Remember Us – Pertemuan dan Sumpah Pembalasan

Aku tidak tahu berapa lama dan berapa jauh kami sudah pergi. Namun satu yang kutahu adalah kastil kerajaan dan kota utama sudah sangat jauh di belakang kami. Begitu jauh sampai aku tahu pasti bahwa aku mungkin saja tidak akan ke sana lagi. Lagipula aku tidak punya alasan untuk ke sana. Aku sudah bertemu Victoria Lynch—dia berlari di depanku—dan bertemu dengan vampir lainnya, yang salah satunya adalah janjiku untuk Lyra. Aku akan menepatinya dan memberitahu Damis tentang ini setelah kami berhenti. Aku juga merasa sangat senang dan lega karena kaumku masih hidup. Para vampir tidak akan berakhir hanya karena satu perang besar.

Namun keinginan itu terlupakan ketika kami akhirnya berhenti dan sebuah kastil kecil yang terlihat menyeramkan dengan dinding-dinding batunya yang hitam dingin berdiri di depanku. Dekat sekali. Tapi ini bukan kastil seperti yang ada di lukisanku—yang dilukis oleh Rowena—namun beberapa bagian nampak mirip meskipun aku tetap yakin ini bukan kastil itu.

Continue Reading

Remember Us – Mendekat

Hai kalian semua pengunjung setia blogku dan kalian yang mencintai cerita ini. Aku benar-benar meminta maaf karena mengupload lanjutan cerita ini lama sekali. Aku tahu.. aku tahu. Aku seharusnya mengupload cerita ini pada hari minggu tanggal dua puluh delapan seperti janjiku sebelumnya. Dan aku benar-benar sudah akan melakukannya jika saja charger netbookku yang memiliki sambungan internet, tidak rusak. Aku tidak tahu kenapa, sepertinya aku punya bakat untuk merusak barang-barang yang kugunakan jadi.. yah selama beberapa hari netbook dengan satu-satunya aksesku ke dunia maya itu cuma tergolek tak berdaya karena jiwanya habis. Pendek kata, ngga bisa dicharge soalnya kabel chargernya error. Atau mungkin—entahlah, aku gak ahli di bidang perkabelan.

Well, tapi akhirnya, aku bisa mendapatkan akses internet lagi. Kurasa aku beli charger baru, lumayan nguras isi dompet sih, tapi gimana lagi. Aku juga butuh internet untuk mengurus semua urusanku dengan kampusku agar aku bisa langsung jadi anak kuliahan yang ga lulus-lulus lagi begitu balik ke Indonesia. Anyway, doakan aku ya. Semoga aku bisa lulus setelah dua semester dan segera wisuda (dan mungkin bisa ke Jepang). Aku ngga kepengen jadi mahasiswa Sastra Jepang bangkotan dan menuh-menuhin kantin FIB-nya UNAIR. Kata ibukku, doa yang diamini banyak orang itu manjur. Dan aku percaya—selalu percaya—sama apa yang dibilang ibukku.

Eh, kok aku jadi curhat melantur begini ya. Ah sudahlah, selamat membaca, kalian. Jangan lupa doakan aku dan komen atau share cerita ini ya.

Aku sayang kalian. Sungguh.

Ketjup,

@amouraXexa

P.S New Chapterbesok loh. Sebagai tebusan rasa bersalahku karena selalu ngaret upload RU. Hehehe.

Continue Reading

Remember Us – Lukisan Rowena

Reven menarik nafas panjang, membiarkan udara dingin memasuki paru-parunya. Menebarkan sensasi nyaman yang didapatnya ketika dia bernafas. Dia berdiri di depan balkon bangunan tempat tinggalnya. Menikmati udara malam menampar-nampar wajahnya. Dalam bayangan kegelapan malam, dia mengamati sekitarnya, pepohonan tinggi serupa raksasa gelap mengelilingi mereka, lalu di kejauhan, sebuah tanah lapang luas nampak seolah bergoyang, bunga-bunga ungu setinggi lututnya jelas penyebabnya. Angin sedang bertiup tidak ramah malam ini.

Dia tidak mengerti kenapa Victoria berkeras menyebar benih bunga-bunga ungu itu di dekat kastil kecil mereka ketika sebagian besar anggota kelompok lain menolaknya. Itu hanya akan menarik perhatian dari para manusia. Manusia akan menemukan tempat ini dan pada akhirnya mereka yang akan pergi. Mencari tempat lain dan membangun segalanya dari awal lagi.

Tapi ketika Victoria memaksa, tak ada siapapun bahkan dirinya yang bisa menolak. Victoria memiliki aura itu. Kekuasaan, kekuatan dan pengaruh besar. Tiga hal yang seharusnya bisa digunakannya untuk membawanya pada posisi tertinggi di ras mereka. Namun Victoria menolak dan menyerahkannya padanya, satu hal yang alasannya tidak pernah dia tahu.

“Aku berhutang banyak padamu.”

Continue Reading

Remember Us – Kebenaran yang Terlewatkan

Haloo semuanya.. senang sekali rasanya bisa mengupload chapter ini setelah melanggar janji karena aku bilang aku akan upload chapter baru RU paling lambat hari selasa kemarin. Tapi hari sabtu tidak terlalu terlambat juga bukan? Hahaha salahkan hostfamilyku yang tiba-tiba menculikku ke pegunungan Alpen di Austria. Well, tapi sudahlah.. kalian bisa membaca cerita ini segera dan aku masih harus sibuk mempersiapkan diriku mengepak koper untuk perjalanan lain setelah Alpen. Aku mungkin akan ke Middle Earth.. atau mungkin Westeros??

Astaga.. astaga.. abaikan pikiran gilaku dan selamat memabaca buat kamu, yang mencintai cerita ini. Aku mencintai kalian semua.

Ketjup,
@amouraxexa

Continue Reading

Remember Us – Tujuan Ed

“Aku akan mengantarmu ke sana.”Perlu beberapa detik bagiku untuk benar-benar menyadari apa yang dikatakan laki-laki di depanku ini, “Tunggu sebentar. Aku akan berkemas. Ini tak akan lama. Dan kita butuh lebih berhati-hati. Ingat jam malam.”

Dia mengucapkan kalimat-kalimat itu sambil lalu, meraih tas kulit yang tersampir di dekat perapian dan mengisinya cepat dengan begitu banyak benda. Selama dia melakukan itu, aku hanya mengamatinya. Separuh tidak percaya bahwa makhluk di depanku ini memiliki kepala yang berfungsi penuh. Menurutku kepala kerasnya itu kosong, itulah satu-satunya alasan yang bisa menjelaskan kenapa dia begitu tidak konsisten dengan apa yang keluar dari mulutnya.

“Kita berangkat.” ucapnya setelah bermenit-menit yang lama.

Aku menghela nafas, mengangguk.

Continue Reading

Remember Us – Ingatan yang Kembali

Aku sama sekali tidak tidur. Bahkan sedetik pun tidak. Dan entah mengapa aku pun juga tidak merasa mengantuk. Aku lelah, aku tahu itu. Tapi disaat yang sama aku juga merasa bahwa tubuhku juga menghilangkan perasaan itu. Aku merasa segar tak lama kemudian, bahkan ketika aku sama sekali tidak tidur, tidak minum dan tidak makan.

Helaan nafasku yang dalam terdengar dan aku bergerak, beranjak dari tempat tidur ini. Ini percuma, jika aku hanya berada dalam posisi ini semalaman dan mendengar apapun yang terjadi di luar ruangan ini tanpa melakukan apapun. Aku bisa gila. Aku tahu Ed sudah tidak ada di rumah ini. Aku mendengar dia bangun, melakukan entah kegiatan apa dari suara langkah kakinya, lalu suara itu menjauh. Semakin jauh bahkan ketika suara pintu rumah yang diutup sangat pelan kudengar, dan langkah kakinya semakin menjauh, aku tahu dia pergi.

Continue Reading

Remember Us – Siapa Aku?

Udara yang kuhirup. Batang pohon yang kusentuh. Tanah yang kupijak. Langit penuh bintang yang kutatap. Semuanya mengisyaratkan kehidupan. Semuanya penuh dengan aroma kehidupan. Aku menghentikan langkahku, memandang ke depan. Atap-atap merah memenuhi pandanganku. Sejenak aku berhenti berpikir, memejamkan mataku. Mencoba merasakan sesuatu, dan satu-satunya hal yang bisa kurasakan adalah.. kekosongan.

Continue Reading