Half Vampire – Ego

Aku benci mengakui bahwa aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih akhir-akhir ini. Kematian Dev adalah sebab utamanya. Aku benar-benar tidak tahu harus bertindak bagaimana menghadapi kejadian tak terduga ini. Dev? Dia..  aku selalu kehilangan kata-kataku ketika aku kembali memikirkan ini. Aku mencoba berpikir bahwa Dev baik-baik saja. Dia tidak pernah mati. Vampire makhluk abadi bukan? Jadi Dev abadi bukan? Dia.. dia tidak akan mati. Lagipula aku tidak pernah melihat jasad Dev, jadi bisa saja tidak terjadi apapun padanya. Bisa saja Dev tidak mati. Mungkin saja petanda yang dirasakan Lyra dan seluruh keluarga Corbis adalah petanda yang salah. Dev tidak mati. Tidak. Mungkin saja Morgan cukup berbaik hati untuk tidak membunuh Dev dan hanya menangkapnya. Ya, itu lebih baik. Morgan menangkap Dev dan Dev tidak mati. Dia baik-baik saja di desa Morgan dan menunggu untuk diselamatkan.

Dev sudah mati, Rena. Kau tidak bisa terus menerus mengingkari kenyataan itu. Deverend Corbis sudah mati.

Tidak. Aku.. Dev..

“Kau baik-baik saja?” aku mengangkat wajahku dan menemukan wajah Reven disana. Menatapku dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun. Aku masih memandanginya tanpa tahu harus menjawab apa.

“Rev..” suaraku menghilang. Keningku berkerut dan aku menemukan sebuah pertanyaan yang membuatku tersentak. Darimana saja dia? Kemana saja dia ketika kami semua membutuhkannya? Bukankah seharusnya dia yang bertugas melindungiku selama penyusupan itu? Bukankah dia bisa melakukan itu jika dia tidak sibuk dengan segala urusan sok pentingnya? Jika Reven yang melindungiku, mungkin Dev masih hidup dan baik-baik saja. Dev akan baik-baik saja.

Reven sepertinya tidak menyadari perubahan araut wajahku karena dia mengambil tempat dan duduk di sampingku. Ruang pribadiku yang temaram menyamarkan kemarahanku padanya yang berkilat jelas di kedua bola mataku.

Seandainya saja Reven tidak egois dan tidak memusatkan pikirannya hanya pada masalah Noura, segalanya tidak akan seburuk ini. Lagipula apa bagusnya Noura. Perempuan itu cuma pembawa ketidakberuntungan bagiku. Aku terseret dalam takdir menyesatkan ini juga karena Noura, dan Reven malah seenaknya sendiri hanya mementingkan Noura yang jelas-jelas sudah mati.

“Aku mendengar sesuatu tentangmu dari Lucia. Apa kau yakin waktu itu kau benar-benar berlari seperti biasa ketika Lucia mengajakmu pergi dari desa. Apakah kau benar-benar nyaris menyamai langkahnya?” suaranya berhenti, aku masih menatapnya berapi-api. Omong kosong apa yang tadi dia katakan. Kurasa aku harus berhenti merasa takut pada Reven. Makhluk gila di depanku ini tak pantas menerima perasaan takutku. Makhluk egois paling menyedihkan yang pernah kulihat.

“Sherena.” Panggilnya lagi ketika aku tidak bereaksi, “Kau mendengarku?”

Aku mendengus, “Apa pedulimu jika aku tidak mendengarkanmu? Apa kau akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapku?”

Dia nampak sedikit terkejut mendengar apa yang kukatakan. Namun secepat kedipan matanya, ekspresinya kembali seperti semula. Aku benci wajah datar itu. Wajah tanpa perasaan apapun. Aku mendengar lagi suaranya ketika kemarahanku padanya hampir mencapai puncaknya, “Aku turut menyesal atas apa yang terjadi pada Deverend Corbis. Tapi kurasa memang itulah yang seharusnya dia lakukan. Dia berkorban banyak demi kelompok kita.”

Kerutan di keningku semakin dalam, apa yang dikatakannya tadi?

“Aku akan mengatur segalanya agar Deverend Corbis dan kelompok kecilnya mendapat penghormatan yang cukup di kelompok kita.”

“CUKUP.” Teriakku lantang. “Cukup mengatakan hal tidak penting seperti itu. Apa kau pikir nyawa Dev sepadan dengan penghormatan setinggi apapun yang akan kau berikan pada keluarga Corbis? Apa kau pikir semuanya semudah itu bisa didiskusikan?” aku mengatur nafasku yang memburu.

“Dengar Reven.” Aku menatapnya tepat di kedua bola matanya yang biru, “Dev mati. Dan kau malah sibuk dengan semua urusanmu sendiri. Kemana kau ketika semua orang membutuhkanmu. Harusnya kau tetap menjaga dan melindungiku di desa itu. Harusnya kau yang harus berjuang melawan Morgan dan bukannya Dev.”

“K-kau.. memuakkan.”

Suasana hening mencekam menelanku ketika semua suara dan teriakanku akhirnya menghilang. Dadaku masih naik turun dengan tidak normal dan Reven hanya memandangiku dengan-sialnya-ekspresi sama dan tak berubah sama sekali. Astaga, dia benar-benar keterlaluan.

“Jadi kau menyalahkanku atas kematian Dev?” dia mengamatiku.

“Ya.” jawabku tegas tanpa keraguan sedikitpun. Memang siapa lagi yang harus kupersalahkan. Reven yang harus bertanggung jawab atas semua ini bukan? Dia kaki tangan Vlad, Damis bahkan sepertinya tidak memiliki pengaruh sekuat yang dimiliki Reven.

Sudut bibir Reven tertarik ke atas. Mataku nyaris keluar ketika aku melotot dengan mengerikan melihat senyuman itu,. Apa-apaan dia ini? Aku baru saja mempersalahkannya atas kematian seseorang dan dia malah tersenyum. Aku mengertakkan gigiku. Aku tidak tahan lagi berada satu ruangan dengan makhluk seperti ini.

Nyaris berlari dan mencapai pintu kamarku ketika tangan Reven menarikku dengan kasar. Ketika aku berbalik dia maju dan mendorongku ke belakang hingga punggungku menekan pintu dengan keras. “Rev-“ suaraku menghilang ketika kedua bola matanya memerangkap pandanganku. Kedua tangannya berada di kedua sisi wajahku.

“Apa-?”

“Kau mencoba mengintimidasiku, Sherena?”

Kedua alisku tertaut, “Apa maksudmu? Dan lepaskan aku, aku muak berada di dekatmu.” Teriakku di depannya. Mencoba melepaskan diriku dan dia malah menghempaskan tubuhku kembali pada posisi semula.

“Kau mengatakan banyak hal di depanku semata-mata karena kau kehilangan Deverend Corbis. Benar begitu, Sherena Audreista?” dia mengucapkan namaku dengan lengkap sama seperti ketika dulu. Aku mengingat momen itu. Ketika Reven menuduhku dan mengatakan banyak hal menyakitkan padaku seusai pesta penyambutanku. Apa dia akan melakukannya lagi? Apa dia pikir aku akan lari dan menangis lagi seperti dulu?

Aku mendengus. Dia akan kehilangan sikap lemahku itu. Aku mengangkat daguku, balas menatapnya. “YA.” aku menantangnya, “Bagiku satu orang seperti Dev jauh lebih berharga dari seribu orang sepertimu. Dev jauh lebih penting dalam kehidupanku daripada kehidupan mengerikan di tempat ini. Kau dan semua orang menyedihkan disini tak pernah sedikitpun lebih baik daripada Dev.”

“Ka-“

“Dan kau adalah yang paling menyedihkan, Rev.” Aku memotong ucapannya, “Kau hidup dalam dunia mimpimu tentang Noura. Perempuan itu sudah lama mati dan kau masih saja hidup dalam bayang-bayang kenangan Noura. Kau pikir siapa dirimu? Kau bahkan lebih lemah daripada manusia yang kau anggap budak-budak sampah. Kau, REVEN, adalah orang paling menyedihkan yang pernah aku lihat.”

“Tutup mulutmu.” Dia benar-benar terlihat marah. Tapi aku tidak akan berhenti. Tidak sekarang. Tidak lagi.

“Aku tidak akan menutup mulutku, Rev. Aku akan terus bicara. Aku akan membuatmu menyadari bahwa selama ini kau hanya pecundang. Kau pe-cun-dang!”

BRAK

Dia meninju pintu kamarku. Tangannya terkepal dan membuat pintu kayu tebal itu retak, di bagian yang dipukulnya. Tepat di samping telinga kananku. Beberapa senti dari situ. Aku memicingkan mataku. Menahan degupan jantungku yang tidak terkontrol. Reven jelas-jelas punya aura mengintimidasi yang kuat dan aku bukan tandingannya. Tapi apapun yang akan dilakukannya padaku, aku sudah tidak peduli. Apakah dia akan menyiksaku, apakah dia akan membunuhku. Aku tidak takut dan tidak peduli. Sudah cukup semua ketakutan dan kelemahanku selama ini membuat Dev terrengut dari sisiku.

Aku mengigit bibir bawahku, menatapnya lurus-lurus. “Ada apa Rev? Apa kau mau membunuhku? Kenapa kau tidak melakukannya? Apa karena aku calon ratu rasmu? Apa karena kematianku akan berdampak buruk pada rasmu? Jadi hanya kematianku saja yang kau pedulikan. Iya? Seperti itu Reven?”

“KUBILANG TUTUP MULUTMU!!!” dia berteriak sangat keras. Bibirnya bergetar menahan amarahnya. Kedua bola matanya yang biru mulai memerah, menandakan bahwa aku benar-benar sudah membuatnya marah.

Aku tersenyum mengejek, “Kalau aku tidak mau. Kau mau apa, hah?”

Buku-buku jarinya mengepal, “Kau akan menyesali apa yang kau katakan, Sherena.” Desisnya menakutkan, membuatku merinding. Aku berusaha sekeras apa yang kubisa agar aku terlihat kuat di depannya.

“Kau tidak akan bisa mem-“

Aku kehilangan semua suaraku ketika dia membungkam bibirku dengan bibirnya. Aku tersentak kaget melihat apa yang dia lakukan padaku. Aku mendorongnya sekuat tenagaku tapi dia malah menekan tubuhnya menahanku. Kugunakan tanganku untuk mencoba menyentakkan tubuhnya menjauh dariku namun dengan mudahnya dia menangkap kedua tanganku. Menghentikan semua usahaku untuk melawannya.

Reven menciumku dengan kasar. Sangat kasar. Tidak pernah ada yang pernah memperlakukanku dengan begini hina. Dev, satu-satunya kekasih yang dulu pernah kumiliki, akan menciumku dengan lembut. Dia menghargaiku dan akan membuatku nyaman dnegan sentuhannya. Namun Reven melakukannya agar aku berhenti menantangnya. Dalam kesia-siaaanku mencoba menghentikan gerakan bibirnya di bibirku, aku menangis. Ada bulir-bulir air mata mengalir di sudut mataku .

Entah Reven pada akhirnya menyadari airmataku atau tidak, dia menghentikan ciumannya. Satu tangannya menyentuh daguku, membuatku menatapnya lurus. “Kau harus ingat ini Sherena. Jika kau mencoba melawanku, jika kau mencoba mengatakan omong kosong menyebalkan lainnya di depanku seperti tadi, kau akan menerima lebih dari ini. Dan akan kupastikan kau menyesal.” Selepas mengatakan semua itu dia mendorongku menjauh, membuka pintu kamarku dengan kasar dan membantingnya menutup ketika dia keluar dan menghilang di balik debuman pintu kamarku.

Aku, antara sangat terkejut atau sangat marah, terduduk lemas di atas lantai kamarku. Memandang pintu kamarku dengan kemarahan luar biasa. Aku menyentuh bibirku yang masih terasa panas. Makhluk mengerikan. Makhluk mneyebalkan. Aku.. aku membencinya, aku benar-benar merasa aku membenci Reven sampai tingkat yang bahkan aku sendiri tak tahu. Tubuhku bergetar mengingat ciuman-penghinaan-yang baru saja dilakukannya padaku. Aku tidak akan melupakannya. Tidak akan.

***

Reven membanting pintu ruangan pribadinya ketika dia masuk. Cahaya api yang temaram menyambutnya, dan dia melihat Lucia memandnagnya dengan penuh tanda tanya. Perempuan itu bangkit, menyentuh bahu Reven dengan lembut, “Reven, ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah kau bilang kau akan menemui Sherena.”

Tangan Reven menepis tangan Lucia dari bahunya dengan kasar, dia melewati perempuan itu tanpa menoleh. Amarah masih memenuhi dadanya ketika dia duduk dengan wajah tidak tenang di salah satu kursi berlengannya.

Wajah putih pucat Lucia memandangnya lebih lembut. Mengabaikan perlakuan Reven padanya, Lucia mendekat, duduk di lengan kursi yang bebas dan menyentuh dada Reven, “Kau baik-baik saja?”

Leher Reven berputar, menatap Lucia dengan jengkel, “Keluarlah.” Katanya akhirnya.

“Tapi Rev-“

“Aku bilang keluar. Dan aku sama sekali tidak mau mendengarmu membantahku. Keluar dari ruanganku atau aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari sini.”

Lucia terperanjat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Reven. Dia berdiri, menatap Reven dengan tidak percaya. Harga dirinya terlalu tinggi untu mendengar apapun lagi dari mulut Reven. Dia berbalik dengan mempertahankan keanggunannya. Baru saja dia menyentuh pintu ruangan ini ketika dia mendengar suara Reven memanggilnya.

“Lucianna.”

Dia tak berbalik, hanya menyentuh kenop pintu dan mendengarkan.

“Kuharap kau tidak menemuiku lagi jika memang tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku. Kau sudah memiliki Russel, dan kau adalah calon pengantinnya. Kuharap kau bisa menghargai Russel. Dia mencintaimu dengan sungguh-sungguh.”

Tangan Lucia bergetar ketika dia memutar kenop pintu. Tak menjawab apapun dan dia hanya keluar begitu saja. Meninggalkan Reven dan memastikan bahwa dia tidak akan menemui Reven dalam waktu yang lama.

Sepeninggal Lucia, Reven menghempaskan tubuhnya, bersandar ke punggung kursi dan mendesah panjang. Ini benar-benar hari yang panjang dan berat. Dia baru saja datang ke kastil dan Rosse sudah memberinya kabar buruk tentang kematian Deverend Corbis. Dia menyesal mendengar hal itu. Tentu saja dia juga merasa kematian Dev adalah kehilangan yang besar untuknya dan untuk kelompok ini. Meskipun Dev jenis yang kadang sering membangkang, dia punya kekuatan dan potensi yang bisa diandalkan untuk melindungi kelompok. Apalagi fakta bahwa dia mencintai Sherena dengan sangat besar. Deverend Corbis jelas salah satu orang yang dapat dia andalkan untuk melindungi kelompok ini dan melindungi perempuan itu. Perempuan itu?

Dia menyentuh bibirnya dan memaki kasar. Apa yang baru saja dia lakukan? Mencium Sherena dengan kasar dan mendadak dia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Sekasar dan sejahat apapun dia, dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu pada seorang perempuan lemah tanpa perlawanan seperti Sherena Audreista.

Tapi bukankah perempuan itu memang sudah keterlaluan dan patut mendapatkannya?

Aku akan membuatmu menyadari bahwa selama ini kau hanya pecundang. Kau pe-cun-dang.

Dia bukan pecundang dan harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan perempuan itu mengatainya dengan sesuka hatinya. Ya, dia tidak salah. Sherena memang pantas mendapatkannya. Setidaknya itu akan memberinya pelajaran untuk lebih bisa menahan mulutnya.

“..Maukah kau menerima siapapun yang akan mengantikan posisiku nantinya jika memang terjadi sesuatu yang buruk terhadapku?”

Reven membeku. Kenapa bayangan Noura dan perkataan itu mendadak menyergapnya dengan kuat dan membuatnya tidak membantah apapu yang dipikirkan benaknya.

“Kau hidup dalam dunia mimpimu tentang Noura. Perempuan itu sudah lama mati dan kau masih saja hidup dalam bayang-bayang kenangan Noura. Kau pikir siapa dirimu? Kau bahkan lebih lemah daripada manusia yang kau anggap budak-budak sampah. Kau, REVEN, adalah orang paling menyedihkan yang pernah aku lihat.”

Dia memejamkan matanya kuat-kuat. Dia bukan orang yang paling menyedihkan. Tidak, dia bukan orang seperti itu. Perempuan itu salah. Dia tidak hidup dalam dunia mimpi tentang Noura. Dia hanya mencari tahu apa atau siapa yang telah membunuh kekasih yang paling dicintainya. Dia akan membalas dendam kepada siapapun yang terlibat. Dan ini bukan sebuah hal yang sia-sia. Perempuan itu salah jika dia menganggapnya pecundang karena hal ini. Dan kenapa pula dia harus mendengarkan perkataan seorang Sherena Audreista? Dia tertawa sinis. Perempuan itu hanya perempuan bodoh yang kebetulan saja mendapatkan berkah separuh jiwa Noura sehingga dia menjadi seperti ini.

***

Ashel membolak-balikkan badannya dengan gelisah. Dia mencoba memejamkan matanya tapi bayangan mimpi buruk yang menghantuinya itu tak kunjung hilang dari benaknya. Kelebatan-kelebatan bayangan tak jelas, suara teriakan, darah dan Noura. Dia mendesah dengan lelah. Bangkit dari tidurnya dan mengusap wajahnya dengan tangannya.

Aroma ramuan-ramuan yang dibuat ayahnya memasuki rongga hidungnya dan dia sama sekali tidak terganggu. Dia sudah membiasakan diri pada bau-bauan seperti itu ketika dia memutusakan tinggal di dalam gua ini beberapa bulan yang lalu.

Dia menatap ayahnya yang tertidur lelap di sampingnya. Wajah tirus dan kelelahan ayahnya yang dapat dilihatnya dengan jelas meski cahaya api dari obor kecil di dekat mereka berpendar lemah. Dia menghela nafas panjang. Jika dia terus bergerak dan mendesah seperti itu, ayahnya akan terbangun dan dia akan sangat menyesal jika sampai hal itu terjadi.

Dengan sangat perlahan, Ar beringsut turun. Melangkah pelan keluar dari gua ini. Sinar rembulan menyambutnya ketika akhirnya dia benar-benar sudah keluar dari sana. Masih dengan lelah, dia duduk dan menyandarkan punggungnya di salah satu batu besar yang ada di dekat mulut gua yang dipenuhi dnegan sulur-sulur merambat. Matanya yang coklat menatap jauh ke bulan di atasnya.

“Noura..” dia bergumam. Menyebut nama yang selalu dipanggilnya sepanjang malam sejak peristiwa mengerikan itu. Nama yang pemiliknya selalu memenuhi benaknya. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana wajah cantik Noura. Bagaimana perempuan ceria itu tersenyum. Matanya akan menyipit sementara bibirnya melengkungkan senyuman yang sangat menawan. Dia juga masih ingat dnegan jelas bagaimana suara manja Noura yang memanggil namanya. Bagaimana suara itu memohon kepadanya, berbicara kepadanya, dan..

Sekali lagi Ar mendesah frustasi, “Sampai kapan kau akan membuatku terus berpusat padamu sementara kau sudah tidak ada di kehidupan ini lagi, Noura? Sampai kapan bayanganmu akan bersemayam di benakku terus menerus seperti ini?”

Matanya berkaca-kaca dan dengan cepat disusutnya sudut matanya yang mulai basah dengan punggung tangannya. Ada kesakitan yang biasa besar yang menghantamnya tepat di dadanya. Dia terperangkap dalam perasaan yang sangat dalam kepada seseorang yang bahkan tidak akan pernah bisa ditemuinya lagi. Dan mengingat bagaimana terakhir kali dia membingkai wajah Noura di matanya membuatnya semakin merasa sakit.

***

“Kau tahu Ar. Aku selalu merasa menjadi perempuan yang sangat beruntung karena aku memilikimu. Aku tidak pernah menyangka bahwa kau akan demikian sangat besar berarti bagiku. Kau tahu aku sangat berterima kasih padamu, Ar.”

Ar memandang Noura yang tengah bermain-main dengan air sungai yang membelai kakinya dengan lembut. Dari riak sungai dapat dilihatnya bayangan bulan yang terlihat samar-samar.

“Aku selalu merasa kau adalah berkat yang indah dalam kehidupanku.” Noura menoleh, menelengkan kepalanya dan tersenyum manis pada Ar yang hanya bisa terpaku melihatnya. Beberapa detik setelah Noura kembali sibuk bermain-main dengan air, sementara Ar berjalan mendekat dan duduk di samping Noura.

“Harusnya aku yang merasa beruntung karena aku memilikimu.” Dia menyentuh tangan Noura dengan sangat lembut. Mengenggamnya dengan erat. Ar juga dapat melihat kalung yang diberikannya dulu kepada Noura, kini melingkar di leher jengjang milik Noura. Tak bisa menahan diri, Ar tersenyum senang.

“Ar-“

Ar mengisyaratkan agar Noura diam, dan perempuan itu menurut. “Noura..” suara Ar terdengar tidak seperti biasanya. Ada nada bergetar dari suaranya yang biasanya terdengar tegas, “Aku sudah sering mengatakan ini kepadamu. Tapi aku tidak akan pernah lelah untuk mengulanginya. Aku..” dia terbata, sedikit gugup, “..mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Noura. Aku membutuhkanmu mendampingi kehidupanku. Aku-“

“Ar-“ Noura mencoba melepaskan genggaman tangan Ar, tapi Ar menahannya.

“Dengarkan aku sampai selesai. Kumohon.” Desahnya ketika Noura nampak salah tingkah. Tapi pada akhirnya perempuan itu mengangguk.

“Aku tahu kau memiliki Reven sebagai pilihanmu. Tapi tidak bisakah kau mempertimbangkanku. Aku akan melakukan apapun agar kau bisa tetap menjadi milikku. Aku memang tidak tahu vampir seperti apa Reven itu, tapi Noura.. aku berjanji. Aku berjanji padamu bahwa aku akan lebih hebat darinya. Lebih kuat darinya dan aku akan melindungimu dari takdir mengerikan yang seringkali kau ceritakan padaku. Aku ak-“

Noura menahan Ar dengan menyentuh tangan Ar kuat-kuat, “Arshel, kau tidak bisa.” Katanya akhirnya.

Wajah Ar mengeras, “Aku bisa.” Tekadnya berapi-api.

Tapi Noura menggeleng, “Sudah kukatakan padamu sama seringnya seperti kau mengungkapkan perasaanmu kepadaku, Ar. Kau selalu memilikiku, tapi sebagai sahabatmu. Sama seperti ketika kita pertama kali bertemu, aku menginginkanmu sebagai sahabatku dan tidak lebih. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun.”

“Tapi aku meng-“

“Ar..” suara Noura terdengar demikian sabar meski Ar terus membuatnya mendengarkan semuanya, “Aku mencintai Reven.” katanya lembut. Tanpa keraguan sedikitpun.

Genggaman tangan Ar melonggar dan dia menatap dengan tidak percaya pada riak-riak air di dekatnya. Mengalihkan pandangannya dari Noura yang masih menatapnya dengan sangat lembut. Seolah-olah apa yang tadi dikatakannya tidak menghancurkan Ar.

“Aku mencintai Reven sampai akhir. Tidak akan ada yang bisa mengubah hal itu, Ar. Aku mencintainya dengan segenap jiwa dan hatiku. Kuberikan yang terbaik padanya bahkan jika aku sudah tidak ada. Aku akan mengorbankan kebahagiaanku agar dia bisa bahagia karena aku mencintainya.”

Kening Ar berkerut, sekarang dia menatap Noura dengan marah, “Bahkan mengorbankan adikku?” bentaknya keras, tak mampu mengontrol emosinya.

Mata Noura berpendar sedih, “Ya.”

Singkat. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat hati Ar remuk. Dia masih menatap Noura dengan pandangan tidak percaya ketika dia bangkit, “Aku mengorbankan banyak hal untukmu, Noura.”

Noura ikut bangkit, “Tapi aku-“

“Bahkan ayahku mempertaruhkan semua yang dia miliki untuk menuruti apa maumu.”

“Akhtzan memang sudah berjanji akan melakukan hal itu untukku.”

“Tapi kau tidak memberinya pilihan. Bukan begitu?” suara Ar tinggi dan ketika melihat Noura mundur dengan terkejut. Ada sebersit sesal merasuk di dadanya melihat ekspresi Noura.

“Maafkan aku.”buru-buru Ar mengatakan itu melihat perubahan di wajah Noura.

Noura tersenyum. Terdengar tawa kecil dari bibirnya, tapi Ar bisa melihat dengan jelas sudut mata perempuan itu basah. Noura menangis. Dia maju, menggapai Noura tapi perempuan itu menghindarinya.

“Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena keegoisankulah kau mengalami banyak hal buruk dalam hidupmu. Karena keegoisankulah kau akan merelakan adikmu menjadi sepertiku. Karena keegoisankulah aku-“

“Noura!”

Noura menggeleng keras, “Tidak. Kau harus mendengarkan aku Ar.”

“Aku minta maaf dan kumohon jangan berkata apapun lagi. Aku tidak akan menuntutmu membalas perasaanku. Aku hanya-“ ada rasa sesal yang sekarang memenuhi rongga dadanya ketika akhirnya dia benar-benar melihat mata hijau milik Noura itu menitikkan airmata. Dan itu karenanya. Padahal dia sudah berjanji bahwa dia tidak akan pernah membuatnya menangis. tapi sekarang, lihat apa yang telah diperbuatnya? Lihat bagaimana airmata Noura mengalir karena sikap egoisnya memaksakan perasaannya pada Noura.

Dan tentang adiknya? Itu bukan salah Noura. Noura justru menyelamatkan Rena.

“Arshel.. aku sudah tahu pada akhirnya kau akan mengatakan hal seperti ini. Aku melihatnya. Tapi aku selalu menyangkal penglihatan itu. Bagiku kau akan selalu menjadi pahlawan terhebatku. Dan ketika pada akhirnya kau menyalahkanku atas apa yang kelak akan terjadi pada adikmu, aku tidak apa-apa. Memang semua salahku. Aku..”

“Kumohon jangan katakan apapun lagi!” Ar berteriak frustasi. Dia mencoba memeluk Noura tapi perempuan itu malah mundur dan semakin menjauh. Dia menatap Ar dengan mata hijaunya yang kecewa, dan itu cukup bagi Ar untuk membuatnya merasa semakin bersalah.

“Aku minta maaf, Ar.” Noura berbalik dan berlari dengan sangat cepat tanpa mengatakan apapun lagi selain permintaan maaf itu. Sia-sia Ar mencoba mengejar Noura karena Noura menggunakan semua kemampuan vampirnya untuk berlari. Dan sekeras apapun Ar mencoba mengejar, kecepatannya tak akan pernah sepadan dengan kecepatan yang dimiliki vampir.

Ar menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Peluh menetes dari dahi dan lehernya. Dia mencakar tanah dengan putus asa. Menggenggam tanah di hutan perbatasan ini dengan marah. Ini salahnya. Salahnyalah Noura pergi meninggalkannya. Salahnyalah membuat Noura menangis. dia meninju tanah berulang kali dengan tangannya yang terkepal.

Dia harus mencari Noura setelah ini. Dia harus menemukan Noura. Dia harus menemukan Noura dan meminta maaf atas semua tindakan dan kata-katanya. Tapi.. bagaimana cara menemukan Noura? Dia sama sekali tidak tahu di mana letak rumah kelompok Noura. Selama ini Noura yang selalu mendatanginya.

Tidak! Dia memaki. Dia harus berjumpa dengan Noura bagaimanapun caranya.

Tapi Arshel tidak pernah tahu bahwa itulah kali terakhir dia bertemu dengan Noura sebelum dia melihat segala hal yang sangat buruk menimpa Noura tepat di depan matanya sendiri.

 

<< Sebelumnya 
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

49 Comments

  1. Pertama???
    Yuhuuu…
    Ar cinta Naura.. Ehm, sangat dipahami. Mengingat bagaimana sikap Naura. Bahkan terhadap Morgan sekalipun yg merupakan Manusia Serigala.
    Mbak, di part-part yg mbak sajikan, selalu meninggalkan 2 pertanyaan -yg entah kpan akan trjawab-, bahwa, "Siapa yg membunuh Naura? Dan apa alasan'y?"

    Reven, mulai membuka hatinya utk Sherena, eh?
    *puk-puk Lucia* malang nian dirimu, Nak.. Penolakan Reven mudh"an jd ssuatu yg membuatmu sadar dgn kehadiran Russel.

    Mbak, semangat terus ya utk lanjut cerita"nya..
    Aku jg nunggu lanjutan'y Ribi, lho.. 😀
    #NisaAdjah *Watty*

  2. Nahan nafas baca part reven dan rena..
    *sekali kali reven memang harus digituin
    biar bisa moveon *:)
    Next chapnya banyakin interaksi
    Rena-reven ya author, pleaseeeee….

    Misteri noura masih berselubung kabut tebal!!!:(
    Seribu satu pertanyaan ttg noura
    Semoga next chap makin berkurang kabutnya
    Semangatauthor
    Ditunggu next chapnya y….

  3. Yes! Episode ini puas karena rena membalaskan kekesalanku akan kematian dev ke reven. Wkwkwk. Dan entah mengapa ciuman mereka malah bikin aku berdebar-debar ya. Sialan.
    Well, aku sih udah nyangka Arshel pasti punya hubungan khusus sama Naora ternyata bener. Ar cinta sama dia. He3x.
    Kesimpulan yg aku ambil nih dari kesotoyanku.
    1. Noura udah tau kalau dia akan meninggal dgn alasan sesuatu yg kita tidak tahu. Dan ia meminta Aztan dan Ar untuk memasukkan setengah jiwanya yg tersisa kepada Rena yg ternyata seharusnya sudah harus mati juga (mungkin krn penyakit atau apa. Kalau nggak dikasih ramuan dari ayahnya.
    2. Penyebab kematian dan tersangka dibaliknya, aku takut adalah Vlad. Secara Noura menginginkan kehidupan damai antara Vampire dan Werewolf juga manusia. Dimana Vlad tidak suka dan akhirnya membunuhnya.
    Anyway, aku nggak sabar nunggu cerita selanjutnya.
    yonasukmalara@wordpress.com

  4. ini y surprise'y, suka bgt sma part VENNA (Reven-Rena), Rena haruz ky gtu supaya ga d remehin truz ma Reven,, lagyn dy jg lebih kuat skrg.. lihat saja Reven, kl qm berani macam2 (Rena mode on, smbl melirik sinis)
    tapi, ap update smgu sx sudah fixed y?
    ap author perlu d kasih ramuan dr Venice byr bsa update lbh cepat (senyum2 dgn ide jahat)

  5. 2 pertanyaan itu akan terjawab kok. Pasti, aku bahkan sudah menulis sampai part yang akan menjawab semua misteri itu. Jadi tunggu saja ya Nisa.

    Well tentang Reven sudah move on atau belum, mari kita tanyakan danserahkan saja pada dia bagaimana perasaannya pada Rena.

    Sip, aku juga sepakat kalau kadang-kadang Lucia perlu mendapatkan teguran sesuai dengan sikapnya yang kadang terlalu angkuh.

    Iya, semangat!! Ribi?? Arrrrgggh, kau mengingatkanku untuk mengupload Xexa. Wiehii tunggu saja ya.

  6. Yupppp, pasti kan banyak chapter edisi mereka, maslahnyakan Dev sudah ngga ada 🙁 🙁

    Semoga Noura semakin menunjukkan kejelasan sosoknya yang banyak mengabur di cerita-cerita ini.

  7. VENNA??
    Wohoooo, lucu namanya. hahahha.
    Reven ga takut dilirik sinis loh 😛
    Jangan.. aku gak perlu diracuni kok. Sudah penuh racun ini. Muahahahhaha. *evil laugh*

  8. Wah serena hebat revan emg hrs d gituin biar bsa sadar,, hbs kesel ama revan sih ngurus nya noura trs,,,hehe

    Unni

  9. Asik rhena nya keren…. Revan emg harus digituin biar sadar… Ah aku selalu nungguin update'an HF.. wuiw seruuu…. Ditunggu yaa author lanjutanya~~^^ jangan lama lama… Upload si wattpad juga yaa.. Hehehe

  10. Asik rhena nya keren…. Revan emg harus digituin biar sadar… Ah aku selalu nungguin update'an HF.. wuiw seruuu…. Ditunggu yaa author lanjutanya~~^^ jangan lama lama… Upload si wattpad juga yaa.. Hehehe

  11. wahhhh aku sampe tahann nafas pas baca part ini.. sherena cayooo.. jangan takut ma revan, ada aku ko'..hehehe..
    buat Ar, aku kecewaaa, tega banget ih ngorbanin rena cuma demi noura.! huuuu

  12. wah,, akhirnya upload juga yah,,,

    aku bener2 ngecek tiap hari buat liat ini di update lagi kapan, itu sherena jadi berani apa karna sudah benar2 half vampire kah?
    aku kagum banget sama cerita ini,, imajinasinya itu dapet bgt,,, hahahah
    enjoy banget,,,

    semangat yah author….

  13. Wah, gayanya Rena di sini okey banget!
    Dan isinya sma kaya judulnya semuanya tentang egois, ternyata masing2 karakternya punya sisi kisah egoisnya masing2..
    Wehhh.. Kak Ar di tolak, kasihan bnget..
    tapi ya yg sabar aja deh, siapa tau Kakak penulis lagi buatin Kak Ar sebaris cerita bahagia….
    #poorAr

    Semangat terus Kakak..
    Keep Writing!

  14. Sherena berani karena sudah sangat merasa tertekan dan banyak pikiran, kurasa itu wajar terjadi. Ketika kita berada di situasi yang terlalu buruk, mungkin secara naluriah kita akan mencoba mempertahankan diri kita.

    Weeiww, makasiih pujiannya ya Yohana 😀

  15. Hehehhe iya, chapter keegoisan 😛
    Ar? Cerita bahagia?? Emmm, gimana ya?? *sok sok berpikir keras*
    Hahahha, yup yup.
    Semangat Menulis juga Terry!! 🙂 🙂

  16. Akhirnya update juga haha selalu nungguin HF keluar, terus penasaran setiap abis selesai baca HF huhuh authornya pinter bgt sih yak bikin perasaan pembacanya campur aduk wkwkw sama menebak-nebak..

    Kayaknya cerita ini makin panjang aja yah thor? Padahal ga sabar loh nungguinnya, kalo seminggu sekali berarti kamis ini dikeluarin lg dong yh? Aku nagih loh thor nanti hahah

    Kesel ama Reven dh dr part yg kemaren tuh, sebellll ada yah org kyk dia-__-Thor tanggung jawab loh fansnya Reven jd menurun drastis nih kayaknya wkwk Padahal dr awal cerita aku cinta banget ama Reven tp akhir2 ini jd sebel dh, si Reven dibikin gimana gt thor biar lebih manusiawi, eh salah deng vampirsiawi hahha

    Semangat buat lanjutannya hari kamis hohoh

  17. Hup hup, terima kasih terus menunggu update-an HV. 😀
    Makin panjang?? Sangat. Sampai aku bingung kalau ada yang nanya tamatnya kapan. AKu uda hampir menyelesaikan cerita ini sampai akhir, tapi ya itu.. panjaaang. 🙁

    Fans Reven jumlahnya menurun?? Oh oh ohhh *Reven maaf yaaa*
    Semangat semangat buat Reven agar lebih vampirsiawi. hahaha 😛

  18. Wah, wah, wah… Ternyata dugaanku tepat, ar suka sm noura, tp kasiand cinta ar bertepuk sebelah tangan *pupus dewa19*…
    Cieeee,,, reven udah ada hati nih sama rena, lanjut say kisah romantis nan menggetarkan dr reven & rena…. #lebay, gaje… Haha
    ditunggu ya kelanjutan kisahx, dan semoga bisa terbit novelx di gramed.. #Ngarepakebangettttttttt
    (artharia)

  19. Hihihi Noura dan Ar?? Ishhh mereka ini (tepatnya Ar) adalah kasih tak sampai. ><

    Reven ayook move on dong move on…

    Emm, gramed?? diterbitkan??
    *pingsan* aku aja belum ngebayangin bakal tak ajuin ke penerbit loh. Huahahha *penulis apa ini??*
    -________-

    btw thanks ya Artharia.. :))

  20. Rena sama Reven?? Belum tahu, yang jelas untuk saat ini sepertinya tidak. Rena sedang benci-bencinya pada Reven.
    Rencana Noura? Yukk mari simak part selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.