Half Vampire – Ibu

“Arshel!!” teriak seseorang saat kami keluar dari hutan. Vincent, Carol dan Roe yang entah bagaimana telah berada di sekitar api unggun kami serentak bangkit dan menghampiri kami.

“Arshel!! Lenganmu berdarah!” Carol berteriak histeris sambil menghampiri Ar, menubrukku dan meraih lengan Ar yang melingkar di atas bahuku, meletakkannya di atas bahunya sendiri dan menggantikanku memapah Ar yang penuh luka.

“Apa yang kau lakukan sampai Ar jadi seperti ini??” teriak Carol padaku.

“Carol sudahlah.” kata Ar pelan. Carol diam, tapi sudut matanya memandangku dengan sinis.

Aku diam sementara Carol membantu Ar duduk. Carol masih terus bergumam menyalahkanku. “..aku yakin kau seperti ini karena melindungi Rena. Dia memang tidak berguna.”

“Tolong obati Ar.” kataku pada Roe begitu aku duduk di sampingnya. Roe ahli dalam hal ini. Dia mengangguk dan langsung melakukan pertolongan pada Arshel. Sementara Roe melakukan itu, aku menceritakan apa yang telah kami alami pada Vincent. Carol masih nampak sibuk di dekat Ar tapi aku tak yakin dia cukup membantu kecuali untuk terus berteriak panik, “Oh ya ampun parah sekali!!”, “Pasti sakit sekali Ar”, “‘Kau tak apa-apakan, sungguh?”, “Bagaimana perasaanmu Ar?”

Arshel memang banyak disukai para perempuan di kalangan slayer maupun heta. Mengingat reputasinya, wajahnya yang tampan dan kenyataan bahwa dia cukup dekat dan dipercayai master. Ditambah lagi kenyataan bahwa Ar tidak punya kekasih sejauh ini. Tapi kebanyakan dari gadis-gadis itu membenciku karena menganggapku saingan yang berat. Mereka hanya melihat fakta tentang kedekatanku dengan Ar tanpa mau peduli bahwa aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tapi seperti sebelumnya kubilang, gadis-gadis itu tetap saja tak mau tahu dan selalu menganggapku penganggu untuk mendapatkan Ar.

“Hanya diserang tiga vampir?” Viencent mengulang tak percaya sambil melirik Ar. Mungkin dia bepikir seharusnya Ar sanggup menghadapi vampir itu dengan mudah tanpa perlu terluka separah ini.

“Tak hanya kalian.” tukas Roe yang sedang membebat lengan kiri Ar dengan kain.

“Apa maksudmu, Roe?” Vincent bertanya tak mengerti.

Roe menghela nafas panjang lalu memutar badannya menghadap kami, “Tiga hari yang lalu tim yang bertugas menjaga perbatasan timur juga diserang. Jumlahnya malah lebih banyak kudengar. Dua heta dan satu slayer tewas sementara di pihak vampire itu, dua dari mereka tertikam tepat di jantungnya. “Vincent memandangku, “Kau sangat beruntung ada Arshel, Rena.”

Carol mendengus, “Tentu saja dia sangat beruntung karena ada ARSHEL. Ar yang menjaganya. Dia cuma menonton vampir-vampir itu nyaris membunuh Ar dan tidak bisa bertindak apa-apa.”

“Berhenti bicara seperti itu, Carol. Justru tadi Rena yang menyelamatkanku dari gigitan vampir. Bukan-“

“Tidak perlu membelanya dengan mengarang cerita gila seperti itu. Rena menyelamatkanmu? Konyol sekali.” Sahut Carol.

“Lalu apa ketiga vampir itu berhasil kalian bunuh?” Tanya Vincent mengabaikan Carol. Carol membuang muka, mengumpat pelan begitu merasa tidak dipedulikan.

“Mereka pergi begitu saja.” Sahut Ar begitu lukanya selesai diobati Roe.

Vincent menatapnya tak percaya. “Pergi begitu saja?”

Ar mengangguk, “Aku tahu terdengar mustahil. Tapi mereka memang hanya pergi begitu saja. Tanpa membunuh kami atau melakukan apa-apa lagi.”

“Ada sesuatu yang tidak beres disini.” Ucap Roe. Vincent mengangguk. Kami diam berpikir. Bahkan kulihat juga Carol mulai benar-benar serius menyimak apa yang kami bicarakan. Situasi ini memang tidak biasa. Terlepas dari ketidaktahuan kami tentang yang terjadi di luar daerah pengamanan kami, berita tentang beberapa serangan dari vampir cukup mengejutkan.

Meskipun memang, vampir adalah makhluk pemangsa, mereka biasa bekerja dalam jalur aman dan tersembunyi. Membunuh untuk bertahan hidup. Atau sekedar bersenang-senang dalam kelompok kecil yang jarang. Bukan untuk melakukan hal-hal semacam ini.

Kami memutuskan mengatur siapa yang tidur dan siapa yang berjaga ketika malam semakin larut. Sementara yang lain tidur,b yang berjaga tetap membahas kemungkinan-kemungkinan yang sedang kami alami saat ini. Aku memandang Ar yang berbaring tak jauh dari tempatku duduk berjaga. Dia kelihatan lelap dan aku tersenyum.

“Kulihat kau sangat dekat dengan Ar.”

Aku menoleh, mendapati Roe memandangku sekilas ketika tangannya menambahkan kayu ke api unggun yang menghangatkan tubuh kami.

“Ya.” Jawabku singkat.

Roe melirikku, “Kalian beruntung tak terluka lebih parah lagi dari ini. Semoga keberuntungan itu selalu menaungimu, Rena.”

Aku tersenyum, “Semoga.”
***
Sehari berlalu sejak kejadian di hutan. Aku merasa sangat buruk akhir-akhir ini dengan makin banyaknya orang-orang sejenis Carol yang menyalahkan aku atas terlukanya Ar.

“Perempuan itu yang menyebabkan Arshel nyaris tewas.” kata seorang slayer perempuan saat aku memasuki istal kuda untuk membawa Cora, kudaku untuk keluar pagi ini. Aku tahu dia terlalu berlebihan saat mengatakan Ar nyaris tewas. Tapi aku diam, pura-pura tidak mendengar apapun.

“Apa? Membuat slayer terbaik di negeri ini nyaris tewas??” timpal seorang slayer perempuan lainnya.

“Ku dengar dia itu tak berguna. Heta yang cuma berhasil lulus dari pelatihan karena permintaan Arshel langsung kepada master.”

“Oh ya? Pantas saja.”

Kupingku panas mendengar omongan mereka. Tanganku mengepal begitu gatal untuk langsung menonjok tepat di mulut mereka tapi aku mencoba menahan. Sabar Rena. Sabar. Mereka cuma pengemar Ar yang tak tahu apapun selain mengoceh.

“Heran deh, kenapa para heta bilang Ar selalu membela perempuan itu. Apa mereka sepasang kekasih?”

“Cih, tentu saja bukan. Yang ku dengar mereka dulu tinggal serumah. Mungkin mereka masih kerabat.”

“Kerabat?” perempuan itu tertawa keras sebelum melanjutkan, “Kau bercanda? Mereka sama sekali tidak mirip.”

“Kurasa mereka kerabat yang sangat jauh.”

 Dua slayer itu terbahak. Aku tetap pura-pura tak mendengar. Meski ingin rasanya aku mengajak mereka berduel sekarang juga tapi aku tahu aku harus bersabar. Aku menuntun Cora keluar dengan cepat. Mereka masih terus memandangiku sampai aku menghilang keluar dari jangkauan mata mereka.

Aku menunggangi Cora begitu keluar dari istal. Aku terus menghentakan tali kekang Cora. Tapi tak tau mau kemana. Aku cuma mengikuti hatiku. Ketika berkuda aku masih merasakan nyeri pada bekas-bekas memar akibat menghantam pohom saat melawan vampir di hutan ketika itu. Mengabaikan rasa sakit itu, aku terus menghentakkan tali kekang Cora. Seperti paham, kuda hitamku itu berlari lebih kencang daripada biasanya. Membuatku berlari seperti membelah laju angin.

Aku berhenti, memandang pohon-pohon apel yang tumbuh di kanan dan kiri jalan. Aku mencium aroma segar buah-buah itu. Aroma yang begitu familiar. Sepertinya alam bawah sadarku membawaku kesini. Ke desa kelahiranku.

Aku melompat turun begitu memasuki area pemukiman. Tapi kebanyakan rumah-rumahnya tertutup. Aku berpapasan dengan beberapa orang yang masih mengenaliku, mereka tersenyum dan menyapaku. Aku membalasnua sambil menuntun Cora. Aku berhenti di depan sebuah rumah di tepi desa yang nampak tak terurus. Ilalang dan rumput-rumput tinggi memenuhi halaman rumah sementara lumut-lumut dan jamur berjaya di tembok bata rumah ini. Aku membiarkan Cora memakan rumput di halaman sementara aku melangkah lebih dekat ke rumah ini. Menaiki undakan kecil menuju pintu dan mengulurkan tanganku menyentuh kenop pintu yang berkarat.

Bunyi berdecit memekakkan telinga begitu pintu ini terbuka.

“Rena, baru pulang ya. Ayo kesini, ibu buatkan kue apel kesukaanmu.”

Aku tersenyum.

Ibu.

“Aku pulang bu.” lirihku

Aku mematung, masih berdiri di depan pintu rumah yang terbuka. Kenangan itu terlihat begiru nyata. Ibu yang selalu berlari menyambut kedatanganku dengan tubuh masih bercelemek dan akan langsung memelukku. Membuatku mencium bau apel segar dari tubuhnya. Aku menyukai bau itu dan merindukannya sekarang.

Aku melangkah masuk disambut oleh debu dan hawa dingin. Semua kursi, meja dan perabotan-perabotan lainnya tertutup kain putih yang di atasnya menempel debu-debu yang tebal.

Aku masih ingat, aku dan Arsel yang melakukan ini semua seminggu setelah pemakaman ibu dan sehari sebelum kami harus kembali ke istana.

Selembar kain tersingkap dari rak buku tinggi di ujung ruangan. Aku bergerak kesana, menarik kain itu untuk kembali menutupi seluruh rak sebelum mataku menangkap sebuah hiasan dinding dari kayu yang diukir. Tergeletak penuh debu begitu saja diantara buku-buku tua yang sama berdebunya. Tanganku meraihnya dan menyapu debu yang menutupinya. Ukiran ini, aku dan Ar yang membuatnya. Dengan susah payah, mengukir setiap detail-detail kecil yang rumit. Hanya untuk memberi ibu kado kecil di hari ulang tahunnya.

“Aku tau kau pasti kesini.”

Arshel. Aku melihatnya berdiri di ambang pintu dengan tangan kiri yang dibebat ketika aku menoleh. Dia tersenyum melihatku dan membiarkan aku berjalan menghampirinya. Saat aku hampir mencapainya, dia berbalik dan duduk di undakan tangga yang menghadap ke halaman depan. Aku ikut duduk di sampingnya.

“Rasanya sudah lama sekali ya.” katanya pelan.

Aku mengangguk, “Sudah hampir 3 tahun sejak ibu meninggal.” ucapku sambil memandang tangan kirinya, “Maaf ya.” tambahku.

Ar menoleh, memandangku, “Untuk apa?” lalu matanya mengikuti arah pandangku. “Ini?” katanya sambil mengangkat tangan kirinya sebentar lalu tertawa. “Kau jangan bilang kalau kau percaya pada apa yang di omongkan orang di belakangmu. Hey Rena, ayolah.” ucapnya memohon, melihatku yang menunduk. “Ini bukan salahmu, bukan kau yang melukaiku. Vam-“

“Tapi aku yang menyebabkan kita berada dalam situasi seperti itu.” potongku dengan suara lirih.

“Rena..” panggilnya lembut, “Terluka seperti ini biasa. Inilah resiko yang harus kuhadapi jika aku menjadi slayer. Aku bukan melawan penjahat biasa. Aku melawan makhluk pemangsa.” Ucapnya mencoba membuatku tersenyum. Aku diam saat Ar mengusap pundakku, “Rena, jangan terlalu suka menyalahkan dirimu sendiri untuk sesuatu yang bukan salahmu. Kau bisa menyakiti dirimu sendiri kalau terus begitu. Percayalah, cepat atau lambat orang-orang itu akan tahu kalau kau tak patut dibicarakan seperti itu. Aku tau rumor-rumor belakangan ini pasti membuatmu tertekan, maaf ya. Kalau aku tak terluka, kau pasti tak dibicarakan dan disalahkan seperti ini. Aku ceroboh sekali waktu itu, bagaimana mungkin hanya menghadapi seorang vampire aku bisa nyaris mati.” Dia tertawa.

Ar pasti akan selalu begitu. Dia tak akan pernah menyalahkan aku untuk apa pun yang terjadi meskipun kadangkala aku juga tahu kalau itu salahku. Dia akan selalu membelaku, akan selalu ada di barisan paling depan untuk melindungiku. Memihakku, tak peduli orang lain mau bicara apa tentangku.

“Aku jadi ingat ketika ibu menyuruhku masuk untuk pertama kalinya ke rumah ini.” Kata Ar tiba-tiba, membuyarkan lamunanku. Aku melihat Ar bicara sambil terus memandang ke depan tanpa kedip. “Ibu sangat baik.” lirihnya.

“Ar..”

“Aku harus berterima kasih pada organisasi ini karena telah mempertemukan kita, Rena. Karena dengan bertemu denganmu, aku jadi memiliki orang-orang yang tulus menyayangiku dan tulus baik padaku. Bukan orang-orang yang pura-pura bersikap manis karena aku inilah.. aku itulah.. tapi kau dan ibu berbeda. Aku sangat bersyukur.”

Aku terdiam, tak tahu kenapa Ar tiba-tiba membicarakan ini. Mungkin suasana rumah yang telah lama tak kami kunjungi ini membangkitkan kenangan kami tentang semua keindahan dan kehangatan yang pernah kami dapatkan disini.

Aku dan Ar memang tak punya ikatan kekeluargaan, tapi ikatan yang terjalin di antara kami bahkan lebih kuat dari itu. Kami saling melindungi dan menyayangi, lebih dari seorang kakak adik, tapi tak pernah bisa terdiskripsikan sebagai sepasang kekasih. Tidak! Sedikitpun tak terlintas di pikiranku kalau aku dan Ar akan menjalin hubungan seperti itu.

Aku jadi teringat saat pertama aku bertemu dengan Ar. Saat itu kami berumur sekitar sepuluhtahunan dan sangat ingin menjadi seorang slayer atau mungkin heta bagi kerajaan. Itu minggu pertama kami di pelatihan sejak masa rekrutmen yang diadakan organisasi itu. Ar sangat jenius, benar-benar hebat dalam segala hal kalau aku boleh menambahkan. Dia sangat mudah menangkap semua pelajaran yang diberikan bahkan sanggup mempelajari dan mempraktekkan pelajaran para senior ketika tak sengaja dia melihat mereka berlatih. Hal itu membuat namanya cepat terkenal, nyaris semua senior menyukainya. Dia bahkan beberapa kali bertemu dengan Master dan mendiskusikan banyak hal yang kadang senior pun jarang melakukannya di tingkat pelatihan.

Sementara aku, tak mencolok karena hanya dengan kemampuan pas-pasan kecuali mungkin untuk kemampuan memanahku yang diatas rata-rata. Tapi tetap saja tak pernah sedikitpun melampaui kemampuan Ar. Aku sering merasa iri melihat Ar, dia selalu dikelilingi banyak orang, terutama para murid perempuan karena dia juga punya nilai plus dalam hal fisik. Tinggi, tampan dengan mata cokelat yang menawan. Keindahan yang bahkan sudah terpancar saat dia masih kecil.

Ah, ya. Aku paling tidak bisa melupakan bagian ini. Dulu, saat di pelatihan kami mendapatkan liburan selama empat hari dalam tiga bulan. Dan selama liburan itu kami di izinkan untuk pulang ke rumah karena selama di pelatihan kami tinggal di asrama. Aku paling menyukai empat hari itu karena kau bisa bertemu dengan ibu. Aku selalu penuh semangat ketika berjalan pulang menuju desa tempat tinggalku. Selalu penuh semangat dan tak pernah mengeluh meski aku harus berangkat pagi-pagi sekali dan berjalan sangat jauh untuk bisa pulang.

Pada suatu waktu ketika itu aku tak pernah tahu kalau Ar membuntutiku sampai ke rumahku jika saja Ibu tidak masuk ke dapur dengan menggandeng seorang bocah laki-laki seumuranku. Aku sampai melongo dan membiarkan sup dalam sendok yang nyaris masuk ke mulutku tumpah ke lantai ketika aku menyadari siapa itu. Itu Si Bocah Sempurna dan Beruntung, itu julukanku untuk Ar dulu. Dia memang terlihat sempurna dan penuh keberuntungan, seolah-olah semua yang baik dan hebat telah dianugerahkan kepadanya.

Ibu mengomeliku setelah itu karena tak mengajak temanku masuk dan tak mengatakan padanya kalau aku menbawa teman pulang ke rumah. Aku hanya bisa diam dan tak berkedip memandang Ar yang sedang makan sup yang di hidangkan ibu untuknya dengan lahap. Saat itu aku bahkan belum pernah bicara dengannya selama di pelatihan dan tak tahu menahu soal kenapa dia tiba-tiba ada di depan rumahku, makan sup bersamaku di atas meja makan rumahku.

Ar bahkan bermalam di rumahku waktu itu. Karena rumahku kecil dan hanya punya dua kamar. Maka malam itu aku tidur dengan ibu sementara Ar tidur di kamarku. Besoknyalah untuk pertama kalinya kami berbicara, dia menyapaku di dapur dan kami mulai berbincang. Dan itu sangat menyenangkan, Ar sama sekali tidak angkuh seperti kesan yang sempat aku tangkap darinya dulu. Untuk pertama kalinya aku mendapatkan teman bicara semenyenangkan ini. Dan bahkan hingga sekarang aku tak pernah menanyakan kenapa dia mengikutiku sampai ke rumah, bahkan sampai sekarang aku tak pernah bertanya tentang itu. Mungkin aku sudah merasa cukup beruntung dengan sudah menjadi orang yang dekat dengannya.

Sejak saat itu Ar selalu pulang ke rumahku setiap liburan dan aku tak pernah melarangnya karena ibu juga sangat menyukainya dan sepertinya telah menganggapnya sebagai anak lelakinya sendiri.

Beberapa bulan setelah itu aku baru tahu banyak hal tentang Ar, tentang kehidupannya sebelum di pelatihan. Ternyata dia sudah tak punya siapa-siapa lagi, tak ada keluarga, tak ada orangtua. Ah aku jadi merasa beruntung saat itu karena aku masih punya ibu. Setidaknya begitulah dulu..

Saat umurku delapan belas tahun, aku lulus dari pelatihan dan menjadi seorang heta sementara Ar tentu saja menjadi Slayer, master memanggilku dan memberitahuku kabar terburuk yang pernah kudengar.

Ibu. Meninggal.

Tak tahu seberapa banyak airmata yang aku teteskan waktu itu, aku tak peduli pada master. Aku tak peduli pada tugasku. Aku lari ke istal, mencari Cora, menungganginya. Menghentakkan tali kekangnya seperti orang kesurupan, melompat dari punggung Cora begitu melihat atap rumahku dari kejauhan. Berlari kencang, dengan airmata yang terus membasahi wajahku.

Ibu..ibu..

Cuma itu yang mampu kuteriakan. Tak peduli seberapa sering aku jatuh karena berlari seperti orang gila. Tak peduli lututku perih dan berdarah. Aku menerjang kerumunan orang yang berkumpul di depan rumahku. Aku membeku di depan jasad ibu. Aku menatap kosong ke depan, seolah berharap tubuh kaku yang ada di depanku bukan tubuh wanita yang telah melahirkanku. Tubuhku bergetar hebat.

Tidak mungkin, bagaimana mungkin ini terjadi. Tidak mungkin. Airmataku menetes satu persatu. Semua orang memandangku iba tapi mereka tak melakukan apapun. Tidak. Aku juga tidak butuh apapun.

“Ibu!!” Aku ingat aku berteriak sangat keras saat aku seperti tertarik kembali pada kenyataan bahwa itu ibu. Bahwa ibu telah meninggal. Aku memeluk tubuh ibu yang telah kaku. Aku memeluknya erat dan menguncang-guncang tubuh yang dulu sering memelukku penuh kasih itu. Berdoa agar mata ibu terbuka dan dengan tangannya yang lembut akan memeluk dan mengusap air mataku. Tapi tidak ada yang terjadi. Ibu diam. Mata ibu tetap tertutup. Tangan ibu tak balas memelukku. Aku menangis. Menangis sampai aku tak tahu airmataku nyaris kering karena begitu banyak yang jatuh membasahi pipiku, membasahi tubuh ibu.

Aku terus memeluk ibu sampai seseorang menarik tanganku, membimbingku menjauh. Membiarkan orang-orang mengurus jasad ibu agar bisa segera di makamkan. Aku mematung. Diam saja. Cukup heran setelah sebelumnya aku begitu histeris nyaris seperti orang gila, sekarang aku seperti mati rasa.

Sepasang mata coklat yang menatapku sendu saat itu bahkan tak mampu menyadarkan aku siapa pemiliknya. Tak menyadari sampai sepasang lengannya memelukku.

“Sudahlah, Rena. Biarkan ibu pergi dalam damai. Ibu pasti sedih di Surga sana kalau melihat putri kesayangannya menangisi kepergiannya seperti ini. Sudah Rena. Jangan menangis lagi.”

Arshel.

Aku mengangguk, tapi sedetik kemudian malah menangis lagi. Sesenggukan di dada Ar. Ar diam dan mengusap lembut ranbutku dan mendekapku makin erat saat tubuhku berguncang makin hebat.

Arshel begitu tabah menghadapai kematian ibu. Begitu tenang. Ketenangan yang menurutku justru sangat tidak wajar. Aku tau Ar sama sekali tidak menangis. Tidak di rumah. Tidak di pemakaman. Bahkan tidak di hari-hari setelah itu. Dia justru sibuk menenangkanku dan menemaniku, sama sekali tak pernah membiarkan aku sendiri dan merasa kesepian. Dia yang menghapus air mataku saat aku terus menangis teringat ibu. Mengusap kepalaku dan menyalurkan kedamaian saat tengah malam aku terbangun dengan mimpi buruk menakutkan.

Padahal aku tahu betul Arshel pasti juga sama sedihnya seperti aku. Bahkan mungkin Ar lebih merasa kehilangan ibu daripada aku. Aku tahu Ar menyayangi ibu, begitu besar rasa sayang itu sampai mungkin aku yang anak kandung ibu pun tak akan mampu menyaingi perasaan sayang Ar terhadap ibu.

Ar pernah bilang padaku bahwa ibu adalah anugrah paling indah dalam hidupnya. Ibu yang mengajarinya tentang arti kasih sayang yang sesungguhnya. Ibu yang memberinya arti penting sebuah keluarga. Ibulah orang pertama yang tulus menyayanginya. Dari ibu Ar tahu seberapa besar rasa sayang itu berpengaruh untuk hidupmu. Aku terkejut menyadari ibu ternyata sangat berarti buat Ar.

Dia memanggil ibu dengan pangilan, “ibu” tanpa rasa canggung. Dan pertama kali saat memanggil ibuku dengan panggilan itu, ibu tertegun. Diam tak bicara apapun. Ibu memandang Ar tanpa berkedip. Aku tak tahu kenapa, Ar juga sama. Ar bahkan sampai minta maaf takut kalau ibu marah karena Ar lancang memanggilnya seperti itu. Tapi yang terjadi sedetik kemudian membuat aku tersenyum bahagia. Ibu memeluk Ar dan menangis, lalu berkata dengan pelan. Ar boleh memanggilnya seperti itu, sangat boleh dan ibu juga senang. Bagi ibu Ar adalah anak laki-lakinya, bukan orang lain.

Ah, aku jadi merasa takut. Takut kalau ketenangan Ar sekarang justru karena dia jauh lebih sedih daripada aku karena kehilangan ibu. Perasaan sedih yang amat sangat, yang justru membuat airmatamu terasa kering. Yang membuatnya menyimpan sendiri rasa sedih dan sakit itu tanpa ingin menunjukkannya pada siapa pun bahkan padaku.

Aku takut Ar lebih tertekan daripada aku.

Tapi Ar sama sekali tak menghiraukan aku jika aku bertanya kenapa dia tak menangis. Kenapa dia begitu tenang. Ar cuma tersenyum, senyum yang mengisyaratkan sejuta misteri. Sikapnya padaku bahkan kemudian lebih baik lagi saat kami kembali ke istana.

Dia sering menengokku di asrama heta ketika dia kembali dari tugas-tugas yang sudah dijalankannya.

“Aku rindu ibu, Ar.” kataku tiba-tiba sambil menyandarkan kepalaku ke bahunya. Dia menoleh sebentar kemudian satu tangannya menyentuh lenganku dan mengusapnya. Tanpa sepatah katapun lagi kami tenggelam dalam suasana masa lalu yang penuh kedamaian.

<< HALF VAMPIRE – Awal Mula                                                   HALF VAMPIRE – Dev >>

Mau Baca Lainnya?

6 Comments

  1. Storynya menarik sekali..
    Bahasa dan rangkaian kalimat-kalimatnya sungguh sukses untuk mendeskripsikan secara apik segala bentuk tindak juga suasana yang sedang di gambarkan dalam cerita membuat pembaca ikut atau bahkan merasa sedang menjadi karakter asli dalam cerita tersebut.

    Part ini feelnya sangat mengena dan menghanyutkan..

    Keep Writing!!

  2. Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

Your email address will not be published.