Half Vampire – Akhtzan

“Aku harus bagaimana, ayah?”

Wajah Ar kuyu, memucat dan terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya.

“Tetaplah jaga, Sherena.” Suaranya serak dan berat. Ar mengangkat wajahnya. Menatap wajah ayahnya yang duduk di sampingnya. Rambut ayahnya putih panjang sampai sepinggang dengan janggut yang sama putihnya. Kusut dan awut-awutan. Kerutan-kerutan memenuhi wajah tuanya yang pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya yang kecil, memerah dan berair.

“Tapi, Rena. Rena akan berubah, ayah. Dia akan berubah. Dia akan berubah.” Suara Ar gemetar. Wajahnya ketakutan dan dia terlihat sangat rapuh. Akhtzan menyentuh lengan putra kesayangannya itu, menyentuhnya dengan lembut. Jemarinya yang rapuh bergerak pelan. Ujung-ujung tangannya yang panjang menghitam, berkerut karena usia dan interaksi dengan ramuan yang intens.

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, anakku.” Bisiknya.

“Ayah.. aku takut.” Ar menyurukkan tubuhnya ke dada ayahnya yang kecil, kurus. Akhtzan tak berbicara, tangannya merangkul putranya. Menepuk punggung Ar dengan lembut, “Tidak perlu takut. Sejauh ini semuanya sudah berjalan sesuai rencana kita. Kau tidak perlu takut, Ar.” Ucap Akhtzan pelan di dekat telinga Ar. Dia melepaskan pelukan Ar, menyentuh kedua lengan Ar dengan erat, nyaris mencengkramnya, “Kau tidak boleh lemah, tidak boleh lemah.” Tegas Akhtzan dengan wajah mengeras.

“Tapi, ayah..”

“Tidak ada tapi-tapian, Ar. Kita harus menyelesaikan ini. Kita harus bertahan sampai akhir. Seperti janji kita… kepada Noura.”

Tubuh Ar bergetar, sudut matanya basah. Dia menangis, “Noura..” bisiknya tertahan dengan dada sesak. “Nouraku..”

***

Mata Akhtzan menatap putra satu-satunya itu dengan sedih. Perasaan bersalah itu muncul makin kuat hasil dari endapan bertahun-tahun lamanya yang dia simpan di kedalaman hatinya. Dielusnya lembut kepala putranya yang meringkuk tertidur di sampingnya, Arshel terlihat sangat tertekan dan frustasi. Bahkan dalam tidurnya, wajahnyar terlihat tidak tenang. Kedua alisnya saling tertaut, dan dia beberapa kali bergerak gelisah.

“Maafkan aku, putraku.” Bisiknya sambil menyentuh dahi Ar yang berkerut. “Maafkan aku membuatmu terlibat dalam urusan ini. Maaf.. maafkan ketidakbecusanku sebagai ayahmu.” Tangannya gemetar, “Seandainya.. seandainya aku bisa lebih kuat. Kalian semua tidak akan menjadi seperti ini.” Dan Akhtzan yang tua kembali mengingat kejadian itu, bertahun-tahun silam ketika dia mau tak mau diseret ke dalam masalah pelik ini.

***

Suara ramuan yang bergelegak terdengar memenuhi rongga gua. Bau ramuan yang khas memenuhi penciuman Akhtzan dan senyum kecilnya tersungging. Ramuan ini sudah selesai, akhirnya setelah dia menunggu dan bersabar selama hampir tiga puluh tujuh jam, ramuan paling rumit inipun selesai. Bau ramuan yang tercium ini juga membuatnya puas, dia tahu, tidak ada satupun yang salah. Ramuan ini sempurna.

“Wah.. wah.. ahli ramuan kita. Ramuan yang sempurna, Akhtzan.”

Kepala Akhtzan memutar cepat ke asal suara itu. Matanya melotot tak percaya pada apa yang dilihatnya, seorang perempuan yang sangat cantik sedang duduk dengan kaki tersilang di atas batu besar, sangat anggun. Rambut panjangnya yang kemerahan jatuh dengan indah sampai ke batas pinggang. Tapi bagaimana bisa, dia sama sekali tidak merasa ada orang lain yang menyentuh sihir perlindungannya. Tidak terdeteksi ada manusia yang masuk ke dalam hutan.

“K-kauu..” bibir Akhtzan bergetar. Menyadari makhluk apa sesungguhnya yang ada duduk dengan manis tak jauh darinya.

“Noura.” Kata perempuan sangat cantik itu dengan suara bermelodi.

“Kau VAMPIR!” Akhtzan berteriak.

Noura tersenyum lebar, “Ya, tentu saja. Aku vam-pir.”

“Ba-bagaimana bisa?” Akhtzan mencoba bicara dengan tegas namun yang keluar hanya suaranya yang terdengar lemah.

Noura menelengkan kepalanya dengan manja, “Aku vampir, Akhtzan. Kau harusnya ingat kalau vampir kebal pada sihir biasa. Sihir pelindungmu bukan sihir kuno, hanya sihir rumit yang akan menyesatkan manusia dan makhluk-makhluk lain yang bisa dikelabui sihir. Kuakui sihir pelindungmu hebat, aku sedikit kesulitan mencapai tempat ini. Dan ketika aku masuk, aku melihat kau sedang sibuk dengan ramuan itu, jadi aku memilih menunggu dan menjadi tamu yang baik.”

Mata Akhtzan menyipit. Dia tahu benar bahwa vampir perempuan di depannya ini membawa tujuan yang tidak tahu apa dengan menemuinya. Dia bersiap-siap dengan kemungkinan terburuknya, rapalan mantara kuno yang sulit sedang berusaha dibacanya di benaknya. Sihir kuno adalah satu-satunya sihir yang mampu menembus pertahanan vampir. Akhtzan akan memantrai vampir bernama Noura yang baru pertama kalinya ditemuinya itu.

Mendadak Noura terkekeh, “Memantraiku, Akhtzan? Jangan bertindak konyol.” Ada nada ancaman dalam suaranya yang lembut.

“Ap-apa maksudmu?” Dalam benaknya, Akhtzan ketakutan. Dia tahu seringkali vampir memiliki berkat istimewa yang entah datang darimana. Namun itu sangat jarang, dan sekarang dia sangat yakin bahwa Noura memiliki salah satunya. Yang paling bermanfaat mungkin, membaca pikiran orang lain. Dia berusaha membentengi pikirannya. Dia penyihir murni dan melindungi pikirannya dari kekuatan lain adalah hal yang sangat mudah.

“Jangan membuang waktumu. Aku bisa menembus pertahananmu. Berkat yang kumiliki lebih dari sekedar membaca pikiran orang lain.” Noura menjelaskan dengan lembut, mengabaikan wajah panik Akhtzan.

“Apa yang kau inginkan?” bentak Akhtzan mencoba tegas. Dia harus menunjukkan pada vampir perempuan ini bahwa dia bukan lawan yang lemah. Dia kuat dan memang harus kuat, karena dia harus melindungi mereka, keluarganya. Jika Noura menginginkan darahnya, kematiannya, maka dia akan melawan. Dia penyihir murni. Dia penyihir murni. Dia mengulang itu berkali-kali di benaknya agar dia bisa lebih kuat. Tekadnya harus kuat, karena jika terjadi apa-apa dengannya, maka selesai sudah. Selesai sudah semua yang sudah belasan tahun dia usahakan dengan taruhan cinta dan airmata.

“Sayangnya darah penyihir selalu saja beraroma tidak lezat. Jadi aku tidak berminat membunuhmu.” Dengan satu gerakan anggun, Noura melompat turun dari atas batu besar yang sedari tadi digunakannya untuk duduk, “Aku kemari bukan untuk melukai siapapun, aku kemari membawa penawaran untukmu, wahai penyihir murni.”

Kening Akhtzan berkerut, “Penawaran?” ulangnya tak mengerti.

Noura mengangguk mantab, “Ya, penawaran untukmu. Dan aku jamin tidak akan ada yang dirugikan nantinya. Aku ataupun kau, semuanya akan mendapatkan apa yang masing-masing dari kita inginkan.

“Aku tidak membutuhkan penawaran dengan iblis sepertimu.”

Noura berdecak mendengar penolakan keras dari Akhtzan, “Jadi kau lebih memilih kehilangan salah satu anakmu, Akhtzan??” satu alis Noura naik ke atas. Bibirnya tersenyum tipis, penuh misteri.

Buku-buku tangan Akhtzan mengeras, menahan amarahnya, “J-jangan berani-berani kau menyentuh anakku.”

Senyum Noura terkembang, “Tidak, Akhtzan. Tidak.” Noura nampak geli. “Aku hanya memberimu penawaran, dan jika tidak..” suara Noura menggantung, dia mengangkat bahunya, “..aku tidak menjamin Arshel atau Sherena akan tetap baik-baik saja.”

Akhtzan menerjang Noura dengan marah, namun Noura dengan sigapnya menghindar. Mendadak dia sudah berdiri dengan tegak di atas batu besar yang sebelumnya didudukinya, “Akhtzan.. Akhtzan.. kau ini penyihir. Dan kenapa malah menerjangku, seolah-olah aku akan kalah hanya dengan tinjumu.” Noura tertawa, dan rahang Akhtzan mengeras. Mulutnya sudah akan merapalkan sihir kuno yang paling jahat ketika dia kembali mendengar suara Noura, “Jika terjadi apa-apa denganku, maka kujamin Akhtzan. Kujamin kau tak akan melihat mereka. Keduanya akan mati. Aku sudah meminta kelompokku untuk mengawasi mereka. Dan jika kelompokku menyadari aku tak pernah kembali, maka Arshel adalah yang pertama akan mati. Bukankah dia sekarang ada di kota, bersama sahabat yang kau serahi tanggung jawab untuk merawatnya.”

“KAU BENAR-BENAR IBLIS!!”

Noura kembali terkekeh, “Kau menyebut aku iblis, Akhtzan? Lalu jika aku ini iblis kau itu apa? Kau, laki-laki yang menyalahi takdir, Akhtzan. Kau harus ingat itu. Kau tidak lebih baik daripada aku.”

“K-ka-kau.” Gigi Akhtzan bergemeretak.

“Anabelle Audreista harusnya sudah mati jauh sebelum Sherena dilahirkan.” Tatapan Noura mendadak menjadi tajam, “Anabelle harusnya sudah mati. Kau tahu dengan jelas hal itu namun kau menghindarinya. Memberikannya ramuan yang terus menerus kau sihir masuk ke dalam apel-apel yang dia makan, memberikannya kehidupan sampai sekarang. Kau menyalahi takdirnya, Akhtzan.”

“Apa yang kau tawarkan?” Akhtzan menyerah. Menyadari bahwa dia tidak mungkin melawan Noura, vampir perempuan ini terlalu cerdik dan berbahaya. Dan dia tahu banyak hal tentang apa yang sudah dengan sangat rapat ditutupinya. Noura tentu sudah menyelidikinya, dan jika itu memang benar. Akhtzan tidak bisa menghindar.

Sudut bibir Noura tertarik ke atas, ”Saatnya kita bernegoisasi, Akhtzan.”

***

Akhtzan menatap ramuan yang sudah dibuatnya itu dengan tanpa semangat. Sudah selesai. Semuanya sudah selesai. Penawaran yang diminta Noura terlalu berbahaya meski dia mengakui bahwa Noura benar. Vampir perempuan itu benar dalam banyak hal yang bahkan Akhtzan pun tak pernah memikirkannya.

“Anabelle..” dia mendesah dengan frustasi menyebut nama perempuan yang dicintainya dengan setengah mati. Dia benar-benar kacau dan tak tahu harus berbuat apalagi. Noura sudah meninggalkan gua tempatnya tinggal selama bertahun-tahun ini sejak beberapa jam lalu. Tapi bayangan senyum dan kata-katanya terus terngiang di kepala Akhtzan.

“… kau tidak bisa mempertahankan kedua-duanya tetap hidup di sampingmu. Kau harus memilih, dan memang seperti itulah harusnya kehidupan. Meninggalkan atau ditinggalkan. Mati atau hidup…”

Jika dia berucap jujur pada Anabelle, dia akan tahu dengan jelas apa yang akan dikatakan istrinya itu. Selamatkan putriku dan jangan pedulikan aku. Akhtzan tahu, tahu dengan sangat jelas bahwa Anabelle akan mengorbankan apapun demi anak-anaknya. Dan ketika dia melihat harapan kehidupan bagi putrinya, dia tidak akan pernah mau untuk menolaknya. Tidak, Sherena terlalu berharga.

Lalu Arshel? Akhtzan sudah membebankan banyak hal sulit ke pundak putra kecilnya itu. Dia juga sudah menyeret Arshel ke dalam masa kecil yang tidak bahagia dengan membawanya tinggal bersamanya di gua gelap ini, dan bukannya hidup dengan nyaman dan hangat bersama ibu dan adiknya, Sherena. Lalu apakah sekarang dia juga harus meminta putranya itu untuk kembali mengorbankan kehidupannya, meski demi adiknya.

Akhtzan menggeleng dengan frustasi. Meksi dia tidak bersikap baik dan lebih sering keras kepada Arshel, dia menyayangi putranya itu. Dia menyayangi Arshel sama besar seperti dia menyayangi Sherena. Mereka berdua adalah anaknya. Sudut matanya basah dan dia menangis. Merasa gagal sebagai seorang suami dan ayah.

“Maafkan aku, Anabelle.” Isaknya pedih.

***

“Jadi bagaimana, Akhtzan? Kau sepakat dengan apa yang ku tawarkan?”

Akhtzan tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara. Sesuai janjinya, seminggu setelah kedatangannya yang pertama, Noura akan datang lagi dan disinilah dia sekarang. Duduk dengan manis di atas batu yang sama dimana dia dulu pertama kali duduk ketika masuk ke tempat ini. Noura duduk sangat anggun mengamati Akhtzan yang sibuk dengan ramuannya.

“Itu ramuan untuk Anabelle?” Noura bertanya lagi ketika sepertinya Akhtzan tidak berminat untuk menanggapinya. Laki-laki itu tetap diam dan memilih mengaduk ramuannya dengan penuh konsentrasi.

Dia berbalik, setelah bermenit-menit berlalu, dengan keheningan, “Kau masih disitu rupanya.” Katanya begitu menemukan Noura masih di tempatnya. Duduk dengan nyaman, bermain-main dengan kukunya yang panjang dan berwarna merah.

Noura tersenyum, menatap Akhtzan, “Aku harus bersabar untuk mendapatkan apa yang aku mau.”

“Tapi sepertinya itu bukan sifat dasar vampir. Kebanyakan mereka cenderung tidak sabaran.” Akhtzan mencibir, sambil melalui Noura dan mengambil botol untuk diisinya dengan ramuan yang baru dibuatnya.

“Beberapa yang kukenal malah jenis-jenis yang sangat sabar.”

Mata Akhtzan melirik Noura sekilas sebelum dia kembali menaruh botol yang sudah penuh dengan ramuan berwarna keruh itu ke rak-rak yang disihirnya dari jalinan sulur-sulur yang kokoh. Vampir perempuan ini ternyata serius dengan apa yang diinginkannya. Dan dia tahu dia benar-benar tidak bisa mundur sekarang. Setelah selesai dnegan semua urusannya, Akhtzan menarik kursi dan duduk menghadap Noura, meski jarak mereka sedikit jauh.

“Aku punya banyak syarat.” Katanya akhirnya.

Salah satu alis Noura terangkat, “Tidak ada syarat, Akhtzan. Aku sudah cukup baik dan kau malah meminta lebih. Serakah.”

Akhtzan menghembuskan nafas dengan lelah, “Kalau begitu aku meminta tolong padamu, Noura. Aku memohon padamu dan lihatlah aku sebagai seorang ayah yang berusaha melindungi keluarganya.”

“Apa yang kau minta?”

“Jangan katakan apapun kepada Sherena. Biarkan dia hidup dalam ketidaktahuannya. Jangan katakan apapun tentang aku dan jagalah rahasia ini sampai akhir. Hanya aku, kau dan mungkin Arshel saja yang boleh tahu. Tidak satupun dalam kelompokmu yang boleh tahu.”

Anehnya Noura malah tertawa, “Dikabulkan.” Katanya enteng.

Akhtzan memicingkan matanya, “Kenapa?”

“Kenapa?” Noura mengulang pertanyaan Akhtzan, “Aku memang berusaha merahasiakan semua ini. Pada akhirnya nanti kau akan mengerti kenapa aku mengajukan penawaran ini kepadamu, Akhtzan. Aku hanya ingin membuat segalanya menjadi lebih baik. Percayalah padaku, dan kau tak akan pernah menyesal.”

“Aku memegang janjimu.”

Mata Noura berkilat bahagia, “Artinya kau sepakat pada apa yang kutawarkan?”

“Aku tidak punya pilihan lain.”

Noura terkekeh, “Jawaban yang cerdas. Aku memang tidak berharap kau menolaknya. Kau sudah berpamitan dengan Anabelle?”

Akhtzan nampak kesal, “Dia masih akan hidup lama, Noura. Dan bagiku, Anabelle tidak perlu tahu semua ini.”

“Kau masih akan memberinya ramuan penyembuh itu? Kau tahu itu beresiko. Kesehatanmu sendiri yang akan menjadi taruhannya.”

Kali ini Akhtzan yang tertawa, “Kau mengkhawatirkanku? Tenang saja, Noura. Aku masih cukup kuat untuk melakukan mantra yang kau minta.”

Noura mengangkat bahunya dengan enteng, “Terserah saja. Aku hanya tidak ingin kau setengah-setengah. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak jujur saja pada Anabelle bahwa selama ini kau tetap melindunginya. Aku sedikit bingung ketika aku tahu bahwa perempuan itu membencimu setengah mati karena mengira suaminya membawa kabur putra pertamanya dan meninggalkannya hidup seorang diri, membesarkan putrinya yang masih kecil.”

“Kau yang menyihir apel-apel di kebun Anabelle yang kecil itu bukan? Membuatnya tumbuh lebat dan menghasilkan panen apel yang bisa digunakannya untuk kebutuhan hidupnya. Iya bukan? Atau ada dari penjelasanku yang keliru?? Kau ketakutan kalau Anabelle tahu, bahwa suaminya adalah penyihir?”

Akhtzan menghela nafas panjang, “Kau benar. Aku melakukan semua itu agar hidup Anabelle dan Sherena sedikit lebih mudah. Jika Anabelle tahu aku seorang penyihir, dia akan menolakku. Dan jika banyak orang tahu aku penyihir, itu akan membahayakan mereka semua.”

Noura mengangguk, “Sangat pelik ya.” Komentarnya ringan, jelas tak merasa apa yang didengarnya berharga, “Lalu kenapa kau membawa pergi Arshel juga?”

“Karena dia menanggung sedikit kemampuanku.”

“Sherena tidak?”

Akhtzan mengangguk lemah, “Aku sangat terkejut menyadari putraku itu punya bakat sihir. Aku akan melindunginya dan mengembangkan kemampuannya itu agar dia bisa melindungi adiknya, jika yang terburuk menghampiriku. Seperti kau.”

Noura terkikik geli, “Jika yang terburuk menghampirimu? Dan kau bilang itu aku?” Noura tertawa lagi, “Tidak, Akhtzan. Percayalah bahwa kau akan merasa bersyukur aku yang mendatangimu, bukan orang lain.”

Meski tidak mau mengakuinya secara terang-terangan, Akhtzan mengakui bahwa Noura berbeda. Ada yang berbeda pada vampir yang satu ini. Dia terlihat lebih baik daripada yang lain yang berasal dari jenisnya. Noura juga benar, jika vampir lain yang mendatanginya dan meminta hal yang sama, mungkin dia tidak akan sesabar dan seramah Noura. Mereka tidak akan repot-repot mengajukan penawaran dan akan langsung mengancamnya. Menggunakan keluarganya sebagai alat agar dia mau melakukan apapun itu yang mereka mau.

“Kau memberi tahu putra kecilmu itu semua kebenarannya ya?”

Akhtzan terlihat tidak ingin menjawab meski pada akhirnya dia membuka mulutnya, “Ya, Ar tahu segalanya. Apakah kau ingin memberitahunya kesepakatan kita ini? Dia masih terlalu kecil sekarang.”

“Aku akan menunggu. Akan ada saatnya aku menemuinya untuk bicara banyak hal.”

Kedua bola mata Akhtzan yang kecil menatap Noura, meneliti. Vampir perempuan ini tidak main-main. Dia benar-benar akan melakukan semua yang dikatakannya.

“Nah, sepertinya kita sudah selesai.” Noura melompat turun, tersenyum lebar memandangi Akhtzan yang masih duduk tenang di atas kursinya, “Aku punya banyak pekerjaan lain yang harus kuselesaikan. Sampai jumpa, Akhtzan.”

Ketika Akhtzan mengedip, Noura sudah lenyap dari pandangannya. Kecepatan. Salah satu kelebihan vampir. Noura. Akhtzan mengulang nama itu dalam benaknya. “…Sampai jumpa, Akhtzan.” Dia gemetar mengingat ucapan Noura. Sampai jumpa? Dan ketika akhirnya tiba saat dimana dia harus kembali berjumpa dengan Noura lagi, segalanya sudah akan berbeda bagi dia. Mendadak Akhtzan merasa ketakutan. Apakah keputusan yang diambilnya tepat?

<< HALF VAMPIRE – Rahasia Morgan 
HALF VAMPIRE – Maurette >>

Mau Baca Lainnya?

26 Comments

  1. terima kasih sudah di update 🙂
    hmpr 2 mgu, tapi cerita'y lumayan panjang, dan lumayan menimbulkan tanda tanya disana-sini, berharap author bsa update bbrp hri sx
    smgt thor 😉
    (bakerstreet)

  2. Tiap hari bolak balik lihat blog ini,, eh ternyata hr ini tdk mengecewakan,, terimakasih tambah penasaran aj m ceritanya,,
    D tggu lanjutanya,,semangat,,

    Unie

  3. Waaah ternyata ada dua dalam seharii hihihihi =)) author kenapa gak update 1x seminggu aja hehehe? Kan makin penasaran soalnya… Kayaknya ini masih lama ya tamatnya? Walaupun teka-tekinya udah mulai terpecahkan sedikit, tapi masih banyak yang bikin penasaran hahhaha =D ditunggu update selanjutnya…
    -AF

  4. Huahhh, akhirnyaaa muncul juga..
    Bingung harus comment apa dipart ini, Noura bener2 dh *gelengkepala*
    Rena Arshel = adik kaka? Wow!!
    Banyak banget rahasia yg blm kbongkar yah bikin bingung hihi makin kesini akunya hehe
    Makin penasaran jugaaaa 😀
    morgan kayaknya suka sherinn, huahh bener kan.. jangan sampe Rena berubah jd vampir seutuhnya pas masih disarang serigala bisa mati dia:(
    Yang penting authornya sehat terus semangat nulisnya :))
    Jangan lama2 yh thor updatenya 🙁
    Makasih buat 2 chapternya :))

  5. Huahhh, akhirnyaaa muncul juga..
    Bingung harus comment apa dipart ini, Noura bener2 dh *gelengkepala*
    Rena Arshel = adik kaka? Wow!!
    Banyak banget rahasia yg blm kbongkar yah bikin bingung hihi makin kesini akunya hehe
    Makin penasaran jugaaaa 😀
    morgan kayaknya suka sherinn, huahh bener kan.. jangan sampe Rena berubah jd vampir seutuhnya pas masih disarang serigala bisa mati dia:(
    Yang penting authornya sehat terus semangat nulisnya :))
    Jangan lama2 yh thor updatenya 🙁
    Makasih buat 2 chapternya :))

  6. GILAAAAK makin bikin kepho banget ka. Ternyata rena&arshel adek kaka yea, berarti ibunya rena yg tinggal sama dia mamanya arshel bukan?
    Aaaa seyuuuu semangat lanjutinnya ka!

  7. GILAAAAK makin bikin kepho banget ka. Ternyata rena&arshel adek kaka yea, berarti ibunya rena yg tinggal sama dia mamanya arshel bukan?
    Aaaa seyuuuu semangat lanjutinnya ka!

  8. hii.. Salam kenal, hari jumat kmarin aku baca cerpen half vampire kamu dr wattpadd dan langsung jatuh cinta.. Tipe cerita yang kusuka.. Terus buat ceritanya, i'm waiting the end of story..

  9. benar… semua suka sherena dgn revan..
    *pertnyaan captr sblmnya..
    wah…. shok.. trnyata sherena tuh ank pnyihir…
    apa sherena gk ad kmampuan sihir sama sx??
    wah 2 captr pnjg2 gk ada kisah romantis revan dan sherena?? hiks..
    mash tetap dingin sh revannya

  10. Hello bakerstreet..
    thanks komennya. Aku berusaha menulis HV dengan banyak akhir2 ini. Sepertinya karena aku masih terlalu punya banyak waktu luang, selain itu mungkin juga karena kuliahku belum masuk, hehehe.

    Semangat!! Baca dan komen terus ya. SHare cerita ini juga kalau bisa. 😛

  11. Hi Unie..
    makasih loh udah mau bolak balik mampir ke blog-ku.. 😀

    Semoga chapter2 selanjutnya juga tidak akan mengecewakan kalian, para pembaca HV.

  12. Noura kenapa kenpa kenapa?? 😛
    Yup, terlalu banyak rahasia dan semakin ehem.. 😛

    Terima kasih doany untuk kesehatanku.
    Ngga akan lama kok update newchapternya 😀
    ditunggu aja ya, Senja.
    :*peluk*

  13. Tapi aku juga Reven loh *jeles*
    Engga ada, Rena pure manusia tanpa kemampuan sihir, cuma Ar yang kecipratan kemampuan itu.
    Adegan romantis?? DUh aku ga pandai nulis adegan romancenya >.<

  14. Waahh makin asyik dong kalo ada sekuelnyaa… Ditunggu yaaaaa 😀 soalnya baca cerita kamu kayak baca novel fiksi beneran 😀 asik, bagus, keren lagi… Top deh :DDD

  15. Astaga ini unpredictable..
    ternyata Rena sama Ar bener2 saudaraan..
    dan Noura, dia jenius, langka, misterius, semua tingkahnya ngga bisa di terka,
    entah apa rencananya yg jelas wanita ini luar biasa..
    dan Kakak jelas jauh lebih luar biasa karena berhasil bikin cerita seamazing ini..
    pokoknya aku mencintaimu sangat kakak #ehhh

    Keep writing!

  16. Astaga astaga astaga…
    Aku merona membaca komentar ini
    Huuuuuufffff *tarik nafas panjang*

    Aaaakkkkkk… semua ini untuk kalian. Berkat kalian para pembacalah inspirasi menulisku tak pernah padam dan (semoga) terus meningkat.
    Aiihh, aku juga mencintai para pembacaku.

    *peluk Terry*

Leave a Reply

Your email address will not be published.