Xexa – Mata

“Putriku. Temukan putriku.”

Dave mengerutkan keningnya dalam-dalam. Apa lagi ini, pikirnya tak paham. Tapi dia tahu, apapun itu nantinya yang dijelaskan Reven, Dave tak punya pilihan lain selain melakukannya. Namun untuk yang satu ini Dave benar-benar tidak bisa menyembunyikan kerutan dalam di keningnya, “Aku tidak mengerti. Selain itu kenapa aku harus menemukan purimu?”

“Karena melalui dialah, kau mungkin bisa membayar hutang yang terpendam di dalam silsilah keluargamu.” ucap Reven tegas. Ada amarah dan rasa dendam yang lekat pada suaranya, “Mevonia menghancurkan kehidupannya.”

Continue Reading

Xexa – Jati Diri

Actur Gllarigh meletakkan pena bulunya dengan kening berkerut. Dia mengangkat wajahnya dari perkamen yang tengah ditekuninya hanya untuk menemukan sosok besar gelap terhalang bayangan gelap malam tak jauh darinya. Dia sedang berusaha menyelesaikan laporan tugasnya ketika anilamarry-nya membisikkan kehadiran sosok itu.

 

Wajahnya berkedut, “Kau tidak punya alasan apapun untuk mendatangiku, Sorglos.”

 

Sebuah desahan tak senang dan sosok besar Sorglos melangkah maju menuju cahaya sehingga akhirnya Actur bisa melihat wajahnya dengan benar.

“Kau sudah melakukan kesepakatan kita? Ini lebih cepat dari dugaanku. Ternyata si pangeran kedua itu tidak ada apa-apanya.” dia tersenyum tipis, “Aku akan memberimu bonus emas kalau begitu. Tapi tunggu dulu–” dia diam, mendadak sebuah fakta yang sejak tadi dilewatkannya menghantam kepalanya. Dia memandang wajah Sorglos yang ekspresinya sama sekali tidak berubah.

Continue Reading

Xexa – Putri Airella

“Apa rakyat di negeri ini tidak penasaran dengan wajah putri kerajaan mereka?”

Airella mengomel tidak jelas sambil melempar belati yang ada di tangannya ke arah batang pohon yang ada jauh di depannya. Belati itu menancap sempurna, sama lurus dengan arah lemparan Airella yang terlihat tidak bertenaga.

 

“Kenapa tidak kau tanyakan saja pada mereka mumpung kita sedang ada di hutan bebas begini?”

Continue Reading

Xexa – Pengkhianatan Lain

Dave bahkan sadar bahwa dia menahan nafasnya ketika dia melihat bangunan besar di depannya itu. Dia baru saja keluar dari kepungan semak-semak liar ketika menyadari tanah luas di depannya dan sebuah bangunan tua kokoh itu. Dia tak yakin apakah itu kastil karena arsitekturnya yang terasa berbeda dengan kastil-kastil yang pernah dibangun di Tierraz. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang ditata apik dengan bentuk sederhana. Satu menara tinggi dan sebuah balkon utama yang menghadap ke arahnya nampak dihiasi sulur-sulur cantik dan bunga rambat lainnya.

“Tempat ini benar-benar ada.”

Kepala Dave menoleh ke arah Foster di sampingnya yang ekspresi wajahnya tak jauh berbeda darinya. Bahkan menurut Dave, ada bagian dari diri Foster yang seolahmengenal kastil di depan mereka ini.

“Apa maksudmu dengan tempat ini benar-benar ada? Kau pernah mendengar tentang kastil ini sebelumnya?”

Continue Reading

Xexa – Teman

Fred tak pernah merasa sebingung ini sepanjang hidupnya. Tapi semua yang menimpanya saat ini benar-benar membuatnya tak sanggup menentukan langkah. Dan denyut menyakitkan di punggung telapak tangannya justru memperburuk segalanya. Belum lagi apa yang sudah dilakukannya pada Gabrietta. Gadis itu tidak tahu apa-apa dan tidak seharusnya dia memperlakukannya seperti itu.

“Pangeran..”

Dia memejamkan matanya, mengusap wajahnya dengan kasar dan cepat sebelum menoleh pada anilamarrynya. Seorang laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam menatapnya dengan sepasang mata kecil tajam yang tak asing lagi.

“Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu.” ucapnya kesal meski tahu itu tak berguna. Ahriman selalu memanggilnya dengan sebutan itu sejak dia memberitahunya secara langsung bahwa dia adalah Danesh, sang pangeran terkutuk. Pangeran terkutuk? Fred mendengus lelah.

“Anda harus segera memutuskannya,”

Continue Reading

Xexa – Perintah Pertama

Dave memijit keningnya dengan keras dan cepat. Kepalanya terasa berdenyut-denyut menyakitkan jika dia mengingat kembali apa yang dikatakan Foster padanya beberapa saat yang lalu.

Sang putri penjaga sudah lama mati dan rahasia keberadaan Xexa terkubur bersama kematiannya.”

Sang putri penjaga yang merupakan satu-satunya jalan baginya untuk menemukan Xexa, sudah mati? Lalu apa gunanya pencarian panjang orangtuanya jika titik kunci mereka sudah tidak ada. Sang putri penjaga sudah mati. Dave mengulang lagi fakta itu dan pusing di kepalanya semakin bertambah.

Dia mendongak, menyadari Foster yang masih mengamatinya. Dia tahu dia tak mengatakan apapun sejak tadi. Dave terlalu terkejut dan putus asa untuk merespon sesuatu. Untungnya Foster nampak mengerti dan sama sekali tak mengusik Dave yang jelas kebingungan dengan situasinya sekarang.

“Apa kau yakin jika sang putri penjaga itu sudah mati?” dia bertanya, berharap mendengar jawaban lain.

Continue Reading

Xexa – Foster

Fred nyaris saja melemparkan mantera siksaan ke anilamarrynya ketika Ahriman yang muncul mendadak ketika dia berjalan sendirian kembali ke tempat teman-temannya yang lain, membuatnya terlonjak kaget.

“Kau membuatku terkejut.” ucapnya dengan nafas tak teratur. Dengan dengusan setengah kesal, dia menyelipkan kembali tongkat sihirnya.

“Ada apa? Tak biasanya kau muncul tanpa ada panggilan dariku?” tanyanya sambil menatap Ahriman yang mengambil wujud laki-laki tua dengan jubah berwarna abu-abu kusam yang menutupi seluruh tubuhnya. Menyisakan seraut wajah yang nampak terlalu serius untuk usia setua itu.

“Anda sudah tahu siapa anda sebenarnya, bukan?”

Continue Reading