Bias Malam

Jangan mendustaiku lagi, Anggra. Jangan mengatakan dan melakukan apa pun lagi. Bagiku sudah cukup penjelasan yang ditampilkan oleh sikap dan keputusanmu ketika itu. Kita terlalu berbeda. Berbeda dalam bentuk yang dikoar-koarkan mereka yang membesarkanmu. Tahta itu kau harapkan. Jangan dustai aku lagi. Aku tahu, aku tahu apa yang telah kau berat sebelahkan.

***

Jangan mendustaiku lagi, Anggra. Jangan mengatakan dan melakukan apa pun lagi. Bagiku sudah cukup penjelasan yang ditampilkan oleh sikap dan keputusanmu ketika itu. Kita terlalu berbeda. Berbeda dalam bentuk yang dikoar-koarkan mereka yang membesarkanmu. Tahta itu kau harapkan. Jangan dustai aku lagi. Aku tahu, aku tahu apa yang telah kau berat sebelahkan.

Kujejakkan langkahku menelusuri jalan-jalan panjang di kota yang mulai lelap. Ditemani riuh redam suara-suara malam, aku mendekap tas tangan merah di depan dadaku, mendekap langsung ke hatiku. Menganjal sedikit sakit yang ingin kulenyapkan.

Angin malam meraba bahuku yang terbuka, membelai jenjang kakiku yang telanjang sampai beberapa senti di atas lutut. Aku merasa dingin yang tak ada hubungannya dengan itu dan kubiarkan nyeri  menjamahi betisku karena terus dipaksa berjalan dengan sepatu berhak tinggi sejauh ini.

Kuputuskan berhenti menyiksa tubuhku, terduduk sembarangan, aku bersimpuh di trotoar jalan. Memandang kosong ke arah kegelapan total langit di atasku. Tidak ada bintang. Tidak ada Anggra. Aku menepis bayangan laki-laki itu dari benakku. Jangan Anggra lagi, kumohon. Masih bernanah rasanya luka ini dan mengingat laki-laki yang telah menelanjangi habis kepercayaanku itu malah membuat tubuhku meremang menahan sakit hati.

Mataku menyipit, memandang mobil yang terhenti mendadak di depanku. Kaca gelap mobil mewah itu bergerak turun perlahan, memperlihatkan separuh badan orang yang duduk di balik kemudi yang dilapisi kulit ular asli.

Ah dia. Cepat sekali dia menanggapi pesan singkatku. Aku tersenyum, merapikan rambut panjangku yang bergelombang. Aku bangkit dengan anggun, menghampiri pintu mobil itu. Jemari jemari lentikku yang dihiasi kuteks berwarna merah terang menelusuri lekuk pinggiran pintu mobil. Aku menatap sepasang mata yang tengah mengamatiku. Perlahan ku biarkan tubuhku bergerak masuk ke dalam mobil yang kutahu harganya memiliki nominal dengan jumlah angka nol yang mencapai sembilan. Duduk di sebelah laki-laki itu, aku menyandarkan punggungku. Melepas lelahku.

Kepalaku menoleh ke arah sosok yang akrab denganku sejak dua tahun lalu itu ketika kurasakan tangannya menyentuh lenganku, “Kau baik-baik saja?”

Aku hanya mengangguk.

“Aku terkejut membaca pesanmu, tapi aku juga sangat bahagia sebab kusangka aku tak akan pernah melihatmu lagi sejak kau katakan bahwa kau akan berhenti dan memulai hidup baru yang kau pilih.”

Kali ini aku memandang laki-laki itu dengan hangat, “Bisakah kau tidak membicarakan hal itu sekarang? Aku tau kau mungkin telah mendengar semua yang terjadi pada kami. Tapi kumohon biarkan malam ini berlalu seperti biasanya, tanpa pertanyaan. Seperti yang biasa kita lakukan.”

Dia mengusap lembut pipiku, “Ya, tentu saja Luna.”

Maafkan aku, Anggra. Maafkan aku. Kuseka setetes air mata yang menyelinap turun dari sudut mataku. Kudekatkan tubuhku ke dalam pelukan lengan kokoh laki-laki yang tengah terlelap dengan wajah kelelahannya. Janjiku pada Anggra dulu seakan masih mengikatku. Selalu ada rasa bersalah setiap kali aku melakukan hal ini lagi. Aku tahu. Aku tahu bahwa laki-laki ini bukan Anggraku. Dia hanya salah satu dari sekian banyak orang. Sekian banyak orang yang peduli padaku. Sekian banyak orang yang akrab denganku. Tapi dia bukan laki-laki yang menyentuh hatiku, dia hanya laki-laki yang menyentuh jasmaniku, sama seperti sekian banyak lainnya. Namun aku tau dia baik, dia yang paling baik diantara semuanya. Dia seperti teman yang kerapkali mengajakku berbincang, berdebat atau sekedar diam hanya untuk mendengarkan. Aku tahu dia menghargaiku lebih baik dari sekian banyak lainnya.

Tiba-tiba sepasang mata yang terlelap itu terbuka, memergokiku yang tengah memandanginya. Tangannya mengusap kepalaku dengan penuh keramahan, “Tidur, Luna.” Katanya pelan.

Aku mengangguk dan dia menarikku semakin erat ke dalam pelukkannya. Aku tahu, harusnya memang seperti inilah aku. Tidak boleh keluar jalur karena memang inilah aku. Sementara begini saja. Begini saja, semoga cukup. Dia mengusap punggungku dengan telapak tangannya yang besar. Aku menyusupkan kepalaku ke dadanya, mencari keamanan dan rasa hangat. Iya, begini saja.

 ***

Jangan memandangku dengan tatapan seperti itu, Luna. Jangan menghakimiku dengan sorot mata nanar seperti itu. Sungguh aku tak sanggup ditelanjangi oleh pandangan seperti itu. Aku terbiasa dengan sepasang mata coklatmu yang menatapku dengan penuh cinta, bukan yang seperti itu. Kumohon mengertilah aku, Luna. Mengertilah kebenaran yang berusaha kudendangkan padamu.

Aku memandang cangkir kopi dalam genggaman tanganku. Tidak ada asap atau hawa panas kopi yang harum dan biasa menyapa pagiku. Dengan malas, kuletakkan kembali cangkir kopi sisa tadi malam itu ke meja kecil di dekat tempat tidurku. Samar, aku merasakan pelukan lembut sepasang tangan yang melingkari perutku dari belakang. Aku menoleh, menemukan sebingkai wajah cantik bangun tidur yang tengah mengamatiku dengan pandangan lembut menggoda. Aku memaksakan sudut bibirku tertarik ke atas. Terfokus, kuamati sepasang mata hitam di depanku ini.

Pemilik sepasang mata inikah yang akan menghabiskan seluruh hidupnya denganku? Diakah dan bukan Luna? Bukan Luna? Aku merasa kehampaan yang mencekik ketika kudapati kenyataan itu. Ada satu lubang dalam yang terus melebar di dalam tubuhku yang membuatku kesakitan ketika kurindukan tubuh jenjang Luna. Ketika kurindukan tawa Luna, kecupan di pipi dan secangkir kopi panas sebagai sapaan pagi dari Luna.

Aku merindukan dan membutuhkan Luna. Aku mencintainya, apa pun yang ada dan melekat pada Luna aku suka. Aku memandangnya sebagai wanita sempurna. Wanita yang sanggup membuatku berdebar tiap kali jemari-jemari indahnya menelusuri tengkukku. Wanita yang menguasai setiap mimpi masa depanku. Wanita yang berjanji akan setia dan hidup hanya untukku. Ah Lunaku, betapa dia sangat memasrahkan hatinya untukku. Tapi aku? Lihat betapa pengecutnya aku. Aku mempecundanginya, menyakitinya. Padahal aku tahu Luna telah memenuhi semua mauku. Ditanggalkannya kebiasaan dan dunianya hanya untuk tinggal di hatiku. Berdua. Bersamaku.

Bagaimana bisa aku begini lemah? Bagaimana mungkin aku berani menampakkan wajahku didepan Luna setelah semua yang kulakukan padanya? Lemah dan ketegasan prinsipku goyah ketika mereka memberiku pilihan. Kuasaku untuk menolak kusingkirkan. Takutkah aku? Takutkah aku kehilangan semua ini? Takutkah??

Sepasang mata hitam itu, entah bagaimana semakin lekat memandangiku. Aku merindukan Lunaku. Luna. Tapi ini bukan mata Luna, keluhku meski tetap saja kuarahkan mata itu semakin mendekat. Aku mendengar setiap hembusan nafas penuh makna yang semakin jelas ketika kami semakin merapat. Bukan kebiasaan Luna, keluhku meski aku juga membalas setiap gerakan yang ditampilkannya. Bukan Luna, bukan Luna. Tapi aku tetap memanas dalam setiap detik yang kembali memaksaku terlarut dalam ego dan naluriku sebagai laki-laki. Sebagai laki-laki yang tunduk pada paradigma.

***

Aku tahu, aku tahu dengan benar segala aturannya. Permainan ini melarangku turut serta sebagai tokoh utama. Aku tahu aku tidak boleh menjamah tempat lain selain tempatku ini. Tempat yang memakukanku sebagai wanita yang bukan wanita utama. Disini atau dimanapun, aku hanya akan menjadi wanita yang berada di tepian. Aku hanya dan selalu menjadi wanita yang boleh dijamah tapi terlarang untuk dimiliki. Terlarang. Apa lagi bagi kelompokmu yang meminta segala kesempurnaan latar belakang dan masa lalu. Sementara aku ini hanya wanita bias malam. Wanita yang bernafas dan memerdekakan dirinya dalam jendela malam. Aku tahu jejakku saja akan dibaui busuk. Aku tahu.

Tapi tuturmu membangkitkan semangatku. Rangkaian mimpi-mimpi masa depanmu membuatku memandang segalanya dengan arah yang berlawanan. Aku menegakkan kepalaku meski serumpun khawatir kerap menghantuiku. Aku akan berdiri tegap menantang semuanya. Aku akan melewati semua cemoohan dan tatapan sinis mereka yang menilaiku rendah. Aku akan menjadi apa pun, bertahan dan selalu hidup denganmu. Asal denganmu. Asal denganmu, aku akan kuat.

***

“Aku ingin membalikkan semuanya. Jika memungkinkan, aku ingin melepaskan diriku dari semua ini. Menghapuskannya juga. Tapi aku tahu itu mustahil. Semua ini melekat padaku sampai ke tulang-tulangku. Mereka akan tahu. Pasti! Cepat atau lambat. Dan mereka tidak akan pernah mengizinkan ini. Tidak akan pernah.” Kataku putus asa.

Namun matamu malah bersorot tenang menjamahi wajahku, tersenyum kau permainkan rambutku dengan jemari-jemarimu, “Aku tidak peduli.” tanggapmu singkat.

“Tapi–“

Satu detik kecupanmu menghentikan bantahanku. Jemarimu beralih menelusuri tulang pipiku sementara aku hanya tertegun memandangmu. “Bisakah kau diam dan mempercayaiku saja. Ku katakan aku tak peduli dan itu berarti satu. Bahwa aku memang tidak peduli. Percayalah Luna. Aku memilihmu.” Terangmu dengan tatapan meyakinkan, “Kau adalah segalanya bagiku.” Bisikmu membuatku gemetar karena bahagia dan lega. Kurasakan tarikan pelan tanganmu membawa tubuhku merapat ke tubuhmu. “Kau kehidupanku, Luna”

Dan aku menenggelamkan wajahku di dadamu, terisak. Kalimat sederhana seperti itulah yang membuatku terus hidup penuh senyum bersamamu. Andai kau tahu betapa bahagianya aku. Untuk pertama kalinya aku merasa kalau diriku berharga. Kau membuatku memiliki alasan yang sangat kuat untuk bertahan denganmu. Denganmu, hanya denganmu. Asal denganmu, Anggra.

***

“..maaf, Luna”

KAU kehilangan karismamu. Kau kehilangan nilaimu. Kau kehilangan kepercayaanku ketika kau mengatakan hal itu. Maaf? Bisakah maaf mengembalikanku ke keadaan awal. Bisakah maaf menghapus perasaan terbuang ini. Bisakah maaf menepis kenyataan bahwa aku dikhianati. Bahwa aku dibawa terbang tinggi hanya untuk dilempar lagi ke bawah. Jatuh, tersuruk pada dasar yang paling rendah.

“Luna..” Suaramu menggema. Menggema lalu hilang. Aku kosong. Dekapanmu pun tak membawaku pada perasaan nyaman dan hangat seperti biasanya. Aku membeku. Otakku berhenti bekerja. Jantungku berhenti memompa aliran darahku. Paru-paruku kehabisan oksigennya.

Kau menyentuh lembut wajahku, memindaiku.

Sudah, sudahkah kau temukan seonggok luka basah bernanah di tubuhku. Sudahkah kau lihat serpihan hatiku yang bertebaran mengenaskan. Aku tak bisa membantah. Aku tak bisa berkata apa pun. Hanya memandangmu, mendengarkanmu. Sebab aku kehilangan kemampuanku, aku kehilangan seluruh tenagaku yang luruh ketika kau menuntaskan semua kata-kata dalam kepalamu menjadi serangkaian kalimat yang berputar-putar di benakku.

“Luna, kau boleh mencaciku. Tampar aku. Maki aku Luna. Lakukan apapun, jangan diam begini.”

Dengarkan, dengarkan saja hatiku seperti biasanya Anggra. Dengarkan dengan kemampuanmu mencintaiku jika memang hal itu masih ada. Usah kurangkai segala fonem dan kuucapkan itu sehingga terangkai distorsi yang bisa kau tangkap. Andai sama besar rasamu mencintaiku seperti rasaku mencintaimu, kau akan tahu segala hal yang tidak kuucapkan. Akan ada banyak auditoris yang bisa kau kumpulkan.

“Beri aku waktu, Luna. Beri aku waktu. Aku mohon. Mengertilah. Izinkan sekali ini saja kuikatkan diriku dengan wanita yang dipilihkan oleh mereka. Tapi kemudian, sungguh Luna. Aku akan menyandingmu sebagai wanitaku. Seperti janjiku ketika kuminta kau melepas dirimu dari duniamu yang sebelumnya.”

Aku hanya menatapmu. Mengabur, segalanya menguap. Harapanku, kebahagiaanku dan kepercayaanku. Kemudian? Pahamkah kau, pahamkah makna kata kemudian. Aku tahu, aku tahu aku tidak akan bisa lari dari takdirku. Takdirku sebagai wanita tepian. Bukan wanita utama. Dan kau telah membuatku menyadari satu fakta yang tidak akan pernah bisa kuingkari itu.

Kulangkahkan kakiku pergi. Membawa hancurnya kalbuku. Tak mengacuhkan pelukanmu, tanganmu yang mengenggam lenganku dan menahanku pergi. Aku tetap berlalu. Kosong. Aku kehilangan semuanya. Detik ketika semua rangkaian tuturmu membawaku pada satu kesimpulan. Tahta dan hartamu. Kehormatanmu di mata mereka dan lingkunganmu. Kau sama saja. Mana sanggup kau tenggelam pergi dari semua itu. Aku tahu,  aku tahu Anggra. Rasa cinta yang membakar kita dulu adalah gejolakmu, nalurimu dan egomu. Laki-laki? Begitukah kau dan kalian semua yang pernah bertutur mencintaiku dan mengagumiku bertampang? Kini aku mengerti dan aku tahu.

Kutepiskan dengan kasar hatiku yang sudah busuk. Wujudku dikagumi tapi harga diriku dipandang dengan tipis. Nyaris tanpa harga mungkin. Sebab mereka yang menilai tahu, tahu bahwa dengan sejumlah nominal dan benda aku boleh disentuh. Harusnya sudah kupahami dengan tegas hal itu. Kenapa bodoh sekali. Harusnya aku tahu, tidak ada cinta yang benar untuk wanita sepertiku. Tidak pernah ada.

Aku melangkah dan menjauh. Aku tahu aku tidak bisa berbalik. Meskipun pergi, meskipun kabur dan keluar dari lingkup ini. Aku tetap punya tanda di mata mereka semua. Seperti tatto permanen, tak kan pernah hilang meski aku mengubah segalanya. Tanda itu akan menjadi totem abadi yang melabeliku.

***

Aku duduk di depan cermin sambil merapikan polesan bedak di wajahku. Ku amati wajahku dengan teliti. Cantik. Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan wajah yang sering dipuji laki-laki ini. Aku menyapukan lipstik merah merona ke bibirku.

“Luna, sudah bangun? Mau kemana?”

Aku menoleh, melihat tubuh tengkurapnya yang menatapku dengan mata mengantuk. Aku tersenyum manis, berjalan mendekat dan mengecup pipi laki-laki itu. Dia memandangku manja dan memelukku. Ku tarik tubuhku menjauh dan melepaskan pelukannya, “Aku harus pulang.” Ujarku pelan.

Dia bangkit, duduk dengan dada telanjang dan memandangiku dengan tatapan memohon. “Nanti saja. Biar aku yang mengantarmu.” Rajuknya.

Aku mengambil tas tangan merahku dari atas meja, “Lain kali saja.” Aku melambaikan tanganku sambil melangkah ke arah pintu keluar hotel bintang enam ini.

“Luna, kita masih bisa sering bertemu, kan?”

Aku berbalik dengan anggun, “Asal kau masih menyimpan nomor rekeningku saja” jawabku yang ditanggapinyaa dengan tawa kecil. Aku tak perlu menunggu ucapannya lagi sebab aku sudah tahu jawabannya.

Pintu hotel ini menutup dan melenyapkan bunyi hak sepatuku yang beradu dengan lantai. Aku melangkah pergi. Berjalan dengan langkah seperti model-model profesional, kubiarkan laki-laki yang berpapasan denganku berdecak kagum memandangku. Menjelajahi tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan liar khas mata laki-laki. Aku tersenyum tipis. Aku hanya akan menikmati kekaguman itu tanpa mau peduli pada bisikan wanita-wanita di samping mereka.

Sebab aku tahu. Aku tahu inilah aku.

Mau Baca Lainnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.