August End I – Sebuah Kisah

Aku benci mengakui bahwa aku telah mencintaimu dengan kadar yang terlalu banyak. Aku benci mengakui bahwa aku cemburu pada perempuan-perempuan yang dekat denganmu. Aku benci mengakui bahwa aku merasa kalah dari mereka. Aku kalah dari mereka dalam hal mendapatkan perhatianmu. Aku kalah..

Continue Reading

IRONI

Aku berada dalam batas garis ketidakberdayaan. Nanar. Dalam pelukan bisu yang menyakiti. Tersia-sia diantara gemuruh teriakan kepedulian yang semu. Akhirnya pun kalah. Kalah telak dengan nilai kehormatan yang luntur. Masa egoisme dan individualisme meluluhlantahkan kebersamaan yang sejak dulu diagung-agungkan. Terjebak  di celah-celah era baru yang dianggap sang nomor satu. Terinjak-injak hanya karena perbedaan jumlah nilai di kartu simpananmu. Darah mengalir dari celah-celah lubang kehidupan dan kenikmatan, dikoyak-koyak hanya dengan alasan yang naluri pun tak mengetahui letak benarnya.

Aku telah musnah. Jatuh mahkota itu. Pecah berantakan dan meninggalkan bekas. Terlihat tapi tak terlihat dan menimbulkan cela berkepanjangan.

Matikah?

Continue Reading

JINGGA

Namanya Jingga, aku mengenalnya di tepi pantai di kala senja. Seperti namanya, warna langit kala itu juga jingga. Lalu seperti langit yang cantik, pesona jingga di senja itu pun setara cantiknya.

Rambut sepinggangnya tergerai berantakan dipermainkan angin pantai. Tubuh semampainya berdiri tegak menatap laut lepas. Dari sudut tempatku mencuri-curi pandang, dia terlihat begitu menawan. Meski langit semakin gelap karena terbenamnya matahari, pesona jingga di mataku justru semakin terang. Siluetnya pun bagiku terlihat seperti siluet bidadari yang tersesat di bumi. Jingga, sepertinya dia telah berhasil menawan hatiku bahkan disaat aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali bahwa dia mungkin adalah perempuan yang menyukai senja.

Continue Reading

Terima Kasih Cinta Pertama

Cinta. Satu bahasan yang tidak akan pernah kehabisan huruf untuk menjabarkannya. Meski ketika itu waktu sudah menua. Cinta diajarkan sebagai sebuah anugrah untuk jiwa manusia. Cinta itu indah. Meski kadang terlihat kejam. Cinta punya berbagai cara untuk menunjukkan keberadaannya. Dengan membuatmu membenci, membuatmu menangis, tertawa, lalu bahagia. Cinta akan dan pasti indah. Caramu menghargainyalah yang akan membedakan tingkat keindahannya.

Cinta. Pernah merasakannya? Aku pernah. Sejauh ini baru sekali. Dulu kupikir aku sering merasa jatuh cinta. Tapi ternyata bukan. Cinta sederhana tapi rumit. Dan sulit ditelaah dengan cepat. Jadi ternyata, kebanyakan hanya suka bukan cinta. Dan jatuh cinta yang sebenarnya itu baru sekali. Dengan dia. Dia yang sulit disentuh dengan sikapku yang sekarang. Dia yang sukar kuterjemahkan.

Continue Reading

Bias Malam

Jangan mendustaiku lagi, Anggra. Jangan mengatakan dan melakukan apa pun lagi. Bagiku sudah cukup penjelasan yang ditampilkan oleh sikap dan keputusanmu ketika itu. Kita terlalu berbeda. Berbeda dalam bentuk yang dikoar-koarkan mereka yang membesarkanmu. Tahta itu kau harapkan. Jangan dustai aku lagi. Aku tahu, aku tahu apa yang telah kau berat sebelahkan.

***

Jangan mendustaiku lagi, Anggra. Jangan mengatakan dan melakukan apa pun lagi. Bagiku sudah cukup penjelasan yang ditampilkan oleh sikap dan keputusanmu ketika itu. Kita terlalu berbeda. Berbeda dalam bentuk yang dikoar-koarkan mereka yang membesarkanmu. Tahta itu kau harapkan. Jangan dustai aku lagi. Aku tahu, aku tahu apa yang telah kau berat sebelahkan.

Kujejakkan langkahku menelusuri jalan-jalan panjang di kota yang mulai lelap. Ditemani riuh redam suara-suara malam, aku mendekap tas tangan merah di depan dadaku, mendekap langsung ke hatiku. Menganjal sedikit sakit yang ingin kulenyapkan.

Continue Reading

KISS??

Kiss??”

“Iya, kiss. Kamu dan kak Ivankan sudah hampir tujuh bulan jadian, masa sa-ma se-ka-li be-lum per-nah kiss?” cerca Nita dengan wajah tidak percaya, saat kami sedang istirahat latihan basket di tepi lapangan. Wajahnya penuh tanda tanya dan penekanan ucapannya pada kalimat “SAMA SEKALI BELUM PERNAH KISS” membuatku merasa seperti menjadi manusia abad lalu.

Aku memantul-mantulkan bola basket di tanganku dengan lemah sementara sahabatku itu masih ngoceh tentang kiss. Bla bla bla, aku jadi pusing, kubiarkan saja dia terus bicara tanpa ingin menyelanya sama sekali. Tapi bukannya karena aku tidak ingin mendengarkannya, atau karena aku tidak menganggap penting ucapannya, aku diam justru karena aku sedang memikirkan semua yang telah Nita katakan. Semua ucapannya menganggu pikiranku.

“….kalau pacaran itu ibarat masakan, kiss itu bumbu penyedapnya. Bumbu paling penting. Yang bikin masakan jadi terasa, hmmm.. Yummy.

Continue Reading

I Love You, Kak

Buku biru lusuh tebal, halaman pertama.

Dear Diary,

Diary, namanya Richo.

Richo Pradatama.

Dialah kak Richo-ku, kuperkenalkan padamu. Kamu harus tahu, diary. Dialah alasanku untuk semua pertanyaan yang ada. Tapi dia begitu sulit kujangkau. Dia begitu jauh… sangat jauh.

Tapi diary

Dia tak tahu.. aku selalu berjalan di belakangnya, berangkat dan pulang sekolah.

Dia tak tahu.. aku selalu menunggunya, di depan rumahnya dan di gerbang sekolah.

Dia tak tahu.

Dia sama sekali tak tahu.

Padahal aku ingin sekali dia tahu.

Aku ingin dia tahu.

Sangat menginginkannya.

Bantu aku memberitahunya satu kalimat ini, diary.

Bantu aku memberitahunya, bantu aku mengatakan kalimat ini.

“I love you, kak.”
                                                                                                         Icha

Continue Reading