Half Vampire – Awal Mula

“Jangan melakukan sesuatu yang akan melukainya. Vlad bilang–“

Laki-laki dengan mata biru itu tertawa, “Sudah kukatakan aku tak tertarik. Dia milikmu sepenuhnya aku tak peduli dan sama sekali tak ingin terlibat dalam pencarian ini, Russel.”

Dia mendengus, “Heran sekali kau masih mengingat dan menyukainya. Noura, perempuan itu sudah mati dan aku pikir kita harus berhenti meratapinya. Terutama untukmu, Rev. Aku pikir Noura bahkan sud–” sebelum dia menyelesaikan ucapannya, laki-laki bermata biru itu sudah menerjangnya dengan warna iris mata yang telah berubah sepenuhnya nenjadi merah.

“Kalau kau menyebut nama Noura seperti itu lagi, aku bersumpah kau tak akan pernah bisa merasakan arah lagi.” geramnya mengerikan

“Ak-aku cuma–“

BRAKKKK.

Laki-laki itu menoleh dan matanya tepat menatap mataku.

***

“Rena!! Rena, bangun. Hei.” Aku merasa bahuku diguncang-guncang hebat. Dengan enggan kubuka kelopak mataku perlahan dan wajah Ar menyeruak di antara cahaya api yang bersinar menyilaukan di belakangnya. Aku memicingkan mataku dan beringsut bangun. Mengibaskan kepala, aku mencoba menghilangkan rasa kantuk yang tersisa.

“Ada apa?” tanyaku memandang Ar.

Dia mengangkat bahunya, “Kau mengigau dalam tidurmu. Mimpi buruk? Atau penglihatan itu lagi?” Dia melirikku saat melempar kayu ke arah api unggun yang menyala terang.

“Entahlah.”

Aku menerawang. Memandangi langit yang hitam pekat dengan taburan bintang-bintang yang indah. Belum lagi bulan separuh yang bersinar cerah di atas sana. Langit malam ini benar-benar indah. Aku masih memandang ke atas ketika mendengar suara Ar bicara.

“Jangan mempercayai penglihatan-penglihatan seperti itu, Rena. Kebanyakan membawa petaka daripada peluang. Lagipula kita harus fokus pada tugas.” dia tersenyum sambil mengulurkan sepotong daging kelinci yang sudah di bakarnya ke arahku.

Aku menerimanya dan mengangkat alisku, “Fokus pada tugas?” Aku mengodanya dan Ar jelas tahu maksudku. Dia tersenyum kecil, teringat bagaimana sepanjang siang tadi hanya kami habiskan untuk berenang di sungai jernih tak jauh dari tempat kami berjaga.

“Ya.. Ya. Kita butuh penyegaran, Rena. Terus terang saja, berjaga di sini sangat membosankan, bukan? Selain itu–” dia mengayunkan dagingnya ke arahku, “Kau juga cuma tidur saja sejak petang sampai malam sudah larut begini.” Teriaknya padaku.

“Hei, jangan cari-cari kesalahanku. Kau menyebalkan.” Kataku sambil berpura-pura bertampang marah setelah melemparkan sebongkah batu berukuran lumayan ke arahnya.

Ar mengelak dan malah terbahak, “Lemparanmu sungguh buruk. Bagaimana kau bisa berganti tugas menjadi slayer jika kemampuanmu seperti itu?”

“Tapi ini sungguh melelahkan dan membosankan.” gerutuku tiba-tiba sambil bersandar di batang pohon besar pohon di belakangku, “Kenapa kita harus berjaga di setiap perbatasan sepanjang malam dengan sedikit toleransi dan istirahat? Tubuhku terus berteriak lelah. Lagipula aku masih heta, bukan slayer sepertimu. Tugasku bukan di sini.”

“Kalau kau mau jadi slayer, kau harus melakukan ini dulu. Tapi Rena, menurutku–” Ar menelan dengan susah payah potongan daging yang dikunyahnya dan memenuhi nyaris mulutnya, “Merega summa ghawatir.” katanya aneh dan justru membuatku geli.

Aku akan membiarkannya makan dulu, kelihatannya dia lapar sekali. Sambil mengigit daging di tusukan kayu itu tanpa minat, ada banyak pikiran berkeliaran di dalam benakku. Penglihatan-penglihatan itu. Semuanya sama sekali tak berhubungan denganku. Aku bahkan tak tahu siapa orang-orang yang ada di sana. Semuanya nampak samar dan ketika aku mencoba mengingat lebih, segalanya justru menghilang.

Aku meletakkan daging itu, benar-benar sudah tak berselera dan bosan. Bosan pada daging kelinci ini dan pada pekerjaan berjaga ini. Kami berjaga di pinggir hutan ini sejak lima hari yang lalu atas perintah master kami. Dan jangan kembali sebelum ada perintah kembali, suara master kami yang serak menggema di telingaku. Tapi ayolah, tempat ini benar-benar aman. Tak ada makhluk-makhluk yang tak diinginkan.

Aku membuang nafas panjang. Baiklah, mungkin Ar memang benar. Fokus pada tugas sebagai heta, pelindung anggota kerajaan, yang entah mengapa akhir-akhir ini berubah tugas menjadi penjaga perbatasan. Fokus pada keinginanku untuk berganti tugas dan beralih menjadi slayer.

“Rena, kau tahu–” Aku menoleh pada Ar, “Kurasa para master khawatir akan ada banyak penyusup. Apa kau juga dengar jika akhir-akhir ini ada kabar bahwa para penyihir pelindung merasakan aura tak dikenal di negeri kita? Mereka curiga itu pergerakan para makhluk pemangsa. Mereka mungkin mengaca dari pengalaman–” Dia berhenti sebentar, mengamatiku,  “–bahwa kelompok pelindung sekelas heta dan slayer pun bisa disusupi oleh Dev.”

Aku tahu jantungku langsung berdetak tegas, satu-satu, begitu Arshel mengucapkan nama itu. Nama yang telah kucoba untuk kulupakan sejak beberapa bulan lalu.

“Aku tahu itu, Ar.” Ucapku, “Dan bukankah sudah kukatakan jangan sebut nama itu lagi.” Tambahku jengkel.

“Maaf Rena. Aku tak–“

Kalimat Ar tak selesai karena kami berdua nyaris melompat bangun bersamaan ketika terdengar suara gemerisik keras dari arah hutan. Aku dan Ar meraih pedang yang kami letakkan di dekat kami dengan cepat. Dengan busur dan anak panah terikat di belakang punggung kami berdua, kami saling pandang.

“Biar aku yang periksa.” Bisikku pelan, melangkah maju.

Satu tangan Ar menahanku, “Kita harus selalu bersama, ingat?”

“Tenang saja, Ar. Ingat hari pertama kita di sini? Sama seperti ini, dan kau juga tak lupa apa yang kita sergap bersama-sama dengan penuh kewaspadaan?”

“Seekor rusa.” Dia menjawab seraya melepaskan pegangan tangannya.

Aku menepuk bahunya pelan, “Aku akan hati-hati.” kataku menenangkannya.

Dia mengangguk, “Kuharap kau tangkap rusa itu untuk sarapan dan makan siang kita besok.”

Aku tertawa pelan dan melangkah pergi

“Kalau itu memang rusa.”

Aku mendengar dia mengucapkan kalimat itu dengan sangat pelan. Aku pura-pura tak mendengar. Ar memang seperti itu. Jenis yang penuh kekhawatiran berlebih terhadapku. Aku hampir tahu semua sifatnya. Maklum saja kami hampir delapan tahun bersahabat sejak masih di pelatihan.

Siaga. Fokus. Aku masih ingat tahap-tahap lainnya. Aku berjalan masuk ke hutan, sendirian, dan entah mengapa merasa gugup. Tidak. Tidak akan ada apa-apa. Aku menarik nafas panjang dan terus melangkah ke dalam hutan. Kegelapan yang pekat memenuhi sekelilingku. Cahaya bulan sedikit sekali yang bisa menembus kerimbunan hutan. Aku mencoba terbiasa dengan kegelapan yang ada dan memperkuat indra pendengaranku.

Lalu tiba-tiba ketika aku sudah berada jauh di dalam hutan, aku merasa udara yang sangat dingin bertiup di tengkukku. Aku menoleh cepat ke belakang. Tidak ada apa-apa. Aku memutar arah, berjalan ke utara ketika kurasakan benar-benar tidak ada sesuatu yang mencurigakan di sini. Tidak ada apa-apa. Benar-benar tak ada apa-apa. Bahkan suara langkah rusa pun tak ada. Hanya ada suara ranting-ranting yang saling bergesekan tertiup angin. Aku menurunkan pedangku, berbalik ke arah pinggir hutan. Berjalan santai.

Deg.

Aku berbalik sangat cepat begitu aku merasakan sesuatu bergerak mengikutiku. Pedangku terayun siap menebas apa pun yang sebelumnya mengendap di belakangku. Tapi sialnya tidak ada siapa pun atau apa pun di belakangku. Tepat saat itu juga, aku tahu ada yang tidak benar di sini.

“Keluarlah!” Tantangku sia-sia sebab tak ada jawaban bahkan pergerakan lain selain dari diriku sendiri. Namun aku masih jelas merasakan kehadirannya. Seakan sesuatu itu memandangku entah darimana.

“Keluarlah dan hadapi aku.” Ulangku keras, dan tetap tak ada sahutan. Tak ada pergerakan. Senyap. Bahkan sepertinya angin pun ikut berhenti bertiup. Ini jenis hening yang kau tahu akan berakhir dengan tidak baik.

Aku sedikit menyesal berkeras memeriksa sendirian. Jika ada Ar bersamaku, dia akan langsung tahu jenis makhluk apa yang tengah bersembunyi dan menunggu ini. Arshel, slayer senior dengan banyak penghargaan sementara aku cuma heta biasa.

Sesuatu itu bergerak, aku yakin itu. Lagi-lagi di belakangku. Sangat cepat karena begitu aku berbalik, tak ada apa pun di sana.

Sial.

Aku diam, aku yakin sesuatu itu kini tengah benar-benar mendekat ke arahku. Aku merasakannya. Diam menunggu. Aku dapat merasakan jantungku berdetak begitu cepat, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Aku memegang pedangku makin erat.

Ini saatnya.

Aku berbalik cepat dengan pedang terayun ke depan.

“Sherena..”

Makhluk di depanku menyapa dengan sangat ramah, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang sangat menawan. Mataku terbuka lebar. Sial, vampir laki-laki? Dari sekian kemungkinan yang ada di kepalaku, ternyata makhluk pemangsa ini yang muncul. Dia berjalan ke arahku tanpa meninggalkan pandangannya padaku sedikitpun.

“Apa yang kau mau, makhluk menjijikan?” Teriakku yang malah disambutnya dengan tawa kecil.

Si vampir tersenyum lebar setelahnya, memamerkan deretan giginya yang putih rapi,  “Makhluk menjijikan? Jarang ada yang memanggilku dengan sebutan seperti itu. Kau membuatku tersanjung.”

Aku tak mau buang-buang waktu hanya untuk membuatku terjerat dalam pesonanya. Dengan gerakan cepat, aku menyerangnya dengan pedangku yang terarah tepat ke jantungnya. Namun si vampir  bergerak lebih cepat ke sisi lain. Ujung pedangku hanya berhasil menggores dadanya, merobek pakaiannya.

Tanpa sadar aku mundur selangkah begitu melihat dia justru tersenyum. Dengan jari telunjuk kanannya, dia mengusap darah yang keluar dari goresan lukanya, menjilatnya. Dia memejamkan mata, terlihat begitu menikmatinya. Aku mual melihat tingkahnya, dan ketika dia membuka matanya, dia memandangku dengan tatapan mengejek yang kentara

“Tak ada gunanya melukai kami, kecuali menikam tepat di jantung kami. Bukankah itu pelajaran pertama yang mereka ajarkan kepadamu, Sherena?”

Aku menggeram, tidak suka diremehkan. Tetapi ketika aku baru saja akan menarik busurku, terdengar suara langkah lain mendekat. Aku mengumpat tanpa suara ketika melihat sesosok vampir laki-laki lainnya berjalan ke arah kami dari kegelapan hutan.

“Kau yakin dia orangnya, Lucius?” Tanya vampir yang baru datang itu, menghampiri vampir yang ada di depanku. Sepenuhnya mengabaikanku.

“Kau meragukan kemampuanku? Kau tau aku tak pernah salah, Vod.” Balas Lucius terdengar kesal. Dia jelas tidak suka dengan kedatangan kawannya yang ini.

Vampir yang bernama Vod itu tertawa mengejek, “Oh ya? Bukankah beberapa hari yang lalu kau sudah salah? Kesalahan yang sangat besar, Lucius. Membuat dua kawan kita mati sia-sia. Aku yakin luka akibat hukuman dari Vlad masih terasa, kan?”

Lucius mendesis marah, begitu tersinggung. Matanya memerah, kedua taringnya keluar dan tak menunggu waktu lama, dia menerjang Vod. Mereka bergumul, saling mencengkeram, mendesis, mencoba untuk melukai dan mengalahkan satu sama lain. Sejenak aku terdiam dengan kening berkerut dalam. Tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Siapa yang mencoba melawan siapa di sini?

“HENTIKAN!!”

Bersamaan dengan suara itu, Lucius dan Vod terlempar kedua arah yang berlawanan. Mereka menghantam pohon dengan keras, lalu memandang bersamaan ke arah asal suara tadi. Aku melihat raut wajah cemas dan terkejut menjadi satu. Mereka beringsut bangun, berdiri saling mendekat.

“Reven.” Ucap Lucius pelan.

Aku benci keadaan ini. Terjebak sendirian bersama tiga vampir laki-laki, sudah bisa dikatakan buruk. Apalagi melihat emosi mereka yang tak terkendali, aku jelas dalam masalah besar. Lalu satu yang baru datang ini juga semakin membuatku harus menelan ludah memikirkan nasibku. Dia terlihat penuh kuasa dengan ekspresi wajah keras dan dingin. Jenis yang sekali kau lihat, kau akan tahu bahwa dia kuat.

“Sudah kukatakan kalau kalian merusak rencana lagi–“

“Tidak, Rev. Aku dan Lucius hanya sedikit berselisih tentang bagaimana membawanya ke kastil.”

Reven mengibaskan tangannya tak peduli, “Dari awal aku tahu kalian tak berguna.” katanya dingin. namun tiba-tiba iris matanya berubah menjadi hitam mengancam. Dia bergerak sangat cepat ke arah Lucius dan Vod. Aku mendengar suara jeritan Vod ketika Reven terlambat menariknya menghindar. Dia langsung jatuh tersungkur ke depan. Darah mengalir dari punggungnya. Sebuah anak panah menancap di punggungnya yang kuyakin ujung panahnya telah menembus jantungnya, karena beberapa saat kemudian tubuh Vod lenyap. Digantikan abu hitam yang bertebar membentuk siluet tubuhnya. Dia, mati.

Aku tak mampu untuk tak bernafas lega melihat sosok di kegelapan yang masih tegak menarik busurnya. Ar. Aku sangat bersyukur dia adalah yang terbaik dalam kelompok kami. Lihat saja gerakannya, kekuatannya, perkiraan dan jangkauannya. Vampir yang biasanya begitu peka pada gerakan pun tak menyadari dia ada di situ.

Dia berlari ke arahku, masih nampak siaga dengan dua vampir yang tersisa. Mereka berdiri agak menjauh, memandangi kami dengan tajam.

“Kau tak apa-apa, Rena?” tanya Ar cemas.

Aku menggeleng, melirik ke arah dimana sebelumnya kedua vampir itu berada. Hanya Lucius? Dimana Reven? Aku bergerak cepat mengikuti intuisiku, menebas udara kosong di belakang Arshel. Benar saja, aku melihat kelebatan bayangan Reven mundur. Kecepatan, salah satu keahlian para vampir.

Aku dan Ar saling memunggungi dengan pedang perak terarah kepada Reven dan Lucius yang berdiri di dua tempat yang berbeda. Ar sudah mengikat kembali busurnya ke punggungnya.

“Terima kasih” bisik Ar.

Aku mengangguk, “Terima kasih juga untuk tadi.”

“Aku khawatir karena kau lama sekali di dalam hutan, jadi kuputuskan untuk menyusulmu.”

“Itu keputusan yang sangat baik, Ar.” kataku bersungguh-sungguh, sebab aku tak yakin bisa menangani tiga vampir temperamental itu bersamaan.

“Sudah selesai melepas rindu, manusia?” Lucius menatap kami dengan kesal dan begitu memandang Ar, matanya berubah menjadi merah penuh amarah, terlihat begitu bernafsu untuk membunuh Ar. Heran juga melihat sebelumnya dia dan Vod saling mencoba untuk membunuh satu sama lain. Harusnya dia berterima kasih pada Ar karena sudah membunuh Vod.

“Kau lawan dia, biar aku lawan yang satunya.” Ucap Ar mengisyaratkan Lucius sebagai miliknya.

“Hati-hati, Ar.” kataku sebelum dia bergerak dan memfokuskan dirinya pada gerak Lucius.

“Nah,”

Aku menoleh mendengar suara Reven. Bodoh, bagaimana aku bisa lupa kalau aku harus menghadapinya dan bukannya buang-buang waktu melihat Ar?

“Aku tak berminat melawanmu karena itu hanya membuatku berniat semakin ingin membunuhmu. Aku tak suka membunuh makhluk selemah dirimu. Jadi bagaimana kalau kita bicara baik-baik?”

Aku mendengus melihat betapa pongah vampir yang satu ini. Lalu apa yang dia bilang tadi? Bicara baik-baik? Pelajaran pertama tentang vampir, mereka mampu membuatmu terpesona dan melupakan segalanya. Kedua mereka lihai dan licik meskipun bukan tipe pengkhianat.  Aku tak sebodoh itu untuk memberinya waktu untuk menyihirku dengan pesonanya. Sebab jujur saja, jika aku semakin memperhatikannya, aku melihat sesuatu yang tidak asing dalam diri vampir yang satu ini. Entah apa, dan itu jelas bukan pertanda yang baik.

“Aku tak butuh bicara denganmu.” Sergahku tegas. Aku bergerak secepat mungkin ke arahnya dengan gerakan menyerang. Kurasa aku terlalu tergesa-gesa karena dia begitu mudah menghindar. Bergerak memutar ke belakangku, memiting tangan kananku yang memegang pedang ke belakang. aku bisa mendengar suara pedangku yang jatuh menghantam tanah. Aku mengumpat pelan. Pedang jelas bukan pilihan yang bijak untuk bertarung dengan vampir.

“Sudah kukatakan aku tak berminat.” Dia berbisik di belakang telingaku, membuatku merinding mendengar suaranya yang dingin bermelodi.

Dasar vampir penggoda. Aku bergerak, menyodok perutnya dengan siku tanganku yang bebas. Satu putaran cepat dan aku berhasil menendang perutnya dengan keras sampai dia mundur beberapa langkah. Dia meringis kesakitan, dan memandangku dengan tatapan tajam.

Aku tak memberinya waktu lagi karena dengan gesit aku sudah meraih busur dan anak panahku yang tersampir di punggungku. Aku harusnya sudah melepaskan anak panahku tepat ke jantungnya. Tapi aku berhenti, entah kenapa merasa berdebar dan ragu melepaskan anak panahku ke jantungnya, seolah ada ada bagian dari diriku yang tidak ingin melukainya.

Terdengar suara debuman yang sangat keras dan aku melihat Ar di kejauhan sana, sudah jatuh dan berlumuran darah dengan Lucius di atas tubuhnya. Wajah Lucius sudah begitu dekat di wajah Ar. Taring Lucius hanya berjarak sejengkalw dari lehernya.

“TIDAK!” jeritku seraya melepaskan anak panahku ke arah Lucius. Aku mendengar jeritan Lucius menggema di hutan bersamaan dengan tubuhku yang terlempar ke arah lain. Sial, lagi-lagi aku melupakan lawanku sendiri.

Aku menggerang, merasakan seluruh tubuhku yang kesakitan karena menghantam pohon. Reven berjalan mendekat ke arahku dan aku menyadari bahwa busur dan anak panahku terlempar jauh dariku.

“Seandainya aku boleh membunuhmu. Sudah kulakukan itu sejak pertama kau berjalan dengan sikap pemberani yang palsu ke dalam hutan ini.”

Aku beringsut bangun. Kalah cepat dari gerakan Reven. Dia mencengkram wajahku dengan satu tangannya. Kurasakan kulit tangannya yang begitu dingin dan tajam kuku tangannya di kulitku. Wajahnya begitu dekat sehingga aku bisa melihat betapa mengerikannya tatapan matanya padaku. Tatapan kebencian yang dalam.

“Jika ternyata bukan kau–“

“Lepaskan dia, vampir busuk.”

Reven menoleh, melepaskan tangannya dari wajahku dengan kasar. Setengah membuatku kembali terjerembab, ketika dia berputar dengan cepat, menangkap anak panah Ar yang mengarah kepadanya.

“Sia-sia saja.” Remehnya ketika seperti tanpa usaha keras dia membuat anak panah dalam genggamannya hancur. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah, tak terbaca.

“Kita pergi, Lucius.” Ucapnya datar.

Bola mataku melebar ketika dia lenyap, pergi dengan sangat cepat meninggalkan kami tanpa membunuh kami. Kulihat Lucius, meskipun dengan lambat dan anak panah yang mungkin tidak tepat melukai jantungnya, bergerak menjauh ke arah tempat Reven pergi.

Ar berlari ke arahku dengan mencengkram tangan kanannya, “Apa kau terluka parah, Rena? Apa yang dilakukannya padamu?” Ucap Ar cepat sekali dan telihat sangat gugup, sementara mataku justru tertuju pada lengan kanannya yang mengeluarkan banyak darah.

“Kau terluka, Ar.”

Aku berusaha menyentuhnya ketika dia menarik lengannya menjauh, “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit ceroboh. “

“Karena terlalu memperhatikanku dan tidak fokus pada pertarunganmu sendiri?” sergahku. Aku tahu kemampuan Ar dan dia tidak akan terluka separah ini hanya karena melawan satu vampir.

Ar terlihat tak peduli pada ucapanku dan justru menjatuhkan tubuhnya, duduk di sampingku, nafasnya masih memburu, “Ini aneh.”

Mengabaikannya, aku beringsut, merobek ujung pakaianku dan membebat luka Ar. Dia tidak menolak dan hanya berjengit pelan ketika aku mengikat lukanya terlalu erat.

“Kenapa mereka pergi begitu saja tanpa membunuh kita?”

“Hentikan omong kosong tentang makhluk-makhluk itu. Kita selamat dan itu sudah cukup. Vampir bernama Reven itu memang sudah terlihat sangat an–“

“Siapa namanya?” Ar menyelaku dengan wajah panik.

“Reven. Vampir yang lain memanggilnya seperti itu.”

Wajah Ar memucat, dia bangkit dengan cepat, mengabaikan semua rasa sakit dan luka di tubuhnya, “Kita kembali ke kastil pelatihan sekarang juga, Rena.”

“Ar, ada ap–“

“Sekarang, Rena.” Ar memandangku dengan tatapan yang jelas menunjukkan bahwa dia tidak menerima penolakan atau pertanyaan apa pun. Aku menyerah, bangkit dan mengikutinya yang berjalan ke arah luar hutan, tempat kuda-kuda kami terikat.

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Iya ini versi revisinya. Silakan dibaca dan tinggalkan komentar. Yang pedes juga gpp, untuk membuat cerita ini lebih baik ke depannya. 😀

  2. bagus sekali..tapi menurut saya terlalu banyak dialog yang terputus, awalnya memang menarik. tapi kalau terlalu sering, akan terlihat mengganjal. thanks

Leave a Reply

Your email address will not be published.