Memberi Makan Jiwa

Jadi, aku mau menulis lagi. Susah memang rasanya percaya karena entah sudah berapa kali aku tulis tentang hal ini di sini. Namun, pada kenyataannya aku hanya kembali sejenak dan menghilang lagi entah kemana. Tanpa kabar. Tanpa sua.

Akhir-akhir ini aku merasa ada yang tidak pas. Hidup rasanya membosankan dan aku kehilangan gairah untuk melakukan apapun. Semuanya abu-abu. Tidak ada yang berwarna dan terasa mati rasa. Cinta ya begitulah. Kerja ya beginilah. Hidup hanya rutinitas. Aku hidup bagai robot. 

Lalu tadi pagi, tepat pukul enam, aku mulai berpikir bahwa ini tidak boleh berlanjut. Aku masih hidup. Aku seharusnya menikmati hidup itu sendiri. Aku seharusnya merayakan hidup itu. Bukan malah menjadi manusia mesin secara perlahan. Kemudian kuputuskan beranjak, mencari dalam diriku tentang apa yang salah sejauh ini, atau apa yang mungkin bisa ku perbaiki agar semuanya menjadi normal menurut standarku.

Hidupku sepertinya baik-baik saja. Aku punya pekerjaan tetap, tempat tinggal dan semua asuransi yang akan melindungiku jika terjadi apa-apa. Aku bisa pergi liburan, makan di restoran atau bahkan membeli sesuatu yang aku suka di Amazon, atau aplikasi belanja lainnya. Aku punya pacar, yang bisa kuajak berbagi masalah dan cerita. Lalu apa yang membuat hidupku sebelumnya terasa membosankan dan hanya itu-itu saja?

Continue Reading

AKU KEMBALI

Aku Kembali

Rasanya nyaman. Rasanya lega. Ketika kamu akhirnya bisa mengatakan bahwa kamu sudah pulang. Membuka kembali pintu rumah yang terlalu lama kamu tinggalkan. Menghirup udara apak dari sisa kenangan yang terabaikan. Ah, rumah lama. Aku kembali. Aku sekarang bisa lega. Bahagia akhirnya bisa memutuskan untuk kembali ke sini. Ke rumah blog yang sudah lama tak terjamah.

Continue Reading

Kunjungan Pertama di 2018

Saya kembali. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menginjakkan saya di rumah saya yang satu ini. Semuanya terasa berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Udaranya pengap dan ketika saya membuka jendela untuk membiarkan udara segar masuk, bunyi berdecit dari jendela kembali mengingatkan saya tentang berapa lama yang sudah saya habiskan tanpa pernah menyentuh tempat ini. Ah, saya merasa bersalah.

Sering kali, ketika saya berlarian–berjibaku dengan kehidupan saya yang akhir-akhir ini terasa menguras habis energi saya, seseorang mengur saya, lalu dia akan bertanya apa kabar rumah saya yang ini. Kenapa saya tak pernah terlihat lagi di sana dan tentang apakah atau kapan saya akan kembali bertandang. Kebanyakan saya mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa bersalah tapi juga sulit menjawab dengan benar. Saya juga ingin berkunjung, sebenarnya. Tapi sulit sekali. Rasanya saya menghabiskan dua puluh empat jam saya untuk hal-hal lain dan itu masih kurang, lalu bagaimana bisa saya meluangkan waktu untuk rumah ini ketika saya selalu merasa waktu saya saja tidak cukup untuk hal wajib saya?

Continue Reading

Tentang Kesetiaan dan Pilihan


Malam kemarin, saya menemukan teman berbicara yang menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal yang selama ini tidak pernah terpikir akan saya ceritakan pada orang lain. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya merasa nyaman untuk menceritakan banyak hal yang pada orang lain tak pernah saya kisahkan. Dari sekian banyak hal yang kami bicarakan, topik menjadi setia menjadi hal yang menarik perhatian saya. Ada nyeri yang menyapa setiap kali saya membicarakan hal ini. Dia mendengarkan saya, tidak menyela dan hanya bertanya ketika waktunya tepat. Lalu ketika saya selesai dengan semua cerita saya, dia tidak menyalahkan sosok yang berada dalam cerita saya. Malah dengan lantang dan tegas, dia bilang bahwa itu normal. Bahwa memang seperti itulah prosesnya.

Continue Reading

Surat Untuk Suami

Hei, kamu… Suami. Apa kabar?
 
Apakah disana—dimanapun kamu berada—kamu baik-baik saja? Aku selalu berdoa agar kamu baik-baik dan selalu seperti itu. Sebab aku berharap, ketika Tuhan akhirnya mempertemukan kita dalam tegas suaramu di akad kita, kamu menjadi yang terbaik yang selalu Tuhan janjikan untukku. Dan sampai saat itu tiba. Aku akan menunggu dengan (sedikit) sabar di sini.
 
Sejujurnya malah, aku sama sekali tidak sabar. Aku ingin kita bertemu. Aku ingin kita jatuh cinta. Dan aku.. ingin kita menikah. Sehingga bisa kusebut kamu, suamiku. Laki-laki yang dihalalkan untukku. Ah, halal. Pasti sangat membahagikan jika seperti itu, bukan?
Continue Reading

Apa Kabar Remember Us, Kak?

Hallo semuanya..
Saya balik lagi. Sayangnya kali ini bukan untuk posting cerita baru Remember Us atau Xexa, tapi pengen kasih tahu sesuatu. Berhubung saya kurang waktu untuk menyelesaikan RU maupun Xexa bersamaan, saya putuskan untuk menunda Xexa sampai saya selesai menulis RU.
Well, kali ini saya pengen fokus dengan RU. Akhir-akhir ini banyak banget yang nanyain kabar Rena Reven dan sayanya ngga bisa kasih jawaban pasti. Sedih juga, soalnya rasanya hampa. Saya seneng nulis dan sekarang saya bahkan ngga punya waktu buat banyak menulis lagi. Kerjaan di Eropa menyedot habis inspirasi saya dalam berfantasi. Astaga astaga, sepertinya ngga sepenuhnya salah perbedaan prioritas. Hanya saja, saya sedang dalam usaha untuk menyelesaikan satu kewajiban saya pada orangtua. Dan itu membuat saya sepenuhnya harus sibuk dengan pekerjaan dan sekolah.
Continue Reading