Half Vampire – Hubungan

“Apa yang membawamu kesini?”

Damis memandang Reven yang masih saja pada posisi awalnya ketika dia masuk ke ruangan ini. Lidah api kecil berpijar remang dari sudut tempat ini. Damis diam, tak menjawab, sebelum akhirnya dia memilih duduk di depan Reven. “Tidakkah kau pikir situasi ini sudah semakin buruk, Rev?”

“Semua sudah tahu soal keberadaan calon ratu. Dan nasib Sherena yang masih separuh vampir tanpa kemampuan vampirpun memperburuk segalanya. Kau tidak bisa selamanya membiarkan dia hanya berada disini.”

Kali ini Reven mengangkat wajahnya, menatap saudaranya itu dengan tatapan biasa, “Bukankah kau senang kalau gadis itu ada disini lebih lama?”

Damis tertawa kecil, “Ya, tentu saja. Tapi semua yang kukatakan sama sekali tidak bersinggungan dengan masalah itu. Ini tentang kita. Tentang kelangsungan kelompok kita.” Wajah Damis menjadi serius. Sejenak kemudian dia menyandarkan punggungnya ke belakang. Wajahnya beralih menjadi lelah. “Jujur saja aku bosan hanya berada disini.”

“Lalu?”

Damis kembali duduk dengan tegak, mengamati kedua bola mata Reven dalam cahaya yang minim. “Kita harus melakukan sesuatu. Saatnya kita bergerak. Kupikir Vlad juga akan setuju rencana ini. Terlalu lama menjadi pasif akan membuat kita menjadi lemah. Dan aku tidak mau terlihat seperti itu.”

Bibir Reven meruncing, “Kau pikir apa tujuan dari semua tugas yang selama ini kita semua lakukan?” katanya dengan pandangan penuh misteri. Damis tersenyum simpul, menangkap makna dari tatapan itu.

“Aku akan senang kembali berpetualang.” Komentarnya sebelum dia kembali menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata.

***

Sudah hampir seminggu Ar ada disini. Aku sering datang ke ruangannya yang rupanya tak jauh dari ruanganku hanya untuk mengobrol atau sekedar memastikan bahwa dia masih ada di kastil ini. Keberadaan Ar membantuku melalui hari-hari di kastil tanpa Rosse maupun Damis dengan lebih baik. Aku tidak tahu kemana Damis selama beberapa hari ini. sejak makan pagi kami seminggu lalu, dia menghilang. Sama sekali tidak menampakkan dirinya di kastil ini. Mungkinkah dia sedang dalam tugas yang selama ini kerap dilakukan Rosse, Russel, Lucia dan vampir-vampir lainnya? Entah..aku tak tahu pasti. Yang jelas aku akan protes padanya karena dia sama sekali tidak pamit atau bahkan mengatakan sesuatu padaku sebelum dia pergi.

Aku membalik halaman demi halaman buku tebal sejarah-entah-apa di depanku dengan bosan. Hari ini aku sedang menemani Ar membaca buku di perpustakaan besar di dalam kastil ini. aku jadi ingat kalau dulu, di tempat inilah pertama kali aku bicara dengan Russel dengan santai. Tempat ini yang membuatku mengetahui bahwa dia jenis yang baik, sama seperti Damis.

Kualihkan pandanganku pada Ar yang nampak serius membaca sebuah buku dengan sampul biru kelam. Mendadak aku teringat bahwa dia masih memiliki satu janji padaku. Aku berdiri, mengitari setengah meja yang memisahkan kami, dan mengambil tempat di sampingnya. Dia menoleh sekilas ketika mendapati aku memandangnya tanpa kedip sambil bertopang dagu.

“Apa?”

Aku melengkungkan senyuman paling lebar kepadanya.

“Rena..?”

“Bayar janjimu, Ar.”

Kening Ar berkerut, menandakan dia sudah lupa pada janjinya kepadaku. Aku memberengut dan menatapnya dengan kecewa.

“Ceritakan tentang Noura padaku. Semua yang kau tahu. Juga tentang bagaimana kau bisa mengenalnya.”

Jeda yang lama sebelum Ar bereaksi. Kupikir dia akan menolak atau berpura-pura melupakan itu. Tapi ternyata dia malah menutup buku yang sedang dia baca dan menatapku dengan serius. “Tapi ini akan panjang. Kau yakin mau mendengarnya?”

Aku mengangguk dengan antusias. Apapun. Apapun yang akan membuatku tahu lebih banyak tentang sosok yang membawaku ke tempat ini, takdir ini.

Ar menarik nafas panjang, “Baiklah.” Dan dia membenarkan letak duduknya.

***

Ar menyentuh pedang yang terselip di pinggangnya dengan tangan kanannya sementara matanya mengawasi sekelilingnya dengan teliti. Dia yakin benar bahwa ada makhluk pemangsa disekitarnya. Vampir? Manusia serigala? Dia belum yakin benar itu apa. Tapi dua mayat penduduk desa yang tercabik-cabik tak jauh dari tempat itu membuatnya berpikir kalau itu jelas bukan vampir. Vampir tidak akan meninggakan jejak sekotor itu. Vampir membunuh mangsanya dengan praktis. Jika bukan manusia serigala, dia beruntung kalau itu hanya binatang liar tanpa kemampuan gila seperti para makhluk pemangsa.

Ar menajamkan kemampuan mendengarnya. Gemerisik-gemerisik kecil. Dia yakin bahwa entah-apapun-itu juga tengah mengawasinya. Ini tugas pribadi pertamanya. Tanpa kelompok. Tanpa senior yang membantu. Dan dia harus menyelesaikannya. Pengawasan dan penjagaan wilayah perbatasan kerajaan bagian timur. Hutan perbatasan timur. Kedua terburuk setelah hutan perbatasan selatan. Seburuk apapun, Ar tak akan pernah mau mengecewakan Master yang sudah berharap besar padanya. Dia juga tidak akan mengecewakan Rena yang begitu antusias mengantarkan keberangkatannya pada misi individu pertama ini.

Tidak. Apapun-itu, Ar yakin dia masih sanggup menanganinya. Semua teknik bertarung sudah dia hafal di luar kepala. Begitupun dengan titik-titik kelemahan yang dimiliki tiap makhluk pemangsa. Ya. Ar akan berhasil. Dia sangat yakin pada kemampuan yang dimilikinya.

Tapi ketika makhluk itu mengeram, menampakkan wujudnya dari balik pohon, Ar menciut. Seekor manusia serigala dalam bentuk perubahan serigala besar yang sempurna. Liur menetes dari rahangnya yang masih berlumuran darah. Mata pemangsa tajam memerangkap bayangan kecil milik Ar. Bukan. Tapi bukan itu yang membuat Ar tanpa sadar mundur selangkah, melainkan empat sosok serupa seperti yang di lihatnya pertama, berjalan pelan di belakang yang pertama.

Satu, mudah. Dua, masih bisa diatasi seorang diri. Tiga, ini menyulitkan jika kau sendirian. Empat, pengeroyokan. Dan ini gawat. Lima, kau butuh lebih daripada keberuntungan untuk tetap melihat matahari terbit esok hari.

Ar menelan ludahnya. Dia tidak yakin. Lima manusia serigala dengan ciri-ciri yang menunjukkan bahwa mereka masih sangat liar dan masih berada dalam masa-masa awal fase perubahan sempurna adalah mimpi buruk yang paling buruk. Makhluk-makhluk di depannya ini jelas masih sangat minim kontrol terhadap diri mereka sendiri.

Tepat ketika dia menarik pedangnya, satu dari lima makhluk tersebut melompat menerkamnya dengan geraman mengerikan. Ar melompat, menarik satu anak panah dari belakang punggungnya dengan tangan kirinya dan menusukkannya ke leher makhluk itu. Yang satu itu terjatuh ketika anak panah penuh lumuran racun itu mulai bereaksi pada tubuhnya. Erangan tidak suka datang dari empat lainnya ketika melihat teman mereka sekarat karena racun.

Tidak satu persatu melainkan empat sekaligus yang melompat dengan marah ke arah Ar. Dia berhasil menghindar dari yang lain ketika yang lainnya lagi berhasil menggigit lengan kirinya dan melempar tubuhnya menghantam ke pepohonan. Menahan sakit yang langsung menjalar di seluruh tubuhnya, Ar bangkit dengan cepat ketika keempat makhluk itu sudah berlari ke arahnya. Dia menarik busur di belakangnya dan memanah dengan cepat. Satu terjatuh dengan luka panah di kepalanya ketika Ar berhasil dengan cepat melepaskan anak panahnya dan tepat sasaran. Tiga lainnya mengaum marah. Menatap Ar dengan niat membunuh yang pasti.

Mengabaikan darah yang menetes dari robekan bekas gigitan di lengan kirinya, Ar mencoba mengambil lagi pedangnya di tanah. Mengenggamnya dengan erat. Masih tiga. Dia harus bertahan atau dia akan berakhir sebagai hidangan santap siang mereka. Ketiganya masih menggeram dengan menunjukkan taring mereka yang runcing mematikan, memerangkap Ar dari arah yang berbeda ketika mendadak terdengar suara dari arah lain di belakang mereka.

“Ckckkck.. Pemandangan yang sangat buruk. Tiga makhluk bodoh mengeroyok manusia malang.”

Tiga manusia srigala itu menoleh ke belakang. Seorang perempuan sangat cantik dengan rambut kemerahan tengah mengamati mereka dengan tangan tersilang di depan dadanya. Dia berdiri di atas tubuh salah satu manusia srigala yang sudah tewas, dengan sangat santainya. Rambutnya yang tergerai dipermainkan angin dengan lembut.

“Vampir..” desis Ar.

Tiga serigala yang tersisa menggeram dengan lebih keras melihat jenis musuh mereka berdiri dengan pandangan mengejek di atas mayat teman mereka. Ar tahu, segera pertarungan yang terjadi tidak akan melibatkannya. Jadi dia mundur. Menyelipkan kembali pedangnya ke sarung pedang yang terselip di pinggangnya. Dia mencengkram erat lengan kirinya. Lukanya parah. Robekan memanjang itu mengeluarkan darah yang tidak sedikit dan dia mulai sedikit pusing.

Ar akhirnya memilih menikmati pemandangan yang sedetik kemudian ada di depannya. Tiga manusia serigala dalam wujud serigala besar liar dengan seorang vampir perempuan tinggi langsing. Jelas secara visual ini bukan pertarungan yang adil, tapi ketika melihat apa yang tengah terjadi. Koreksi besar jelas dibutuhkan. Tak sampai tiga puluh detik dan vampir perempuan itu kini telah berjalan dengan anggun ke arah Ar. Menepuk-nepuk kedua tangannya seolah-olah sedang membersihkan debu yang menempel di kulit pucat itu. Dia berjalan mendekati Ar, meninggalkan tiga mayat manusia serigala dengan leher nyaris putus di belakangnya.

“Darah..”

Suara yang berirama. Merdu. Masuk ke gendang telinganya dan merasuk ke sel-selnya. Ar menggelengkan kepalanya. Ini belum berakhir, pikirnya. Dia mengutuk darah yang masih saja mengalir dari luka di lengannya.

“Sayangnya darah penyihir selalu saja beraroma tidak lezat.”

 Kedua kelopak mata Ar melebar. Darah penyihir? Bagaimana makhluk di depannya ini bisa tahu bahwa dia memiliki darah penyihir dalam tubuhnya. Ar membeku, ketika vampir itu sudah ada di depan matanya, dia sama sekali tidak bergerak. Bahkan ketika jari-jari panjang vampir itu menyentuh lengan kirinya, Ar masih tidak bergerak. “Kau bisa mati kehabisan darah kalau membiarkan lukamu terus seperti ini.”. Vampir itu menyobek bagian bawah gaun panjangnya, lalu membebatkan robekan kain itu pada luka di lengan Ar. Ar meringis, menahan sakit ketika itu berlangsung. Satu simpul mati mengakhiri gerakan lembut vampir perempuan tersebut. “Sudah.” Katanya dengan senyum menawan.

Dia mundur beberapa langkah, menatap Ar yang mendadak mengerjap. Menyadari bahwa dia sudah terpesona terlalu jauh pada sihir milik vampir perempuan di depannya. Dia menarik pedang peraknya dengan tangan kanannya dan berteriak, “Apa yang kau inginkan dariku, vampir penggoda?”

“Noura.” Vampir itu tersenyum lagi, lebih menawan. “Panggil aku seperti itu. Dan bukannya vampir penggoda.” Tambahnya sangat ramah. Jemari lentiknya mengusap-usap bekas darah Ar yang mengotori tangan putih pucatnya ketika dia membebat luka Ar tadi. ”Dan pertanyaan tentang apa yang kuinginkan darimu sungguh sangat tepat sasaran. Tanpa basa-basi.”

Ar menunggu. Dia tahu vampir tak akan pernah bersikap baik tanpa adanya maksud tersembunyi di belakang. Jadi ketika Noura masih saja memandanginya, dia tetap diam dan menunggu sementara pikirannya berusaha mengunci semua sihir pesona yang dengan kuat mencoba merasukinya.

“Dan kau, wahai putra Akhtzan..”

Putra Akhtzan? Darimana? Pertama dia tahu bahwa Ar adalah keturunan penyihir. Dan Akhtzan? Akhtzan adalah nama ayahnya. Nama ayah yang disembunyikannya dari dunia. Hanya dia, ayahnya dan Master yang mengetahui hal tersebut. Lalu bagaimana bisa? dia, vampir perempuan itu, selancar itu mengetahui dan mengungkap semua tentangnya.

“..maukah menjadi sahabatku?”

Bukan hanya pengetahuan tentang jati dirinya yang membuat Ar terkejut, tapi permintaan Noura yang seringan dan sesederhana itu membuat kedua alisnya tertaut. “Apa maksudmu?”

Noura tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. “Kau, menjadi sahabatku. Sa-ha-bat.” Jawabnya mengeja dengan jelas dan tegas kata sahabat dengan bibirnya yang merah merona.

“Aku bahkan tidak tahu siapa kau, kecuali kau adalah vampir yang mendadak muncul ..”

“..dan menyelamatkan nyawamu dari terkaman tiga makhluk bodoh yang gila makan? Aku tahu. Kau tak perlu berterima kasih untuk itu.” Potong Noura.

Mau tak mau Ar memang mengakui bahwa berkat Noura-lah dia masih hidup sekarang, karena dengan kondisi lengan seperti ini melawan tiga manusia serigala kelaparan, Ar jelas kalah telak. Tapi bagaimana mungkin seorang vampir menyelamatkan seorang manusia dan hanya meminta persahabatan sebagai imbalannya? Ini jelas tidak masuk akal.

“Aku mengelilingi kota. Menyusup ke tempat para slayer. Dan berakhir di hutan perbatasan ini hanya untuk mencarimu Arshel.”

Sekarang Ar benar-benar sudah tak habis pikir. Noura tahu jati dirinya, nama ayahnya dan namanya tanpa salah sedikitpun. Dia mengucapkannya dengan lancar dan tatapan yang dipancarkan kedua bola mata hijaunya terlihat jujur.

“Kau mencariku hanya untuk bersahabat denganku? Manusia paling tololpun bahkan akan tahu kalau kau tidak hanya menginginkan itu.”

Noura tertawa kecil dan mengangguk, “Cerdas. Pemikiran yang cerdas. Tapi sejauh ini aku hanya menginginkan itu. Akhtzan yang memintaku untuk mencari putranya dan kupikir, menjalin persahabatan dengan calon slayer hebat bukan hal yang buruk.”

“Ayahku memintamu? Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?”

Sekali lagi Noura mengangguk, “Ya. Tapi Akhtzan hanya memintaku untuk mencarimu dan memastikan kau hidup dan tumbuh dengan baik. Sudah itu saja. Dan setelah melihatmu, aku berpikir mungkin lebih baik mengenalmu lebih jauh. Jadi kupikir kita mungkin bisa jadi sahabat.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku yang lainnya. Dimana ayahku sekarang? Dan apa dia baik-baik saja?”

“Nah-nah.. ini bagian yang tidak aku suka. Terlalu banyak pertanyaan dan kupastikan itu yang terakhir sebelum kau sendiri menjawab permintaanku. Pertama kukatakan padamu bahwa Akhtzan berada di tempat yang tak akan bisa ditemukan manusia tanpa kemampuan sihir tinggi atau mahkluk kebal sihir seperti aku, vampir. Kedua, ya. Dia baik-baik saja kecuali untuk bau mantra dan ramuan yang terlalu pekat menempel di kulitnya.”

Ar diam. Mengetahui ayahnya masih hidup dan baik-baik saja setelah belasan tahun dilaluinya sejak laki-laki itu menyerahkannya pada Master membuatnya merasa lega. Bagaimanapun, dia berterima kasih karena ayahnya melakukan itu. Karena melalui Master-lah dia bisa menjadi slayer, mengenal Rena dan ibu. Hal-hal paling indah yang dimilikinya sampai saat ini.

“Jadi bagaimana Arshel, maukah kau menjadi sahabatku?”

***

“Dan kau menyetujuinya?”

Ar mengangguk, “Belum pernah aku melihat mata vampir yang berpendar seperti itu. Selain itu, wajah cantik Noura bukan jenis yang akan sanggup ditolak oleh laki-laki.”

Aku memukul Ar dengan kesal ketika Ar tertawa terkekeh usai mengucapkan itu. Dia jelas-jelas sangat menyukai Noura. Ekspresi kagum yang disembunyikannya dalam tawanya itu membuatku sebal.

“Lalu bagaimana? Akhirnya?” aku mengalihkan perhatiannku dengan mencoba memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Noura. Ar berhenti tertawa dan mejawab pertanyaanku. “Sudah. Seperti itu. Aku setuju menjadi sahabatnya sejak saat itu. Kadang Noura sering menemuiku ketika aku dalam tugas slayerku.”

“Tapi, aku tidak pernah melihat kau menemui siapapun ketika kita dalam tugas.” Protesku.

“Tidak dalam tugas kelompok, Rena. Tapi ketika aku berada dalam tugasku sebagai slayer seorang diri. Noura vampir yang pintar dan sangat menyenangkan. Dia bukan jenis yang hanya akan mengandalkan kemampuannya bertarung untuk menyelesaikan masalah.”

Mataku menyipit, “Kau menyukainya?”

Ar memandangku. Sejurus kemudian dia menghela nafas panjang, “Sudah kubilang tak akan ada laki-laki normal yang tidak menyukainya. Dengan sikapnya, pembawaannya dan wajahnya tentu saja, sudah cukup untuk membuat laki-lakinya menyukainya tanpa membuat mereka terpesona dengan sihir pesona milik para vampir.”

Mau tak mau aku cemberut. Ar tidak pernah sebelumnya bahwa dia menyukai perempuan lain. Atau dalam hal ini sedikit buruk, vampir. Yang benar saja? Sejak kapan Ar mulai menyimpan banyak hal dariku? Ataukah memang sejak dulu, aku tidak benar-benar mengenal Ar? Aku memandang Ar, merasa sedikit kecewa.

“Kau menyembunyikan banyak hal dariku, Ar.”

Ar menyentuh tanganku, “Maaf. Tapi untuk segala tentang Noura bukan kemauanku untuk tidak menceritakan padamu sebelumnya, Rena. Itu semua janjiku pada Noura. Aku tidak akan menceritakan apapun tentangnya pada orang lain.”

Aku menangkap kedua bola mata cokelat mirip Ar. Tatapan itu jenis tatapan jujur yang mungkin memang benar seperti itu. Aku menghela nafas panjang. Memaafkan Ar karena toh juga semua itu sudah berlalu. “Dan apa kau tahu bahwa Noura adalah calon ratu klan vampir, Ar?” Tanyaku lagi ketika aku sudah mulai tenang dengan pikiranku sendiri.

Ar menggeleng, “Tidak. Ketika itu aku bahkan tak tahu apa-apa tentang calon ratu yang dimiliki klan vampir dan Noura tak pernah menceritakan apapun tentang itu. Dan sepertinya, rahasia keberadaan calon ratu baru diketahui ketika Noura telah meninggal.”

Aku membenarkan penuturan Ar. Benar saja, rumor calon ratu baru menyebar setelah Noura meninggal. Aku juga baru tahu tentang hal itu ketika Dev menceritakannya padaku ketika kami dalam pelarian di hutan ketika itu. Mendadak terbersit sebuah kesimpulan yang di luar permasalahan calon ratu di otakku.

“Ar.”

“Ya.”

“Bukankah, tadi kau bilang bahwa Noura hanya memintamu menjadi sahabatnya ketika dia sudah menyelamatkan nyawamu dari keroyokan para manusia srigala?”

Ar mengangguk.

“Dan bukannya Noura sudah tahu banyak hal tentangmu sebelumnya? Tentang kau keturunan penyihir, tentang namamu, bahkan ayahmu. Tidakkah itu terlihat janggal, Ar. Noura mungkin saja memiliki niat tersembunyi.”

Ar justru tersenyum, “Ya.” Jawabnya pendek menanggapi kesimpulan yang kupikirkan.

“Lalu?”

Ar menepuk bahuku pelan, “Rena, aku mengenal Noura tidak dalam waktu yang singkat. Dan dalam jangka waktu selama itu, dia bercerita banyak hal kepadaku. Termasuk tujuannya mengenalku. Satu hal yang harus kau tahu, Rena. Noura bukan orang jahat.”

<<HALF VAMPIRE – Darah Penyihir
HALF VAMPIRE – Sakit >>

Mau Baca Lainnya?

21 Comments

  1. Haloooo aku Ji_Shoun masih ingatkan ………….. ahahaha

    (Berantakin rumah Mipo)

    Aku minta Teh… dong 🙂

    Weeh udah ketinggalan jauh aku. Aku jadi semakin bingung sama karakter Noura, dia punya sisi misterius. Gelap nihh…. mana lilin.
    Semangat terus yahh….. aku selalu menunggu karyamu *peluk

    BTW …. Blognya keren >.< nunjukin karakter kamu banget. ^^

  2. Haiiii… 🙂
    Akhrinyaaa keluar jg nih cerita ditunggu2in hehe
    Tp kok nanggung banget yahhh kayak ada yg kurang gt apa yh ohh iya revannya ga ada haha minta diperpanjang dong author ceritanyaaa hihi
    Ohhh iya kan ngepostnya ngaret nih brrti nanti pas weekend post lg dong yah 😉

  3. Halooo juga. Tentu masih inget dong.
    *sambil manyun karena rumahnya di berantakin*
    *nyodorin air putih doang*

    wehhhh hayoo, ketinggalan jauh ya? 😛
    Karakter Noura sebenarnya tidak membingungkan. hanya karena sepenggal-sepenggal jadi belum nampak. Tapi nanti, secara bertahap pasti kamu bakal kenal Noura dg lebih baik.

    ummm, BTW.. thanks juga uda bilang blogku berkarakter sesuai dengan aku. Well, baca cerpen-cerpenku juga ya.

    emm, juga follow blog-ku 😛

  4. Haiii juga 😀
    Wah nanggung ya? Kurang banyakkah??
    Aku juga merasa begitu. 😛
    Woww, post cerita lagi akhir pekan ini??
    hahahha, aminn aminn. Semoga bisa :))

    emmm, follow blog-ku yaaaa 😛

  5. Masih banyak rahasia.
    Mereka berdua akan bertemu, pasti.
    Chapter-chapter yang akan datang mungkin akan penuh dengan mereka.
    Yup, sepertinya masih akan panjang. Belum menyentuh konflik inti ini. 🙁

    Keep reading HV ya 😀

  6. Demi apa ini makin keren….
    Dan sepertinya juga akan jadi sebuah cerita yang panjang..
    Dari part ke part selalunya aja di buat penasaran mengenai kelanjutan storynya..
    Udah gitu karakter masing-masing tokohnya tuh kuat banget..
    Aku suka banget sama gaya coolnya Arshel
    Hmm.. I love this story so much 🙂
    Keep writing!

  7. Air Putih !!!!?? -__-"

    Mipo, aku baru tahu kamu pelit *Pundung di pojokan*
    Aku baru liat-liat entar deh aku baca…. he e e e *bersiap tebar cabe… boong ding :p

  8. Ohh iya ketinggalan aku minta adegan revan ama renanya dong dipart selanjutnya hihi *maap yak* terus kalo boleh tanya? Sebenernya disini itu peran utamanya rena kan? Bukan si Noura? Hehe

  9. baca part yang di wattpad kirain beda sama yang di post di blog. eh tau nya cuma awal nya doang. wkwk
    lebih suka Ar dari pada vampir dingin itu. lanjut kak

  10. keren bgt,,,tapi thor kenapa naora nya bisa meninggal ,, bukannya dia hebat yah ,,, ??
    penasaran

  11. Hihihi makasiiii 🙂
    Kenapa Noura bisa meninggal padahal dia cukup punya kemampuan yang hebat??
    Jawabannya adalah….
    Tetttt!!! Tetep baca Half Vampire aja ya, pelan-pelan alasannya akan terkuak. Heheheh 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published.