Malaikat Hujan – Nuna (Part 2)

Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali memposting cerita ini. Tapi, pada akhirnya lanjutannya ada juga di sini. Hup hup. Kisah ini hampir terlupakan gara-gara aku sibuk berkutat dengan HV.

Jika saja, sahabatku tidak mengingatkanku akan cerita ini dan memintaku mempostingnya, mungkin aku benar-benar lupa. Hahahah. Erel.. maaf ya.

Well, aku tidak akan bercuap-cuap lagi. Selamat membaca. Chapter ini kudedikasikan untuk sahabat terbaikku sepanjang masa.

Bebeh, ini loh yang kamu minta. Kisahnya Erel sama Nuna. Hohoho.

Salam

@amouraXexa

Continue Reading

Malaikat Hujan

 Aku menggeliat merasakan dingin di tubuhku. Melalui kedua bola mataku yang belum sepenuhnya terbuka, aku melihat hujan turun dengan deras di balik jendela kaca bening di kamarku, “Nuna, jam berapa ini?” tanyaku sambil menyingkirkan tangannya yang melingkari pinggangku. Tidak ada jawaban dan aku melihat Nuna masih meringkuk nyaman di sampingku. Aku tersenyum dan mengecup dahinya. Aku memang selalu bangun lebih awal darinya.

Aku memandang hujan dan diam selama beberapa saat. Mendadak aku teringat sesuatu dan dengan cepat aku melirik jam digital sekaligus kalender di atas meja kecil di samping tempat tidurku. 05.45 AM, 30-11-2013. Mulutku terbuka lebar menyadari hal tersebut. Dengan cepat aku berbalik, menatap Nuna dan menyentuh bahunya, “Nuna..Nuna.” panggilku bersemangat.

“Mmm.” Nuna hanya menggeliat dan makin merapatkan tubuhnya padaku. Aku tersenyum geli. Nuna selalu seperti ini. Tapi sekarang tidak boleh, aku harus membangunkannya, “Hi, sleeping princess. Wake up, please.” Aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya yang chubby dan menggoyang-goyangkannya.

“Erel?” suaranya serak dan dia memprotes tindakanku, “Aku masih mengantuk. Jangan ganggu aku.” Katanya sebal seraya menyingkirkan tanganku dari wajahnya dan dia menjauhkan tubuhnya dariku. Kembali memejamkan mata. Aku menatapnya dengan tidak percaya, “Oh ayolah, Nuna. Bangun!” kataku sedikit keras.

Continue Reading

Jogjakarta (Tempat untuk Kembali)

September 2012

Aku menjalinnya lagi. Kisah cinta yang dulu pernah meninggalkanku. Aku memaafkannya lagi, meski dulu dibuatnya aku habis sampai tak bisa lagi mengenali apa itu kebahagiaan. Menerimanya dengan tangan terbuka.Tanpa syarat.Tanpa keluhan.

Entah apa yang merasukiku sampai segila ini aku bersedia kembali padanya. Padahal dulu, ketika dia putuskan meninggalkanku dan meraih tangan perempuan lain, aku sudah kehilangan kepercayaan kepadanya. Aku kira aku sudah kehilangan semua cintaku padanya ketika kutahu tangan perempuan yang diraihnya itu adalah tangan sahabatku sendiri. Aku kira aku sudah kehilangan semua kekagumanku padanya. Tapi rupanya aku salah.

Continue Reading

Hujan, Kamu dan Sihir Hujan

Ketika mendengar suara hujan aku selalu mengingatmu. Ketika disentuh hujan aku selalu mengingatmu. Ketika melihat hujan aku selalu mengingatmu. Ketika merindukan hujan berarti aku juga merindukanmu. Hujan dan kamu adalah satu bentuk kesatuan yang saling melekat dan membawaku dalam diam yang lama. Aku suka hujan. Aku suka kamu. Kehilanganmu adalah kehilanganku akan hujan. Dan akankah itu terjadi?

Continue Reading

Bahasan Hujan

“Aku tidak suka hujan.”

Kepalaku menoleh memandangnya. Sebentar saja, kemudian kuarahkan kembali pandanganku keluar. Menerobos kaca yang buram karena hawa dingin. Hujan masih turun. Semakin deras dan langit semakin pekat. Sepertinya hujan kali ini akan sangat lama.
Aku menoleh lagi memandangnya. Kali ini bukan karena suaranya tapi karena kesunyian yang mendadak menyelinap diantara kami. Bukan kebiasaannya membiarkan kesunyian menguasai kebersamaan kami. Sehingga akan sangat mengherankan bagiku ketika situasi seperti ini mendadak tercipta.

Continue Reading

August End II – Sebuah Jawaban

Jika aku tahu akhir dari cinta sesakit ini

Maka Tuhan..

Tolong

Tolong buat aku tidak jatuh cinta lagi

Tolong buat aku tidak jatuh cinta lagi? Mungkin Tuhan benar mengabulkan permintaanku itu. Dia membuatku tidak jatuh cinta lagi.. pada laki-laki lain. Sebab sampai sekarang aku sama sekali tak bisa beralih darinya. Dari dia yang dulu membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, dia yang membuatku patah hati dengan sangat buruk, dia.. dia yang sampai kini pun masih punya tempat paling istimewa di hatiku.

Continue Reading

Fajar dan Senja

Memiliki seseorang yang benar-benar kita cintai mungkin adalah hal terbesar yang paling kita inginkan, tapi memiliki seseorang yang selalu tulus dan begitu besar mencintai kita juga bukan sesuatu yang buruk. Aku belajar memaknai tentang itu sekarang. Mencintaimu, Senja. Dan menerima cintamu, Fajar. Akankah begitu? Ataukah akan ada takdir lain?

Continue Reading