Another Story – Peringatan

“Dev?”

      Noura menatapku dengan terkejut. Hamparan bunga-bunga berwarna kuning di belakangnya membuatnya terlihat sedikit aneh dan gelap. Aku hanya mengangguk ketika dengan gaun warna hitamnya yang jatuh hingga ke tanah, dia mendekat ke arahku.

             “Mendadak sekali. Reven sedang tidak di sini. Tapi mungkin kau bisa bertemu dengan Damis atau Russel di dalam.” Dia menatapku menyelidik, “Dan tentu saja kau bukan ke sini untuk bertemu dengan Vlad atau Rosse bukan?”

              Aku mengabaikan pertanyaannya dan menatap ke hamparan bunga-bunga kuning dengan kelopak kecil yang memenuhi padang luas ini, “Kenapa sekarang warnanya kuning?”

 Noura mengikuti arah pandangku, lalu dia hanya mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku hanya merasa ini bunga yang cocok untuk musim ini. Lagipula mereka juga bisa tumbuh dengan baik dengan cuaca di sini.”

              Aku hanya mendengus. Selalu omong kosong tidak penting. Aku ingat, beberapa kali kunjunganku ke sini, aku selalu melihat warna dan jenis bunga yang berbeda tumbuh di padang ini. Semua tahu bahwa Noura yang menyemainya. Mungkin dia terlalu bosan tinggal di kastil ini sehingga melakukan hal-hal kurang kerjaan seperti itu.

            “Semua baik-baik saja, Dev?” tanya Noura tiba-tiba.

             Kuputar kepalaku menatapnya, dia hanya memandang lurus ke depan dengan wajah datar. Aku tidak suka ekspresi Noura sekarang dan juga nada pertanyaan yang dilontarkannya, aku merasa ini bukan petanda baik.

             Dia adalah penglihat.

             “Kau kesini bukan berkaitan dengan tugasmu bukan?” dia bertanya lagi, atau sebenarnya, mmbuat pernyataan lagi. Aku hanya terus memandangnya dan menunggu apa yang akan dikatakannya.

             “Tidak perlu cemas. Kau tidak akan pernah menyesali hal ini.” Noura menoleh dan tersenyum padaku, “Kau ingin menanyakan sesuatu?”

              “Apa yang kau lihat?”

              “Apa itu penting bagimu?” dia menghela nafas panjang, “Apa yang kulihat bukanlah sesuatu yang bisa kukatakan dengan mudah. Masa depan, adalah sesuatu yang rapuh Dev. Tidak konstan. Dengan satu inchi perbedaan, kau bisa merubah semuanya. Tapi bagaimana jika perubahan yang terjadi membuat dampak yang besar pada kehidupan lain?”

              “Jangan bersikap sok bijaksana. Kau bukan orang suci, Noura.”

              Dia tertawa, “Tentu saja.” Katanya kemudian sambil mengangguk, “Setidaknya biarkan aku berkata benar kali ini. Memberi nasehat kepada vampir keras kepala sepertimu jelas kesenangan tersendiri.”

              Aku memutar bola mataku. Sepertinya pilihanku datang ke kastil adalah pilihan bodoh. Dan datang ke padang bunga ini lalu bicara dengan Noura, adalah yang terbodoh dari yang terbodoh. Aku berbalik tanpa mengatakan apapun. Kurasa lebih baik aku kembali ke kastil pelatihan. Di sana lebih baik daripada mendengarkan omong kosong perempuan ini.

            “Kau tidak perlu ragu, Dev. Menyukai seseorang bukan hal yang buruk.”

             Langkahku terhenti. Aku berbalik dan Noura menatapku dengan matanya yang mengisyaratkan sesuatu, “Bahkan jika dia bukan bagian dari kita, itu tetap bukan hal yang buruk.”

             Keningku berkerut dalam.

             “Dan sebelum pergi, kurasa kau perlu masuk ke dalam. Bantulah Lyra dan Damis menyelesaikan pertengkaran mereka. Aku tidak ahli dalam masalah itu, dan suara-suara teriakan mereka berdua menganggu pendengaranku. Aku ingin berbaring di padang ini dengan tenang.” Dia berbalik dan berjalan menjauh, ke tengah-tengah padang, “Ah andai saja pendengaranku tidak sesensitif ini.” aku masih bisa mendengar gerutuannya.

           “Bahkan jika dia bukan bagian dari kita, itu tetap bukan hal yang buruk.”

            Aku menatap punggung Noura. Dia tahu.

            ***

            “Memangnya apa lagi sekarang?”

             Aku memandang Lyra dengan kesal. Menyeretnya keluar dari kastil dan kembali ke rumah kami benar-benar membutuhkan energi yang besar. Untungnya aku masih cukup bersabar dengan tingkahnya yang semakin liar dan tidak bertanggung jawab. Bagaimana mungkin dia membuat kerusuhan di dalam kastil utama, memecahkan beberapa benda-benda di sana dan nyaris berkelahi dengan Damis?

             Kurasa Lyra memang benar-benar sudah gila.

             Dia duduk dengan rambutnya yang acak-acakan dan mengabaikanku yang terus menanyainya tentang alasan kenapa dia bisa melakukan itu. Untungnya sedang tidak ada siapapun di rumah. Sepertinya semua orang sedang melakukan semacam kegiatan makan bersama dan meninggalkan satu anggota mereka yang paling berbahaya di tempat yang salah.

             Seberapapun aneh dan liarnya Lyra, dia harusnya tahu bahwa membuat kerusuhan seperti itu di kastil utama adalah hal bodoh. Sebuah keberuntungan besar karena Vlad ternyata juga tidak ada di sana atau Lyra akan berakhir dengan tidak baik hari ini. Vlad jelas tidak suka ada yang menghancurkan beberapa properti di wilayahnya.

            “Apa pikirmu datang ke kastil dan membuat keributan di sana? Sekarang aku berani bertaruh bahwa hidup terlalu lama memang membuat kau kehilangan akal sehatmu.” Aku menyilangkan kedua tanganku dan melemparkan tubuhku duduk di kursi berlengan yang berhadapan dengan Lyra.

            “Berani-beraninya dia mencium manusia bodoh dan bau itu di belakangku. Damis sialan.”

            Alisku saling bertaut, “Kau tidak mendengarkanku?” bentakku tidak sabar.

            Lyra mengangkat kepalanya dan menatapku dengan marah, “Tutup mulutmu, Dev. Aku tidak butuh semua omelan dan ucapan bodohmu. Lagipula kenapa kau ada di sini sekarang? Pergilah ke tempat dimana tugasmu berada.”

            Aku menghela nafas yang sangat panjang. Bercakap-cakap dengan Lyra memang bukan hal yang bisa membuat isi kepala dan perasaanku semakin membaik. Aku balas menatapnya, namun tidak mengatakan apapun atau kami akan berakhir dengan saling menyerang satu sama lain.

            “Perempuan itu bahkan bukan apa-apa jika dibandingkan denganku. Bisa-bisanya Damis melakukan ini padaku. Dia benar-benar ingin mati.”

            Jadi ini memang tentang kisah roman gilanya dengan Damis? Aku mendengus dengan malas, “Bukankah kau lebih sering melakukan itu? Ingat pertengkaran terakhir kalian?”

            Sudut mata Lyra menatapku dengan tatapan membunuh, “Kau yang membuat kami bertengkar.”

            “Jadi kau menyalahkanku karena kau tidur dengan vampir lain sementara kau sudah punya Damis?”

Lyra memaki dengan keras, “Kau tidak akan mengerti.” Suara Lyra berubah lebih pelan, dia menyandarkan punggungnya ke belakang, “Kau tidak tahu seperti apa rasanya, Dev.”

            “Apa?”

            “Mencintai seseorang.” Jawabnya tanpa menatapku, “Itu lebih buruk dari perasaan apapun. Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Aku tidak bisa menjauh darinya. Semua isi kepalaku hanya tentang dia. Yang benar-benar terus muncul di otakku hanya bagaimana aku bisa bersamanya terus menerus tanpa jeda. Aku tidak bisa kehilangan satu detikku saja dengannya. Perasaan seperti itu benar-benar buruk.”

            “Jadi kau sedang membicarakan vampir yang tidur denganmu itu atau siapa?”

            Lyra melirikku dengan sebal, “Damis.” Semburnya dengan tidak sabar.

            Aku tertawa, “Kalau kau benar-benar begitu terobsesi dengan Damis. Kenapa kau bisa bersama dengan laki-laki lain di belakangnya? Ini benar-benar tidak masuk akal.”

             Lyra menatapku dengan tatapan meremehkan yang jelas, “Sudah kubilang kau tak akan mengerti.”

             Mataku menyipit. Hidup dalam kelompok dan tempat yang sama dalam waktu yang begitu lama dengan vampir perempuan temperamental di depanku ini membuatku tahu bahwa kali ini dia berbicara dengan serius. Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku dan Lyra benar-benar berbicara tanpa melibatkan taring dan perkelahian, hanya saja itu terlalu sedikit. Aku yakin. Dan ini salah satunya.

             “Sampai kau sendiri yang merasakannya. Kau tidak akan tahu apa yang tadi kukatakan. Hanya saja, Dev, seperti yang kubilang tadi. Mencintai seseorang benar-benar buruk. Itu ratusan kali lebih buruk daripada meminum darah penyihir. Aku bahkan ragu jika perasaan itu bisa disebut cinta.”

             “Obsesi.”

             Lyra menggeleng, “Lebih dari itu. Semuanya tentang dia. Duniamu, dia. Dan aku tidak bisa, Dev. Aku berusaha hidup dengan menekan perasaan itu. Aku tidak bisa membuat Damis mengontrol kehidupanku.”

             Aku mulai bisa menebak kemana arah yang dituju oleh Lyra. Jadi dia menjalin begitu banyak hubungan dengan laki-laki di belakang Damis hanya karena dia tidak ingin terlalu bergantung dengan Damis. Sejenis kegiatan untuk menekan perasaan cintanya? Seburuk itukah, jatuh cinta?

             “Bagaimana kau bisa tahu kalau kau mencintai Damis? Apakah ada semacam petanda?”

              Kali ini Lyra mengamatiku dengan tatapan menyelidik yang membuatku tidak nyaman, “Apa kau sedang menyukai seseorang?”

              “Tidak.”

              Matanya memicing, “Lalu kenapa kau ingin tahu?”

              “Hanya mengantisipasi. Kalau mencintai seseorang memang seburuk yang kau katakan. Aku tidak berencana untuk memiliki perasaan itu.”

              “Itu bukan jenis perasaan yang bisa kau antisipasi, Dev.” Katanya sebelum dia berdiri dan melangkah pergi menuju ruangan pribadinya.

              Aku terdiam.

              ***

             Aku menghela nafas panjang sebelum melangkah masuk menuju aula utama. Bau manusia dimana-mana. Aku mengerutu tanpa suara dan melewati kerumunan orang-orang. Aku tidak butuh makan pagi. Aku sudah makan. Dan itu cukup bagiku untuk berminggu-minggu ke depan.

             “Dev!”

             Aku mendengar teriakan itu dengan cukup keras dan sesungguhnya aku tidak perlu berbalik untuk tahu siapa yang memanggilku. Aku memejamkan mataku dan memilah semua aroma, memastikan dia tidak di sini.

             “Ar.” Kataku setelah yakin dan berbalik, mendapati Ar berjalan ke arahku dan meninggalkan gerombolannya, para slayer-slayer senior.

             “Tidak makan pagi?”

             “Sudah cukup kenyang.” Kataku sambil berjalan keluar dengan diikuti Ar di sampingku.

             “Kemana saja kau kemarin?” tanyanya dengan nada suara yang biasa dia gunakan ketika berbicara dengan Rena. Dia memang berubah seratus delapan puluh derajat sejak kejadian di desa itu. Mau tidak mau aku harus mengakui jika Rena benar tentang mengungkapkan cara yang bisa kulakukan untuk melenturkan sikap Ar padaku. Dan sekarang, lihat, kami bercakap-cakap seperti teman lama.

             “Menikmati sedikit waktu luangku dengan pergi ke beberapa tempat yang membuatku bisa kembali tenang.” Jawabku jujur. Kami berjalan keluar dan berjalan merambat di dekat bangunan kastil menuju gudang peralatan latihan.

             “Rena mengatakan padaku bahwa kau menghindarinya. Apa kalian ada masalah?”

             Aku menggeleng, “Aku hanya tidak ingin dia mendapat masalah.”

             “Masalah?”

             Tanganku menepuk bahunya, “Dia sudah cukup punya banyak musuh dari kalangan slayer dan heta perempuan karena dekat denganmu. Apa harus ditambah lagi karena sekarang dia dekat denganku? Kau tahu aku juga diidolakan para perempuan itu.” Aku tertawa.

             Ar terbahak, “Konyol.” Katanya seraya membuka pintu gudang peralatan latihan kami. Aku menahan nafas—meski sejujurnya aku tidak pernah benar-benar bernafas—bau perak benar-benar tak akan pernah bisa membuatku nyaman, “Kau tidak perlu mencemaskan masalah itu. Rena bukan perempuan yang mudah menyerah dengan intimidasi para perempuan itu. Kau bisa percaya padanya.”

            Aku hanya tersenyum.

            Kau tidak tahu, Arshel.

             “Bicaralah kepadanya. Aku akan senang jika kalian bisa berteman seperti sebelumnya. Aku sudah bosan mendengar ceritanya tentang kenapa Dev begini, kenapa Dev begitu, apa salahku, apa yang membuatnya menjauhiku. Kau tahu, seringkali Rena benar-benar sangat berisik dan menuntut. Jadi kuharap kau bisa membantuku kali ini.” ucapnya sambil mengulurkan tumpukan anak panah ke arahku dari dalam peti.

             Unsur-unsur perak di mata panah membakar lengan dan tubuhku meskipun aku sudah menggunakan pakaian tebal, sarung tangan tebal dan jubah yang kupikir bisa melindungiku dari benda-benda ini. Ada sesuatu yang berbeda dengan benda ini. Aku mengamati mata panah perak ini. Bagaimana benda kecil ini bisa membuatku merasa kesakitan seperti ini?

             “Anak panahnya berbeda?”

             Ar mengangguk tanpa menoleh. Dia membelakangiku dan masih sibuk mengumpulkan pedang-pedang dan busur untuk melatih junior kami. “Baru datang kemarin. Ahli di kerajaan dan para penyihir istana yang membuatnya. Kelihatan sederhana memang, tapi mereka bilang unsur perak murninya sangat kuat. Kita hanya butuh satu anak panah untuk membunuh vampir, bahkan jika meleset dari jantungnya dan hanya mengenai dadanya, efeknya sudah akan buruk untuk vampir itu.”

             Aku menahan suaraku, mengubah ekspresi kesakitanku dengan wajah kagum. Ar tersenyum lebar meskipun dia kesulitan membawa beberapa busur dan beberapa pedang dalam sarung pedang di pelukannya, “Hebat bukan? Kurasa beberapa tahun ke depan atau mungkin malah beberapa saat lagi, akan banyak yang bisa mereka ciptakan untuk mempermudah kita membunuh makhluk-makhluk pemangsa itu.”

             “Ya.” Kataku dengan terpukau. Ar nampak bangga dan kami keluar dari gudang menuju lapangan latihan tanpa bicara apapun lagi. Sepanjang jalan aku memikirkan apa yang dikatakan Ar. Bahkan ketika Ar sibuk dengan kegiatannya melatih para pemula, aku menarik diri dan keluar dari arena. Padahal lapangan tempat kami berada merupakan tempat yang teduh.

              Ar memindahkan tempat kami karena tahu aku tidak tahan sinar matahari. Meskipun begitu, aku tahu aku tidak bisa tenang sekarang. Jadi kekhawatiran Reven yang dulunya kuanggap hal bodoh memang benar. Aku masih ingat dengan jelas apa yang dulu dikatakannya padaku.

              “Kau akan bisa masuk ke kelompok itu, lalu lakukan tugasmu dengan baik disana. Yang kuminta daripun sama, Dev. Informasi. Sejauh apa kekuatan para slayer dan para heta kerajaan manusia. Senjata apa yang mereka gunakan dan bagaimana mereka mendapatkan itu semua. Kau tidak perlu mempertanyakan bagaimana bisa kau masuk kesana karena itu urusanku. Yang kau lakukan hanya berbaur disana, jangan terlalu mencolok dan aku minta kau berada di organisasi itu selama yang kau bisa.”

               Mungkinkah Reven bisa mengatakan semua itu karena Noura memperingatkannya. Noura bisa melihat. Aku yakin ini ide Noura. Perempuan itu..

               “Dev.”

               Aku terlonjak ketika seseorang menyentuh bahuku.

               “Ma-maaf mengejutkanmu.” Rena menatapku dengan khawatir. Mataku membulat menatapnya. Astaga, jangan dulu. Aku mendesah, menguasai diriku.

               “Tidak apa-apa.” Kataku pelan.

               “Kau tidak bergabung?” dia menatap ke arah Ar dan kelompok pelatihannya.

               Aku menggeleng. Tidak mengatakan apapun. Isi kepalaku semakin berantakan dari sebelumnya ketika perempuan ini ada di dekatku. Aku harusnya fokus pada persenjataan baru para slayer dan heta ini, bukannya sibuk dengan—aku menggeleng pelan.

               “Aku harus pergi.” Kataku tanpa menunggu jawabannya dan segera melesat meninggalkannya.

               “Dev!” aku mendengar teriakan Rena dan aku yakin seratus persen jika sekarang dia juga mengejarku. Perempuan ini. Aku memaki tanpa suara dan tidak berniat berhenti. Aku terus berjalan dengan cepat dalam kecepatan manusia tentu saja.

               “Deverend Corbis!” suara Rena semakin terdengar lebih keras dan membuatku semakin tidak nyaman. Aku terus mengabaikan teriakannya dan tapak kakinya di belakangku.

               “Deverend Corbis, sialan kau. Berhenti kataku!!”

               Aku menghentikan langkahku mendengar apa yang dikatakannnya, banyak orang menoleh ke arah kami. Aku berbalik pelan menatap Rena yang berdiri diam dengan wajah merah menahan marah, beberapa meter dariku. Beberapa detik dalam diam, sebelum dia melangkahkan kakinya dan berhenti di depanku.

               “Apa masalahmu?” teriaknya marah.

               Aku memicingkan mataku. Dia benar-benar mirip Lyra. Apakah semua perempuan memang punya bakat berteriak-teriak seperti ini?

                   “Tidak ada.”

             “Tidak ada??” matanya melebar dan dia menggeleng pelan, terlihat frustasi, “Kau tidak datang menjengukku lagi sejak kau berbicara dengan aneh waktu itu. Lalu kau menghindariku, menolak bicara denganku, bersikap seolah-olah kita sama sekali tidak kenal dan kau bilang tidak ada masalah?”

                  Aku mengangguk pelan dengan wajah datar.

            Rena nampak akan mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya dan hanya menatapku dengan tatapan yang membuat isi kepalaku semakin berantakan. Aku mengalihkan pandanganku dari tatapannya.

             “Bukankah kita teman?” akhirnya dia mengatakan sesuatu setelah jeda lama yang membuatku benar-benar ingin segera menghilang.

                   Aku tetap diam dan tidak menjawab. Aku tahu Rena menunggu apa yang akan kukatakan. Tapi aku bahkan tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini. Seandainya dia tahu apa yang selama ini ada di kepalaku. Tidak. Dia tidak harus tahu. Aku bahkan belum yakin dengan apa yang kupikirkan itu. Lalu kenapa aku harus membuatnya tahu?

               “Kupikir kau marah padaku karena aku begitu fokus dengan rencana kita sehingga aku sendiri benar-benar membahayakan nyawaku. Kupikir kau menghindariku karena kau ingin membuatku sadari bahwa aku tidak boleh bermain-main dnegan nyawaku. Kupikir..”

                 Dia terdiam. Aku menunggu dengan buku-buku tangan tergenggam rapat. Ada sesuatu di dalam kepala dan dadaku yang menyerang diriku. Memaksaku melakukan sesuatu atau setidaknya mengatakan sesuatu agar ekspresi sedih itu lenyap dari wajah Rena. Aku tidak suka ekspresi itu ada di sana.

                   Apa?

                  “..mungkin saja kau melakukan ini karena kau memang mengkhawatirkanku.”

              Sial. Aku bahkan hampir memeluknya dan mengatakan itu benar jika saja logika di dalam kepalaku tidak menghen—tunggu.. memeluknya? Aku menatap perempuan di depanku ini dengan seksama. Kenapa aku bisa berpikir bahwa aku akan memeluknya? Aku rasa aku mulai kehilangan akalku. Aku langsung berbalik. Meninggalkan Rena dan menggunakan sedikit kemampuanku untuk segera pergi tanpa dia bisa menyusulku. Ini gila. Benar-benar gila.

               Sherena Audreista, apa yang telah kau lakukan kepadaku?

               ***

               “Anak panah baru?”

              Aku mengangguk. Reven memandangku dengan kekhawatiran yang jelas. Ruangan pribadinya yang remang tidak bisa menyembunyikan bahwa kabar yang kuberikan padanya membuatnya resah. Aku memang sengaja mencuri waktu bebas malam hariku untuk pergi ke kastil dan mengabarkan hal ini pada Reven. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi jika ini mungkin sesuatu yang sangat buruk untuk rasku.

             “Lucia.” Reven membuat perempuan yang sedari tadi diam dan duduk mendengarkan di dekatku ini bergerak ke arahnya, “Cari Russel dan bawa dia kembali ke sini segera. Kau tahu bukan dimana dia berada?”

              “Ya. Aku akan kembali dengan Russel besok.”

              Reven mengangguk, “Dan jangan katakan apapun, hanya bawa saja dia. Vlad—ah tidak. Itu saja.”

         Lucia mengangguk kecil dan melesat pergi meninggalkan ruangan ini tanpa menoleh ke arahku. Lagipula kami memang tidak saling mengenal, aku hanya sekedar tahu tentangnya. Calon pengantin Russel. Perempuan dengan wajah dingin, tegas dan tak banyak bicara. Sangat bertolak belakang dengan Russel yang menurutku merupakan anggota paling norma yang berada di kelompok utama.

           “Dev.” Suara Reven yang memanggilku membuatku menoleh ke arahnya, “Kembalilah segera ke pelatihan. Aku tidak ingin mereka curiga jika menemukan kau tidak ada di ruang pribadimu. Dan mulai sekarang aku ingin kau laporkan apapun tentang hal ini dengan segera kepadaku jika ada sesuatu yang baru.”

           “Pasti.” Kataku. Aku paham benar situasi yang tengah kami hadapi sekarang. Jumlah rasku tak begitu banyak, dan jumlah para slayer ini semakin bertambah hari demi hari. Kekuatan dan ketangkasan mereka tidak diragukan meski yang beanr-benar hebat hanya beberpa. Tapi tetap saja merepotkan, dan sekarang alat-alat bertarung mereka semakin bagus. Pedang dan benda-benda tajam dari perak lainnya yang kuakui benar-benar berkualitas sangat baik memenuhi gudang pelatihan.

           Jika dalam gudang pelatihan saja sudah seperti ini, aku tidak bisa membayangkan apa yang ada dalam ruangan penyimpanan senjata yang sesungguhnya. Aku tahu hanya orang-orang tertentu yang punya akses ke sana. Dan tempat pastinya saja aku bahkan tidak tahu. Namun aku tahu Arshel pasti tahu sesuatu. Ini akan segera jadi tugas yang menyenangkan dan penuh tantangan.

               “Dan satu lagi.”

               Aku menatap Reven.

               “Entah apa yang tengah dikerjakannya sekarang, tapi Noura mengatakan padaku bahwa dia akan sering berada di dekat kastil pelatihanmu. Aku harap kau bisa menjaganya jika dia terlibat sesuatu yang buruk di sana.”

               Keningku berkerut dalam? Apa Reven sudah kehilangan pikirannya? Apa dia pikir aku ini pengasuh Noura? Mendadak aku teringat pertemuan tidak sengajaku dengan Noura di dalam hutan di dekat tempat latihan rahasia Rena. Memangnya apa yang sebenarnya dilakukan Noura di sana. Aku jadi sedikit penasaran.

                  “Jika kau begitu khawatir dengannya, kenapa kau tidak melarangnya pergi?”

               “Aku tidak ingin berdebat denganmu tentang ini. Aku memintamu melakukannya maka itu yang akan kau lakukan.”

              Aku menahan diriku untuk tidak membalas ucapannya.

              “Illys memperingatkanku tentang keselamatan Noura. Dia calon ratu kita. Kita harus melindunginya. Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian bersamaan dengan tugas-tugas lain yang kukerjakan. Jadi katakan saja kau akan melakukannya.”

               Calon ratu kita atau calon ratumu? Noura itu perempuanmu. Aku memandang wajah arogan Reven dengan setengah muak. Dia menganggap dirinya begitu berkuasa hanya karena dia calon pengganti Vlad. Memuakkan.

            “Terserah kau saja.” Ucapku sambil berbalik dan meninggalkan ruangan pribadinya yang lembab dan temaram. Aku berlari dengan menggunakan semua kemampuan yang kumiliki. Ini hanya akan memakan waktu beberapa jam sebelum aku benar-benar kembali ke dalam ruangan pribadi jelekku di kastil asrama.

          Sedikit melelahkan memang. Tapi aku tidak punya pilihan karena aku sedang dalam tugas penting. Bolak-balik kastil utama dan tempat pelatihan? Sepertinya mulai sekarang itu yang akan sering kulakukan. Aku terus berlari dengan sangat sangat cepat. Meninggalkan pohon-pohon di kiri kananku menjadi sebentuk kilatan tidak jelas ketika aku melakukannya.

            Aku berhenti ketika mencapai hutan di samping tempat pelatihanku. aku sudah nyaris sampai ketika aku dengan sangat yakin mendengar satu suara yang sangat kukenali dengan jelas. Aku berhenti dan mengikuti aroma tubuhnya yang dibawa angin.

            Benar-benar dia.

            Rena berdiri di tempat yang biasa digunakannya untuk berlatih secara rahasia dengan busur dan anak panah di tangannya. Dia masih berlatih? Padahal ini bahkan sudah hampir lewat tengah malam. Aku menggelengkan kepalaku dengan tidak mengerti. Kenapa dia begitu terobsesi untuk menjadi slayer? Tidak bisakah dia berhenti dan hanya menjadi manusia biasa? Manusia?

         Aku tertawa tanpa suara menyadari pikiranku sendiri. Mendadak aku mengubah posisiku menjadi waspada. Dengan hati-hati pandanganku mengitari tempat ini ketika aku menyadari bahwa bukan aku satu-satunya yang tengah mengawasi Rena dalam kegelapan bayangan pepohonan. Aku mengunakan semua kukuatanku untuk menyingirkan auraku. Mataku memicing dan lebih fokus.

            Di sana.

            Di antara kegelapan lain di seberang danau aku bisa melihatnya.

             Noura?

           Dia memandang Rena dengan tatapan asing yang tidak pernah kulihat muncul di wajahnya. Semacam kesedihan atau entah apa. Aku tidak yakin. Tapi kenapa dia memandangi Rena? Apa dia mengenalnya?

           “Entah apa yang tengah dikerjakannya sekarang, tapi Noura mengatakan padaku bahwa dia akan sering berada di dekat kastil pelatihanmu. Aku harap kau bisa menjaganya jika dia terlibat sesuatu yang buruk di sana.”

            Apa itu berhubungan dengan Rena?

          Aku bergerak pelan mendekat ke arahnya karena kurasa Noura bahkan tidak menyadari kehadiranku karena seluruh fokusnya tumpah pada Rena.

            “Apa kau mengenalnya?”

          Noura memutar kepalanya, menghadapku, tapi tanpa ekspresi terkejut melihat kehadiranku di sini. Jadi dia tahu aku ada di sini dan tetap mengamati Rena seolah-olah dia akan menjadikan Rena makan malamnya.

               “Ah kau.” Desahnya, “Sudah kembali dari kastil rupanya.”

               “Sejak kapan kau di sekitar sini? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memata-matai Sherena?”

               Noura tertawa, “Harus kujawab dari mana semua pertanyaanmu itu Dev?”

               Aku menggeram dengan tidak sabar.

           “Urusanku di sini bukan urusanmu, Deverend Corbis.” Kali ini dia mengatakannya dengan suara rendah seolah memperingatkanku. Baru kali ini Noura terlihat serius. Dan jika keseriusan yang ditunjukkannya ini melibatkan Rena. Aku tidak akan bisa menerimanya.

               “Jika itu berhubungan dengan perempuan itu, maka itu menjadi urusanku, Noura.”

            Dia tersenyum mengejek, “Tapi bagaimana bisa? Perempuan itu bukan siapa-siapa bagimu. Tugasmu tidak melibatkan perempuan itu. Jadi kenapa kau harus peduli padanya.”

        Aku menatap Noura dengan marah, dia balas memandangku dengan santai, “Atau sekarang, perempuan ini sudah menjadi sesuatu yang mengerakan rasa pedulimu. Apa kau menyukainya? Jatuh cinta padanya?”

              “Apa kau menyukainya? Jatuh cinta padanya?”

              Pertanyaan Noura merasuk langsung ke dalam kepalaku. Dia benar. Memangnya kenapa aku harus peduli pada Rena? Bukan urusanku jika sesuatu terjadi padanya. Aku tidak menyukainya atau bahkan jatuh cinta padanya. Aku tidak—

            Sudut mata Noura mengamatiku dengan sinis, “Kau bahkan tidak bisa memahami dirimu sendiri, eh?”

               “Apa maksudmu?”

         “Jangan jatuh cinta padanya. Selesaikan tugasmu di sini dengan segera dan pergi. Kembali ke kelompokmu.” Ucap Noura mengabaikan pertanyaan awalku.

          Aku terperangah mendengat keterusterangan yang diucapkannya. Apa yang ada di kepalanya sehingga dia mengatakan hal tersebut. Bukankah mulutnya sendiri yang mengatakan padaku bahwa…

              “Bahkan jika dia bukan bagian dari kita, itu tetap bukan hal yang buruk.”

              Apa dia melihat sesuatu yang lain? Yang mengubah pendapat awalnya.

              “Aku tidak peduli pada omong kosong yang kau katakan, Noura.”

              Noura diam. Memejamkan matanya beberapa saat sebelum dia menatapku lagi dengan wajah lelah. Kali ini aku melihat ekspresi yang digunakannya untuk menatap Rena tadi ada di wajahnya.

             “Setidaknya aku pernah memperingatkanmu meski aku tahu kau tidak akan mendengarkanku. Kau memang tidak akan menyesali hal ini. Tapi ini akan sulit bagimu ke depan, Dev. Percayalah, aku memberimu pilihan untuk hidup dengan baik dan bahagia. Kau tidak bisa bersaing dengan Reven.”

             Sebelum aku sempat mengucapkan apapun. Noura sudah berbalik dan melesat pergi. Apa yang baru saja dikatakannya? Omong kosong macam apa lagi itu? Kurasa otaknya memang benar-benar sudah terganggu. Kupikir, awalnya dia sedang membicarakan Rena. Tapi kemudian, ketika nama Reven disebut, aku tahu dia mulai melantur. Rena dan Reven sama sekali tidak saling berkaitan.

                Jadi apa sebenarnya yang sedang dicoba untuk dikatakannya padaku?

Mau Baca Lainnya?

15 Comments

  1. Hahaha, sarkasm!
    Masih bakal dilanjut kok. Tenang saja. Lol.
    Well, Xexa entar dulu ya, abis UTS. Belum sempat nulis nih. Kalo another story uda sejak kemaren-kemaren sebelum UTS nulisnya. Cuma lupa ngeupload. 😛

  2. Pertannyaan tertunda :: Illys itukan bisa liat masa depan juga. Tapi kok disesi half vampire dia kaya gak tau tentang penyebab kematian Noura.? Ya ampun andai aja kak ria mau memberi sedikit Prov-nya Noura. Biar aku gak mati penasaran… +DianArumPramesty+

  3. Di HV ini sudah dijelaskan loh. Illys memang bisa melihat masa depan. Namun cuma sebatas petanda-petanda dan penglihatan samar. Sementara Noura, memiliki kemampuan itu dengan level terbaik.

    Ah iya, untuk POV Noura, ditunggu ya. AKu sedang menulis Remember Us dengan POVnya Noura. 🙂

  4. Sepertinya memang banyak juga yang menyukai Dev. Pertanyaan kenapa Dev harus mati juga banyak mengalir ketika aku posting bagian cerita tentang kematian Dev. Yahh,mungkin emang takdirnya Dev sih. HEhehe 😛

  5. Wuahhh iya iya..
    Gak sabar nih sama Remember Us-nya.

    Dev… Kamu kok gak peka sih sama peringatannya si nom-nom,,, jadi matikan di HV :'(…

    Akh… Emang yah CINTA itu gak bisa dimengerti.. Jadi keinget pas si Dev nyium Rena dan dia tau ada yang beda… 1 kata : NYESEK. pasti T.T +DianArumPramesty+

  6. hai kak,,aku baru selesai baca HV nii…ceritanya baguuusss banget
    susah move on deh dari HV 😀
    aku jadi ngayal kalau HV di jadiin film hollywood gitu bagusnya siapa aja yaa yang peranin karakter nya??? hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published.