Remember Us – Tatriana

“Kau sudah mengatasinya?”

Edna tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil sembari berjalan lurus menuju perapian di ruangan Luca. Dia membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya, menyentuh kayu-kayu yang bertumpuk di perapian. Sebentar kemudian api biru membakar kayu-kayu itu hingga hangat menyebar ke seluruh ruangan yang semula dingin. Edna menarik tangannya perlahan sebelum dia berbalik dan memandang Luca yang sedari tadi mengamatinya.

“Kenapa kau merasa penting membunuh perempuan itu? Apa masalahnya jika Reven tahu rencanamu, jika pun dia menolak dan membangkang, kita bisa langsung menyingkirkan dia. Reven mungkin memang punya kemampuan bertarung yang cukup baik, tapi dia bukan apa-apa jika melawan kita.” Ucap Edna cepat dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Continue Reading

Remember Us – Tindakan Awal

“Jangan melakukan apa pun. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu menunggu dan Sherena Audreista akan lenyap tanpa kau perlu mengotori tanganmu dan mengambil risiko tak perlu.”

Lucia memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan kalimat-kalimat itu dalam kepalanya, tapi semakin dia memokuskan dirinya, semakin suara perempuan api itu memenuhi kepalanya. Dia akhirnya membuka matanya ketika mendengar suara langkah seseorang mendekat ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Lucia?”

Suara itu terdengar tidak senang, tapi wajah Lucia terlihat lebih tidak senang dan dia memandang sinis perempuan itu.

“Hentikan, Victoria.”

Continue Reading

Remember Us – Aura Sihir

Elegyar Foster memandang sosok-sosok berjubah yang berdiri tak jauh darinya dan kelompok kecil yang dibawanya. Bersembunyi di bawah tudung jubah mereka, Foster tetap tahu siapa saja yang ada di balik bayang gelap itu. Entah bisa disebutnya anugrah atau kelemahan, sejak lahir Foster bisa melihat aura sihir siapa pun dan apa pun di Tierraz. Setiapnya tak sama dan memiliki pola yang berbeda tergantung kekuatan di dalamnya. Dari sanalah dia bisa mengenali siapa atau apa saja dari aura sihir mereka.

Foster masih ingat dengan jelas bagaimana masa kecilnya hanya dihabiskannya untuk belajar mengendalikan penglihatannya akan aura sihir. Dia beruntung karena Lord Lagash akhirnya menemukan seseorang untuk menolongnya. Sebab jika tidak, dia akan buta. Tak ada apa pun yang bisa dilihatnya. Tidak cahaya bintang, matahari, hanya jaring-jaring aura sihir, sebab Tierraz adalah tanah sihir. Setiap jengkalnya punya sihir tersembunyi.

Continue Reading

Remember Us – Rencana Luca

Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong kastil. Suara tapak kaki yang keras dan tegas itu menggambarkan betapa si pemilik sedang terburu pergi. Langkah itu perlahan menghilang digantikan suara pintu yang dibuka paksa dengan keras.

“Kau jelaskan padaku sekarang, Luca!”

Tiga sosok yang tengah bicara dengan serius itu menoleh bersama ke arah pintu tempat Edna berdiri menjulang dengan wajah memerah marah. Luca menghela nafas, beralih ke arah Nerethir dan Victoria, “Tinggalkan kami.” Ucapnya pelan, namun tegas.

Keduanya mengangguk dan bangkit dengan cepat, bersyukur dalam hati. Tak ada satupun yang mau berada satu ruangan dengan seorang putri api yang sedang terlihat marah besar. Edna hanya menatap sinis saat Nerethir dan Victoria melewatinya setelah mereka berdua mengangguk hormat pelan padanya. Dia melangkah maju dan membanting pintu di belakangnya saat dia benar-benar telah sendirian dengan Luca.

“Tidak bisakah kau menunggu?”

Continue Reading

Remember Us – Elegyar Foster

Apakah janjiku pada Noura masih berlaku? 

Aku masih bertanya-tanya tentang hal itu sepanjang waktu meski aku berusaha untuk mengenyahkannya. Aku, entah bagaimanapun berhutang cukup besar pada Noura. Dia menyelamatkanku, memberiku kehidupannya yang sialnya tidak bisa dikatakan mudah.

Dia meninggalkan hatinya, bayangannya dan sisa-sisa keberadaannya untuk kutempati. Bahkan setelah waktu demi waktu juga dunia yang berbeda, aku tidak bisa sepenuhnya berbangga hidup sebagai pengganti Noura. Namun aku tidak punya pilihan, bukan? Aku, sejujurnya saja, cukup berterima kasih padanya, meskipun aku juga berkali-kali memakinya. Dia, satu-satunya alasan kenapa aku bisa jatuh pada Reven, makhluk menyebalkan tidak tahu diri itu. Karena jiwanya yang kala itu bersemayam di dalam diriku menarikku dalam pesona Reven. Aku sering memikirkan apa jadinya jika aku sepenuhnya berada dalam kendaliku sendiri? Apakah aku akan tetap jatuh hati pada makhluk keras kepala itu?

Continue Reading

Remember Us – Elf Utara

Marhaban Ya Ramadhan.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Berbahagialah kalian yang masih bisa merasakan Ramadhan lengkap bersama keluarga. Bisa sahur bareng, buka puasa bareng, shalat tarawih bareng dan ah aroma Ramadhan yang serba khas di Indonesia. Kalian yang masih merasakannya, patut bersyukur. Bagi anak rantau macam aku, yang denger suara adzan langsung dari masjid aja gak pernah (hampir setengah tahun lebih).. Ramadhan di Indonesia itu benar-benar wah. Ah malah curhat. Tapi ya sudahlah. Selain itu maafkan aku yang selalu serba lemot dalam nulis dan ngurusin blog ini. Aku ngga tahu harus bagaimana lagi menghadapi rasa ini. Ah bahas apa ini? Sudah sudah. Selamat membaca.

Salam, 
REE
Continue Reading

Remember Us – Kekhawatiran Utama

“Kau harus menolongku, Damis.”
 
Damis menatap Lucia sebelum dia tersenyum pendek, “Aku tidak ingin ikut campur dengan urusanmu dan Reven.”
 
“Tapi dengan membantuku, kau juga bisa mendapat keuntungan jika aku dan Reven kembali menjadi satu seperti dulu. Aku tahu kau menginginkan Rena sebagai wanitamu, Damis.”
Kedua alis Damis saling bertaut, “Kurasa kau sedikit melewati batasmu, Lucia.” dia memperingatkan.
 
Lucia tertawa sinis, “Kau bertindak seperti pengecut, Damis. Jika kau terus seperti ini dan tidak mencari posisi pastimu di mata Rena. Percayalah, hanya menunggu waktu sampai kau kehilangan dia.”
Continue Reading
1 2 3 5