Half Vampire – Darah dan Ikatan

“Disini kalian rupanya. Sedang apa?”
Kami menoleh bersamaan dan mendapati Damis berdiri di belakang kami. Aku bangkit dari dudukku, Maurette pun melakukannya.
“Hanya berbincang-bincang.” Sahutku sambil tersenyum.
“Kau sudah menemukan teman baru rupanya.” Damis memandang Maurette dan terlihat senang, “Hai Maurette, lama tidak berjumpa. Aku sungguh merindukanmu.”
Maurette nampak tersipu dan membalas sapaan Damis dengan riang, “Menyenangkan sekali mengetahui kau merindukanku. Segala masalah akhir-akhir ini membuatku sangat sibuk. Kau tahu sendirikan bagaimana watak James.”
Damis mengangguk, “Pemuja hasil sempurna, dia tak pernah berubah.”
“Sepertinya kalian dekat sekali ya?” Selaku melihat keakraban mereka.

Keduanya memandangku dan kompak tertawa kecil bersamaan. Damis merangkul bahuku dan bicara dengan lembut, “Kami saling mengenal dengan baik karena dulu dia sering sekali datang kesini. Maurette teman berbincang yang baik.”
Aku ber-ohh panjang dan Damis malah menatapku dengan tajam, “Apa kau cemburu tadi?”
“Hey!!”Aku nyaris berteriak. “Aku hanya ingin tahu.” Kataku sebal karena ekspresi Damis mendengar jawabanku sungguh konyol. Dia tertawa terbahak dan Maurette tersenyum geli.
“Iya-iya baiklah. Padahal aku berharap kau menjawab iya tadi. Ya sudahlah.”Ucapnya menunjukkan raut muka pasrah yang dibuat-buat. “Tapi sekarang kau harus kembali ke aula utama, pesta itu untuk menyambutmu dan kau tidak boleh kabur keluar begini. Rosse mencari-carimu.”
“Ah, maaf. Aku yang mengajaknya untuk berbincang di luar.”Sahut Maurette dengan nada penyesalan yang kentara.
Damis mengibaskan tangannya, “Tidak apa-apa, Maurette. Rosse juga pasti akan senang kalau melihat Rena bisa mendapatkan teman berbincang selain kami. Nah sudah, mari kita kembali bergabung ke aula besar.”
***
Aku tidak tahu ini jam berapa, tapi sepertinya sudah larut malam ketika aku mengendap-endap keluar dari aula besar. Semakin malam pesta ini semakin liar dan aku kurang merasa nyaman berada disana. Para tetua, bahkan Vlad dan Rosse sudah tidak ada dalam keramaian pesta itu sehingga kurasa tidak apa-apa jika aku kabur saja dari kungkungan bau alkohol yang keras dan adegan-adegan erotis para vampir yang sudah setengah sadar. Padahal setauku vampir itu makhluk yang sangat sulit bahkan mendekati tidak bisa untuk terpengaruh efek minuman atau apapun yang berkadar alkohol tinggi. Aku curiga itu hanya sekedar kamuflase. Ya, juga seperti kegiatan meniru tradisi atau sifat manusia. Ah sosialita yang aneh.
Aku berjalan menaiki tangga ke lantai dua tempat kamarku berada. Mendadak merasa malas untuk masuk ruang tidurku, aku berjalan memutar arah dan menyusuri koridor luar lantai dua. Merasa nyaman ketika angin malam berhembus menerpa wajahku. Entah kenapa aku merasa hawa dingin ini berubah bersahabat. Aku menikmatinya.
Langkahku tertahan ketika aku melihat bayangan tubuh manusia di kejauhan sana. Aku mendekat dan melihat sesosok tubuh yang duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Matanya terpejam.
“Reven.” Aku menutup mulutku cepat ketika tanpa sengaja mengucapkan nama sosok yang terduduk disana.
Mata Reven terbuka cepat, bola mata merah yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Datar. Tapi sedikit seram dalam suasana temaram seperti ini. Dia memandangku.
“Kau baik-baik saja?” Tanyaku hati-hati
Dia tak menjawab tapi hanya berdiri dan maju melangkah ke arahku. Sangat dekat. Tangannya bergerak. Menelusuri wajahku. Aku menyentuh dadaku yang berdebar. Aku tahu aku gemetaran saat tangannya menyentuh pipiku. Meski aku tahu itu bukan jenis sentuhan yang lembut tapi tetap saja membuat aku gugup setengah mati. Adegan-adegan dalam penglihatanku membuat wajahku bukan main merahnya.
“Sherena Audreista” aku mencium bau alkohol yang sangat tajam saat dia mengucapkan namaku. Dia seperti nampak mabuk dan sialnya aku terjebak bersamanya tanpa bisa menghindar.
“Tahukah kau betapa aku membencimu..” Aku mendadak membeku. Apa? Apa yang barusan tadi diucapkan Reven. Otakku masih mencerna semuanya dengan sangat lambat. “..mereka yang berpikir kau pengganti yang cukup baik bagi kami sangat picik, mereka bahkan seakan melupakan bahwa KAU bukan berasal dari ras yang sama dengan kami.” dia mendesakku sampai punggungku menyentuh dinding di belakangku, ” dan yang terpenting, lebih penting dari apa pun.” dia berhenti bicara dan menatapku dengan penuh kebencian, “KAU yang membunuh Noura!!”
Sepertinya aku akan meleleh begitu dia mengucapkan itu, aku mencoba melupakan kesimpulan yang sempat melintas di kepalaku dulu dan sekarang seakan semua usahaku sia-sia saja. Semua ucapan Reven seperti mematikanku. Aku tidak tahu kenapa Reven sekejam ini padaku. Kenapa dia bicara sejahat itu. Sementara semua itu belum tentu kebenarannya.
“Kau menikmati segala hal yang seharusnya menjadi milik Noura, Kau mengambilnya dan KAU begitu munafik.” sengalnya .
Aku tak tahu seberapa takutnya aku mendengar semua ucapannya, yang pasti aku merasa tubuhku bergetar dan wajahku panas. Lalu segalanya menjadi satu dan menjalar begitu saja ke mataku. Aku menangis, “Hentikan, kumohon.” Aku memandangnya mengiba. Aku tidak mau mendengar apapun lagi.
Dia justru tertawa mengejek, “Kau memuakkan.” dia menyeringai
“Hentikan aku tak mau dengar.” tanganku melayang menamparnya tapi dia lebih cepat mencengkram tanganku dan menghentakkannya ke dinding. Aku meringis kesakitan, tapi dia seakan tak peduli.
“Kau cuma pembunuh yang begitu tega mengambil dan menikmati apa yang seharusnya kau sesali, tapi nampaknya kau sukakan?”
“Cukup…” Aku memelas nyaris berhujan air mata, “Hentikan..aku tak mau dengar lagi.!”
“Satu yang harus kau tau, MANUSIA!!! Kau tak mengubah apapun, tak mengubah apapun untukku. Dan ini…” serunya sambil menarik rantai kalung yang melingkar di leherku, “Milik Noura” dia mendorong tubuhku keras dan berbalik begitu saja meninggalkanku.
Aku merosot. Duduk terjatuh dan tersengal-sengal. Nafasku sulit dan dadaku sesak. Aku menangis tanpa suara. Sedikit demi sedikit aku terisak. Lalu aku menangis keras dan memeluk lututku. Tubuhku bergetar hebat. Semua ucapan Reven tadi berputar-putar memenuhi otakku.
Benarkah? Mungkinkah apa yang dikatakan Reven tadi memang benar. Apakah aku terlihat sejahat itu? Aku tidak pernah merasa menikmati semua ini, semua milik Noura ini. Aku tertekan tapi berusaha tetap hidup dan menjalani takdirku disini. Tidak! Aku bukan orang seperti yang dituduhkan Rev padaku. Aku bukan orang seperi itu.
Aku menangis semakin keras. Rasanya ini tidak adil bagiku. Dia tidak bisa sekejam itu menuduhku seperti itu. Dia tidak bisa. Tidak boleh. Tanganku meraba tempat dimana kalung yang diberikan Rosse awalnya melingkar. “Bukan aku, bukan aku yang meminta benda itu pada Rosse. Bukan aku, bukan aku yang membunuh Noura. Bukan aku..” aku terisak. Memeluk lututku semakin erat dengan tubuh bergetar menahan semua emosi dalam diriku.
***
Aku menarik anak panahku perlahan, membentuk sudut yang baik pada lenganku. Mataku mengawasi arah sasaranku. Aku memicingkan mataku, lalu dengan tegas kulepaskan anak panahku yang langsung melesat dan tepat mengenai lingkaran sasaran, berdesak-desakkan dengan enam anak panah lainnya yang sudah tertancap disana.
 Aku masih akan melakukannya lagi ketika tanpa sengaja tanganku mengenai mata busur yang kuambil tergesa. Darah mengalir dari luka kecil memanjang di telunjuk kananku.
“Sial.” Makiku sambil membanting busur dan anak panahku ke tanah. Dengan frustasi aku menjatuhkan tubuhku ke tanah. Alih-alih merasakan perih luka di tanganku, aku justru merasa sesak. Dadaku sakit. Bukan karena memag sakit secara fisik, tapi semua perasaan dan emosi yang kutahan sejak malam tadi terus menerus menyiksaku.
Kuhapus dengan kasar airmata yang dengan bodohnya mengalir lagi dari sudut mataku, “Jangan menangis tolol.” Teriakku kesal. Aku duduk terisak, kupeluk lututku dan memandang hamparan bunga-bunga ungu kecil yang memenuhi tempat ini.
Entah kenapa aku merasa lebih baik ketika berada disini daripada di kastil. Aku bersyukur, Damis dulu sempat memasangkan beberapa lingkaran sasaran latihan memanah disini. Aku bisa membuang semua sampah di pikiranku disini. Tapi tetap saja semua ini tidak sepenuhnya membuatku merasa baik. 
Semua ucapan Reven masih dengan jelas terekam di otakku. Memakukan satu kenangan semalam sebagai sebuah kejadian yang tak akan pernah bisa kulupakan. Tidak akan pernah. Sorot mata Reven, segalanya terbaca penuh emosi marah, dendam dan kebencian yang sangat dalam. Dan entah kenapa aku merasa sangat sakit menemukan sorot itulah yang menatapku semalam. Menatapku dengan sangat tajam dan tegas. Seolah semua yang dikatakan bibirnya adalah kebenaran mutlak yang tidak mungkin terbantahkan
“Rena? Kaukah itu?” 
Aku menoleh dan melihat Dev berjalan mendekat ke arahku. Dia memandangku penuh tanya sebelum akhirnya ikut duduk di atas tanah di sampingku.
“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya lagi ketika tanpa sengaja menemuka sisa-sisa airmata di wajahku.
Aku hanya menggeleng. Dev menyentuh telapak tanganku dengan lembut, “Ada apa? Apa lagi yang membebani pikiranmu kali ini? Katakan saja, kau tau kau bisa mempercayaiku, Rena.” Ucapnya penuh kepedulian, membuatku terharu dengan semua perhatiannya.
“Ingatkah kau, Dev. Tentang kemungkinan yang pernah kau katakan padaku ketika kita berada di hutan saat melarikan diri dari kejaran para slayer dan heta. Kemungkinan tentang..” Aku merasa tidak sanggup melanjutkannya.
“..bahwa kau mungkin saja yang membunuh Noura?”
Aku mengangguk cepat. Sangat bersyukur Dev masih mengingatnya dengan baik.
Dev memutar tubuhnya sehingga kini dia menghadap kearahku. Kedua tangannya menggenggam jemariku dengan erat sebelum berkata dengan tenang, “Rena, dulunya nyaris semua yang ada disini berpikir seperti itu. Tapi melihat kemampuan Noura, kau, meskipun dengan semua keahlian dan kemampuan terbaikmu tak akan pernah bisa membuatnya mati.”
“Kau belum mengenal Noura, dia tangguh. Sangat ahli dalam kemampuan bertarungnya. Dan ketika dia marah, semua kemampuannya bertambah berkali-kali lipat. Dia bukan sosok yang bisa dibunuh oleh heta setingkatmu, Rena. Bukan karena kau lemah. Bukan. Kau kuat dan terampil, tapi Noura jelas lebih beberapa tingkat jauhnya dibanding kau. Dalam keadaan terluka parahpun, Noura masih sanggup membunuh 4 heta setingkat denganmu.”
Tangan kiri Dev menyentuh pipiku lembut dan mengusapnya pelan, “Jadi berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Kesimpulan tentang mungkin saja kau yang membunuh Noura hanya fantasi kami dulu yang sudah merasa kalah mencari penyebab pasti kematian calon ratu kami.”
Aku memandang Dev benar-benar dan dia mengangguk, “Jika kau tak terlalu percaya padaku. Tanyakan hal ini pada Rosse. Bahkan Vlad sekalipun juga akan mengatakan hal yang sama padamu.”
Dev kembali mengenggam jemari tanganku sebelum dia mengernyit dan mengangkat tangan kananmu, “Kau terluka?”Katanya kaget
Aku cepat-cepat menarik tanganku, “Hanya luka kecil.” Kilahku.
Matanya menyipit, “Sungguh?”
Aku mengangguk pasti, “Ya, hanya tergores mata panahku.”
Dev mengalihkan pandangannya pada busur dan anak panah yang tergeletak begitu saja di dekatku, “Tak biasanya kau kembali berlatih memanah. Ada apa? Dan tadi, kenapa kembali memusingkan masalah Noura? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Aku merutuki insting dan jalan pikiran Dev yang sangat baik itu. Dan sangat sulit bagiku untuk mencoba mengalihkan perhatian Dev dari pertanyaannya itu. Berbohong? Aku tak pandai melakukannya.
“Semalam, seusai pesta? Kau kemana? Apa langsung kembali ke kamar? Aku tak melihatmu bersama Damis.” Selidiknya semakin penasaran.
Aku menunduk, menyadari mata Dev meneliti ekspresi wajahku dengan benar, “Rena.” Panggilnya pelan. Aku menatapnya pasrah. Akhirnya pelan-pelan aku bercerita. Semua kejadian semalam meluncur begitu saja dari mulutku. Semua perkataan Rev. Semuanya. Mataku berkaca-kaca ketika aku telah selesai menceritakan segalanya. Aku melihat perubahan yang drastis di wajah Dev. Dadanya naik turun dengan cepat.
“Reven tidak berhak berkata seperti itu padamu. Dia keterlaluan. Harus ada seseorang yang membuatnya berpikir lebih sehat lagi.” Geramnya marah.
Dia bangkit dengan cepat dan berjalan begitu saja meninggalkanku. Aku berdiri, mengejarnya tergopoh-gopoh, tidak menyangka Dev akan menanggapi ceritaku dengan begini cepat.
“Dev.”Teriakku, menahan satu lengannya.
Dia berhenti, berbalik memandangku dengan matanya yang memerah. Sungguh, kali ini aku tahu Dev benar-benar marah. Tapi aku tidak boleh membuatnya melakukan sesuatu kepada Reven. Bagaimanapun ini akan menjadi masalah untuk dirinya sendiri jika dia melakukan apapun, meskipun itu untukku.
“Hentikan, kumohon hentikan apapun itu yang akan kau lakukan. Kau tak boleh ikut campur, Dev. Ketahuilah ini rumit sekali. Reven bukan tandinganmu dalam segi apapun. Dia-dia putra Vlad?”
“Meskipun Vlad sekalipun. Aku tidak peduli. Aku tidak akan rela jika ada yang berkata seperti itu padamu” Teriakknya marah sambil melepaskan tangannya dari genggamanku dengan kasar.
“Deverend Corbis!!” Jeritku putus asa. “Sekali ini dengarkan aku. Aku tidak apa-apa!”Ucapku tegas.
Matanya mengamatiku. Datar. “Maaf, Rena. Tapi aku tetap tidak terima. Ucapan Rev terlalu berlebihan dan kasar. Dan kau, masih sangat berarti bagiku. Sehingga apapun yang menyakitimu, juga menyakitiku. Bahkan lebih sakit dari yang mungkin kau rasakan. Aku..” Dia diam cukup lama, memandangku tegas. “..belum benar-benar rela melepasmu untuk menjadi calon ratu yang akan menjadi pendamping Damis atau Reven.”
Deg.
Aku merasa dunia seperti mati. Tak ada suara apapun yang bisa kudengar selain suara detak jantungku yang satu-satu. Semua perasaanku yang dulu ada untuk Dev kembali dalam bentuk semua kenangan kejadian yang pernah terjadi diantara kami. Aku mengenalnya lama, aku sering merepotkannya. Dan Dev selalu tampil sebagai sosok yang melindungiku. Jantungku berdetak semakin cepat. Aku merasa sangat bersalah karena sekarang.. Sekarang aku mungkin telah kehilangan perasaanku yang dulu pada Dev. Aku tidak tahu sejak kapan. Tapi aku bisa merasakannya. Sekarang, aku melihat Dev nyaris seperti caraku melihat Ar. Bagaimana ini? Lalu apa yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku untuk semua perasaan yang Dev berikan untukku? Apa yang harus kulakukan sebagai balas budiku atas semua yang dilakukannya untukku? Apa yang harus kulakukan agar dia tidak terlibat dalam masalah besar hanya karena aku?
Dev berbalik. Nyaris melangkahkan kakinya pergi ketika aku dengan tiba-tiba meraih tangannya. Menariknya dan mencium bibirnya dalam hitungan waktu yang begitu cepat. Aku tahu Dev mengerjap kaget, namun hanya beberapa detik sebelum dia membalas ciumanku. Ini ciuman yang sama. Ciuman yang persis sama seperti yang selalu dia lakukan dulu. Ya, dulu. Ketika aku dan Dev berada dalam perasaan dan hubungan yang sama. Aku merasakan kedua tangannya di punggungku. Memelukku. Membawaku semakin dekat padanya.
Aku hanya ingin berterima kasih, Dev. Aku hanya tidak ingin membuatmu berada dalam kesulitan dan berurusan dengan Reven hanya untuk membelaku. Aku hanya ingin mengungkapkan betapa bersyukurnya aku pernah memilikimu. Betapa kehadiranmu sudah begitu membantuku disini.
“Kau tahu makna ciuman tadikan Dev?” Ucapku memecah keheningan yang tercipta diantara kami berdua. Dev diam. Dan aku menunggu. Duduk dengan tenang di sampingnya, memandang ke depan. Sama-sama memandang lingkaran sasaran panahanku.
“Ya.” Aku menoleh mendengar suara Dev yang pelan. “Aku paham, Rena. Tenang saja. Aku bisa merasakannya. Tadi.. Sungguh berbeda.” Dia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan, “sepertinya kau sudah tidak.”
“Dev.” Selaku. “Maafkan aku.”
Dia menoleh, menyentuh bahuku. “Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Kali ini aku melihat Dev tersenyum dan aku tahu dia tidak mencoba berbohong. Dia benar-benar mengerti.
“Terima kasih.” Ucapku tulus. “Dan tentang Reven, kuharap kau melupakan itu. Mungkin, dia hanya belum bisa menerima kenyataan tentang Noura.” Aku teringat bagaimana penglihatanku yang terakhir itu begitu menggambarkan besarnya perasaan Reven pada Noura. Apakah mungkin semua yang diucapkannya kemarin hanya pelampiasan karena rasa tidak terimanya pada kematian Noura. Tapi haruskah dia mempersalahkan aku untuk semua itu dan mencari pembenaran untuk semua yang belum pasti benar.
“Aku tidak janji untuk itu.”
“Dev.”
“Maaf, tapi kurasa Reven sudah sangat keterlaluan. Tapi tenang saja. Aku akan bicara baik-baik dengannya.” Kata Dev meyakinkanku.
Aku tahu jika untuk yang satu ini aku mungkin tidak bisa membuat Dev menurutiku. Tapi aku tahu jika dia tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku mengkhawatirkannya. Jadi aku berhenti memintanya untuk tidak ikut campur dalam urusan ini
Aku membasuh lukaku di kamar mandi kamarku dengan pelan. Aku baru saja kembali ke kamarku setelah nyaris setengah hari penuh kuhabiskan di padang bunga ungu, berbincang dan bercanda dengan Dev. Kalau saja bukan karena Lyra yang memanggil Dev mungkin kami belum akan menyelesaikan perbincangan itu. Selain itu telunjuk kananku mulai sedikit perih, kurasa aku harus memberinya sesuatu agar luka ini bisa benar-benar sembuh atau aku harus menunda keinginanku memanah lagi.
Hampir saja aku berteriak kaget ketika keluar dari kamar mandi dan mendapati seseorang berada di kamarku. Membelakangiku dan menatap keluar melalui satu-satunya jendela tinggi yang ada di kamarku.
“Kau..” Sergahku ketika sosok itu berbalik pelan.
“Aku hanya ingin mengembalikan ini.” Suara yang dingin itu menyelaku dan melemparkan sebuah benda ke atas tempat tidurku. Aku memicingkan mataku dan menyadari bahwa benda itu adalah kalung yang malam kemarin diambilnya dengan kasar dariku.
“Untuk apa kau kembalikan? Bawa saja, bukankah kau bilang itu milik Noura. Kau bisa menyimpannya.” Sahutku ketus. Aku tidak pernah menyangka akan secepat ini berbicara lagi dengan Reven, dan ekspresinya itu. Memuakkan, sama sekali tidak ada penyesalan.
“Itu milik calon ratu.” Kata Reven sangat datar.
Baru saja aku akan menyahuti ucapannya ketika dia kembali berkata, “Darimana saja kau?”
Mataku melotot. Keajaiban macam apa ini? Seorang Reven menanyakan padaku hal seperti itu. Aku malah muak dan malas menjawab pertanyaannya.
Aku tertawa kecil. Nyaris sinis.
Kulangkahkan kakiku mendekat ke tempat tidurku dan meraih kalung itu. “Bawalah ini kembali.” Kataku sambil menyorongkannya ke arahnya. “Noura akan lebih senang jika kau yang menyimpannya.”
Hampir saja aku melemparkannya ke arah Reven, ketika dia dengan sangat cepat sudah berada di depanku. Mencengkeram telapak tangan kananku yang memegang kalung itu. Dia mencengkramnya sangat erat sehingga ada bagian dari kalung itu yang mengores lukaku.
“Reven, sa-“
“Jangan mengucapkan nama Noura dengan mimik muka seperti itu.” Desisnya penuh amarah.
Aku tidak mengerti kenapa dia bisa semarah ini hanya karena aku menyebut nama Noura. Tapi aku sudah tak mau tahu, aku hanya merasa sangat kesakitan. Kurasa lukaku terbuka lagi.
“Lepaskan, Rev. Kau menyakitiku.” Teriakku
Dia melepaskan cengkeramannya pada telapak tanganku mendengar apa yang baru saja kukatakan. Aku hampir menarik tanganku menjauh darinya ketika dengan sigap dia beralih mencengkram pergelangan tanganku. Aku memekik karena kagetnya sehingga kalung dalam genggamanku terlepas dan jatuh ke lantai. Tapi tak satupun dari kami yang mempedulikannya karena Reven kini memandangi telunjuk kananku yang kembali berdarah.
“Kau terluka.” Katanya tanpa rasa menyesal sedikitpun.
“Sudah kukatakan lepaskan tapi kau-“
“Inikah luka kecil yang kau ributkan dengan Dev tadi.”
Ap-apa yang barusan Rev katakan? Dev??
“Luka kecil yang membawamu dan Dev pada kesalahan yang sama seperti dulu. Kau memang murahan.”
“APA MAKSUDMU” teriakku sangat marah.
“Bukankah harusnya kau sudah paham benar posisimu sebagai calon ratu. Berciuman dengan mantan kekasihmu. Semudah dan tanpa rasa bersalah seperti itu. Bahkan sampai dua kali. Pertama di koridor luar. Lalu sekarang di padang bunga di luar kastil. Apa kau berencana melakukannya lagi dengan Dev, untuk yang ketiga atau mungkin keempat, kelima?”
Aku terhenyak mendengar ucapan Reven. Sungguh, ini percakapan panjang kami yang pertama. Itupun kalau bisa disebut percakapan. Dan apa tadi? Apa yang tadi dikatakan Reven. Ciuman? Padang bunga ungu? Melihatkah dia? Mendadak rasa menyesal yang dalam menyusupiku. Aku akan menyeret Dev dalam masalah besar.
“Kam-ak-aku tidak. Bukan Dev yang salah!” Belaku kesusahan menata kata-kataku.
Reven menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. Dan aku benci sekali dengan tatapannya yang seperti itu, tatapan yang seolah-olah memaksaku untuk berspekulasi dan mencari tahu. “Aku hanya menciumnya untuk menahannya mencari masalah denganmu hanya karena membelaku.”
“Membelamu?”
Aku tidak menjawab, hanya balas menatapnya. Kurasa Reven harus berhenti berusaha untuk terus mengintimidasiku.
“Kau ceritakan semua kejadian semalam padanya. Sebegitu besarkah makna seorang Corbis untukkmu sehingga perlu bagimu berbagi segala cerita dengannya.” Tangannya semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan kananku, sama sekali tak mengindahkan darah yang masih menetes di telunjukku.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Tanyaku putus asa.
Reven mengabaikanku. Dia hanya diam, sebelum mungkin tiba-tiba menyadari darah yang mengalir dari luka goresku tak juga berhenti. Wajahnya menunduk. Aku menjerit histeris ketika tanpa ucapan apapun dia menjilat darah itu.
“APA YANG KAU LAKUKAN???”
Aku meronta jijik melihat kelakuannya. Mengingatkanku pada saat pertama kali aku melihatnya di hutan perbatasan. Tangan kiriku yang bebas kuarahkan dengan brutal berusaha memukul dan menghentikannya tapi tangannya yang lain lebih sigap menangkap tanganku. Kini kedua tanganku dicengkramnya dengan sangat erat.
Beberapa detik kulihat ekspresi terkejut yang janggal di wajahnya, sebelum dia menundukkan kepalanya lagi. Kali ini diarahkannya bibirnya lagi ke lukaku. Dan aku merasa, kali ini dia tak hanya menjilatnya tapi juga menghisapnya.
Aku berteriak semakin histeris karena takut dan gugupnya. Apa- , apa yang sebenarnya dilakukan Reven. Aku meronta dan sekuat tenaga berusaha lepas dari cengkramannya. Tapi sepertinya sia-sia, karena Reven sedikitpun tak terlihat kerepotan menanganiku. Padahal sudah kukerahkan semua tenagaku untuk melakukan apapun yang bisa menghentikannya.
Dia mendorongku dengan tiba-tiba sehingga aku terjungkal jatuh tepat di atas tempat tidurku.
“Darimana kau dapatkan semua kenangan itu?” Geramnya
Mata Reven memerah sempurna. Dan ekspresi itu, ekspresi yang jauh lebih jahat dari yang kulihat semalam. Tanpa sadar aku menyeret tubuhku yang telentang sedikit ke belakang.
“Apa yang kau mak-?”
“Kenangan Noura!!!”
Apa maksudnya? Kenangan Noura?
Reven maju semakin dekat. Dan aku sadar kalau kini aku benar-benar gemetar takut. Aku beringsut bangun. Namun belum benar kulakukan, Reven sudah berada di atas tubuhku dan mencengkram kedua tanganku sehingga aku sama sekali tak bisa bergerak.
Demi apapun aku bersumpah kalau ini adalah rasa takut dan rasa gugup terbesar dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padaku. Jantungku berdetak begitu cepat dan aku benar-benar takut.
“Darimana kau dapatkan kenangan itu. Separuh jiwa Noura hanya mampu memberi sejengkal kecil ingatannya. Tapi kau..” Dia berhenti, nafasnya memburu tak karuan. “Darahmu menunjukkan kau punya semua ingatan Noura!!” Matanya memerangkapku. Memintaku bicara apapun yang kutahu. Tapi aku harus bicara apa sementara aku bahkan sama sekali tak tahu itu.
“Ak-aku tak tahu, Rev”jawabku jujur
“Omong kosong!”
“Sungguh.”
Dia memandangku. Entah karena menyadari wajahku yang sangat ketakutan atau apa dia bangkit. Berdiri agak jauh dariku. Aku buru-buru bangun. Tak mau apapun itu terulang lagi. Reven masih memandangiku. Tapi ekspresinya berangsur-angsur membaik. Sekarang matanya yang berwarna biru bersorot ke arahku. Fokus dan dalam.
“Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana bisa. Dan aku pun juga tak tahu apapun tentang ingatan Noura. Seperti katamu, aku hanya tahu dari apa yang diperlihatkannya padaku melalui penglihatan-penglihatan sekilas. Aku..” aku bicara dengan sangat cepat sampai rasanya aku kehabisan nafas.
“Diperlihatkannya?”
Aku menelan ludahku dengan sulit. Diperlihatkannya? Aku baru menyadari maksud dari kata itu. Aku diam. Tak mampu menjawab karena akupun tak tahu harus bicara apa.
“Apakah Noura hidup dalam dirimu?”
Mataku membesar mendengar pertanyaannya. Apa maksudnya?
“Apa kau merasakan kehadirannya? Atau mungkin, kau bisa berkomunikasi dengannya?”
Dadaku naik turun dengan cepat, irama nafasku tak terkontrol. Otakku mencerna satu demi satu kata yang keluar dari bibir Reven. Tidak! Tidak! Noura tidak hidup dalam diriku. Tidak. Aku adalah aku. Bukan aku dan Noura. Aku tidak merasakan apapun yang berbeda. Diriku masih milikku seutuhnya dan tidak pernah sedikitpun kubagi dengan orang lain. Kehadiran separuh jiwa Noura sudah menimbulkan masalah bagiku. Lalu spekulasi apa lagi kini.
Mulutku terkunci rapat. Pikiranku dipenuhi kemungkinan-kemungkinan dan penolakan-penolakan keras. Segala yang dikatakan Reven tidak masuk akal.
Kami berdua sama diam. Aku sibuk dengan pikiranku sementara Reven? Aku tidak tahu. Tidak pernah tahu. Ekspresinya ekspresi datar dan dingin yang biasa kulihat tertanggal di wajahnya. Selebihnya, aku tak tahu. Aku tak bisa menerobos kedalaman mata birunya dan mengintip sedikit jalan pikirannya. Aku tak pernah bisa.
“Beristirahatlah.” Kata Reven pendek sebelum dia melangkah begitu saja keluar dari kamarku. Begitu aku mendengar langkah-langkah kakinya yang benar-benar menjauh, aku menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidurku.
Sebulir keringat mengalir perlahan di dahiku.
Apa? Apa yang baru saja terjadi? Reven. Ucapannya tadi. Kenapa sepertinya beberapa waktu ini dia mendadak begitu suka membuatku kesulitan seperti ini.
Dan tadi apa maksudnya dengan darahku menunjukkan kalau aku punya semua ingatan Noura. Tidak. Ini pasti hanya gurauan. Tidak. Tidak mungkin. Itu hanya terjadi pada vampir yang menghisap darah mangsanya. Ya, ketika vampir membunuh manusia, dan menghisap darahnya. Maka dengan otomatis semua ingatan dan kemampuan ataupun keahlian manusia itu akan dimiliki si vampir yang membunuhnya.
Lalu, bagaimana bisa?
Reven memang telah menghisap sedikit darahku. Sedikit sekali. Tapi dia bisa merasakan ada ingatan lain selain ingatanku menyatu dalam darahku. Ingatan lain. Ingatan Noura. Tidak ini gila!
Ini mustahil.

Mau Baca Lainnya?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.