BAPAK

Bapak..

Bagiku bapakku adalah laki-laki yang paling bertanggung jawab di dunia. Laki-laki paling baik dan yang paling memahami dan mengerti aku. Bagi kebanyakan orang, bapak mungkin kelihatan sebagai orang yang sangat galak.  Aku pun tidak menyalahkan persepsi orang-orang tersebut. Bapak itu orang Surabaya asli. Lahir dan dibesarkan bertahun-tahun di kota pahlawan tersebut. Logat dan kosa kata Surabaya yang cenderung keras dan kasar kadang  memang masih terbawa sampai sekarang meskipun bapak sudah berpuluh-puluh tahun pindah ke sebuah desa kecil di kaki gunung Wilis. Mungkin itulah yang menyebabkan bapak terlihat galak. Perangainya yang kadang sangat temperamen pun mempengaruhi hal tersebut. Tapi bagiku itu tidak penting. Bagiku bapak tetap sosok yang sangat kukagumi dan kuhormati. Seringkali di depanku bapak menjadi orang yang sangat suka melucu. Tidak bisa serius dan kadang kekanak-kanakkan. Ah, bapakku. Manis sekali dengan dua sisi yang sangat bertolak belakang tersebut.

Bapak  itu  orang yang sangat bertanggung jawab. Ya, telah kusebutkan itu di atas tapi entah kenapa aku ingin menuliskannya lagi. Bapak itu, meskipun sibuk dengan pekerjaannya, urusan organisasi pencak silatnya atau mungkin kegiatan yang lainnya, dia tidak pernah mengabaikan kami, keluarganya. Aku, ibuk, mbak dan dua adikku. Kami tetap menjadi prioritas hidupnya di atas segala urusannya. Bapak sama sekali tidak egois. Aku benar-benar ingin punya suami dengan sifat sepeti bapak. Mengayomi, melindungi. Dia benar-benar imam dan kepala keluarga yang sangat bisa diandalkan.

Kata ibuk dan banyak keluarga lainnya, aku ini anak kesayangan bapak. Aku yang paling dekat dengan bapak jika dibandingkan dengan tiga saudaraku lainnya. Aku terdiam dan berpikir. Ya. Mungkin benar seperti itu. Jika aku minta sesuatu dan bapak sedang berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk mengabulkan permintaanku itu, maka dia akan langsung melakukannya. Meski nantinya ibukku akan mengomel karena hal itu. Bapak Cuma akan tertawa kecil dan berkata, “Toh aku kerja juga buat anak, buk.”. Ah bapak, aku sayang bapak.

Sejak kecil sampai sekarang aku punya banyak “quality time” dengan bapak. Dulu ketika masih kecil, aku sering ikut bapak bekerja. Menemani bapak. Membantu sebisaku. Ketika dewasa, aku sering cerita tentang banyak hal dengan bapak. Bapak itu pendengar yang baik dan tidak egois. Bapak lebih baik dalam membaca mauku daripada orang lain yang mengenalku.

“Bapak, aku ngga apa-apakan kalau pacaran sama yang non-muslim?” tanyaku ketika itu dan bapak dengan suaranya menjawabku dengan cepat. “Ya, ngga apa-apa. Asal kamu bahagia, bapak juga bahagia. Pilihanmu itu juga pilihan bapak.”. Aku sumringah, kulirik ibukku. “Ibuk, gimana? Ngga apa-apakan??”. Ibukku cuma tersenyum.

Nahkan. Bapak memang yang paling mengerti aku.

Bapak <3 <3

Tapi sedihnya, bapak itu sakit. Jantungnya lemah. Entah karena apa, sejak aku mulai masuk kuliah, bapak semakin sering sakit-sakitan. Puncaknya ketika aku semester dua ketika di Surabaya, bapak sering keluar masuk rumah sakit. Dokter bilang salah satu pembuluh darah di jantung bapak mengalami penyempitan. Sejak saat itu, bapak tidak bisa melakukan banyak pekerjaan yang berat. Sedikit saja dilanggar, bapak akan langsung mengeluh dadanya sakit. Terduduk dengan nafas satu-satu sambil memegangi dadanya. Awalnya tanda-tanda seperti itu membuatku mempikir bapak sakit asma.

Keadaanku yang di luar kota membuatku jarang sekali pulang. Dan banyak masalah yang datang bersamaan ketika aku semester dua itupun, entah bagaimana bodohnya bisa menggeser perhatianku pada bapak. Aku egois sekali. Ketika itu, urusan tentang pacarku seakan mendominasi semua isi pikiranku. Pertengkaran kami, jarak kami, orang ketiga, ketidakterbukaan dalam hubungan. Astaga, entah dengan alasan apa lagi dengan tololnya aku membuat bapak bukan menjadi objek utama yang mengisi pikiranku.

Bapak, maaf..

Sering, karena ketidakmampuanku dan karena egoku aku bahkan menyalahkan dia yang kucintai (pacarku ketika itu) untuk semua ini. Sering kukeluhkan. Aku marah, lebih pada diriku sendiri tapi kulampiaskan pada orang lain

“Kamu, tidakkah bisa sebentar saja berhenti membuatku terus menerus memikirkanmu. Kamu pikir cuma kamu yang jadi satu-satunya masalah yang sedang kualami sekarang. Berhentilah egois dan lihat ketulusanku. Aku punya masalah lain selain kamu dalam hidupku. Bantu aku sedikit saja mengurangi bebanku dengan berhenti membuatku menangis karenamu. Aku sedang punya banyak masalah dan sosokmu harusnya bisa menjadi satu sosok yang menemaniku dan memberiku semangat agar aku bisa tegar menghadapi masalahku.”

Kupikir masa itu aku menjadi sosok yang benar-benar sangat bodoh. Kudewakan dia diatas keluargaku sendiri. Kusingkirkan pikiran tentang penyakit bapak hanya untuk memikirkannya. Padahal harusnya aku tahu, harusnya aku harusnya membuka mata hatiku lebih lebar.

Lihat bapak. Lihatlah laki-laki yang membesarkanmu itu kesakitan dan kau malah sibuk dengan urusan cinta bodohmu itu. 

Ya Allah, tolong bantu aku menyingkirkan segala beban ini. Ketika untuk pertama kalinya aku melihat bapak  dalam kondisi paling menyedihkan. Aku hanya sanggup menangis. Ketika itu tengah malam, ibuk membangunkanku karena bapak mendadak mengeluh dadnya sakit. Ketika aku kesana, kulihat bapak benar-benar seperti orang yang sudah tidak punya harapan hidup lagi. Ketika itu aku bahkan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku mundur, menjauh dari kamar bapak dan menangis. Ya Allah, aku masih butuh bapak. Ya Allah, aku masih butuh bapak..

Sebenarnya itu kali kedua aku melihat bapak seperti itu. Dulu, ketika aku masih duduk di bangku kelas tujuh sekolah menengah pertama, bapak entah mengapa mengalami serangan sakit mendadak. Ketika itu aku juga tidak berani mendekat. Aku menangis, tapi menangis dengan suara paling keras. Ketika itupun sama, aku merasa aku sangat ketakutan. Aku tidak mau kehilangan bapak. Tapi aku tidak tega melihat bapak dalam keadaan seperti itu. Adik bungsuku bahkan dengan wajah memucat hanya mampu menggigil menyembunyikan dirinya, duduk menepi di salah satu sudut di ruang tamu. Kami semua tidak akan pernah siap jika tidak ada bapak.

Esoknya, entah bagaimana ceritanya bapak sudah sembuh. Seolah tidak ada apa-apa bapak datang ke kamarku. Menghampiriku, mengusap kepalaku dan berkata, “Kenapa kemarin menangis?”. Aku dengan mata berkaca-kaca Cuma menjawab singkat, “Aku takut.” Bapak tersenyum. Senyum yang menenangkan. “Bapak ngga apa-apa, nduk.”

Ah, bapak memang pahlawanku. Ketika aku pulang dari Jogja dengan keadaan sakit. Bapak adalah orang yang rela berhujan-hujanan dengan menempuh jarak lebih dari 40km hanya untuk menjemputku di terminal. Jahatnya, ketika itu aku berbohong. Kukatakan aku dari Surabaya. Padahal aku baru saja dari kota tempat kutemukan cinta pertamaku. Tapi sepertinya bagi bapak itu bukan masalah. Yang ada di pikirannya ketika itu hanya menjemput anak perempuannya yang sedang mengeluh sakit lambungnya kumat. Dalam gelap yang pekat, dengan hujan yang turun membasahi tubuhnya bapak mengendari motornya menjemputku. Tidak berhenti sama sekali untuk berteduh ketika hujan semakin lebat dengan alasan tidak mau membuatku yang sedang sakit ini menunggunya terlalu lama seorang diri di terminal. Bapak sangat mengkhawatirkanku, padahal aku tahu kalau kondisi bapak dan jantungnya pun sedang dalam kurang baik. Tapi di rumah tidak ada laki-laki lain yang bisa dimintai tolong untuk menjemputku. Dan tanpa bertele-tele bapak berangkat sendiri menjemputku, putri kesayangannya.

Aku pernah melihat bapak benar-benar marah karena tidak terima pada sesuatu hal yang menimpaku. Kelas sembilan di sekolah menengah atas. Kurang lebih dua bulan sebelum ujian akhir nasional, sebuah masalah menimpaku. Masalah yang sampai sekarang membuat keluargaku belum bisa memaafkan (mantan) temanku. Satu kejadian kala itu yang membuatku nyaris berhenti percaya pada makna kata “sahabat”. Sebuah jeda, dengan sesak menahan perasaan tidak terima aku pulang ke rumah. Kuambil air wudhu dan aku shalat magrib. Yang kutahu ketika itu, aku hanya ingin mengadu pada Allah. Dalam doa di akhir shalatku aku menangis. Sajadahku basah tapi aku belum bisa berhenti menangis. Aku menangis sampai terisak-isak dan adikku tahu. Dia mengadu pada ibuk. Dengan tergopoh ibuk menndatangi kamarku dan bertanya. Bukannya menjawab, tangisku malah semakin pecah. Lalu pelan-pelan ketika aku mulai menguasai diriku sendiri aku bercerita. Ketika itu bapak belum pulang kerja. Dan tak usah menunggu lama, ketika bapak pulang. Selesai makan. Ibuk bercerita tentang masalahku. Aku ingat bagaimana menakutkannya ekspresi bapak ketika itu. Ekspresi marah, terluka, tidak suka. Banyak sekali. Dan aku entah kenapa malah takut. Dengan suara bergetar bapak berkata, “Aku tidak membesarkan anakku hanya untuk membuat orang lain memfitnahnya. Aku tidak terima anak perempuanku diperlakukan seperti itu..”

Bapak, tahukan engkau? Ketika itu aku sejenak lupa tentang masalahku. Aku cuma merasa sangat-sangat bersyukur dilahirkan sebagai putrimu. Aku sangat bersyukur meski kehidupan kita tidak berlebih-lebih seperti ini, tapi aku ditakdirkan sebagai darah dagingmu. Ya Allah, terima kasih. Kuhaturkan sujudku padaMu dalan uraian airmata penuh syukur. Terima kasih telah Engkau pilihkan bapak yang demikian menyayangiku.

Tuhan tolonglah..
Sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji..
Takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah..
Betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan kubuktikan, kusanggup penuhi maumu

Ada Band – Yang Terbaik Bagimu (Ayah) 

Mau Baca Lainnya?

4 Comments

  1. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.