Remember Us – Kekhawatiran Utama

“Kau harus menolongku, Damis.”
 
Damis menatap Lucia sebelum dia tersenyum pendek, “Aku tidak ingin ikut campur dengan urusanmu dan Reven.”
 
“Tapi dengan membantuku, kau juga bisa mendapat keuntungan jika aku dan Reven kembali menjadi satu seperti dulu. Aku tahu kau menginginkan Rena sebagai wanitamu, Damis.”
Kedua alis Damis saling bertaut, “Kurasa kau sedikit melewati batasmu, Lucia.” dia memperingatkan.
 
Lucia tertawa sinis, “Kau bertindak seperti pengecut, Damis. Jika kau terus seperti ini dan tidak mencari posisi pastimu di mata Rena. Percayalah, hanya menunggu waktu sampai kau kehilangan dia.”
Continue Reading

Remember Us – Kelompok Baru

Reven memang sengaja melakukan ini. Aku tahu itu. Lihat saja, dia pikir dengan meletakkanku satu kelompok dengannya dan makhluk-makhluk aneh ini, aku akan melunakkan sikapku dengannya? Mimpi saja, karena aku bahkan tidak akan mau bicara dengannya. Jujur saja berada di kelompok ini memang menyebalkan dan mereka mengabaikanku karena menganggapku lemah sepertinya begitu.
 
Continue Reading

Remember Us – Niat Awal

“Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Aku berkata dengan frustasi sambil menjambak bagian depan rambutku dengan kesal. Kenapa aku membiarkan kata-kata makhluk angin sialan itu mengacaukanku? Kenapa aku tidak bisa sedikit saja berusaha mengontrol diriku sendiri? Dengan meneriakinya begitu dan tergopoh pergi dari hadapannya sama saja mengisyaratkan bahwa semua yang dikatakannya adalah kebenaran.

“Aku mencurigai makhluk angin bernama Memnus itu,” suara Damis semakin kepalaku. Aku mendesah dan mengusap wajahku dengan lelah.

Tidak bisakah aku punya hidup yang biasa-biasa saja?

Continue Reading

Remember Us – Pertemuan Lain

Last update bulan Januari lalu?? Astaga.. astagaaaa.. Maafkan aku. Aku tahu itu keterlaluan. Tapi aku sungguh-sungguh dimakan kesibukkanku. Kupikir berada di Indonesia, aku akan segera punya berjubelan waktu luang. Ternyata malah.. Apalagi semester ini aku mulai menghadapi realita paling mengerikan dari kehidupan kampus : SKRIPSI. Ditambah aku juga kerja part time. Maka lengkaplah sudah, aku kehilangan kebebasan dan banyak waktu luangku. Sebagian besar waktu luangku yang kupunya hanya setelah aku pulang kerja, yang mana itu, tentunya aku sudah capek setengah mati dan hanya punya satu keinginan : tepar. Hahahha malah curcol. Ah ya sudahlah. Selamat membaca kalian semua.. Terima kasih sudah sabar menunggu Rena dkk.

Xoxo,

@amouraXexa

Continue Reading

Remember Us – Yang Kembali

Aku mengerjap, mencoba mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi begitu aku membuka mataku, aku tahu bahwa aku tak akan pernah ingin menutupnya lagi. Bunga-bunga ungu yang hanya setinggi mata kakiku itu bergoyang-goyang tertiup angin dan mengelitiki kakiku yang telanjang. Gerakan serempaknya membuat bunga-bunga itu nampak menari dengan irama yang dilagukan angin.

Hatiku terasa penuh. Hanya dengan berdiri di sini. Membiarkan angin yang sama menjamahiku. Menerbangkan helai-helai rambutku. Semua kenangan masa lalu tempat ini menyedotku dalam pusaran kebahagiaan yang tak berujung. Aku berbalik, dan di kejauhan, bisa kulihat kastil tua yang berdiri kokoh dan gagahnya dengan aura misterius yang kental. Kastil itu masih utuh. Masih persis sama seperti ketika aku mengingatnya, saat aku merangkak keluar dari salah satu jendelanya dan merusak rambatan sulur-sulur di salah satu sisinya. Saat aku mencoba kabur. Atau saat ketika aku berdiri di balkon lantai dua kastil itu. Semuanya masih sama.

Continue Reading

Remember Us – Pulang

“Pilihannya hanya mati di sini, sekarang juga, atau bergabung bersama kami?”

Suara Nerethir menggema di dalam telingaku. Bahkan kuyakin di telinga semua vampir yang ada di sini. Nerethir mengucapkannya dengan jelas. Jika kami semua ingin hidup, maka kami harus bergabung bersama mereka.

Aku melirik hati-hati pada wajah serius Reven. Dia menatap lurus mata Nerethir yang sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Reven dengan wajah jenaka menyebalkan seolah dia telah tahu jawabannya.

Reven menarik nafas panjang, dadanya membusung. Ketegasan itu terukir jelas dan aku langsung tahu apa yang akan dipilihkannya sebagai takdir kami, para vampir.

“Kami akan bergabung.”

Continue Reading

Remember Us – Penawaran Nerethir

Butuh beberapa saat yang lama bagiku untuk mencerna semua yang dikatakan oleh Victoria. Kami semua sudah berada di ruang pertemuan di dalam kastil dan mendengarkan cerita Victoria tentang siapa sebenarnya Edna dan apa hubungannya dengan kami, bangsa vampir.

Aku melihat Reven membulatkan matanya sementara Damis kehabisan kata-kata dan menampilkan wajah pias. Aku sendiri menatap Victoria dengan mulut terbuka, tak bersuara. Jelas tak satupun dari kami bisa mengerti.

“Setelah Luca membunuh Midelle dan Valerie. Anak buah Luca lainnya menyeret kami menuju lapangan besar dan di sana semua kaum kami, vampir asli Tierraz, diikat dan dikumpulkan dala satu kelompok besar. Di depan mereka, anak laki-lakiku, Rilley, diikat dengan cara yang sama dengan dua makhluk angin menjaga di kiri kanannya.”

Victoria terdiam sejenak, aku bisa melihat satu butir bening airmata mengalir dari sudut mata kirinya, “Luca tak pernah menarik apa yang dikatakannya. Dan dia memaksa aku dan Vlad melihat pembantaian besar-besaran. Darah kaumku, seluruh dari mereka dihabisi di depan mata kami. Semua pedang makhluk kegelapan hari itu berlumur darah para vampir. Dan sebagai penutupnya, Luca sendiri yang membunuh Rilley. Menghancurkan kepala putera kebanggaanku di depanku. Aku hanya bisa melihat ketakutan di mata Rilley sebelum pedang Luca menghujam puncak kepalanya. Aku.. tidak bisa melakukan apapun. Ketika anak-anakku dan kaumku dibantai di depan mataku. Aku tidak bisa melakukan apapun.”

Continue Reading