Another Story – Tugas

Aku tidak suka kastil ini. Hawa dan aura yang terpancar dari sana jelas di luar apa yang bisa didefinisikan manusia sebagai kebahagiaan. Kastil ini terlalu gelap dan tertutup dalam artian lain. Entahlah, aku hanya tidak suka berada disini. Namun yang jelas, sekarang aku harus masuk ke dalam bangunan sangat tua ini dan menghadapi apa yang akan diberikan padaku sebagai tugas.

Di depanku, Michail melangkahkan kakinya dengan ringan. Kami sudah lama melepaskan jubah kami dan menyampirkannya di lengan kami sejak kami mulai memasuki kastil. Lagipula apa yang bisa diharapkan, ini sudah petang dan jika masih siang pun, aku curiga tidak pernah ada tanda-tanda sinar matahari mampu menembus kabut-kabut dingin yang tebal di sekitar tempat ini. Bau hujan dan kelembaban memenuhi hidungku dan aku sangat ingin mencoba untuk bersin. Sekedar mencoba merasakan gaya hidup manusia, maksudku, yah akukan tidak bisa sakit.

Aku menahan tawaku ketika mendadak Michail berputar mendadak, “Eh.”

“Dev, tunggulah disini. Aku akan menemui Vlad sebentar.” Katanya mengabaikan wajah terkejutku.

“Bukankah kita memang akan menemuinya?”

Michail menggeleng, “Sayangnya tidak. Segala urusan tugas ini berada di bawah kendali Reven, dan kita akan bicara dengannya. Bukan dengan Vlad. Tapi aku punya sesuatu yang ingin kudiskusikan dengan Vlad. Jadi tunggulah dan kita bisa bersama-sama menemui Reven di ruangannya setelah itu.”

Aku mengangguk, tidak ingin bertanya atau protes karena aku paham benar jalan ceritanya. Yah, semua tugas berada di kendali Reven. Rupanya dia benar-benar menyiapkan dirinya sebagai pengganti Vlad. Aku masih memandangi aula luas kastil ini dengan malas ketika Michail sudah berjalan cepat menaiki tangga menuju ruangan Vlad. Aku sedikit bosan. Dan kastil besar ini terasa seperti cangkang kosong. Tidak ada bau kehidupan disini. Aku akan lebih menyukai hutan paling menggerikan daripada berlama-lama di tempat ini. Setidaknya aku bisa merasakan kehidupan di hutan, aroma pepohonan, nafas para binatang dan makhluk-makhluk lain yang tidak akan kuceritakan karena hanya akan membuat kalian meremang ngeri.

Kulangkahkan kakiku menuju sebuah pintu besar yang ada di seberang aula, aku lebih suka menungggu disana daripada berdiri seperti patung-patung tak berguna disini. Jadi kuputar kenop pintu yang terasa dingin dan menemukan sebuah ruangan luas dengan meja panjang besar yang dikelilingi kursi-kursi nyaman dan empuk. Ada setidaknya tiga kandelir yang berdiri di atas meja itu. Entah kenapa aku meyukai ruangan ini. Nampak seperti ruang makan memang, tapi kamikan tidak makan-yang bukan darah.

Kupikir lebih baik kusebut ini ruang santai. Aku masuk dan berjalan memutari separuh meja. Duduk di salah satu kursi yang kupilih dan memejamkan mataku. Aku agak sedikit lelah. Kami menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk bisa datang ke tempat ini. Bukan lelah fisik yang kubicarakn disini, aku hanya lelah secara mental-mungkin. Entahlah, aku tidak tahu.

“Deverend Corbis.”

Aku membuka mataku. Sesosok bidadari menatapku. Aku mengerjapkan mata. Dasar bodoh, makiku. Noura berdiri di belakang pintu ruangan yang kini sudah menutup, gaun yang sangat cantik berwarna lembut membalut tubuhnya dengan pas. Dia tersenyum dan bola matanya yang hijau menatapku. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya setelah dia duduk di seberangku.

“Tidak ada.”

Noura mengangguk-angguk kecil. Aku memandanginya. Sebenarnya aku tidak terlalu menyukainya. Dia cantik. Sangat cantik dan itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Dia bisa membuat semua laki-laki memujanya hanya dalam beberapa detik sejak mereka melihatnya. Namun bagiku, Noura terlalu berbahaya. Sebagai perempuan maupun sebagai vampir. Lagipula dia milik Reven. Memangnya mau apa semua laki-laki yang memujanya jika nyatanya dia sudah memiliki Reven. Atau Reven yang memilikinya? Masa bodoh.

“Kau sedang ada disini?” aku memandangnya yang nampak sedang memikirkan sesuatu.

“Yah.” Dia tersenyum lagi, “Aku selalu tidak dapat menahan diri untuk tidak menemui Reven. Aku merindukannya setiap detik waktuku.” Dia menampilkan wajah jenaka dan aku menertawainya.

“Kurasa Reven juga merasakan hal yang sama.” Tebakku.

Dia menggeleng, “Dia terlalu sibuk dengan urusannya. Aku bahkan harus memaksanya berhenti mengurusi urusan lain hanya agar dia mau menciumku.” Dia nampak jengkel. Aku kembali tertawa. Mana bisa seperti itu?

“Padahal kupikir dia jatuh cinta sampai gila padamu.”

Noura tertawa kecil, “Awalnya kupikir begitu. Tapi sepertinya pesonaku belum cukup kuat untuk membuatnya takluk di bawah kakiku.”

“Siapa yang harusnya takluk di bawah kakimu?”

Kami menoleh dan Reven berjalan dengan angkuh memasuki ruangan ini. Noura bangkit, memberikan tempat di sampingnya untuk Reven dan langsung bergelayut manja di lengannya, “Kau, sayangku.” Noura berbisik di telinga Reven.

Aku menguap kecil. Sepertinya aku akan melihat beberapa adegan dewasa setelah ini. Yah, tidak buruk-buruk amat sih. Apalagi ini calon pengganti Vlad dan calon ratu kami, kupikir Ramuel, Ederer dan Lukas akan sangat menyukai berada di posisiku sekarang. Aku menanti, tapi tidak ada ciuman yang terjadi. Reven malah menatapku lurus-lurus. Aku mendesah kecewa.

“Apa Michail mengatakan padamu akan berada di ruangan Vlad cukup lama?”

Aku mengangkat bahuku, “Entah.” Jawabku malas.

Dia nampak akan mengatakan sesuatu lagi sebelum akhirnya dia bangkit dari duduknya, melepaskan pelukan tangan Noura yang terlihat protes, “Kalau begitu aku menunggu kalian di ruanganku jika Michail sudah selesai.” Aku menjawab ucapannya dengan anggukan bosan. Aku heran kenapa dia perlu duduk jika yang dikatakannya hanya dua kalimat. Sebuah pertanyaan dan sebuah kalimat pemberitahuan, dia menjengkelkan.

“Aku ada urusan sebentar, Noura.” Dia mencium bibir Noura sekilas dan melesat keluar dari ruangan ini.

“Kau lihat tadi.” Noura berpaling ke arahku setelah Reven tak terdengar lagi di jangkauan pendengaran kami, “Dia bahkan tidak terlihat berminat padaku.” Gerutunya.

Aku kembali tertawa, jenis mengejek sepertinya. Noura memberengut kesal, melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar dengan malas ke belakang. “Kurasa aku harus memberinya pelajaran nanti.” Dia berpendar cerdik, aku mengangkat kedua alisku. Dia membalasnya dengan tersenyum penuh misteri.

Perempuan ini menakutkan.

“Jadi apa yang membuatmu datang kesini Dev? Kupikir kau tidak terlalu menyukai tempat ini?”

Aku mengangguk, membenarkan, “Tugas.” Singkat. Aku tidak suka berbincang dengan Noura. Dia memang selalu dipenuhi rasa ingin tahu dan sesungguhnya aku tidak mau terlalu lama di dekatnya. Bukan karena pancaran pesonanya yang kuat tapi karena sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Dari awal sudah kukatakan, aku tidak terlalu menyukainya.

“Kurasa kau tidak terlalu nyaman berada di dekatku.” Tatapan mata Noura mendadak terasa menyelidik. Aku memicingkan mata, memangnya dia bisa membaca pikiranku? Aku mendengus, mana ada berkat seperti itu? Pikiran vampir terlindungi sempurna. Kami punya sihir pelindung sendiri untuk itu. Dia mungkin bisa membaca pikiran manusia sama seperti berkat yang kumiliki. Tapi untuk membaca pikiran makhluk yang sejenis dengannya, sepertinya tidak. Mungkin dia menebak itu hanya karena gestur tubuhku mengatakannya.

“Tidak juga.” Aku berbohong, “Aku hanya tidak suka menunggu. Kurasa Michail mungkin akan lama membicarakan sesuatu dengan Vlad. Dan aku benci hanya duduk disini, menunggu.”

Noura kembali tersenyum, “Dia tidak akan lama.” Katanya membuatku tidak mengerti. Namun aku tidak ingin membahas hal ini lebih lanjut. Jadi aku hanya menatapnya, dan mendadak aku teringat sesuatu, “Apa kau masih belum menyerah dengan obsesimu, Noura?”

“Obsesiku?” dia balik bertanya.

Aku hanya mengangguk, menatapnya dengan jenaka dan dia tertawa kecil, sepertinya mulai mengerti apa maksudku, “Ya, aku tidak akan menyerah untuk yang satu itu.”

“Tapi itu gila.”

“Kurasa itu luar biasa.”

“Kita dan manusia serigala? Oh ayolah Noura, kau tahu itu hal yang konyol jika kau berharap kita bisa akur dengan mereka. Lagipula bukan kita yang selalu cari masalah, para binatang berbulu itulah yang melakukannya.”

Noura menggeleng, “Sama saja. Bukan Cuma mereka, kita juga. Jadi kupikir, kita sama-sama salah.”

Aku tidak mengerti jalan pikiran makhluk cantik di depanku ini. Bagaimana mungkin bisa dia mendapatkan ide gila atau malah berbahaya itu? Aku juga tidak mau berdebat dengannya masalah ini karena aku tahu Noura akan mempertahankan pemikirannya itu sampai akhir. Jadi ketika kulihat Michail memasuki ruangan ini, aku langsung bangkit, “Reven sudah menunggu kita.” Kataku tanpa membiarkan Michail duduk dan membuat perbincangan dengan Noura yang artinya akan membuatku tinggal lebih lama disini.

“Kami pergi dulu, Noura.” Kataku sebelum keluar dari ruangan ini. Dia hanya mengangguk dan melengkungkan seulas senyumnya yang sangat menawan dan aku tanpa mau melihat lebih lama, langsung berbalik dan menutup pintu.

Michail memandangku sesaat saat kami berjalan pelan menuju ruangan Reven, “Apa yang kau bicarakan dengan Noura disana?” tanyanya terdengar penasaran.

“Bukan apa-apa. Hanya obrolan ringan untuk menunggumu.” Jawabku singkat dan Michail tak lagi terlihat ingin menanyakan sesuatu lagi padaku karena dia tahu, dari nada suaraku bahwa aku sama sekali tidak ingin membicarakan itu. Aku bersyukur Michail mau mengerti karena aku memang tidak ingin bicara lagi.

Kami berjalan menelusuri lorong di menuju ruang bawah tanah kastil ini. Lorong gelap panjang yang hanya disinari cahaya redup obor-obor yang menempel di dinding. Kami berhenti di depan pintu yang berada di ujung lorong, Michail membuka pintu itu dan aku bisa melihat Reven sudah duduk di salah satu kursi berlengan yang ada di dekat perapian. Kurasa perapian itu tidak berguna karena aku bisa merasakan hawa basah dan lembab yang sangat kentara ketika aku memasuki ruangan ini.

“Duduklah.”

Michail mengangguk dan duduk di salah satu kursi lain yang ada di depan Reven. Aku mengikutinya dan duduk di dekat Michail dan memandang Reven, laki-laki ini benar-benar sangat angkuh dan itu membuatku semakin tidak menyukainya.

“Aku tidak akan membuat ini rumit dan lama, jadi aku akan menjelaskan tugas seperti apa yang akan kelompokmu lakukan, Michail.” Suaranya tegas dan memerintah. Aku mendengus, dia melirikku tapi tidak mengatakan apa-apa tentang itu dan kembali melanjutkan omongannya, “Kau dan Viona harus pergi ke daerah timur, carilah segala sesuatu yang mungkin sedang direncanakan oleh para penyihir pelindung disana. Vlad bilang mereka sedang berusaha mengembangkan sesuatu yang akan merugikan kita. Apapun itu, kuharap kau dan Viona bisa mendapatkan informasi sebanyak dan seakurat mungkin. Tapi kau Cuma punya waktu selama satu bulan untuk melakukan itu.”

“Satu bulan? Tidakkah itu terlalu cepat?” Michail bertanya, menyela Reven yang bicara seperti orang gila-bagiku.

Reven menggeleng, “Aku berharap kau melakukannya dalam jangka waktu itu. Aku menghormati kemampuanmu dan kemampuan Viona, Michail. Jadi jangan merusak penilaianku tentang kalian.” Aku melihat Michail tidak ingin membantah dan aku mendelik padanya. Bagaimana mungkin dia hanya diam mendengar Reven bicara dengan nada menghina seperti itu. Aku memandang ke arah reven lagi ketika dia menyebut namaku.

“Dan kau Dev, kau akan melakukan tugas penyusupan. Aku dan Venice akan mengatur dengan segala cara agar kau bisa menjadi salah satu heta di kerajaan manusia.” Aku mengeluarkan suara untuk menginterupsi, tapi Reven melanjutkannya seolah dia tidak mendengar apapun dariku, “Kau akan bisa masuk ke kelompok itu, lalu lakukan tugasmu dengan baik disana. Yang kuminta daripun sama, Dev. Informasi. Sejauh apa kekuatan para slayer dan para heta kerajaan manusia. Senjata apa yang mereka gunakan dan bagaimana mereka mendapatkan itu semua. Kau tidak perlu mempertanyakan bagaimana bisa kau masuk kesana karena itu urusanku. Yang kau lakukan hanya berbaur disana, jangan terlalu mencolok dan aku minta kau berada di organisasi itu selama yang kau bisa.”

***

Aku duduk berpikir di ruangan utama rumahku, sejujurnya terlalu banyak yang ada di benakku sehingga aku bahkan tidak menyadari ketika Ramuel duduk di depanku. Mengamati reaksi terkejutku ketika mendapati dia disana, dia hanya mendengus, “Apa yang membuatmu melamun seperti itu? Kau mengalami masalah?” tanyanya padaku, aku hanya memandanginya. Tidak ingin menjawab.

Aku tidak tahu kapan Ramuel kembali ke rumah ini, tapi yang jelas pagi tadi dan pagi-pagi selama sebulan kemarin, dia juga tidak ada disini. Dia menghabiskan banyak waktunya untuk mencari makan. Dan ini hal yang menyebalkan. Kami, bahkan tidak butuh sampai sepuluh menit untuk menghilangkan rasa lapar kami, tapi Ramuel butuh sebulan lebih untuk melakukannya. Bukannya dia tidak bisa, dia bilang ingin mendapat darah yang lebih berkualitas. Bagiku itu bodoh, darah manusia sama saja.

“Hey Deverend Corbis! Aku sedang bicara padamu!” teriaknya membuatku kembali menatapnya. Aku tidak suka dia berteriak di depanku.

“Aku sedang tidak ingin bicara denganmu.” Jawabku.

Mengabaikan jawabanku, dia memandangiku dengan penasaran, “Kudengar kau akan melakukan tugas dalam waktu dekat ini. Apakah itu benar?”

“Seminggu lagi.” Jawabku singkat.

Dia meneliti raut wajahku, “Dan kutebak tadi, kau sedang memikirkan tugas itu bukan?”

Aku mendengus pelan, “Aku tidak takut atau aku tidak khawatir pada tugas yang akan aku terima. Tapi aku mengkhawatirkan alasan kenapa aku harus melakukannya.”

Kening Ramuel berkerut, “Memangnya ada yang salah? Tugas dilakukan untuk kebaikan kita. Kelompok kita.”

Aku bangkit, “Kita memang selalu berpikir seperti itu.” Aku berjalan pergi, meninggalkan Ramuel yang tetap tidak memahami maksudku. Aku juga tidak berharap dia akan berpikir seperti yang tengah aku pikirkan. Lagipula, seperti yang sebelumnya kukatakan pada Ramuel, aku bukannya takut atau mengkhawatirkan tugas ini, aku hanya tidak mengerti kenapa tugas ini ada. Kenapa Reven dan Vlad sibuk memikirkan apa yang dilakukan para manusia dan para penyihir pelindung? Manusia itu mangsa kami. Mereka bukan kelompok yang perlu dipusingkan. Dan penyihir pelindung? Mereka hanya sekumpulan penyihir tamak.

Lalu karena apa?

Kau tidak perlu mempertanyakan bagaimana bisa kau masuk kesana karena itu urusanku. Yang kau lakukan hanya berbaur disana, jangan terlalu mencolok dan aku minta kau berada di organisasi itu selama yang kau bisa.

Suara Reven berputar di ingatanku. Memangnya apa yang akan dia lakukan agar aku bisa masuk ke organisasi slayer dan heta? Itu kelompok pelindung dan penjaga bagi manusiakan. Mereka juga tidak terlalu mengancam, hanya ada beberapa slayer dan heta yang sedikit merepotkan, tapi selebihnya.. sama saja. Sekelompok orang tak berguna dengan mainan pedang perak dan panah berlumur serbuk perak.

Aku bergidik, kurasa manusia cerdik hanya dalam hal itu. Perak. Elemen paling mematikan bagi kami. Kubilang juga apa, sebenarnya vampir itu bukan makhluk keabadian. Kami bisa mati dengan berbagai cara. Bisa mati. Ingat itu.

Aku menepuk kepalaku karena kurasa aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku sedang fokus pada tugasku dan bukannya membahas tentang kami ini abadi atau tidak. Aku memutar pintu ruang pribadiku. Pemandangan yang kulihat membuatku membanting kembali pintu itu. Menutupnya lagi tanpa masuk. Aku tidak akan masuk kesana. Ruang pribadiku ibarat kapal pecah dan aku tadi lupa bahwa aku dan Lyra yang sudah menghancurkan tempat itu siang tadi. Aku harus mengingatkan diriku untuk membalas Lyra nanti. Kurasa perempuan itu harus diberi pelajaran agar dia tidak selalu mencari masalah denganku. Yah, meskipun sejujurnya akulah yang selalu menyebabkan dia marah.

<< Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

12 Comments

  1. Deverend corbis sejauh ini cuma dia kayanya yang paling normal di antara semua pria-pria vampire, sifatnya udah cocok aja ngga terlalu dingin dan ngga juga terlalu banyak omong, dia juga keren…
    hadohh, beneran masih ngga percaya kalo Dev udah pergi..
    rasanya jadi sedih lagi.. 🙁
    tapi dgn adanya cerita ini bisa jadi lebih deket sama Dev..
    Kakak emang yang paling okey…
    Semangat berkarya dan Keep writing!

  2. Revennya kaku dan dingin banget sikapnya author????
    Bikin reven sedikit lebih anget donk author
    *Diangetin dulu revennya pake oven klo perlu*huufff
    Kasian fansnya makin berkurang….

  3. Yang paling normal??
    Hahaha, sepertinya aku juga berpikir begitu.
    Yah, tapi memang kita musti merelakan Dev. 🙁
    Semoga cerita ini memang benar bisa mengobati kangen mereka yang menyukai Dev.

    Semangat berkarya 😀 😀

  4. Reven dingin dan kaku?? Hahahah bukannya emang sikapnya asli kek gitu yah. *angetin pake tungku sate* 😛
    Loh loh loh, masa sih fansnya Reven pada kabur. Kasian Reven. ><

  5. I have study a few of the blogposts on your blog now, and I truly like your style of blogging. I bookmarked it to my favorites internet site list and will be checking back soon. Pls visit my internet site too and let me know your opinion.

Leave a Reply

Your email address will not be published.