Half Vampire – Dev

“Kenapa kau tak membawanya?” Kata perempuan cantik dengan rambut pirang panjang sambil menatap punggung laki-laki yang tegap memandang keluar melalui jendela tinggi.

Laki-laki itu hanya menggeleng, tak menjawab apapun. Perempuan itu tersenyum penuh arti, lalu menghampiri laki-laki itu, mengulurkan segelas minuman berwarna merah pekat yang diterima laki-laki itu juga tanpa bicara apapun. “Aku tau kau sebenarnya tak pernah ingin perempuan itu dibawa kemari. Tak perlu berbohong padaku, Rev.”

Aku mengerjap kaget dan langsung bangun dari tempat tidurku. Dengan mata yang berat aku mencoba bangun dan melawan keinginanku untuk melanjutkan tidurku yang terganggu. Semalam aku baru tidur saat lewat tengah malam gara-gara Ar ngotot ingin berlama-lama ngobrol denganku setelah kami pulang dari rumahku. Dan sekarang saat matahari belum terbit aku sudah terbangun entah karena apa.

Aku merasa haus, dengan malas dan enggan kugerakkan langkah kakiku ke luar dari kamarku. Lorong asrama masih sunyi senyap. Tak ada aktifitas atau suara apa pun. Semua pintu kamar tertutup. Aku berjalan pelan ke dapur asrama. Perlahan pula, ingatan akan mimpi semalam berkelebatan di pikiranku. Mimpi atau yang lebih suka di sebut Ar sebagai penglihatan itu selalu saja samar, aku tak pernah bisa dengan jelas mengetahui apa, siapa dan entahlah. Karena setiap aku berusaha mengingat lebih, semua ingatan akan mimpi itu justru akan menhilang dan tak berbekas.

Sebenarnya itu apa? Laki-laki dan perempuan itu siapa? Apa yang mereka bicarakan? Apa hubungannya denganku? Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? Melihat sesuatu yang sepertinya tak berguna untukku. Aku selalu penasaran dan rasa penasaranku itu sejauh ini tak terjawab sama sekali. Atau aku yang tak tau harus memulai darimana agar aku bisa tahu. Aku menghela nafas panjang. Sudahlah, mungkin ini memang belum waktuku untuk tahu.

Aku meneguk air putih dalam gelas yang kuminum dengan cepat. Memandang keluar melalui jendela kecil di dapur asrama, aku melihat suasana di luar masih agak gelap. Aku membuka jendela itu dan merasakan udara dini hari menerpa wajahku. Bau embun dan dingin.

“Kau bisa masuk angin kalau terus membiarkan jendela itu terbuka. Udara diluar sangat dingin.”

Aku menoleh cepat dan waktu seperti berhenti. Aku mematung, tak percaya pada apa yang ada di depan mataku. Sosok di depanku itu mendekat. Begitu dia tepat berada di depanku, tangannya langsung merengkuhku dalam pelukannya. “Aku merindukanmu, Sherena.”

Mendadak aku merasakan sensasi mual saat mendengar ucapannya. Membuat kesadaranku kembali. Aku mendorongnya keras, membuat dia terjungkal dan menabrak meja di belakangnya.

Aku menatapnya penuh kemarahan, ”Bagimana kau bisa kembali masuk ke tempat ini, vampir busuk??” teriakku seraya memberi tekanan lebih pada dua kata terakhir pada kalimat yang kuucapkan.

“Kau sudah lupa seberapa ahlinya aku menyelinap, Rena. Dan asal kau tahu meja kayu ini membentur kepalaku dengan keras. Sakit sekali.” katanya ringan sambil bangun dan mengusap belakang kepalanya beberapa kali. Jelas sekali nampak tak terganggu dengan sebutan vampir busuk yang kuteriakkan padanya.

Dan dengan entengnya dia berdiri, menarik satu kursi di dekatnya dan duduk dengan manis, memandangiku. “Aku sungguh merindukanmu, Rena.” Katanya lagi.

 Aku meletakkan gelas dalam genggamanku dengan kasar dan berlalu pergi begitu saja dari dapur. Aku tidak tahan melihatnya.

Aku membanting pintu kamarku. Bagaimana makhluk sialan itu bisa ada disini. Aku berbalik, dan ketika menatap ke depan jantungku rasanya mau melompat keluar. Terkejut, marah dan kesal. Dia memandangku, duduk diatas tempat tidurku, tersenyum.

Aku tahu wajahku memanas. Air mata mengantung di ujung mataku. Dadaku terasa panas terbakar oleh semua amarah dan perasaan negatif yang ada dan tumpah ruah menjadi satu. Aku berjalan ke arahnya dan melayangkan tinjuku tepat ke wajahnya.

“Vampir bodoh, mata-mata busuk. Penyusup tak berotak. Berani-beraninya kau kembali kesini. Apa kau mau kembali membodohiku lagi seperti yang dulu kau lakukan padaku. Apa belum puas kau melakukan itu dulu, Hah!” raungku sambil tanpa henti memukulinya.

“Oh wow ow Rena, he..heyy henn..hentikan.” dia mencoba menutupi wajah dan tubuhnya yang kuserang dengan tinju yang membabi buta dengan kedua tangannya.

“Apa kau belum puas? Iya? Belum puaskah sehingga sekarang kau muncul lagi.” aku tak peduli dan terus berteriak sambil memukulinya. Sepertinya aku sudah gila atau entah apa. Tapi aku merasa memukulinya lebih melegakan daripada perasaan lain yang mucul.

“Rena..Rena. Hentikan!” teriaknya sambil menarik satu tanganku membuatku terjatuh tepat di atas tubuhnya yang kini terlentang di atas tempat tidurku. Aku terdiam sesaat saat mata kami saling bertemu. Mata biru terang miliknya membuatku terpaku. Wajah kami hanya berjarak kurang dari lima senti dari wajahnya. Dan dia terus menatapku dalam kesunyian yang tercipta. Aku merasakan jantungku berdebar dengan sangat kencang. Sialan.

Tok tok tok

“Rena.. Rena ..Rena..!!!”

Kesadaranku seperti kembali lagi, aku berterima kasih kepada siapa pun yang mengetuk pintu kamarku. Aku bergerak turun dari tubuhnya dan berlagak tak mendengar ketika dia memaki siapa pun yang mengetuk-ngetuk pintu sambil terus meneriakkan namaku itu.

“Sembunyikan dirimu.” ucapku sepelan mungkin saat aku sudah memegang daun pintu. Aku menoleh ke belakang sebentar dan sudah tidak melihat dia di atas tempat tidurku atau dimana pun sejauh mataku mencoba meneliti kamarku sendiri.

Aku membuka pintu dan mendapati Edge ada di balik pintu.

Dia menjulurkan kepalanya ke dalam kamarku, ”Kau tak pa-apa Rena? Ada siapa? Kudengar keributan dari arah kamarmu.” Ucapnya begitu melihat tak ada siapapun di dalam kamarku.

 “Tidak ada apa-apa Edge. Sungguh. Mungkin keributan yang kau dengar tadi hanya suaraku, yahh aku hanya sedang mencoba untuk bernyanyi. Apakah terdengar begitu Buruk?” tambahku dengan ekspresi serius konyol yang coba ku perlihatkan pada Edge.

Edge terkekeh, ”Tidak. Tidak. Tentu tidak buruk Rena, tapi sangat buruk. Aku bahkan semula mengira kalau itu suara jeritan umpatan atau apapun yang jelas bukan nyanyian.” Edge menanggapi kelakarku dengan sangat jujur. ”Oiya..” katanya seperti teringat dengan alasan lain yang membuatnya ada di hadapanku sekarang,”Master memanggilmu.”

“Master memanggilku? Sepagi ini.” Aku agak terkejut, “Tugas kah?”

Edge mengangkat bahunya,”Entahlah tapi sepertinya sangat penting. Sepertinya kau harus segera bersiap menghadap master sekarang juga, Rena. “

Aku mengangguk, ”Ya,baiklah. Aku akan akan bersiap-siap dulu.”

“Ya, bersiaplah. Aku juga harus bersiap pergi. Hari ini jadwal berjaga di perbatasan timur.”

“Hati-hati Edge.”

 Edge mengangguk, melambaikan tangannya dan tersenyum padaku sambil beranjak pergi. Aku menatap punggung Edge yang makin menjauh, memastikan dia benar-benar pergi sebelum aku menutup kembali kamarku dan begitu aku berbalik aku sudah melihat dia kembali duduk di atas tempat tidurku dan tersenyum sangat-sangat manis padaku.

 “Dev..”

Aku menyebut namanya lagi untuk pertama kalinya sejak setahun lalu ketika untuk terakhir kalinya aku memandang wajahnya. Tapi itu bukan jenis perpisahan yang baik mengingat bagimana waktu itu dia di kejar nyaris puluhan heta dan slayer terlatih begitu dia ketahuan menyusup dalam organisasi ini. Dia, vampire yang menyamar sebagai manusia dan telah mejadi Heta, pelindung keluarga kerajaan selama nyaris berbulan-bulan.

Sungguh kejadian yang sangat memalukan, mencoreng nama baik heta sebagai organisasi elite kerajaan. Aku tak tahu bagaiman kami bisa tertipu mentah-mentah seperti itu. Aku juga sama sekali tak mengerti bagaimana caranya Dev mampu menyembunyikan identitas maupun cirri-cirinya sebagai makhluk yang bukan manusia serapi itu.

Kami mungkin tak akan pernah menyadari sosok Dev yang sebenarnya kalau saja dia tak kehilangan kontrol akan emosinya saat melihat seorang heta senior memaki dan menampar wajahku dengan keras saat aku gagal melindungi sepupu pangeran dari terjangan manusia srigala dan membuat lengan anak itu terluka meski bukan jenis luka yang serius.

Dev menerjang heta seior itu dan nyaris membuat laki-laki itu terbunuh. Dan tindakan itu pun juga berakibat afatal untuknya. Aku juga tak pernah tahu bagaimana saat itu Dev bisa lolos dari kejaran para heta terlatih tapi yang jelas aku mendapat masalah besar karenanya. Beruntung master tidak menghukumku karena Ar meyakinkan bahwa aku sama sekali tak terlibat dalam hal ini. Bahwa aku juga sama sekali tak tahu menahu kalau Dev sebenarya adalah mata-mata. Aku sungguh berterima kasih pada Ar karenanya, master selalu mempercayai Ar dan mau memberiku kesempatan.

Sejujurnya aku merasa begitu bodoh. Aku merasa ditipu dan dikhianati. Sebelumnya kami terbiasa menjadi satu tim, aku, Ar dan Dev, ketika dalam uji coba tugas. Dev bergabung ke tim kami tak lama setelah aku kehilangan ibu dan kehadiran Dev yang merupakan tipe orang yang sangat periang dan menyenangkan mampu membuatku lebih sering tersenyum setelah itu. Kami bertiga menjadi terbiasa bersama dan itu menimbulkan ikatan yang cukup kuat di antara kami. Ikatan persahabatan.

Tapi sepertinya ikatan itu berlaku lebih untuk aku dan Dev, kami saling mengagumi, atau mungkin saling menyukai. Arshel tahu hal ini tidak boleh terjadi. Akan berakibat sangat buruk jika orang lain tahu kan hal itu. Bagi kami, para heta dan slayer kerajaan sangat pantang untuk menjalin hubungan dengan anggota setim kami. Tapi sekali lagi Ar memainkan perannya sebagai pelindungku disini. Dia membiarkan aku berkencan dengan Dev dan menjalin hubungan dengannya karena Ar tahu bagaimana saat itu aku sangat bahagia karena Dev.

Aku benar-benar menyukai Dev pada waktu itu tapi nyatanya perasaanku harus berakhir dengan rasa penyesalan yang begitu dalam. Dia, vampire bodoh menyebalkan yang dengan berani-beraninya membohongi dan menipuku mentah-mentah. Aku merasa Dev memanfaatkan perasaanku padanya dan itu membuatku marah. Membencinya.

“Dev..” kataku lagi, kini dalam nada yang sangat tajam. Aku tahu amarahku jelas terpancar dari semua sikap yang ku tunjukan padanya.“Pergi dari sini!”

“Pergi dari sini?” Dev mengulang ucapanku, kentara sekali dia begitu bingung.

Aku mengambil pedang, panah dan beberapa senjataku lainnya tanpa mengacuhkannya. Aku menyelipkan pedang perak di pinggangku. Mengendong busur dan anak panahku di punggung serta menyelipkan beberapa pisau kecil dalam seragam heta yang kini telah kupakai.

“Apa ada tugas?” dia bertanya.

Aku membuka lemari tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaannya. Sebenarnya aku heran mengapa aku masih saja diam dan membiarkannya disini tanpa melakukan apapun tehadapnya. Aku harusnya sebagai seorang heta mesti melakukan sesuatu mengingat dia adalah buronan organisasiku.

Aku mengambil beberapa bungkus serbuk obat penghilang rasa sakit dari lemari. Mungkin perlu, pikirku mengingat luka-luka di lengan Ar. Mungkin kali ini aku juga setim dengan Ar. Ketika aku membalikkan tubuhku, Dev sudah berdiri di hadapanku, begitu dekatnya sampai hampir tak ada jarak diantara kami. Dan aku tak bisa mundur lagi ketika kurasakan busur yang bersentuhan dengan lemari menekan punggungku.

“Sherena..”

Aku diam dan menatapnya. Aku tahu menghindari Dev sama sulitnya dengan mencoba pergi dari Ar. Jadi aku menatapnya marah karena semua perasaan itu dan dia balas menatapku dengan mata birunya yang berpendar lembut. Kontras sekali dengan tatapanku untuknya. Aku memalingkan wajahku menghindari tatapannya yang terasa aneh untukku.

Aku nyaris saja sanggup menguasai ekspresi wajahku tetap nampak dingin dan tak bersahabat. Tapi dasar jantung pengkhianat, dia justru berdetak sangat kencang di saat-saat seperti ini. Rasa-rasanya aku seperti menelan genderang perang saja. Sangat memalukan.

Aku yakin sekali Dev bisa mendengar bagaimana jantungku berdetak dengan tempo yang tak wajar seperti itu. Aku tahu karena dia nampak seperti ingin tersenyum tapi di tahannya. Aku pura-pura tak menyadari semua itu sebelum tangannya menyentuh pipiku dan memaksaku memandangnya, “Apa kau masih marah untuk semua kejadian dulu itu Rena? Aku sungguh-sungguh minta maaf dulu sudah menutupi identitasku yang sebenarnya padamu. Tapi sungguh Rena aku bukan mata-mata klan ku. Jadi kumohon, maafkan aku.”

Dasar vampir bodoh tak romantis, bisa-bisanya dia menunjukan wajah seperti itu. Wajah innoncent konyol yang menurutku lebih mirip wajah anak anjing yang kelaparan. Aku nyaris saja nyengir melihat ekspresinya. Dia benar-benar tak ahli dalam merayu seorang wanita.

“Sherena..”

Aku memandang tepat di matanya ketika kudengar suaranya yang lembut dan tulus memanggilku. Aku merasakan dunia sepertti semakin menyempit saja ketika kusadari wajah Dev yang sudah begitu dekat dengan wajahku malah semakin mendekat saja.

Harusnya aku melakukan sesuatu saat ini, tapi aku atau lebih tepatnya semua organ tubuhku sepertinya menolak untuk menghindarinya. Aku benci mengakui kalau itu sama sekali bukan akibat dari sihir Dev. Aku memejamkan mataku saat aku merasakan hembusan nafas Dev menerpa wajahku.

Aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bibirku, menyapunya dengan lembut. Sungguh heran kalau rasa dingin itu justru membuatku merasa hangat. Aku..

Ini tak boleh terjadi. Aku tak boleh terhanyut dalam perasaan yang harusnya sudah kubunuh sejak aku tahu dia bukan berasal dari ras yang sama denganku. Tapi entah apa yang terjadi pada diriku saat ini. Semua yang ada pada tubuhku seakan menginginkan Dev, seperti tak ingin menolak. Aku bahkan merasakan bahwa entah bagaimana jadinya, kedua tanganku sudah melingkari leher Dev.

Rupanya percuma saja bersikap dingin pada awalnya kalau akhirnya pun aku yang kalah kalau akhirnya pun perasaanku mengalahkan logikaku. Dev semakin merapatkan tubuhnya padaku, aku merasakan tangannya menyentuh pinggangku lembut.

“Aku tak bisa melupakanmu, Rena.” Ucapnya di sela-sela ciuman kami.

Aku..

BRAAKKKKK.

Mau Baca Lainnya?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.