Day 3 : What Are Your Top Three Pet Peeves

Ternyata sulit sekali menjadi konsisten. Ini hari ketiga, dan aku sudah seperti iya tidak iya tidak dalam menulis. Jari-jari tanganku rasanya malas untuk menari di atas keyboard dan otakku malas untuk berpikir. Tapi aku tahu bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku sudah memutuskan untuk ikut tantangan ini dan aku harus belajar untuk konsisten pada apa yang sudah kuambil.

Oleh karena itu, aku di sini sekarang. Duduk menulis dengan dia di sampingku menonton program tv aneh yang aku tidak tahu apa, seperti kontes menyanyi tapi yang dimiripkan dengan penyanyi legendaris di masa-masa kemarin yang lama. Aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya, tapi dia menikmati program tv yang sedang ditontonnya.

Nah, sekarang mari masuk pada tema yang terpilih di hari ketiga ini ; tiga hewan kesayanganku. Sekarang aku tidak punya hewan–eh stop. Mari berhenti di sini. Sepertinya aku salah menerjemahkannya. Astaga! Aku tidak tahu apa aku harus menertawakan diriku sendiri atau justru bangga karena aku menyadari kesalahanku sebelum menulis terlalu jauh.

Continue Reading

Day 2 : What Something That Someone Told You About Yourself That You Never Forget

Sekarang pukul 23.20 dan aku baru ingat kalau baru saja kemarin aku memutuskan untuk memberi makan jiwaku dengan menulis The 30-Day Writing Challenge. Ini baru hari kedua dan aku sudah hampir kalah atau tepatnya lupa. Mengenaskan sekali. Sedikit malu, aku mulai menuliskan apa yang seharusnya hari ini aku tuliskan ; tentang sesuatu yang dikatakan oleh seseorang tentang diriku yang tidak pernah aku lupakan. 

Nah, biarkan aku berpikir sebentar. Aku ini orangnya pelupa, lihat saja bagaimana aku hanya punya tiga puluh menit untuk menulis tulisan hari keduaku. Jadi aku harus berpikir baik-baik tentang bagian ini. Tapi baru saja sejenak berpikir, aku ingat tentang sesuatu dan itu membuatku tersenyum. Ah, tentu saja, siapa lagi.

Dia mengatakan ini hampir setiap kali kami bertemu dan menghabiskan waktu, “Kamu cantik dan cobalah untuk menyadari itu.”. Dia tidak pernah bosan mengatakan itu kepadaku, sama seperti aku tidak bosan mengatakan padanya betapa gendut dan tidak cantiknya aku. Aku banyak mengeluh tentang betapa besar lenganku, tentang seberapa banyak lemak bersarang di perut, kaki, pipi atau bisa dikatakan di semua bagian tubuhku. 

Continue Reading

Day 1 : List 10 Things That Make You Really Happy

Apa ya? 

Itulah yang muncul di kepalaku ketika aku membaca tantangan untuk hari pertama menulis. Apa yang bisa membuatku bahagia? 10 hal apa yang bisa membuatku bahagia? Aku berpikir cukup lama dan menerka-nerka. Sungguh rasanya aneh sekali. Ini harusnya mudah karena aku bertanya tentang aku, tentang diriku, tentang apa yang membuatku bahagia. Tentang aku dan bukan orang lain. Tapi kenapa rasanya ternyata susah sekali.

Kemudian pelan-pelan kupaksa diriku untuk diam dan berpikir tenang. Pertama seperti apa bahagia dalam versiku? Definisi bahagia dalam diriku itu seperti apa? Apa dengan tertawa, apa dengan tersenyum, apa dengan berteriak-teriak kegirangan?

Ah gila, kenapa hari pertama saja sudah sesusah ini??

Tapi kemudian aku sadar bahwa mungkin aku berpikir terlalu rumit. Mungkin itulah namanya Spaghetti Minds. Aku tertawa sambil akhirnya menyortir isi kepalaku agar menjadi lebih sederhana dan bisa kubaca.

Continue Reading

Memberi Makan Jiwa

Jadi, aku mau menulis lagi. Susah memang rasanya percaya karena entah sudah berapa kali aku tulis tentang hal ini di sini. Namun, pada kenyataannya aku hanya kembali sejenak dan menghilang lagi entah kemana. Tanpa kabar. Tanpa sua.

Akhir-akhir ini aku merasa ada yang tidak pas. Hidup rasanya membosankan dan aku kehilangan gairah untuk melakukan apapun. Semuanya abu-abu. Tidak ada yang berwarna dan terasa mati rasa. Cinta ya begitulah. Kerja ya beginilah. Hidup hanya rutinitas. Aku hidup bagai robot. 

Lalu tadi pagi, tepat pukul enam, aku mulai berpikir bahwa ini tidak boleh berlanjut. Aku masih hidup. Aku seharusnya menikmati hidup itu sendiri. Aku seharusnya merayakan hidup itu. Bukan malah menjadi manusia mesin secara perlahan. Kemudian kuputuskan beranjak, mencari dalam diriku tentang apa yang salah sejauh ini, atau apa yang mungkin bisa ku perbaiki agar semuanya menjadi normal menurut standarku.

Hidupku sepertinya baik-baik saja. Aku punya pekerjaan tetap, tempat tinggal dan semua asuransi yang akan melindungiku jika terjadi apa-apa. Aku bisa pergi liburan, makan di restoran atau bahkan membeli sesuatu yang aku suka di Amazon, atau aplikasi belanja lainnya. Aku punya pacar, yang bisa kuajak berbagi masalah dan cerita. Lalu apa yang membuat hidupku sebelumnya terasa membosankan dan hanya itu-itu saja?

Continue Reading