Diamonds – Noura dan Berkah Penglihatan

Image Source : Google Image

Halooo… aku datang lagi. Weeiitttsss, aku membawa sesuatu yang baru sekarang. Judul sederhananya Diamonds, ini membawa konsep Remember Us yang lama dimana dalam Diamonds akan mengisahkan tentang tokoh-tokoh Half Vampire dan Remember Us dalam jangkauan waktu yang acak. Aku merasa sedih ketika harus mengubah konsep awal Remember Us dari sekedar pengingat HV menjadi sequel HV.

Ah baiklah.. aku tidak akan banyak bercuap-cuap lagi sekarang.

Mari bersalaman dengan Diamond pertama kita: Noura.

Ketjup,

@amouraXexa

***

Seperti apa rasanya tidak tahu apa-apa?

Seperti apa rasanya hidup tanpa menanggung beban?

Seperti apa rasanya…?

Aku memejamkan mata dan belajar untuk tidak bertanya apa pun lagi. Tidak sekarang Tidak nanti. Tidak. Aku harus benar-benar mengenyahkan semua perasaan ini meskipun kenyataannya sangat sulit. Mengeluh bukan sesuatu yang cocok untukku. Aku hanya harus terus berusaha dan segalanya akan baik-baik saja.

Sebuah kecupan lembut menyentuh bahuku dan aku tersenyum. Lengannya memelukku erat dan aku bisa merasakan kepalanya jatuh dengan lembut di lekukan leherku. Dia memelukku semakin erat dan kepalanya luruh dengan manja di pundakku. Hembusan nafasnya yang hangat menyentuh kulit leherku dan aku tersenyum lagi.

Inilah alasanku untuk bertahan. Inilah alasanku untuk tetap kuat. Aku meremas tangannya yang mengalungi pinggangku. Memejamkan mata. Kali ini tanpa kerisauan sedikit pun. Bersamanya adalah obatku.

“Bisakah kalian melakukan itu di ruang pribadi kalian saja?”

Aku membuka mataku dan kepalanya yang bersandar di bahuku terangkat dengan enggan. Pelukannya terlepas dan kami memutar tubuh. Menatap si penganggu waktu nyaman kami. Dan tanpa terkejut sedikit pun, aku melihat Damis sedang menatap kami dengan tangan terlipat di atas dadanya.

“Ajak Noura ke ruang pribadimu, Reven. Oh tidak. Kupikir ruangan di bawah tanah tidak cocok untukmu. Sebaiknya di ruang pribadimu saja, Noura.” iris mata Damis yang warnaya nyaris serupa dengan Reven kini beralih padaku dan aku hanya tertawa.

Dengan lembut, aku menyandarkan tubuhku pada Reven dan mengerling pada Damis, “Haruskah kulakukan itu? Di ruanganku?”

Damis tertawa dan aku bisa mendengar gerutuan Reven. Dia memelukku dengan sebelah tangannya sementara tangan yang satu lagi menunjuk ke Damis.

“Jangan banyak bicara, bocah.”

Kedua alis Damis terangkat, “Bocah?”

Aku tertawa, “Sudahlah kalian berdua. Kau kenapa datang ke tempat ini? Mencari Reven?”

Damis bertepuk tangan, “Kau yang terbaik.” bisiknya tanpa mengeluarkan suara namun aku bisa melihat gerak bibirnya, “Vlad membutuhkan Reven.”

“Nah,” aku menjauhkan tubuhku dari Reven dan menepuk bahunya pelan, “Pergilah.”

Tapi bahkan sebelum aku selesai mengatakan itu, Reven sudah mengecup puncak kepalaku lembut dan meninggalkan aku dan Damis. Aku memandang punggung Reven yang menjauh. Sementara Damis berjalan mendekat ke arahku.

“Apa suasana hatinya sedang buruk? Dia tidak bicara sama sekali.”

Aku memukul bahu Damis dengan keras, “Kau yang membuat suasana hatinya memburuk. Tidak bisakah kau diam dan menunggu sampai dia sendiri selesai memelukku? Dia tidak suka itu.”

Damis mengangkat bahunya, “Tidak tahu. Lagipula jika menunggu kalian selesai, aku bisa berdiri di lorong ini sampai musim semi ini berakhir. Atau mungkin lebih.”

Aku tersenyum, “Kalau begitu ajak saja Lyra selagi kau menunggu kami.” pelan kukecup pipi Damis dan aku berbalik begitu saja setelahnya. Meninggalkan Damis yang terkekeh dengan tindakanku.

***

“Kenapa sekarang warnanya putih?”

Mata Rosse memicing menatap padang bunga di depannya. Rambutnya yang berwarna kemerahan nampak sangat indah diterba kemilau lemah sinar matahari. Angin berhembus dingin dan semilir di musim semi, membuat beberapa helai anak rambutnya beterbangan. Aku seringkali ingin tahu apakah tempat ini dinaungi sihir sehingga cuaca di sini tak pernah jauh darikata dingin, mendung dan kekurangan sinar matahari. Namun tak ada yang menjawab pertanyaanku. Kebanyakan hanya berupa bahu yang terangkat atau mata yang mengerling malas. Sepertinya mereka tak peduli pada pertanyaanku.

“Apa suasana hatimu sedang tidak baik sehingga sekarang bunga berwarna putih yang ada di sini?”ulang Rosse.

Aku menggeleng, kembali memandang ke depan, “Aku hanya sedang suka bunga ini saja.” jawabku.

Rosse mengernyit mendengar jawabanku, namun dia tak mengatakan apapun lagi dan hanya tersenyum. Satu tangannya menepuk-nepuk bahuku pelan dan aku menyandarkan kepalaku pada bahu Rosse. Kami duduk bersimpuh di tanah dan menikmati keindahan bunga-bunga ini dalam bisu.

Meskipun tak ada satupun kata yang kuucapkan, aku merasa aku ingin menangis. Semua itu muncul lagi di depan mataku. Semua penglihatan akan masa depan. Aku mencari-cari celah lain. Tapi tak ada satupun dari masa depanku dan masa depan Rosse yang akan berakhir dengan baik. Aku menekan perasaan sedih itu kuat-kuat. Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh.

Aku bergerak pelan dan berbaring menyamping, menjadikan paha Rosse sebagai tumpuan kepalaku dan dia sama sekali tidak protes. Kupejamkan mataku dan Rosse mengusap lembut rambutku.

“Reven bersama Vlad ya?”

“Ya,” jawabku pelan tanpa membuka mata, “Kurasa mereka sedang merencanakan sesuatu.”

Telingaku menangkap helaan nafas Rosse, “Aku tidak suka jika mereka berdua sedang merencanakan sesuatu.”

Bibirku melengkungkan senyum, tapi aku tak bicara apapun. Pelan, aku sedang berusaha untuk menyingkirkan semua khawatirku. Kurasakan tangan Rosse menepuk-nepuk lembut lenganku dan senandung merdunya terdengar di telingaku.

Aku mengigir bibir bawahku kuat-kuat agar tidak menangis.

Apakah benar dia adalah wanita yang nantinya akan membunuhku?

Kemungkinan itu menghantamku dengan kuat dan aku menarik nafas pelan. Menyeimbangkan emosiku. Tapi semua pertanyaan-pertanyaan itu justru semakin banyak berlarian di kepalaku. Menyesakiku dengan segala hal yang justru membuatku sulit menjadi tenang.

Aku menyayangi Rosse. Aku menyayangi Rosse. Kulafalkan kalimat itu berulang-ulang dalam kepalaku. Dan aku merasa sedikit merasa baik. Aku menyayangi Rosse, kuulang lagi kalimat itu dan senandung Rosse membelai jiwaku. Aku sungguh menyayangi Rosse. Dia adalah jelmaan sosok seorang ibu yang selalu kudambakan. Melalui Rosse, aku merasa bahwa aku memiliki lagi kesempatan itu, menjadi seorang anak perempuan yang manja. Rosse juga menyayangiku. Sama besar dan sama tulus. Selain Reven, hanya Rosse yang membuatku berlama-lama dan betah berada di kastil utama. Hanya karena aku selalu haus akan kasih sayang Rosse, kasih sayang cerminan seorang ibu.

Tapi kemampuanku melihat menghancurkan semuanya. Aku tidak pernah meminta untuk memiliki kemampuan ini. Namun apa yang bisa kulakukan, aku tidak bisa menolak apa yang sudah datang secara alami bahkan sebelum aku benar-benar menjadi seperti sekarang ini. Aku melihat semuanya. Masa depan. Sejelas dan segamblang seolah itu terjadi di depanku. Tak ada yang samar. Semuanya benar pasti. Dan aku tak pernah bisa melarikan diri darinya.

Dahulu, aku melihat bagaimana orangtuaku pada akhirnya akan menjadi sebab kematianku. Aku masih manusia dan merupakan putri dari raja di sebuah kerajaan kecil dan miskin. Kerajaan dimana rakyatnya banyak menderita dan panen tak pernah ada karena musim dingin tak pernah meninggalkan tanah kami. Lalu seorang penyihir cenayang yang kebetulan singgah di kerajaanku mengatakan pada ayahku bahwa akulah penyebab semua kemelaratan itu.

Laut menginginkan sang putri, begitu kata si penyihir.

Aku yang masih belia, tak tahu apa-apa dan hanya bisa menangis histeris ketika orangtuaku dengan rakyatnya di belakang, mengiringku ke puncak tebing tinggi dimana di bawah gemuruh ombak dengan keras dan kasar menghantam dinding tebing tanpa ampun. Tangan ibuku yang tanpa keraguan terkatup dan dia mengatakan pada laut bahwa dia boleh memilikiku asal laut mau mengembalikan keseimbangan musim di kerajaan kami.

Mataku yang irisnya serupa warna milik ibuku membelalak mendengar apa yang dikatakan ibuku. Aku pernah melihat semua ini dalam mimpi yang selama ini kuanggap mimpi terburukku. Aku sudah melihat semua kejadian ini dan ketika itu aku sama sekali tak sadar bahwa aku telah melihat masa depanku sendiri. Belum sempat aku mengatakan apapun, namun tangan wanita yang telah melahirkanku itu sudah mendorong tubuhku. Aku bahkan tak bisa berteriak. Aku tak bisa menangis lagi. Aku memejamkan mataku dan tahu bahwa aku akan mati.

Laut menangkapku dan aku langsung merasa seluruh tulangku remuk. Jatuh dari ketinggian seperti itu menghantam laut musim dingin adalah kematian yang tidak pernah terbayang akan menghampiriku. Aku merasakan seluruh tubuhku mati rasa dan rasa sakitku dibalut oleh rasa beku yang sebelumnya serasa menarik-narik kulitku. Aku mengigil dalam kesakitan dan mengharapkan kematian akan cepat menghampiriku.

Namun, mendadak aku merasa sesuatu menarikku. Menarikku semakin jatuh ke dalam laut. Aku memejamkan mataku ketika itu, yakin bahwa inilah kematianku ketika kurasakan sesuatu  menancap ke lekukan leherku. Rasa sakitnya menarik kesadaranku yang sudah tipis dan aku meronta-ronta di dalam air. Mataku terbuka dan aku melihat sesosok tubuh mengunci tubuhku dan kepalanya rapat pada leherku. Aku tergagap, antara tak bisa bernafas, kesakitan dan merasakan paru-paruku terbakar karena dipenuhi air. Lalu kemudian aku tidak ingat apa-apa.

Aku membuka mataku, dan tangkai bunga-bunga bergoyang-goyang lembut karena tiupan angin. Rosse masih bersenandung dan matanya menerawang ke depan. Aku memejamkan mataku lagi. Mengingat semua kejadian lama. Mereka bilang, seseorang yang diubah menjadi vampir pada akhirnya akan melupakan kehidupan manusia mereka. Semua mengalami hal seperti itu. Tidak. Tidak semua, tapi nyaris, koreksiku. Karena aku tidak bisa melupakan kehidupanku dulu, kehidupan manusiaku. Seberapapun aku menolak mengingat, bayangan wajah putri Arratha yang bahagia dan berlarian di taman istana yang tertutupi salju selalu menghantuiku.Wajah polos yang tertawa riang dikejar pelayan-pelayan istana yang bibirnya membiru dan tubuh mengigil karena tidak sanggup menahan dingin di luar.

Tapi aku selalu mengingatkan diriku jika putri Arratha sudah mati. Sudah mati karena dikorbankan oleh orangtuanya sendiri demi kerajaan mereka. Sekarang yang ada hanya Noura, perempuan vampir kuat yang bisa melihat masa depan. Seorang calon ratu bangsa vampir yang berpasangan dengan sosok kedua yang paling ditakuti di ras ini, Reven. Bibirku selalu melengkungkan senyum jika fakta ini kuulang-ulang dalam kepalaku.

Dan sekarang, meskipun aku kembali melihat masa depanku lagi. Melihat apa yang akan menjadi kematian keduaku. Aku merasakan ketakutan yang sama. Dulu mungkin aku bisa selamat dari kematian pertamaku karena James menolongku dan merubahku menjadi sepertinya. Namun sekarang, aku tahu bahwa tak akan ada satupun yang bisa menolongku dari kematianku yang kedua.

Tapi kenapa harus di tangan Rosse?

Salah satu sisi keras kepalaku melempar pertanyaan itu lagi. Apakah aku menderita kutukan untuk selalu mati di tangan ibuku sendiri atau orang yang sudah kuanggap seperti ibuku? Tidakkah dunia ini bersikap tidak adil padaku? Bisakah dunia ini membiarkanku hidup dengan tenang dan baik-baik saja selama beberapa waktu saja? Tapi aku tahu bahwa bertanya semua itu hanya akan menyakitiku.

“Apa Vlad belum selesai dengan Reven, ya?”

Mataku terbuka dan aku melihat Rosse bergumam. Aku bangkit dan dia tersentak kaget, “Apa aku membuatmu tidak nyaman?” tanyanya khawatir.

“Tidak,” aku tersenyum lebar, “Kau sudah merindukannya ya? Vlad?”

Rosse mengangguk tanpa ragu-ragu, “Aku tidak bisa tidak memikirkannya…”

Aku memandang Rosse yang masih berbicara tentang Vlad. Ada pendar kecewa namun aku menguasai diriku dengan cepat. Ini adalah jawaban dari pertanyaanku. Dunia Rosse hanya berporos pada Vlad. Bagi Rosse, Vlad adalah segala yang dia inginkan. Segala yang dia butuhkan dan dia menyerahkan sepenuhnya dirinya pada Vlad. Pemimpin ras vampir yang berhati dingin dan kejam itu seharusnya tidak pantas menerima perasaan sebesar ini. Tapi Rosse bisa apa? Dia tidak akan bisa berkata tidak pada Vlad.

Bahkan ketika Vlad menyuruhnya membunuhku, pikirku sedih.

Dan aku hanya bisa tersenyum dan menanggapi kata-kata Rosse dengan riang sementara isi kepalaku rasanya berlarian kemana-mana. Ada bagian dari diriku yang menangis ketika aku memandangi wajah bahagia Rosse yang tengah membicarakan Vlad. Aku juga melihat bagaimana Rosse kelak akan berakhir. Dan itu pun, aku akan turut campur didalamnya. Sebab Rosse akan beakhir di tangan Victoria.

Victoria..

Aku menggeleng. Tidak ingin memikirkan tentang Victoria dan kulangkahkan kakiku kembali menyusuri lorong kastil yang sepi setelah berpisah dengan Rosse yang berkata akan mendatangi Vlad di ruangannya sementara aku yakin Reven sendiri sudah sibuk entah dengan apa di ruang pribadinya sendiri.

Langkahku membawaku kembali ke ruang pribadiku dan aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur dengan perasaan tidak tenang. Jika hanya diam dan tidak melakukan apa-apa seperti ini. Aku hanya akan dipenuhi perasaan takut, khawatir dan was-was. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku merasa bebas dan tidak tertekan.

Aku tidak tahu. Mungkin karena aku memang tidak pernah merasakannya.

Bahkan sekarang, seringkali ketika aku bersama Reven. Aku justru didera kekhawatiran yang lebih daripada sekarang. Aku bertanya-tanya apakah benar aku akan kehilangan Reven? Apakah pada akhirnya Reven akan melupakanku dan beralih pada perempuan lain? Tepat ketika pertanyaan-pertanyaan seperti itu datang. Aku akan marah. Marah dan kecewa pada diriku sendiri. Sebab jika aku sanggup mengatasi semua ini, sebab jika aku tidak pengecut dan hanya ingin mengakhiri semua ketakutanku, semua pertanyaan itu akan terjawab dengan satu jawaban mudah; tidak.

Reven..

Aku mencintai laki-laki itu dengan segenap hati dan jiwaku. Jika ada yang membuatku bertahan dengan ketakutan dan kesintingan gara-gara penglihatanku, maka jawabannya adalah Reven. Aku tidak ingin membuat Reven menderita dengan kematianku. Lalu dua puluh tahun lalu akhirnya aku mendapatkan jawabannya. Jawaban atas semua kekalutanku. Dimana aku mendapatkan kemungkinan untuk tetap membuat Reven bahagia dan aku bisa melarikan diri dari kekuatan penuh kutuk ini.

Melalui Victoria.. Ya, dia. Victoria Lynch. Wanita vampir yang dianggap hanya legenda di dalam kisah bangsaku berkenaan dengan permusuhan kami dengan para manusia serigala. Tapi rupanya dia nyata. Hidup, atau pernah hidup. Dan sekarang terkurung dalam tidur panjangnya karena Vlad dan Reven melakukan itu padanya. Pertama mendengar suaranya dalam benakku, aku sama sekali tidak percaya dengan ini semua. Namun karena intensitasnya yang semakin banyak dan aku pun mulai curiga. Pencarian berbulan-bulan dan akhirnya aku tahu dia memang pernah hidup.

“Bangunkan aku, Noura. Carilah seorang penyihir murni dan dia akan bisa mematahkan sihir perlindungan di makamku. Dan aku akan membantumu untuk mengatasi semua masalahmu.”

Berawal dari perkataan itu dan semua ini akhirnya berlangsung hingga sekarang. Dari Victoria pula aku tahu bagaimana aku bisa mati yang tidak benar-benar mati. Terdengar konyol memang tapi aku percaya pada Victoria. Aku menyetujuinya. Sepakat pada perjanjianku dengan Victoria sebab aku tahu bahwa aku tidak akan sanggup lagi menanggung semua ini.

Aku tersiksa.

Apakah menurutmu menyenangkan melihat bagaimana masa depan itu?

Tidak. Sama sekali tidak. Aku melihat orang-orang yang kucintai. Bagaimana mereka akan mati, bagaimana mereka akan hidup, masalah-masalah dan duka yang datang dan pergi, kebahagiaan lain, segala hal. Aku tahu bahwa masa depan tidak konstan. Tapi jika kau membiarkannya, maka itu yang terjadi. Tapi mengubah jalan dari masa depan agar aku hanya memiliki akhir bahagia juga bukan tindakan yang bagus. Aku pernah melakukannya dan hasilnya buruk, sangat buruk bahkan mengerikan. Mencurangi masa depan adalah tindakan melanggar hukum alam. Menghindar saja. Kurangi efek buruknya dan jangan sepenuhnya membelokkan apa yang semestinya ada. Kehidupan dan semesta ini memiliki aturannya sendiri.

Dan apa yang ditawarkan Victoria sama sekali tidak menganggu semua jalan masa depan itu. Maka aku memulainya. Mencari dan memilih seorang penyihir murni. Berbohong pada Reven, pada kelompokku sendiri, dan bahkan mendustai banyak pihak lain. Aku dan Victoria merencanakan semuanya dengan baik dan berhati-hati. Lalu pada akhirnya kami menemukannya. Satu keluarga yang teramat cocok dengan semua yang kubutuhkan. Seorang penyihir murni dengan keluarganya yang juga membutuhkan apa yang akan kutawarkan pada mereka. Sebuah kehidupan.

Rasanya seperti masih kemarin ketika aku akhirnya memulai semua rencana ini. Aku melangkah dengan hati-hati mendekat ke rumah kecil itu. Suara tangis bayi terdengar dari belakang rumah dan aku bergerak ke sana. Mengeratkan tudung jubahku karena matahari yang masih berjaya di atas sana. Kemudian di belakang rumah yang dipenuhi pohon-pohon apel yang masih kecil, aku melihat seorang wanita dengan bayi di pelukannya yang sedang menangis keras. Wanita itu menggendong anaknya, menimang-nimang dengan penuh kelembutan agar bayi di pelukannya berhenti menangis. Dia tersenyum dan berbicara lembut pada bayi itu meski aku melihat air matanya mengantung. Dia berusaha untuk tidak menangis.

Aku mendekat dan ketika wanita itu menyadari keberadaanku. Dia menjerit dan mundur dengan cepat sampai punggungnya menabrak dinding batu rumahnya. Dengan protektif, dia memeluk bayinya erat di dadanya. Tangis si bayi makin keras.

“Tidak apa-apa, Anabelle. Aku tidak akan menyakiti kalian.” ucapku pelan.

“Si-siapa kau?” suaranya gagap dan ketakutan.

Tanganku terulur ke arah bayinya dan sekejap si bayi berhenti menangis.

“Apa yang kau lakukan pada anakku?” jeritnya sambil menyingkirkan tangannku dengan kasar dari bayinya.

“Membuatnya tertidur dengan nyaman. Dia sakit. Bukan begitu?”

Bola mata Anabelle melebar dan dia memandangku dengan terkejut.

“Kau dan putrimu sakit. Penyakit keturunan yang hanya menimpa perempuan dalam garis keluargamu. Aku tidak salah berkata bukan, Anabelle?”

“K-kau.. bagaimana bisa?” suaranya penuh ketakutan dan aku bahkan bisa melihat tubuhnya yang gemetar.

“Putrimu akan mati.”

Dia melotot, ketakutannya berganti oleh amarah, “Sherena-ku tidak akan mati,” jeritnya, “Akhtzan akan menemukan ramuan yang bisa menyembuhkannya. Dia sudah berjanji padaku.”

Aku menggeleng, menatap mata Anabelle yang memerah, “Akhtzan tidak akan bisa melakukannya.”

“Siapa kau hingga kau pikir kau bisa mengatakan hal seperti itu?” buku-buku jarinya terkepal dan wajah keras kepala itu membuatku mulai kehilangan kesabaran. Aku menatap Anabelle dengan tajam.

“Aku bisa melihat masa depan seseorang hanya dengan menatap mata mereka. Aku melihat masa depanmu, juga masa depan putrimu. Akhtzan akan gagal. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit kalian. Pada akhirnya putrimu akan mati, bahkan sebelum dia mencapai usianya yang keduapuluh. Dan kau, kau hanya akan menyesali semuanya sepanjang harimu hingga kau pada akhirnya memilih menjemput kematianmu sendiri. Dengan mengenaskan.”

Tubuh Anabelle membeku dan dia menatapku dengan tidak percaya, “Tidak. Tidak. Tidak mungkin.”

Aku masih menatap Anabelle dengan dingin, aku bahkan sama sekali tak merasa kasihan padnaya ketika airmata mula jatuh dari sudut matanya dan tangannya yang kurus mendekap tubuh si bayi yang lelap makin erat

“Tapi kita bisa merubah itu semua, Anabelle,” ucapku pelan dan dia langsung mendongak dengan cepat, memandangku, “Aku menawarkan padamu sebuah kesepakatan.”

Dan semuanya dimulai dari situ.

Aku mendongak, menatap langit-langit ruang pribadiku. Sudah sejauh ini. Sudah sampai sejauh ini, pikirku dalam hening. Aku harus menyingkirkan semuanya. Kekhawatiranku yang lain. Ketakutanku yang lain. Aku harus kuat sampai saatnya tiba bagiku. Aku harus mengabaikan semua penglihatan masa depan yang mulai berganti ketika menatap mata Reven. Aku tidak boleh goyah. Aku tidak boleh.

Tapi..

“Jadi kau di sini,”

Aku mendongak dan melihat Reven berdiri di pintu ruanganku yang terbuka. Dia menatapku lama dan aku berkedip. Reven langsung tersenyum dan berjaan ke arahku. Aku tidak bangun dan Reven yang langsung berbaring di sampingku. Aku memandang iris birunya lekat dan semua penglihatan tentang masa depan Reven menabrakku keras-keras.

“Jangan pernah meninggalkanku lagi.” Reven berbisik di telinga perempuan yang tengah dipeluknya dari belakang. Perempuan itu tersenyum penuh kebahagiaan dan da berbalik pelan, menatap Revenku dengan tatapan sarat cinta.

“Tidak akan pernah.” ucapnya, “Aku akan selalu bersamamu. Menikmati dunia yang terus berubah dan hari-hari yang tak terbatas di depan kita. Aku akan selalu berada di sini. Untukkmu.”

Dan perempuan itu berjinjit, mengalungkan kedua lengannya pada leher Reven dan mencium Reven dengan penuh cinta. Mereka tenggelam dalam ciuman yang dalam dan aku hanya bisa melihat itu semua dalam diam. Kibaran helai demi helai rambut si perempuan yang tertiup angin mengaburkan penglihatanku. Aku mengerjap bingung dan menemukan iris biru laut menatapku dengan khawatir.

“Noura..” panggilnya, “Kau tidak apa-apa?”

Aku mengerjap lagi. Berusaha agar airmataku tidak jatuh. Perempuan itu.. Sherena Audreista.. perempuan itu..

Tepat saat Reven menatapku dengan semakin khawatir, satu tetes airmataku jatuh dan aku langsung merapatkan tubuhku pada Reven. Menarik kuat-kuat pakaian Reven dan meremasnya. Aku membutuhkan sesuatu untuk menahan rasa sakit ini. Pada akhirnya pertahananku runtuh ketika aku terus menerus disiksa dengan penglihatan ini. Melihat kematianku, melihat kematian Maurette, melihat semua yang terburuk terjadi.. rasanya tidak pernah sesakit ini.

Tapi kenapa setiap kali melihat Reven yang bahagia bersama perempuan lain, aku selalu merasa seperti ini. Ada sebagian diriku yang menolak semua ini. Ada bagian lain yang tidak rela. Ada bagian yang cemburu. Ada bagian yang..

Aku terisak makin hebat dan Reven yang kebingungan dan tidak tahu apa-apa hanya memelukku rapat-rapat. Menciumi puncak kepalaku dan mengelus lembut punggungku, mencoba menenangkanku. Dia mungkin tahu ini akibat dari penglihatan yang kudapatkan. Tapi Reven tak pernah tahu yang seperti apa. Dia hanya akan tahu jika aku hanya akan menangis dan histeris seperti ini jika berhubungan dengan hal-hal buruk yang datang bersama dengan kemampuanku.

Dia tak tahu bahwa setiap kali aku menangis. Setiap kali aku terisak-isak dalam pelukannya, ada namanya tersebut di dalam kepalaku. Ada namanya, kesedihan, kemarahan dan segala pekara cemburu di dalam kepalaku.

Apa yang bisa kulakukan sekarang? Apakah aku harus berhenti setelah sejauh ini? Apakah aku harus mencari masa depan lain? Mengorek-ngorek rahasia alam hanya sekedar untuk mencari celah berubahnya arah lain dari masa depan ini. Tapi semua yang kulakukan selama ini.. Anabelle, Akhtzan, Arshel, Sherena, Morgan, Victoria.. haruskah kulepas semuanya dan mengalah? Aku tidak bisa melepaskan Reven.

Mau Baca Lainnya?

13 Comments

  1. jadi seperti itu ceritax dri POVx noura…
    tersiksa ma kemampuannya ndiri…
    kasihan noura…
    dhh tau mau mati lagi liat org yg kita cinta bahagia ma orla di msa depan…
    adooooooh…
    kalo q jadi noura…
    mending tggal di goa z kali ya…hahahaha
    kereeen thor…
    suka ugha ma cerita diamond nya..

  2. Oh ya ampun naura pengorbananmu tak kan sia2, tapi aq mau prOtes kok reven lebih romantis ke naura dari pada ke rena huwaaaa cemburu,oiya kalau di pikir2 reven kok kayak om2 pedofil ya secara kan rena baru lahir padahal reven udah jadi pacar nya naura wkwkwk oke abaikan!

  3. Sama ky ilulabia, aku jg sebel knp kl k rena biasa aj, blm lama jadian udh dpksa tidur panjang lagi, smoga aj nanti di RU bnyk adegan romantis mrka, diupdate y thor RU ny jgn lama2 please, 🙂

  4. Setuju banget sma kakak kakak yang di atas.
    Noura kok foto'a gtu kata'a lbih cantik dari rena. Syukur'a walaupun dari blkng rena ttp cantik hehehe…
    Kakak aku udah email kakak tapi kok gak ska di bls jadi sdih deh :'( .
    Aku tnggu lanjutan ru sma diamond yah kak

    Salam manis
    Alifah m

  5. Hahahhaha.. protes diterimaa..

    Well, iya dong. Reven ma Noura mah uda bareng-bareng lamaaaa banget
    Istilahnya malah si Noura ini cinta pertamanya Reven. Uwuuwuwu so swiiittt..

    Pedofil?? Ech??

  6. Mungkin si Reven masih malu-malu kucing apa ya sama Rena. Well, dulu kan dianya benci banget sama Rena. Tapi ya masa potongan kaya Reven bisa malu-malu kucing. Hahhaha

    RU hari minggu besok yaa!! 😀

  7. Ntahlah.. tapi aku suka banget gambar ini. Kayaknya masuk banget sama karakter Noura yang aku bayangin.

    Eh aku selalu bales loh, tapi langsung kena email balasan gagal.
    🙁 🙁

  8. Seruuuuuu kak, ceritanya patut untuk dinantikan juga…..ah senangnya…
    Iya Reven disini romantis banget sama Noura..jadi iri kok sama Rena nggak hahahaha mungkin bener juga kali ya mereka kan belum lama kisah kasihnya haha udah ada kejadian yg begitu dasyhat aja..hem..udah gitu Reven juga kan awalnya benci banget…
    Kunantikan kelanjutan kisah berikutnya..ya kak..

Leave a Reply

Your email address will not be published.