Tentang Suka Pertama

Semalam, aku memimpikan seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah aku lihat. Seseorang yang menjadi pujaan hatiku ketika aku masih sangat belia. Aku tidak tahu kenapa aku mendadak memimpikannya. Tapi kupikir itu tidak masalah karena dengan mendapat mimpi itu, hari ini aku mengingat banyak hal indah yang membuatku tersenyum. Sebuah kisah tentang suka pertama. Kali pertama aku menyukai seorang cowok. Dan aku ingin membagi kisah ini di sini.

Dalam mimpiku, aku melihat dia dan aku berteriak, “Ya ampun, sudah lama banget ngga ketemu!” lalu aku peluk dia dan dengan iseng mencium bibirnya selintas. Astaga, serius.. cuma selintas dan dia bengong lalu aku tertawa terbahak. Setelahnya berbisik dengan teman di sampingku, “Mumpung ada kesempatan.”. Sungguh, aku tidak tahu aku bisa seliar itu. 🙂

Continue Reading

Mengabarkan Rindu

Doc. Pribadi

Kau tahu rasanya merindukan seseorang tapi tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan itu? Apa kau juga tahu bagaimana rasanya disiksa oleh perasaan itu detik demi detik dan kau masih saja tidak bisa melakukan apapun? Jika kau tahu, mari kita bicara. Sebab aku ingin membagi perasaan sesak ini. Aku ingin membaginya agar aku tidak perlu terus menerus berdiam dalam luka yang mengikisku habis dari dalam. Aku merindukan banyak orang. Aku merindukan banyak hal. Dan rindu itu membunuhku perlahan. Aku menangis, tapi tidak pernah tahu kapan airmataku bisa habis. Aku ingin berhenti menangis, tapi setiap kali aku diam. Aku akan menangis lagi dan lagi. Sampai kebas dan bosan rasanya pada rasa sakit ini. Rasa sakit karena rindu yang tak pernah terbayar.

Continue Reading

Kenangan Kita

Memilih menjadi seperti ini. Memilih bertahan seperti ini. Meskipun terasa begitu sulit dan  beban yang tertanggung sedemikian rupa, tapi di sinilah aku. Berada di jalan yang membawaku tetap bersamanya. Tidakkah dia ingin tahu kenapa aku bisa bertahan sejauh ini dengan semua keadaan yang ada? Tidakkah dia penasaran kenapa aku diam sementara waktu memampangkan kisah lalu yang tak mudah?

Jawabannya hanya satu. Kenangan. Aku bertahan sejauh ini dengan berpegangan erat pada kenangan tentang kami. Aku diam akan semua yang terjadi di masa kemarin karena kenangan itu melembutkan amarahku dan membelai lembut kepalaku yang memusing karena hal buruk di masa itu.

Continue Reading

Random Thougt : Memory Leaves Scars That Do Not Heal

Jadi.. ini semacem pikiran super random yang nyantol di kepalaku tengah malem ini. mendadak kepikiran aja dan aku pengen nulis ini di sini. Well, jangan nanya tentang Remember Us, Xexa, Another Story atau yang lainnya dulu. Tidak, aku sedang tidak punya semangat dan tidak punya inspirasi untuk menulis cerita. Kepalaku sedang penuh dengan hal-hal lain. Antara lainnya Au pair. Ah sial, melenceng lagikan. Oke Ree.. fokus.

                *tarik nafas panjang*

           Nah, baiklah.. sejujurnya aku tadi ingin menulis tentang sebuah hal yang sangat menganjal di pikiranku. Sebuah pertanyaan yang beranak cucukan banyak pertanyaan lainnya dan membuatku gila.

                  Bagaimana jika selama ini ternyata dia salah?

source : Google Image

Continue Reading

Ini pohon untukmu. Ini pohon milikmu.

Source : Google Image

Aku mencoba menulis ini untuk memberimu gambaran apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Aku menulis ini agar membantumu mengerti bagaimana sesungguhnya perasaanku padamu. Aku menulis ini agar kau tahu seperti apa aku menyukaimu. Agar kau mendengar jutaan kata yang tak pernah bisa kuutarakan langsung padamu. Agar kau membaca.. membaca bagaimana sesungguhnya aku.

Continue Reading

Beranjak*

Pernah ketika dulu aku berpikir jika aku tidak akan pernah beranjak dari tempat ini. Aku akan tetap disini dan menatap satu arah, hanya padanya. Aku akan tertinggal di jalan ini dan hidup bersama kenangan masa lalu. Aku akan jauh berada di belakang ketika yang lainnya berlari bersama masa depan mereka. Pernah, ketika dulu, aku berpikir seperti demikian.

Namun nyatanya sekarang aku memilih beranjak. Memulai langkahku untuk meninggalkan tempat ini sesenti demi sesenti. Meskipun sangat lambat tapi aku tahu bahwa aku melangkah. Bahwa aku melakukan sesuatu dan bukan hanya diam seperti yang kulakukan selama ini.

Continue Reading

Tentang Cinta

Dulu, ketika masih berusia empat belas tahunan, aku sering memikirkan bagaimana kelak cinta akan datang padaku. Dengan cara seperti apa, dimana, siapa dan kapan. Aku menerka-nerka, tapi kebanyakan malah terbentuk dalam imajinasi-imajinasi konyol yang sudah banyak dipengaruhi oleh drama-drama korea romantis yang kutonton. Seperti laki-laki yang sangat tulus mencintaiku, menerima apa adanya aku tanpa banyak mengeluh. Laki-laki yang membuatku betah menghabiskan dua puluh empat jamku hanya untuk berada di dekatnya. Laki-laki romantis yang mencium keningku dengan lembut, yang mengusap kepalaku penuh sayang, yang tertawa bersamaku. Berbagi kehidupannya denganku. Berbicara dan mengisahkan banyak hal kepadaku. Dan sialnya, aku seperti terobsesi pada laki-laki dalam bayangan di kepalaku ini.

Continue Reading