Half Vampire – Calon Ratu

BRAAKKKKK

Aku dan Dev nyaris terlonjak kaget dan bersamaan menoleh ke asal suara berisik itu. Dan aku melihat pintu kamarku menjeblak terbuka, di dobrak secara paksa. Dan jantungku nyaris berhenti sejenak begitu aku mengenali sosok pemilik mata coklat yang tengah menatapku dengan tatapan terkejut dan penuh tanya.

“Arshel..” lirihku

“Rena. Dev?? Apa yang ka-kalian lakukan?” teriaknya marah memandang aku dan Dev bergantian. Dan matanya melebar menatap tangan Dev yang masih menyentuh pinggangku.

“Tidak Ar. Bukan. Tidak-tidak seperti itu. Sungguh tidak seperti yang kau lihat. Aku..” kataku gugup sambil menyingkirkan tangan Dev dari pinggangku. “Aku bisa jelaskan ini semua Ar.” Aku berjalan cepat menghampiri Ar.

Sementara itu Dev justru melipat kedua tangannya dan berkata dengan nada tidak senang, ”Bisakah kau datang nanti saja. Kau menganggu sekali Ar. Dan ingat untuk mengetuk pintu bukannya mendobrak pintu sebelum kau masuk.”

“Dev! Tutup mulutmu!!” bentakku kesal, menoleh kearah vampire bodoh itu.

Tapi Arshel sepertinya tidak peduli dan mengabaikan semua yang kami ucapkan. Dia justru menatapku serius dan menyentuh kedua bahuku sangat erat, “Kau harus pergi sekarang juga Rena”

“Pergi?? Aku memang mau pergi. Apa master sudah lama menunggu kita. Maaf ak..”

“Bukan..bukan itu Rena. Kau tidak boleh menghadap master. Kau harus pergi. Pergi dari asrama ini. Pergi dari tempat ini. Sekarang!!” ucap Ar cepat sekali sampai aku melongo, tidak bisa memahami perkataannya.

“Hey ada apa ini? Kau tidak bisa menyuruh Rena pergi begitu saja, aku dan dia belum selesai-”

Arshel mengumpat pelan dan mengalihkan pandangannya kepada Dev, ”Kau juga, Dev. Tutup mulutmu sekarang dan kau juga ikut pergi. DAN jangan menunda lagi. Ayo Rena. Sekarang!” Katanya tegas dan tanpa menunggu respon dariku, dia menyeret tanganku, memaksaku berlari mengikutinya. Dev yang mengernyitkan dahinya tak paham mengikuti kami di belakang.

“Tap-tapi ada apa? Kenapa aku harus pergi??”

“Nanti kujelaskan Rena tapi yang penting kita harus pergi dari sini dulu Rena. Pergi sejauh mungkin.”

Aku sungguh-sungguh tak memahami apa yang terjadi. Ada apa sebenarnya. Yang dapat kulihat hanya wajah Arshel yang nampak pucat.

Aku menoleh kaget saat tiba-tiba Dev sudah berlari di samping kami dengan wajah serius. “Apa yang terjadi sebenarnya, Ar? Heta-heta senior dibantu cukup banyak slayer menyerbu kamar Rena.”

Mataku melotot, ”tapi kenapa?” tanyaku sementara kami masih saja terus berlari menelusuri lorong kastil asrama dengan kecepatan maksimal yang kami miliki.

“Apa?? Secepat itu. Belok sini.” Katanya.

Jalan ini, aku tahu ini arah kemana. Ini menuju ruang rahasia di bawah tanah. Tapi kami sebelumnya sama sekali tidak pernah masuk kesini. Tempat ini terlarang bagi kami. “Apa ini gara-gara aku? Apa mereka tahu aku menyusup lagi ke tempat ini. Tapi mereka tak bisa menyalah-”

“Bukan Dev!” potong Ar. “Bukan karenamu. Mereka bahkan tak menyadari kehadiranmu disini. Ku akui kau sangat ahli menyusup. Tapi ini lebih buruk dari itu. Berhenti disini.” Ucap Ar sambil menghentikan larinya. Jalan di depan kami bercabang menjadi dua.

“Aku sungguh merasa beruntung kau ada disini sekarang Dev.”

“Apa?” Dev menyipitkan kedua matanya.

“Apa kemampuanmu membaca pikiran manusia masih cukup bagus Dev?”

“Tentu saja, aku akan-”

“Kalau begitu baca pikiranku sekarang juga!”perintah Ar.

“Ap-ap?”

“Sekarang kubilang!!” bentak Ar.

Dan aku melihat Dev nampak sebal meskipun kemudian dia mengangguk dan bergumam kesal. Beberapa detik kemudian aku hanya melihat Dev yang menatap Ar dengan tajam sementara Ar entah sedang sibuk mencari apa dalam kantung bajunya.

“Kau sudah tahu kan Dev?” kata Ar tiba-tiba.

Aku memandang Dev yang kini membisu dan wajahnya jelas menyiratkan hal yang sangat buruk sedang terjadi sekarang. ”Ada apa ini sebenarnya?” teriakku frustasi menyadari ketidaktahuanku atas apa yang sedang terjadi saat ini.

Ar menoleh menatapku sebentar tapi mengabaikan pertanyaanku. Dia justru menyerahkan sebuah batu opal pada Dev. ”Gunakan ini untuk keluar dari tempat ini. Kumohon bawa Rena sejauh mungkin dari tempat ini. Aku tahu kau sanggup menjaganya. Keselamatan Rena bergantung padamu, Dev.”

Dev mengangguk dan menerima batu itu.

Keselamatanku?

“Ar..” panggilku kesal karena mereka berdua seperti sepakat menyembunyikan sesuatu dariku, ”Apa yang sebenarnya terjadi.”

“Rena.”

Arshel mendekat ke arahku dan tiba-tiba dia memelukku. “Jaga dirimu baik-baik.”

“Apa-apaan ini Ar?” Kataku marah sambil melepaskan diri dari pelukannya.

“Kumohon ikuti apa saja yang dikatakan Dev selama itu bertujuan untuk melindungimu.”

“Tap..”

“Dev akan menjelaskannya untukmu, tapi tidak sekarang. Mereka sudah semakin dekat.” Ar menoleh kearah lorong gelap di belakang kami, sebelum dia cepat memandang Dev, ”Lari ke arah sana Dev. Sekarang.” perintah Ar sambil menunjuk ke belokan di kanan kami.

“Ayo Rena.” Ucap Dev sambil menarik tanganku.

“Tidak!!”

“Rena. Kumohon.” Arshel menyentuh pundakku lembut, “Percayalah padaku dan Dev.”

Aku mulai merasa kalau situasi sekarang benar-benar buruk meski aku tak tahu ada apa. Mataku panas, “Kalau ini benar-benar buruk kenapa tidak ikut bersama kami?”

“Aku akan memastikan kalian selamat dulu.”

“Ar..”

“Tidak Rena. Sekarang pergilah!!!” perintahnya lebih tegas, ”Dev cepatlah, mereka semakin mendekat.”

Dev mengangguk, “Ayo Rena.” Dev menarik tangan kananku dan membuatku ikut berlari bersamanya. Air mataku menetes, aku menoleh ke belakang saat ku tahu sosok Ar semakin nampak tak jelas ketika aku berlari makin jauh. Sesuatu yang buruk sedang terjadi. Aku tahu dan Ar berkorban untukku…Lagi.

“Ar…”

 Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya, yang ku tahu sekarang aku harus pergi. Aku harus berlari. Sejauh mungkin meski aku tak tahu untuk apa dan kenapa aku harus berlari. Tangan Dev masih begitu erat kurasakan mengenggam tanganku ketika kami masih terus berlari menyusuri lorong kastil yang gelap dan penuh debu ini. Aku terbatuk beberapa kali karena debu-debu yang berterbangan ketika kami berlari.

Aku merasakan kakiku dan tubuhku mulai merasa sangat lelah. Entah sudah berapa lama kami terus berlari. Tapi aku rasa ini sudah cukup jauh dan aku tak tahu dimana ujung lorong ini. Menyebalkan mengingat wajahku sudah gatal dan lengket gara-gara menerjang terlalu banyak sarang laba-laba.

“Dev.. aku..”

“Lihat Rena, sedikit lagi.” teriak Dev memotong ucapanku. Aku melihat setitik cahaya di kejauhan. Akhirnya kami hampir mencapai ujung lorong bawah tanah ini. Seperti memperoleh tenaga ekstra aku berlari makin cepat dan melupakan semua lelah dan kekesalanku.

“Berhenti Rena.” teriak Dev tiba-tiba saat aku hampir saja keluar dari lorong ini. Aku melihat banyak pepohonan di luar sana dan menerka kalau ini adalah hutan di perbatasan selatan. Pohon-pohon itu begitu besar tua dan berlumut, salah satu ciri khas hutan perbatasan selatan yang memang terkenal sangat lebat dan jarang terjamah manusia. Banyak rumor yang beredar kalau hutan ini penuh kekuatan mistik. Tapi aku tak percaya dan tak pernah mau ambil pusing. Selain itu aku bahkan tak tahu bahwa slah satu lorong di ruang rahasia ini mengarah ke hutan perbatasan. Bagaimana bisa? Hutan perbatasan sangat jauh dari sini.

Aku menatap Dev bingung, “Kenapa? Tidak ada jebakan disini.” kataku melihat jalan yang begitu mulus. ”Kita hanya tinggal berjalan melaluinya dan kita bebas. Ada di luar.”

Dev menoleh ke arahku, ”Kau benar-benar tidak dapat melihatnya Rena?”

Aku mengerutkan dahiku, aku tidak melihat apa-apa kecuali ujung lorong yang sepertinya begitu aman. Dev menggeleng, ”Keterlaluan sekali penglihatanmu itu.”

Aku hampir saja mengeluarkan suara untuk memprotes tapi Dev telah berjalan menyentuh batu batu terakhir yang menyusun lorong ini.

“Tempat ini disegel. Lagipula aura sihir disini sangat kuat. Aku juga kagum, barukali aku tahu ada jalan pintas ke hutan perbatasan selatan di bawah asrama para heta.”

“Aku juga. Dan segelnya, segel apa? Bisakah dibuka?”

 Dev menggeleng, “Aku tidak tahu. Ini segel sihir kuno. Sangat berbahaya kalau kau menerobosnya begitu saja. Lihatlah Rena jaring jaring sihir tanpa warna itu mengitari ujung lorong ini. Aku tak tahu apa yang terjadi kalau kita menerjangnya begitu saja. Meski aku vampir tapi aku juga tidak kebal pada sihir kuno yang nampak begitu kuat ini.”

Aku mulai mengerti sekarang, meski segel sihir itu tak dapat kulihat tapi aku cukup paham dengan apa yang di ucapkan Dev.

“Penyihir manapun yang melakukan ini pasti jenis yang sangat hebat.” komentar Dev.

“Lalu bagaimana?” tanyaku sambil sesekali melihat ke belakang kami. Aku mulai gelisah. Jangan-jangan heta-heta yang mengejar kami tadi telah berada dekat di belakang kami.

“Tenang saja mereka tidak akan menyusul kita dalam waktu yang cepat. Arshel telah menyesatkan jalan mereka kurasa.” kata Dev menyadari kegelisahanku.

Aku baru saja mau bicara saat kudengar suara Dev lagi.

“Kurasa batu oval ini digunakan untuk ini.”ucapnya sambil mengeluarkan batu yang kutahu sebagai batu opal pemberian dari Ar.

Dia menimbang-nimbang batu itu di tangan kirinya. Lalu menatapku dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku. “Pegang erat tanganku Rena. Jangan pernah melepaskannya, apapun yang terjadi nanti.”

Aku bergantian memandang wajah dan tangan Dev yang terulur padaku.

Dev mengangguk, ”Ayo Rena. Pegang tanganku.”

Aku memegang tangan kanan Dev dan Dev menggenggamnya erat. ”Kita jalan Rena. Pejamkan saja matamu. Kurasa itu akan lebih baik daripada kau terus membuka matamu saat kita melewatinya.”

Aku mengangguk dan menuruti saran Dev. Kami, dengan mata terpejam berjalan pelan. Aku merasakan hawa dingin yang sangat menusuk saat kami semakin dekat ke ujung lorong. Tanpa sadar aku meremas tangan Dev. Seluruh tubuhku tiba-tiba bergetar sangat hebat. Aku merasa sesuatu menarikku ke segala arah. Mencengkeram lengan dan kakiku. Aku merasakan sakit yang luar biasa tapi aku tak bisa menjerit, aku tak bisa mengeluarkan suaraku sedikit pun.

Bibirku terbuka menyebut nama Dev, tapi aku tak bisa. Aku tak bisa melakukan apapun bahkan aku tak mampu membuka kelopak mataku. Aku merasakan udara yang sangat menyesakkan dadaku. Aku seperti melayang tapi di sisi lain aku merasa sesuatu yang sangat berat menghimpitku. Jantungku berdetak sangat cepat dan menyakitkan. Lebih lama lagi merasakan sensasi itu kurasa mungkin aku akan mati.

“Rena..Rena..”

Aku merasakan bahuku di guncang-guncang dengan sangat hebat. Cahaya perlahan-lahan menyeruak masuk ketika aku mencoba membuka mataku dan sesosok samar yang menatapku khawatir mulai terlihat makin jelas.

“Dev..” panggilku pelan mengenali sosok itu.

Aku beringsut duduk di bantu Dev. Aku menyentuh lenganku yang terasa sangat sakit.

“Kau sudah merasa sedikit lebih baik sekarang?” tanya Dev sambil menatapku.

Aku mengangguk, ”Ya.” jawabku lirih.

Setetes keringat mengalir turun dari pelipisku, aku mengusapnya dengan punggung tanganku dan menyadari kalau wajahku sendiri hampir basah oleh keringat padahal matahari sama sekali tak bisa menerobos tempat ini karena dahan dan daun-daun pepohonan yang sangat lebat menghalanginya.

“Sebenarnya tadi itu apa?” tanyaku sambil mengamati keadaan Dev yang sepertinya nampak jauh lebih baik daripada aku.

“Aku tak tahu bagaimana tepatnya harus menyebutkan apa itu tadi tapi yang jelas kalau saja tak ada batu opal ini..” Dev memandang batu opal yang sepertinya telah jauh berbeda dengan yang terakhir kali aku lihat. Batu itu kini mengitam seperti hangus terbakar. ”..mungkin kau dan aku terluka sangat parah.”

Aku bergidik membayangkan semua kemungkinan itu, lalu beralih memandang ujung lorong yang tadi kami lewati. Mataku melebar, tidak ada tanda – tanda ujung lorong atau apapun di depanku. Hanya ada bukit batu tanpa celah. Ditumbuhi lumut dan sulur-sulur panjang mengerikan yang menandakan bahwa tidak ada manusia atau apapun yang menyentuh tempat ini sejak lama.

“Jalan satu arah.”

Aku menoleh lalu berdiri mengikuti Dev yang telah lebih dulu berdiri dan berbalik memandang pohon-pohon besar yang kini ada di depan kami. Aku mulai menyadari hawa yang berbeda pada tempat ini dan mulai sedikit mempecayai rumor tentang hutan perbatasan selatan ini.

“Kau sudah kuat kalau kita jalan sekarang Rena?”

Aku mengangguk, ”Ya.”

“Kupikir kau mau merengek minta kita istirahat dulu.”

Aku menoleh sebal memandang Dev yang malah mengangkat kedua alisnya sambil menatapku. Aku malas berdebat dengan vampir bodoh itu sekarang. Kurasa kebijaksanaan dan jiwa pemimpin yang tadi kurasakan saat dia membawaku kabur dan melewati ujung lorong tadi tidak bertahan cukup lama atau aku saja yang salah merasakan apa yang terjadi.

Tanpa menghiraukan Dev sama sekali aku berjalan masuk ke hutan. Membuka jalan yang tertutup rerimbunan sulur yang mengantung dari dahan pohon-pohon besar di atasnya dengan tanganku.

“Hey Rena. Kau harusnya menungguku.” teriak Dev mengejar dan mengikuti langkahku. Aku sama sekali tak mengubrisnya, bahkan tak berminat menanggapi lelucon atau semua kata-kata yang di ucapkannya selama kami berjalan masuk semakin dalam ke hutan ini.

Sepertinya aku mulai kembali pada sikapku semula pada Dev. Tak peduli, entah kenapa kurasa aku tak bisa semudah itu melunakkan sikapku pada Dev setelah apapun yang telah terjadi. Sebenarnya kalau aku mau berpikir lebih serius lagi kurasa ego ku terlalu tinggi sekarang. Mungkin aku seharusnya sudah bisa bersikap biasa atau memaafkannya. Tapi entah kenapa aku masih merasa sebal kalau mengingat bagaimana dulu dia menipu mentah-mentah aku dan semua orang tentang siapa sebenarnya dia.

Aku berjalan makin cepat saat samar-samar ku dengar suara air mengalir. Ada sungai di dekat sini. Aku baru menyadari kalau aku haus dan kotor sekali sekarang. Aku berjalan mendekat ke sumber suara aliran sungai. Tak begitu lama kemudian aku melihat kilauan air yang tertimpa cahaya matahari. Aku mendekat dan berjongkok di tepi sungai itu.

Aku dapat melihat wajahku sendiri disana. Air ini begitu jernih dan bersih.

Rasanya begitu segar ketika air sungai ini membasahi wajahku, aku juga membasuh kedua tangan dan kakiku. Aku merasakan perih di beberapa bagian tubuhku sepertinya tergores sesuatu tanpa aku sadari.

“Sepertinya juga ada banyak ikan di dalam sungai itu. Kau bisa menangkapnya untuk makan dan aku akan membantumu membakarnya” teriak Dev dari bawah pohon rindang. Dia sama sekali tidak menyentuh air sungai ini hanya melihat dari dari bawah pohon besar di kejauhan.

Ah ya vampir tidak suka cahaya matahari, aku baru ingat itu begitu merasakan terik  cahaya matahari menyentuh kulitku. Aku berdiri mencari pohon di dekat sungai yang cukup rindang. Aku duduk di bawahnya begitu menemukan pohon itu, dan menjulurkan kakiku ke dalam air sungai. Aku merasakan sensasi yang menyenangkan dan dapat mengurangi rasa lelahku begitu air sungai ini menyentuh kakiku.

“Dev, bisakah kau ceritakan kenapa?” tanyaku begitu merasakan keberadaan Dev di dekatku. “Kenapa aku harus pergi? Kenapa aku harus keluar dari kastil?” tambahku ketika Dev mengambil tempat untuk duduk di dekatku.

Dia memandangku dengan tatapan yang sepertinya bisa kuterjemahkan bahwa sebenarnya dia enggan untuk bicara tentang hal itu.

Pluk

Mataku melotot menyadari Dev baru saja membuang batu opal pemberian Ar yang baru saja menyelamatkan nyawa kami.

“Dasar bodoh apa yang baru saja kau lakuka!!” teriakku kesal seraya berusaha masuk ke sungai untuk mengambil batu itu lagi.

“Sudahlah. Batu itu sudah tidak berguna. Hanya untuk sekali pakai dan sangat merepotkan kalau harus menyimpannya.”

Aku menatapnya sebal, ”Kau..”

“Apa kau masih ingin tahu kenapa? Sepertinya lebih menyenangkan kalau kau sekarang diam dan mendengarkan aku bicara daripada kau harus berteriak-teriak marah seperti tadi. Telingaku sakit tau.”

Mataku menyipit, aku menggeram menahan marah. Kalau saja bukan karena aku ingin tahu kenapa aku tidak akan mau menuruti permintaan si bodoh satu ini untuk duduk diam dan mendengarkan.

“Nah kau terlihat lebih manis kalau diam dan menurut seperti itu Rena.” komentarnya sambil tertawa kecil.

“Sudahlah jangan banyak bicara. Katakan saja kenapa!! Aku mual mendengar tawamu Dev.” ucapku sebal.

“Ya ya ya. Baiklah nona Sherena Audreista.” katanya dengan muka sok manis yang memuakkan.

“Berhenti memanggil nama lengkapku dengan tampang konyol seperti itu vampir bodoh!!”

“Dan berhenti memanggilku dengan sebutan ‘vampire bodoh’. Aku tidak sebodoh itu Rena.” ucap Dev sambil mengusap rambutku.

“Hentikan itu.” Aku menampik tangan Dev dengan kasar.

“Baiklah. Baiklah.” ucap Dev mengalah. ”Nah sekarang apa yang ingin kau ketahui Rena?”

Kedua alisku menyatu, sepertinya dia sama sekali tak menyadari kalau dia baru saja menunjukkan alasan kenapa aku menyebutnya ‘vampir bodoh’. Bukankah sudah sejak tadi kukatakan aku ingin tahu alasan kenapa aku harus pergi. Kenapa aku harus keluar dari kastil.

Baiklah, aku mengalah. Kurasa tidak ada salahnya aku mengatakannya lagi, ”Kenapa aku harus pergi? Kenapa aku harus keluar dari kastil? Katakan padaku apa alasannya.” ucapku akhirnya.

Dev menghela nafas, ”Kau yakin benar-benar ingin tahu itu?” Tanya sambil menatapku dalam. Aku merasa risih dengan tatapan itu. Bukan jenis tatapan yang mengisyaratkan saja.

“Kau yakin kau tak akan menyesal mendengarnya Rena?”

Tapi aku sudah yakin, keinginanku untuk mengetahui sebab dari semua ini sudah demikian besar. Aku mengangguk pasti, “Ya.” jawabku tegas.

Dev menghela nafas berat, “Master yang memerintahkan semua heta dan slayer untuk menangkapmu. Lebih diutamakan menangkapmu hidup-hidup sekarang. Kurasa saat ini dirimu bahkan lebih dicari dari penjahat manapun yang telah menjadi buron di negerimu ini.”

Aku menatap Dev dengan mata fokus meski sepertinya Dev menghindari untuk menatap mataku lansung, “Tapi kenapa? Aku tidak pernah melakukan kejahatan apapun yang demikian besarnya sampai master harus menyuruh mereka semua memburu dan menangkapku. Mereka tak punya alasan kuat untuk melakukan itu.”

“Sayangnya mereka punya.” Dev memandangku sebelum akhirnya melanjutkan, “Mereka punya alasannya. Terlalu kuat malah dan tidak mungkin untuk dibantah.”

“Aku tak mengerti.”

“Awalnya akupun juga begitu, Rena. Sungguh tak pernah menyangka semuanya akan seperti ini.”

“Tapi apa Dev??”

“Kau… karena kau adalah Half Vampire tapi bukan Half Vampire biasa. Bukan Half Vampire yang menjadi seperti itu karena darah yang tak lagi murni tapi kau Half Vampire karena jiwamu. Karena jiwa mu sekarang tak lagi sepenuhnya menjadi jiwamu sendiri.”

Mataku menyipit, otakku memproses semua yang di katakan Dev, tapi tak satupun kata-kata Dev yang mampu ku mengerti dengan baik. “Half? Half apa?? Lelucon apa ini?”

“Ini bukan lelucon Rena, meski sejujurnya aku juga mengharapkan kalau ini semua memang hanya lelucon. Tapi Ar mengatakan ini padaku lewat pikirannya dan aku tahu dia serius. Dia tak pernah membuka pikirannya padaku sebelumnya.”

Kepalaku menggeleng pelan, “tidak, tidak. Ini salah. Ini pasti salah. Tidak mungkin aku Half Vampire. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?? Dan bukan darah tapi jiwa. Tidak!! Ini mustahil.” ucapku cepat.

“Tidak Rena, sayangnya ini bukan mustahil terjadi. Beberapa minggu yang lalu klanku kehilangan calon ratu kami. Dia dibunuh, lebih tepatnya. Semua ini merusak tatanan siklus klan kami. Terjadi pedebatan serius. Penerus klanku tidak boleh menikah dengan wanita yang bukan di tentukan oleh … ” Dev berhenti bicara sebentar lalu menjelaskan lagi, “Maaf tak bisa menjelaskan ini lebih detail, tapi yang jelas tak sembarang vampir bisa menjadi seorang calon ratu. Sangat sulit bagi klanku untuk mendapatkan seorang calon ratu dan yang kudengar calon ratu yang terbunuh itu adalah calon ratu yang cukup baik. “

“Lalu apa hubunganya denganku?” selaku tak sabar.

Dev menoleh memandangku sebentar, “Dengarkan dulu Rena.”

“Baiklah.” ucapku menurut.

“..ketahuilah Rena. Penerus yang menikah dengan bukan calon ratu akan berakibat sangat buruk bagi klanku. Ada beberapa vampire yang sangat terhormat di klanku yang mampu melihat masa depan. Dan kemungkinan yang dia katakan kepada kami adalah kemusnahan ras kami jika hal itu sampai terjadi. Maka kami menjaga seorang calon ratu sejak dulu, sejak masa dimana kami masih berkawan cukup baik dengan para manusia serigala sampai sekarang. Tak pernah ada penerus dari klanku yang tidak menikah dengan calon ratu.”

Aku mengernyitkan dahiku, “Lalu apa hubunganya denganku?” kataku lagi makin tak sabar. Tapi Dev diam, dia seperti tak ingin menjawab pertanyaanku. Dia kelihatan sangat ragu untuk mengatakan apapun itu yang ada dalam pikirannya sekarang.

“Rena..” katanya dengan berat, “Kau..adalah penganti calon ratu yang terbunuh itu.”

“Apa!!!” teriakku tak percaya. Kurasa ucapannya bahwa aku adalah Half Vampire sekarang sudah cukup buruk lalu sekarang… penganti calon ratu? Apa-apaan ini. Sepertinya hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Aku diburu oleh kelompokku sendiri. Aku kehilangan Ar. Aku terusir dari negeriku sendiri. Aku seorang Half Vampire tanpa aku tahu sebabnya dan Dev bilang aku juga seorang penganti calon ratu. Apa tidak ada yang lebih buruk lagi dari ini.

“Rena.” panggil Dev membuyarkan lamunanku. “Aku tahu ini pasti sulit kau terima tapi aku akan me-“

“Tapi kenapa aku?” potongku marah. “Kenapa harus aku??” kataku kini dengan suara yang lebih lirih. Putus asa.

“Jujur aku juga tak tahu kenapa. Tapi yang jelas sebagian jiwa dari vampir calon ratu itu ada di tubuhmu. Jangan tanyakan bagaimana bisa karena aku maupun Ar juga tak tahu bagaimana. Tapi sempat terpikir olehku kalau mungkin saja-“

“Mungkin saja apa?” aku menatap Dev, berharap ini bukan sesuatu yang buruk lagi.

“Mungkin saja kau yang telah membunuh vampire terpilih itu.”

Jeda yang lama.

Aku tak tahu.

Tidak. Mana aku tahu, mana aku paham kalau mungkin saja salah satu dari vampir- vampir yang pernah kubunuh itu adalah seorang calon ratu. Mana aku tahu. Yang aku tahu hanya kalau keberadaan mereka membahayakan rasku, manusia.

“Apakah Ar tahu bagaimana cara melepaskan jiwa ini dari tubuhku?”

Dev menggeleng, “Sepertinya tidak ada jalan untuk melepaskan jiwa itu. Berhati-hatilah Rena. Kuasai dirimu sendiri atau kalau tidak perlahan-lahan jiwa itu yang akan mengambil alih kuasa atas dirimu.”

“Apa?”

“Sadarkah kau Rena, Ar sepertinya juga tak salah tentang semua ini. Dia benar mengatakan padaku untuk menjagamu. Kau dan aku nyaris sama sekarang.”

Aku memandang Dev dengan kesal, “Kau DAN aku BERBEDA. Setidaknya aku bukan vampir bodoh sepertimu.” semburku dengan suara keras. Menyebalkan sekali melihat Dev yang sepertinya menyukai mengetahui kalau aku half vampire sekarang.

Dev tertawa pelan, “Ya..ya..ya.. kau hanya seorang half vampire dengan kemampuan berteriak yang cukup bagus.”

“Apa kau bilang??”

Dev menepuk pundakku beberapa kali. “Sudahlah, aku akan mengalah sekarang. Aku tidak akan membuatmu marah lagi.” ucapnya sambil menahan tawa.

Aku memasang muka sebal yang kentara. Aku tak mau memedulikan apapun yang dia katakan. Sudah cukup semua ini membuat kepalaku terasa penuh dan mau meledak.

“Apakah kau tahu kalau Ar itu ternyata seorang penyihir?” Tanya Dev tiba-tiba yang membuatku langsung menoleh ke arahnya. “Ar apa?” tanyaku tidak percaya pada apa yang barusan kudengar.

“Penyihir.”

“Tidak!! Bukan, tentu saja bukan. Dia manusia biasa kecuali untuk semua kemampuan slayernya yang menakjubkan tapi  tetap saja dia tidak bisa di sebut penyihir.”

Dev mengangguk, “Kalau begitu dia memang menyembunyikan ini dari semua orang, tak terkecuali denganmu.”

“Apa maksudmu?”

“Bagaimana kau pikir Ar bisa mengecoh para heta dan slayer yang mengejar kita di lorong waktu itu. Lalu bagaimana kau pikir kita dapat lolos hidup-hidup setelah melewati rintangan yang di buat dengan sihir kuno yang demikan kuatnya itu?”

Aku diam. Pikiranku terbuka, menarik benang-benang terkaan yang mulai terlepas. Semakin jelas.

“Pikirkan semua itu baik-baik Rena. Arshel bukan manusia biasa. Dia penyihir. Penyihir yang sangat cakap kurasa. Aku masih penasaran bagaimana dia membuat batu tadi berguna untuk kita melewati sihir kuno itu. Kurasa dia mengunakan mantra yang sangat rumit dan…”

Suara Dev seperti tertelan oleh pikiranku. Aku sudah cukup kurasa semua ini mengejutkanku. Aku half vampire. Ar penyihir.  Dadaku sakit rasanya. Aku mungkin bisa saja menerima kalau aku tak lagi manusia seutuhnya sekarang tapi..Ar. Bagaimana dia juga ternyata menyembunyikan tentang siapa dia sebenarnya dariku. Kenyataan ini jauh lebih menyakitkan untukku. Perasaan sakit yang sama seperi ketika mengetahui Dev juga menyembunyikan identitas nya yang sesungguhnya dulu kepadaku.

Aku mepercayai Ar tapi rupanya dia tidak. Apa salahnya mengatakan dia penyihir padaku. Toh aku juga tak akan menyebarkan rahasianya ini kepada semua orang. Aku akan menjaga apa pun yang memang dia tak inginkan untuk diketahui semua orang. Aku bahkan akan mempertaruhkan nyawaku untuk menjaga rahasia itu. Tapi Ar ..

“Rena, kau tidak apa-apa?” tangan Dev menyentuh bahuku.

Aku menggeleng cepat. Aku tidak boleh cengeng sekarang. Aku harus berpikir positif. Ar mungkin hanya tak ingin aku mencemaskannya. Ar mungkin tak ingin kenyataan ini membebaniku. Yah mungkin seperti itu lagipula kalau pun dia penyihir memangnya kenapa. Dia tetap Arshel. Dia tetap Ar yang akan melindungiku apapun yang terjadi. Dan sekarang aku tak boleh menyia-siakan semua usahanya melindungiku. Sekarang aku sendiri tanpa diriya. Sekarang aku harus melindungi diriku sendiri.

Aku menoleh memandang Dev, “Apa rencana kita sekarang?”

<< HALF VAMPIRE – Dev
HALF VAMPIRE – Takdir Baru>>

Mau Baca Lainnya?

3 Comments

  1. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.