Another Story – Perkenalan

Aku memandang kastil besar yang berada cukup jauh dari tempatku sekarang berdiri. Dari sini aku hanya bisa melihat puncak kastil yang menjulang. Jadi disana, pikirku singkat, aku akan menghabiskan entah berapa lama waktuku. Jubahku terselubung rapat karena matahari bersinar sangat terik di atas kami. Ya, kami. Aku dan Reven. Hari ini adalah hari dimana aku akan memulai tugas pertamaku. Sudah beberapa menit kami berdiri disini dan menunggu.

Aku benci menunggu. Dan sekarang aku bahkan tak tahu apa yang sedang kutunggu karena Reven tak mengatakan apapun setelah kalimat pemberitahuannya bahwa kami akan menunggu. Dia menyebalkan, sangat.

Lima belas menit kemudian yang bagiku rasanya seperti setahun, sebuah bayangan hitam dengan cepat berkelebat di samping kami. Aku tidak menoleh karena aku rasanya sudah tahu siapa itu. Dia mengambil tempat di samping Reven dan mendekat kepadanya, berbisik sepelan yang dapat dilakukannya agar aku tidak dapat mendengar apa yang dia katakan kepada Reven. Aku tidak keberatan. Karena aku juga tidak terlalu ingin tahu.

“Hai, Dev.”

Aku menoleh dan Venice tersenyum padaku, “Apa aku sudah bisa masuk kesana?” tanyaku.

“Ya. Tentu saja.”

Aku mengangguk, kembali menatap kastil yang kata Reven adalah kastil kecil tempat tinggal para slayer dan heta kerajaan manusia. Baiklah, sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari mereka, para boneka milik Raja yang hobi membawa panah dan pedang kemana-mana. Ini tidak terdengar menyenangkan.

“Kau bisa tetap menggunakan nama aslimu disana, Dev. Jangan lakukan tindakan-tindakan yang mencolok disana. Aku dan Venice sudah mengatur sedemikian rupa agar kau bisa masuk ke dalam kelompok slayer baru. Sebisa mungkin hindari pertemuan dengan Master mereka. Aku sedikit khawatir jika dia tidak sebodoh dan selemah para bawahannya.”

Aku kembali mengangguk, “Aku hanya tinggal masuk kesana, bukan? Segala sesuatunya sudah kalian atur. Jadi ini mudah bagiku. Seperti bermain peran. Peran bodoh seorang heta pemula. Sedikit menyebalkan memang tapi mung-“

“Pergilah ke gerbang kastil sekarang dan katakan kepada mereka bahwa kau adalah slayer baru yang datang dari pelatihan utara. Mereka akan mengerti dan membawamu masuk. Setelah itu semua berada dalam kendalimu. Kau harus melakukan yang terbaik.”

Aku memutar bola mataku. Reven berbicara seolah-olah dia adalah pemimpinnya disini. Ah ya, aku lupa. Dia memang pemimpinnya, tapi aku benci cara bicara dan sikapnya. Aku mendengus, “Baiklah-baiklah. Itu artinya aku harus pergi kesana, sekarang.”

“Dev.”

Suara Venice menghentikan gerakan pergiku dan aku menoleh ke arahnya.

“Kurangi kecepatan, ketangkasan, dan kekuatanmu. Jangan terlalu mencolok. Dan ya, aku hampir lupa. Katakan kau punya penyakit atau apa yang akan membuat tubuhmu lemah jika kau berinteraksi langsung dengan sinar matahari.”

Aku tertawa sarkastik, “Penyakit? Oh baiklah, aku slayer pemula yang penyakitan dan lemah.” Kataku sebal sebelum aku melesat meninggalkan mereka. Aku tidak mau menoleh lagi ke belakang karena aku tidak mau melihat wajah menyebalkan Reven lagi. Aku melambatkan langkahku ketika gerbang kastil mulai nampak di kejauhan sana. Aku terus melambat sampai akhirnya langkahku benar-benar seperti langkah seorang manusia normal. Aku harus membiasakan diri.

Kaki melangkah pelan dan aku memejamkan mataku beberapa detik. Mendengarkan semua suara yang ada di sekitarku. Suara pedang yang saling beradu, suara panah yang dilepaskan dan membelah udara. Tempat di dalam sana penuh dengan suara-suara seperti itu dan teriakan-teriakan para pelatih. Sepertinya akan menarik. Aku mengingat semua detail yang sebelumnya sudah dijelaskan Reven panjang lebar kepadaku sebelum kami berangkat kesini. Detail tentang apa yang harus dan akan kulakukan disini dan jawaban-jawaban apa yang harus kukatakan ketika pertanyaan muncul. Aku tidak bertanya apapun pada Reven, dia ketuanya.

Kau tidak perlu mempertanyakan bagaimana bisa kau masuk kesana karena itu urusanku. Yang kau lakukan hanya berbaur disana, jangan terlalu mencolok dan aku minta kau berada di organisasi itu selama yang kau bisa.

Yah, peraturannya. Dan tanpa Reven perlu mengingatkannya padaku, aku ingat semua detailnya. Jangan memaki, dia selalu menyebalkan. Aku tahu. Aku juga membencinya. Aku tersenyum, “Deverend Corbis. Slayer anggota pelatihan di utara, aku dipindahkan kesini.”

Laki-laki itu memandangku, atau lebih tepatnya mengamatiku. Menelitiku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi ke bawah lagi. Aku memutar bola mataku dengan bosan dan dia menyadarinya.

“Buka gerbangnya!” teriaknya dengan nafasnya yang sangat bau.

Aku benci indera penciumanku yang berfungsi dengan terlalu baik.

***

“Deverend Corbis. Catatan pelatihanmu cukup baik. Sepertinya ada kekurangan sedikit dalam seni memanah. Tapi kurasa kau akan mengembangkannya disini. Ah ya, kecepatan dan ketangkasanmu tertulis sangat baik disini. Aku tidak akan sabar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”

Bawahan Master. Cukup banyak bicara. Sudah hampir tiga puluh menit dan dia hanya menggunakan semua waktu itu untuk dirinya sendiri sementara aku berdiri disini dengan nyaris mati bosan. Meskipun kuakui aku sedikit kagum dengan catatan yang ditulis oleh Reven.

“Menderita penyakit keturunan. Bereaksi jika berinteraksi langsung dengan sinar matahari. Disarankan menggunakan pakaian dan jubah lengkap yang melindunginya dari sinar matahari ketika berlatih dan bertugas di siang hari.”

Dia memandangku dengan tajam. Melihat reaksiku, kurasa dia harus kecewa karena aku sama sekali tidak bereaksi. Sejujurnya aku sedang memaki Reven, hanya saja dia tidak bisa mendengar pikiranku jadi percuma saja.

“Kau terdengar seperti vampir.”

Aku mengangkat satu alisku dan dia tertawa dengan keras, “Aku hanya bercanda.” Katanya dengan logat aneh. Kurasa aku tahu dari daerah mana dia. Itu cukup terpencil dan berarti dia lumayan hebat jika dia bisa bergabung disini dan menjadi bawahan Master yang juga memiliki kontrol di tempat ini.

“Kau terlihat dingin dan sama sekali tidak memiliki ekspresi. Tapi ketika kukatakan tentang vampir, kau bereaksi. Kau punya cerita di balik ini, nak?”

Nak? Oh, ini benar-benar menyebalkan. Aku bersumpah Reven akan membayar ini semua, dia yang menyebabkanku berada di situasi ini. Berbicara atau tepatnya mendengarkan seorang laki-laki yang mungkin kelihatannya-secara fisik-berusia beberapa tahun lebih tua dariku dan memanggilku “nak”. Seandainya dia tahu berapa umurku yang sebenarnya.

“Vampir membunuh semua anggota keluargaku.” Jawabku dingin.

“Maaf karena aku harus mendengar hal itu.”

“Tidak masalah. Itu sudah lama berlalu.” Sahutku tanpa semangat. Aku menoleh ke belakang ketika aku mendengar suara pintu terbuka dan melihat seorang pemuda lain, berusia nyaris sama seperti keadaan fisikku. Melangkah dengan tegap ke arah kami, menunduk sedikit kepada laki-laki di depanku dan dia berdiri di sampingku. Aku mengamati.

“Ah, Arsel. Kau datang akhirnya.” Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari meja untuk memeluk pemuda itu sekilas dan menepuk pundaknya, “Kenalkan, ini Deverend Corbis. Dia akan menjadi rekan baru dalam pelatihanmu.”

Pemuda itu tidak terlihat senang dan dia melirikku. Hanya melirikku lalu membuang wajahnya, “Aku tidak butuh rekan baru dalam pelatihanku, Codd. Sudah berulang kali kukatakan kepadamu bahwa sudah cukup dengan Rena dan kami tim yang solid.”

Codd? Aku bahkan baru tahu nama laki-laki yang sedari tadi mengoceh denganku. Oh baiklah, ini awal yang baik. Calon rekan timku sepertinya menolakku. Yah, mungkin waktu dalam tugasku singkat saja dan aku akan membawa informasi pada Reven bahwa aku tidak punya informasi apa-apa tentang organisasi ini. Aku merasa senang hanya dengan membayangkan reaksi Reven mendengar apa yang nanti akan kukatakan.

“Ya. Ya. Aku tahu kau sangat dekat dengan Rena tapi dengarkan aku sekali ini, Ar. Kau harus punya anggota baru dalam tim pelatihanmu. Aku mendengar rumor yang sedikit buruk tentangmu akhir-akhir ini. Kau dan Rena. Kau tahu bukan, Ar, tidak boleh saling berhubungan dengan anggota setimmu.”

Ar memandang Codd dengan tidak percaya, “Aku dan Rena? Kau pikir apa yang mungkin terjadi diantara kami?”

“Aku tahu. Aku tahu, Ar. Aku mempercayaimu. Hanya saja aku tetap harus menjalankan perintah dan menjauhkan calon slayer terhebat kami dari rumor mengerikan tentang hubungannya dengan seorang calon heta yang setim dengannya. Kau tahu kami tidak mungkin akan melepaskanmu dari sini bukan, Ar? Tapi kami bisa melakukannya kepada Rena.”

Mata hitam Ar menatap Codd dengan marah, “Jangan- berani-berani-“

“Maka kau akan menyukai tambahan anggota di tim pelatihanmu, Ar.”

Ar mengatur nafasnya dengan sulit, dia menatap Codd dengan matanya yang barapi-api, “Lakukan apapun yang mau, dan jangan sentuh Rena. Aku melindunginya, dan Master melindungiku. Ingat itu, Codd.” Dia berputar dan meninggalkan ruangan ini dengan langkah geram. Membanting pintu kayunya dan meninggalkan keheningan yang canggung di dalam ruangan ini.

Penyambutan yang lumayan mengesankan.

Codd menghela nafas dan dia kembali berjalan ke kursinya. Melemparkan tubuhnya ke kursi nyaman itu dan terlihat sedikit tersinggung, “Dia anak emas di kelompok pelatihan slayer. Sangat hebat, berbakat dan memiliki dukungan Master langsung di belakangnya. Membuatnya sedikit kurang ajar dan sulit diatur, tapi dia tetap permata di tempat ini dan aku tidak bisa melakukan apa-apa tentang ini.”

“Bisa dimengerti, permata memang selalu bernilai mahal darpada pengasahnya.” Aku mencoba menghibur laki-laki ini. Dia memandangku dengan tatapan tidak percaya dan mendengus. Hey, apa yang salah? Aku mencoba menghiburnya tadi.

“Edge!!” dia berteriak sangat keras dan satu pemuda lain masuk ke dalam ruangan ini dengan tergopoh-gopoh.

“Bawa dia ke ruangannya. Dia butuh istirahat sebelum memulai pelatihannya disini besok.”

Pemuda itu mengangguk patuh sebelum memandang ke arahku, “Ikuti aku.” Katanya sok memerintah. Aku hanya balas memandangnya dan mengikutinya tanpa mengatakan apa-apa.

***

Aku membaringkan tubuhku ke atas ranjang keras ini dan memandang ke langit-langit ruang pribadiku. Ini buruk sekali. Tempat ini mnegerikan. Kecil dan tidak berseni sama sekali. Tidak ada yang membuatku terkesan. Dinding batunya, perabotan di dalamnya, ranjangnya. Semua jelek, tua dan kotor. Aku bahkan tidak melihat ada perapian disini dan aku akan terjebak di ruang sempit menyebalkan ini entah sampai kapan.

Bosan dan aku memilih melompat dari tempat tidurku dan memeriksa lagi ruangan ini. Aku tertarik pada satu lemari tinggi yang ada di sudut ruangan. Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Aku tahu tidak ada hewan-hewan kecil di dalam sana karena aku tidak mendnegar pergerakkan. Sepertinya lemari kosong. Namun aku tetap melangkah kesana da menyentuh pegangan lemarinya dan membukanya perlahan.

Aku terdiam cukup lama begitu aku tahu apa yang ada di dalam sana. Puluhan anak panah yang tertumpuk di bagian atas, beberapa busur yang terlihat cukup kuat disusun dengan rapi. Lalu ada dua bilah pedang panjang dan belasan lainnya yang berukuran lebih kecil. Aku menelan ludahku dengan sulit ketika aku melihat tiga kantung yang teronggok di sudut rak paling bawah lemari. Tanpa perlu membukanya aku bisa tahu apa itu. Serbuk perak. Aku membanting pintu itu menutup dan memaki keras. Aku bisa merasakan semua elemen perak terpoles di semua mata anak panah, di semua bagian pisau dan pedang kecuali di pegangannya. Bulu kudukku meremang dan aku kembali ke ranjangku.

Aku harus hati-hati. Sepertinya ini akan sedikit sulit karena aku tahu aku kan banyak berurusan dengan benda-benda itu. Aku harus sangat hati-hati atau penyamaranku akan berakhir disini jika aku ceroboh dan membuat kulitku terbakar dengan perak-perak sialan itu. Mereka akan langsung tahu siapa aku dan persetan dengan semua hal bodoh tentang penyakit sinar matahari. Mereka akan menangkap dan membunuhku di bawah sinar matahari di tengah hari. Mengerikan.

Aku tidak takut atau aku tidak khawatir pada tugas yang akan aku terima..

Aku mengulang kata-kata yang kuucapkan kepada Ramuel. Aku tersenyum. Ya, aku tidak takut dan aku tidak khawatir. Seorang Corbis tidak akan pernah lemah cuma gara-gara perak sialan seperti itu. Akan sangat konyol dan memalukan jika Lyra sampai tahu bahwa aku sempat berpikir hal menyebalkan dan membuatku khawatir tentang perak dan manusia-manusia yang ada disini. Lyra pasti akan sangat senang mengejekku berkenaan dengan hal itu. Sial. Aku tidak akan membiarkan dia sampai tahu hal ini.

Tok Tok Tok

Aku mengerutkan keningku. Aku sudah punya tamu? Aku mengerutkan keningku, namun tetap saja aku bangkit dan berjalan menuju pintu ruanganku. Aku membuka pintu itu sebagian. Menatap tepat ke kedua bola mata berwarna cokelat tua paling indah yang pernah kulihat. Dalam beberapa detik yang lama, aku tahu bahwa pemilik sepasang mata itu juga menatapku dengan takjub. Aku tahu alasannya.

“Hai.” Katanya buru-buru, mengakhiri keheningan diantara kami.

“Hai.” Balasku seraya membuka pintu kamarku lebar-lebar. Aku melihatnya menelan ludahnya dengan susah payah begitu melihatku secara lengkap. Aku jadi tergoda membaca pikirannya. Aku mengedip, menjernihkan pikiranku dan mulai membacanya.

Astaga, dia tampan sekali. Oh sial! Aku akan dapat masalah lagi karena ini.

Alisku saling bertaut. Dia memuji dan memakiku sekaligus?

“Sherena Audreista.” Dia mengulurkan tangannya, sepertinya dia sudah mengatasi kegugupannya dan keterkejutannya karena dia sekarang terlihat tenang dan percaya diri ketika dia mengucapkan namanya.

Aku tersenyum, balas menjabat tangannya, “Deverend Corbis.”

Dia mengangguk, “Aku tahu. Em, Deverend-“

“Dev saja.”

“Dev.” dia tersenyum dan entah kenapa aku suka melihat caranya tersenyum dan mendengarnya mengucapkan namaku, “Aku adalah rekan setimku nantinya. Sebenarnya ada satu lagi, namanya Arshel. Tapi dia tidak bisa datang menyapamu, dia sedikit sibuk tapi kau akan bertemu dengannya besok ketika kau mulai pelatihan slayermu bersama kami.”

“Aku sudah bertemu dengannya.” Selaku.

“Oya? Kuharap itu pertemuan yang menyenangkan.”

Aku tidak langsung menjawab. Haruskah kukatakan bahwa dia bertengkar hebat dengan seorang bawahan langsung Master karena dia menolak keberadaanku di timnya? Tidak. Kurasa aku akan menyimpan yang itu, “Ya.” balasku singkat.

“Baiklah, itu saja. Aku hanya ingin menyapa dan memperkenalkan diri. Kuharap kita bisa jadi tim yang solid nanti. Selamat beristirahat, Dev.” katanya dengan bersahabat.

“Terima kasih, Sherena.”

“Rena saja.” Katanya sambil tersenyum, melangkah meninggalkan lorong di depan ruang pribadiku. Dia melambai kepadaku sebelum tubuhnya menghilang di sebuah belokan koridor. Aku menatapnya, tersenyum entah untuk apa, “Terima kasih, Rena.” Bisikku pelan sebelum berbalik dan menutup pintu ruang pribadiku.

***

Aku menggunakan jubah lengkapku ketika matahari terbit dan menyinari ruang pribadiku dengan cahayanya yang menyakitiku. Aku memeriksa ulang lagi pakaian yang kugunakan hanya untuk memastikan bahwa aku akan terlindung ketika aku keluar nanti. Aku baru menyadari bahwa tempat ini sepertinya punya jatah cahaya matahari yang terlalu berlebihan. Ini akan jadi hari yang penuh keringat.

Dengan percaya diri aku melangkah keluar dari ruangan sempit ini dan berjalan menuju aula besar. Aku mengamati tempat ini begitu aku sampai di sana. Aula yang cukup luas dengan lima meja sangat panjang dan bangku-bangku kayu yang sam apanjangnya dnegan meja. Banyak yang sudah duduk diatas bangku-bangku itu dengan menyantap makanan mereka.

“Dev.”

Aku menoleh ke belakang dan melihat Rena melambaikan tangannya ke arahku. Di sampingnya, berjalan dnegan wajah tidak senang, pemuda yang kemarin marah-marah dnegan Codd.

“Aku berencana menjemputmu di ruanganmu jika aku tidak melihatmu di sini. Kupikir kau mungkin belum tahu dimana aula tempat kita makan.”

“Codd memberitahuku cukup banyak hal kemarin.”

“Kau dengarkan, Rena. Dia sudah tahu cukup banyak, jadi kau tidak perlu mencemaskannya.” Arshel menyela dan berjalan begitu saja meninggalkan kami. Aku menatapnya dengan tidak percaya. Kenapa dia begitu tidak menyukaiku?

“Jangan cemaskan hal itu. Ar melakukan itu karena dia mengkhawatirkanku.” Rena menatap punggung Ar dan aku melihat kabut di matanya. Sejenak dia terlihat sendu namun dengan cepat dia menghilangkan semua itu dan menampilkan kembali wajah riangnya.

 “Mengkhawatirkanmu?”

Dia tertawa kecil, mengabaikan pertanyaanku dan hanya menepuk pundakku pelan seraya berkata, “Ayo kita makan.”

***

Aula besar tempat kami makan ini sangat ramai dan aku benci berada di tempat keramaian. Aku harus berusaha dengan sangat keras untuk menyaring semua suara yang kudengar dan membuatnya tidak berarti. Dengungan-dengungan itu. Bisik-bisik yang melibatkan namaku. Aku benci dan tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian di sini. Namun nyatanya aku pusat perhatian di sini. Semua perempuan yang ada disini menatapku setiap beberapa detik dan melirikku diam-diam. Aura dan ketampananku memang kadang merepotkan.

“Ini terlalu menarik perhatian.” Arshel melirik ke arahku yang duduk di depannya.

“Ini bukan salahnya, Ar.” Rena menepuk pundak Ar pelan, “Bukan salahnya jika Dev akan mengalahkan kepopuleranmu di sini.” Dia tertawa kecil dan Ar cuma memutar bola matanya, “Aku tidak butuh kepopuleran.”

“Bisa kalian jelaskan padaku apa ini? Aku tidak mengerti.” kataku menyela percakapan mereka. Terus terang aku tidak suka menjadi tidak tahu apa-apa.

“Sebelum ada kau, Ar selalu menjadi pusat perhatian di tempat ini. Yang paling tampan, yang paling hebat, yang pal-“

“Diamlah, Rena.”

Rena malah menertawakan Ar, “Kau lihat Dev. Dia cemas kau akan mengalahkannya. Aku tidak bisa berbohong juga kalau sejujurnya kau memang lebih tampan dari Ar. Dan dari yang kudengar, catatan pelatihanmu di utara cukup baik. Aku tidak sabar melihat Ar lengser dari puncak.”

Arshel terlihat sama sekali tidak ingin menanggapi apa yang dikatakan oleh Rena. Dia malah terlihat bosan. Aku sedikit meragukan jika ini memang tentang popularitas. Arshel tidak terlihat seperti seseorang yang mempedulikan hal bodoh semacam itu.

“Apakah tidak apa-apa memakai pakaian setebal dan selengkap itu, Dev? Kurasa hari ini akan sangat cerah dan panas.” Rena memandangiku, menyadari pakaianku yang sedikit tidak normal.

Aku menggeleng, “Pakaian ini akan melindungiku.”

“Dia punya penyakit, Rena. Jangan membuat sinar matahari mengenai kulitnya langsung atau dia akan terbakar.”

Rena menatapku dengan khawatir, “Kau terdengar seperti vampir.”

“Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu.”

Rena tersenyum kecil, “Kurasa aku juga tidak akan menjadi yang terakhir.”

Aku tersenyum, mengangguk. “Kurasa begitu.”

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

26 Comments

  1. Arshel kok gitu banget sech sma Dev -_- #poorDev

    Arshel yg terlampau syang sma Rena bikin orang" Salah paham . Kenapa gak di ksih tau aj klo mereka itu kakak adek ??

    Author !!
    HV 'a kpan di publish ?? Udah penasaran banget nech !!

  2. Deverend Corbis..
    Ya ampuun..
    Bahagia banget bisa denger nama ini lagi 🙂

    Ga sabar nungguin banyak kata Dev Dev Dev Devvvv… Di another story ini

  3. kak….
    bukannya wsktu itu pernah bilang kalau bakalan upload HV tisp minggu ya? ini kan udah seminggu lebih tapi kok malah upload yg laen? :'(

  4. Iya, soalnya Ar dalam kondisi sedang sangat mengkhawatirkan Rena. Kenapa?? Akan dijelaskan nanti.
    Entahlag, sulit bagi Ar untuk jujur pada Rena bahwa sesungguhnya mereka adalah kakak beradik.

    HV HV HV HV??? Semua nanya itu. Aku jawab : …… *kabuuur*

  5. Astaga astaga…
    Maaf maaf… Aku belum update HV, masih ada beberapa adegan yang tidak sreg di aku jadi aku menunggu saat yang tepat untuk membenahinya. Jadi… sabar dulu ya 😀

  6. Yaaa, iya sih. Tapi.. tapi…
    *suaranya ilang*

    Maaf ya, ditunggu dulu aja. Aku sedang berusaha membuat next chapternya sedikit lebih bagus. Ada bagian yang tidak terlalu membuatku puas jadi aku belum bisa upload chapter itu.

  7. Huhuhu kaka HV n Xexa udah q tunggu berminggu-minggu tp knp yg kluar another story aj hikz hikz hikz jgn siksa q sama karya bagusmu kak (dianarum_07)

  8. HV mana HV *jedotin kepala ke tembok*
    Update kak, plis T.T

    Btw, fb kakak udah aku add Bryandt Valentino (sorry alay, ga bisa ganti nama)
    Confirm yaa ^^
    Makasih~

  9. dev…
    rinduku bukan bukan rindu biasa
    kangen sm dev
    kangennya pake bnget
    kenapa rena gak sm dev aja,
    kenapa dev akhir hdupnya tragis bnget

Leave a Reply

Your email address will not be published.