Malaikat Hujan – Nuna II

Aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Aku sudah kehilangan semua kesempatan untuk bahagia. Aku sudah kehilangan semuanya dan aku cuma bisa menangisi itu sekarang. Papa memelukku dengan lembut dan mengusap punggungku pelan. Aku masih terisak ketika papa memintaku berbaring dan tidur sejenak. Tidak ada bantahan sebab aku sudah terlalu lelah. Jadi aku membaringkan tubuhku perlahan dan papa menarik selimutku sampai batas leher.

“Tidurlah sebentar. Papa tahu kau lelah. Apa papa perlu bawakan mentimun atau es untuk mengompres matamu? Kurasa itu akan bengkak besok, kau sudah banyak menangis sejak kemarin malam.”

Continue Reading

Malaikat Hujan – Erel II

“Kita harus meluruskan ini. Dengar, Erel. Aku tahu lebih banyak tentang Nuna daripada perempuan manapun. Jadi aku tidak butuh mencari tahu lebih lagi. Aku tahu pasti dengan siapa aku akan memperebutkan Adrian. Dan.. “ Dilla menatapku, “Sekarang Adrian tak punya satupun perempuan di sisinya. Tidak Nuna, tidak pula aku. Meskipun aku berusaha keras membuatnya kembali padaku, dia menolak. Padahal perempuan sialan itu sudah meninggalkannya.”

Mataku melebar, “Nuna? Nuna meninggalkan Adrian.”

Dilla mengangguk, nampak jelas mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu apa hubungannya kau dengan semua ini. Tapi kurasa kau terlib—“

“Kau yakin benar bahwa Nuna meninggalkan Adrian?” potongku cepat. Aku tidak butuh Dilla mengucapkan apapun yang tidak penting bagiku.

Continue Reading

Malaikat Hujan – Dilla

Ini pertama kalinya aku melihat Adrian terlihat serapuh ini. Aku biasa melihat sosok Adrian yang dingin, mandiri dan tenang meskipun kadang agak pemarah. Namun sekarang, hanya berjarak beberapa meter, aku bisa melihatnya yang duduk dengan wajah kosong menatap ke dinding kaca kantornya yang mengarah ke luar. Wajahnya kuyu, dengan rambut yang tidak disisir rapi dan jenggot dan kumis yang mulai tumbuh di sana. Padahal aku tahu pasti bahwa Adrian sama sekali tidak suka memelihara kumis dan jenggot.

Aku menghela nafas. Sekretaris Adrian menghentikan langkahku untuk mendekat ketika dia berkata dengan sangat pelan, “Pak Adrian sedang tidak ingin diganggu, Bu Dilla. Lebih baik anda kembali lain waktu saja. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Pak Adrian.”

Continue Reading

Malaikat Hujan – Adrian

“Adrian.. Aku mencintaimu.”

Aku memandang wajahnya, tersenyum, “Aku tahu, Dilla.”

“Lalu apa lagi yang kurang? Kita tetap bisa bersama bukan? Seperti yang selalu kau katakan untukku?”

Aku masih memandang wajah Dilla, bisa kurasakan sentuhannya di tanganku menguat. Dia takut kehilanganku. Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah aku juga takut kehilangan dia? Aku mendesah, “Entahlah. Aku merasa ada yang salah.”

Continue Reading

Malaikat Hujan – Nuna (Part 2)

Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali memposting cerita ini. Tapi, pada akhirnya lanjutannya ada juga di sini. Hup hup. Kisah ini hampir terlupakan gara-gara aku sibuk berkutat dengan HV.

Jika saja, sahabatku tidak mengingatkanku akan cerita ini dan memintaku mempostingnya, mungkin aku benar-benar lupa. Hahahah. Erel.. maaf ya.

Well, aku tidak akan bercuap-cuap lagi. Selamat membaca. Chapter ini kudedikasikan untuk sahabat terbaikku sepanjang masa.

Bebeh, ini loh yang kamu minta. Kisahnya Erel sama Nuna. Hohoho.

Salam

@amouraXexa

Continue Reading

Malaikat Hujan – Nuna (Part 1)

Aku berharap dia melupakannya.

“Hujan.” Bisiknya di sebuah pagi yang dingin. Aku melirik ke jendela besar di belakangnya. Menyadari sesuatu yang selama ini berusaha kuhindari. Please.. jangan katakan apapun Erel. Aku menghela nafas, berusaha berekspresi senormal mungkin, “Yah?” aku mendesah, jelas-jelas tidak ingin membuatnya membahas masalah itu lagi, “Hujan.” Kataku datar, “Kau mau kopi, Erel?” tanyaku singkat ketika aku bergerak turun dari tempat tidur. Aku sadar dia menatapku dengan kerutan dalam di keningnya.

“Hujan, Nuna. Hujan di akhir bulan November.” Ulangnya membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun aku mengabaikannya. Mengabaikan Erel, mengabaikan jantungku dan mengabaikan semua kilasan-kilasan memori tentang janjiku padanya. Aku terus melangkah dan berputar ke dapur kecil di apartemennya. Menyibukkan diriku dengan aroma kopi, air panas, cangkir, suara hujan dan semua teriakan di kepalaku.

Aku mendengar suara langkahnya mendekat. Aku terus berusaha mengabaikannya dan membiarkan pikiranku fokus pada seduhan kopiku. Aku merasakan nafasnya di leherku. Dengan lembut dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku dari belakang, “Di luar hujan deras, Nuna.” Bisiknya, “Hujan deras di akhir bulan November.”

“Hujan deras di akhir bulan November.”

Continue Reading

Malaikat Hujan

 Aku menggeliat merasakan dingin di tubuhku. Melalui kedua bola mataku yang belum sepenuhnya terbuka, aku melihat hujan turun dengan deras di balik jendela kaca bening di kamarku, “Nuna, jam berapa ini?” tanyaku sambil menyingkirkan tangannya yang melingkari pinggangku. Tidak ada jawaban dan aku melihat Nuna masih meringkuk nyaman di sampingku. Aku tersenyum dan mengecup dahinya. Aku memang selalu bangun lebih awal darinya.

Aku memandang hujan dan diam selama beberapa saat. Mendadak aku teringat sesuatu dan dengan cepat aku melirik jam digital sekaligus kalender di atas meja kecil di samping tempat tidurku. 05.45 AM, 30-11-2013. Mulutku terbuka lebar menyadari hal tersebut. Dengan cepat aku berbalik, menatap Nuna dan menyentuh bahunya, “Nuna..Nuna.” panggilku bersemangat.

“Mmm.” Nuna hanya menggeliat dan makin merapatkan tubuhnya padaku. Aku tersenyum geli. Nuna selalu seperti ini. Tapi sekarang tidak boleh, aku harus membangunkannya, “Hi, sleeping princess. Wake up, please.” Aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya yang chubby dan menggoyang-goyangkannya.

“Erel?” suaranya serak dan dia memprotes tindakanku, “Aku masih mengantuk. Jangan ganggu aku.” Katanya sebal seraya menyingkirkan tanganku dari wajahnya dan dia menjauhkan tubuhnya dariku. Kembali memejamkan mata. Aku menatapnya dengan tidak percaya, “Oh ayolah, Nuna. Bangun!” kataku sedikit keras.

Continue Reading