Half Vampire – Awal

 Kami bertiga kembali ke kastil ketika matahari sudah terbit. Dalam dia dan tenggelam dengan pikiran masing-masing kami melangkah memasuki pintu utama kastil. Aku menoleh pada Reven dan Damis dengan tidak bersemangat, “Aku akan kembali ke ruanganku.” Ucapku pelan.

“Kami bisa menemanimu.” Saran Damis dengan tulus.
Aku menggeleng, “Aku baik-baik saja, Damis.” Aku mencoba tersenyum dan dia menatapku dengan ragu. Reven hanya memandangku tanpa sedikitpun ekspresi yang bisa kubaca di wajahnya. Aku menarik nafas panjang-mulai terbiasa kembali dengan akktifitas bernafasku-, aku tahu mereka mengkhawatirkanku. Ini baru beberapa jam setelah aku menyelesaikan pembunuhan pertamaku. Darah manusia pertamaku. Kehidupan vampirku yang sebenarnya baru dimulai, dan aku paham bagaimana mereka mungkin takut aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagi diriku sendiri.

Damis mungkin melakukannya karena memang dia seperti itu dan Reven, aku memandangnya sekali lagi, melakukannya karena memang inilah tugasnya. Menjaga agar aku tidak menimbulkan masalah dalam kelompok besar. Menjaga agar aku tetap menjadi seorang calon ratu yang berada dalam kontrolnya.
“Aku hanya ingin beristirahat.” Kataku melanjutkan, “Aku sungguh baik-baik saja.”
Menunggu apa reaksi yang akan mereka berikan kepadaku itu menyebalkan, tapi akhirnya ketika Damis mengangguk dan Reven meninggalkanku dan berjalan ke lorong yang menuju ke ruangannya sendiri, aku merasa lega.
“Beristirahatlah.” Damis memelukku singkat, “Jika kau membutuhkanku, kau akan tahu dimana kau bisa menemukanku.” Dia menunjuk hidungnya, “Penciuman.” Bisiknya sebelum dia melangkah ke arah lain, melambaikan tangan dan tersenyum riang kepadaku.
Aku balas tersenyum, singkat. Dan melangkah dengan berat menaiki tangga menuju ruanganku sendiri. Aku benci tempat ini. Terlalu sepi dan aku benci suara-suara yang masuk ke telingaku. Bunyi desiran angin di luar sana, suara langkah kakiku, langkah kaki laba-laba, langkah-langkah. Aku benci semua yang masuk ke telingaku.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat dan dalam beberapa detik saja aku sudah berada di dalam ruang pribadiku. Aku duduk dengan memeluk lututku, mengamati pagi yang membungkus bumi di luar sana melalui jendelaku. Akankah ada masa dimana aku kembali bisa menikmati siang yang kumiliki dalam satu hariku? Tidakkah mungkin bagi seorang vampir untuk berlari di bawah sinar matahari?
Jadi apa sekarang aku menyesalinya? Menjadi seorang vampir?
Tidak.
Aku tahu aku tidak menyesalinya. Entah karena apa aku tahu bahwa aku memang sudah memasrahkan semua kehidupanku kepada takdir yang menungguku. Aku membaringkan tubuhku dengan masih memeluk lututku. Memandang kosong ke arah lain dan tenggelam dalam kenangan milik korban pertamaku. Kubuka mataku dan kelebatan kenangan itu masih memerangkap penglihatanku.
Orangtua malang, bisikku entah kepada siapa. Jadi seperti ini rasanya ketika sudah menyelesaikan fase kelaparan pertamaku. Kosong. Ya, aku tidak tahu memang prosesnya seperti ini atau hanya aku saja yang merasakannya. Tapi jujur aku benar-benar merasa kosong. Hampa. Seolah-olah aku adalah orang yang telah aku bunuh itu. Tenggelam dalam semua kenangannya dan merasa mati.
Aku mengalihkan pikiranku dan mencoba memikirkan hal lain selain kemalangan-kemalangan yang diterima korban pertamaku dalam kehidupannya. Aku bersyukur aku membunuh orang itu, setidaknya aku membuatnya tidak menjadi petani paling miskin di desa lagi. Aku memberinya kebebasan jiwa dengan mati di tanganku. Darahnya memberiku kehidupan dan aku tidak akan melupakan itu. Aku tidak akan lupa. Kelopak mataku menutup perlahan dan aku mencoba mengistirahatkan pikiranku.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Sial. Aku bisa menghitung dengan benar jam-jam yang kulewati dengan hanya memejamkan mata dan mencoba tidur.
“Tidurlah selagi kau bisa merasakan seperti apa tidur itu.”
Aku ingat kata-kata Reven itu dan sekarang aku paham apa maksudnya. Aku membuka mataku dan mengumpat kasar. Vampir tidak tidur. Itu masalahnya. Vampir tidak tidur, tidak bernafas, tidak berkeliaran ketika siang hari, tidak makan makanan manusia. Tidak.. aku berhenti berpikir hal menyebalkan tentang apa yang tidak dilakukan vampir. Itu malah membuatku kesal.
Dengan satu gerakan aku melompat turun dari tempat tidurku dan melangkah ke kamar mandiku. Mengusap wajahku dengan air yang ada disana. Apa vampir juga tidak mandi? Mendadak tawaku pecah dan aku merutuki kebodohanku sendiri menanyakan hal itu. Setidaknya satu hal yang jelas bagiku, vampir mencoba hidup seperti manusia.
Aku melangkah pelan keluar dari kamar mandi, membuka jendela kamarku lebar-lebar dan melompat duduk ke tepian jendela. Membiarkan kakiku menjuntai ke bawah, aku memandang berkas-berkas matahari yang dengan lemah mencoba menerobos kumpulan awan gelap di atas sana.
Vampir mencoba hidup seperti manusia.
Aku mengulangi pemikiran yang muncul di kepalaku itu. Menyentuh dadaku dan menyadari ada detak jantungku disana. Aku melakukannya, menyuruh jantungku berdetak, meminta paru-paruku mengontrol pernafasanku. Aku seolah-olah memang masih manusia. Aku tersenyum kecil. Menyenangkan memang melakukan ini. Bermain menjadi seperti manusia. Tidak heran jika hampir semua vampir yang kutemui terlihat bernafas dan berdetak seolah mereka hidup sebagai manusia.
Memejamkan mataku perlahan, aku menghirup bau angin yang menerpa wajahku dengan lembut. Bau alam. Bau pohon di hutan di kejauhan sana dan bahkan bau padang bunga ungu yang khas. Aku bahkan tidak menyadari bau ini ketika aku masih menjadi manusia. Kupikir bunga-bunga ungu di padang itu selama ini tidak memiliki aroma, namun sekarang aku bisa menciumnya. Meski dalam jarak sejauh ini, aku bisa mencium aroma segar yang dibawa pergi dari bunga-bunga tersebut. Inikah alasannya kenapa aku merasa tempat satu itu selalu membuatku merasa nyaman?
Kubiarkan diriku menikmati semua kelebihan yang kumiliki sebagai vampir dengan duduk di jendela ini selama beberapa jam yang tak bisa kusadari. Aku terlalu sibuk berbincang dengan alam melalui bau dan suara. Menikmati sesuatu yang dulu sama sekali tidak aku sadari, hingga tanpa sadar pula, langit di luar telah benar-benar gelap. Ini bukan gelap karena awan gelap atau mendung, tapi gelap karena hari memang sudah berganti malam.
Aku berputar dan melangkahkan kakiku turun dari jendela. Rasanya pegal juga mengantungkan kaki seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Tapi berkomunikasi dengan alam yang tadi kulakukan, interaksi itu.. mungkin aku akan sering mengulanginya lagi. Aku punya terlalu banyak waktu yang tidak kugunakan dan aku tidak tidur. Apakah ada pilihan lain selain menghabiskan waktuku untuk menikmati alam, membersihkan jiwaku dalam dekapan alam.
Tanpa sadar aku tersenyum, memandang keluar untuk terakhir kalinya sebelum aku berbalik dan berjalan keluar dari ruang pribadiku. Terus terang aku juga tidak tahu mau kemana. Apa sebaiknya aku mencari Damis? Sepertinya itu bukan ide yang buruk.
Dengan perlahan aku membiarkan kakiku melangkah. Entah kenapa aku mendadak memutar arah, bukannya berjalan menuju tangga dan turun ke bawah, aku malah berjalan ke arah lain. Menuju balkon di lantai ini. Aku sudah lama tidak disana.
“Mencari angin segar, Sherena?”
Aku menoleh terkejut mendapati Reven duduk dengan tenang di satu-satunya kursi kayu panjang di tempat ini. Aku mengerutkan dahiku, bagaimana bisa aku tidak menyadari ada orang lain disini? Sepertinya aku perlu mengasah kemampuan vampirku terkait hal ini.
“Hanya melihat-lihat.” Jawabku pendek, terus berjalan ke depan dan berhenti begitu mencapai tepian balkon. Menyentuh dinding batu yang tingginya hanya sebatas pinggangku. Aku hanya diam dan menikmati berada disini. Aku selalu suka tempat ini, bunga-bunga, tanaman dan pemandangan yang menghiasai tempat ini. Aku ingat disinilah pertama kali aku berbincang dengan Damis dan membicarakan tentang Noura. Aku juga mengingat bagaimana aku sangat berharap bisa melihat matahari terbit darisini, tapi seperti yang itu belum terwujud sampai sekarang karena selain aku jarang bangun pagi-pagi, tempat ini bahkan kekurangan sinar matahari dan aku cuma sekali melihat penampakan matahari yang benar-benar matahari, bukan hanya berkas cahaya yang berpendar lemah di balik awan mendung.
“Sepertinya ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik.”
Aku menoleh ke samping dan Reven sudah berdiri tegak di sampingku. Matanya lurus menatap ke depan. Kenapa dia mendadak bertanya seperti itu, seperti bukan Reven saja. Aku terbiasa dengan sikap jahat dan dinginnya. Lalu kenapa sekarang bertanya seperti itu, seolah-olah dia memperhatikanku saja. Atau dia cuma ingin berbasa-basi? Sama sekali bukan tipe Reven. Kurasa dia lebih baik tidak mengacuhkan aku seperti biasanya dan hanya duduk diam di tempatnya semula, menganggap aku tidak ada disini. Ya, itu baru Reven.
Dia menoleh ke arahku ketika tidak mendengar suaraku. Aku buru-buru memalingkan wajahku dan kembali memandang ke depan, “Tidak ada apa-apa.” Jawabku.
“Apa kau merasa terganggu dengan kenangan korbanmu?”
Aku menoleh cepat ke arahnya, “Tadinya. Tapi bagaimana kau tahu?”
“Kita semua mengalaminya.” Katanya dingin. Matanya kembali memandang lurus ke depan dan aku memaki tanpa suara. Aku tidak pernah bisa membaca sedikitpun emosi Reven dari ekspresi wajahnya dan juga sama sekali tidak bisa menerjemahkan bahasa yang ada di matanya. Jadi aku cuma punya satu pilihan, menunggunya bicara.
“Setiap darah yang masuk ke tubuh kita memiliki ingatannya sendiri. Ingatan milik korban-korban kita. Awalnya mungkin akan sangat menganggu dan membuatmu jengkel, tapi lama kelamaan kau akan terbiasa. Anggap saja seperti kau sedang menonton kehidupan orang lain.”
Apa Reven sedang memberikan saran kepadaku? Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali hanya untuk sekedar mengetes apakah memang Reven yang ada di sampingku dan bukannya Damis. Ketika selesai melakukan itu dan sosok tegap dan tinggi Reven masih tetap sama, aku berasumsi bahwa mungkin hari ini suasana hatinya sedang bagus jadi dia bisa bersikap baik padaku.  Dan tadi dia mengunakan kata ganti kita? Dia benar-benar aneh kali ini.
Aku mengamatinya, “Bagaimana kenangan milik korban pertamamu?”
Reven tersenyum penuh misteri, “Sangat buruk. Yang kubunuh adalah manusia paling tidak berguna yang setiap hari cuma menghabiskan hidupnya dengan bermain perempuan dan memukuli istrinya. Aku menyesal meminum darah orang itu sebagai pengalaman pertamaku.”
Aku menyentuh wajahku dan menepuk pipiku beberapa kali. Dia benar-benar Reven? Bagaimana bisa dia bersikap akrab begini denganku? Dia bahkan menjawab pertanyaanku dan menceritakan tentang pengalaman pertamanya sebagai vampir kepadaku.
”Ada apa?” dia bertanya dan memandangku.
“Tidak.” Aku menggeleng cepat, “Hanya merasa tidak terbiasa. Kita tidak pernah berbincang banyak sebelumnya.” Tuturku pelan, dan dia mendengarkanku dengan baik. Dia mengangguk, lalu kembali memutar lehernya dan memandang ke depan.
“Aku sudah memutuskan.”
“Apa?” tanyaku tidak mengerti. Reven memutar tubuhnya dan berdiri menghadap ke arahku, aku balas memandangnya dengan kikuk. Ada apa ini? Aku benar-benar merasa takut dengan sikapnya yang aneh ini.
“Aku sudah memutuskan bahwa aku akan masuk dalam pertarungan ini.”
“Pertarungan?”
“Kurasa aku mulai tertarik untuk memperebutkanmu.” Mulutku separuh terbuka mendengar apa yang dikatakannya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang tengah dikatakannya. Sejujurnya aku hanya takut untuk berpikir bahwa aku mngerti maksudku.
“Aku dan Damis. Kami akan memperebutkanmu dengan adil. Seperti yang kau tahu, Sherena.” Dia melengkungkan senyumnya dan aku menelan ludahku dengan susah payah karenanya, “Akan tiba waktunya bagimu untuk memilih aku atau Damis, laki-laki yang akan mendampingimu dan menjadi pengganti Vlad jika sudah tiba saatnya baginya untuk beristirahat. Dan kupikir, ini mulai menarik. Karena kau sekarang adalah vampir sepenuhnya, bukan lagi manusia lemah setengah vampir. Lagipula aku paling tidak suka menerima kekalahan.”
“Jadi bersiaplah, pertarungan ini akan sangat menyenangkan.” Dia kembali tersenyum dan melangkah maju. Menyentuh leherku dengan tangannya dan menyibakkan rambut yang menutupi leherku. Dia menunduk dan mendaratkan satu kecupan kecil di leherku, “Kupikir kalung milik Noura memang cocok di lehermu. Jadi pakailah, kalung itu memang diperuntukkan untuk seorang calon ratu.” katanya sebelum dia berbalik dan menghilang dari pandanganku.
Aku membeku selama beberpa saat. Tidak yakin dengan apa yang baru saja terjadi. Aku menyentuh leherku. Apa yang baru saja dilakukan Reven? Apakah itu tadi ciuman? Dia menciumku? Lagi?
“Reven..” aku mendesis marah. Kau benar-benar menyebalkan. Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau melakukan itu lagi.
 
***
 
Mata itu terbuka. Bola matanya yang berwarna semerah darah menatap lurus ke depan. Ar dan Morgan menunggu. Menahan nafas mereka dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Detik-detik berlalu seperti dalam hitungan jam. Ketika mendadak kedua sudut bibir perempuan itu tertarik ke atas dan melengkungan senyuman, Ar merasa ini akan menjadi pertanda baik. Semoga saja, pikirnya.
Tubuh itu bergerak perlahan. Victoria menggerakkan lehernya. Begitu pelan seolah-olah dia menikmati kembali merasakan memiliki leher dan daging disana. Dia mengedip dan sepertinya baru menyadari bahwa dia tidak sendirian. “Antonio.” Bisiknya perlahan ketika dia menemukan wajah Morgan.
Morgan menatap Victoria dan sama sekali tidak merasa terganggu dengan tatapan akrab Victoria, “Aku bukan Antonio.” Jawabnya pendek. Victoria mengedip lagi dan dengan satu gerakan dia bangkit dari tidurnya, duduk dengan punggung tegak dan menatap ke wajah Morgan yang kini sejajar dengan wajahnya.
“Kau bukan Antonio?” suaranya begitu lembut dan Ar sadar benar bahwa jika manusia biasa yang mendengar suara melodius Victoria, manusia itu akan langsung tergila-gila dan bertekuk lutut di bawah kaki Victoria. Tapi dia mengerti bahwa Morgan tidak akan terperdaya dengan sihir pesona vampir di depannya itu. Tidak akan semuda itu.
Morgan menggeleng lagi tepat ketika jemari Victoria yang lentik menelusuri pelipisnya dan turun dengan lembut ke pipi dan berhenti di dagunya, “Tapi kau begitu mirip dengannya.” Desah Victoria dan Morgan terpaksa menelan ludah karena mata sayu Victoria yang lurus memerangkap pandangannya. Jaarak wajah mereka bahkan tak sampai tujuh sentimeter.
Dia mundur selangkah dan melepaskan wajahnya dari sentuhan Victoria, “Aku bukan Antonio Freesel. Tapi aku adalah keturunannya dalam puluhan generasi selanjutnya. Namuku Morgan Freesel.”
Anehnya Victoria tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Morgan. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya seolah menyapu kelelahan yang ada disana. dia bergerak lagi dan dengan lembut turun dari dalam peti. Setiap gerakan yang dilakukan Victoria benar-benar sanggup membuat Ar dan Morgan menahan nafas. Victoria benar-benar memukau dalam setiap gerakan yang dilakukannya. Entah mungkin akan menjadi biasa jika dilakukan perempuan lain, namun Victoria. Tidak, dia terlalu menakjubkan untuk diabaikan.
Kali ini Victoria memandang Ar. “Dan kau, penyihir muda. Apakah kau yang membangunkanku dengan darahmu?”
Ar mengangguk dengan gugup, “Y-ya. I-it-itu aku.” Gagapnya.
Suara tawa Victoria yang menggoda menggema di seluruh ruangan ini. Dia berjalan menuruni undakan tangga, melewati Morgan dan terus berjalan beberapa langkah sebelum dia berbalik dan menatap Ar serta Morgan yang masih memandanginya dari dekat peti.
“Meski aku mungkin sudah tertidur begitu lama, sepertinya aku sama sekali tidak kehilangan pesonaku.” Katanya lembut dan beralih kepada Morgan, “Nah, kau, Morgan Freesel, jelaskan padaku berapa lama ini dan bagaimana bisa kau tahu tentangku dan tempat ini?”
Morgan tidak tahu kenapa Victoria mesti bertanya padanya sementara Ar juga berada di tempat ini. Dia merasa bahwa Victoria sangat pandai membaca keadaan dan sangat cerdas. Morgan menarik nafas panjang, mencoba tersenyum, “Seorang vampir perempuan bernama Noura menceritakan perihal keberadaanmu padaku. Dia jugalah yang telah berjuang untuk mematahkan sihir yang mengurungmu di tempat ini. Dan dengan usahanya pula, sekarang aku bisa ada disini dan mewujudkan keinginannya untuk membangunkanmu.”
“Noura?”
Morgan mengangguk,.
“Lalu dimana perempuan itu? Tidakkah dia ada disini untuk melihatku? Aku percaya bahwa tidak mudah menemukan tentang keberadaanku bukan? Bahkan aku yakin bahwa banyak dari kelompokku bahkan berpikir mungkin aku sudah mati, tapi Noura yang kau sebut ini, aku akan sangat tersanjung bila aku bisa menemuinya.”
Ar melangkah maju, mendekat ke arah Morgan dan dia berkata dengan sedih, “Sayangnya Noura sudah mati. Dia tidak akan pernah ada disini untuk menyadari bahwa apa yang selama ini dicarinya telah membuahkan hasil.”
Mata Victoria mendadak menjadi fokus dan dia mengamati reaksi Ar dan Morgan ketika dia bertanya dengan tenang, “Apakah Noura, yang kalian bicarakan ini adalah seorang calon ratu kaumku?”
Mata Ar terbelalak, “Bagaimana kau tahu?” jeritnya tanpa sadar.
Victoria berdecak, “Aku tahu. Aku melihatnya di masa depan yang kulihat dulu. Perempuan cantik itu, sayang sekali.” Katanya dengan kekecewaan yang jelas. Dia sama sekali mengabaikan pandangan ingin tahu Morgan dan memandang ke arah undakan batu di sisi lain.
“Apakah ini siang hari?”
“Menjelang petang.” Sahut Morgan. Dia melangkah mendekat ke arah Victoria yang langsung menatapnya dengan pendaran mata yang menggoda. Entah bagaimana dia melakukannya, Morgan sadar bahwa Victoria begitu menarik. Tapi dia tidak akan tertipu. Tidak. Dia punya tujuan yang sangat jelas kenapa dia membangunkan perempuan di depannya ini. Dan dia tidak akan menyerah hanya karena pesona Victoria. Dia menguatkan dirinya sendiri dan melangkah dengan tegap. Dia berhenti tepat dua langkah di depan Victoria.
“Tolong.” Katanya sopan, “Aku memohon dengan sangat padamu, Victoria Lynch. Hanya kaulah yang bisa mengatasi semua masalah ini. Kesalahpahaman antara bangsaku dan bangsamu. Kutukan calon ratu. Vlad. Kaulah satu-satunya harapan kami.”
Ar membatu mendengar perkataan Morgan yang tenang. Jika tentang kesalahpahaman antara manusia serigala dan vampir, dia bisa mengerti karena Morgan telah menyeritakan kepadanya. Tapi kutukan calon ratu? Vlad? Ada apa ini sebenarnya. Calon ratu bukanlah kutukan, dia ingat dengan benar bagaimana dulu Dev memberinya penjelasan mengenai masalah ini. Dia juga ingat bagaimana Reven juga memberikan keterangan yang tak jauh berbeda dengan yang dikatakan oleh Dev. Calon ratu bukanlah kutukan.
Lalu Vlad? Mungkin benar dia mengikuti Morgan sampai ke tempat ini karena Morgan mengatakan Rena mungkin saja sedang dalam bahaya. Tapi dia sama sekali tidak ingat bahwa Morgan juga menyebut nama Vlad. Tidak. Ar benar-benar yakin jika Morgan memang tidak mengatakan hal itu kepadanya. Buku-buku jarinya memutih karena dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Morgan sudah menyembunyikan banyak hal darinya. Dia melangkah maju dan sudah akan berteriak marah kepada Morgan ketika dia mendengar suara Victoria yang lembut.
“Jadi itukah yang harus kubayar karena kau sudah membangunkanku?”
Morgan mengangguk tegas, “Kau satu-satunya harapan kami untuk kehidupan yang lebih baik di dunia ini. Kau satu-satunya yang bisa menghentikan Vlad.”
“Vlad?” mata Victoria menerawang. Wajahnya menjadi dingin. Baik Morgan maupun Ar merasakan dengan jelas perubahan suasana hati Victoria dan mereka tidak melakukan apapun selain menunggu apa yang akan dilakukan olehnya.
“Aku membenci nama itu.” Dia berbalik tanpa menunggu dan berjalan dengan cepat menaiki undakan batu, menuju keluar.
“Victoria!” Morgan berteriak mengejarnya. Perempuan itu berhenti dan berbalik menatap Morgan, “Bisakah kau membiarkan aku mencari darah terlebih dahulu. Aku..” dia mengigit bibir bawahnya, “..tidak merasa puas hanya dengan setetes darah.”
Morgan menggeleng panik, “Tapi kau adalah. Kau har-“
“Aku akan melakukannya. Pergilah dan aku akan tahu kemana aku akan menemukanmu dan membantumu dalam hal ini.”
“Apa aku bisa memegang kata-katamu?”
“Kau benar-benar terlihat seperti Antonio.” Dia tertawa. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, dia berbalik dan kembali berlari. Bahkan Morgan tidak bisa mendengar jejak langkah Victoria karena sosok itu sudah lenyap.
“Dia pergi?”
Morgan menoleh dan menemukan Ar berada di sampingnya, memandang ke tempat dimana sebelumnya Victoria berdiri. Dia mengikuti arah pandang Ar dan mengangguk, “Ya.” jawabnya seraya melangkah pelan. Ar berjalan di belakangnya. Mereka menaiki undakan batu menuju keluar dalam diam. Sama sekali tidak ada suara yang keluar meskipun mereka tahu bahwa masing-masing dari mereka meemiliki pertanyaan yang sangat banyak dan pikiran yang penuh dengan spekulasi-spekulasi.
Udara dingin menerpa wajah Morgan ketika akhirnya dia mencapai pijakan batu terakhir. Ar melangkah pelan di belakang dan berdiri menjajari Morgan. Matahari bersinar temaram di ujung barat dan meninggalkan bercak-bercak cantik berwarna orange bersemburat tak beraturan di langit.
“Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku, Morgan Freesel.”
“Ya, aku tahu Arshel.”
Mereka berdua melangkah, meninggalkan tempat ini dan menuju arah yang seharusnya menjadi destinasi awal mereka, kastil ras vampir.
 
***
 
Aku benar-benar benci sikap Reven yang seenaknya sendiri terhadapku. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini setelah sikap dingin dan jahatnya kepadaku selama ini? Apa dia pikir bisa semudah itu mendapatkan apa yang dia mau hanya dengan menciumku. Aku mendengus kesal. Coba saja dan dia hanya akan mendapatkan pukulan dariku. Aku janji, sungutku sambil berjalan menuruni tangga. Reven benar-benar sudah menghilangkan keinginanku untuk menikmati pemandangan dari balkon dengan kelakuannya tadi.
“Sherena.”
Aku mengangkat wajahku dan menemukan Russel di undakan tangga terakhir, memandangku dengan tatapan penuh tanda tanya. Aku buru-buru tersenyum, “Russel, lama tidak melihatmu.” Sapaku riang dan aku melangkah mendekat padanya. Dia mengangguk.
“Ada banyak masalah dan aku harus menyelesaikan semuanya.”
Wajah Russel terlihat begitu lelah dan dari suaranya aku bisa menebak bahwa banyak yang berjalan tak sesuai dengan keinginannya. Aku menepuk pundaknya pelan, “Sepertinya kau butuh teman berbincang. Aku tidak keberatan melakukannya jika kau mau.”
Russel tersenyum, “Tidak, Rena. Terima kasih. Aku tidak lama disini. Aku harus bertemu dengan Vlad dan mengabarkan sesuatu yang mungkin saja akan membuatnya marah. Tapi tidak apa-apa, aku yakin aku akan baik-baik saja.” Tambahnya buru-buru ketika melihat keterkejutan di wajahku, “Lagipula setelah itu aku bisa bertemu dengan Lucia. Aku sangat merindukannya. Dan melihatnya lagi setelah waktu yang cukup lama akan bisa mengobati semuanya.”
Mataku memandang Russel dan aku merasa kasihan padanya. Kenapa orang sebaik dia harus memasrahkan semua hatinya pada perempuan seperti Lucia? Aku tahu aku tidak berada dalam ruang dimana aku patut ikut campur dalam urusan mereka. Namun sebuta apapun, semua orang pasti menyadari bahwa Lucia memiliki ketertarikan yang lebih besar kepada Reven dibandingkan kepada Russel. Dan Russel? Kenapa dia benar-benar keras kepala mempertahankan seorang Lucia untuk tetap menjadi calon pengantinnya? Aku benar-benar tidak mengerti.
“Sherena..” panggilnya membuatku mengerjap dan minta maaf dengan buru-buru karena aku justru melamun ketika dia sedang berbicara padaku. Russel hanya tersenyum dan mengangguk, “Tidak apa-apa.” Katanya lagi.
“Bolehkah kupastikan sesuatu tentangmu, Rena?” tanyanya terdengar hati-hati.
“Apa itu?”
Dia menatapku dengan ragu, namun akhirnya memutuskan untuk bicara, “Apakah akhirnya, jiwa Noura yang bersemayam di tubuhku sudah lenyap dan kau telah menjadi vampir sepenuhnya tanpa bayang-bayang kehidupan Noura lagi?”
Aku tertawa kecil, mengangguk, “Ya.” jawabku.
“Syukurlah.” Tanggapnya lega. Lalu mendadak wajahnya berubah penuh simpati, “Aku juga mendengar tentang apa yang terjadi pada Deverend Corbis, aku benar-benar menyesal mengetahui hal itu, Rena. Aku tahu kau dulu sangat dekat dengannya.”
Raut wajahku berubah dan Russel masih terus bicara tanpa menyadari bahwa dia telah membuatku mengingat kembali tentang kematian Dev, “Namun bagaimanapun kuharap hal itu tidak akan mempengaruhimu terlalu jauh, Rena. Kau harus menjadi calon ratu seperti Noura, kuat, dan bisa diharapkan. Aku akan sangat senang bila menemukanmu bisa menjadi sosok yang setegar dia.”
“Semoga saja.” Kataku tanpa semangat, “Tapi aku tidak akan pernah melupakan Dev seumur hidupku. Sebagai sesorang yang pernah mengisi kehidupanku dengan cinta dan persahabatan, Dev benar-benar punya ruang khusus di benakku. Tapi kau tidak perlu khawatir, ini tidak akan berefek apapun pada kehidupanku sebagai seorang calon ratu.”
“Aku senang melihat kau sudah berubah “
Aku tertawa, “Aku tidak bisa tetap menjadi perempuan cengeng dan lemah sementara semua orang di kelompok ini punya harapan yang begitu besar terhadapku.”
Dia mengangguk, “Aku mengerti.” Katanya senang. “Nah baiklah, aku harus segera ke ruangan Vlad sekarang dan bersiap menerima kemarahannya. Sampai jumpa lagi, Sherena.”
Aku tersenyum dan mengangguk, memandang punggung Russel yang menaiki tangga sampai dia menghilang ke arah yang menuju ruangan Vlad. Entah kenapa aku mengkhawatirkannya.
 

Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

54 Comments

  1. Yyyeeeeeyy,, udh posting,, thank's author yang cool pake banget,, di tunggu selalu next chapternya yaaaaa,, blow kiss,, muachhh hehe lebay

  2. Aduh saya meleleh deh ka sama katakatanya reven awww awww.
    Bikin salting mesem mesem sendiri khas reven bgt aaaaa
    Lanjutin ka!
    SEMANGAAATT!^O^

  3. OMG
    Reven kyanya mulai beraksi deh buat ngambil hatinya Rena kkk
    perlu seribu jurus tuh buat luluhin hatinya Rena haha
    Makin penasaran thor, keep writing ditunggu next chapternya
    Semangattttt ^^

  4. akhirnyyyaaa,,, update lagi,,,,
    duh Reven jadi nakal yoo,,, hahaha…
    tapi aku mau nebak dikit nih,, jgn2 kutukan calon ratu itu,,,, MAti!! hahahah
    soalnya inget ama crt Vlad, Noura,, trus skrg Sherena… yg di tolong mati2an ,,, iyuuhhh,,, penasaran tingkat dewaa,, bnran,, update nya jgn lama2 yah authorr…

  5. Aku setuju, harus ada alasan yang kuat dan berchapter-chapter yang kita bisa lihat bahwa Reven bener2 berubah #hahamodus aaak!! Aku mau scene romantis Rena Reven kaaaaaak

  6. Jd agak gmanaaaaaa gtuuu sama si Reven 😀
    Jd makin pnasaran sama sosok Victoria nihh!! Abisnya.. penulian untuk karakternya KEREN BGT!! Jd ngebayangin gmna klo nyatanya, kaya siapayaa??? 😀
    Buat Authornya SEMANGAT TERUSSSS DEHHH!! SEHAT SLALU, DAN TIAP MINGGU UPDATE NEXT PARTNYA!!?? 😀

  7. Hahahaha. Aku tahu pasti akan ada komen seperti ini.
    Tapi tenang saja, aku sudah punya jawabannya. Next chapter ya.
    Cerita ini di lappy sudah end kok.
    AH btw, Reven ini emang geje. -___-

  8. Reven hanya perlu menjadi baik dan lembut maka semua perempuan akan menyukainya. Sayangnya yah.. dia susah suruh jadi baik dan lembut. Hahahah

  9. Eh iya, Reven nakal. Tsk tsk tsk..

    Kutukan calon ratu?? Mati??
    Hahahha RAHASIA. Tapi kalo tentang kematian, bagaimana ya menjelaskannya.. Emmm :X

  10. Tenang saja, jawabannya tentang kenapa Reven begini ada di next chapter.. Jadi.. tunggu yah 😛

    Ahh aku dimodusin biar upload cepet ya? Muahahahah, ga mempan 😛

  11. Asik partnya reven sama rena bayak:D!!! Hahahahaha lagi lagi lagi.. Btw thor pengen deh liat reven cemburu banget sama rena:3 Whahahahaha *ketawa setan*. Ceritanya selalu keren kok thor, mungkin kurang panjang dikitlah….

  12. wah wah mkin tegang aj nich,,
    jd merinding tingkt 15,,,,hiiiiiiiiiii
    bkl ad mslh ap lg y?
    trus yg di maksud ktukan calon ratu ap y?
    mksudnya rena dlm mslh gtu,,,
    hadoh ga sbar nunggu minggu dpn…

  13. Akhirnya update juga.. Aduh.. Author ini.. Senengnya main potong2 deh.. Bikjn penasaran aja ni.. Ada apa antara victoria dan vlad thor??? Kok kayanya si victoria lbh deket ma antonio dan benci vlad?? Trs kutukan calon ratu jg blm di jelasin thor.. Besok update lg y thor.. Hehehehe.. #nyengir lebar

  14. Ayo Rena! Aku dukung kamu buat ngasih pelajaran sama Reven.
    Lain kali kalo butuh bantuan menghajar Reven, aku bantuin deh.
    Bantuin doa aja yah. Soalnya aku agak takut, doi vampire sih. Wkwkwk.

  15. Waduh…si reven makin ga' jelas aja tingkahnya…sebenarnya mau dia apa sih….tiba-tiba jd baik gitu… Ditunggu klanjutannya:)… minggu depan dua chapter skaligus yah thor…pleaseeee, kumohonnn!!!!

  16. Asiiiik…akhirnya update juga nih!!!
    Lanjuuut dong…pasti masih panjang nih ceritanya…masih penasaran banget sama lanjutannya…
    Keep fighting

  17. Reven kau terlihat aneh
    apa-apaan begitu? muehehehhe romantis+Reven= -__-" *rumus baru
    Russel mau laporan tentang apa yah? *mikir
    Minta kasih tau Kakak author aja deh di part berikutnya hehehe

    dan kutunggu persaingan Reven vs Damis *moga aja pada serius tandingnya

    Kutukan calon ratu? itu problem apa ya??

    Penasaran lagi nungguin updaten selanjutnya 😀

    Keep Writing, Kakak!

  18. bagus, kak! tapi gak bisa se gregett part" sebelumnya. kesannya di part ini agak hambar. maaf ya kak 🙁 kak amoura pasti bisa.. kutunggu terus kelanjutan kerja kerasmu, kak! ciao…

  19. Hay kak, aku readers baru loh >.<
    Aku mulai baca 2 hari lalu dari chap awal, udah nyampe chap terakhir ini :3
    *maniak*
    Aaa ceritanya keren kak, salut *.*
    *applaus*
    Jujur si agak kecewa si dev ga ada 🙁
    Tapi ya sudahlah, seperti air mengalir aja TT_TT ~ *nangis darah*
    Di tunggu next chapter, semoga ada bagian yang greget :p
    Tetep semangat yah kak, Ganbatte ne~ ^.^9
    Arigatou :3

  20. Banyak masalah di cerita ini. ><
    Hemm kutukan calon ratu?? Akan ada chapter nantinya yg akan menjelaskan tentang ini. Ditunggu saja yahhh 😛

  21. Hahahah.. rumus anehhh ya. Reven serunya kalau tetep cool.
    Russel?? diakan dalam tugas (rahasia) mungkin dia mau melaporkan hasilnya pada Vlad.. mungkinnn 😛

    persaingan Damis dan Reven?? Semoga fair ya mereka.

    Selamat menunggu part selanjutnya 😀

  22. Haloooo 🙂
    Aaakk makasii makasii.. ngebut baca HV. *blushing*

    Yap, banyak juga yg menyayangkan soal kematian Dev tapi tapi… what should i do? Dev sudah pergi dan.. tidak mungkin kembali. 🙂

    Semangat semangattt..
    頑張ります。

    いいえ、度いたしまして。:)

  23. Hai salam kenal ^^ sist.. Saya ' L'.
    Waah pas awal baca udah dapet feelnya. Ga merasa bosan meski berlembar dan beribu-ribu huruf yang saya baca. Emm.. Authornya saya ancungin jmpol 4. *keren* pake banget.
    Saya bacanya dari malam sampai siang (hampir krng dr 24 jam.) lupa sma segala2nya. Bela-belain ga tidur sampai akhir. Tapi Hiks.. T,T sedih pas ternyata bersambung..

    Alur jelas, PoV jelas, rpih, konflik dan intrik-nya dapet, pnggambaran karakter masing2 tokoh meski tersirat tapi begitu mdah dipahami (bagi saya), typos sedikit bngt. Setiap chap menurut sya tidak ada yang hambar. Ceritanya juga brjalan konsisten sejauh ini. Buat saya yang membacanya hanyut terbawa ke dalamnya. Emosi saya meletup2 bahkan dari awal smpai akhir chap ini. Kdang tegang, bingung, penasaran, seneng, sedih smpai nangis pas bagian Dev mati (T-T), kadang merinding, kesel, deg2an, marah, bergairah sewaktu2 pas adegan tertentu. Pkoknya emosi sya di porak-porandakkan oleh cerita HV.
    Sya hrap ada adegan romantisnya di akhir nnti.. *amin*
    Maaf ya thor, commentnya panjang.. Hhe.. Aggaplah saya lebay/ brlebihan comment spanjang ini. Tapi saya merasa harus memberikan pnghargaan secara pribadi kepada sang author berbakat satu ini. Saya sangat menganjurkan novel ini dikirimkan ke penerbit untuk di terbitkan. Atau mungkin bisa kirim ke produser untuk difilmkan. Agar dunia tahu karya menakjubkan ini.
    Semangat terus untuk melanjutkan thor. Saya sangat menanti chap berikutnya. Sepertinya saya sudah jtuh cinta sama cerita HV. Terimakasih sudah menyuguhkan bacaan yang menarik dan menghibur :))

  24. Ah aku baru baca komen ini dan… aku terharu banget. Hei, L.. makasii yah makasiii banget sudah komen sepanjang ini, sudah mencurahkan semua yang kamu rasakan ketika membaca ceritaku ini. Benar-benar makasiii, itu sesuatu yang sangat berharga buatku.
    Rasanya sangat-sangat bahagia. :'))

    Tetap baca HV dan cerita-ceritaku yang lain ya, L. Jangan bosan-bosan nulis komentar panjang-panjang kayak gini karena aku akan sangat senang membacanya.
    Semoga cerita ini tidak akan mengecewakanmu.

    😀

  25. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.