Remember Us – Pulang

“Pilihannya hanya mati di sini, sekarang juga, atau bergabung bersama kami?”

Suara Nerethir menggema di dalam telingaku. Bahkan kuyakin di telinga semua vampir yang ada di sini. Nerethir mengucapkannya dengan jelas. Jika kami semua ingin hidup, maka kami harus bergabung bersama mereka.

Aku melirik hati-hati pada wajah serius Reven. Dia menatap lurus mata Nerethir yang sedikit memiringkan kepalanya dan menatap Reven dengan wajah jenaka menyebalkan seolah dia telah tahu jawabannya.

Reven menarik nafas panjang, dadanya membusung. Ketegasan itu terukir jelas dan aku langsung tahu apa yang akan dipilihkannya sebagai takdir kami, para vampir.

“Kami akan bergabung.”

Continue Reading

Remember Us – Penawaran Nerethir

Butuh beberapa saat yang lama bagiku untuk mencerna semua yang dikatakan oleh Victoria. Kami semua sudah berada di ruang pertemuan di dalam kastil dan mendengarkan cerita Victoria tentang siapa sebenarnya Edna dan apa hubungannya dengan kami, bangsa vampir.

Aku melihat Reven membulatkan matanya sementara Damis kehabisan kata-kata dan menampilkan wajah pias. Aku sendiri menatap Victoria dengan mulut terbuka, tak bersuara. Jelas tak satupun dari kami bisa mengerti.

“Setelah Luca membunuh Midelle dan Valerie. Anak buah Luca lainnya menyeret kami menuju lapangan besar dan di sana semua kaum kami, vampir asli Tierraz, diikat dan dikumpulkan dala satu kelompok besar. Di depan mereka, anak laki-lakiku, Rilley, diikat dengan cara yang sama dengan dua makhluk angin menjaga di kiri kanannya.”

Victoria terdiam sejenak, aku bisa melihat satu butir bening airmata mengalir dari sudut mata kirinya, “Luca tak pernah menarik apa yang dikatakannya. Dan dia memaksa aku dan Vlad melihat pembantaian besar-besaran. Darah kaumku, seluruh dari mereka dihabisi di depan mata kami. Semua pedang makhluk kegelapan hari itu berlumur darah para vampir. Dan sebagai penutupnya, Luca sendiri yang membunuh Rilley. Menghancurkan kepala putera kebanggaanku di depanku. Aku hanya bisa melihat ketakutan di mata Rilley sebelum pedang Luca menghujam puncak kepalanya. Aku.. tidak bisa melakukan apapun. Ketika anak-anakku dan kaumku dibantai di depan mataku. Aku tidak bisa melakukan apapun.”

Continue Reading

Remember Us – Kisah Lama Victoria Lynch

“Si.. siapa kau?” suaraku bergetar dan aku sadar bahwa aku mungkin sedang menanyai mautku.

Tapi wanita di depanku justru tersenyum tipis, “Kau rupanya juga bagian dari Vlad dan Victoria, ya?” suaranya lembut dan merdu. Serta terdengar bersahabat di telingaku. Semoga saja ini semua bukan hanya siasat. Aku belajar untuk tidak percaya pada tutur kata lembut dan bersahabat. Sebab ingatlah, vampir—termasuk aku—menggunakan nada itu sebelum kami membunuh mangsa kami.

“Apa hubungannya kau dengan Vlad dan Victoria?” aku masih terdengar tidak tegas namun getar di suaraku sudah lenyap.

“Kenapa aku cuma merasakan kehadiran Victoria? Dimana Vlad?”

Continue Reading

Remember Us – Sang Perisai Pelindung

Ketika aku berjalan masuk ke ruangan yang ditunjukkan Damis, aku tahu bahwa Victoria menyadari kehadiranku. Namun dia sama sekali tidak menoleh padaku dan terus menatap pada buku yang ada di tangannya.

“Victoria,” suaraku tegas dan aku sudah berdiri tegak tepat di depannya.

Aku melihat gerakan pelan, dan akhirnya Victoria menutup bukunya. Irisnya yang merah sekarang sepenuhnya memandangku.

“Ya.” jawabnya singkat. Senyum tipis terpasang di wajahnya yang terukir sempurna. Senyum yang menyimpan sejuta misteri. Senyum yang membuatku ingn menyekiknya karena membuatku penasaran setengah mati.

Aku duduk di depannya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapanku darinya.

“Apa kita akan membahas tentang kau dan Reven?”

Continue Reading

Remember Us – Sentuhan Lain

Aku mendengarkan semua yang diceritakan oleh Damis tanpa menyela sedikitpun. Tiga ratus tahunku terbayar dalam satu petang yang panjang bersamanya. Dipenuhi kisah dan segala hal yang sama sekali tak bisa kubayangkan akan menimpa para vampir. Sebagian mungkin telah kudengar dari cerita yang disampaikan oleh keluarga Cllarigh, namun melalui Damis, aku menerima semua detail lain.

Para vampir yang kuat bertahan dan berhasil selamat dari perang besar. Tak banyak memang tapi itu sudah cukup untuk membuat bangsa kami tetap bisa hidup dan tidak punah. Damis juga membenarkan pembantaian yang dilakukan oleh anak Elior, Jared Ritter terhadap kelompok manusia serigala yang tersisa. Tapi sama halnya seperti bangsa vampir, sesungguhnya bangsa manusia serigala juga tidak punah. Kedua bangsa besar itu tersingkir dan memilih bersembunyi. Menyembuhkan luka mereka dan kehilangan besar-besaran dalam jumlah anggota.

Continue Reading

Remember Us – Dendam yang Menuntut Pembalasan

Halooo semuanya.. seperti janjiku sebelumnya. Aku datang di sabtu malam. Eitts.. di sini masih jam sepuluh malam jadi aku menepatinya sekarang. Sabtu malam dan new chapter RU nongol di sini.

*kabuuurrr*

Hei heii.. aku tahu aku harusnya memberikan chapter ini minggu lalu. Tapi sungguh, aku sedang ngga enak badan minggu lalu. PMS, mood yang ngga karu-karuan dan migrain. Hore banget pokoknya jadi.. Astaga astaga.. kurasa kalian tidak ingin mendengarku mengoceh semakin tidak jelas. Baiklah baiklah.. selamat membaca dan maafkan aku.

Ketjup,

@amouraXexa

Continue Reading

Diamonds – Noura dan Berkah Penglihatan

Image Source : Google Image

Halooo… aku datang lagi. Weeiitttsss, aku membawa sesuatu yang baru sekarang. Judul sederhananya Diamonds, ini membawa konsep Remember Us yang lama dimana dalam Diamonds akan mengisahkan tentang tokoh-tokoh Half Vampire dan Remember Us dalam jangkauan waktu yang acak. Aku merasa sedih ketika harus mengubah konsep awal Remember Us dari sekedar pengingat HV menjadi sequel HV.

Ah baiklah.. aku tidak akan banyak bercuap-cuap lagi sekarang.

Mari bersalaman dengan Diamond pertama kita: Noura.

Ketjup,

@amouraXexa

Continue Reading