Another Story – Senyuman

Aku benar. Hari-hari selanjutnya memang menarik. Ar sudah berhenti merecokiku ketika kami berlatih. Dia memang tidak menjadi dekat denganku, namun lebih seperti mengabaikanku. Aku tidak peduli. Dia membosankan. Sementara dia sibuk melatih para junior kami, aku duduk mengamati setiap gerakan mereka. Mempelajari hal-hal seperti apa yang menyebabkan beberapa slayer kadang menjadi sangat sulit dihadapi.
“Hai.” Seseorang menepuk pundakku dengan riang. Aku yang sedang terfokus pada gerakan Ar menoleh dengan terkejut hanya untuk mendapati Rena tersenyum lebar dan mengambil duduk di dekatku, “Kau tidak bergabung?” tanyanya mengikuti arah pandangku sebelumnya.
“Malas.” Jawabku asal membuat dia cemberut. Aku tersenyum. Akhir-akhir ini kami menjadi sering ngobrol dan kurasa aku bisa mengubah sedikit pendapatku tentang gadis periang satu ini, dia lumayan menyenangkan. Kecuali untuk sifat ingin tahunya yang sering menyulitkanku, dan kemunculannya yang kadang tiba-tiba—seperti tadi misalnya. Kurasa aku harus mulai mengenali baunya dengan benar.

Berada di tempat penuh manusia dengan bau yang kadang tercium tak berbeda membuatku malas menghafal mereka. Kebanyakan orang-orang di sini juga tidak penting bagiku, jadi aku tidak mau repot-repot. Selain itu, aku benar-benar harus fokus dalam mengendalikan nafsuku. Aku harus benar-benar menghindar dari tempat ini ketika aku lapar—meskipun hanya sedikit—atau segala yang kulakukan akan sia-sia.

Ada darah dimana-mana. Mereka bermain pedang, panah, belati, pisau dan benda-benda yang mudah mengiris kulit mereka yang tipis. Bau darah mereka semua kadang membuatku pusing dan aku harus mencengkeram erat-erat sesuatu di dekatku agar aku tidak berlari ke manusia sumber bau darah itu. Aku benar-benar bekerja keras di sini.
“Apa yang kau pikirkan? Kuperhatikan kau ini banyak melamun ya?”
Kepalaku menoleh. Itu si Rena yang bicara. Aku hampir melupakan satu hal. Dia ini cerewet. Itu beberapa hal yang paling tidak kusuka. Atau entahlah. Kadang ketika dia diam, aku malah merasa dia jadi aneh. Jadi aku belum memutuskan membenci sifatnya yang satu itu aku tidak.
“Aku hanya berpikir. Banyak hal yang menganggu pikiranku akhir-akhir ini.” jawabku.
Dia menatapku dengan khawatir, “Kau baik-baik saja, Dev?”
“Ya-ya. Aku baik.” Aku tersenyum padanya, “Hanya saja kadang—aku merasa aku tidak terlalu diterima di sini. Aku tahu kau dan Ar bertengkar. Tidak lain juga gara-gara aku. Kupikir, Rena. Aku akan mengajukan permintaan kepada Master agar aku dikembalikan ke pelatihan di utara. Setidaknya di sana, aku akan diterima.”
Lyra jelas akan menertawakanku sampai puluhan tahun ke depan jika dia mendengar kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku tahu aku terdengar melankolis, tapi persetan. Aku butuh menjadi dekat dengan si Arshel itu. Sudah kubilang dia bisa jadi sumber informasi yang sangat baik untukku.
“Deverend Corbis!” Rena meneriakiku, membuat Ar dan semua yang berlatih di lapangan di depan sana menoleh ke arah kami. Dia hanya mengangkat tangannya dan memberikan tanda bahwa dia baik-baik saja ketika Ar terlihat akan mendekat. Dia kembali memandangku—atau lebih tepatnya memelototiku, “Jangan berani-berani melakukan hal konyol seperti itu.” Suaranya penuh ancaman.
Dia menyentuh lenganku, seolah memberiku kekuatan agar aku betah dan bertahan di tempat ini. Sejujurnya aku berusaha menahan tawaku saat ini, tapi sial—aku bisa merusak semua rencanaku. Jadi akhirnya yang muncul adalah roman muka gelisah dan pasrah.
“Aku hanya tidak ingin kau dan Ar terlibat pertengkaran karena aku. Lagipula Ar memang menolak kehadiranku di dalam tim kalian sejak awal kedatanganku. Semua orang di pelatihan ini tahu dia membenciku, karena itulah aku tak tahu siapa-siapa selain kau dan Ar di sini sampai sekarang.”
“Mereka semua menjauh dan menjaga jarak dariku karena Ar. Kurasa mereka tidak mau mencari masalah dengan Ar.” Paparku mengada-ada. Jika kau butuh informasi yang benar. Aku yang menjauh dari semua orang. Tak sedikit slayer atau heta yang berusaha untuk mendekatiku. Tapi mereka tidak berguna, aku tahu. Hanya Ar yang akan membuat tugasku di sini cepat selesai dan aku bisa segera pergi. Aku mulai muak dengan unsur perak di sini yang sering membuatku gatal-gatal dan mual meskipun aku sudah menjauh dari semua benda-benda perak sialan itu.
“Astaga Dev. Jangan berpikiran bodoh.” Dia memukul lenganku lumayan keras, “Kau diterima di sini. Kau hanya kurang mencoba berbaur dengan semua orang di sini. Lagipula seandainya memang benar kau dijauhi, lalu memangnya kenapa?”
Aku melihat wajahnya mengeras ketika dia mengatakan hal itu. Aku menunggu. Dia seharusnya punya alasan kenapa.
“Kau mungkin dijauhi karena Ar tidak menyukaimu, tapi mereka juga menjauhiku karena Ar dekat denganku. Rumit bukan? Jadi jangan terlalu peduli pada hal ini. Sedikit teman tapi yang terbaik akan lebih menyenangkan daripada banyak teman namun—yah kau tahulah.” Katanya.
Aku mengangguk, “Tapi tentang Ar—“
“Tenang saja.” Dia memotong ucapanku, di sini dia mulai memelankan suaranya, “Aku tidak bisa memaksa Ar langsung menjadi baik atau bersikap normal padamu, tapi kurasa aku punya rencana yang akan membuat keadaan ini berubah untuk kau dan Ar.” Matanya bersinar penuh keyakinan sebelum dia mendekatkan dirinya ke arahku dan berbisik.
***
Tugas pertama—ralat—tugas pertama sebagai slayer. Menjadi pelindung sebuah desa kecil di selatan kerajaan. Menjauhkan bahaya dari penduduknya yang kebanyakan adalah petani-petani yang tidak terlalu kaya dari desas desus keberadaan vampir yang mengancam nyawa mereka. Aku nyaris tertawa ketika mendengar rincian tugas ini. Jadi sekarang aku akan menjadi pemburu rasku sendiri?
Rena ikut dengan kami kali ini karena perubahan jadwal penjagaan dengan heta lainnya. Dia—karena memang heta—biasanya lebih sering berada di istana daripada di desa atau hutan-hutan perbatasan sebagai lokasi tugasnya. Namun jika dia sedang tidak bertugas sebagai heta, dia akan bergabung dengan Ar—kali ini ditambah aku—karena mereka memang satu tim.
“Kau tidur saja.” Ar melirik ke arah Rena yang terlihat lelah. Kami sedang membuat api unggun ketika senja berakhir dan Rena malah menguap. Padahal ini bahkan belum ada beberapa saat setelah matahari terbenam.
“Tidak. Kita sedang bertugas. Aku tidak ingin bermalas-malasan.” Dia menegakkan punggungnya dan mencoba terlihat segar. Sayangnya wajah kelelahan dan mengantuk itu menempel kuat di parasnya.
“Jangan membantah.” Ar menaikkan nada suaranya, “Kita berkuda hampir seharian untuk mencapai desa ini. Kau butuh istirahat. Kita bisa bergantian berjaga dan tidur. Kau yang pertama tidur.” Perintahnya cepat tanpa memberi kesempatan pada Rena untuk membantah.
Kedua alis Rena saling bertaut. Namun dia mengalah dan membaringkan tubuhnya di atas rerumputan tak jauh dari api unggun. Dia meringkuk dengan tidak nyaman dan menutup matanya. Beberapa saat kemudian, aku maupun Ar tahu bahwa dia langsung tertidur, karena dengkur halusnya mulai terdengar.
Ar berdiri, menyelimuti Rena dengan jubah perjalanannya.
“Kau sudah seperti suaminya saja.” Komentarku. Tapi Ar tidak menanggapinya, dia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arahku. Sudah kubilang bukan, dia mengabaikanku. Lama-lama ini bisa jadi masalah serius. Jika dia bungkam begini, aku tidak akan dapat apa-apa. Aku beralih ke arah Rena yang pulas, kurasa aku akan setuju dengan rencananya.
***
Tidak ada vampir di sini. Aku tahu jelas itu. Tidak ada bau mereka di tanah ini. Tapi tentu saja, dua manusia di depanku ini tidak tahu perbedaannya. Mereka berpatroli dan aku mengikuti dengan bosan. Malam-malam berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Mungkin laporan yang datang tentang tempat ini salah. Kukatakan sekali lagi. Tidak ada vampir di sini. Tidak ada. Bahkan makhluk super bau seperti manusia serigala juga tidak ada. Desa ini aman dan bersih.
“Kalau tidak ada vampir. Kita tidak akan bisa menjalankan rencana kita.” Kata Rena pada malam keempat kami berada di sini ketika aku dan dia sedang berjalan menelusuri tepian sungai berdua.
Aku mengangguk, “Mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa berharap di sini memang benar-benar ada vampir.”
“Baru kali ini aku berharap didatangi vampir.” Dia tertawa. Aku menoleh. Menemukan wajahnya yang tertawa. Terlihat berkilau di bawah sinar bulan dan pantulan cahaya dari air sungai. Aku terdiam. Membeku menatap wajahnya yang masih tertawa, “Dev.” Suaranya terdengar seperti irama yang demikian memukau.
“Dev!” dia berhenti berjalan dan mengamatiku yang seperti terkena sihir beku.
Aku mengerjap. Langsung memalingkan wajahku. Memaki diriku sendiri. Aku ini kenapa?
“Dev?” suara Rena yang kembali memanggilku menyadarkanku. Aku menoleh kepadanya.
“Ya.”
“Ada apa?”
Aku menggeleng, “Tidak. Hanya sedikit pusing.” Jawabku asal.
Wajah Rena langsung berubah khawatir dan aku menyesal mengatakan hal itu sebagai jawaban. Perlu beberapa menit menjelaskan dan meyakinkan dia bahwa aku memang baik-baik saja sebelum kami berdua bisa melanjutkan semua tugas dan jalan-jalan malam yang tidak berguna ini.
***
Ar masih mengabaikanku saat hari kelima kami berada di sini. Ini akan menjadi sangat buruk karena aku akan semakin lama berada di sini dan tanpa apa-apa yang bisa kuberikan kepada Reven. Makhluk sialan itu bisa datang kapan saja untuk meminta informasi dari tugas yang kulakukan. Dan jika aku tidak mendapatkan sesuatu yang berharga. Dia akan mengatakan sesuatu yang pasti membuatku ingin menelannya bulat-bulat.
Tapi tentu saja aku tidak bisa. Reven punya kekuatan dan kemampuan untuk membunuhku dengan mudah jika dia mau. Ah salah, sebenarnya tidak dengan mudah juga, aku pasti melawan. Entahlah, memikirkan banyak hal akhir-akhir ini dan aku menjadi tidak fokus. Pikiranku kadang bisa berpusat pada sesuatu lain dan menjadi beraneka ragam hal lain dalam detik berikutnya.
“Kurasa rencana kita akan gagal.” Rena berbisik padaku ketika Ar sedang sibuk membakar hewan hasil buruannya untuk makan kami, “Tidak apa-apa di sini. Jika sampai hari ketujuh tetap seperti ini. Kita akan pulang. Kau dan Ar akan tetap menjadi musuh.”
Aku mengangguk setuju. Tempat ini sangat aman. Tidak ada sesuatu yang akan membantu kami untuk bisa memperlancar apa yang sudah direncanakan oleh Rena. Mendadak terlintas sesuatu di dalam benakku. Jika tidak ada vampir di tempat ini, maka aku yang harus mendatangkannya.
Bibirku melengkungkan senyuman tipis yang membuat Rena menatapku dengan tidak mengerti. Kurasa ini akan mudah dilakukan. Ketika aku merasa puas pada apa yang ada dalam pikira—tunggu dulu. Aku bangkit dengan cepat dan mengawasi sekitar kami. Aku merasakan ada sesuatu mendekat. Aku memfokuskan semua indera dalam tubuhku dan mengabaikan tatapan curiga dan bertanya dari Rena maupun Ar.
Vampir?
Tidak salah lagi. Aku bisa mengenali bau yang dibawa angin. Tapi sialnya aku tidak tahu siapa mereka. Ini asing bagiku. Ketika mereka—aku yakin jumlahnya lebih dari dua—mendekat, Ar berdiri dengan cepat, melempar sembarangan daging kelinci yang sedang dipanggangnya dan menarik satu anak panah dari belakang punggungnya. Kurasa dia bisa merasakan hawa aneh ini. Intuisi slayer kelas atas memang patut dibanggakan.
Rena melompat bangun, menarik pedang panjang miliknya. Bau ini mendekat, tapi tidak ke arah kami. Mereka menuju—
“Ke sana.” Aku berbisik dan berusaha berlari senormal mungkin menuju pemukiman penduduk. Kami berada di perbatasan desa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari arah tujuan mereka.
Aku berlari—sejujurnya ini seperti merangkak bagiku—dengan Ar mengejar di belakangku dan Rena di belakangnya. Kami melompati semak-semak pendek dan menerobos semak-semak tinggi demi memangkas rute. Sampai akhirnya aku merasakan ini sudah sangat dekat, aku memelankan langkahku. Membiarkan Ar yang di depan.
Bau darah tercium dan langsung membuat bulu-bulu halusku berdiri. Sial. Ini tercium sangat nikmat. Aku menggelengkan kepalaku. Aku harus fokus. Aku sudah makan beberapa hari lalu dan kurasa itu cukup untuk bisa membuatku menahan diri. Aku lupa satu lagi. Bau darah tadi. Artinya kami terlambat. Sudah ada yang mati.
Dan benar saja, ketika kami sampai. Satu orang vampir tengah menghisap dengan ganas seorang penduduk desa yang kurang beruntung. Empat lainnya memandang ke arah kami. Mereka jelas sudah bisa merasakan kehadiran kami sejak tadi—sama seperti aku merasakan kehadiran mereka—sehingga mereka berdiri dengan sikap menunggu yang menyebalkan.
“Ah dua orang slayer dan—“
Di sini aku memoloti dia yang bicara dengan segenap petanda simbolik yang kumiliki. Kurasa kaumku cukup cerdas karena kemudian dia diam. Mengerti bahasa tanpa kata yang kuisyaratkan padanya. Selagi itu, aku mengamati kelompok kecilnya. Tidak ada satu pun yang ku kenali. Tunggu. Sepertinya aku ta—
Suara anak panah yang membelah udara dan berakhir dengan sia-sia mengalihkan fokusku. Ar sudah melepaskan anak panah pertamanya dan bersiap melepaskan yang kedua. Oh ayolah, tidak bisakah tuan slayer nomer satu itu menunggu.
Aku bergerak—pura-pura—ke arah kanan sementara Rena ke kiri. Kami berpencar dan menggunakan semua kemampuan bertarung kami. Tiga untuk Ar. Satu untukku dan satu vampir tersisa—yang paling kenyang kurasa—untuk Rena. Aku tidak memperhatikan detail pertarungan yang lainnya ketika gerakan pura-puraku membawaku dan vampir laki-laki di depanku ini sedikit menjauh dari jarak dengar Ar maupun Rena.
“Jadi siapa kau?” aku mengayunkan pedang perak palsuku dengan malas. Ini hanya semacam gerakan yang kugunakan agar aku terlihat seperti bertarung.
“Lewis.” Jawabnya sambil melompat mundur ketika kuarahkan ujung pedangku mendekat, “Dan kau dalam tugas?” dia bertanya sambil mengamatiku.
Aku mengangguk, “Seperti itulah.” Jawabku singkat. Sepertinya tadi aku berpikir aku mengenal yang satu di depanku ini. Tapi entah kenapa rasanya susah sekali mengingat.
“Apa ini pertemuan pertama kita? Aku tidak mengenalmu? Dari kelompok mana kau?”
Lewis memiringkan kepalanya ketika aku kembali mengayunkan pedangku dengan kecepatan mengagumkan, “Bukan kelompok besar. Ini kelompokku. Kami hanya berlima. Dari selatan.” Paparnya. Kemudian dia menunjuk ke arahku dan berhenti bergerak, “Tapi aku kenal kau. Deverend Corbis.” Dia menyebut namaku dengan lancar seolah-olah sudah sering mengucapkannya berkali-kali, “Aku mengenal baik Ramuel Corbis.”
“Ah. Kawan Ramuel.” Aku mendesah. Ini sedikit lebih baik. Bisa diajak bekerja sama. Tapi jika dia dan kelompok kecilnya adalah teman-teman Lyra, kurasa hanya akan jadi masalah. Lyra selalu punya bakat untuk berteman dengan vampir-vampir pembuat onar.
Aku menurunkan pedangku, “Baiklah, kau harus dengarkan aku Lewis.” Kataku serius. Dia mengangguk, mendekat ke arahku yang mundur ke arah pepohonan agar Ar maupun Rena yang masih sibuk dengan pertarungan mereka tidak bisa melihat kami.
“Aku butuh bantuanmu.” Ucapku langsung seraya menatap ke kedua bola matanya yang berwarna abu-abu, “Kau jelas tahu menyusup di dalam satu kastil penuh slayer dan heta adalah mengerikan. Tapi sialnya itu adalah tugas yang diberikan Vlad padaku sekarang. Aku harus bisa berbaur agar aku bisa segera mendapatkan apa yang diminta Vlad. Tapi masalahnya—kau lihat slayer laki-laki itu.”
Lewis segera mengikuti arah pandangku dan melihat Ar yang sedang bertarung dengan gigih dan sudah nyaris mengalahkan tiga temannya. Satu kakinya sudah maju untuk membantu ke arah mereka jika aku tidak menahannya, “Dia hebat bukan? Tapi sayangnya bukan di situ fokus bantuannya.” Potongku, “Tapi dia.” Kali ini aku menunjuk ke arah Rena.
“Serang dia. Gunakan semua kekuatanmu dan kekuatan kelompok untuk membunuh perempuan itu. Dan pada saat yang tepat. Biarkan aku menyelamatkannya dan selesai. Kau dan kelompokmu harus segera pergi. Ah satu lagi. Jangan cari mangsa di desa ini. Kau harus ke kota. Banyak penduduk. Tidak akan terlalu mencolok jika ada satu atau dua gelandangan lenyap.”
Dia menoleh cepat ke arahku, “Dan bagaimana dia?” matanya berubah merah, “Slayer laki-laki itu bisa saja membunuh salah satu anggota kelompokku.” Desisnya.
“Aku tahu cara mengatasinya. Jika kau serang si perempuan. Dia tidak akan fokus pada pertarungannya. Dan ketika itu. Lukai saja kakinya atau terserah bagian tubuh mana.” Aku maju, hingga badan kami hanya berjarak tak sampai sepuluh senti. “Tapi jangan membunuhnya. Dia informanku.” Ancamku.
“Jika kau memang kawan Ramuel. Kau jelas tahu seperti apa kekuatan kami, para Corbis. Jadi jangan macam-macam. Bahkan sesungguhnya, aku sendiri tanpa dua slayer itu, sanggup membunuh kelompok kecilmu ini.” aku tersenyum dingin, “Turuti semua yang kukatakan tadi dan akan kuberitahu Reven tentang usahamu membantuku. Dengan begitu mungkin saja dia mempertimbangkan kelompok kecilmu ini untuk menerima sesuatu yang hebat darinya.”
Matanya menyiratkan sesuatu yang sangat kukenali. Obsesi. Kelompok utama jelas merupakan tujuan hidup semua vampir—kecuali aku. Mendekatkan diri pada setiap anggotanya—yang cuma ada Vlad, Reven, Damis, Rosse dan Russel—adalah satu-satunya jalan yang paling mudah. Lihat saja ini, tak sampai beberapa detik, Lewis mengangguk dan dia berlari ke arah arena pertarungan Rena dan Ar. Aku mengamati sambil membuang nafas panjang. Sebentar lagi, aku akan segera memainkan peran sebagai pahlawan.
***
Aku mengangkat pedang perak—palsuku. Membiarkan ujungnya yang tidak terlalu tajam mengores beberapa bagian tubuhku hingga darahku mengalir ke luar. Aku butuh visualisasi yang bagus dalam pertarungan. Tidak mungkin aku muncul dengan tampilan rapi dan tanpa cedera sedikit pun. Sementara itu, kugunakan satu tanganku yang lain untuk mengacak rambutku.
Baru beberapa gerakan, aku bisa mendengar suara teriakan marah Arshel.
Itu tandanya.
Aku berlari dengan cepat ke arah mereka dengan nafas memburu dan wajah panik. Sekuat tenaga, aku mencoba menampilkan ekspresi kewalahan tiga slayer yang dikeroyok lima vampir gila. Jangan tertawa. Aku tahu aku berlebihan ketika mendeskripsikan vampir berkekuatan menengah itu. Hanya saja, sekarang mereka akan berperan begitu. Vampir gila haus darah. Seperti yang sering dibuat lelucon oleh beberapa slayer dungu di kastil pelatihan. Aku tidak tahu kenapa mereka menyebut vampir—ras tertinggi di dunia ini dengan segala kemasyuran dan kekuatan kami—dengan sebutan aneh begitu.
Baiklah. Kembali pada fokus Dev.
Ketika aku sudah benar-benar dekat. Aku melihat Ar jatuh dengan lengan dan kaki penuh darah bekas kuku-kuku tajam vampir yang mengoyak daging atasnya. Bau darahnya menguar membuatku mengerutkan keningku. Ada yang berbeda. Aku melotot marah pada Lewis yang langsung menarik satu temannya—yang berusaha menancapkan taringnya ke leher Ar—dan segera membisikkan sesuatu. Dia menatapku sekilas sebelum beralih pada Rena.
Aku tidak membuang-buang waktuku dan segera berpura-pura membantu Ar bangun.
“Kau baik-baik saja.” Aku berkata dengan panik. Aku masih merasakan ada sesuatu yang salah dengan bau darahnya.
“Re-rena.” Dia bernafas dengan tak terkendali. Satu tangannya menutup luka menganga di lengan kanannya yang terus mengeluarkan darah tapi mata dan semua perhatiannya tertuju pada arah lain, Sherena Audreista. Aku menyobek ujung pakaian yang kugunakan dan melemparkannya pada Ar, “Gunakan ini untuk menekan pendarahannya.” Kataku cepat sebelum aku berlari ke arah Rena yang dikeroyok lima vampir sekaligus.
Aku tidak menyangka semudah ini mengelabui Arshel. Dia slayer hebat. Namun kehilangan fokus jika bertarung dalam pertarungan yang melibatkan Rena. Dia harusnya memperhatikan lawannya sendiri, dan bukannya sibuk mengamati apa Rena terluka atau tidak. Dasar tolol. Aku mendengus sambil mengayunkan pedangku dengan kuat.
Beberapa tendangan, terjangan, pergulatan membosankan berakhir dengan ujung pedang yang kutancapkan dalam di dada Lewis yang menyerempet beberapa inci saja dari jantungnya mengakhir pertarungan ini. Lewis tahu pedang perak palsu dan tusukan itu tidak akan berarti besar baginya. Dia hanya akan mengalami sedikit rasa sakit sebelum tubuhnya mengobati dirinya sendiri. Kemampuan alami para vampir yang menakjubkan bukan?
Dengan bantuan temannya mereka mundur dan segera pergi dari sini. Aku berlari ke arah Rena yang tergeletak penuh luka tak jauh dari mayat perempuan yang merupakan mangsa salah satu anggota kelompok Lewis ketika kami pertama menyergap mereka.
“Rena.” Aku berteriak panik tanpa sempat merancangnya. Teriakan itu keluar begitu saja dari mulutku begitu melihat keadaan Rena yang sangat buruk. Dia luka parah. Aku tak memperhatikan ini sebelumnya. Aku hanya fokus pada peranku untuk bertarung dengan Lewis dan kelompoknya.
“Rena.” Panggilku lagi sambil meraih tubuhnya dan membawa kepalanya berbantal tanganku. Aku merasakan cairan hangat membasahi tanganku itu. Aku menarik tanganku pelan. Tanpa melihatnya sesungguhnya aku tahu itu apa—dari aromanya. Darah.
Aku bisa merasakan kontrolku pada jantung dan aliran pernafasanku menghilang. Bau darah Rena membangkitkan sifat alamiku. Aku bisa merasakan bagaimana gigi taringku memanjang dan tanganku mengejang.
Tidak.
Aku mengeleng kuat. Aku harus bisa mengontrol diriku. Aku menatap mata Rena yang terpejam dan mendadak ada ketakutan mengelayutiku dengan kuat. Apakah mereka melakukannya dengan brutal? Sudah kubilang pada Lewis jangan sampai Rena terbu—
“Serang dia. Gunakan semua kekuatanmu dan kekuatan kelompok untuk membunuh perempuan itu..
Aku memaki diriku sendiri.
“Rena.” Mendadak Ar sudah di sampingku dengan tampang khawatir yang luar biasa. Sejujurnya aku berpendapat dia harusnya khawatir pada dirinya terlebih dahulu. Lengan kanan dan betisnya masih mengalirkan darah—yang baunya tetap membuatku kurang nyaman.
Aku mengendong Rena dengan satu gerakan. Membiarkan tubuh rampingnya berada dalam kedua tanganku, “Aku akan membawanya pada penyembuh di desa ini. Kau menyusullah segera. Lukamu juga perlu diobati.” Tegasku.
Ar mengangguk. Tak mengucapkan apapun dan membiarkanku berlari—dengan kecepatan manusia tentu saja—meninggalkannya. Aku tahu rumah penyembuh di desa ini. Ketika kami datang ke desa ini. Tetua desa mengenalkan kami pada beberapa orang penting di sini. Salah satunya wanita tua dengan punggung bungkuk, yang segera kutahu adalah penyembuh. Rumahnya berada di ujung desa tak jauh dari tempat kami biasanya berjaga.
Begitu Ar tidak bisa melihaku lagi. Aku berlari dengan semua kemampuan yang kumiliki. Gelombang ketakutan yang sama kembali menyerangku. Aku bisa merasakan darah itu masih mengalir dari luka di belakang kepala Rena. Dia tidak boleh mati. Tidak. Entah bagaimana, aku merasa aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi.
Beberapa detik saja dan aku sudah berada di depan rumah kecil wanita tua itu. Dengan tidak sabar aku berteriak-teriak memanggilnya. Aku tidak bisa menggunakan tanganku untuk menggedor pintu. Jadi selain mulutku yang terus berteriak-teriak. Aku menggunakan sedikit kekuatanku pada ujung kakiku yang menggebrak-gebrak pintu rumah ini. Wanita tua itu keluar dengan diterangi cahaya perapian dari belakangnya dan menjerit terkejut melihat penampilanku dan apa—siapa—yang kugendong. Dia segera memberiku tanda untuk masuk. Aku tidak menyia-siakan waktuku dan segera menyelinap. Membawa Rena yang masih tidak sadarkan diri.
***
“Akhirnya kau bangun.” Ucapku penuh kelegaan ketika bola mata cokelat cerah itu memandangku. Dia menggerang. Menyentuh kepalanya yang dibalut kain sambil beringsut bangun. Aku menahannya dan memintanya tetap berbaring. Awalnya dia menolak tapi aku memandang dengan tatapan memerintah yang jelas hingga akhirnya dia mengalah dan tetap di atas tempat tidurnya.
Matanya mengitari ruangan ini dan aku bisa melihat kedua alisnya saling bertaut, “Bagaimana aku bisa ada di ruang pribadiku sendiri?” kali ini kedua matanya menatapku.
“Rena, aku yang membawamu kembali ke kastil.” Jawabku, aku melihat tatapan tidak puas miliknya yang sangat kukenali dan aku segera melanjutkan, “Kau terluka parah. Penyembuh di desa itu mungkin membantumu mengatasi luka yang kau alami. Tapi kau butuh pengobatan yang lebih baik. Aku dan Ar memutuskan kembali agar kau menerima pengobatan di sini.”
“Berapa lama aku pingsan?”
“Dua hari setengah jika sedikit yang tadi dihitung.”
“Ar di-“
“Dia baik-baik saja.” Potongku dengan sedikit kecewa. Aku menungguinya dengan cemas setengah mati selama dua hari ini. Aku melakukan yang terbaik agar kuda yang kutunggangi tidak berlari terlalu cepat atau terlalu kasar agar lukanya tidak bertambah buruk selama aku membawanya kembali ke sini. Dan dia malah bertanya tentang Ar. Ini benar-benar membuat kepalaku seperti mau meledak karena kesal.
“Aku melihatnya terluka parah.” Rena masih tidak menyadari perubahan ekspresiku.
Aku mengusap lengannya, memintanya tenang, “Dia memang terluka tapi tidak seburuk dirimu. Lengan dan betisnya mengalami luka dalam. Tapi di luar itu. Dia baik-baik saja. Aku yakin sebentar lagi kau akan melihat dia tertatih-tatih masuk ke sini. Dia memaksa menungguimu meski Roe sudah memintanya untuk beristirahat dulu.”
Rena menghela nafas. Kali ini bisa kulihat dia tersenyum. Aku menahan nafas. Jangan tersenyum seperti itu.
“Kau bagaimana?” tanyanya, “Kau pasti juga terluka.”
Aku tersenyum kecil, “Aku baik-baik saja.” Ucapku jujur, “Kau sebaiknya memperhatikan kepalamu daripada kondisiku maupun Ar.” Aku menyindirnya. Dia tertawa kecil sambil meraba kepalanya.
“Lalu bagaimana?” Rena mendadak bertanya dengan antusias.
Aku menelengkan kepalaku. Tidak mengerti.
“Rencananya Dev.” Dia menjawab dengan tidak sabar. “Bukankah ini berjalan seperti apa yang kita harapkan? Hal yang terakhir bisa kuingat sebelum aku pingsan adalah kau menyelamatkanku dari kepungan lima vampir kelaparan itu. Apakah Ar terkesan? Dia sudah bersikap baik padamu??”
Aku menatapnya dengan tajam, “Rena.” Kataku dengan suara rendah, “Aku benar-benar melakukan tindakan bodoh dengan menyutujui rencanamu ketika itu. Kita tidak bisa bermain-main dengan nyawa. Apakah menurutmu kita bisa memprediksi kekalahan atau kemenangan ketika kita menghadapi makhluk pemangsa?”
Kepalaku menggeleng, “Jika harus memilih. Aku akan membiarkan Arshel membenciku dan tidak menerima keberadaanku selamanya daripada aku harus mengambil resiko untuk kehilangan dirimu hanya untuk usaha konyol memenangkan perhatian Arshel.”
Kau jauh lebih berharga dari itu.”
Aku segera bangkit dan berjalan keluar meninggalkan ruangan ini tanpa menoleh. Aku merasa sangat marah ketika Rena lebih memedulikan rencana itu daripada dirinya sendiri. Terus terang aku bahkan sudah melupakannya ketika aku didera kepanikan karena melihatnya yang terluka begitu.
Bisa saja dia mati karena kehabisan darah. Bisa saja dia mati karena benturan di kepalanya itu. Bisa saja dia ma—Tidak. Aku memegang kepalaku dengan panik. Apa yang tadi kupikirkan? Kenapa aku harus sekhawatir itu pada apa yang akan menimpa Rena.
Ada sesuatu yang salah. Apakah aku? Tidak. Aku menggeleng dan segera berjalan cepat meninggalkan koridor heta sebelum aku berpikiran lebih buruk lagi tentang apa yang menimpa isi kepalaku.

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

10 Comments

  1. Kenapa ga rev-rena ya,kan udh ngerti awal hub.mereka pas di hv,tp tetep pasrah aja lah..he3x,seadanya aja Xa..he3x…ui Ar…keren deh,slayer sejati ya.tx ya Xa…btw ini masi tbc?

  2. Ini cerita bersambung (dan banyak), nyeritaan awal Dev sama Rena sampai akhirnya Dev mati. Kalo Rena Reven mungkin nanti masuk short story Remember Us, jadi ngga bersambung kayak Another Story. :))

  3. There are some interesting closing dates on this article however I don’t know if I see all of them center to heart. There is some validity but I will take hold opinion until I look into it further. Good article , thanks and we would like extra! Added to FeedBurner as properly

Leave a Reply

Your email address will not be published.