Another Story – Peringatan

Sejak aku berjalan keluar dari pintu rumah ini, dan melangkah semakin jauh ke arah hutan, aku sadar ada tiga sosok lain berpencar mengikutiku dari sisi yang berbeda. Ramuel, Lukas dan Gloria, hanya dengan memejamkan mataku sesaat, aku tahu itu merela. Tapi aku hanya diam dan membiarkannya.

Sudah beberapa waktu berlalu sejak kejadian dimana Damis mengambil secara paksa Rena dariku, dan semua anggota kelompokku berjaga siaga di sekitarku. Aku paham benar apa yang ditakutkan oleh mereka. Apalagi sejak Vlad secara pribadi datang ke rumah kelompok kami. Aku jelas tidak akan bisa melupakan apa yang telah Vlad lakukan di depan kami semua pada Michail.

Langkahku melambat dan aku cuma berusaha menahan diriku agar wajah kesakitan Michail dan airmata Viona menjauh dari pikiranku. Darahku serasa mendidih, semua itu tak pernah bisa benar-benar terlupakan. Ada dua sisi yang tidak bisa kusatukan. Dan semua itu serasa menghancurkanku dari dalam. Ada bagian terkuat di diriku yang menghentak hebat, memintaku berlari tak peduli dan pergi mengambil Rena dari mereka yang tak berhak atasnya. Lalu airmata Viona, yang baru pertama kali kulihat sejak aku mengenalnya, menjadi satu-satunya penghalangku yang terkuat.

“Dev..”

Aku menoleh dan melihat Gloria berjalan ke arahku.

“Kau mau kemana?” lanjutnya lagi sambil menatapku dengan tatapan mengawasi yang jelas.

Keningku berkerut dan aku memandang ke sekitarku. Melihat ke arah mana selama ini kakiku membawaku dan satu kesadaran membuatku mengerti kenapa Gloria memutuskan untuk menegurku. Rupanya tanpa sadar aku sudah berjalan menuju arah ke kastil utama.

Mata tajam Gloria masih menatapku, menunggu jawabanku. Ketika hanya helaan nafasku yang didengarnya, dia maju lagi, mendekat padaku, “Dev,” panggilnya lagi.

Sekarang bisa kulihat betapa dia dilema menghadapiku. Aku tahu kenapa hanya Glora, Lukas dan Ramuel yang berada di sekitarku, sebab hanya mereka bertiga yang cukup waras untuk memaafkan apa yang sudah kuperbuat. Viona menolak bicara denganku sementara Michail masih terlalu lemah untuk sekedar mengucapkan sesuatu padaku. Lyra sudah berambisi membunuhku sejak di hutan ketika itu dan Cassy terus berteriak memaki dan menyalahkan untuk semua.

“Menyerah saja,” dia berhenti tepat dua langkah dariku. Sorot matanya mengasihiku seperti biasanya, namun tidak ada lagi binar jenaka yang selalu ada di sana.

Aku tahu bahwa aku seharusnya mengiyakan saja apa yang dikatakannya. Tapi mengingat kembali tentang senyum Rena, semua keinginan itu lenyap. Aku tidak bisa semudah ini mengatakan menyerah jika semua tentangnya. Aku tak tahu benar kenapa. Aku jelas melihat apa yang sanggup Vlad lakukan pada kelompokku. Apa yang dilakukannya pada Michail hanya peringatannya untukku. Aku tahu jika aku terus pada apa yang kuinginkan, kehancuran kelompokku adalah satu-satunya fakta yang akan menghampiriku. Namun aku tetap tidak bisa berhenti.

Gloria mendadak meraupku dalam pelukannya dan dia menangis. Aku hanya berdiri tegak, tak menyambut pelukannya, tak juga mengusap punggungnya. Aku sekaku pepohonan di sekitarku.

“Dev..” isaknya, “Kumohon.. demi kita semua. Menyerah saja untuk perempuan itu. Dia diperuntukkan bukan untukmu. Kumohon..”

***

Hari-hari berlanjut dan aku hidup sepenuhnya seperti mayat. Aku hanya duduk diam di ruanganku memandang ke arah lidah api yang berkilat lemah sepanjang hari. Michail sudah sepenuhnya sembuh dan dia sama sekali tak menyalahkanku atas apa yang terjadi padanya. Ucapan dan sikapnya justru terasa menyiksaku lebih parah daripada ketika aku melihat Vlad menyiksanya. Viona masih mendiamkanku, meski aku tahu dari sorot matanya yang tak pernah bisa mentapku lama, dia peduli namun juga tak tahu harus bagaimana menyikapiku.

Aku sendiri sudah mati rasa. Menghadapi diriku sendiri adalah yang terberat bagiku dan aku sudah nyaris kalah puluhan kali. Bayangan Rena menguasai hampir semua waktuku dan aku beruntung tidak mati hanya karena kerinduan dan penyesalan yang bertumpuk menghancurkanku perlahan.

Mataku terpejam, membiarkan Lyra masuk dalam ruanganku. Aku berharap dia tak memprovakasi apapun lagi. Aku sudah terlalu lelah dan tak akan sanggup menahan amarahku padanya jika dia terus menerus mengungkit kejadian di hutan waktu itu. Sisi egoisku menyalahkan Lyra karena kekalahanku mempertahankan Rena dalam perlindunganku. Jika dia tidak menyerangku bersamaan dengan Damis, aku sangat yakin kalau aku masih akan sanggup menghadapi Damis.

“Sudah saatnya kau bangun dan menghadapi kenyataan yang ada di depan matamu, Dev.” suaranya sinis dan tajam.

Aku membiarkannya mengoceh dan mataku tetap dalam keadaan terpejam. Nafasku kuatur sedemikian rupa agar energi positif tersalur dengan benar ke dalam pusat diriku. Aku tidak ingin terseret pada pembicaraan apapun yang dikatakan oleh Lyra.

“Ada perintah untukmu dari kelompok utama. Mereka memintamu datang ke kastil utama esok hari.”

Mataku terbuka serentak dan aku langsung berputar, bangkit dan memandang tajam ke arah Lyra. Jika kali ini dia bermain-main dengan apa yang dikatakannya. Aku tak akan pernah melepaskannya.

“Aku akan pergi bersamamu.” ucapnya lagi.

“Untuk apa mereka menginginkanku pergi ke kastil utama?”

“Mengujimu?”

Rahangku mengeras dan aku menyumpahi semua anggota kelompok utama. Apa tidak cukup semua yang sudah mereka ambil dariku. Dan mereka masih ingin melihat apakah aku masih bisa tegak pada sumpahku atau tidak. Aku menggeram marah dan Lyra menyipit menatapku.

“Berhenti bersikap egois dan bersikaplah selayaknya seorang vampir, Dev. Tunjukkan dimana kesetiaanmu berada.” dan begitu saja, lalu Lyra berbalik meninggalkanku.

***

Jantungku berdebar hebat. Sejak pertama kali menatap kasti tua yang begitu besar dan penuh aura misterius ini, seluruh tubuhku sudah meremang. Sherena Audreista, nama dan pemiliknyalah yang membuatku seperti ini. Kesadaran bahwa perempuan itu ada di salah satu ruangan di dalam kastil ini langsung membuatku lemas.

Tepukan Michail di pundakku ketika dia mengantarku sampai ke depan pintu rumah kelompokku seolah terasa lagi. Seolah mengingatkanku bahwa aku benar-benar tidak boleh hanya menuruti apa yang ada di kepalaku saja. Tadi pagi pula, untuk pertama kalinya Viona berbicara lagi padaku, hanya serentet kata ‘jaga dirimu’, sebuah pelukan dan pertahananku runtuh. Aku benar-benar tidak boleh egois.

Tapi aroma Rena yang kental menyetubuhi hidungku ketika aku berada tepat di depan pintu ganda utama kastil. Lyra berjalan masuk, meninggalkanku karena dia harus menemui Damis untuk urusan lain. Aku yang seharusnya segera menuju ruangan Reven, tak sanggup lagi melangkah lebih jauh. Kurasa aku tidak bisa masuk sekarang atau aku akan menghancurkan semua yang susah payah kupahami dari sikap Michail dan Viona.

Tidak.

Aku langsung berbalik dan menelusuri arah lain. Tepat di langkahku yang pertama, aku mendengar suara hujan yang turun dengan tak terduga. Aku diam sebentar, memandang ke langit dan menarik nafas panjang.

Dalam diam, kulanjutkan langkahku dan menelusuri lorong luar kastil ditemani dengan suara hujan yang semakin deras. Tapi apa yang kulihat beberapa menit kemudian membuatku membeku di posisiku dan langkahku terhenti. Mentap ke arah sepasang mata yang tengah memandang ke arah hujan dengan wajah kesal. Serentetan makian keluar dari bibirnya. Aku langsung kehilangan semua akal sehatku dan senyumku muncul.

“Apa yang membuatmu terlihat begitu marah, Rena?”

Tubuh itu menegang. Lalu dengan pelan, dia menoleh ke arahku. Aku bisa merasakan semua kesakitanku lenyap. Wajah itu, hanya dengan melihat wajah itu, aku tersembuhkan.

“Dev..” ucapnya menyebut namaku. Begitu pelan namun sudah lebih dari cukup untuk membuatku hidup lebih lama, “Kaukah itu?” tanyanya dengan suara bergetar.

Keningku berkerut, tapi hanya sebentar sebelum senyumku melebar. Dia juga merindukanku sepertiku.

“Ya, tentu saja ini aku. Memangnya siapa lagi?”

Namun apa yang kulihat selanjutnya, membuatku tak mengerti. Rena merosot jatuh dan dia terisak. Menangis dengan bahu yang berguncang hebat. Aku berlari ke arahnya. Tak tahu apa yang terjadi padanya.

“Rena..Rena..” aku bahkan bisa mendengar betapa suaraku panik, “Kau kenapa? Apa yang salah?”

Tapi mata itu malah makin banyak mengeluarkan airmata yang tak kutahu apa sebabnya. Aku ketakutan pada apa yang akan kudengar selanjutnya. Dengan gemetar, kusentuh lengannya, berharap aku juga memiliki ketenangan yang bisa kusalurkan padanya.

“Rena…” panggilku lagi, nyaris putus asa karena ketidaktahuanku. Kutangkup kedua pipinya yang basah dan dingin. Dengan sangat lembut, kuhapus airmata yang jatuh dari sudut matanya.

“Ada apa? Katakan padaku..”

Namun yang kudengar sebagai jawabannya justru isakannya yang makin keras. Aku sudah hampir meraupny langsung dalam pelukanku ketika akhirnya aku bisa mendengar suaranya.

“Ak-aku takut itu bukan kau. Aku takut apa yang kulihat hanya khayalanku saja. Dev, aku takut itu bukan kau.” suaranya parau.

Detik dia mengucapkan itu, aku bisa merasakan betapa dia sama menderitanya sepertiku. Aku menatapnya lembut dan tanpa bisa kutahan lagi, aku memeluknya rapat.

“Ini aku, Rena. Ini memang aku dan bukan khayalanmu.” bisikku di telinganya sebelum aku melepaskan pelukanku padanya. Aku menunduk menatapnya dan sebuah kecupan lembut dariku mampir di keningnya. Tapi begitu bibirku menyentuh kulitnya, aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku tak akan pernah bisa berhenti. Pelan, kutelusur wajahnya dan bibirku mengecup matanya yang basah.

“Jangan menangis lagi. Kumohon. Melihatmu menangis membuatku terluka.” bisikku terengah tak bisa menahan semua perasaanku yang terasa tumpah ruah tak terkendali. Yang kutahu selanjutnya hanya bibirku yang sudah menempel lembut di bibir Rena.

“Aku merindukanmu.”

Satu kalimatnya dan hancur sudah semua. Aku menjauhkan wajahku dan hanya sanggup memandangnya lembut. Aku tak peduli pada semuanya lagi. Apalagi ketika Rena mendekatkan wajahnya yang menciumku. Ciuman yang dalam dan menuntut. Aku tenggelam. Aku mabuk. Aku bahagia.

Aku benar-benar menginginkan perempuan ini lebih dari hidupku sendiri.

Tapi sebuah sentakan hebat dan energi kuat menarikku menjauh dari Rena dengan cepat, sampai aku bahkan tak menyadarinya hingga aku terlempar dan punggungku menghanta dinding batu kastil dengan keras.

 “Reven..”

Aku mendengar suara Rena dan sebuah fakta lain menyentak kesadaranku. Apa yang sudah kulakukan? Bayangan Michail dan Viona adalah hal pertama yang muncul di kepalaku. Kematian kelompokku dan keegoisanku. Tidak.

Bangkit dengan cepat, aku langsung berdiri diantara Reven dan Rena, “Reven, aku—“

“Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu sekarang.” potong Reven tegas, “Kau membawa dirimu terlalu jauh, Deverend Corbis.” nada suaranya demikian rendah tapi sarat kemarahan, dan aku tahu ini adalah akhir bagi kelompokku. Untuk pertama kalinya, aku merasa ketakutan. Sisi lsin diriku memakiku keras, yang tak bisa mengontrol diriku sendiri pada perasaanku akan Rena. Jika harus mati, aku rela demi dia. Namun aku tidak bisa menyeret kelompokku dalam masalah ini juga.

“Ikutlah denganku, Corbis.” Kata Reven dengan nada memerintah yang jelas.

Aku menatap Rena sekilas, tak sanggup mengatakan apapun padanya dan langkahku langsung tercipta. Membawaku pergi meninggalkannya dan aku mengikuti Reven. Menuju kematianku, mungkin.

***

BRAKK

Lenganku menghantam kursi berlengan di dekatku ketika Reven memukulku dengan keras begitu aku masuk ke ruangannya. Mencoba bangkit dari sisa-sisa kursi tersebut, karena sekarang benda itu nyaris hancur, aku menarik nafas dan merasakan darah menetes di sudut bibirku. Aku mengangkat wajahku dan menemukan wajah murka Reven. Irisnya segelap malam paling gelap dan aku menarik nafas panjang, bersiap pada kematianku.

“Jangan sentuh kelompokku,” ucapku pelan, “Kau boleh membunuhku, tapi jangan sentuh kelompokku.”

Tawa penuh ejakan Reven menerpa pendengaranku dan dengan pelan dia melangkah mendekat ke padaku, “Kau tidak bisa mengatur apa yang ingin kulakukan, Deverend.” desisnya, “Kau tahu kau sudah melangkah terlalu jauh.”

Aku menatap ke kedalaman matanya, berusaha menyeimbangkan isi kepalaku dimana sebagiannya meneriakkan diriku agar melawan laki-laki yang berdiri angkuh di depanku ini. Tapi tetap saja, wajah Michail dan Viona menghantuiku. Dan aku tahu, egoku pun harus menemui batasnya.

“Bunuh aku dan selesai, Reven. Jangan libatkan orang lain.”

Sudut bibir Reven tertarik ke atas dan aku menyadari kehadiran lain tepat ketika pintu ruangan Reven menjeblak terbuka. Lyra berjalan masuk dengan tergopoh dan wajah pucat.

“Reven,” panggilnya.

Mataku melebar, mengutuk kenapa dia harus menyusul kemari. Aku yakin benar dia sudah tahu apa yang kulakukan dan kenapa dia harus ke sini.

“Aku tahu Dev bisa sangat bodoh, tapi kumohon tol—“

Suara Lyra hilang tepat ketika tangan Reven meraup lehernya, mencekiknya dengan sangat kuat hingga dalam beberapa detik kekagetanku aku yakin leher Lyra akan remuk.

“Apa yang kau lakukan?” aku menerjangnya dengan kemarahan meledak. Lyra terlempar menghantam pinggiran perapian ruangan ini dan darah segar termuntahkan dari mulutnya. Tapi aku tak bisa melihat apalagi yang terjadi karena Reven langsung menyerangku. Sekuat apapun aku berusaha melawannya, aku tahu, egoku dan kekuatanku tak akan pernah bisa seimbang melawan laki-laki yang kuyakin bahkan tak mengunakan sampai seperempat kekuatannya.

Sebuah pukulan sangat keras menghantam wajahku hingga kurasakan seluruh tulang pipiku remuk dan mataku memerah merasakan sakit yang berdenyut menyakitkan di sekitarnya. Aku yang jatuh tersungkur diantara remukan kayu sisa dari perabotan di sekitarku yang hancur hanya karena beberapa detik pertarunganku dengan Reven. Kuangkat kepalaku, dan sosok tinggi Reven menjulang di depanku. Dia berjongkok di depanku dan satu tangannya meraih wajahku dengan kasar.

“Kuperingatkan padamu, Deverend Corbis, satu saja.. satu kali saja kau lakukan hal di luar batasmu dengan Sherena. Aku akan menghancurkan kau dan seluruh orang yang ada di dekatmu. Akan kusisakan kau sebagai yang terakhir mati setelah kupersembahkan padamu siksaan panjang pada mereka, kelompokmu.” suaranya tegas mengancam dan aku tahu Reven bersungguh-sungguh.

“Mundurlah dan tetap di garismu, Deverend. Aku sudah memperingatkanmu.”

Dan dia berdiri, berbalik lalu pergi meninggalkan ruangan ini. Aku langsung bangun, tersadar dari apa yang baru saja terjadi ketika aku mendengar suara terbatuk dari Lyra. Dengan tertatih, aku berjalan ke arahnya. Dan melihat matanya yang berair menahan sisa sakit dari lehernya dan entah apa lagi. Mulutnya masih berlumur darah muntahannya, begitu juga sebagian dada dan kakinya.

“Lyra..”

Aku mencoba menyentuhnya dan membantunya, namun dia menampik tanganku dengan cepat. Kepalanya mendongak. Satu gerakan kasar dari lengannya terbentuk, mengusap bibirnya dari sisa-sisa darah. Tapi sepasang mata memerah itu tak meninggalkanku sedikitpun. Membiarkanku tenggelam dalam rasa bersalah ketika dia mengunciku dalam rasa sakit yang ingin disalurkannya padaku.

“Apakah kau hanya akan berhenti ketika melihat kami semua mati di depanmu, Dev?”

Mau Baca Lainnya?

9 Comments

  1. Nggaaaa.. Itu si Reven mah ngga cemburu. Dia blm ada perasaan apa2 ke Rena pas ini.

    Itu si abang Reven lebih ke ngga mau kalah. Secara bagi dia, Rena itu 'propertinya'. Dia ga akan pernah mau berbagi miliknya dg orang lain

  2. ini ga di lanjut lagikah? andai Dev bisa di hidupkan lagi, reven aja yg mati, trs Rena bisa sama Dev lagi
    #Melantur…..

Leave a Reply

Your email address will not be published.