Remember Us – Rahasia Mevonia

Malam menjelang dalam kepanikan di kastil Zeyzga. Kabar kegagalan itu sudah tersiar. Para penyihir yang dikirim Mahha Mevonia untuk menangkap si penyihir dalam ramalan Dieter tidak akan pernah pulang. Kematian awal, tumbal pertama dalam perang yang baunya semakin pekat. Di dalam kastil semua penyihir sibuk menjalankan tugasnya masing-masing. Semua mondar mandir lengkap dengan pakaian perang mereka, mengatur strategi bersama beberapa petinggi makhluk cahaya yang telah lama datang.

Tapi diantara mereka semua, tak terlihat sang sosok pemimpin, Mahha Mevonia. Dia tidak ada di sana. Setidaknya di tengah kerumunan. Dia masih di dalam kastil Zeyzga, berjalan di tangga spiral rahasia yang letaknya hanya dia yang tahu. Bau pengap dan basah sama sekali tidak menganggunya ketika dia turun makin jauh. Obor-obor kecil menyala lembut ketika sosoknya mendekat dan langsung mati ketika sosoknya sudah menjauh.

Siapa pun bisa melihat bagaimana kegusaran menguasai ekspresinya. Tidak. Tidak, gumamnya cepat dan berulang. Dia sudah sangat tidak sabar dan berusaha sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak mengunakan kekuatannya untuk sampai di ujung tangga. Tidak boleh ada sihir di sana. Dia tahu benar aturannya, dan tidak akan mau mengambil resiko apa pun di saat ini. Tidak ketika dia sudah tahu resiko yang tengah dihadapinya karena kegagalannya.

Continue Reading

Remember Us – Genderang Perang

Reven mengangkat kepalanya ketika dia merasakan sesuatu terbang di atasnya. Meski pun terlalu cepat, dia masih bisa menangkap benda–atau bisa disebutnya makhluk apa yang tengah diamatinya itu. Matanya memicing. Tak percaya pada apa yang dilihatnya.

Luca?

Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi. Dia tak pernah sekali pun melihat Luca menampakkan sayapnya, bahkan sampai perlu menggunakannya. Dia memutar langkahnya dan berlari mengikuti jejak Luca di langit. Terlalu cepat, pikirnya ketika dia kehilangan jejak Luca. Namun ketika Reven menghentikan langkahnya, inderanya yang lain justru menangkap sesuatu yang seharusnya tidak ada di kawasan hutan Merz, penyihir.

Tidak.

Continue Reading

Remember Us – Langkah Penyihir

Aku berjalan setengah menghentak-hentak menerobos hutan, kesal setengah mati sampai rasanya aku ingin menangis. Aku benar-benar berada dalam tingkat frustasi terparah. Oh, andai saja aku bisa membunuhnya. Aku tak yakin jika aku akan melewatkan kesempatan itu.

Reven.

Reven dan semua keegoisannya. Setelah semua yang terjadi, bagaimana bisa dia berkata seperti tadi. Dia bilang dia ingin melindungiku? Dia ingin menjagaku tetap hidup? Dan alasannya hanya supaya dia juga bisa tetap hidup? Astaga, aku tidak tahu apa yang ada di dalam darah Vlad dan Victoria hingga mereka bisa menciptakan makhluk dengan kombinasi menyebalkan dan bodoh yang paling sempurna di dunia ini. Aku harus memenuhi kepalaku dengan imajinasi tentang bagaimana aku bisa membunuhnya, mungkin aku bisa mengajaknya bertarung sampai mati, atau mungkin aku bisa mencari tumbuhan paling beracun di Tierraz dan menyumpalkannya ke mulut Reven, atau aku juga bis—

Continue Reading

Remember Us – Tatriana

“Kau sudah mengatasinya?”

Edna tidak menjawab dan hanya mengangguk kecil sembari berjalan lurus menuju perapian di ruangan Luca. Dia membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya, menyentuh kayu-kayu yang bertumpuk di perapian. Sebentar kemudian api biru membakar kayu-kayu itu hingga hangat menyebar ke seluruh ruangan yang semula dingin. Edna menarik tangannya perlahan sebelum dia berbalik dan memandang Luca yang sedari tadi mengamatinya.

“Kenapa kau merasa penting membunuh perempuan itu? Apa masalahnya jika Reven tahu rencanamu, jika pun dia menolak dan membangkang, kita bisa langsung menyingkirkan dia. Reven mungkin memang punya kemampuan bertarung yang cukup baik, tapi dia bukan apa-apa jika melawan kita.” Ucap Edna cepat dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Continue Reading

Remember Us – Tindakan Awal

“Jangan melakukan apa pun. Kau tidak perlu melakukan apa pun. Kau hanya perlu menunggu dan Sherena Audreista akan lenyap tanpa kau perlu mengotori tanganmu dan mengambil risiko tak perlu.”

Lucia memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan kalimat-kalimat itu dalam kepalanya, tapi semakin dia memokuskan dirinya, semakin suara perempuan api itu memenuhi kepalanya. Dia akhirnya membuka matanya ketika mendengar suara langkah seseorang mendekat ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Lucia?”

Suara itu terdengar tidak senang, tapi wajah Lucia terlihat lebih tidak senang dan dia memandang sinis perempuan itu.

“Hentikan, Victoria.”

Continue Reading

Remember Us – Aura Sihir

Elegyar Foster memandang sosok-sosok berjubah yang berdiri tak jauh darinya dan kelompok kecil yang dibawanya. Bersembunyi di bawah tudung jubah mereka, Foster tetap tahu siapa saja yang ada di balik bayang gelap itu. Entah bisa disebutnya anugrah atau kelemahan, sejak lahir Foster bisa melihat aura sihir siapa pun dan apa pun di Tierraz. Setiapnya tak sama dan memiliki pola yang berbeda tergantung kekuatan di dalamnya. Dari sanalah dia bisa mengenali siapa atau apa saja dari aura sihir mereka.

Foster masih ingat dengan jelas bagaimana masa kecilnya hanya dihabiskannya untuk belajar mengendalikan penglihatannya akan aura sihir. Dia beruntung karena Lord Lagash akhirnya menemukan seseorang untuk menolongnya. Sebab jika tidak, dia akan buta. Tak ada apa pun yang bisa dilihatnya. Tidak cahaya bintang, matahari, hanya jaring-jaring aura sihir, sebab Tierraz adalah tanah sihir. Setiap jengkalnya punya sihir tersembunyi.

Continue Reading

Remember Us – Rencana Luca

Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong kastil. Suara tapak kaki yang keras dan tegas itu menggambarkan betapa si pemilik sedang terburu pergi. Langkah itu perlahan menghilang digantikan suara pintu yang dibuka paksa dengan keras.

“Kau jelaskan padaku sekarang, Luca!”

Tiga sosok yang tengah bicara dengan serius itu menoleh bersama ke arah pintu tempat Edna berdiri menjulang dengan wajah memerah marah. Luca menghela nafas, beralih ke arah Nerethir dan Victoria, “Tinggalkan kami.” Ucapnya pelan, namun tegas.

Keduanya mengangguk dan bangkit dengan cepat, bersyukur dalam hati. Tak ada satupun yang mau berada satu ruangan dengan seorang putri api yang sedang terlihat marah besar. Edna hanya menatap sinis saat Nerethir dan Victoria melewatinya setelah mereka berdua mengangguk hormat pelan padanya. Dia melangkah maju dan membanting pintu di belakangnya saat dia benar-benar telah sendirian dengan Luca.

“Tidak bisakah kau menunggu?”

Continue Reading
1 2 3 6