Half Vampire – Janji

Haloo semua pembaca HV. Maaf.. Maafkan karena aku mengupload chapter ini dengan sangat terlambat. Kesibukkan kuliah menahanku untuk menyentuh naskah HV yang cuma tinggal ngedit aja. Seminggu penuh ini aku disibukkan dengan presentasi-presentasi yang @$%&#^&%^%#^&**@*@%%. *Sensor* LOL.

Aku menyempatkan mengedit HV di chapter ini di sela-sela bikin presentasi Chukyu Sakubun buat besok, ini bukan chapter full sebenarnya. Namun kuharap ini bisa sedikit mengatasi rasa penasaran kalian kepada kisah Sherena dkk. 

Yahh.. aku tidak akan banyak nulis oot lagi dan selamat membaca kalian. Ah iya satu lagi, terima kasih untuk semua dukungan kalian. Terima kasih telah menyukai HV. Terima kasih sangat. Kalian semangatku. 

Salam peluk,

@amouraXexa

***

Aku hanya terdiam, ikut begitu saja ketika Reven membawaku pergi dari ruangan itu dengan melewati Damis yang sama sekali tidak mencegah kami. Reven membawaku ke ruangan pribadiku dan membiarkan aku duduk di tepi tempat tidurku dengan semua pikiran kacau yang sekarang bersarang di otakku.

“Reven..” kataku pelan.

Dia yang sedari tadi mendiamkanku dan hanya melihat ke luar melalui jendela di ruanganku, menoleh. Aku menelan air ludahku, “Apa maksudnya jika kematian calon ratu adalah kelemahan Vlad? Apakah jika aku mati, Vlad akan kehilangan kekuatannya dan mudah untuk dikalahkan?”

Reven hanya memandangiku selama beberapa saat hingga akhirnya dia mengangguk, “Tak banyak yang tahu tentang hal ini, hanya aku, Rosse dan Damis. Tapi jika salah satu dari Lyra atau Lucia menaruh dendam pada Vlad, fakta ini akan segera menyebar.”

“Lalu kenapa akhirnya kau memilih mengatakannya kepada kami?”

“Bukan aku yang bicara.”

“Tapi kau membuat Damis membicarakannya.” Bantahku keras, dia menghela nafas berat dan aku menatapnya dengan berani, “Kau merasakannya jugakan, Rev? Bahwa mungkin saja Vlad memang tidak pernah berniat untuk bersikap baik pada kita semua. Pernahkah terpikir di kepalamu bahwa dia hanya menggunakanmu sebagai alat agar aku bisa selamat dan dia bisa aman?”

“Sepertinya, kehendak yang kumiliki untuk memilih antara kau atau Damis juga adalah omong kosong. Dia hanya menginginkan yang terkuat, yang bisa menjagaku. Semua ini tidak ada kaitannya dengan siapa yang akan menggantikan dia, Rev. Aku bahkan ragu jika dia ingin menyerahkan kekuasaannya kepada salah satu dari kalian.”

Hening yang lama dan Reven sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memandangku. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan aku mendengar suaranya, “Noura pernah mengatakan hal yang persis sama seperti yang kau katakan.”

Aku menatapnya dengan tidak percaya. Kami sedang membahas sesuatu yang berhubungan dengan masa depan. Dengan apa yang terjadi sekarang. Dan dia malah membicarakan Noura, lagi? Namun aku membiarkannya, aku membiarkan dia meneruskan apa yang dia ingin katakan tentang Noura. Sekali ini aku akan bersabar.

“Noura selalu berkata padaku bahwa dia tidak mempercayai Vlad. Dia tidak pernah merasa nyaman berada di tempat yang sama dengan Reven. Dia sering bertanya padaku apakah dia akan tetap aman selama dia ada di kastil ini. Awalnya aku merasa konyol dengan pertanyaannya, namun karena dia kerap mengucapkannya, aku tahu bahwa dia serius.”

“Dan beberapa waktu sebelum kematiannya, dia selalu merasa takut dan tidak mau datang ke kastil ini jika aku tidak ada disini. Meskipun ada Damis sekalipun, dia masih tidak yakin dengan keselamatannya. Aku tidak bisa menyalahkan Noura karena dia melihat.”

Melihat?

Reven mengangguk pelan, “Berkat yang dimiliki Noura terlalu istimewa bagi kebanyakan kami. Dia bisa membaca pikiran semua makhluk, tidak hanya manusia tapi juga vampir. Hanya dia yang bisa melakukannya tanpa kami tahu bahwa dia membaca kami. Dia bahkan sanggup melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Terlalu banyak yang bisa dia lihat dan dia menderita karena ketahuannya itu.”

Aku menatap Reven. Sekali kudengar dia mengatakan tentang Noura dengan begini detail dan entah kenapa aku bisa merasakan betapa kuatnya kepedulian Reven pada Noura dan aku merasa kagum padanya. Aku hanya tidak menyangka. Dan Noura? Aku teringat bagaimana dia memelukku dan mengucapkan maaf sebelum akhirnya jiwanya lenyap meninggalkanku. Noura.. aku menyebut namanya tanpa suara dan aku merasa menyesal atas apa yang terjadi padanya.

“Kau mengatakan bahwa dia tidak merasa aman di kastil ini dan dia bahkan tidak mempercayai Vlad?”

Reven mengangguk dan aku seolah dapat menyimpulkan sesuatu dalam kepalaku, “Apakah menurutmu Noura melihat sesuatu yang berhubungan dengan Vlad dalam penglihatannya?”

“Entahlah. Noura tidak pernah menceritakan apa yang dilihatnya kepadaku. Dia menyimpan semuanya sendirian?”

Aku bangkit dengan cepat, “Dia tidak mengatakan apa-apa? Bahkan padamu??” aku mondar-mandir dengan kesal. Kenapa Noura senang sekali menjadi misterius seperti ini. Aku melirik Reven sesekali dan melihat perubahan raut wajahnya. Kurasa apa yang kukatakan sangat menganggunya.

“Noura bahkan tak mengatakan apa-apa padaku sebelum kematiannya. Padahal aku tahu bahwa dia sanggup merasakan hal seperti itu. Kematiannya. Namun dia meninggalkanku tanpa mengatakan apapun. Bahkan permintaan terakhirnya dia katakan bukan padaku.”

Raut wajah sedih Reven menghentikan langkahku dan aku memandangnya dengan iba. Mendadak aku teringat sesuatu, “Permintaan terakhir Noura??” aku tahu aku nyaris menjerit ketika mengatakan itu. Namun aku sama sekali tidak peduli. Reven memandangku dan mengangguk. Pandangannya menelitiku, aku mengabaikannya dan malah sibuk memutar tubuhku dan berjalan cepat ke arah laci kayu di dekat tempat tidurku. Mengobrak abrik isinya dan mencari dengan penuh semangat.

“Ini?” aku melompat berputar dan mengacungkan sebuah kalung dari kerang-kerang kecil yang diuntai dengan sangat indah ke arah Reven yang hanya mengerutkan keningnya, “Ini.” Kataku lagi dan kerutan di kening Reven malah semakin dalam.

“Permintaan terakhir Noura.” Ucapku sambil mengulurkan kalung itu kepada Reven yang menerimanya dengan ekspresi bertanya-tanya, “Maurette memberikan benda itu padaku ketika aku berada di desa Morgan. Awalnya aku hampir melupakan janjiku kepada Maurette tentang permintaan terakhir Noura ini, karena semua masalah yang ada dan juga karena kematian Dev. Maaf, aku baru mengingatnya sekarang.”

Reven tidak menatap ke arahku namun malah mengenggam kalung yang kuberikan padanya dan mengamatinya dengan sangat cermat. Dia meneliti setiap sudutnya, “Aku tidak pernah tahu Noura punya benda seperti ini. Dan Maurette, bagaimana kau bisa mengenalnya?” dia mengangkat kepalanya dan memerangkapku dalam pandangannya, suara dan sikapnya entah kenapa kembali menjadi sangat dingin.

“Aku mengenal Maurette di pesta penyambutan untukku di kastil ini. Dan harusnya kau juga sudah tahu bahwa selain Dev, ada James dan Maurette yang juga terbunuh di desa Morgan ketika itu.”

Mengabaikan penjelasanku, Reven malah bertanya dengan tatapan yang tidak bisa kuterjemahkan, “Apa isi permintaan terakhir Noura?”

“Cari Arshel dan berikan benda itu padanya. Cari Arshel dan katakan padanya bahwa Noura memintanya berhenti.”

“Arshel? Apakah ini Arshel yang sama dengan Arshel yang kau-kita kenal?”

Aku mengangguk. Aku melihat gerakan di tangan Reven, dia mengepalkan tangannya dan jelas kelihatan marah, “Aku tak pernah tahu bahwa Noura dan Arshel saling mengenal.”

“Aku juga merasakan hal yang sama, Rev.” Ucapku pelan, menyadari kenyataan bahwa aku memang tidak tahu tentang hal itu, “Namun ketika Ar datang berkunjung ke kastil ini, dia memberitahuku tentang hubungannya dengan Noura. Dia bercerita padaku bahwa dia mengenal Noura dengan cukup baik.”

“Mengenal Noura dengan cukup baik??” nada suara Reven meninggi dan aku mundur tanpa kusadari, “Ya, begitulah yang Ar katakan padaku. Tapi tolong jangan salah sangka dulu.” Kataku buru-buru, “Meskipun mungkin benar jika Ar menaruh perasaan kepada Noura, namun Noura sama sekali tidak membalasnya. Bahkan menurut Ar, Noura menjaga kesetiaannya untukmu. Noura sangat mencintaimu, sama seperti kau kepadanya dan kau tidak perlu meragukan Noura tentang ini. Aku, meskipun tidak mengenal Noura sebelum ini, namun aku bisa menjaminnya.”

“Aku tidak percaya pada Ar.”

Perkataan singkat Reven dengan ekspresi sekelam itu membuatku takut. Entah kenapa hanya dengan mendengar itu aku bisa merasakan bahwa Reven bisa saja melakukan sesuatu yang buruk kepada Ar. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak akan jika ini menyangkut tentang sahabat terbaikku, Arshel.

“Kau ti-“

“Lalu apa maksudnya dengan Noura meminta Arshel untuk berhenti? Berhenti melakukan apa? Berhenti untuk apa?”

Aku menggeleng, “Aku tidak tahu. Maurette juga tidak tahu. Kurasa hanya Ar yang mengerti apa yang dimaksud oleh Noura dan kalung itu, adalah benda yang ingin diberikan Noura kepada Ar.”

“Aku harus mencari Arshel.” Dia melangkah dengan cepat dan aku mencekal tangannya dengan sama cepat. Dia berhenti dan menatapku dengan marah, “Lepaskan.” Desisnya.

Aku menggeleng, “Aku ikut.”

“Tidak.” Dia mengibaskan tangannya dengan kasar namun aku mencengkram tangan Reven lebih kuat. Aku tidak akan kalah dengannya. Sekarang aku bukanlagi heta lemah, jika perlu kuingatkan, aku juga seorang vampir sekarang. Aku punya kekuatan dan itu cukup bagiku untuk sanggup melawan Reven.

“Aku ikut. Atau kau tidak pergi. Lagipula aku lebih mengenal Ar daripada kau. Aku mungkin saja tahu dimana dia berada. Jadi kukatakan sekali lagi, aku ikut atau kau tidak boleh pergi.” Aku menatap tepat ke kedua bola mata Reven. Bola mata biru itu masih berpendar tajam dan tidak terlihat melunak sedikit pun.

“Aku mohon.” Aku mengalah dan menurunkan keegoisanku dan berkata dengan sangat lembut padanya, “Sama seperti yang dirasakan Noura, entah kenapa aku juga tidak bisa mempercayai Vlad, Reven. Apalagi setelah apa yang terjadi pada Russel, tidak. Aku tidak bisa. Kastil ini terasa berbeda dan aku… takut.” Bisikku.

Dia masih saja memandangku tanpa reaksi, “Aku mohon.” Pintaku lagi.

“Kuharap kau bisa menyamai kecepatanku atau aku tidak akan mau menunggumu.”

Mataku bersinar cerah dan aku tersenyum lebar. Mengangguk dengan cepat, “Terima kasih.” Kataku. Reven mengabaikan bagian itu dan membuka pintu kamarku, membiarkan aku keluar dahulu sebelum dia dan kami berlari meninggalkan kastil ini hanya dalam beberapa menit. Reven mengenggam tanganku dan aku tahu dia menurunkan kecepatannya agar aku bisa menjajari kecepatannya. Aku menoleh ke arahnya, aku tahu dia punya sisi baik. Setidaknya dia sebenarnya tidak sedingin apa yang terlihat, jika tidak, dia tidak akan bisa mencintai Noura dengan begitu dalam.

Aku tersenyum dan kembali menatap ke dalam depan, memperhatikan jalurku tanpa menyadari bahwa selama beberapa detik Reven memandangku.

“Segalanya akan baik-baik saja. Aku janji. Kau akan hidup selamanya bersamaku. Kau akan menjadi ratu untukku. Dan aku akan menjadi pelindungmu. Aku janji.”

Dan janji yang dia ucapkan untuk Noura-nya entah kenapa kembali bergaung di dalam pikirannya.

***

Morgan, Ar, Allianor, Edge dan beberapa slayer lain berdiri memutari api yang berkobar membakar satu persatu tubuh dari anggota kelompoknya yang sudah meninggal. Morgan memejamkan matanya, “Beristirahatlah dengan tenang kalian semua.”

Ar menepuk pundak Morgan pelan, Morgan membuka matanya, menoleh ke arah Ar dan tersenyum pelan. “Ini bukan akhir.” Kata Morgan pelan, “Tidak untuk mereka dan tidak untuk kita.”

Ar mengangguk, “Kita akan membalas dan membuat kematian mereka tidak sia-sia. Untuk semua yang sudah berkorban, kelompokku, ayahku, Noura, semuanya. Dan untuk keselamatan Rena. Kita tidak akan menyerah.”

Edge melirik mereka berdua, “Kalian tidak akan sendirian. Kami akan membantu sebisa kami.” Ar dan Morgan menoleh bersamaan, menemukan Edge, Allianor dan semua slayer balas memandang ke arah mereka dan tersenyum.

“Terima kasih, Master.” Kata Ar dengan tatapan lurus kepada Allianor.

Allianor maju mendekat dan menepuk kedua bahu Ar dengan lembut, “Tidak perlu sungkan, Ar. Kau tahu aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Kau adalah putra dari sahabatku. Orang yang menyelamatkan kehidupanku. Aku berhutang kehidupan pada Akhtzan, aku berhutang begitu banyak padanya. Aku tahu aku tidak akan bisa membalas semuanya. Namun dengan menjagamu dan melindungimu juga Sherena, aku akan merasa sedikit tenang.”

Mata Ar berkaca-kaca dan dia memeluk Masternya itu dengan haru, “Terima kasih. Terima kasih, Master.”

“Bagaimana kalian bisa tahu kami disini?” suara Morgan membuat Ar melepaskan pelukannya dan dia memandnag Allianor, sama penasarannya dengan Morgan.

“Aku dan Akhtzan punya ikatan batin yang kuat. Kami terikat karena kutukan yang mengikatnya di hutan ini. Ketika dia dalam bahaya, aku akan merasakannya, begitupula ketika aku berada dalam bahaya. Aku tidak akan menceritakan detailnya karena itu akan sangat panjang dan menyangkut kehidupan kami di masa muda.”

Morgan mengangguk mengerti, dan Ar juga tidak terdorong untuk tahu ceritanya lebih lanjut. Edge mengamati dan dia akhirnya memberanikan diri mengintrupsi, “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang.”

“Menyelamatkan Sherena.” Jawab Morgan cepat, “Kita akan ke kastil utama kelompok vampir. Aku tidak akan memaksa kalian yang tidak ingin ikut untuk pergi bersama kami. Kalian harus tahu bahwa aku dan Ar sama sekali tidak bisa menjamin keselamatan kalian. Lawan kita bukan makhluk lemah. Mereka adalah vampir dan musuh utama kita adalah pimpinan mereka, Vlad.”

“Aku ikut.” Edge menyela, “Aku akan ikut kemana kalian berdua pergi, meski ini bukan perintah resmi kerajaan dan tidak berkaitan dengan kepentingan kami, kaum manusia, aku akan ikut atas nama persahabatan kita, Ar.”

“Edge-“

“Jangan menyela, Ar. Aku belum selesai.” Katanya dengan tegas dan Ar mengurungkan niatnya untuk bicara, “Setelah ini, siapapun yang ikut, seperti kata Morgan berada dalam keputusan penuh orang tersebut. Namun aku minta, Master, tolong..” Edge beralih memandang Allianor dengan hormat, “Tolong anda jangan ikut terlibat dalam masalah ini. Bagaimanapun anda adalah ketua kelompok kita. Organisasi slayer dan heta membutuhkan anda.”

“Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Edge. Kau tahu aku berhutang banyak dengan Akhtzan. Dan ini menyangkut kehidupan putrinya. Nyawa yang dengan sekeras tenaga dilindunginya, nyawa yang deminyalah dia mengorbankan nyawa istri tercintanya. Akhtzan dan Anabelle berkorban besar untuk kehidupan Sherena. Dan sekarang akulah yang harus melanjutkan usaha keras mereka melindungi Sherena.”

Edge menggeleng keras, “Saya mohon, Master. Anda adalah ketua terbaik yang pernah dimiliki organisasi kita. Saya bersumpah akan melakukan yang terbaik bahkan mempertaruhkan nyawa saya demi ini. Tapi saya mohon, saya mohon.. pertimbangkan apa yang telah saya katakan sebelumnya.”

Allianor memandang Edge dengan ragu, “Ta-“

“Saya mohon.” Edge menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di depan Allianor, “Saya mohon, Master. Pertimbangkan semua yang telah saya katakan. Ini demi kebaikan ras kita Master. Demi kehidupan penuh kedamaian yang selalu kita mimpikan.”

Melihat kesungguhan Edge, satu demi satu slayer yang ada ikut berlutut dan memohon kepada Allianor hingga akhirnya semua slayer yang ada memohon kepada Allianor, “Kami mohon, Master. Kami mohon.”

Morgan maju selangkah dan menjajari Allianor, “”Kau harus mendengarkan mereka. Aku janji kami akan melakukan yang terbaik.”

Allianor mendesah, “Apakah aku benar-benar tidak punya pilihan untuk menolak?”

Morgan tersenyum, “Kau bisa percaya kepada kami.”

 << Sebelumnya
Selanjutnya >>

Mau Baca Lainnya?

36 Comments

  1. Kira-kira rev dan rena bakalan jumpa nggak ya, sama rombongan ar dan morgan.
    Dan aku harap ada scene flirting morgan ke sherena yang mana bikin rev kesal. Wkwkwk.

  2. Hihihi!
    Kebayang betenya si reven kalo rena dan morgan mesra. Secara reven kan pangeran kegelapan, yang nggak pernah nggak dapat apa maunya. Dan sekarang doi punya saingan yang sama kerasnya kayak dia. He3x.

  3. Wahhh!!!! Ka' scence Reven-Sherenanya di tambah lg doongg?? 😀 hehe
    Aku bner2 pnasaran Love-Line mereka ka',, ohya, ga ada keinginan buat bikin Dev hidup lg kah?? XD haha,
    Ditambah lg dng motifnya si Vlad itu.. tambah lg, Tim Kecenya Morgan&Arshel 😀 wkwkwk..
    POKOKNYA PENASARAN BANGET DEHH!!
    biar chapt ini gak full yg penting mengobati rasa pnasaranku, tp jg nambah rasa pnasaranku lg sihh 😀
    SEMANGAT TERUSSS KAKA'!! UPDATE TERUS SAMPE ENDING, TRUS BIKIN SEQUELNYA JG!! #MAKSA 😀
    CAYOOOO!!! ><
    😀

  4. Yey! HV comeback!!!!! Apa kabar thor? Lama gak uploadni wkwkw… Yang rajin ya thor ngerjain tgs sklhnya hhh, btw full chapternya maaaaaanana:( jangan lama-lama yaa thor…… sang-ngat pe-na-sa-ran #semangatauthor #readersdukungauthor #kitabutuhdoublechapter #penasaranakut HAHAHAHAHAHA

  5. Tunggu aja ya, gimana kisah Rena-Reven selanjutnya. Ah iya, Vlad harusnya masuk chapter ini juga, tapi ga sempet baca dan edit lagi, jadi ga aku masukin deh.

    Semangatt semangattt!!!
    Wo wooohh?? SEKUEL?? ini aja belum tamat masa uda mikirin sekuel? ahaahahhaha 😛

  6. Hihihi kabar baik nih. Amin aminn, moga-moga bisa lebih rajin.

    Full chapter kapan? engga tauu ><
    Hahaha. se-la-mat ber-pe-na-sa-ran ri-a

    *kabooor*

  7. pendek banget!!!
    Rena-Revennya kapan romantis2annya kak??
    cepet dilanjut yaa kak. PENASARAN BANGET sama cerita kakak.. ujungnya selalu menggantung disetiap chapternya-___-
    semangat yaa nulisnyaaa! 😉

  8. Akhirnya keluar juga HVnya 🙂 , aku udah bolak-balik ke sini dari kemaren loh thor tapi belom update2 🙁 haha seneng banget saya 😀
    Tapi tapi ini kayaknya lebih pendek dari biasanya ya, ato perasaanku aja.
    Semangat ngeditnya yah, ditunggu terus updateannya 🙂

  9. yay HV balik lagi!!! aku ud bolak-balik nlog ini dari kemaren, blom ada terus kelanjutannya, seneng banget ada chapter selanjutnya >< walaupun cuma sedikit sih *gataudiri, ciayou kak!! yang semangat kerjain tugas kuliahnya kak, biar cepet bisa upload chapter batu HV lagi *maunya 😀

  10. Akhir 'a HV di publish juga .
    Walopun gak full . Tetep bisa ngurangin rindu sma Morgan sikit sech !!
    Morgan yg tabah yah . Semangat !!

    Kakak bikin scene mesra 'a Morgan-Rena dong !! Pesanasar sama reaksi 'a Reven . Kyak 'a seru klo ngeliat Reven Envy ^_^

    Scene Reven-Rena di tambah lgi dong kakak . Eheeheheh

    Gak ada niat buat Dev idup lagi kah kakak ?? Kyak 'a bkal seru .
    Lanjutan 'a di tunggu .
    Semangka-Semangat Kakak ^_^

  11. wohh,, akhirnya update juga,,, 1 minggu ini ngelirik HV belom update2 ,,, rada lesu juga,,, pas pagi ini buka taunya udah ada,,, hahahah….

    aduh Reven nya bakal perjuangin Rena ngga sih?? aku setuju author kl Reven di uji… Bikin Rena nya nempel2 sama Morgan sama Ar,, pasti dongkol bgt tuh… hahahahh…

    Makasih ud update dan crtnya ngga pernah mengecewakan,,, di tunggu nextnya….

  12. Wow,wow,wow.. semakin seru deh… akhirx ada romantisx jg si Mr.cool itu hahaha #lirikreven…. tp kok dikit bgt yak???
    Bgmn kisah selanjutx? Kita tunggu sehari lagi… hahahaha *ngarep,ngaco*
    (Artharia)

  13. OHMYGOD REVEN AKU RINDU SEKALLIIIII *send a virtual cipok
    Kurang banyak ka bagian reven-renanya:( vlad dilupain aja deh reven-renanya aja kak banyakin hehe

    SEMANGAT LANJUT KA!!!!

  14. Kenapa pendek sekali….kuranggggg
    Hihihi semoga mereka bertemu di jalan…kirain double chapter sis…btw di tunggu next chapternya, chayoo!!

  15. Terobati sihh dr penasaran chapter yng lalu,,tp makin terluka Ľäƍï dengan chapter yng dikit n tambah penasaran pula,,haaddooohhhh xD,,klo pemilihan antra reven ma damis cuma modus,so bisa jadi milih selain dr mereka dong?! Hihihihi,,Dev,hidupkan kembali donggg,,,#bisakalidiceritamah

  16. tambah penasaraan kak!! maaf baru bisa ngasi coment skrg,,aku slalu ngikutin ceritanya kakak dari awal smpe skrg,…dan benar2 keren..

  17. Pengen liat raven cemburu nih…hehehe
    Mana tau kan dia udah ada rasa sma rena pas rena mesra sama morgan..hehehe
    Kalo mereka ketemu sih!!
    Lanjut deh….
    Penasaran eud…
    Masih banyak rehasia yg belum terungkap ya?!
    Pokoknya fighting buat nulis next chapter nya…

  18. Hehehe maaf maaf. Ini uda usaha maksimal aku, Tapi kehalang sama semua kesibukkanku. Jadi tolong pengertiannya ya. 😀

    Scene romantis Rena-Reven. Hup hup ditunggu aja, kita lihat si Reven bisa romantis ngga sama Rena. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published.