Half Vampire – Darah Penyihir

“Sebenarnya apa yang kau rencanakan?”

Ar hanya memandang sejurus ke arah Reven yang menatapnya, menunggu jawabannya. Tapi dia masih saja diam sampai akhirnya dia memilih mengalihkan pandangannya ke satu-satunya perapian di tempat itu. “Aku hanya ingin membuat Rena tahu semua yang memang harus dia tahu.” Jawabnya akhirnya sambil mengamati lidah-lidah api di perapian.

“Hanya itu?”

Kali ini Ar menoleh lagi ke arah Reven, “Memangnya apa yang kau harapkan? Persekutuanku dengan para manusia serigala? Konspirasi menjatuhkan bangsa vampir?” Ar tertawa kecil sebelum melanjutkan, “Kau hanya terlalu khawatir, Rev.”

“Aku hanya tidak mempercayaimu.”

Ar menaikkan alisnya, “Oya? Tapi kau bahkan membiarkan aku ada disini sekarang. Kau bukannya tidak mempercayaiku. Kau cuma masih tidak mau menerima kenyataan yang kukisahkan padamu ketika itu. Noura tidak sepintar yang kau kira, Rev.”

Reven berjalan menjauh, ada sejuta penolakan di kepalanya tapi tak satupun kata yang keluar dari bibirnya. Dia hanya berdiri, menjauh dari tempat Ar duduk. Pikirannya bermain dan beterbangan kemana-mana. “Noura tidak seperti itu.” Putusnya.

Ar hanya memandangi punggung Reven sebelum dia bangkit, berjalan ke arah pintu keluar ruangan di bawah tanah ini. “Kau harus belajar menerima kenyataan itu.” Katanya sebelum menyentuh daun pintu, membukanya dan pergi berlalu di belakang pintu yang kembali menutup.

 ***

“AR!!”

Aku berteriak penuh semangat ketika melihat tubuh Ar berjalan memasuki ruangan makan, aku bahkan tak menjawab sapaan paginya dan malah berjingkat penuh semangat melihatnya. Bagaimana tidak, kupikir aku hanya akan melihat Ar kemarin saja karena ketika aku turun untuk makan pagi ini, aku hanya melihat Damis di ruangan ini.

“Duduk lagi, Rena. Dan habiskan sarapanmu. Ekspresimu terlalu berlebihan.” Candanya sambil mengambil tempat di kursi di sebelahku. Damis yang duduk berhadapan di depanku memandang tingkahku dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maaf. Tapi kupikir kau pergi lagi meninggalkanku. Apa kau baru bangun, Ar?” aku berdecak, “Sekarang kau jadi pemalas rupanya.”

“Aku baru saja menemui Reven dan berbincang dengannya.” Kilah Ar santai sambil menyeruput minuman yang ada di piala di depannya.

“Reven?” aku berkata cukup keras karena terkejutnya, Damispun terlihat mengangkat kepalanya mengamati Ar yang masih meneguk minumannya.

Ar mengangguk, “Ya, sedikit obrolan pagi.”

“Dia memintamu mendatanginya sepagi ini?” Damis masih mengamati Ar yang lagi-lagi mengangguk, “Banyak yang sepertinya akan kami obrolkan, tapi mendadak aku kelaparan sekali jadi aku memintanya membiarkanku menelan beberapa makanan manusia dulu.”

Meski Ar menjawab dengan tidak terlalu serius, aku justru menatapnya dengan dahi berkerut, “Sejak kapan kau mengenal Reven?”

“Belum lama ini.” jawabnya singkat karena kini Ar mencoba memakan habis semangkuk sup hangat yang memang selalu tersedia di tempat ini. Jujur aku bahkan tak tahu siapa yang selalu memasak ini untukku. Sejauh ini adalah makanan manusia dan bukan darah, aku selalu melahap apapun yang tersedia di ruangan ini ketika aku merasa lapar. Tapi sejak Ar mengatakan tentang Reven dan obrolannya yang tak kutahu apa, aku kehilangan selera makanku. Aku menyorongkan piringku yang isinya belum habis, beralih memandang Damis.

“Apa Reven merencanakan sesuatu terhadap Ar? Kalian tidak boleh melakukan sesuatu terhadap Ar tanpa sepengetahuanku.” Protesku yang justru disambut gelengan lembut Damis. “Tidak. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang ini. Rosse maupun Vlad tak berkata apapun tentang kedatangan Arshel. Mereka hanya berkata Arshel adalah tamu Reven, disamping fakta bahwa dia adalah rekan slayermu.”

Jadi ini semua di dalam kendali Reven?

“Apakah aku bisa menemui Rosse hari ini, Damis?” Kupikir mungkin aku bisa mendiskusikan hal ini dengan Rosse jika memang Reven punya maksud tersembunyi.

“Sayangnya tidak, Rena. Rosse pergi menggantikan tugas Russel.”

Kerutan di dahiku semakin bertambah, “Menggantikan Russel?”

Damis mengangguk, “Sejak peristiwa terlukanya Lucia, Russel sama sekali belum melihat secara langsung kondisi Lucia. Menurut Rosse itu bisa jadi masalah, karena jika Russel sama sekali tidak berkonsentrasi pada tugasnya. Semuanya sia-sia. Jadi lebih baik Rosse yang sementara ini mengantikan posisi Russel dan membiarkannya kemari untuk menemani Lucia.”

“Russel di kastil ini?” Aku cukup terkejut menyadari itu karena aku sama sekali belum melihatnya.

“Ya, hanya saja dia sama sekali tidak beranjak dari kamar Lucia sejak tengah malam kemarin ketika dia baru saja menginjakkan kakinya disini. Dia terus menemani Lucia sampai sekarang.”

Aku mengangguk, paham. Russel memang sangat mencintai Lucia. Dan aku mencoba melupakan sejenak kenyataan yang kupikir ada diantara Reven dan Lucia, dan kembali pada masalah Ar dan Reven. Saat aku menoleh ke samping, Ar nampak sedang makan dengan sangat lahap dan nikmat. Aku mengurungkan niatku untuk memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan begitu melihat hal itu. Ar butuh waktu mengisi perutnya dengan baik. Mungkin kehidupannya sejak keluar dari keanggotaannya sebagai slayer, cukup berat.

Aku beralih memandang Damis dan dia hanya mengangkat kedua alisnya, “Apa lagi, Rena?” katanya memahami arti pandangan penuh penasaranku. Aku tersenyum lebar. Damis memang memahamiku.

“Apakah Dev tahu Ar ada disini?” ketika aku bertanya ini, kulihat Ar menoleh sekilas tapi tak berkomentar karena mulutnya penuh makanan. Aku tahu bagaimanapun juga Ar pasti juga merindukan Dev. Kami bertiga pernah menjadi tim dulu.

Damis mengangguk, “Tentu saja, mungkin beberapa hari lagi ketika tugasnya dengan kelompoknya selesai, dia akan berkunjung kemari bersama Lyra.”

Aku mengangguk dan Ar terlihat senang, “Baghaimanha kabhaar boshah ihtu sehkarhang?” tanyanya tak jelas, yang justru mengundang gelak tawaku dan Damis karena tingkahnya. Ar selalu seperti itu.

“Dia baik.” Jawab Damis disela-sela tawanya. “Oya, Rena. Apa hari ini kau masih ingin berlatih memanah?”

Aku menggeleng, “Aku ingin mengobrol dan berjalan-jalan di sekitar sini dengan Ar hari ini. Aku masih sangat merindukannya.”

Damis mengangguk, “Ya. Ya. Kau dan Arshel membuatku cemburu.”

Ar memandang aku dan Damis bergantian sebelum dia tertawa sebentar dan berakhir dengan batuk-batuk yang keras karena di mulutnya masih ada sedikit makanan. Ar menerima minuman yang kusorongkan cepat-cepat dan berusaha menelan sekaligus makanan yang ada di mulutnya tersebut sebelum kembali terbatuk-batuk.

Aku memukul-mukul leher belakangnya dengan pelan, “Kau menjijikan dan ceroboh sekali, Ar.”

Dia berulang kali meminta maaf setelah menemukan kembali suaranya, “Itu salahnya karena berkata cemburu pada kau dan aku, Rena.” Belanya.

Damis masih menahan tawa melihat tingkah kami berdua, “Kalian menggelikan. Jika aku tak tahu cerita tentang Arshel dari Dev. Aku pasti sudah benar-benar sangat cemburu dan berhasrat menyingkirkan Arshel dari kastil ini.”

Aku melemparkan pandangan sebal pada Damis, “Kau tidak boleh melukainya, Damis.”

“Astaga, itu hanya perumpamaan, Rena. Kau sungguh membuatku cemburu sekarang.” Berengutnya dengan muka menyebalkan yang dibuat-buat. Ar terkekeh dan menepuk pundakku pelan, “Sepertinya disini kau dikelilingi orang-orang yang menyayangimu, Rena.” Aku mengangguk, mungkin kecuali beberapa. Seperti Reven misalnya. Tambahku dalam hati tanpa menyuarakannya.

Kami bertiga terus berbincang sampai  Ar selesai makan dan Damis memutuskan meninggalkanku berdua bersama dengan Ar karena dia harus menemui Russel di ruangan Lucia. Sebelumnya aku berniat mengunjungi Lucia, tapi kubatalkan karena mungkin dia tidak akan terlalu suka melihatku memandanginya dalam keadaan lemah. Meskipun aku berperan dalam menyelamatkan nyawanya, sepertinya itu tak mengubah cara pandang Lucia terhadapku. Aku masih merasa dia tetap tidak menyukaiku ketika beberapa hari yang lalu aku dan Rosse menemaninya yang sedang dalam masa pemulihan.

Aku dan Ar memutuskan berjalan-jalan keluar kastil. Seharusnya di luar sudah hangat karena sinar matahari, tapi tempat ini sepertinya memang ditakdirkan penuh dengan awan-awan gelap yang senantiasa membentengi tempat ini dari sinar matahari, karena yang aku dan Ar dapat ketika berjalan keluar justru rintik-rintik hujan yang masih berjatuhan dari langit.

Akhirnya kami hanya bisa berjalan-jalan di sepanjang lorong luar kastil ini sampai akhirnya memutuskan duduk di salah satu tempat disana dan mengobrol sambil memandangi hutan yang pekat oleh warna hijau di kejauhan sana.

“Aku merindukan matahari dan berkuda.” Keluhku sambil memain-mainkan kakiku.

Ar malah menguap, mungkin karena kenyang dan hawa dingin malah menstimulasi tubuhnya untuk mengantuk. Aku memukul bahunya, “Jangan tidur, Ar.”

Ar menguap lagi sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Hanya menguap, Rena. Tadi kau bilang apa? Merindukan matahari dan berkuda?”

Aku mengangguk, “Aku juga rindu Cora? Apakah ada yang merawatnya dengan baik sekarang?” tanyaku sambil menerawang. Cora adalah kuda pertamaku dan dia sangat penurut padaku.

“Edge pasti merawat Cora dengan baik.”

Aku menoleh cepat, “Edge?”

“Aku menitipkan banyak benda dan bahkan makhluk hidup kepadanya. Cora, kudaku, benda-benda milikmu dan milikku. Aku pergi dari kastil para slayer hanya membawa sedikit barang. Kupikir Edge cukup bisa kupercaya untuk menjaga semua itu.”

Akupun sepakat dengan Ar. Edge sangat baik. Kemudian ketika kuceritakan pada Ar bahwa aku pernah bertemu Edge di rumah ketika Dev dan Lyra mengantarku kesana, Ar nampak sangat terkejut. “Dia membiarkan kau dan vampir-vampir itu pergi?”

Aku lagi-lagi mengangguk, “Ya, dia bahkan sebelumnya menemaniku masuk ke rumah dan mengenang semua kenangan indah bersama kau dan ibu di rumah itu.”

Ar nampak berpikir, “Edge melakukan ini terlalu jauh. Kau tahu itu akan sangat berbahaya baginya?”

Aku memasang wajah protes, “Jadi kau lebih setuju jika Edge dan para slayer itu menangkapku??” semburku kesal. Ar menggeleng cepat, “Bukan begitu, Rena. Kurasa Dev dan seorang vampir lagi yang kau sebut tadi bisa mengalahkan mereka tanpa perlu campur tangan Edge dalam hal ini. Dia terlalu gegabah. Itu bisa membawanya pada masalah ketika berhadapan dengan Master nantinya. Master sudah tidak sebaik yang dulu lagi.”

Kedua alisku saling bertautan, tak paham, “Master apa?”

Ar memandangku serius, “Tidakkah kau tahu bahwa istana tidak lagi sepenuhnya dalam kendali Raja?” Ar menghela nafas panjang, “Terlalu banyak campur tangan pihak lain yang mempengaruhi Raja dan para Master. Pemikiran mereka tak lagi sepenuhnya murni dari hati dan otak mereka, Rena.”

“Aku tidak mengerti.”

“Aku jujur saja tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Tapi kupikir para penyihir pelindung istanalah yang melakukannya. Mereka terlibat terlalu jauh dalam masalah istana daripada yang seharusnya. Dan kurasa ada yang salah disini.”

Penyihir pelindung?

Aku menelan dan mencoba mencerna semua yang dikatakan Ar. Penyihir pelindung adalah sekelompok penyihir yang dibayar oleh Raja dan tinggal disatu kastil terpisah seperti para heta dan slayer. Dan tugas mereka adalah membuat batas yang melindungi negeri kami dari makhluk pemangsa. Tapi dulu, kupikir sihir yang mereka miliki sangat lemah jika dibanding dengan sihir milik para penyihir murni yang hidup di kedalaman hutan paling kelam, karena seperti apapun, batas pelindung itu masih saja bisa ditembus oleh sekawanan makhluk pemangsa lapar yang menyergap penduduk-penduduk yang kebanyakan tinggal di desa-desa perbatasan.

Aku mendadak teringat sesuatu dan langsung menoleh pada Ar dengan cepat, “Bukankah kau juga penyihir, Ar? Kau juga tak menceritakan hal itu padaku dulu.” Protesku kentara.

Ar nampak menerawang jauh, “Bukan sepenuhnya begitu. Aku bukan penyihir sejati. Aku hanya memiliki sedikit kemampuan sihir karena darah yang ada dalam tubuhku adalah darah penyihir murni. Tapi aku tidak punya kemampuan sehebat mereka kecuali untuk hal-hal dasar yang bisa secara langsung kulakukan tanpa perlu diajari oleh seseorang. Sihir adalah satu kekuatan yang tidak hanya muncul karena darah yang mengalir di tubuhmu memiliki kekuatan itu, tapi juga tentang bagaimana kemampuan itu diasah dan dilatih untuk membuatnya semakin kuat dan berkembang.”

Aku diam cukup lama. Aku hanya memiliki sedikit kemampuan sihir karena darah yang ada dalam tubuhku adalah darah penyihir murni. Ar berdarah penyihir murni? Tapi bagaimana bisa? Bukankah para penyihir mur-

“Ayahku seorang penyihir murni, Rena.” Jelasnya mengerti raut ketidakpahaman di wajahku. Danlagi, ini kali pertama bagiku mendengar Ar bicara tentang keluarganya. Dulu, ketika dia untuk pertama kalinya muncul di depan rumahku sebagai seorang bocah yang mengikuti, dia sama sekali tak pernah menceritakan apapun tentang latar belakangnya. Ibu kala itu juga merasa bahwa semua itu adalah hak Ar untuk menyimpan sendiri cerita tentang keluarganya.

“Aku tak tahu siapa ibuku, mungkin dia sudah meninggal ketika aku bahkan belum bisa mengingat dengan baik. Tapi yang kutahu aku hanya hidup dengan seorang tua yang kupanggil ayah di dalam gua penuh bau ramuan dan tumbuhan-tumbuhan aneh. Ayahku hanya mengajariku beragam ilmu ketahanan dan keahlian fisik tanpa pernah mau sedikitpun mengajariku tentang sihir.”

Mata Ar nampak menunjukkan bagaimana otaknya sedang memutar semua kenangan masa kecilnya itu, “Dia selalu memarahi dan memukulku ketika aku berusaha dia-diam mengamatinya mengaduk dan membuat ramuan. Dia selalu mencambukku ketika aku mengambil salah satu buku sihirnya yang bahkan sama sekali tak bisa kubaca karena huruf-hurufnya sama sekali berbeda dari apa yang dia ajarkan padaku.”

“Lalu kemudian, dia membawaku pergi keluar dari hutan itu untuk pertama kalinya. Aku melihat manusia-manusia lain selain aku dan ayah. Rumah-rumah. Pakaian yang jauh lebih bagus, makanan-makanan yang luar biasa lezat sampai akhirnya pada seorang lelaki lain yang akhirnya kupanggil Master. Ayah meninggalkanku dengan lelaki itu tanpa mengucapkan satu patah katapun padaku. Dia hanya berjalan menjauh dariku dengan punggungnya yang bongkok. Dan ketika aku mengedip untuk keempat kalinya dia sudah lenyap dari pandanganku. Itulah terakhir kalinya aku melihat dia. Dan kemudian kau tahu akhirnyakan, Rena?” Ar memandangku. Dia tersenyum kecil.

“Tempat pelatihan. Master membawaku kesana. Dan aku akhirnya merasa sangat beruntung karena aku bertemu denganmu dan ibu..” suaranya mengambang.

Aku akhirnya paham kenapa Ar bisa sangat dekat dengan Master, mungkin karena Master telah mengenal siapa ayah Ar dan percaya pada potensi yang dimilikinya. Kemudian tentang perasaan Ar padaku dan ibu. Aku pun pada akhirnya mengerti. Saat kami menjadi dekat dan Ar menjadi selalu ikut pulang bersamaku ke rumah, dia merasakan perasaan dicintai oleh sosok ibu yang selama ini tidak dimilikinya. Dan mungkin pula, itu untuk pertama kalinya Ar merasakan kehangatan keluarga.

Aku menutup julutku dengan satu tanganku.

Lalu ketika ibu meninggal?

Pasti perasaan Ar jauh lebih hancur daripada yang kurasakan ketika itu. Aku memandangnya. Melihat dia masih memandang ke depan dengan mata menerawang.

“Ar..” panggilku tertahan.

“Maaf tidak pernah menceritakan apapun tentang asal usul keluargaku kepadamu dan ibu sebelumnya. Aku hanya takut, Rena, jika kalian tahu aku adalah seorang anak dari penyihir murni, kalian akan menjauhiku. Aku tidak bisa. Ibu sangat berharga bagiku.”

Aku sekali lagi mengerti. Bagi kami para manusia, meskipun penyihir bukan kelompok yang secara langsung membahayakan kami. Kami tetap tidak bisa secara terbuka menerima keberadaan mereka dan sihir mereka. Kami mendambakan kehidupan normal lebih daripada apapun. Manusia dan manusia. Atau makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan. Tanpa vampir, tanpa manusia srigala dan tanpa penyihir sekalipun. Keberadaan penyihir ketika itu mungkin terlihat dihormati, tapi jauh dari itu, manusia membencinya. Sama seperti kebencian kami pada para makhluk pemangsa.

Aku menyentuh pundak Ar. Dan belum sempat kukatakan sepatah kata, dia sudah bicara lagi sambil memandangku, “Aku tidak ingin mengecewakan, Ibu.”

Aku mengangguk, “Ibu akan selalu bangga padamu dan menyayangimu sama seperti yang selalu dia lakukan padamu meskipun ibu mungkin tahu kau memiliki darah penyihir Ar. Kau tidak pernah mengecewakan ibu.” Teguhku.

“Dan aku memang tak akan membuatnya kecewa seandainyapun dia masih hidup sekarang, Rena. Karena aku akan memegang janjiku pada ibu.”

“Janji?”

“Untuk menjagamu.”

Aku memeluk Ar singkat, “Dasar bodoh.” Aku memukul bahunya lagi. “Kau selalu melakukan itu sejak awal, Ar. Di pelatihan, saat tugas percobaan tim pertama, saat tugas, bahkan saat aku berubah menjadi Half Vampire. Kau selalu menjagaku, kau tahu?”

Ar tertawa, “Aku memang ahli dalam hal itu.” Katanya membanggakan diri.

Aku ikut tertawa. Hujan masih turun di depan kami, tapi kami tertawa lepas sambil terus mengisahkan kenangan-kenangan indah milik kami sampai kebahagiaan benar-benar membuncah memenuhi dadaku hari itu. Aku benar-benar bersyukur Ar kembali ada disini.

 ***

Russel memandang Lucia dengan penuh khawatir, digenggamnya jemari-jemari pucat Lucia dengan penuh kehangatan. Tapi Lucia justru memandang Russel dengan sayu. Ada kekecewaan berpendar di mata birunya yang biasanya bersorot tegas.

“Kau tidak bisa melakukan itu sendirian.” Suara Lucia memecah keheningan yang menyelimuti kedekatan mereka. Russel yang duduk di kursi kecil disamping tempat tidur Lucia hanya memandang Lucia dengan lelah. Dia ingin protes, tapi melihat kondisi Lucia yang berbaring lemah di depannya membuatnya mengurungkan niatnya.

“Kau tidak bisa, Russel.”

“Tidakkah kau mau sekali saja percaya pada keputusanku, Lucia?”

Lucia menggeleng lemah, “Serahkan itu pada Reven. Dia akan sanggup mengatasinya. Kau tidak bisa. Jangan terus menerus memaksa melakukan tugas itu. Kau lihat hasilnya sekarangkan? Tak ada perkembangan baik yang terjadi.” Lucia nampak menahan amarahnya. Wajahnya memucat lebih daripada hari biasanya.

“Aku tidak mau. Reven sudah terlalu banyak mengambil alih apa yang seharusnya menjadi tugasku sejauh ini. Aku hanya ingin nampak berguna dimata Vlad dan dimatamu, Lucia. Tidakkah kau merasakan aku berusaha keras membuatmu bangga padaku.”

Lucia kembali menggeleng lemah, “Kau bodoh. Kau bisa mati.”

Russel memandang Lucia, tanpa melepaskan genggamannya di tangan Lucia, dia beringsut naik dan berbaring di samping Lucia. “Aku merindukanmu.” Katanya sambil memeluk Lucia yang tak bereaksi apapun.

“Kau keras kepala, Russel.”

Russel mengabaikannya, dia malah semakin mendekat dan merapatkan tubuhnya pada Lucia, “Aku ingin seperti ini terus. Berada di dekatmu dan merasakan kalau kau benar-benar ada.”

“Russel, kumohon hentikan tindakan keras kepalamu dan serahkan semua pada Reven. Aku yak-“

Satu kecupan cepat dan singkat menghentikan Lucia, dia akhirnya memandang Russel yang berbaring di sampingnya dan sudah melonggarkan pelukannya. “Sekali ini percayalah padaku, Lucia. Aku akan melakukan semuanya dengan benar dan kau tidak perlu ikut campur dan menjadi terluka begini. Kesakitanmu membuat penyesalan yang mendalam dalam diriku. Setiap detik kubayangkan kau berlumur darah dengan panah perak sialan itu menancap di dadamu dan aku menjadi semakin terluka. Jadi kumohon percaya padaku dan aku akan membuat semuanya lebih baik lagi. Reven, Vlad, Rosse dan Damis akan mengerti kalau aku memang bisa pada akhirnya untuk mengambil alih tugas ini.”

“Tapi..”

“Lucia..aku janji aku akan kembali dengan hidup. Bukankah vampir itu memiliki kehidupan abadi?” Russel tersenyum dengan memandang Lucia, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Lucia.

“Kau bodoh, Russel. Kau bodoh dan keras kepala. Kalau kita abadi, apa pikirmu aku sekarang. Satu panah perak murni saja sudah membuatku seperti ini.”

Russel masih saja tersenyum, tapi kali ini dia tidak membantah. Dia hanya mendekatkan tubuhnya pada Lucia dan memeluk Lucia lagi, “Aku tidak akan membuat satu panah atau benda perak apapun meyakitimu lagi. Aku melakukan tugas ini dengan benar dan kita akan bersama selamanya. Bukankah sudah ada Sherena yang menbantu semuanya menjadi lebih baik bagi kaum kita.”

Lucia tak balas memeluk Russel, dia hanya diam tapi tak juga menarik diri dari pelukan erat Russel. Matanya memandang ke langit-langit sebelum akhirnya kembali bersuara ketika kembali menemukan mata Russel yang berpendar penuh kasih sayang menatapnya, “Kau dan perempuan itu sama bodohnya, Russel.”

 ***

Damis berhenti, berdiri tak jauh dari pintu ruangan Lucia. Telinganya menangkap semua percakapan itu. “Mungkin ini memang akan sesulit seperti apa yang dikatakan Reven.” Dia menghela nafas berat. Mengurungkan niatnya untuk menemui Russel dan berbalik arah. Berjalan menuju ruangan bawah tanah

 

<< HALF VAMPIRE – Kembalinya Arshel

HALF VAMPIRE – Hubungan >>

Mau Baca Lainnya?

22 Comments

  1. author, jangan bikin penasaran dung,,, 🙁
    feel aja sih, ngerasa kalo si mantan ratu ini ada something ama si ar. give me a little clue, hihihihi 😀
    Btw ada jdwal untu update ga ya ?

  2. Hahahaha, maaf maaf..
    Ar dan Noura ya?? Tenang saja, Noura baik cuma ngga terlalu cerdik menilai keadaan saja 😛
    Jadwal update sih, insya Allah setiap weekend.

  3. Sesuai genrenya ceritanya semakin seru…
    sulit juga untuk memprediksi alur cerita seperti ini
    yang jelas sangat unpredictable…
    bikin penasaran dan sangat di nanti-nantikan untuk kelanjutannya…
    Keep writing!

  4. Salam kenal buat authornya hehe
    *orang baru* hihi
    Aku ngukutin cerita ini dari watty tp diwatty aku g comment ceritanya , maaf yah 🙁
    aku bru baca cerita ini pagi ini loh dan langsung tertarik ga bisa berenti baca ampe part 33 diwatty, tp karena aku penasran ama blognya jd aku kunjungin blognya tp kok yh disini lebih panjang yh ceritanya?
    Ini cerita keren banget deh sumpah, trusannya kapan? Ditungguin loh, penasran banget soalnya hehe

  5. Terima Kasiiihh
    Aku juga bahkan sebenarnya ga tahu mau gimana alur cerita ini nantinya, nulis ngalir gitu aja. Semoga hasilnya selalu bagus. Semoga..
    Tetap baca HV ya 😀

  6. Salam kenal baliiikkkk
    Yup, gpp lagi. Komen di blog aja lebih cepet dibacanya. Aku jarang buka watty soalnya 😛
    Terharuuu, sampe dibelain ga berhenti2 baca.
    Makasiii makasiiii, Insya Allah setiap weekend pasti update chapter baru. Tapi minggu ini sepertinya molor karena kuliahnya sibuk banget. Maaff
    🙂

  7. thor ceritaya seru bgt,, makin baca makin penasaran ,,,,
    semoga rena sama revan lebih deket,, aku penasaran spa yg di pilih rena

Leave a Reply

Your email address will not be published.