Another Story – Perlindungan yang Gagal

Ketika aku melangkah keluar, bau hutan langsung memasuki indera penciumanku dan tak jauh dariku, aku bisa melihat Rena yang sedang kalut mencari jalan untuk bisa kembali ke tempat Ar.

“Rena.” panggilku pelan dan dia menoleh ke arahku. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya dia berlari ke arahku. Atau awalnya itulah yang kupikirkan. Sebab ternyata Rena hanya berlari melewatiku. Dia nampak panik meraba-raba seluruh dinding tebing yang ada di belakangku.

“Arshel kumohon.” Rintihnya frustasi dan dia terlihat semakin tak terkontrol. Dengan semakin panik, Rena mencabuti sulur-sulur yang menjuntai menutupi dinding tebing.

“Rena, hentikan itu.” Aku menariknya menjauh. Tapi dia menyentakkan tanganku dengan kasar. Matanya memerah marah dan dia menatapku dengan emosi tidak terkontrol.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” teriakku padaku.

Aku mencoba bersikap tenang dan menjawab dengan singkat, “Dia melindungimu.”

Tapi wajah Rena justru semakin terlihat tidak puas dan mengeras mengamatiku, “Melindungiku? Tapi melindungiku dari apa?”

“Seluruh slayer dan heta di kerajaan ini sedang memburumu. Mereka ingin menangkapmu. Ar berusaha melindungimu dari mereka.”

“Tapi kenapa? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun yang demikian besarnya sampai kelompokku sendiri harus memburu dan menangkapku. Mere—“ Rena berhenti, lalu matanya menatapku dengan kemarahan yang lebih besar daripada sebelumnya. Aku menahan diriku, isi kepalanya benar-benar buruk.

“Ini semua gara-gara kau!” teriaknya, “Mereka tahu kau di sini. Mereka pikir aku yang membantumu masuk ke dalam wilayah kerajaan. Mereka pi—“

Sudah kuduga. Teriakan lagi.

“Ini bukan tentangku.” Potongku cepat, “Mereka bahkan tidak menyadari aku ada di sana. Ini semua tentang kau.”

Tubuhnya membeku “Dev.” desisnya, “Jelaskan padaku semuanya. Apa yang sesungguhnya tengah terjadi sekarang?”

Dia jelas tidak akan bisa menunggu jika kukatakan ini bukan saat yang tepat untuknya mendengar semua penjelasanku. Apa kiranya yang ada di kepalanya jika saja kukatakan padanya tentang apa dia ini sekarang? Apakah dia akan mempercayaiku atau dia justru semakin membenciku karena berpikir ini terjadi gara-gara aku. Apakah aku punya alternatif jawaban lain?

“Dev!”

Rena berteriak lagi dan aku tidak bisa melihatnya semakin panik dan tidak karuan seperti ini, “Kau—“ aku berhenti, mendesah dengan berat, tidak yakin. “—bukan lagi sepenuhnya manusia sekarang. Kau adalah half vampire tapi bukan half vampire biasa. Bukan half vampire yang menjadi seperti itu karena darah yang tak lagi murni, tapi kau half vampire karena jiwamu. Karena jiwamu sekarang tak lagi sepenuhnya menjadi milikmu.”

Matanya menyipit, dia diam cukup lama dan mulutnya separuh terbuka. Jika saja bukan dalam situasi yang seperti ini, aku sudah berhasrat untuk mendekatkan bibirku pada bibirnya yang membuka menggemaskan seperti itu dan membuatnya terkatup dengan kecupan.

Sial, kurasa otakku sudah terlalu banyak terkontaminasi oleh Ramuel dan Gloria.

Half? Half apa? Lelucon apa ini?”

“Ini bukan lelucon Rena, meski aku berharap ini memang lelucon. Tapi sayangnya ini bukan. Aku tahu benar tentang ini begitupula dengan Ar. Itulah kenapa dia tidak terkejut melihatku. Dia tahu aku akan datang.”

Kepalanya menggeleng cepat, “Tidak, tidak. Ini salah. Ini pasti salah. Tidak mungkin aku half vampire. Bagaimana bisa? Dan bukan darah, tapi jiwa. Tidak! Ini mustahil.”

Jika saja bisa, Rena. Kuharap juga tidak seperti ini. Tapi apa yang bisa kulakukan. Aku sendiri bahkan tidak yakin dan tidak tahu pada apa yang seharusnya kulakukan sekarang. Ini semua gara-gara vampir cenayang yang mati dan meninggalkan jiwanya dengan sembarangan di tubuh Renaku.

“Sayangnya ini kenyataannya, Rena.” ucapku serius, “Beberapa bulan yang lalu rasku kehilangan calon ratu kami. Dia dibunuh lebih tepatnya. Semua ini merusak tatanan siklus ras kami. Seorang penerus ras tidak boleh berpasangan dengan wanita yang bukan ditentukan oleh—“  aku menggeleng, Rena tidak perlu mendengar lebih jauh lagi tentang Noura, “Maaf tak bisa menjelaskan ini lebih detail, tapi yang jelas tak sembarang vampir bisa menjadi seorang calon ratu. Bukan kami yang memilih, itu alami terjadi.“

“Lalu apa hubunganya denganku? Memangnya apa urusanku dengan calon ratu ras vampir, hah? Aku bahkan tidak peduli pada apa yang terjadi dalam rasmu. Itu urusan kalian.”

Aku mencoba bersabar dan hanya menghela nafas. Aku tahu ini jelas sulit bagi Rena.

“Ketahuilah Rena. Berpasangan dengan seorang calon ratu akan memberikan kekuatan bagi pemimpin kami. Dia akan menjadi sangat kuat dan tidak terkalahkan. Sebaliknya, jika pemimpin kami memiliki wanita lain sebagai belahan jiwanya. Kekuatannya akan melemah, dan itu juga berakibat pada kami. Kekuatan semua vampir akan melemah. Kami berasal dari satu darah, Rena.”

Dahinya mengernyit, “Lalu apa hubunganya denganku?”

Aku diam. Bagaimana harus menjelaskan hal ini kepada Rena? Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya pada masalah serumit ini dan membuatnya mengerti? Aku menghela nafas lagi. Lebih dalam daripada sebelumnya.

“Rena,” Panggilku dengan suara berat, “Kau adalah pengganti calon ratu yang terbunuh itu. Sebagian jiwa calon ratu yang terbunuh itu ada di dirimu. Itulah yang menyebabkanmu menjadi half vampire.

Dia mengerjap. Diam. Mengerjap lagi. Aku tidak yakin aku sanggup membaca isi pikirannya. Sebab aku tak ingin melihat betapa kalut dan takutnya dia. Namun sejurus kemudian, yang kudengar malah suara tawanya. Tawa putus asa.

“Rena,” panggilku khawatir, “Aku tahu ini semua sulit bagimu tapi aku—“

“Tidak!” sanggahnya kasar, “Cukup semua omong kosong ini. Aku kembali ke kastil kerajaan. Kalian gila. Kau dan Ar sudah gila.”

“Rena,” Aku mencengkeram satu tangannya, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

“Dev—“

“Kau tidak tahu seperti apa jadinya nanti, Rena. Kau adalah kunci kelemahan rasku. Kelompokmu sekarang memburumu. Tidakkah kau pikir ini kesempatan emas para manusia? Mereka tahu kami akan melemah dan kami tidak akan lagi menjadi berbahaya untuk kalian. Lalu bagaimana jika para manusia serigala juga tahu tentangmu? Mereka juga akan memburumu.” Aku menatapnya lurus, “Kejatuhan kami adalah satu-satunya impian terbesar para serigala busuk itu.”

Tapi dia malah mendengus, “Aku tidak peduli.”

“Tapi aku peduli.” Sergahku cepat, “Aku peduli karena ini kau. Kau pikir aku akan membiarkanmu kembali ke kastil. Menghadapi kemungkinan bahwa para slayerakan membunuhmu?” aku menggeleng pasti, “Tidak.”

Aku menatap Rena dengan tajam. Menunjukkan kepadanya betapa aku bersungguh-sungguh pada apa yang telah kuucapkan. Aku tidak akan bisa kehilangan Rena. Aku tidak bisa mengambil resiko apapun yang bisa membuat Rena terjebak dalam bahaya yang mengancam keselamatannya. Bahkan jika memang perlu, aku juga akan berdiri melawan kelopok utama agar aku bisa mempertahankan Rena di sampingku.

Dengan penuh keyakinan, aku berlutut di depannya. Memeluknya yang jelas sekali kalut, “Aku akan di sini melindungimu. Semuanya akan baik-baik saja. Sungguh.”

***

Tapi kelihatannya sulit sekali merealisasikannya. Segalanya nampak tidak baik-baik saja bagi Rena. Dia tetap terlihat tidak senang dan selalu mudah berteriak marah padaku. Tapi aku menikmati semuanya karena aku senang sekali melihat ekspresi Rena yang seperti itu. Berhari-hari bersamanya sepanjang waktu dan semua kerinduanku terasa lunas. Aku bahagia sekali meskipun jika kukatakan hal itu padanya, dia hanya semakin cemberut dan semakin bertindak menyebalkan. Tapi aku menyukainya. Semua yang ada padanya.

“Entahlah, Rena, bagikupun ini semua terasa sangat aneh. Segalanya terlihat seperti kepingan-kepingan yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tapi mungkin saja—“ aku terdiam. Aku sedang menjawab pertanyaan Rena tentang kemungkinan-kemungkinan yang menjadikan dia sebagai pengganti calon ratu rasku ketika kami duduk, beristirahat sebentar setelah berjalan cukup lama.

“Mungkin saja apa?” kejarnya selalu saja tidak pernah sabar jika kami sudah sampai pada pembahasan ini.

“Mungkin saja kau yang telah membunuh vampir terpilih itu. Tapi tidak.” Aku menggeleng, nyaris saja menertawakan apa yang sebelumnya kukatakan padanya. Rena membunuh Noura? Gila. Jelas tidak mungkin.

“Kau tidak akan bisa membunuhnya. Melihat kemampuanmu dan kemampuannya. Kalian jauh berbeda. Ah lupakan, itu hanya pikiran bodohku. Dia terlalu kuat untuk mati di tanganmu.”

Dia memandangku dengan fokus, semakin terlihat ingin tahu, “Lalu memangnya siapa yang membunuh calon ratu itu?”

Aku mengeleng, “Tidak ada yang tahu dan itu masih menjadi teka teki besar bagi kami. Noura seolah mati begitu saja.”

“Siapa?”

Mataku menyipit, tidak paham, “Apa?”

“Kau mengatakan apa tadi? Nama itu, siapa?”

“Noura?” ulangku tidak yakin.

Wajah Rena nampak jauh lebih serius daripada sebelumnya. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan aku entah kenapa kesulitan mengetahui apa yang ada di dalam kepalanya.

“Rena? Ada apa?”

Dia berpaling ke arahku dengan wajah bingung, “Ar mengenal Noura. Dan Dev, apakah kau juga berpikir sama sepertiku jika Ar adalah penyihir?”

“Ar penyihir? Kupikir jawabannya, ya. Tapi Noura, bagaimana bisa dia mengenal Noura. Tidak kurasa dia tidak tahu. Dan kenapa tiba-tiba bicara tentang Ar.” Aku ikut memikirkan apa yang dikatakan oleh Rena. Jika menyangkut tentang Ar adalah penyihir. Aku sepakat dengan itu, karena memang faktanya seperti itu. Tapi jika tentang Ar yang mengenal Noura, aku tidak yakin. Namun bukankah sebelumnya, Noura juga sering berkeliaran di sekitar kastil pelatihan dan kastil asrama. Apakah itu ada hubungannya dengan Ar? Apakah memang benar mereka berdua saling mengenal?

“Ar menyebut nama Noura ketika aku mengatakan kepadanya bahwa aku adalah target dari para vam—“

Mendadak Rena berdiri dengan cepat, menatapku penuh horor. Dan sedetik kemudian dia sudah berteriak lagi padaku, “Kau datang ke menara asrama untuk menangkapku! Kau ke sini untuk membawaku kepada para vampir! Kau bukan ada di sini untuk melindungiku!” Dia menarik pedang di pinggangnyadan mengarahkannya padaku.

“Rena, apa yang kau katakan?” aku kebingungan pada kesimpulan yang diambil sendiri.

“Aku seharusnya tahu bahwa kau memang seperti itu. Kau tidak berubah. Kau penuh kebohongan Deverend Corbis!” raungnya.

Aku memandangnya lelah, kenapa harus mengungkit itu Rena? Kenapa harus mengatakan hal seperti itu padaku? Aku mengambil nafas panjang. Menghadapi Rena dengan emosinya yang sangat tidak stabil seperti ini benar-benar membuatku lelah. Tapi aku tidak akan menyerah.

“Rena, dengar—“

“Kupikir aku bisa kembali mempercayaimu. Tapi ternya—“

“Aku tidak berbohong padamu.” Aku memotong ucapannya, “Ketika aku tahu bahwa kau adalah pengganti Noura. Aku langsung datang ke kastil pelatihan. Aku ingin membawamu pergi. Itu benar. Tapi bukan untuk membawamu pada kelompokku. Aku justru ingin menjauhkanmu dari mereka.”

“Omong kosong.”

Aku membuang nafas, mengambil semua sisa kesabaran yang kupunya. Jika demi Rena, seberapa besarpun aku harus bersabar. Aku akan menghadapinya.

“Apakah menurutmu aku akan membawamu pada kelompok utama sementara aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Kau adalah pengganti calon ratu rasku, Rena. Dimana pada akhirnya kau harus menjadi pasangan dari salah satu anggota kelompok utama.” aku memandangnya tegas, berusaha memberitahunya betapa dia berharga bagiku, “Apa kau pikir aku akan merelakanmu menjadi milik Damis atau Reven?” dia menggeleng, “Tidak. Aku tidak akan pernah merelakan orang yang kucintai menjadi milik orang lain.”

Sudut mataku menangkap bahwa tangannya yang memegang pedang mengendur dan dia menatapku dengan sedikit ragu. Aku tahu dia tahu bahwa aku serius dengan semua yang kukatakan padanya. Aku tahu sulit baginya menerimaku sebagai aku yang dulu dia kenal setelah dia tahu apa aku sesungguhnya. Tapi aku berharap besar bahwa Rena akan memahamiku. Mengerti bahwa apa yang kurasakan padanya bukanlah sesuatu yang palsu.

“Dev, ak—“

“Nah, rupanya kau di sini, Deverend sayang.”

***

Kami berdua menoleh cepat ke arah itu. Dan di sana, bersandar di salah satu batang pohon tak jauh dari kami, aku melihat orang yang paling tidak ingin kulihat sekarang, Lyra.

“Apa yang kau lakukan di sini, Lyra?” sergahku keras. Aku menarik tangan Rena agar mendekat padaku. Aku tidak akan membiarkan Lyra melakukan sesuatu yang buruk pada Rena. Aku tahu jelas apa yang membawa Lyra ke sini dan aku yakin dia tidak sendirian

“Apa yang kulakukan di sini?” dia berdiri tegak, menatapku. “Mengamati kalian. Mendengar setiap kalimat yang kalian perdebatkan. Tapi aku semakin bosan, jadi aku menyapamu dan yah, halo kau bisa lihat aku sekarang.”

“Dan aku mendengarnya, Deverend Corbis. Kuperingatkan padamu, pengkhianatan memiliki harga besar yang harus dibayar.” Damis berjalan dari kegelapan hutan di belakang Lyra dan berhenti tepat di sampingnya. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya dan matanya menatapku dengan pandangan tidak suka yang kentara. Aku tidak pernah punya masalah dengan Damis ataupun kelopok utama sebelumnya. Namun sekarang, kurasa aku akan melakukannya. Aku menarik Rena semakin merapat padanya.

“Dia hanya bercanda, Damis. Jangan menjadi pengadu dan membuat segalanya bertamabah buruk. Si bodoh itu hanya ingin mengulur waktu sebelum menyerahkan perempuan heta itu pada kalian.” suara Lyra yang terdengar marah pada Damis sepenuhnya kuabaikan. Mereka selalu seperti itu.

“Menurutmu begitu?” kedua mata Damis memicing, “Bagiku tidak. Dia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Jujur saja aku sedikit terkejut, tidak menyangka akan melihat bibit pengkhianat dalam diri seorang Corbis. Kupikir kalian kelompok yang terhormat.”

Wajah Lyra mengeras, dia jelas terlihat marah dengan semua kata-kata yang dilontarkan oleh Damis yang sepenuhnya bisa kupahami. Aku mengerti benar bagaimana perasaannya dan bahwa seharusnya Damis tidak langsung berkata seperti itu. Tapi tetap saja, aku tahu Damis juga tidak sepenuhnya salah karena apa yang dilihatnya sekarang juga menunjukkan itu semua. Aku tahu aku sedang ebrjalan di arah menuju pengkhianatan kepada kaumku sendiri.

“Tutup mulutmu, Damis. Kau tidak berhak mengatakan hal itu. Dev tidak akan mengkhianati kelompok utama. Aku bisa jamin itu. Perempuan itu akan berada di kastil utama hari ini, dan aku yang akan membawanya untuk kalian. Dan kau akan melihat bahwa tak ada sedikitpun bibit pengkhianat di kelompok Corbis.” Lyra mengeram berusaha mengendalikan emosinya.

“Maka buktikan padaku. Bawa Sherena padaku.”

“Dengan senang hati.” lalu kepala Lyra berputar ke arahku. Aku sudah bersiap dengan kemampuan terburuk yang ada dan sudah pasti pertarungan dengan Lyra maupun Damis tidak akan bisa dielakkan. Aku memegang tangan Rena makin erat. Memastikan dia masih bersamaku dan rasa hangat yang disalurkan oleh tangannya memberiku kekuatan.

“Nah, Dev. Serahkan perempuan itu padaku atau kita harus terpaksa bertarung.”

Aku mendengus, apakah Lyra memang bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan? Apakah dia tidak mengerti dengan benar setelah dia sendiri tahu bagaimana aku menghadapi bulan-bulan yang lalu tanpa Rena.

“Aku akan memilih yang kedua tanpa keraguan sedikitpun.”

“Michail akan kecewa ketika tahu kau melakukan ini, saudaraku.

Aku sadar Rena menatapku ketika mendengar bagaimana Lyra memanggilku, tapi aku mengabaikannya karena aku harus fokus pada Lyra. Sejujurnya aku sendiri juga terkejut bahwa Lyra akan menggunakan kata keramat itu. Aku dan dia bersaudara? Sedarah dengan Michail? Tentu saja.

“Jadi dengan kata lain kau menghendaki pertarungan kita?”

“Kalau memang itu yang harus terjadi.”

Lyra meraung marah mendengar jawabanku, “Kau bodoh!”

Dan dengan teriakan konyolnya itu, pertarungan kami dimulai. Aku melepaskan pegangan tanganku dari Rena dan langsung terfokus pada Lyra. Bukan hal baru bagiku jika harus bertarung menghadapi Lyra. Kami kerap melakukannya. Sebagai olahraga, atau kalau memang Lyra sedang dsangat menyebalkan. Seperti sekrang ini misalnya.

Aku tahu aku harus fokus pada Lyra dan pertarungan kami. Namun keberadaan Damis yang masih ada di sekitar Rena membuatku khawatir. Dengan mengerahkan semua kemampuan yang kumiliki, aku ingin mengakhiri pertarungan ini dengan secepatnya. Aku menghindar dari serangan Lyra dan berbalik cepat, ketika berada di belakangnya, aku langsung menggunakan kekuatanku yang terbesar untuk menendangnya dengan sekuat tenaga. Ada sedikit rasa bersalah tapi aku tahu Lyra tidak akan terluka parah.

“Kau membuatku kecewa, Lyra Corbis.”

Dengan cepat aku menoleh ke asal suara itu dan Damis tengah berada di dekat Rena. Namun kali ini dia memandangku dengan tidak suka, “Dan kau Dev, kenapa kau begitu bebal? Kau tahu dengan jelas bahwa kami tak akan melakukan sesuatu yang buruk pada Sherena. Kau tahu sebaik aku tentang hal ini.”

Masih dengan nafas yang terengah-engah dan kondisi acak-acakan setelah berhasil mengatasi Lyra yang sepertinya juga sangat bernafsu untuk mengalahkanku,  aku berjalan mendekat ke arah mereka.

Rena berlari ke arahku dan meraih lenganku dengan khawatir, “Kau tidak apa-apa?”

Aku hanya menggeleng dan sedikit mengabaikan Rena. Sebab sekarang lawanku adalah Damis. Anggota kelompok utama tidak bisa diremehkan dan aku tahu Damis juga bukan lawan yang mudah. Damis menatapku, tajam dan benci. Jelas sudah bahwa dia sangat berniat untuk membunuhku. Tapi aku tak akan membuatnya bisa melakukan itu dengan sangat mudah. Tidak akan.

“Aku tahu itu, Damis. Tapi aku tidak bisa membiarkan kau ataupun Reven memilikinya.” ucapku dengan sungguh-sungguh.

“Apa maksudmu Dev?” raung Damis semakin murka.

“Dia milikku.” Tegasku.

“Tutup mulutmu!” Damis berteriak mengerikan dan dengan begitu cepatnya telah berada di depanku dan mencengkeram dadaku dengan keras, “Kuharap kau hanya bercanda dengan ucapanmu tadi.” Dia bicara dengan geraman rendah penuh ancaman.

“Aku tidak bercanda Damis, dan kau tahu itu.”

“Dasar Bodoh!!” Damis melemparkan tubuhku dengan kekuatan penuh bahkan ketika aku masih setengah sadar apa yang telah terjadi padaku. Gerakan Damis cepat dan aku jelas terlambat menghindarinya. Sedetk atau dua detik, hasilnya akan sama. Aku merasakan punggungku menghantam batang pohon dengan keras dan aku sadar bukan cuma satu pohon yang roboh karena kekuatan hantaman tubuhku.

“Kau tahu kau sudah lancang, Dev. Kau tahu harusnya kau tidak mengatakan hal seperti itu. Kau tahu siapa dia dan apa artinya dia bagi ras kita.”

Aku bangun dengan susah payah, “Aku tahu.” ucapku dengan tersengal, “Tapi aku juga tidak bisa menyerahkannya dengan begitu saja padamu. Tidak jika ini menyangkut Rena.”

Mataku memandang Damis dengan tegas. Aku ingin dia tahu bahwa aku memang tidak akan menyerah dengan semudah itu. Entah dia, entah Reven, atau seperti yang sudah kukatakan sebelumnya—bahkan Vlad sekalipun—aku tetap akan berdiri pada pilihan yang sama. Aku tidak akan menyerahkan Rena. Tidak pada siapapun.

“Kau berada dalam pilihan yang salah.” desis Damis berjalan sangat perlahan ke arahku. Dia jelas sudah sangat marah padaku tapi aku tidak gentar sedikipun. Aku sudah siap menghadapi yang terburuk ketika mendadak tubuh Lyra sudah ada diantara aku dan Damis, menghalangi apapun yang sebelumnya akan dilakukan Damis padaku. Aku sendiri masih merasakan sakit di dadaku. Entah apa yang dilakukan Damis sebelumnya, apakah dia memang sengaja menyerang bagian tertentu di tubuhku dan membuatku sesak dan lemah begini. Aku tidak tahu. Aku juga tidak pernah melihat bagaimana anggota kelopok utama bertarung. Aku tak pernah berada dalam satu tugas dengan mereka.

“Biar aku yang menyelesaikan ini.” suara Lyra membuyarkan erangan kesakitanku yang kutahan kuat-kuat. Aku tidak ingin melihat Rena khawatir dengan keadaanku.

Tapi sebelum Lyra melibatkan diri semakin jauh, aku menyentuh bahunya dan mendorongnya menjauh. Menyingkir dari aku dan Damis.

“Kau tidak usah ikut campur.” kataku keras, memperingatkannya. Namun entah ini kesialanku atau apa, dengan gerakan tiba-tiba Lyra langsung menekuk tanganku ke belakang dan menyerangku bersama dengan Damis. Aku memaki keras, dan berusaha bertahan sementara denyut menyakinkan terasa semakin kuat di dadaku.

“Dev!!”

Aku mendengar suara teriakan Rena ketika aku tersungkur jatuh di depan Damis dan Lyra. Aku tidak sanggup menebak apa yang akan terjadi padanya setelah ini. Wajah Ar terbayang dan aku luar biasa menyesal. Aku berjanji akan melindungi Rena dan baru sampai sejauh ini, tapi aku sudah gagal.

“Kau bisa urus perempuan itu sekarang, Damis. Dev sudah tidak akan bisa melawan kita lagi.”

Kepalaku mendongak cepat dan aku melihat Damis sudah berjalan ke arah Rena. Tanganku terkepal kuat. Tapi tak ada sisa tenaga apapun di tubuhku bahkan untuk sekedar bangun.

“Ja-jangan be.. berani-berani menyentuhnya.” raungku marah. Tak satupun dari mereka yang  mendengarku. Aku melihat betapa gugup dan takutnya Rena menghadapi Damis seorang diri.

“Apa yang akan kau lakukan?” aku merasa ada rasa sakit lain begitu aku mendengar suara teriakan Rena dan aku merasa menjadi makhluk yang sangat tidak berguna di seluruh dunia ini ketika aku melihat bagaimana Damis memegang tengkuk Rena. Aku tahu apa yang akan dia lakukan pada Rena.

“Kalian tidak boleh membawanya pergi!” teriakku sangat keras. Aku menyeret tubuhku agar aku bisa bangun. Aku berusaha untuk berlari sekuat tenagaku untuk menjangkau Rena, tapi tangan Lyra mencekalku dengan cepat.

“Berhenti menambah hal bodoh yang telah kau lakukan, Dev. Kau tahu kau sudah dalam posisi sulit sekarang.”

Aku memandang ke arah Lyra dan menyentakkan tangannya, tetap berusaha bergerak ke arah Rena.

“Dev…”

Aku mendengar panggilannya yang putus asa dan bagaimana tubuhnya melemas lalu jatuh pada pelukan Damis. Aku meraung penuh amarah. Seluruh rasa sakitku terabaikan dan aku mencoba mencapai Damis. Namun hal yang terakhir bisa kulihat adalah Damis yang menoleh ke arahku, tersenyum meremehkan, sebelum berlari dengan sangat cepat bersama Rena dalam pelukannya. Aku mencoba mengejarnya namun Lyra menahanku lebih kuat sekarang dan dia mendorongku sangat keras hingga aku terjatuh.

“Kau dalam masalah besar, Deverend Corbis.” suaranya memperingatkanku, “Pikirkan apa yang terjadi pada Michail.” suara itu melembut. Terdengar lelah dan aku menatapnya yang jelas telihat putus asa.

“Mengertilah, Dev.” lirih Lyra.

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>

***

Hai.. ini terasa beda bukan? Ngga sama dengan bagian HV sebelumnya.. Well, part Dev yang bagian ini juga aku edit. Menurut kalian bagaimana? Lebih suka yang versi sebelumnya apa yang ini? Jika menurut kalian lebih bagus yang sebelumnya, maka di novel nanti part Dev ngga akan berubah. Mungkin yang lain yang akan kena edit, biar HV ga terlalu tebal.

Katakana apa pendapat kalian di kolom komentar yaa…

Terima kasih.

Ketjup,

Mau Baca Lainnya?

5 Comments

  1. Bagiku kau tetap cinta sejatiku Dev…
    meskipun skrang ad reven… #duileeh kyak si reven mau z ma gue…hahaha
    pokoknyaaa bagaimanapun kau tetap cinta pertama dan terakhirku…
    #kecupdevsepuasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.