa tidak ada pilihan diam?”

Dia menggeleng tegas, “Aku tidak suka melihat ekspresi itu. Seolah kau memikirkan sesuatu yang benar-benar buruk. Apa ada masalah Dev?”

Jadi sekarang dia beralih menjadi pembaca ekspresi? Aku tersenyum dan memeluknya, “Aku takut kehilanganmu. Mendadak itu terlintas di pikiranku tadi. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu ketika kau berada dalam tugas? Bagaimana jika entah karena sesuatu hal. Aku kehilanganmu? Apa jadinya aku, Rena?”

Rena diam, namun semakin mendekatkan dirinya padaku. Aku membuat jantungku berdetak. Biar dia bisa rasakan bagaimana aku hidup untuknya. Aku membiarkan nafasku berhembus menyentuh helaian rambut hitamnya yang gelap.

“Kau tidak akan kehilanganku Dev.”

Aku menghela nafas. Sekarang ya. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Aku mendekapnya makin erat. Merasa takut untuk pertama kalinya.

***

“Noura?” Reven memicingkan matanya, “Untuk apa kau mencarinya? Apa dia melakukan sesuatu yang—“ dia diam, memandangku tajam, “Berbahaya?”

“Tidak.” Jawabku tegas, “Aku hanya butuh sedikit berbicara dengannya.”

“Dia tidak di sini.” Suara Reven cepat dan seolah mengusirku dari ruangannya. Dia sudah mendapatkan semua informasi dariku dan sekarang, yang diinginkannya aku pergi begitu saja?

“Ini waktunya untuk kembali ke kelompoknya. Dia pergi bersama James kemarin petang jika kau memang ingin tahu.” Ucapku lagi begitu dengan tatapan pendek dia masih melihat aku berdiri tak jauh darinya.

Aku berbalik, pergi tanpa satupun kata. Meninggalkan ruangan Reven. Entah kenapa aku selalu tidak menyukai makhluk satu itu. Ada perasaan aneh setiap kali aku melihatnya, seolah dia rivalku atau apa. Meskipun aku tidak tahu apa alasannya. Mungkin karena sifatnya yang terlalu arogan dan bawaan naturalnya yang menyebalkan.

“Deverend Corbis!” suara ramah itu mengagetkanku ketika aku sampai di aula utama kastil ini, dan aku mendongak. Melihat sosok Rosse di undakan tangga. Dia bergerak lembut menuruni satu demi satu anak tangga, “Apa yang membawamu ke sini?”

Aku tersenyum, “Sebuah tugas dari Reven.”

“Ah.” Dia mengangguk, “Dan apakah kau sudah selesai menemuinya?”

“Beberapa saat yang lalu.” Aku mengamati Rosse yang telihat lebih bercahaya dari biasanya. Satu-satunya yang kusukai jika datang ke sini adalah dia. Rosse yang terbaik dari semua anggota kelompok utama, meskipun kusesali bagian dari kenyataan bahwa dia adalah milik Vlad. Rosse seharusnya berakhir lebih dari ini. Dia patut mendapatkan yang lebih baik.

“Kau terlihat bahagia.” Ucapku langsung.

Kedua alisnya terangkat, “Apa terlihat begitu jelas?” dan melihat ekspresiku, dia tertawa ringan. “Nah kau tidak terburu-burukan, Dev? Keberatan jika menemaniku berjalan-jalan sebentar.”

Aku menekuk sikuku, “Tidak akan pernah kekurangan waktu jika untukmu.”

“Ah, Corbis muda.” Dia tersenyum dan mengalungkan tangannya pada sikuku dan kami berjalan pelan keluar kastil. Kami berbicara banyak hal sepanjang jalan sampai dia menghentikan langkahnya di padang bunga milik Noura.

“Apa yang ada di pikirannya sehingga dia membuat tanah ini berwarna secerah ini?”

Bunga-bunga berwarna kuning memenuhi pandangan kami. Bergoyang-goyang karena tiupan angin. “Noura selalu sulit untuk ditebak.” Rosse bergumam lagi.

“Apakah ada yang salah dengannya akhir-akhir ini?” tanyaku hati-hati jika menebak dari nada suara Rosse. Rosse menatapku sekilas sebelum dia mengangguk.

“Beberapa hari lalu Vlad begitu murka karenanya. Jika tidak ada Reven, aku khawatir Noura akan berakhir dengan sangat buruk. “

“Manusia serigala lagi?”

Rosse mendesah, “Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik dengan masalah ini. Hanya hal tidak berguna yang membuang-buang tenaga. Membuat dia seringkali masuk dalam situasi yang membahayakan dirinya. Merencanakan sesuatu yang tidak biasa dan mematikan sementara kami, berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya aman dan terlindungi. Kau tahu? Menyusup ke dalam kelompok manusia serigala, berbaur dengan mereka. Aku sama sekali tidak mengerti.”

Mau tidak mau aku cukup terkejut. Alisku tertaut dan aku harus mengakui bahwa Noura gila. Vampir satu itu benar-benar mencari kematiannya dengan cara yang.. tidak biasa.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah.” Dia tertawa, “Seberapapun kami membuat Noura tak bisa kemana-mana tanpa pengawasan kami, dia selalu menemukan celah untuk pergi dan menghilang dari perlindungan. Kehilangan dia selama beberapa minggu, bulan. Lalu dia muncul lagi seolah tanpa ada kesalahan di pundaknya. Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana dia masih bisa tertawa dan memeluk Reven dengan hangat sementara Reven dan kami sudah nyaris mati karena marah padanya.”

Tipikal Noura. Aku mendengarkan Rosse. Dia mencintai Noura. Semua orang di kelompok utama, kecuali sang pemimpin, Vlad, menyukai Noura. Itu sudah jelas. Meskipun dia keras kepala dan pemberontak handal. Dia selalu punya alasan untuk membuat orang-orang ini kembali padanya dan menanyakan apa dia baik-baik saja.

“Aku bertemu dengan Noura tak lama ini. Di dekat kastil para slayer.”

Kepala Rosse berputar ke arahku, dia mengangguk, “Aku juga mendengar hal itu. Maafkan kami, karena harus menambah pekerjaanmu dengan mengawasinya juga ketika dia berada di sekitar teritorial tugasmu, Dev.”

“Sebuah kehormatan bisa melindungi calon ratu kita, Rosse.”

Rosse tertawa kecil, “Mengejutkan sekali bukan. Ketika mengetahu calon ratu kita adalah seseorang seperti itu.”

Aku tertawa, “Kurasa aku lebih menyukai kenyataan ini, Rosse. Aku tidak bisa membayangkan jika memiliki calon ratu lain yang seperti Lucia misalnya. Itu akan sedikit membosankan.”

Rosse mengangguk-angguk setuju dan kami melangkah lagi dengan banyak obrolan lain yang kadang mengejutkanku.

***

Aku merasakan kehidupan itu ketika aku bersamanya. Merasakan dia di dekatku, tertawa dan mendengar suaranya yang mampu membiusku. Aku tertawa, Rena menepuk bahuku dan terkekeh. Ar memandang kami, tersenyum kecil meski aku tahu sesungguhnya dia ingin tertawa atas cerita Rena tentang apa yang dilakukan seorang heta junior agar bisa menarik perhatian Ar.

“Kau percaya itu?” Rena masih tertawa lepas.

Ar menelan makanan yang dikunyahnya dengan sulit, dia menggeleng, “Aku tidak percaya kau melakukannya.”

“Oh sungguh, Ar. Kau harus lihat bagaimana wajah heta junior itu.” Dia tertawa, “Dia benar-benar menyukaimu. Kau tidak ingin memberikan respon?”

Kedua bahu Ar terangkat. Rena diam dan memicingkan matanya, “Membosankan. Kenapa kau selalu bersikap seperti itu pada mereka. Setidaknya pilih satu dan jangan membuat mereka terus bersaing dan melakukan hal-hal konyol hanya untuk bisa dekat denganmu.”

“Mungkin Ar sudah punya orang yang dia suka.”

“Astaga!” Rena menatapku, sebelum dengan cepat memutar kepalanya ke arah Ar yang melemparkan tatapan aneh kepadaku, “Kau?? Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu. Apa itu benar Ar? Kau sudah punya seseorang??”

Ar menggeleng. Tapi Rena seolah tidak peduli, “Dan kau tidak menyeritakannya padaku?”

“Aku tidak bilang seperti itu.”

“Tsk tsk, kau membuatku terluka.”

Aku tertawa melihat perdebatan mereka.

“Aku belum memilikinya.” Ar semakin protes, “Ini gara-gara ocehanmu, Dev.” Sebalnya.

Kedua bola mata Rena melebar, “Belum memilikinya??” dia nyaris membuat semua orang di aula makan ini menoleh ke arah kami karena suaranya. Tapi Rena sama sekali tidak terlihat merasa bersalah meski kali ini dia merendahkan nada suaranya, setengah terdengar mengancam, “Ceritakan padaku, Ar.Shel. Siapa dia atau aku tidak akan mau bicara lagi denganmu se-la-ma-nya.”

“Ren—“

“Tidak ada pengecualian lagi. Ceritakan padaku.” Rena semakin tegas.

Aku menatap perubahan ekspresi Ar. Sama seperti Rena, aku juga penasaran. Selama mengenalnya, aku bahkan tidak merasa bahwa dia tertarik dengan perempuan kecuali Rena. Agak mengejutkan ketika mengetahui bahwa dia memiliki—atau belum memiliki katanya—seseorang yang disukainya. Ini akan menarik. Aku juga ingin tahu perempuan seperti apa yang berhasil membuat slayer tangguh ini jatuh hati. Aku hanya bisa menunggu karena sejak pertama melihat Ar sampai sekarang, aku tetap tidak bisa membaca apa yang ada di dalam kepalanya. Sedikit mengecewakan memang.

“Kau tidak mengenalnya.” Ar menjawab dengan hati-hati.

“Dan kau bisa mengenalkan kami kalau begitu.” Sergah Rena cepat.

Ar menghela nafas panjang, “Apa kita tidak bisa menyelesaikan ini sampai di sini? Kurasa aku harus bertemu dengan Master.”

“Tidak!” setegas tatapan matanya, Rena menggeleng.

“Sherena Audreista, kadang aku lupa betapa keras kepalanya kau.”

Rena mengangkat alisnya, “Ceritakan. Ayolah Ar..”

Ar melihat ke arahku, aku mengangkat kedua bahuku, “Aku tidak bisa bertindak apa-apa untuk masalah ini. Kau tahu seperti apa Rena kalau dia menginginkan sesuatu.”

Rena melirik ke arahku dan tersenyum, “Terima kasih Dev.”

“Kalian benar-benar.” Ar membuang nafas, menyerah, “Baiklah.”

Rena diam. Aku diam. Kami siap mendengarkan Ar yang terlihat menerawang, “Dia perempuan yang mengagumkan. Cerdas, cantik, penuh energi dan… keras kepala. Ada sesuatu di dalam matanya yang membuatku tidak bisa berpaling dari wajahnya ketika kami bertemu. Dia penuh dengan kejutan. Selalu membuatku diam dan hanya ingin mendengarkannya. Dia…” Ar terdiam, aku bisa melihat ada sesuatu yang salah ketika ekspresi di wajah Ar mengeras, matanya keruh dan kemudian dia menatap Rena. Mencoba tersenyum, “Dia bukan seperti kita.”

“Bukan slayer ataupun heta?”

Ketika Ar sudah nyaris membuka mulutnya untuk menjawab, seseorang menepuk bahunya. Membuyarkan semua konsentrasi kami.

“Kalian terlihat serius sekali.” Edge menatap kami bertiga bergantian, “Aku tidak menganggukan?”

Ar tertawa, “Tidak sama sekali. Kau justru menyelamatkanku.”

“Ar!” Rena protes, tapi Ar mengabaikannya dan menatap Edge, “Ada apa?”

“Master membutuhkanmu. Kupikir akan ada tugas untukmu atau timmu ini.”

Ar beralih pada Rena, “Nah kau dengar, nona manis. Aku harus pergi.” Dia menahan tawanya ketika Rena menampilkan wajah kesal dan sama sekali tidak menjawab ketika akhirnya Edge dan Ar pergi meninggalkan kami.

“Menyebalkan.” Katanya begitu kami hanya tinggal berdua.

Aku menyentuh bahunya, “Kau bisa menanyaka hal ini lagi pada Ar kalau dia sudah tidak sibuk dengan Master.”

“Kalau Master memanggilnya melalui Edge, artinya dia akan pergi untuk beberapa saat. Dan ketika dia kembali, aku bahkan tidak tahu apa aku akan ingat menanyakan hal ini lagi atau tidak. Bisa saja dia nanti mengelak dan mencari alasan. Asal kau tahu, Dev.. Ar itu bisa sangat menyebalkan kalau dia mau.”

Aku tidak mengatakan apapun dan hanya mengamati wajah Rena. Aku selalu suka melihat perubah ekspresi di wajahnya. Kali ini dia terlihat serius, kening berkerut terlihat memikirkan sesuatu. Aku menahan diriku untuk tidak membaca pikirannya. Kadang menyenangkan mendengarnya langsung dari Rena. Dia hampir tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Apa yang ada di dalam kepalanya selalu meluncur melalui bibirnya tak lama kemudian.

“Dev—“

Nah apa kubilang.

“Menurutmu siapa perempuan itu. Perempuan yang membuat Ar terlihat begitu jatuh cinta seperti tadi. Apakah menurutmu dia bohong ketika mengatakan pada kita bahwa perempuan itu bukan dari kelompok kita, maksudku dia bukan heta atau slayer?”

“Dia tidak bohong.” Aku menjawab pelan. Jika ada perempuan seperti itu di kelompok ini, aku akan tahu itu dengan mudah. Aku tidak bisa mengatakan bagaimana, tapi aku tahu. Tak banyak kebaikan tersisa pada perempuan di kelompok ini.

Rena mendesah, “Ar menyebalkan. Aku tidak akan melupakan ini. Dia akan memberitahuku nanti. Pasti.”

Aku mengangguk, “Aku juga penasaran seperti apa dia.”

Rena menatapku dengan aneh, “Kau tidak boleh melirik ke perempuan lain.” Dia berkata dengan sangat pelan. Menatapku penuh ancaman.

Kau milikku, Deverend Corbis.

Aku tertawa kecil. Kenapa dia tidak mengatakan yang satu ini dan hanya menyimpannya di kepalanya?

Aku menunduk, pura-pura mengambil sesuatu dari bahunya dan berbisik, “Aku milikmu.”

Wajah Rena merona merah dan dia cepat-cepat menjauh dariku. Mengitari sekitar kami dengan tatapan gugup, “Dev..” desisnya. Tapi aku hanya mengangkat bahuku. Aku tidak peduli jika ada yang mendengar kami.

“Aku.. aku harus pergi. Ada jadwal melatih heta junior.” Dia bangkit dan meninggalkanku terburu-buru, masih dengan wajahnya yang memerah. Aku melambaikan tangan, “Sampai jumpa.”

Dan dia tidak menjawab dan semakin mempercepat langkahnya. Aku tersenyum.

Perempuanku…

***

<< Sebelumnya

Mau Baca Lainnya?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.