Remember Us – Aura Sihir

Elegyar Foster memandang sosok-sosok berjubah yang berdiri tak jauh darinya dan kelompok kecil yang dibawanya. Bersembunyi di bawah tudung jubah mereka, Foster tetap tahu siapa saja yang ada di balik bayang gelap itu. Entah bisa disebutnya anugrah atau kelemahan, sejak lahir Foster bisa melihat aura sihir siapa pun dan apa pun di Tierraz. Setiapnya tak sama dan memiliki pola yang berbeda tergantung kekuatan di dalamnya. Dari sanalah dia bisa mengenali siapa atau apa saja dari aura sihir mereka.

Foster masih ingat dengan jelas bagaimana masa kecilnya hanya dihabiskannya untuk belajar mengendalikan penglihatannya akan aura sihir. Dia beruntung karena Lord Lagash akhirnya menemukan seseorang untuk menolongnya. Sebab jika tidak, dia akan buta. Tak ada apa pun yang bisa dilihatnya. Tidak cahaya bintang, matahari, hanya jaring-jaring aura sihir, sebab Tierraz adalah tanah sihir. Setiap jengkalnya punya sihir tersembunyi.

Karena  itulah dia berterima kasih pada kaum penyihir, pada Rhaegar utamanya, karena dialah yang mengajarinya untuk bisa mengendalikan kemampuannya itu. Dulu dia mengagumi mereka. Tapi sekarang, dia tidak merasakan perasaan itu lagi. Foster tahu waktu telah lama berlalu sejak para penyihir masih memiliki kearifan mereka. Sejak Rhaegar memutuskan mencuri dari Alzarox. Sejak kedamaian yang paling hakiki pernah dirasakannya di Tierraz.

“Kami akan membawa kalian berpindah ke Zerozhia.”

Suara itu membawa Foster kembali, dan dia mengangguk. Dia memberi kode kepada kelompoknya untuk merapat dan saling berpegangan tangan. Sosok-sosok berjubah itu mengelilingi mereka dan Foster segera memejamkan tangannya. Aura sihir dari mantra perpindahan terlalu menyilaukan matanya. Jika bukan karena rasa hormatnya pada Lord Lagash, dia tidak akan pernah mengizinkan para penyihir membawanya ke dalam pusaran sihir yang dihasilkan mantra perpindahan. Dia lebih suka berkuda.

Tapi ini, sihir perpindahan, dia benci itu. Kalimat terakhir yang diucapkannya pelan sebelum bayang pepohonan di hutan utara lenyap adalah makian tertahan. Lalu sihir menyerapnya.


***

“Apakah kau salah satu anggota kelompok yang dibawa Reven ke hutan utara?”

Trisha menghentikan gerakan pedangnya dan menoleh ke sumber suara. Keningnya berkerut karena tidak suka seseorang mengganggu waktu latihannya, terlebih dia bahkan tidak mengenal siapa pengganggunya.

“Siapa kau?”

Lucia tersenyum, “Lucia, bangsa vampir.”

Kerutan di kening Trisha semakin dalam. Untuk apa perempuan vampir ini bicara padanya? Dia tidak punya urusan dengan mereka.

“Apakah kau salah satu anggota kelompok yang dibawa Reven ke hutan utara?” Lucia mengulang pertanyaannya dengan sedikit tidak sabar ketika melihat Trisha yang tak memberikan reaksi apa pun.

“Ya, ada apa?”

“Apa kau melihat dimana Reven? Aku tak sengaja berpapasan dengan Alzarox dan Luca tapi aku tidak melihat Reven bersama mereka. Aku juga tidak menemukan dia di mana pun, apakah kau–“

“Apa kau pikir aku terlihat peduli padanya hingga aku tahu dimana dia berada?” Potong Trisha muak. Dia akhirnya mengenali siapa Lucia. Dia adalah vampir perempuan yang selalu dilihatnya berada di sekitar Reven kapan pun dan di mana pun. Awalnya dia mengira perempuan itu adalah pasangan Reven, sampai Edna memberitahukannya banyak hal tentang Reven dan tugas rahasia untuknya. Siapa sangka jika pasangan Reven justru perempuan vampir lain yang jauh lebih tidak berguna daripada yang satu ini.

“Aku bertanya baik-baik padamu, makhluk api.” Suara Lucia meninggi.

“Lalu apa kau pikir aku juga akan menjawabnya dengan baik-baik?” Sergah Trisha yang membuat wajah Lucia semakin terlihat marah, “Lagipula kau seharusnya tidak perlu repot-repot mencari dimana Reven, mungkin saja dia sedang sibuk melakukan sesuatu dengan Sherena.”

Ekspresi wajah Lucia kontan berubah, “Rena?” Tangannya menggenggam rapat dan rasa marah itu beralih ke sosok lain.

“Kau mau aku memberimu sedikit saran?”

Lucia mengangkat wajahnya, tak mengatakan apa pun.

“Jangan melakukan apa pun.” Ucap Trisha tegas, “Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu menunggu dan Sherena Audreista akan lenyap tanpa kau perlu mengotori tanganmu dan mengambil risiko tak perlu.”

***

“Damis!” Teriakku sambil setengah berlari mencapai Damis yang berada di ujung lorong.

“Aku mendengar kalian sudah kembali. Jadi aku segera datang ke aula utama.” Ucap Damis setelah aku berada hanya selangkah dari tempatnya berdiri.

“Ya,” aku mengangguk dan langsung melompat memeluknya, “Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu.” Ucapku pelan sementara aku menenggelamkan wajahku di lekukan leher Damis dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Aku benar-benar berkata jujur ketika kukatakan aku merindukannya. Bisa kurasakan tangan Damis mendekap erat mengelilingi punggungku, dan entah kenapa aku merasa dia memelukku dalam perasaan takut dan khawatir yang tidak bisa disembunyikannya.

Aku menarik diriku dan menatapnya, “Ada apa? Apa sesuatu yang buruk terjadi?” Tanyaku khawatir.

Damis tersenyum, “Aku hanya senang kau sudah kembali.”

Aku tertawa, memukul pundaknya keras dan mengabaikan wajah protesnya, “Jangan membuatku khawatir dengan sia-sia.”

Satu tangan Damis menangkap kepalaku, “Tidak ada kekhawatiran yang sia-sia, Rena.” Ucapnya dengan senyum yang entah kenapa selalu membuatku merasa aman di dekatnya, “Kau tahu, aku sempat berpikir kau akan terpikat pada salah satu elf utara.”

Tawa kerasku bergema di seluruh lorong, “Tidak akan. Mereka membosankan.” aku menarik lengannya dan membawanya berjalan ke arah yang membawa kami keluar wilayah utama kastil.

“Jika ada yang bisa memikatku, mungkin itu kau, Damis. Dasar bodoh.”

“Ah kau sudah menyelesaikan urusan hatimu dengan Reven rupanya.” Damis menggodaku dan aku menampakkan wajah kesalku padanya.

“Tutup mulutmu. Jangan menyebut nama makhluk menyebalkan itu lagi. Aku tidak akan memaafkanmu.”

Damis tertawa dan merangkulkan lengannya yang berat ke pundaknya dengan serampangan, “Aku akan selalu menemukan cara untuk bisa membuatmu memaafkanku, kau tahu itu, kan?”

“Jangan bodoh.” Sahutku sambil menyingkirkan lengannya.

“Yang jelas aku senang kau sudah kembali.” Ucap Damis tak jelas sebelum dia tiba-tiba berhenti berjalan dan menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku benar-benar senang kau sudah kembali, Rena.”

Aku tidak tahu kenapa sikap Damis sedikit aneh dari biasanya. Namun aku mengabaikannya dan balas memeluknya, membiarkan Damis membawa tubuhku semakin rapat dalam dekapannya, “Aku juga senang kembali ke sini, Damis.” Bisikku dengan mata terpejam, tidak tahu bahwa ada dua sosok yang menatap kami dari ujung jauh lorong yang lain.

“Mereka tumbuh semakin dekat, jauh dari yang kukira. Kurasa Rena adalah obat patah hati yang mujarab untuk Damis. Apa kau tidak keberatan, Rev?”

Reven sama sekali tidak menoleh ketika Victoria bersuara dan hanya menatap lurus pada dua tubuh yang berpelukan rapat jauh di depannya. Dadanya disesaki rasa marah yang seolah membakar seluruh tubuh dan pikirannya. Membuat telinganya seolah menuli dan rasa sakit dari kedua tangannya yang mengepal sangat erat, lenyap tak terasa.



Dia harusnya tahu bahwa dia tidak akan mudah membuat Rena kembali ke arahnya. Namun lebih tak mudah lagi baginya untuk mengabaikan perasaannya pada Rena. Dia sudah mencoba untuk membenci perempuan itu, setiap kali kata-kata dan sikap Rena padanya yang selalu tidak pernah terdengar baik untuknya, tapi tetap saja dia gagal. Dia masih mencintainya. Masih sama seperti dulu, dan Reven tahu dia tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan itu. Tapi bagaimana dia bisa membuat hubungan mereka kembali seperti dulu jika Rena saja masih membencinya sedemikian rupa.

Lalu sekarang? Damis?

Kepalan di tangan Reven semakin erat. Dia tidak akan mengizinkan siapa pun mengambil Rena darinya. Bahkan Damis sekalipun.

***

Foster berjalan mengikuti langkah seorang penyihir yang membimbingnya menemui pimpinan para penyihir. Obor-obor berjajar rapi di sepanjang dinding lorong kastil, memberi mereka cukup cahaya untuk bisa melihat dengan baik. Dia menarik nafas, dia tidak suka kastil para penyihir yang selalu dibangun dengan bagian dalam yang kekurangan sinar matahari juga dengan dinding-dinding batu gelap yang tinggi dan dingin. Elf sepertinya menyukai cahaya matahari dan ruang terbuka. Akan sangat jarang bisa ditemukan ruangan setertutup ini di Merendef. Ah, Elegyar Foster benar-benar merindukan Merendef.

Namun dia tahu, dia belum bisa kembali ke Merendef sekarang. Sebab dia punya tugas lain yang lebih penting. Jika perang benar-benar terjadi dan itu terasa sudah dekat, bahkan dia sekalipun mungkin tidak akan bisa kembali ke tanah para elf, ke Merendef. Karenanya, dia bersedia bergabung bersama para penyihir. Melakukan semua sepenuh hatinya demi semua makhluk cahaya, demi kelompoknya, demi damai yang terasa sudah lama tak menegur Tierraz.

Suara pintu yang melayang terbuka membawa pikirannya kembali terfokus dan ketika si penyihir mempersilakan dia masuk, dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih pelan. Dia berjalan masuk ke ruangan itu dan bisa melihat banyak sosok-sosok penting di dalam sana. Semua pasang mata itu menatap ke arahnya.

“Selamat datang, Elegyar Foster.” Suara wanita itu tegas dan lembut pada saat yang bersamaan.

“Mahha Mevonia,” Foster menunduk, mengucapkan salam pada wanita yang memegang kendali tertinggi di antara para penyihir itu.

Mevonia mengangguk, dan memberi tanda pada Foster untuk mendekat, “Kau menemukan perempuan itu?”

Semua pasang mata menatapnya semakin intens ketika Mevonia mengucapkan pertanyaan itu. Foster bisa merasakan betapa mereka semua berharap besar padanya.

“Ya,” ucapnya singkat dan dia langsung mendengar banyak hela nafas memenuhi ruangan ini.

“Apakah dia benar-benar seperti yang digambarkan oleh Dieter?”

Foster mengangguk, “Ya, tetapi–“

“Ada apa, Foster?” Suara Mevonia langsung terdengar khawatir.

“Aku tidak yakin bahwa dia adalah perempuan yang sama seperti yang dikatakan si penyihir penglihat. Perempuan itu punya emosi yang tak terkendali dan terlihat lemah. Apa kau yakin jika dia–“

“Tidakkah kau melihat aura sihir di tubuhnya, Foster?” Potong Mahha Mevonia, “Kekuatan di dalam dirinyalah yang penting. Bukan apa yang telihat dari luar.”

Foster terdiam, dia masih tidak setuju.

“Siapa nama perempuan itu?”

“Sherena Audreista.”

Mahha Mevonia tersenyum tipis, dia mengangkat tegak wajahnya, “Sherena Audreista.” Ucapnya keras, “Kalian dengar. Panggil nama lahirnya dan temukan perempuan itu. Bawa dia ke Zerozhia apa pun cara dan keadaannya. Kita membutuhkan dia hidup atau mati. Sekarang pergilah dan segera temukan perempuan itu.”

Seluruh penyihir yang di ruangan itu mengangguk dan menyerukan penerimaan mereka. Foster sendiri merasa apa yang dikatakan Mahha Mevonia terlalu berlebihan. Dia memalingkan wajahnya pelan ketika mantra perpindahan bertebaran di sekitarnya. Ketika semuanya selesai, dia hanya berada di ruangan ini berdua saja dengan Mahha Mevonia.

“Terima kasih, Elegyar Foster.”

Dan entah kenapa, Foster merasa dia akan menyesali apa yang baru saja dia lakukan untuk para penyihir.

***

a/n

Halo semuanya, dapat salam nih dari bang Reven. Hehehe

Btw makin dikit ya yang baca dan komen Remember Us, aku dan bang Reven plus bang Luca merasa sedih. Ah tapi ya sudahlah, mungkin ini salahku yang sebelumnya sama sekali ngga konsisten buat nulis. Nah, buat kalian yang masih membaca dan menikmati RU maupun tulisanku yang lain, terima kasih banyak ya.

I do love you, guys

Kiss,

<< Sebelumnya

Selanjutnya >>



Mau Baca Lainnya?

34 Comments

  1. Aku masih disini,pembaca setia yg tetap bolak balik tiap hari utk lihat update terbaru,smoga wlpn readernya sedikit tetap dilanjut y thor

  2. nggak kok Kak ???? saya selalu setiap menunggu ceritanya karna suka benget. plisssss kak updatenya jangan lama2 ya saya kepo bengettttttttttsssssss

    1. Halo Aurelia,

      Wihiiii, terima kasih yaa. Seneng bgt kalau RU ternyata masih ditunggu. Btw, ini update RU speed-nya uda kenceng bgt loh dibandingkan sebelumnya. Hahaha.

      Luv,
      Ree

  3. Bukanya gimana2 c kak,cm kakak nya jarang bgt post.kmrn2 fans pada kecewa setiap ngunjungi post gk da yg baru.jd mohon ke depan nya kyk HV gt kak. . .??

    1. Halo Suci,

      Hahaha iyaa. Aku paham. Kemarin-kemarin aku ngga konsisten dan terseret kesibukan di sini (apa sih). ???
      Tapi mulai sekarang insya Allah bakal memulai masa produktif lagi.

      Luv,
      Ree

  4. Aku masih rajin ngecek blog kakak kok, ngak tau kenapa suka banget ma cerita vampir karangan kakak, apalagi kalo sampe jadi film, wuihhh.. pasti keren.
    Tetap semangat ya kak nulisnya.. makasih udah bikin cerita sebagus ini , free lagi ?

  5. aku masih setia nungguin updatenya kok ka??, aku baca cerita ini dari awal half vampire jaman aku sma kelas 2 sampe sekarang jadi remamber us aku udah kuliah semester 5 hihi, dan ga pernah bosen untuk selalu ngecek udah ada updatenya hihi, semangat terus ka nulisnyaa?? ga sabar nunggu endingnya gimana

    1. Hallo Ditaaa,

      Terima kasih sudah setia sama tulisanku ini yaa. Makasih bgt, itu berarti bgt buat penulis kaya aku yang mood-nya suka amburadul. Kalian adalah mood booster ku.
      Btw, semangat semester lima. Nikmati masa-masa ini selagi kegalauan skripsi belum menghantui.

      Luv,
      Ree

  6. Aku masih di sini untuk setia wkwkwk selalu setia nunggu up-nya ru yang makin lama makin BNN keren ini. Di tunggu ya kak next nya wkwkwk??

  7. Hai… Aq msih dsini juga, maaf gk pernah ksih tunjuk jika aq penggemar ceritamu, krna dlu bcanya pkek hp jadul, tiap mau koment lemotnya mnta ampun. Jd aq gk pernah tinggalin jejak…
    Btw trimaksih sdah mmberi cerita yg bagus,, terus smngat, smoga sukses impiannya, jngan lupa ttp nulis cerita bagus ya ???

    1. Halo Mytha..

      Ehhh, km dulu pakai henpon jadul. Jangan-jangan kamu adminnya lambe turah ya? heheheh *becanda
      Aku yg makasih bgt k m masih setia sama ceritaku. Kalian adalah semangatku. ??

      Luv,
      Ree

  8. mank sepertinya Foster menyesali sekali perbuatannya skrg yg mendukung penyihir…dana sepertinya dia memang akhirnya merasa bersalah sekali sama Rena dan Reven…

  9. Huaaa aku baca hv dari kls 1 smp sampe sekarang aku kelas 2 sma? gila ini cerita emang keren banget sumpa. aku juga baca ceritanya dev-rena tapi sayang gak dilanjut wkwkwk aku ngefans banget sama kaka. kaka tulisannya keren. aku sampe follow ig kaka lo, nonton story pulak haha. salah satu motivasi ku ingin masuk sastra. semangat yaaa :)))

    1. Halo Luthfia,

      Waahhh, dari kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMA?? Duh makasih bgt ya uda setia sama ceita-ceritaku. Aku terharu dan seneng bgt. Iya, Another Story, emang ngga dilanjutin karena aku ga kuat hati buat nulis tentang Dev.

      Terima Kasih sekali lagi ya, Kalian Adalah Semangatku. ?

      Luv,
      Reee

      Ps. Hidup Anak Sastra!!!

  10. Selalu n ungguin kak.. Walupun kadang telat bacanya.. Suka banget alurnya.. Ada pergerakan nih reven.. Ditunggu lanjutannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.