Remember Us – Kisah Lama Victoria Lynch

“Si.. siapa kau?” suaraku bergetar dan aku sadar bahwa aku mungkin sedang menanyai mautku.

Tapi wanita di depanku justru tersenyum tipis, “Kau rupanya juga bagian dari Vlad dan Victoria, ya?” suaranya lembut dan merdu. Serta terdengar bersahabat di telingaku. Semoga saja ini semua bukan hanya siasat. Aku belajar untuk tidak percaya pada tutur kata lembut dan bersahabat. Sebab ingatlah, vampir—termasuk aku—menggunakan nada itu sebelum kami membunuh mangsa kami.

“Apa hubungannya kau dengan Vlad dan Victoria?” aku masih terdengar tidak tegas namun getar di suaraku sudah lenyap.

“Kenapa aku cuma merasakan kehadiran Victoria? Dimana Vlad?”

Continue Reading

Remember Us – Sang Perisai Pelindung

Ketika aku berjalan masuk ke ruangan yang ditunjukkan Damis, aku tahu bahwa Victoria menyadari kehadiranku. Namun dia sama sekali tidak menoleh padaku dan terus menatap pada buku yang ada di tangannya.

“Victoria,” suaraku tegas dan aku sudah berdiri tegak tepat di depannya.

Aku melihat gerakan pelan, dan akhirnya Victoria menutup bukunya. Irisnya yang merah sekarang sepenuhnya memandangku.

“Ya.” jawabnya singkat. Senyum tipis terpasang di wajahnya yang terukir sempurna. Senyum yang menyimpan sejuta misteri. Senyum yang membuatku ingn menyekiknya karena membuatku penasaran setengah mati.

Aku duduk di depannya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapanku darinya.

“Apa kita akan membahas tentang kau dan Reven?”

Continue Reading

Remember Us – Sentuhan Lain

Aku mendengarkan semua yang diceritakan oleh Damis tanpa menyela sedikitpun. Tiga ratus tahunku terbayar dalam satu petang yang panjang bersamanya. Dipenuhi kisah dan segala hal yang sama sekali tak bisa kubayangkan akan menimpa para vampir. Sebagian mungkin telah kudengar dari cerita yang disampaikan oleh keluarga Cllarigh, namun melalui Damis, aku menerima semua detail lain.

Para vampir yang kuat bertahan dan berhasil selamat dari perang besar. Tak banyak memang tapi itu sudah cukup untuk membuat bangsa kami tetap bisa hidup dan tidak punah. Damis juga membenarkan pembantaian yang dilakukan oleh anak Elior, Jared Ritter terhadap kelompok manusia serigala yang tersisa. Tapi sama halnya seperti bangsa vampir, sesungguhnya bangsa manusia serigala juga tidak punah. Kedua bangsa besar itu tersingkir dan memilih bersembunyi. Menyembuhkan luka mereka dan kehilangan besar-besaran dalam jumlah anggota.

Continue Reading

Remember Us – Dendam yang Menuntut Pembalasan

Halooo semuanya.. seperti janjiku sebelumnya. Aku datang di sabtu malam. Eitts.. di sini masih jam sepuluh malam jadi aku menepatinya sekarang. Sabtu malam dan new chapter RU nongol di sini.

*kabuuurrr*

Hei heii.. aku tahu aku harusnya memberikan chapter ini minggu lalu. Tapi sungguh, aku sedang ngga enak badan minggu lalu. PMS, mood yang ngga karu-karuan dan migrain. Hore banget pokoknya jadi.. Astaga astaga.. kurasa kalian tidak ingin mendengarku mengoceh semakin tidak jelas. Baiklah baiklah.. selamat membaca dan maafkan aku.

Ketjup,

@amouraXexa

Continue Reading

Diamonds – Noura dan Berkah Penglihatan

Image Source : Google Image

Halooo… aku datang lagi. Weeiitttsss, aku membawa sesuatu yang baru sekarang. Judul sederhananya Diamonds, ini membawa konsep Remember Us yang lama dimana dalam Diamonds akan mengisahkan tentang tokoh-tokoh Half Vampire dan Remember Us dalam jangkauan waktu yang acak. Aku merasa sedih ketika harus mengubah konsep awal Remember Us dari sekedar pengingat HV menjadi sequel HV.

Ah baiklah.. aku tidak akan banyak bercuap-cuap lagi sekarang.

Mari bersalaman dengan Diamond pertama kita: Noura.

Ketjup,

@amouraXexa

Continue Reading

Remember Us – Peringatan yang Terlambat

Aku berjalan cepat menyusuri lorong kastil yang dingin dan gelap. Kugunakan semua kemampuanku untuk memindai keberadaan siapapun di kastil ini. Namun entah kenapa, aku tidak bisa dengan leluasa mengunakan kelebihan pada indera-inderaku di sini. Ada sihir yang melindungi kastil ini. Itu sudah jelas.

Jadi aku tidak bisa banyak berharap dan hanya mengandalkan keberuntungan. Siapa tahu mendadak aku bertemu dengan Victoria. Tapi bermenit-menit menelusuri kastil ini, aku tidak bertemu Victoria atau siapapun lainnya. Kastil ini begitu sepi seolah sudah lama ditinggalkan.

Kemana mereka semua pergi, rutukku kesal. Kurasa aku tidak meninggalkan mereka lama dan mendadak semua orang sudah lenyap begitu saja. Aku berjalan dengan mulut menyumpah-sumpah jengkel. Aku butuh bertemu dengan Victoria sekarang.

Continue Reading

Remember Us – Pertemuan dan Sumpah Pembalasan

Aku tidak tahu berapa lama dan berapa jauh kami sudah pergi. Namun satu yang kutahu adalah kastil kerajaan dan kota utama sudah sangat jauh di belakang kami. Begitu jauh sampai aku tahu pasti bahwa aku mungkin saja tidak akan ke sana lagi. Lagipula aku tidak punya alasan untuk ke sana. Aku sudah bertemu Victoria Lynch—dia berlari di depanku—dan bertemu dengan vampir lainnya, yang salah satunya adalah janjiku untuk Lyra. Aku akan menepatinya dan memberitahu Damis tentang ini setelah kami berhenti. Aku juga merasa sangat senang dan lega karena kaumku masih hidup. Para vampir tidak akan berakhir hanya karena satu perang besar.

Namun keinginan itu terlupakan ketika kami akhirnya berhenti dan sebuah kastil kecil yang terlihat menyeramkan dengan dinding-dinding batunya yang hitam dingin berdiri di depanku. Dekat sekali. Tapi ini bukan kastil seperti yang ada di lukisanku—yang dilukis oleh Rowena—namun beberapa bagian nampak mirip meskipun aku tetap yakin ini bukan kastil itu.

Continue Reading